Tujuh tahun? XDXDXD Lama banget ga buka ffn. Ngeliat folder fic kok kayaknya kasian dianggurin. Upload saja. Haha... please note, aku udah lama ga nulis. Ini juga udah jadi lama, cuma akunya males posting. #ups

Bleach © Tite Kubo


Untouched! Just for This Hot Morning

Rukia yang sedang berada dalam keadaan tak awas, hanya melihat gambar yang berganti cepat di televisi milik Ichigo. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dilakukan dua orang di hadapan kitchen set dan berbicara terus menerus. Yang terlintas di pikirannya hanya kejadian dua hari lalu. Wajahnya memerah ketika merasa ada yang menekan dadanya, seperti ketika Ichigo melakukannya. Jika ia memikirkan hal itu berulang kali, ia bisa pingsan kehabisan nafas. Ketika ia melihat ke bawah—ke arah dadanya—dan membayangkan tangan Ichigo, tubuhnya ia biarkan tergeletak di tempat tidur dan berguling menghadap dinding sambil menutup wajahnya. Ia heran kenapa hari Sabtu kemarin ia sama sekali tak terpengaruh dan baru sekarang ia menyadarinya. Mungkin karena ia merasa senang ketika ia tahu ia akan menyiksa Ichigo di taman bermain dengan chappy di mana-mana.

Ia membiarkan dirinya berada di posisi yang sama untuk beberapa saat sampai pintu kamar terbuka dan tubuhnya menegang. Ia selalu bisa mendeteksi suara langkah kaki Ichigo dan membedakannya dari langkah kaki orang lain. Apalagi ditambah dengan wangi Ichigo yang berbaur dengan wangi sabun yang selalu dipakainya tiap mandi. Hal ini semakin menyiksa ketika ia duduk dan berbalik karena Ichigo memanggilnya dan ia melihat Ichigo hanya memakai celana cargo pendek yang melingkar rendah di pinggul dan tanpa kaos. Rukia menatap aneh pada Ichigo yang tengah mengusap rambut basahnya dengan handuk dan mengatakan sesuatu. Ia sama sekali tak bisa mendengar satu kata pun yang keluar dari bibir Ichigo, sebab telinganya berdenging dan matanya mengikuti aliran titik air yang jatuh dari rambut lembab Ichigo turun ke dada, perut dan jauh ke bawah sana.

"Oe, Rukia!" ia sedikit tersentak ketika wajah Ichigo berada di depan wajahnya. Sejak kapan wajah Ichigo bisa shunpo? Reflek Rukia menutupi dadanya dengan kedua tangan dan menjauhkan wajahnya.

"Apa?" ia merasa sedikit lega ketika suara yang keluar dari mulutnya tak bergetar sedikit pun.

"Kenapa kau tutupi dadamu?" rona merah kembai menjalar dan ia menyipitkan matanya pada Ichigo.

"Memangnya kenapa? Apa maumu?" ia menatap curiga pada Ichigo yang sama sekali tak menjawab dan hanya menatapnya. Semakin lama berada di bawah tatapan Ichigo yang seperti ingin memakannya hidup-hidup, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori di dahinya. 'Oh tidak. Jangan sampai dia memikirkan hal itu.'

Kedua matanya terbuka lebar ketika Ichigo benar-benar melompat ke arahnya. Sebelum ia sempat menghindar, ia terbawa arus ketika Ichigo menciumnya. Ia masih sedikit sadar dengan tangan Ichigo yang kini bergerak perlahan di pundaknya. Bibirnya semakin ia tekan dan sedikit membuka mulut ketika Ichigo menjilat bibir bawahnya. Lidahnya keluar sedikit sebelum akhirnya lidah Ichigo mengambil alih semua kontrol dan membuatnya semakin hilang kendali.

Ia sedikit mendesah ketika kedua tangan Ichigo berada di perutnya, kulit dengan kulit. Ia hanya tak sadar sejak kapan kaos yang dipakainya sudah naik dan berada di atas dadanya, memperlihatkan bra violet yang dipakainya. Ketika ia merasa tangan Ichigo semakin mendekat area berbahaya, kedua matanya melebar dan ia menggigit lidah Ichigo yang masih berada di dalam mulutnya.

