Title: Love Game

Cast:

- Lee Donghae

- Lee Hyukjae

- Choi Siwon

- Cho Kyuhyun

- Kim Heechul

Warning: Might be OOC, BL, Typo(s), and etc

Disclaimer: They belongs to God and themselves

Summary: Lee Hyukjae dengan pemikiran kuno nya dan Lee Donghae si playboy berwajah ikan (ini menurut Hyukjae)


"Hyukkie… Kau tidak pernah pergi kencan ya?"

"Yah! Apa maksud mu?!"

Hyukjae meremas bergantian kedua tangannya. Tebakan Donghae memang benar, ia tidak pernah pergi berkencan. Punya kekasih saja tidak pernah, dan sekalinya ada pun hanya karena tertantang akan perkataan tajamnya. Penampilan mereka berdua sangatlah kontras. Donghae mengenakan kaus berwarna putih yang melekat pas ditubuhnya dan jaket kulit berwarna coklat yang dibiarkan terbuka, dibagian bawah, pemuda itu mengenakan celana jeans dan sepatu sneakers berwarna coklat. Sedangkan Hyukjae, hanya mengenakan kaus kuning bergambar karikatur pisang ditengahnya dan celana training berwarna biru dongker.

"Kau bahkan tidak menggunakan apa pun diwajah mu? Haah, kau terlihat menyedihkan. Apa boleh buat, ikut aku!"

Ia hanya bisa pasrah saat ditarik Donghae menuju mall yang memang menjadi tujuan mereka. Pertama, pemuda itu mendudukkannya dibagian kosmetik, mengaplikasikan sunblock pada wajah Hyukjae, sebelum menimpanya dengan polesan bedak yang tidak terlalu tebal. Donghae lalu bertanya pada salah satu wanita yang bekerja di toko kosmetik tersebut tentang lip balm yang cocok untuk pemuda bersurai brunette yang merupakan kekasihnya itu. Setelah mendapat warna yang cocok, pemuda itu kembali ke tempat dimana Hyukjae duduk menunggu.

"Apa kau pernah memakai lip balm?"

Gelengan dari Hyukjae, cukup menjawab pertanyaan tadi. Mengangkat dagu pemuda manis itu perlahan, Donghae menyapukan lip balm yang ia bawa tadi pada bibir pemuda tersebut. Setelah selesai, ia membeku melihat bibir yang tampak semakin menggoda itu. Tanpa lip balm saja, Donghae sudah sulit mengontrol diri untuk tidak menerkam bibir milik Hyukjae, apa lagi saat ini setelah di poles dengan lip balm strawberry. Untung saja Donghae dapat mengendalikan dirinya dan segera mundur untuk menjaga jarak.

"Lihatlah ke cermin"

"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?"

"Aish, sudahlah, lihat saja dulu!"

Hyukjae takjub dengan apa yang ia lihat. Seperti bukan dirinya saja, tapi yang paling mencuri perhatiannya adalah bagian bibir. Ia terkesima melihat bibirnya tampak berkilau. Dan tanpa sepengetahuannya, Donghae membeli kosmetik yang digunakan Hyukjae tadi. Mereka lalu pergi ke butik, memilih baju yang lebih 'pantas' untuk berkencan. Jujur Hyukjae sangat gembira hari itu. Mereka pergi menonton film di bioskop, makan siang, mengunjungi akuarium, dan terakhir bermain ice skating. Tentu saja semua itu dilakukan setelah selesai mencari kado untuk guru mereka. Hyukjae benar – benar tidak menyangka pergi kencan akan semenyenangkan ini. Entahlah, ia merasa sangat gembira, kepalanya berputar seperti mabuk rasanya. Dan di akhir kencan mereka, Hyukjae sedikit terkejut karena Donghae membelikannya sunblock, bedak, dan juga lip balm yang ia gunakan saat di toko kosmetik.

Hari minggu berlalu dengan cepat, dan disinilah ia sekarang, berdiri didepan lokernya pada senin pagi. Tidak biasanya Hyukjae rajin datang ke sekolah sepagi ini, namun entah mengapa ia sangat bersemangat. Sekali lagi, ia memandangi bibirnya yang baru saja ia poles tipis dengan lip balm pemberian Donghae kemarin. Ia tersipu malu melihat refleksinya di layar ponsel yang ia gunakan sebagai cermin. Ia menghela nafas pelan, ini pertama kalinya ia menggunakan lip balm ke sekolah. Ia pernah melihat Heechul membawa beberapa koleksi make up yang digunakan pemuda tersebut, namun tidak pernah bertanya atau tertarik menggunakannya. Ia ingat saat itu Heechul membantu mendandani salah seorang teman kelas mereka dan mengatakan bahwa bibir yang kering akan lebih terawat dan bagus jika dipoles dengan lip balm.

"Wow! Hari ini bibir Hyukjae-ssi terlihat basah dan sangat menggoda ya"

"Ya ampun, jangan katakan kalau kau mengira Donghae benar – benar mau menjadi kekasih dari orang seperti mu? Maksud ku, dia memang tidak pernah mempermasalahkan gender kekasihnya, tapi dengan laki – laki seperti mu?"

