Bleach © Tite Kubo
A/N: My~ Cuma lagi punya mood dengan fic satu ini. Okay, gak tahu mau cing-cong apaan. Enjoy!
Thanks to: reviewers, followers, favoriters-the hell? Kata apa ini? XD-
No log-in review:
_vyorin_: Yosh! Salam kenal. Ini drabble sesuai abjad. Judulnya kucabut dari piktor-piktor saya. Wahahaha! #plak# Setidaknya masih ada dua chapter lagi. Yang ini tak termasuk. XD
AoiHikari: kalau terlalu romance, saya gak kuat! Yang ada nanti Cuma day-dreaming aja… =~= semoga ini chap ada yang ngena di hati. #jleb# Khukhu~
Kitten, Kitten and His Lap
Dua bola mata biru-violet menatap tajam iris kuning di sebelahnya. Kedua alisnya ia tekuk dalam sambil terus mendekatkan wajah pada objek kecil yang tengah memiringkan kepala sambil mengedipkan kelopak berwarna hitamnya.
"Nyaa~" seketika ia jatuh terduduk di lantai ketika suara kecil keluar dari bibir si anak kucing yang sekarang sedang asik menggaruk belakang telinga dan memejamkan mata.
Ia yang jarang memperhatikan hewan satu ini, kembali mendekatkan diri dengan merangkak perlahan ke arahnya. Dan dengan satu jari, ia menekan perut samping si anak kucing. Tak mendapat respon berarti dari si kucing yang masih terus menggaruk dan menjilati tangannya, ia semakin kuat menekan si anak kucing.
"Miauw!" ia hanya cekikikan melihat si anak kucing berwarna hitam dan oranye yang berusaha mencakar tangannya karena merasa terganggu.
"Hey, Rukia." Ia mendongak mendengar namanya dipanggil dengan suara yang terlalu familiar di telinganya.
"Hey, Ichigo." Biru-violetnya terus mengikuti pergerakan Ichigo yang kini duduk di sebelah si anak kucing dan mulai membaca buku yang dibawanya. Ia tahu si anak kucing menatapnya tajam. Ketika dua bola matanya bertemu pandang dengan si anak kucing, ia hanya berkedip berulang kali, menolak untuk menjadi yang pertama untuk mengalihkan pandangan. 'Ini perang dingin.'
Sudut mulutnya terangkat ketika mata kuning si anak kucing beralih dari pandangannya. Tapi kerutan di dahinya kembali ketika si anak kucing kembali menatapnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain dengan cepat. Hal ini terjadi berulang kali ketika ia menyadari tempat lain yang ditujukan oleh tatapan si anak kucing.
Ia menyipitkan matanya, berusaha mengirim peringatan kepada si anak kucing hanya dari tatapan mata, menandakan bahwa itu adalah teritorinya saja. Dan untung saja, ia belum menggeritkan giginya sambil mendesis kepada si anak kucing. Kalau tidak, entah apa yang akan dipikirkan Ichigo tentangnya.
"…kia Rukia!" dengan cepat kepalanya berganti arah dari si anak kucing kepada Ichigo yang menatapnya seakan-akan dirinya telah sakit jiwa.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Ia hanya mengedipkan biru-violetnya yang besar dengan raut wajah polos, berusaha menghilangkan aura membunuh yang ia keluarkan gara-gara si anak kucing,
"kau terlihat seperti mau membunuh dia,"
atau tidak sama sekali. Setelah mendengar kalimat Ichigo barusan, ia kembali menatap si anak kucing yang juga menatapnya tajam. Tanpa peringatan, ia melompat ke arah Ichigo dan memeluk pinggangnya erat-erat, membiarkan badan mungilnya berada di tengah kedua kaki jenjang Ichigo.
"O-oy!" ia sama sekali tak peduli dengan teriakan Ichigo. Yang ia tahu, ia menang dari si anak kucing yang berusaha merebut strawberry miliknya. Dari ujung mata yang hampir seluruh wajahnya tenggelam di perut Ichigo, ia bisa melihat si anak kucing hanya menjilati tangannya dengan kepala terangkat tinggi.
