Naruto © Masashi Kisimoto
Song of a Cherry Blossom © Scriptblossom
Indonesian ver. © Yuki Kanashii
Chapter 20 — A Dinner Engagement
Kaki Sakura terus berpacu ketika mereka berlari melewati para reporter dan fotografer. Ia melihat ke depan dan menatap punggung Sasuke yang berlari di depannya sambil menggenggam tangannya. Sakura tersenyum dan mereka berdua terus berlari. Ia tidak tahu kemana mereka akan pergi, namun ia tahu ia akan pergi kemana pun demi Sasuke.
Mereka terus belari selama kurang lebih lima belas menit sebelum sampai ke sebuah taman kecil. Sasuke akhirnya melepas genggaman tangannya pada Sakura dan mencoba mengatur napasnya. Sakura jatuh terduduk di atas batu kecil yang dibuat menjadi sebuah kursi. Ia menatap ke belakang. Tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang yang mengikuti mereka. Ia berpikir mereka sudah tertinggal sejak beberapa saat yang lalu. Seberapa cepat mereka bisa berlari jika mereka membawa kamera mahal dan tas berat kemana-mana?
Sakura dengan cepat menatap ke sekeliling taman. Tidak ada banyak orang dan taman ini terlihat terisolasi kecuali bagi sepasang pasangan tua yang duduk di bangku sambil memberi makan burung-burung. Ada taman bermain kecil dengan sepasang ayunan dan kotak pasir di bagian kanan dan sebuah air mancur di depan.
Sakura mengenali taman ini. Taman ini jarang dikunjungi karena ada taman yang lebih besar tak jauh dari sini namun ia selalu melewati taman ini dalam perjalanan pulang. Sakura seketika menyadari bahwa Sasuke menghilang. Dengan panik, Sakura menatap sekeliling taman sambil bertanya-tanya kemana Sasuke pergi. Apa Sasuke meninggalkannya dan membuangnya? Mungkin Sasuke menyesal telah mencium Sakura dan ingin melarikan diri dari sini secepat mungkin untuk menghapus kekacauan yang ada.
Namun semua pikiran itu hilang ketika Sakura melihat Sasuke di kejauhan. Sasuke membawa dua botol minuman dan melempar salah satunya pada Sakura. Sakura menangkapnya dengan terkejut. "Darimana kau mendapat ini?" tanyanya.
"Ada sebuah mesin penjual otomatis di dekat toilet," balas Sasuke sambil menunjuk ke arah jalan di belakangnya. Sakura menatap ke arah jalan itu. Ia tidak menyadari kehadiran toilet umum karena terhalangi sebuah pohon besar. Setelah membuka tutup botol minumannya, Sakura meminumnya hingga sebagian air dalam botol itu habis. Ia tidak sadar betapa hausnya ia karena berlari.
"Ah, aku meninggalkan hampir seluruh barangku dan dompetku di sekolah," kata Sasuke sambil duduk di lantai di samping batu.
"Lalu bagaimana kau bisa membayar ini?" tanya Sakura sambil mengangkat botol minumannya.
"Seorang kakek tua memberiku uang ketika dia melihat aku tidak membawa dompet."
Sakura menatap ke depan dan melihat pasangan tua yang sedang duduk di bangku taman. Sang kakek duduk di sebelah istrinya dan memberikannya segelas air.
"Betapa baiknya dia," gumam Sakura sambil memeluk kedua lututnya.
"Maaf," balas Sasuke. "Aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan dengan makan siangnya."
Perut Sasuke berbunyi segera setelah ia selesai berbicara dan rona malu muncul di wajahnya. Sasuke memegang perutnya dan membuang wajahnya. Ia benci terlihat konyol di saat ia ingin menunjukkan sisi kerennya. Ugh, kenapa aku tidak membawa dompetku sebelum pergi?
Sasuke mendengar suara cekikikan dan menengok untuk melihat Sakura tertawa padanya. Sakura tampak tidak terganggu oleh fakta bahwa Sasuke tidak memiliki uang atau bahwa mereka tidak bisa makan siang.
Sakura memberi isyarat agar Sasuke mendekat dan Sasuke berdiri sambil memperhatikan Sakura melepas tas sekolahnya. Sakura membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak bento. Tersenyum, Sakura membuka kotak bento-nya dan memperlihatkan barisan onigiri yang sempurna. Ia memberikan Sasuke satu onigiri dan Sasuke menerimanya dengan ekspresi was-was di wajahnya.