"OW! Hey!" menghindari tangan Ichigo yang ingin meraih tubuhnya dengan cekatan, ia sama sekali tak melihat ke belakang ketika ia menutup pintu kamar dengan keras dan berlari keluar. Ia masih bisa mendengar teriakan kesakitan dan kutukan dari bibir Ichigo tentang pintu dan hidungnya. Yang ia tahu, ia harus cepat-cepat menghindar karena tubuhnya terasa panas.


Virginity Issue

Ia hanya menatap gerombolan gadis yang duduk di sekitarnya berbicara mengenai berbagai hal. Dengan sebungkus roti di tangan dan jus kotak yang tengah ia minum isinya, ia berkedip cepat ketika pertanyaan itu mengarah padanya.

"Hei Kuchiki, apa kau tahu kalau Kurosaki masih perjaka atau tidak?" tak sengaja ia menyemburkan isi jusnya keluar dan terbatuk.

"A-apa? Pertanyaan apa itu?" ia berterima kasih ketika Inoue menyodorkan sapu tangan kepadanya. Segera ia membersihkan wajah dan pakaiannya dengan Inoue yang mengusap punggungnya perlahan.

"Ah, kenapa kau bertanya seperti itu, Mahana?" Ogawa yang membawa bonekanya untuk makan siang bersama hanya menutupi kedua pipi dengan tangannya dengan wajah memerah.

"Oh, ayolah. Kau juga ingin tahu kan? Benar kan, Ryo, Chizuru, Tatsuki?" Rukia yang masih berusaha menenangkan dirinya melihat ke arah Kunieda yang tetap membaca buku walau dengan mata melirik ke arah lain, Honsho yang terus menatap tajam ke arah dada Inoue dan juga Tatsuki yang tertawa keras.

"Terserah. Aku tak ingin tahu." Dan dengan itu Kunieda kembali membaca bukunya.

"Tak tertarik dengan laki-laki." Honsho perlahan mulai mendekat ke arah Inoue.

"AHAHAHA! Tentu saja Ichigo masih perjaka!"

"EH?" ia tak sadar ketika bibirnya bergerak dan menatap heran pada Tatsuki. Begitu pula dengan yang lain.

"T-Tatsuki-chan~"

"Bagaimana kau tahu, Tatsuki?" Mahana menatap tajam pada Tatsuki.

"Tentu saja. Sejak dulu, aku belum pernah melihatnya berkencan. Apalagi ia pernah berkata padaku jika ia tak tertarik untuk berkencan." Rukia hanya bisa terdiam dan sedikit bersyukur ketika perhatian tak lagi tertuju padanya. Ia hanya tersenyum kecil ketika suasana makan siang bersama para gadis kembali normal dengan Honsho yang menerima tinju dari Tatsuki. Di dalam kepalanya ia terus mengulang pertanyaan yang ditujukan padanya.

oooOoooOooo

Kedua matanya menatap tajam pada wajah yang memasang seringai ke arahnya. Ia tengah duduk dengan kedua kaki berada di depan dadanya dan dua tangan dengan erat melingkari kakinya, semakin lama semakin erat ketika Ichigo semakin mendekat ke arahnya.

"Rukia…"

"M-menjauh Ichigo!" wajahnya ia sembunyikan di antara lututnya, tak ingin memperlihatkan wajah merahnya pada Ichigo.

"Bukankah kau yang ingin tahu? Kuberitahu kalau kau menurut." Dua matanya terlihat dari balik rambut hitam yang menutupi wajahnya. Dengan waspada ia menangkap sekecil apapun pergerakan Ichigo.

"Kau bisa mengatakannya padaku. Tak perlu bertingkah aneh-aneh!"