Lovable Bunny
"Ichigo~"
"Tidak."
"Ichigooooo~"
"Tidaaaaaaaaaaaaak!"
"Ayolah, kali ini saja."
"Tidak. Terakhir kali kau berkata seperti itu, dia mati."
"Yang kau bicarakan itu ikan mas dari festival."
"Sama saja." Ia cemberut melihat punggung Ichigo yang berjalan meninggalkannya di samping jendela etalase toko hewan peliharaan. Ia kembali melihat ke samping kirinya dan menghembuskan nafas berat. Pandangan matanya yang berkaca-kaca ia tujukan pada satu objek dengan bulu putih dan belang hitam di salah satu matanya. "Aku akan meninggalkanmu, Rukia!"
Ia bimbang. Antara mengikuti Ichigo yang tengah kesal atau terus menatap si kelinci sampai puas. Setelah memutar otak dan berperang dengan mata merah si anak kelinci, ia menoleh dan segera berlari mengikuti Ichigo. Lagipula ia tak tahu jalan pulang.
oooOoooOooo
Dua mata biru-violet yang hanya terbuka setengah itu menatap layar televisi dengan malas. Ia masih memikirkan anak kelinci yang menangkap perhatiannya ketika berjalan-jalan di kota. Wajahnya yang ia topang dengan sebelah tangan perlahan berganti dengan pegangan empuk sofa dan dua biru-violet mulai terpejam.
Ia yang belum sepenuhnya terlelap, masih bisa merasakan sentuhan pelan di dahi dan pipi kirinya, perlahan membawa rambut hitamnya yang terjatuh ke wajah, menjauh ke belakang telinga.
"Hhh… merepotkan. Setidaknya tidur di tempatmu sendiri. Bagus aku tak membelikanmu hewan mengesalkan itu. Kalau jadi, kau pikir siapa yang mengurusku?" ia bisa merasakan tubuhnya terangkat dari sofa. Perlahan tapi pasti, aroma familiar itu tercium di hidungnya, membuatnya mendekatkan wajahnya pada sumber aroma yang selalu membuatnya tenang. Dari ujung hidungnya yang tertempel di kulit leher Ichigo, ia bisa merasakan samar detak nadi yang berirama statis.
Moonbeam
Ia tak tahu apa yang harus dikerjakan. Jari-jarinya terus menggerakkan kursor di ponselnya, berusaha mencari kesibukan walau malam ini serasa tak akan ada hollow. Walau ia tahu ada pekerjaan rumah dari sekolah dan dikumpulkan besok, ia hanya tak menemukan keinginan untuk mengerjakan. Lagipula ia lebih suka untuk meminjam milik Ichigo diam-diam. Ia tahu kalau Ichigo tak akan mau meminjamkan pekerjaan miliknya walau ia sudah sampai pada taraf merayu, bukan meminta.
Dengan piyama kuning kotak-kotak yang ia 'pinjam' sementara dari lemari Yuzu, ia tiduran santai di atas ranjang Ichigo. Bicara mengenai ranjang, Ichigo sama sekali tak suka jika ia berada di atas ranjangnya. Jangankan tidur, duduk di atasnya pun tak boleh. Jadi dengan Ichigo yang tengah mandi di lantai bawah, ia mempunyai kekuasaan penuh atas benda bernama ranjang.
Setelah bosan memainkan sudoku yang entah kenapa bisa berada dalam ponselnya, ia mengalihkan pandangan ke arah jendela Ichigo yang terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk dan membuatnya sedikit mengantuk. Hari ini bulan terlihat lebih terang dari biasanya. Rupanya hampir purnama. Ia tertawa kecil melihat bentuk bulan yang serasa aneh, tidak bulat, tapi sinarnya bisa masuk melewati jendela Ichigo.