"Apa? Kau tidak pernah makan ini sebelumnya?" tanya Sakura ketika melihat ekspresi Sasuke. "Itu tidak beracun," kata Sakura tegas.
"Aku tidak berpikir itu beracun," gumam Sasuke. "Sebenarnya, ini pertama kalinya aku mencobanya," aku Sasuke sambil memegang onigiri di salah satu tangannya.
"Aku membuatnya sendiri jadi mungkin tidak akan seenak yang dijual di toko. Ibuku dan aku biasa membuatnya ketika masih kecil. Tentu saja punya ibuku tampak lebih baik dari punyaku." Sakura menggigit makanannya dan mengunyahnya.
Sasuke perlahan mengikuti cara makan Sakura dan menggigit makanannya. Anehnya makanan itu kaya akan rasa dan Sasuke dengan cepat menghabiskannya. Ia mengulurkan tangan untuk meminta onigiri lagi. Sakura tersenyum sebelum meletakkan satu onigiri di tangan Sasuke. "Itu adalah onigiri isi bonito. Aku juga punya yang berisi umeboshi. Keduanya adalah favoritku."
Sasuke mengangguk sambil memakan onigiri-nya. "Apa kau selalu membuat onigiri yang sangat banyak?" tanya Sasuke disela makannya. Ia menyadari kotak bento Sakura berisi persediaan yang cukup untuk dua orang.
Sakura mengerutkan dahi. "Sangat banyak? Biasanya sebanyak ini lah aku makan. Aku bahkan tidak tahu apakah ini cukup karena aku berbagi denganmu."
Sasuke berhenti makan dan menatap Sakura. Dia tukang makan. Sasuke menyeringai lalu melanjutkan makan. Mereka melanjutkan makan dalam diam sambil duduk bersebelahan di taman, Sasuke di lantai dan Sakura di atas batu.
Suara dering terdengar dari dalam tas Sakura dan ia segera mengambil ponselnya lalu menjawabnya.
"Halo?" Sakura berbisik. Ia tidak tahu kenapa ia berbisik. Ia ada di luar. "Maksudku, halo?" ulang Sakura, kali ini dengan suara normal.
"Sakura!" Itu adalah suara Tsunade.
"Tsunade-sama!" seru Sakura dan ia hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut.
"Sakura, ada banyak orang aneh di luar klub. Aku pikir mereka reporter atau semacamnya. Mereka terus bertanya apakah kau ada di sini jadi aku meneleponmu untuk memastikan apa kau mengenal mereka."
Wajah Sakura berubah menjadi putih. Para reporter sudah mencari Sakura. "Uh, Tsunade-sama. Apapun yang kau lakukan, jangan beritahu mereka apapun. Aku benar-benar minta maaf. Aku pikir aku sedikit dalam masalah…" Suara Sakura perlahan menghilang.
"Tidak masalah Sakura! Aku pikir lebih baik jika kau tidak datang kerja hari ini. Mereka mungkin datang mencarimu di apartemen jadi berhati-hatilah!"
"Tsunade-sama…"
"Dengar, kau tidak perlu khawatir dengan kami. Jiraiya dan aku bisa mengatasi mereka. Jiraiya biasa meneriaki orang-orang. Berhati-hatilah, oke?! Kau bisa menjelaskannya padaku nanti." Dengan berkata begitu, Tsunade mengakhiri panggilannya dan sambungan telepon pun mati.
"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke ketika melihat ekspresi khawatir di wajah Sakura.
"T-tidak ada." Sakura tergagap. "Sebenarnya, aku pikir para reporter mencariku di tempat kerja. Aku lebih baik menelepon pemilik apartemenku untuk mengecek apakah mereka juga di sana."
Sakura menelepon pemilik apartemennya dan menunggu teleponnya diangkat. "Takimoto-san!" teriak Sakura ketika teleponnya tersambung.
"Siapa ini?" Sebuah suara lembut terdengar.
"Takimoto-san! Ini Sakura! Dari apartemen 3C. Apakah ada reporter di sekitar sana?"
"Ah, Sakura-san!" respons Takimoto-san. "Ya, mereka semua ada di depan apartemen. Mereka terus bertanya apakah kau tinggal di sini tapi aku tidak berkata apa-apa pada mereka. Jangan khawatir, dear! Aku lihat beritanya! Ya ampun, betapa tampannya anak laki-laki yang kau dapat itu."
