Bleach © Tite Kubo

A/N: Yo! Tinggal beberapa drabble dan selesai sudah cerita ini. Mungkin bisa jadi 2 chapter lagi. Rencana seperti itu. Chapter kali ini masih bisa tahan dikit ya dengan lime yang senggol sana senggol sini dengan rate-T. Kaga terlalu heavy, cuma lime ringan aja. XD Ah, chap kali ini pakai Ichigo's PoV semua. Enjoy!

Seperti biasa, terima kasih buat yang baca, review, follow sampe dibikin fave.

No login review:

AoiHikari: Ohohoho… begitukah? Begitukah? XD Chap kali ini semoga suka juga.

PurpleRhan: Hehe… Kita semua para fangirls iri sama Rukia kalo IchiRuki benar-benar jadi canon! *harapan saya XD*


Pinkish Cheeks

Wajah Rukia memerah ketika wajahnya selalu ia dekatkan. Dan ia tak akan bohong pada dirinya sendiri jika pipi kemerahan Rukia adalah satu hal yang paling ia sukai saat ini. Jika ia melihat pipi Rukia yang kemerahan, otaknya bisa memikirkan berbagai macam hal tak sopan yang ingin ia lakukan pada Rukia. Malang, selama ini ia hanya menerima tendangan, tamparan, pukulan, tarikan rambut dan nama panggilan yang jarang keluar dari bibir Rukia. Memusingkan karena dirinya hanya bisa tertawa pelan melihat wajah Rukia yang pada akhirnya kemerahan ketika melakukan semua itu. Entah benar atau salah yang Ichigo lakukan, ia selalu bisa membuat pipi Rukia bersemu merah.

"Ichigo…" dan ketika ia berbalik arah untuk menengok pada gadis mungilnya, ia berusaha menahan diri untuk tidak segera melompat ke arahnya dan menciumnya hingga gadisnya meleleh di rengkuhannya. Ia bersila dada dan dengan susah payah mengeluarkan suara yang tidak terdengar bergetar.

"Apa?" walau wajahnya masih saja terlihat dingin, jangan samakan dengan matanya yang berkilat ketika melihat semu merah menjalar lebar di pipi Rukia.

"Uuuh…" ia mengambil nafas dalam ketika Rukia melihat ke arah lain sambil memainkan jari-jarinya. Ichigo menganggap sikap ini terlalu sulit untuk ditolak, jadi ia terus memandang antara biru-violet mata Rukia yang terbuka separuh, bibir merahnya yang terbuka sedikit dan oh, ya Tuhan, terlalu seksi ketika Rukia menggigit bibir bawahnya, pundaknya yang kaku karena gugup namun ia tak tahu apa alasannya, jari-jari mungil yang menunjukkan jelas jika Rukia merasa gelisah dan jangan lupakan satu penutup yang menjadi pemanis, pipi kemerahannya. Ia merasa akan segera pingsan jika Rukia juga mengeluarkan suara altonya.

"Kenapa Rukia?" sungguh sebenarnya ia tak tahan. Hal ini terlalu menyiksa. Jika saja ia dan Rukia bisa sendirian saat ini. Ah, tunggu dulu. Ia berpikir lagi dan melihat sekelilingnya, hampir saja ia melompat kegirangan ketika melihat atap gedung sekolah yang sudah sepi dari murid yang biasanya banyak berkumpul. Ia heran sejak kapan tempat ini menjadi sangat sepi. Mungkin ia yang tak mendengar ketika suara bel berbunyi. Ia memilih bersikap acuh mengenai peraturan jika ia bisa berdua saja dengan Rukia tanpa diganggu Keigo dan lainnya. Dan itu saat ini.