Terus-menerus menatap bulan dengan satu bintang di sampingnya, biru-violet semakin menutup, satu tangan yang memegang ponselnya mulai kehilangan pegangan dan membiarkan benda itu jatuh ke atas ranjang.
oooOoooOooo
Ichigo's PoV (third person)
"Rukia?" ia sama sekali tak memperhatikan sekeliling ketika pintu kamarnya ia buka begitu saja. Lagipula siapa yang cukup gila untuk mengetuk pintu kamar sendiri? Kalau memang Rukia tengah berganti baju, ia tahu Rukia lebih suka berganti di dalam lemari daripada mengundang resiko. Tangan kanannya masih sibuk mengeringkan rambut yang masih basah dengan handuk kecil. Setelah bunyi klik tanda pintu tertutup pelan, ia baru mengarahkan pandangan pada siluet tubuh Rukia yang terlentang di atas tempat tidur.
Sejenak kerutan di dahinya semakin dalam, tapi setelah ia mendekati sosok tubuh diam Rukia, ia sadar kalau itu bukan sekadar gigai dari naik-turun gerakan dadanya. Ia pikir Rukia cukup ceroboh meninggalkan gigainya untuk mengurus hollow di atas tempat tidur, rupanya ia hanya tertidur. Ia hanya mengamati Rukia dari posisinya yang masih berdiri, takut jika ia duduk di sampingnya, ia akan berbuat yang tidak-tidak.
Setelah diamatinya lebih lama, ia baru sadar ternyata ada sinar bulan yang membuat wajah Rukia terlihat lain. Wajah bentuk hati yang diselimuti kulit putih itu terlihat semakin pucat di bawah sinar bulan. Entah ada yang salah dengan otaknya atau hanya satu syaraf yang terputus, cairan hangat itu mulai mengalir dari hidungnya ketika ia menangkap samar suara Rukia yang memanggil namanya dengan diikuti sedikit desahan. Dengan cepat ia mengalihkan wajahnya yang mulai menghangat sambil menutupi jalan keluar untuk darah yang tak mau berhenti dalam waktu dekat.
Tak tahan dengan tekanan yang dibuat Rukia, ia duduk di sampingnya dan mengubur wajah di kedua telapak tangan dengan masih tidak melihat Rukia. Ia segera membuka mata ketika gambaran-gambaran aneh tentang hal-hal yang bisa ia perbuat dengan Rukia mulai bermunculan. Badannya kaku ketika ia merasa Rukia bergerak di tidurnya. Perlahan ia melihat ke arahnya dan terus menatap wajahnya. "Ichigo…"
Ia menghembuskan nafas panjang dan menutup mata sebentar untuk mengusap wajahnya. Ketika ia membuka mata perlahan, masa bodoh dengan tata krama! Ia hanya ingin bersenang-senang.
Wajahnya ia dekatkan perlahan ke wajah Rukia yang masih terkena cahanya bulan, nafasnya mulai terasa berat ketika ia bisa merasakan nafas hangat Rukia di wajahnya. "Ichigo?"
Ia sedikit menjauhkan wajahnya ketika biru-violet berbalik menatapnya. Di dalam hati, ia mengutuk kesempatan yang tak akan terulang untuk kedua kali, karena ini baru pertama kalinya ia menyerang ketika pihak lain tengah tak berdaya. "Apa?"
Kedua alis mungil Rukia terangkat mendengar respon dan mendapati wajahnya yang—bisa dibilang—terlalu dekat. "Kau sedang apa?"
"Mengamati…?"
"Hobi baru?"
"Mungkin…"
"…"
Tak tahan dengan situasi canggung dan posisi wajah yang masih berdekatan, ia tak berpikir lagi ketika bibirnya mendarat perlahan di bibir Rukia, melumatnya pelan. Dan ketika ia menarik diri untuk melihat gadis mungilnya yang kini melingkarkan tangan di sekitar lehernya, ia sedikit kehilangan suasana hati yang bagus untuk bermesraan.
"Ichigo, boleh kupinjam pekerjaan rumahmu?"
