Author's Note :
This story is fucking real. This story is a pathetic love story.
This is something I've been carrying around on my shoulders for almost a year, I don't have anyone else to talk to, so here I am, trying to spit everything out as if I really talk to someone—in a way I might if I would've actually do that, trying to rationalize and understand what about love is actually going on in this earth that was happening to me.
Poor me.
In this process, I was really motivated by some good songs you might find inside.
Disclaimer :
IF YOU HAVE A WEAK HEART, YOU SHOULD STOP IT HERE.
/
DAISY UNIVERSE
PRESENTS
Recollection of Memory, Prologue
Oh Sehun
Xi Luhan (GS)
.
.
.
.
.
.
Seoul, Maret 2020
Aku berharap aku hilang ingatan saja.
Aku benar-benar berharap begitu.
Aku berharap malam ini aku tidur—jika akhirnya aku bisa tidur, lalu besok paginya aku terbangun dan sudah tidak ingat apa-apa. Tapi, aku tahu permintaanku itu sedikit tidak adil, jadi tidak bisa. Tuhan tidak akan mengabulkannya, bahkan jika aku adalah seorang manusia paling taat di bumi sekalipun.
Kutarik lagi selembar tisu, kuseka kedua mataku sambil menghela napas dalam-dalam.
Jadi, sekarang aku harus bagaimana?
Jika, setidaknya aku tidak boleh hilang ingatan, bolehkah aku meminta agar semua ini jadi hanya sekedar mimpi saja? Toh, rasanya sudah seperti benar-benar mimpi.
Hidup punya sekali banyak cara untuk mengejutkanmu dalam selisih satu detik saja, sampai saking terkejutnya, kau ingin tertawa tapi kau malah akan berakhir menangis sesenggukan sepertiku.
Aku menghela napas panjang sekali lagi, kali ini sambil membaca ulang deretan pesan terakhir di dalam aplikasi personal chatku.
"Tolong, jangan menghubungiku lagi."
"Apa maksudmu?"
"Bukannya sudah jelas?"
"Kenapa? Apa ada wanita lain?"
"(Emoji tertawa)"
"Kau mengerjaiku? Sialan, rasanya tidak lucu."
"Aku serius."
"Ya, Tuhan. Bagaimana denganku? Bagaimana denganku selama ini? Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. (Emoji menangis)"
"Kau menyerah menghadapiku?"
"Tentu saja tidak! Tapi, jika benar sudah ada wanita lain, aku tidak akan bisa bersaing dengannya."
"Baguslah kalau kau sudah menyerah."
"Kau suka aku menyerah? Kau sengaja?"
"Kau bilang tidak akan pernah menyerah. Aku hanya mengujimu."
"Dengan cara ini?"
"Aku biasa melakukan yang lebih parah."
"Kau akan melakukannya padaku juga?"
"Entahlah."
Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Semua hal kusut sekali di dalam kepalaku, sampai bahkan aku sendiri linglung aku sedang berada dimana dan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku tidak bisa berpikir, dan kusangka dengan mencoba menelaah ulang semuanya, aku jadi akan bisa mengerti. Nyatanya, aku akhirnya hanya bisa sekali lagi menarik selembar tisu, menyeka kedua mataku yang masih basah sambil bertanya pada diriku sendiri, apa sih sebenarnya yang sedang terjadi disini.
Aku tidak tahu jika mencintai seseorang bisa jadi sesulit dan semenyakitkan ini. Setelah semua yang aku usahakan, semua tenaga yang aku kerahkan, semua kesabaran yang kubuat tidak punya batas, dia dengan mudahnya masih mengukur-ukur apakah aku sama saja dengan orang-orang lain yang selalu meninggalkan dia, padahal dia bisa menilai atau mencari pembuktiannya dengan melihatku yang sudah jungkir balik secara jelas saja.
Aku berbeda, karena aku terlalu mencintainya. Tapi, dia tidak paham.
Lalu, selama ini, apa yang terlihat di matanya?
Apa yang kau lihat, Oh Sehun?
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