"Eeeh… tak menarik kalau begitu. Kemarikan telingamu." Tubuhnya tersentak melihat tangan kiri Ichigo yang membuat gestur untuk dirinya agar mendekat ke arahnya. "Cepat…"

"Jangan melakukan hal bodoh." Perlahan ia mengangkat wajahnya dan melepas pegangannya. Mau tak mau ia mendekat ke Ichigo karena penasaran dan mendekatkan telinganya ketika wajah Ichigo mendekat.

"Kalau aku masih perjaka, kau mau jadi yang pertama?" wajahnya memerah dengan dua mata terbuka lebar dan sedikit bergidik ketika lidah Ichigo menjilat daun telinganya.

"Bakudō #1, Sai!" dengan cepat Rukia keluar sambil berteriak, "baka Ichigo! Hentai! Hentai!" Meninggalkan Ichigo yang bergulung di tempat tidur sambil tertawa dan berusaha melepas bakudō.


Water Soaked

Berulang kali ia mengutuk dalam hati ketika angin kencang bertiup dan membuat badannya menggigil. Hujan yang turun sama sekali tak membantu dan membuatnya semakin kesal sepanjang hari ini; Ichigo yang meninggalkannya di pagi hari, pekerjaan rumah yang lupa ia salin dari milik Ichigo, jus kotak kesukaannya tak lagi dijual di vending machine dan sekarang ia harus berbasah-basahan di jalan pulang karena tak membawa payung.

"Ichigo sial! Beraninya meninggalkanku lagi. AH!" giginya bergerit menahan dingin ketika angin lagi-lagi berhembus tanpa aba-aba.

Ia semakin mempercepat langkahnya, tak mau berlama-lama di bawah hujan ketika petir mulai ikut-ikutan meramaikan suasana, apalagi dibayangi dengan pikiran yang aneh-aneh. Tidak, ia sama sekali tak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya dengan mudah. Jika itu sampai terjadi, ia akan menghabisi siapa saja yang berani berbuat aneh kepadanya dan kemudian meminta pertanggung jawaban Ichigo karena telah meninggalkannya bersama si payung.

Tubuhnya tersentak ketika suara petir bergema di sekelilingnya, langkah kakinya semakin cepat dan kini ia mulai berlari dengan tangan kirinya sebagai tameng untuk kedua matanya. "BAKA ICHIGOOOOO!"

oooOoooOooo

"Rukia?" ia sama sekali tak menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Tubuhnya tetap berdiri di genkan dengan tangan yang masih memegang kenop pintu, setidaknya tubuhnya sedikit hangat ketika masuk ke dalam rumah.

Diam sesaat dan ia mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Rasa kesalnya semakin menjadi-jadi ketika ia membalikkan badan dan tak menemukan siapapun di dekatnya. Dengan cepat ia melepas sepatu dan kaos kakinya, tak ingin berjalan di dalam rumah dengan kaos kaki yang basah.

"Pakai ini." Ia menegakkan tubuhnya dan membiarkan handuk besar yang disampirkan di kepalanya menutupi sebagian wajahnya. "Sampai basah-basahan begini. Apa kau tak ada kerjaan? Lagipula, kenapa kau tak membawa payung—"

Ia sama sekali tak mendengar penjelasan Ichigo yang panjang lebar. Telinganya berdenging dan ia menggigit bibir bawahnya semakin kencang. 'Menyalahkanku? Menyebalkan.'

"—aku jadi bisa melihat dengan jelas…" kedua matanya berkedip cepat. Ia mendongak dan menatap heran pada Ichigo. "Apa?"

"Barusan kau bilang apa?" rasa kesalnya tiba-tiba hilang, entah kenapa menatap Ichigo yang tersipu malu sedikit membuatnya senang.

"Tch, aku lupa bilang apa tadi, terlalu panjang." Kedua alisnya berkerut menatap Ichigo yang bersila dada dan mengalihkan pandangan.

"Yang terakhir! Yang kau katakan terakhir kali!" tangannya mengepal di samping tubuhnya, geregetan melihat Ichigo yang terkadang sulit ditebak jalan pikirannya.

"Aaah… yang itu?" Ichigo kembali menoleh ke arahnya.