"Berita?"
"Ah, aku harus pergi sekarang. Airnya sudah mendidih. Bye bye my dear." Sambungan teleponnya pun mati.
Sakura menatap ponselnya.
"Sekarang apa?" Sasuke muncul di hadapan Sakura dan wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Sakura.
"Um, aku tidak tahu. Aku pikir aku tidak bisa pulang ke rumah atau pergi ke tempat kerja sekarang."
"Kalau begitu kita tetap di sini saja untuk sementara," balas Sasuke.
Sasuke berdiri lalu berjalan menuju ayunan dan mendudukinya. Sakura mengikutinya dan ikut duduk di ayunan sebelah Sasuke. Sambil bergoyang ke belakang dan ke depan, Sakura bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan. Apakah ia akan terus diikuti selama 24 jam mulai sekarang? Apakah seperti ini gambaran hidup para selebriti?
Sakura menghela napas lalu menguap lebar. Ia tidak menyadari seberapa lelahnya ia. Tentu, ia tidak tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini. Sasuke menatap Sakura sambil memperhatikan ayunannya yang perlahan-lahan berhenti bergoyang. Matanya mulai tertutup dan kepalanya tertunduk.
Apakah dia…? Sesegera mungkin Sasuke bereaksi dengan cepat dan menangkap tubuh Sakura dalam pelukannya.
"Oh," gumam Sakura setelah sadar. "Maaf, akuu pasti tertidur sebentar tadi."
"Tidur saja," gerutu Sasuke.
Mereka duduk di atas pasir sementara Sasuke bersandar pada tiang ayunan dengan Sakura yang bersandar pada lengannya. Sakura tidak menjawabnya namun matanya mulai tertutup dan kepalanya terjatuh di atas bahu Sasuke. Sasuke menutup matanya namun membukanya lagi beberapa menit kemudian. Sakura sudah tertidur lebih dulu dibanding Sasuke.
"Onigiri," gumam Sakura dalam tidurnya.
Sasuke tertawa. Bahkan dalam tidurnya, Sakura tetap tukang makan. Tunggu, dia memimpikan makanan dibandingkan memimpikanku?
Ketika Sakura terbangun, langit telah berubah menjadi berwarna jingga tua, menandakan bahwa matahari hampir tenggelam. Sakura seketika duduk tegak ketika sadar dimana ia tidur dan wajahnya memerah.
Sakura menatap sekeliling taman dan melihat bahwa itu sudah kosong. Sasuke ada di sampingnya dengan mata tertutup seakan-akan ia tertidur atau meditasi. Sakura menatap jam tangannya. Waktu menunjukkan hampir pukul 5 sore. Ia pasti tertidur pulas selama empat jam.
"Sasuke?" panggil Sakura lembut sambil melambaikan tangan di depan wajah Sasuke. Sasuke tidak merespons dan Sakura menatap wajah Sasuke. Ia perlahan mengulurkan tangan untuk menyisir rambut yang jatuh di depan wajah Sasuke. Sesaat setelah tangan Sakura berjarak beberapa inci dari wajah Sasuke, Sasuke membuka satu matanya dan menatap Sakura.
Sakura membeku di tempatnya lalu segera mengibaskan tangan di udara. "Ah, nyamuk dimana-mana!" kata Sakura panik. Sasuke menyeringai dan menarik lengan Sakura. "Akhirnya kau bangun."
"Apa kau juga tidur?"
"Tidak, aku bermeditasi."
"Oh," balas Sakura.
"Apa kau lapar? Kau terus mengucapkan beragam makanan dalam tidurmu."
Telinga Sakura memerah. Betulkah dia melakukannya?
Sasuke berdiri lalu membantu Sakura berdiri juga. "Aku pikir tidak ada restoran di dekat sini tapi aku melihat minimarket tidak jauh dari sini ketika membeli minum tadi."
"Ah, aku membawa dompetku. Kita bisa makan ramen instan!" seru Sakura bersemangat.
Sakura mulai menyeret Sasuke pergi dari taman dan memintanya menunjukkan jalan menuju minimarket. Itu adalah sebuah minimarket kecil yang menjual makanan ringan dan makanan instan. Seorang kasir melamun di depan sebuah TV kecil dan hanya mendongak ketika mendengar bel pintu masuk berbunyi saat Sakura dan Sasuke masuk. Sakura segera berlari menuju rak ramen dan mengecek segala varian rasa yang tersedia di minimarket. "Ooh, aku belum pernah coba yang ini sebelumnya," seru Sakura gembira sambil mengambil salah satu merk ramen dari rak.