"Itu…" tubuhnya kini sudah gemetaran ketika Rukia mengangkat satu tangannya dan menutupi mulutnya, masih dengan menatap ke arah lain. Ia merasa sedang berada di salah satu komik shōjo milik Yuzu, menjadi karakter utama laki-laki dan Rukia sebagai karakter utama wanita, dimana sang karakter utama wanita akan segera mengutarakan perasaannya. Imajinasinya mulai berlarian ke segala arah ketika mendapati ujung mata Rukia bertemu pandang dengan mata honey-ambernya. Ia berusaha keras menahan hembusan nafas yang ingin ia keluarkan dengan segera ketika tiba-tiba saja Rukia meraih kerah seragamnya dan membawa wajahnya mendekat dengan sedikit berjinjit dan dirinya yang sedikit merunduk. Kedua kelopak matanya semakin menutup dan matanya terus saja memandang bibir merah Rukia yang semakin dekat dan perlahan mengutarakan sesuatu. "Sabtu ini kau harus mengajakku ke Chappy World Amusement Park yang baru dibuka kemarin."

"Baiklah…" tanpa sadar ia menyetujui, tak tahu apa yang ia katakan akan menjadi neraka baginya besok. Yang penting ia mendapat pipi kemerahan Rukia di kedua tangannya dan bibir merah Rukia yang menempel lama dengan bibirnya. Yang tak ia ketahui, gadisnya memasang seringai lebar.

'Oh! Ini sangat berguna untuk mengakalinya!'


Quite Obvious Acts

Keigo's PoV (3rd person)

Bagi Keigo, wanita adalah segalanya. Apalagi gadis-gadis manis seperti Kuchiki-san dan Inoue-san, mereka itu adalah berkah dari surga yang mana ia bersyukur pada Dewa karena telah menurunkan mereka di dekatnya. Satu kelas dengan mereka saja sudah beruntung, apalagi dapat berbicara dan menyentuh kulit halus mereka secara sengaja atau tak sengaja. Itu bagai serpihan surga yang dicurahkan langsung ke jiwanya. Namun itu sedikit berubah akhir-akhir ini. Ia masih bisa mendekat dan menyentuh* Inoue-san seperti biasa dan juga mendapat tendangan dari Tatsuki seperti biasa, tapi untuk sekedar bicara dengan Kuchiki-san menjadi semakin sulit dari hari ke hari. Entah Kuchiki-san yang selalu menghilang tiba-tiba, pergi dengan Ichigo tiba-tiba, menarik pergi Ichigo dengan paksa, ditarik Ichigo dengan pasrah dan juga pulang bersama dengan Ichigo setiap hari.

Selalu Ichigo, Ichigo dan lagi-lagi Ichigo. Sudah lama ia mencurigai kedua orang ini. Bahkan ketika Kuchiki-san pertama kali pindah, Ichigo selalu bertingkah aneh dan terlihat—terlalu—dekat dengan Kuchiki-san. Ia selalu berpikir yang terburuk mengenai kedua orang ini. Bagaimana jika mereka adalah pasangan? Apa saja yang mereka perbuat ketika hanya berdua? Apa mereka sudah melakukan 'itu'? Pikiran-pikiran ini selalu membuatnya gila dan kemudian ia mencari penghiburan lain dengan menggoda Inoue-san tanpa harus diketahui Honshō dan Tatsuki.

Tetapi mimpi buruk itu semakin menjadi kenyataan dari hari ke hari ia menguntit mereka berdua. Ia melihat Ichigo menggandeng tangan Kuchiki-san ketika pulang sekolah. Itupun dilakukan Ichigo jika mereka berada di pinggir sungai dan itu sudah sedikit jauh dari sekolah. Ia sedikit mendengus ketika berpikir betapa adegan itu terlihat begitu lovey-dovey dengan sinar matahari terbenam sebagai latar belakang. Di lain kesempatan ia tak sengaja menemukan mereka di kedai es krim ketika ia pergi keluar untuk membelikan Mizuho jusnya. Di sana ia melihat Ichigo yang dengan seringai lebar mengusap ujung bibir Rukia yang ternoda es krim dengan jempolnya dan Kuchiki-san yang hanya memandang Ichigo dengan sedikit cemberut. Dengan senang hati sebenarnya ia begitu ingin mengikuti mereka ketika mereka berdiri, namun mengingat jus dingin yang segera panas, mau tak mau ia pulang sebelum kepalanya menjadi botak.