"Bahkan kami lebih setuju jika Donghae bersama kedua teman dekat mu itu. Kyuhyun-ssi yang manis dan menggemaskan atau Heechul-ssi yang tampan sekaligus cantik"

"Kasihan, padahal kau hanya dipermainkan~. Ini sudah hari keenam kan? Besok sudah genap seminggu, dia akan meninggalkan mu besok. Jadi jangan terlalu banyak berharap!"

"Hei! Itu Donghae!"

Sakit. Hyukjae meremas ponsel yang ada di genggamannya, sebelum mengusap cepat bibirnya dengan blazer seragam yang ia kenakan. Ia berusaha keras menulikan pendengarannya saat para wanita tadi berlomba – lomba untuk mencari perhatian pemuda tampan itu dengan suara manja yang dibuat – buat. Hyukjae mengatupkan bibirnya rapat, ia mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah dan memaksa kakinya, yang tiba – tiba terasa sangat berat, untuk bergerak. Berusaha sekuat mungkin untuk diam agar tidak menarik perhatian Donghae. Sayangnya, pemuda itu justru melangkah semakin mendekat padanya.

"Hyukkie? Kenapa berdiri diam disini? Kau menunggu ku? Ahh~ Hyukkie manis sekali~"

"Tidak. Aku tidak menunggu mu, Lee Donghae-ssi"

"Tunggu. Hyukkie, itu…–"

Belum sempat Donghae menyelesaikan perkataannya sambil mencoba meraih lengan pemuda manis tersebut, Hyukjae sudah bertindak lebih dulu dengan mendorong keras tubuhnya. Mata indah milik pemuda bersurai brunette tersebut tampak berkaca – kaca, seketika itu juga hati Donghae seperti hancur berkeping – keping. Tubuhnya membeku saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut kekasih manisnya itu.

"Donghae-ssi… Kita sudahi saja permainan ini. Aku sudah kalah, aku benar – benar jatuh cinta pada mu. Selamat atas kemenangan mu"

Lalu Hyukjae berlari pergi. Lidah Donghae kelu, matanya memanas menyadari bahwa ia yang bersalah karena memulai semua ini dengan dasar 'tertantang'. Ia baru akan mengejar Hyukjae, namun para wanita tadi menahannya disana. Mereka bergelayut manja di kedua lengannya, bahkan ia bisa merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Frustasi, ia nyaris saja berteriak dan mengumpat pada kelima wanita itu, jika seseorang tidak mendahuluinya.

"Hei kalian! Dasar wanita ganjen haus belaian, lepaskan ikan Mokpo itu! Atau kalian akan terima akibatnya. Jangan sampai kalian memperberat hukuman kalian karena sudah membuat Hyukjae kami menangis"

"Ini bukan urusan mu, Heechul-ssi!"

"Iya! Kau urus saja kekasih baru mu itu!"

"Perkataan kami memang pantas untuk menyadarkan si buruk rupa itu!"

Habis sudah kesabaran Donghae. Ia menghempaskan para wanita yang bergelayut disekitarnya tadi lalu bergegas pergi mencari Hyukjae. Pemuda itu tidak peduli jika salah satu dari kelima wanita itu terluka, prioritasnya saat ini adalah Lee Hyukjae. Ia sudah cukup muak mendengar para wanita itu bersikap manja padanya bahkan sampai berani menghina kekasih manisnya. Sebelum ia bertindak lebih jauh seperti mencaci maki para wanita dengan make up yang tebalnya mungkin mencapai lima sentimeter itu, lebih baik Donghae pergi mencari Hyukjae yang berlari entah kemana. Heechul yang melihat hal tersebut, menyeringai lebar.

"Oh ya ampun… Aku lupa mengingatkan. Tidak ada yang bisa menghina Hyukjae, kecuali aku… Dan dia tentunya"

Heechul menunjuk kearah belakang para wanita tersebut. Sontak mereka semua berbalik untuk melihat siapa yang di maksud pemuda dengan surai platina tadi. Namun sepertinya, itu bukanlah keputusan yang cukup bagus, karena seringaian yang dilihat para wanita tersebut, membuat orang yang berdiri dibelakang mereka tadi tampak setara dengan jelmaan iblis. Mengerikan. Mata bulat seperti boneka itu, memandang bengis kearah mereka, amarah jelas tersirat disana. Satu hal yang mereka sadari, kacamata pemuda bersurai coklat eboni itu, tidak bertengger manis di hidungnya. Celakalah mereka karena sudah membangunkan dua iblis yang marah. Mungkin mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan sekolah yang tenang. Setidaknya, selama satu minggu ke depan.