Sasuke menatap sejumlah rasa ramen yang ada di rak. Ia mengambil satu secara random dari rak atas dan membaca labelnya.
Apakah ini semua yang selalu dibicarakan Si Bodoh secara terus menerus? Pikirannya melayang pada Naruto dan ia meletakan kembali ramen itu di rak. Tidak bisa. Jika aku makan ini, aku mungkin saja bisa jadi sebodoh Naruto.
Sasuke berjalan menuju lemari pendingin dan melihat sesuatu yang menangkap matanya. Hmmm…
Sakura memilih dua varian rasa yang ia suka dan mencoba memutuskan yang mana yang akan ia pilih. Ketika berjalan menuju kasir untuk bertanya tentang pendapat petugas kasir, ia menatap sekilas ke layar TV. Di layar terpampang foto dirinya dan Sasuke berciuman. Sepertinya itu sebuah channel TV berita entertainment karena menampilkan foto sekolah mereka dan foto Sakura dengan Sai.
Sakura membeku di tempatnya sambil menatap layar TV. Seketika ia tidak lagi merasa lapar. Sakura segera berbalik dengan kedua ramen yang masih ada di tangannya, memutuskan untuk menaruhnya kembali. Ia berhenti ketika melihat Sasuke berdiri tepat di belakangnya dengan salad di tangannya dan dua ricebowl di tangan yang satunya. Sasuke juga ikut melihat layar TV dan berdiri di tempatnya dengan perasaan terluka.
"Sasuke…" ucap Sakura pelan ketika melihat Sasuke.
"Maaf…" balas Sasuke, tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku pikir kita tidak bisa makan malam bersama hari ini. Aku harus pergi." Sasuke menyerahkan semua barang yang ia pegang kepada Sakura.
Sakura menyaksikan Sasuke pergi, tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Sasuke. Entah engapa Sakura tahu hal ini akan terjadi. Hanya saja rasanya tidak dapat diduga bagaimana atau kapan hal ini akan terjadi. Sakura menghela napas lalu mengembalikan semua barang ke tempatnya dan meninggalkan minimarket. Sasuke sudah pergi jauh dan Sakura berjalan kaki menuju apartemennya.
Selagi matahari tenggelam, Sakura melihat tidak ada reporter di depan apartemennya. Meskipun begitu, Sakura menelepon pemilik apartemen lagi untuk memastikan. Setelah mengkonfirmasi dengan Takimoto-san melalui telepon, ia berjalan menuju depan gedung apartemen dan terkejut ketika melihat sedan hitam terparkir di depan gedung.
Kecurigaan Sakura terbukti ketika seseorang keluar dari pintu belakang mobil dan menyapanya.
"Nona Haruno-san?" tanya seorang pria. Pria itu memiliki ekspresi tegas di wajahnya dengan rambut pendek hitam sebahu. Dia memiliki warna mata onyx yang mirip dengan Uchiha tertentu yang Sakura kenal.
"Y-ya?" respons Sakura.
"Uchiha Fugaku," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.
Namanya terdengar familier. Fugaku? Bukankah itu nama ayah Sasuke? Sakura ingat Sai menyebutkan nama itu di mobil ketika berbicara dengan Sakura. Sakura menatap tangan pria itu dan sadar dia mengajaknya bersalaman. Sakura menerima uluran tangannnya dan membalas, "Haruno Sakura."
Setelah menarik kembali tangannya, Fugaku mengeluarkan sebuah amplop dari balik kimono-nya yang simpel. "Aku ingin memberimu undangan makan malam untuk besok."
Sakura menerima amplop itu dengan ragu. "Makan malam? Untuk alasan apa jika aku boleh bertanya?"
"Itu menarik perhatianku setelah kau tiba-tiba memiliki hubungan dengan keluargaku. Aku harap bisa mengenalmu lebih baik jika kita memiliki alasan untuk bertemu lagi di masa depan."
Kata-katanya simpel dan langsung ke inti namun Sakura tidak bisa menangkap maksud ucapannya. Fugaku sedikit mengangguk ke arah mobilnya dan berjalan kembali ke mobil. "Aku harap kau datang," katanya sebelum menutup pintu mobil.