"Iya, yang itu. Kau bilang apa tadi?" ia menyesal bertanya seperti itu ketika ujung bibir Ichigo terangkat dan membentuk seringai. Dengan Ichigo yang berdiri di lantai dan ia yang masih berdiri di genkan, perbedaan tinggi badan semakin menjadi-jadi. Apalagi dengan tatapan Ichigo sekarang, ia merasa seperti buruan yang terekspos di depan pemburu.

"Harusnya kau tahu, hujan, kemeja putih, bra hitam?" saat ini ia tak lagi merasa kedinginan. Kepalanya terasa panas, apalagi wajahnya. Benar saja, ketika ia melihat ke bawah, kemeja putihnya menempel di kulit dan menonjolkan bra hitam yang dipakainya. Bukannya mau pamer atau apa, hanya saja tadi pagi ia terburu-buru dan tak melihat warna bra yang diambilnya dari lemari. Hal terakhir yang dikhawatirkannya pagi tadi adalah bra hitam yang terlihat jelas dari balik kemeja putih.

Kesal dengan dirinya sendiri, Rukia memberi Ichigo satu bogem mentah tepat di hidungnya.


X-Mas for Me

"Hei, Ichigo. Apa itu?"

Sejak tadi ketika berkeliling kota, Rukia terus melihat ornamen-ornamen aneh yang dipajang di toko. Melihat seorang kakek tua berjanggut putih berdiri di kereta yang ditarik hewan, membuatnya berpikir kalau itu adalah pencuri.

"Apa dia pencuri? Kenapa dipajang yang seperti itu? Apalagi banyak sekali." Rukia terus mengamati salah satu patung si kakek yang diletakkan di depan restoran keluarga. Sama sekali tak sadar jika Ichigo berusaha keras menahan tawanya.

"Phuh!"

"Apa?" dia langsung menoleh tajam ketik mendengar Ichigo mulai tertawa pelan.

"Tidak. Itu bukan pencuri. Itu Santa Claus." Rukia mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya ketika mendengar nama asing.

"Santa… Claus?"

"Yep! Bisa dibilang tumpuan harapan anak-anak."

"Ha?" Rukia menatap tak percaya pada Ichigo yang berwajah serius.


Young Blood

Musim panas selalu identik dengan pantai atau gunung. Tapi untuk tahun ini, Ichigo hanya ingin berdiam di rumah. Dia ingin bersantai, paling jauh dia hanya akan pergi ke konbini. Walau Yuzu dan juga tak ketinggalan Rukia, merengek untuk pergi setidaknya ke pantai sekali saja, ia tetap bergeming.

"Hei Ichigo,"

"Hm?"

"Ayo pergi ke pantai!"

"Tidak…"

"Kenapa?"

"Banyak orang…"

"Kalau begitu ayo mendaki gunung,"

"Panas…"

"Tentu saja panas, karena ini musim panas. Ayolah… aku bosan di rumah terus…"

"Apa kau Yuzu? Berhenti merengek seperti kecil. Sadarlah dengan umurmu."

"Hey!"

Musim panas kali itu dilewati Ichigo dengan luka memar.


ZIPLOCK

"Yuzu, kau sedang membuat apa?"

"Ah, halo Rukia-nee. Aku sedang mencoba resep kue yang baru saja kutemukan di internet."

"Sepertinya enak..."

Rukia kemudian duduk di konter sembari mengamati Yuzu yang sibuk dengan resep kuenya.

"Hey Yuzu, apa kau masih punya plastik ziplock?" Rukia sedikit kaget ketika mendengar suara Ichigo, mungkin ia terlalu fokus melihat Yuzu mengaduk krim kocok.

"Ichigo! Kenapa kau harus muncul tiba-tiba? Bikin kaget saja. Lagipula apa itu liplock?"

Rukia menatap heran kepada dua bersaudara yang memandangnya aneh.

"Apa? Ada yang salah?" dan seketika, ia mendapati Ichigo mencium bibirnya…

"Itu liplock, kalau ini ziplock…" bisik Ichigo sambil mengayunkan plastic ziplock pemberian Yuzu yang berwajah merah.

"ICHIGO!"