Semakin lama ia merasa kesempatan untuk dirinya dan Kuchiki-san semakin menipis. Apalagi dengan apa yang ia lihat kemarin. Saat ia melihat itu, ia langsung menangis di tempat. Mengapa oh mengapa Dewa begitu kejam kepadanya. Salah satu dewinya terperangkap dalam rengkuhan setan bernama Ichigo. Oh, seharusnya dua dewinya terperangkap di tempat yang sama. Ia tahu bahwa Inoue melihat Ichigo lebih dari sekadar nakama. Dan dengan kejadian yang ia lihat kemarin, harapannya untuk bisa bersama Inoue-san menjadi berlipat ganda dan tak lupa serangan Tatsuki akan bertambah ganas. Tentu setelah ia menghilangkan gambaran Ichigo dan Kuchiki-san yang tengah berciuman di atap sekolah dari pikirannya.


Rape? No, It's Called Eye Raping

Rukia's PoV (3rd person)

Kepalanya ia julurkan dari celah pintu yang dibukanya sedikit. Menengok ke kanan dan ke kiri secara perlahan, ia mengamati keadaan sekitarnya dengan seksama. Walau sedikit gelap, tapi matanya sudah terbiasa. Mengencangkan pegangan pada lipatan handuk di depan dadanya, dengan cekatan ia keluar dan menutup pintu perlahan, mencoba tak mengeluarkan suara decitan engsel pintu. Tubuhnya sedikit menggigil dengan udara di luar kamar mandi, apalagi dengan punggung dan kaki yang masih basah. Dengan berjinjit, ia melangkah menuju tangga dan naik ke kamar Ichigo. Mandi di malam hari kini menjadi hobi barunya. Dan ia tak ingin ada orang lain yang tahu.

Sesampainya di kamar Ichigo, ia melihat tubuh Ichigo tertidur terlentang dengan kaos yang naik hingga memperlihatkan dadanya, kaki yang menendang selimut karena panas, mulut yang terbuka dan tangan yang sesekali menggaruk badannya. 'Konyol sekali.'

Tanpa peduli resiko fatal, Rukia berbalik dan membuka lemari, mencari pakaiannya yang ia sembunyikan di bawah bantal. Yang tak ia ketahui perlahan Ichigo membuka matanya ketika mendengar suara pintu lemari yang bergeser.

oooOoooOooo

'Oh wow…!' Ia sama sekali tak bisa bergerak melihat Rukia membuka kaitan handuk dan mengencangkannya lagi di pinggang, membiarkannya melihat jelas punggung Rukia. Apalagi dengan rambut Rukia yang pendek dan sekarang tengah basah. Ia bisa melihat aliran air yang jatuh dari ujung rambut Rukia perlahan menurun mengikuti kontur punggung Rukia. Ia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah ketika aliran air itu masuk di antara celah handuk yang tak terikat kencang di pinggang Rukia.

Ia sedikit tersentak ketika Rukia sedikit mengangkat tangannya untuk mengambil baju, dan oh… dia bisa melihat bagian samping dada kanan Rukia. Darahnya berdesir melihat bagian tubuh Rukia yang satu itu. Walau ia sedikit kecewa karena tak terlalu jelas, tapi ketika ia berpikir kalau Rukia tidur tanpa menggunakan bra, hal itu sedikit membuatnya… yah… terangsang. Jangan salah. Dia laki-laki normal dengan hormon.