Sakura mengangguk namun mobil sedannya sudah berjalan pergi. Ia menatap undangan di tangannya. Ia bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan. Apa Sakura harus memberi tahu Sasuke tentang ini? Atau haruskah ia diam saja? Haruskah Sakura datang atau tetap di rumah? Pertanyaan-pertanyaan itu menempel di otaknya selagi Sakura berjalan masuk ke apartemen.
Sakura menghela napas. Ia menyadari bahkan ia tidak bisa mengartikan maksud dari semua kejadian hari ini. Rasanya semua hal terjadi dengan begitu cepat. Sakura kembali memikirkan ciuman yang Sasuke beri padanya di depan gerbang sekolah. Disamping Sasuke yang menciumnya di depan umum, Sakura tidak pernah benar-benar tahu apa yang Sasuke pikirkan tentangnya.
"Mendengar bahwa sepupumu sendiri mencoba merebut gadis yang kau suka."
Kata-kata Sasuke berdengung di telinga Sakura sementara ia kembali mengingat momen itu berulang-ulang. Menjatuhkan diri di atas kasurnya, Sakura menatap langit-langit kamarnya. Apakah itu sebuah pengakuan? Atau Sasuke hanya tidak ingin kalah dari Sai?
Sakura mengernyitkan dahi. Seluruh pikiran itu terlalu banyak baginya. Perutnya berbunyi seakan-akan lelah dengan pikiran Sakura dan minta agar diberi makan.
"Baiklah, aku akan memberimu makan dulu sebelum memikirkan tentang laki-laki," gumam Sakura pada dirinya sendiri sembari menepuk perutnya.
Keesokan paginya, Sakura terbangun dan menyadari ia tertidur ketika menatap langit-langit kamarnya semalam lalu menatap undangan yang tergeletak di meja samping kasurnya. Ia menatap jam dan melihat bahwa sekarang sudah lewat tengah hari. Sakura sudah melewatkan seluruh kelas paginya karena lupa memasang alarm. Itu sudah tidak penting lagi baginya. Sakura sudah berencana untuk membolos mengingat apa yang terjadi kemarin. Ia bertanya-tanya kali ini apa yang seluruh siswa di sekolah bicarakan tentang dirinya.
Kakashi menatap kelasnya melalui buku di depan wajahnya. Kelasnya lebih kosong dibanding biasanya namun tetap berisik seperti biasa. Pandangannya berpindah dari bagian belakang kelas menuju bagian pojok dekat jendela, dimana ada tiga kursi yang seharusnya diduduki justru kosong. Sepertinya para cinta segitiga tidak masuk hari ini. Aku bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan.
Kakashi menghela napas ketika mendengar pembicaraan para siswa. Rupanya, bukan hanya ia saja yang menyadari ketidakhadiran tiga orang siswa di kelasnya. Semua orang di sekolah sibuk membicarakan gosip di antara Sai, Sakura, dan sekarang Sasuke. Kakashi mendengar bahwa itu ada di TV semalam. Kakashi tidak menontonnya. Ia menutup bukunya. Mungkin lebih baik jika pelajaran dimulai lebih awal untuk membuat pikiran semua orang lepas dari gosip dan lebih fokus pada trigonometri.
Aku harap siswa-siswa kecilku yang lucu baik-baik saja.
Sakura meneguk ludahnya ketika berdiri di depan mansion Uchiha. Itu masih tampak menakutkan baginya ketika dilihat dan kali ini, sudah ketiga kalinya Sakura ada di sini. Sakura menarik napas dalam-dalam sambil mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menekan bel. Ia menekannya sekali dan dengan cepat, gerbang itu terbuka seakan-akan tahu bahwa Sakura sudah berdiri di depannya selama sepuluh menit. Ia menarik napas dalam-dalam lagi dan berjalan melewati jalan panjang menuju pintu utama.
Ada bel lagi.
Sakura menekan belnya, kali ini dengan penuh percaya diri karena ia tahu bahwa ia tidak bisa mundur lagi ketika sudah melewati gerbang. Ia mencengkram sisi gaunnya dengan gugup. Sakura tidak tahu bagaimana harus tampil di depan keluarga Uchiha jadi ia berusaha tampil se-classy mungkin. Sakura menarik kain hitam dari gaunnya. Ia sebenarnya tidak tahu bahwa ia memiliki gaun seperti ini sampai tadi malam ketika ia membuka kado yang ada di bawah mejanya. Itu adalah hadiah dari orang tuanya sebelum meninggal. Sakura menelusuri garis beludru pada kain gaunnya. Ia menyadari bahwa ia tidak merayakan ulang tahunnya tahun ini dan ia tidak ingat pada hadiah ini sampai ketika ia mencari sesuatu untuk dipakai di kamarnya.