"Tidak." Ia melepaskan rangkulan gadisnya dan memblokir rentetan kalimat memohon dari bibir manis si gadis.
N-A-P-E. Mine, Your Fetish
Biru-violet menatap cemas pada awan yang bergulung di luar jendela sekolah. Dari ujung matanya, ia bisa mengamati Ichigo yang juga melihat ke arah luar. Wajahnya tak terlihat. Dengan sedikit enggan, ia kembali membalikkan wajah menatap Ochi-sensei yang berbicara mengenai sesuatu di Eropa. Ia sama sekali tak bisa konsentrasi.
Ketika jam pulang sekolah tiba, hujan turun. Tak terlalu deras seperti tadi ketika jam pelajaran masih berlangsung. Tapi tetap saja, kalau pulang tanpa payung dengan keadaan begini, sama saja basah kuyup. Ia menunggu di depan gedung sekolah, sama seperti anak-anak lain yang tak membawa payung. Menatap ingin pada beberapa yang telah berjalan dengan payung di tangan, entah sendirian, berdua atau bahkan bergerombol sambil rebutan, ada juga yang nekat menembus hujan dengan alasan tak mau terlambat kerja sambilan.
Tak jauh dari tempat ia berdiri, Ichigo terdiam sambil terus menatap langit yang enggan menghilangkan awan hujan. Sejauh matanya melihat, awan hujan terlihat sama, pucat tak terlalu kelabu. Ini berarti hujan akan berlangsung lama.
Benar saja. Setelah hampir satu jam berdiri dengan posisi yang sama, hujan masih turun. Walau sekarang hanya gerimis, itu sama saja dengan hujan. "Ayo pulang, Rukia."
Ia tak perlu diberitahu untuk kedua kalinya. Ia hanya mengikuti langkah kaki Ichigo dari belakang, melihat postur tubuhnya yang serasa berbeda ketika hujan turun. Ia tahu alasannya, dan ia tak ingin mengganggu.
"Apa yang kau lakukan di belakang sana?" ia tersenyum kecil mendengar panggilan Ichigo untuk jalan di sampingnya secara tidak langsung. Walau terdengar sarkastik, ia tahu itu hal yang biasa Ichigo lakukan, dan ia tak mengharap lebih. Mempercepat langkahnya, ia tak melepaskan senyum walau kini air hujan mulai mengalir di tubuhnya.
"Aku yang akan sampai duluan!" ia mulai berlari pelan meninggalkan Ichigo di belakangnya.
"Hey! Apa-apaan itu? Hormati orang lain yang sudah menunggu kaki kecilmu itu berjalan!"
"Tidak akan, strawberry!" dan ia hanya tertawa, membiarkan mulut Ichigo mengeluarkan kalimat-kalimat mengancam yang ia tahu tak akan terjadi.
oooOoooOooo
Ia bingung. Jika ia masuk ke dalam lemari untuk berganti pakaian, futon akan basah dan bye-bye tidur lelap. Ingin ke bawah untuk mandi, ia tak sebodoh itu membiarkan dirinya terekspos. Dengan terus melempar pandangan antara baju gantinya dan pintu kamar Ichigo yang masih tertutup, pilihan terakhirnya jatuh pada kamar Ichigo. Lagipula ia tahu kalau Ichigo baru saja ke bawah untuk mandi, tak mungkin ia masuk kamar begitu cepat.
Membalikkan punggungnya ke arah pintu, ia menaruh baju ganti di atas ranjang Ichigo. Perlahan ia membuka kancing seragam satu per satu dan ia lepas, membiarkan tubuh atasnya yang hanya terdapat bra berwarna krem terlihat. Ketika ia meruduk untuk mengambil handuk di samping baju gantinya, ia merasakan dua lengan yang melingkar di pinggang mungilnya dan nafas hangat di tengkuk lehernya. Ia sedikit melompat ketika ujung jari yang hangat itu menyentuh kulitnya yang dingin, mempererat pegangan dan membuat pola aneh di atas kulitnya. Ia mulai tenang ketika ia bisa melihat sedikit warna oranye dari ujung matanya. Meletakkan dua tangannya di atas tangan Ichigo sambil menutup kedua biru-violetnya, ia membiarkan Ichigo memberikan ciuman-ciuman pelan di sekitar tengkuk lehernya.