Ia masih saja mengikuti pergerakan Rukia dalam mode gerak lambat. Melihat Rukia menggunakan celana dalam berenda warna putih dengan handuk yang masih terikat di pinggang, melihat Rukia melepas handuk dari pinggang dan melempar handuk itu dalam keranjang baju kotor—hal ini hampir saja membuat hidungnya mengeluarkan darah karena bisa melihat kaki Rukia sepenuhnya dan hanya tertutup celana dalam—melihat Rukia memakai celana pendek untuk tidur dan melihat Rukia mengeringkan rambutnya dengan handuk lain. Merasa pertunjukan untuk malam itu akan usai, ia berbalik dan menutupi hidungnya yang kini benar-benar mengeluarkan darah.


So Supple

Ia tak pernah tahu bagaimana rasanya untuk menyentuh kedua benda itu secara bersamaan. Yang ia tahu, ia hanya pernah mendengar kata-kata empuk, halus dan lembut dari mulut vulgar Keigo. Saat itu, ia benar-benar meninju hidung Keigo dengan keras sebelum bayangan dirinya menyentuh kedua benda itu terpampang jelas di pikirannya.

Dan saat ini ia sama sekali tak bisa menyingkirkan bayangan itu dari pikirannya ketika Keigo membawa topik yang sama untuk dibicarakan saat makan siang. Langkah kakinya sedikit melambat dan membuat tulang keringnya kesakitan karena ditendang Rukia. Ketika ia melirik ke arah Rukia yang berjalan di sampingnya, rona merah muncul di pipinya dan bayangan itu muncul kembali, membuat darahnya menyebar cepat di daerah tertentu.

"Kau kenapa Ichigo?" untuk menyelamatkan harga dirinya yang terancam hancur di depan pacar, ia melempar pandangan ke arah lain dan bersila dada.

"Tidak." Dan mereka kembali berjalan pulang dengan dirinya yang sedikit tersiksa di bagian sana.

oooOoooOooo

Ia tahu ia membuka kamar pada saat yang tidak tepat. Sama sekali tidak tepat karena Rukia tengah berganti baju. Ia sedikit merasa heran sejak kapan Rukia menghentikan kebiasaannya untuk berganti baju di dalam lemari daripada di luar lemari. Mungkin karena Rukia sudah sedikit merasa masa bodoh ketika berada di sekitarnya.

Dan sebelum Rukia melancarkan serangan padanya yang masuk tanpa mengetuk—siapa yang sudi mengetuk pintu kamar sendiri?—dengan cepat ia menangkap kedua tangan Rukia yang menandakan jika Rukia akan menembakkan bakudō ke arahnya. Reflek ia segera mendiamkan Rukia dengan bibirnya sendiri karena tak mau Yuzu, Karin dan ayahnya naik ke atas dan melihatnya bersama Rukia yang tak memakai atasan sama sekali.

Ia terus berjalan hingga akhirnya kaki Rukia terantuk tempat tidur dan membuat mereka jatuh ke atasnya. Ia masih menahan tangan Rukia yang meronta untuk dilepaskan, tapi ia segera memasukkan lidah ke dalam mulut Rukia untuk membuatnya sedikit terbawa arus. Ia juga melepaskan satu tangannya dan membiarkan tangannya yang lain untuk menahan kedua tangan Rukia. Tangannya yang sudah bebas itu ia manfaatkan untuk sedikit eksperimen yang membuatnya penasaran.

Secara perlahan ia menurunkan tangannya sambil terus berpagutan lidah dengan Rukia, melewati pipi yang terasa panas, garis rahang, leher, kontur tulang selangkanya dan berhenti di antara kedua dadanya. Ia bisa merasakan detak jantung Rukia yang berdenyut cepat dan merasakan tubuhnya yang tak lagi meronta dan sedikit bergetar ketika jempolnya ia gerakkan secara pelan di bagian bawah dada kanan Rukia.

Merasa Rukia sedikit menurut, ia melepaskan pegangannya pada tangan Rukia dan membawanya turun. Darahnya berdesir cepat memikirkan apa yang akan ia lakukan. Ketika kedua tangannya benar-benar berada di bawah dada Rukia, ia berhenti sebentar. Melepas ciumannya untuk mengambil nafas dan kembali mencium Rukia yang sedikit terengah, ia lakukan itu agar pikiran Rukia terbagi dan tidak terlalu fokus pada kedua tangannya. Ia melihat wajah Rukia dengan mata menyipit, berusaha merekam wajah erotis Rukia yang terlalu seksi baginya.