Sambil menunggu pintu dibuka, Sakura menghela napas. Ia bertanya-tanya apakah orang tuanya memberinya gaun ini karena tahu Sakura akan bertemu dengan ayah dari laki-laki yang ia sukai. Atau mungkin aku baru saja masuk ke dalam jebakan besar, pikirnya.
Setelah menunggu selama lima menit, pintu akhirnya dibuka dan kepala Sai menyembul dari pintu.
"Ah, kau di sini," ucap Sai, tidak terlihat terkejut dan justru tampak sudah menduga kedatangan Sakura.
"Sai!" seru Sakura terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura dengan nada berbisik sementara matanya mengawasi ke sekeliling. Apakah para reporter di sini? Sakura tidak yakin. Ia tidak ingin terlibat dalam skandal lagi.
"Lupakan itu," kata Sai sambil menarik Sakura masuk dan menutup pintu.
Sai menyeret Sakura ke dalam sebuah ruangan kosong dan menutup pintunya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Sakura. Bagaimana jika seseorang masuk? Seperti pelayan? Atau lebih buruk, ayah Sasuke. Sakura tidak ingin tertangkap basah bersama Sai. Itu akan membuat Sakura tampak buruk.
Sai menghela napas. "Aku tadinya berharap kau tidak akan datang. Tapi, tentu saja kau akan melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang aku inginkan." Sai tertawa pelan.
Sakura mengernyitkan dahinya lalu melipat lengannya. "Memangnya kenapa kalau aku tidak datang? Bukankah tidak sopan menolak undangan makan malam?"
Sai menatap Sakura dari sudut matanya. "Itu lah maksudku. Undangan makan malam? Kenapa Paman Fugaku ingin mengundangmu untuk makan malam? Ada sesuatu hal yang aneh."
"Aneh?" Sakura melepas lipatan tangannya. Apakah itu aneh? Ia tidak tahu karena ia tidak merasa aneh ketika menerima undangan itu. Ia tidak berpikir bahwa mungkin ada maksud lain dibalik undangan tersebut.
"Apakah ia berpikir bahwa kau dan Sasuke berkencan?" tanya Sai.
"Uhh…" Sakura kembali mengingat apa yang Fugaku katakan padanya. "Aku tidak yakin. Dia hanya bilang bahwa aku tampaknya memiliki hubungan dengan keluarga Uchiha. Dia tidak bilang sesuatu yang lebih spesifik."
"I see." Sai bersandar pada pintu sambil melipat lengannya dan melamun. "Kalau begitu, berpura-pura lah menjadi pacarku, Sakura."
Hening sesaat karena Sakura memproses ucapan Sai. "APA? KENAPA AKU HARUS MELAKUKANNYA?"
Sai menutup mulut Sakura dan menyuruhnya diam. "Geez, kenapa kau harus mengucapkannya keras-keras? Kau ingin semua orang tahu kita ada di sini?"
Sakura menyingkirkan tangan Sai. "Kenapa kau selalu ingin aku berpura-pura menjadi pacarmu? Berhubungan denganmu adalah alasan kenapa aku berada di dalam kekacauan ini sekarang!" ketus Sakura.
Sai menghela napas. "Dengar, mungkin ini satu-satunya jalan yang terbaik. Aku tidak yakin apa yang Paman Fugaku rencanakan dengan makan malam ini tetapi tadi malam, aku pikir dia akan mengatakan sesuatu padaku atau Sasuke, tapi justru tidak. Dia berpura-pura tidak ada yang terjadi dan malah bersikap tenang seperti biasanya. Ini sangat tidak biasa karena aku yakin seharusnya dia akan bertanya pada salah satu dari kami jika dia melihat Sasuke di TV."
Sai menatap ke langit-langit ruangan. "Fakta bahwa dia terlihat tenang membuatku yakin ada maksud lain di balik makan malam ini. Aku bahkan tidak tahu bahwa ada makan malam ini sampai aku melihat para pelayan sibuk mempersiapkan sesuatu yang besar. Ketika aku mendengar kau diundang, aku tahu ada suatu rencana di balik ini semua."
"Rencana apa yang kau pikirkan kalau begitu?"