"Rukia…" ia tahu jika Ichigo sudah lebih tenang. Tak seperti tadi, terlihat menyimpan masalah dan memikirkannya terlalu berat. "…boleh aku membukanya?"
Biru-violetnya terbuka lebar ketika ia merasa satu tangan Ichigo mulai menurunkan satu strap tali bra di pundak kanannya. "Dalam mimpimu, mesum!"
"Ow!"
Outsize Shirt
Raut wajah bingungnya membuat laki-laki di sampingnya menatap heran. "Kenapa Rukia?"
"Huh?" ia menggigit ujung jempol kanannya sambil menatap Ichigo dengan biru-violet yang besar dan masih dengan wajah bingung.
"Kenapa wajahmu? Apa yang kau lakukan dengan ini?" ia hanya menatap tangan Ichigo yang menarik jempolnya menjauh dari bibirnya.
"Tidak… tidak apa-apa…"
"Kau tahu kalau kau itu tak bisa berbohong."
"Darimana kau bisa bicara begitu?"
"Aku bisa membaca wajahmu, tahu." Ia menutup matanya ketika jari Ichigo menyentil dahinya.
"Mana mungkin?" ia cemberut sambil mengusap dahinya dengan dua tangan.
"Kalau kau, apa saja mungkin untukku."
"Kalau begitu kemarikan kemejamu." Ia mengulurkan tangannya ke arah Ichigo yang menatapnya dengan mata melebar.
"Tidak."
"Tadi kau bilang apa saja mungkin untukku. Jangan berani menghindar!"
"Untuk apa aku memberikan kemejaku untukmu?" ia melihat kemeja biru tua yang berada di tangan Ichigo. Ia tahu kalau Ichigo akan memakai kemeja itu dengan dalaman kaos merah.
"Kau sudah pakai kaos, tak perlu pakai kemeja lagi."
"Suka-suka! Ini milikku. Kalau kau mau, pakai bajumu sendiri."
"Kau tahu kalau aku cuma punya dua baju terusan, satu celana pendek, seragam sekolah dan satu set piyama."
"Kuingatkan saja, selain seragam sekolah dan celana pendek, yang lain itu milik Yuzu."
"K-kalau kau tahu, berikan kemejamu! Kau tak mau aku memakai baju yang sama terus-menerus kan?"
"Pakai saja terusan yang kau ambil dari lemari Yuzu."
"Dia sudah mengambilnya dan sekarang ada kunci yang terpasang."
"Kalau begitu seragam sekolah."
"Mana mungkin aku memakai seragam sekolah di hari minggu? Sudah cepat berikan!" tanpa peringatan, ia meraih dan merebut kemeja tadi dari tangan Ichigo yang hendak memakainya.
"Ah! Kembalikan!"
"Terlambat!" ia hanya berkacak pinggang sambil melihat Ichigo yang menyipitkan mata. Kemeja biru tua itu sudah terpasang di tubuh mungilnya. Saking kebesaran, kemeja itu menutupi celana pendek yang ia pakai sehingga ia tampak hanya memakai kemeja. "Kenapa, Ichigo? Apa kau suka melihatku memakai pakaianmu?"
"D-diam kau, midget!"
"Oho~ tak perlu membalikkan wajah kalau kau memang suka. Khukhukhu~" ia tertawa pelan sambil menutup mata, tak menyadari jika Ichigo kini menatapnya terus. Ketika ia membuka mata, ia bertemu pandang dengan honey-amber yang intens. "Apa?"
"Kau akan menyesal memakai pakaianku, Rukia."
"Make me." Ia tak sempat menghindar ketika Ichigo meraih pinggangnya dan menciumnya.
A/N2: Ada apa dengan Sudoku? XD I just love that stressful game, mind you. =~=