Dengan bertumpu pada kedua lututnya di atas tempat tidur, ia membawa tangannya untuk meremas pelan dada Rukia. Pikirannya melayang ketika ia membenarkan semua perkataan Keigo; empuk, halus dan lembut. Dan dengan dua puting Rukia yang semakin mengeras di bawah telapak tangannya, ia serasa akan pingsan saking bahagianya.

Ia terus melanjutkan pengalaman barunya dengan dada Rukia, menutup mata karena terhanyut permainannya sendiri sampai tak menyadari jika Rukia membuka lebar kedua matanya dan tubuhnya yang kaku ketika merasa tangan Ichigo meremas dadanya terus menerus. Ichigo yang masih terbawa arus hanya bisa merintih kesakitan ketika Rukia menendang keras perutnya dengan lutut. Ia melepaskan sedikit surganya dan berguling ke samping, membiarkan Rukia lolos dan memasuki lemari. Dan ia bisa mendengar dengan jelas teriakan Rukia sebelum menutup pintu lemari.

"HENTAI!"


Try Again and Again

Ia duduk dan menguap lebar sambil menggaruk kepala belakangnya. Pandangannya sama sekali ia alihkan dari sinar matahari yang menusuk masuk melalui jendelanya yang terbuka lebar, tahu dengan jelas siapa yang tega membawa penyiksaan baginya di sabtu pagi. Ketika ia melirik jam di atas mejanya, ia sama sekali tak kaget jika ini sudah pukul setengah sepuluh.

"Ichigo!" ia tersentak mendengar pintu yang bergetar karena dibuka kencang dan tiba-tiba oleh pelaku yang sama dalam kasus jendela lebarnya.

"Aku bisa mendengarmu, Rukia!" ia sedikit bergidik ketika telinganya berdenging.

"Kau berjanji mengajakku ke Chappy World Amusement Park. Cepat siap-siap!" dengan mulut lebar ia menatap Rukia tak percaya.

"Apa? Aku tak pernah menyetujui hal semacam itu!"

"Pendusta! Kau yang mengatakan 'baiklah' dengan nafas terengah sebelum menciumku senin kemarin di atap sekolah!" ia hanya bisa diam, berusaha mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu di atap.

"Memangnya iya?" ia masih terdiam kaku, sedikit merinding membayangkan dirinya dikelilingi kelinci jadi-jadian yang disebut chappy.

"Jangan bodoh. Cepatlah!" ia hanya bisa pasrah melihat Rukia yang melompat kegirangan sambil menarik tangannya untuk meninggalkan tempat tidur. Tapi matanya berkilat sebelum akhirnya ia menangkap pinggang Rukia dengan tangan kirinya.

"Kalau begitu bangunkan aku dulu." Ia segera mencium bibir Rukia yang tidak sempat menolak. Bahkan ia tak membuat Rukia merasa nyaman karena ia meneruskan surganya yang sempat tertunda. Belum ada beberapa detik tangannya meremas dada Rukia, ia merasakan sakit di pipi kirinya karena tonjokan kuat Rukia.

"Jangan mempermainkanku!"

"Uuugh…" ia hanya bisa menatap punggung gadisnya yang menjauh dan mendengar teriakanyang menyuruhnya untuk cepat bersiap sebelum ada tonjokan susulan.


*Menyentuh yang saya maksudkan di sini bukan dalam artian menyentuh yang bukan-bukan. Cuma sekadar memegang tangan. Kita semua tahu Keigo tak seperti itu dan punya respect terhadap Inoue dan Rukia. Hanya sekadar meluruskan jika ada yang sempat berpikiran seperti itu agar tak terjadi kesalah pahaman. Kita semua cinta damai! :)