"Aku tidak tahu. Aku ingin berbicaraa dengan Sasuke tapi dia mengurung diri seharian di kamarnya."
"Aku tidak tahu kenapa aku masih harus berpura-pura menjadi pacarmu. Kenapa tidak aku katakan saja yang sebenarnya—bahwa aku tidak berkencan dengan kalian berdua?"
"Serius? Seorang gadis yang seharusnya masih single sudah mencium dua orang laki-laki dari keluarga yang sama? Apa kau benar-benar berpikir bahwa pamanku akan percaya bahwa itu hanya kebetulan?"
Sakura melotot pada Sai. "First of all, apa yang KITA berdua lakukan bukanlah berciuman. Itu hanya karena kameranya mengambil angle yang salah!"
Sai menyeringai. "Kalau begitu apa aku harus membuatnya menjadi benar-benar terjadi?"
Sakura menjewer telinga Sai. "Bercanda sekali lagi tentang itu," geram Sakura sambil mengencangkan jewerannya pada Sai.
"Ow, ow, ow! Baiklah, aku tidak akan membuat candaan tentang ciuman lagi!" seru Sai dan Sakura melepaskan jewerannya. Sai mengusap-usap telinganya untuk meredakan rasa panasnya.
"Omong-omong, memang lebih baik kau berpura-pura menjadi pacarku. Kita bisa beralasan bahwa yang Sasuke lakukan hanyalah untuk membuatku cemburu atau semacamnya. Aku tidak ingin menarik perhatian Paman Fugaku tentang hubungan kau dan Sasuke. Itu akan berakibat buruk padamu dan Sasuke kedepannya." Sai meringis sambil memegang telinganya.
Sakura menghela napas dan mengangguk. "Aku pikir itu adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Aku pun juga tidak ingin menarik perhatian."
Sai tersenyum. "Tapi aku memang benar kok. Kita memang membuat Sasuke cemburu. Kenapa ia berani melakukan hal itu di depan banyak kamera?"
Sai membuka pintu dan mengintip keluar lalu mengisyaratkan agar Sakura mengikutinya keluar ruangan. Sakura mengikuti Sai sampai di ruang makan dimana sebuah meja megah terletak di depan mereka. Sai menarik sebuah kursi untuk Sakura duduki dan ia pun duduk, terkagum-kagum dengan tatanan meja dan ruangan itu. Ada piring-piring china di setiap hadapan kursi dan alat makan berwarna emas yang mengkilap.
Sakura menatap ke arah langit-langit ruangan dan melihat chandelier kaca tergantung di atasnya. Lampunya berkelap-kelip sementara kristalnya memantulkan refleksi yang membuatnya terlihat indah.
Seseorang memasuki ruangan dan Sakura mengalihkan pandangannya. "Sasuke," seru Sakura sambil melompat berdiri dari kursinya.
Sasuke datang menggunakan baju putih berkerah dibalut dengan jas hitam dan dasi hitam simpel. Meskipun tampaknya Sasuke mengenakan pakaiannya kurang dari sepuluh menit, ia membuatnya tampak keren. Detak jantung Sakura serasa berhenti ketika melihat Sasuke. Sakura tidak pernah menyadari betapa tampannya Sasuke ketika mengenakan jas. Setidaknya, Sasuke hanya diam dan tidak membuat komentar pahit untuk Sakura.
"Sakura?" kata Sasuke terkejut ketika melihat Sakura. Ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun menutupnya kembali ketika orang tuanya muncul dari belakangnya. Sasuke mengambil tempat duduk di seberang Sakura dan pandangan mereka terkunci satu sama lain untuk beberapa saat.
"Silahkan duduk." Fugaku memberi isyarat pada Sakura untuk duduk dan ia menurut lalu duduk kembali di tempatnya. Fugaku memberi isyarat pada wanita di sebelahnya. "Ini istriku, Mikoto."
Mikoto menundukkan kepalanya dan tersenyum pada Sakura. "Senang bertemu denganmu."
Sakura menundukkan kepalanya. "S-senang bertemu denganmu juga," balas Sakura. Sakura terpana dengan kecantikan ibu Sasuke yang memiliki kulit putih dan rambut hitam panjang melewati bahu. Wajahnya memiliki senyum lembut dan membuat dia tampak benar-benar senang bahwa Sakura datang. Fugaku dan istrinya duduk di samping Sasuke.
"Apa kau teman sekolah Sai dan Sasuke?" tanya Mikoto sambil tersenyum hangat.
"I-iya!" Sakura tergagap. Ia menatap ke sekeliling meja. Sai sudah duduk di sebelahnya namun masih ada tiga kursi kosong lagi yang tersedia. "Um, apa ada tamu lainnya lagi?" tanya Sakura.
"Ya," jawab Fugaku. "Sepertinya mereka akan tiba beberapa menit lagi." Segera setelah Fugaku bicara, seorang pria yang gagah masuk ke ruang makan dengan dua orang perempuan di belakangnya.
Fugaku berdiri lalu menyapa mereka dan berjabat tangan dengan tamu prianya. "Kalian datang tepat waktu," kata Fugaku sementara pria yang satunya tertawa.
"Ayo kita duduk," respons pria itu sambil memberi isyarat pada istri dan anak perempuannya. Anak perempuannya tampak seumuran dengan Sakura dan Sasuke. Dia memiliki rambut merah terang yang dibuat lurus di satu sisi namun pendek dan tajam di sisi lainnya. Sakura tidak tahu apa model rambutnya sengaja dibuat seperti itu atau tidak.
"Ini istriku Kanako dan anak perempuanku Karin." Pria itu mengenalkan keluarganya. Dia menatap laki-laki yang duduk di sudut meja. "Ah, kau pasti Sasuke. Aku mendengar banyak hal tentangmu dari Fugaku. Aku Tojo Hebi, direktur dari Taka World Bank."
Sasuke hanya memberi respons gumaman yang tak jelas namun cepat-cepat berkata "senang bertemu denganmu" ketika ayahnya menendang kakinya dari bawah meja.
"Karin, tolong duduk di sebelahku. Seluruh anak-anak duduk di barisan ini." Fugaku berpindah untuk memberi ruang pada Karin agar duduk di sebelah Sasuke. Sasuke memberikan tatapan tajam karena ia harus duduk di sebelah orang asing.
"Ah, benar Karin. Ayo pindah." Hebi memberi isyarat pada anaknya Karin. Karin berjalan menuju kursi di samping Sasuke dan duduk dengan senyum penasaran di wajahnya.
"Dan siapakah dua orang ini?" Hebi menunjuk pada Sai dan Sakura.
"Kau tahu Sai? Dia adalah anak dari adikku jadi Sai adalah keponakanku," jawab Fugaku. "Dan dia…" Fugaku ragu-ragu menjawab sambil menatap Sakura.
"Dia adalah pacarku," potong Sai. Itu membuat Sakura dan Sasuke terkejut hingga ia membeku sambil memegang segelas air di tangannya. Sakura menatap ke bawah ke arah pangkuannya dengan malu sambil menahan rona merah di wajahnya.
"Benarkah? Itu membuat segalanya menjadi jelas," balas Fugaku.
"Kami senang akhirnya bisa makan malam bersama keluargamu, Fugaku," kata Hebi sambil tersenyum. "Senang bisa menjodohkan Karin dengan laki-laki dari keluarga sepertimu."
Karin tersenyum. "Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan tunanganku yang selalu dibicarakan orang tuaku. Dia memang tampan." Karin menengok pada Sasuke dan tersenyum.
Menikah?! Sakura mendongak terkejut dan matanya melebar. Sasuke dan Karin sudah bertunangan?!
A/N:
Hai pembaca setia SOCB :D
Maaf ya aku baru update hari ini, padahal aku udah janji buat update sebisa mungkin :(
Tapi apa daya, aku hanya manusia biasa hehe. Kemarin-kemarin aku coba buat ngetik fanfic ini disela jadwalku yang makin hari makin padat, tapi justru mood nulis aku jadi jelek. Aku cuma bisa ngetik kurang dari lima kalimat, terus langsung hilang semangat hiks. Apalagi setelah kemarin cek mata terus ternyata minus sama silinderku naik jadi makin parah dan dikasih tau nggak boleh main gadget(termasuk laptop) lama-lama, mood ku makin hilang. Tapi karena akhir-akhir ini aku lagi rajin-rajinnya baca novel, entah kenapa semangatku jadi balik lagi. Akhirnya, aku berhasil nyelesain fanfic ini dalam waktu dua hari yeay^^
Maaf kesannya aku jadi curhat wkwk, tapi memang itu alasan aku lama update fanfic ini. Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia baca & nunggu fanfic ini *send virtual hugs* Doain aja semoga mood nulisku nggak luntur lagi xD
Regards, Yuki Kanashi xx