"Kyuhyunnie, aku serahkan mereka pada mu untuk hari ini"

"Dengan senang hati aku akan menangani mereka, hyung…"


###


"Hahaha… hikss… ukhh… Bodohnya aku karena lupa bahwa semua ini hanyalah permainan bagi Donghae…"

Hyukjae terduduk didepan gudang yang terletak dihalaman belakang. Kedua lutut ia peluk erat dengan wajah terbenam diantaranya, sungguh merasa bodoh karena membiarkan cintanya terjun bebas dan jatuh pada seorang Lee Donghae yang terkenal sebagai playboy kelas kakap. Bodohnya ia karena menganggap semua perhatian dari pemuda itu memang spesial untuknya. Dan lebih bodohnya lagi, ia sampai melupakan bahwa semua ini hanyalah permainan untuk seorang Lee Donghae. Ia bahkan mulai percaya bahwa interaksinya dengan si wajah ikan itu adalah takdir.

"HYUKKIE!"

Tersentak, ia mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Bibirnya bergetar, ada perasaan senang karena Donghae mengejar dan menemukannya. Namun, ia tidak tahu harus berkata apa pada pemuda itu.

"Apa yang kau lakukan disini?!"

"Dasar bodoh! Tentu saja mencari mu! Lalu apa maksud perkataan mu tadi?!"

"Maksud ku–"

Seketika, matanya melebar. Ia melihat angka '18' berwarna merah yang tertulis dipintu gudang setelah secara tak sengaja melemparkan pandangannya kesana. Kembali ia teringat tentang perkataan Kyuhyun dan majalah yang diperlihatkan oleh pemuda berkacamata tersebut. Sungguh, awalnya ia tidak begitu yakin dengan apa yang ditulis di majalah bodoh itu, namun ia ingin menyerah. Ia tak sanggup lagi jika harus menyangkal perasaannya. Air mata yang sempat berhenti tadi, kembali mengalir keluar saat ia menunduk menatap lututnya. Bulir – bulir bening itu mulai membentuk jejak basah dibagian lutut celana seragamnya.

"Aku kalah… Aku kalah dengan taruhan kita… Aku tahu kau hanya main – main dengan ku. Tapi aku benar – benar menyukai mu, Donghae…"

Sekuat tenaga, Hyukjae mencoba menghentikan air mata yang tumpah dari matanya. Ayolah, dirinya ini laki – laki! Mungkin ia memang tidak terisak, tapi air mata membuatnya terlihat lemah, dan ia benci itu. Menarik nafas dalam, ia pun memberanikan diri untuk mendongak menatap Donghae. Saat itulah ia tertegun, melihat wajah Lee Donghae yang memerah dengan mata sedikit berkaca – kaca.

"Menyebalkan… Padahal aku sudah biasa melihat para mantan kekasih ku dulu menangis tapi… Aku tidak bisa melihat mu menangis!"

"Donghae…"

"Boleh aku mencium mu? Jujur aku benar – benar tidak bisa menahan diri hingga kencan ke sepuluh untuk mencium mu"

Perlahan, kedua tangannya terangkat untuk menangkup kedua pipi pemuda didepannya itu. Matanya bergerak gelisah, sedikit bingung bagaimana harus merangkai kata yang tidak terdengar aneh dan memalukan.

"Karena aku percaya pada mu… Mungkin… Tidak masalah kalau sekarang…"

Donghae tersenyum lembut, ia balas menangkup kedua pipi kekasih manisnya itu dan menempelkan kening mereka berdua. Perasaan ini, gejolak ini, belum pernah Donghae merasakannya dengan siapa pun. Hatinya sibuk bergemuruh menyebut nama Lee Hyukjae, pemuda yang ia percaya sebagai cinta yang sebenarnya.

"Aku mencintai mu, Hyukkie. Aku sangat , sangat, mencintai mu, Lee Hyukjae"

Mereka terkekeh pelan dengan pandangan mengunci milik satu sama lain, sebelum kedua pasang mata itu tertutup. Bibir mereka bertemu, melumat pelan sarat akan perasaan yang selama ini mereka tahan. Sekarang, mereka bisa bebas mengekspresikan perasaan cinta yang telah mereka tahan pada satu sama lain tanpa ada beban ataupun label bahwa hubungan yang akan mereka jalani ini hanyalah sebuah 'permainan'.

Tanpa sepasang kekasih itu sadari, seorang pemuda bersurai coklat eboni sedang memperhatikan mereka berdua dari atap gedung sekolah. Senyuman kecil tampak diwajah pucatnya saat ia merasakan sepasang lengan melingkar dipinggangnya. Ia menggigit sebatang pocky rasa vanilla yang disodorkan padanya, lalu mengunyah perlahan biscuit manis berbentuk tongkat kecil tersebut.

"Baby Kyu, Heechul sudah pulang lebih dulu. Apa kau juga mau pulang?"

"Apa kita benar – benar di liburkan hari ini, Siwon hyung? Hm, tidak buruk juga ternyata ide ku dan Heechul hyung. Selain berhasil memberi 'pelajaran' awal untuk kelima wanita itu, kita juga mendapat libur sehari"

"Percayalah, aku bahkan tidak tahu kalian bisa melakukan hal itu, sayang"

Kyuhyun hanya tertawa kecil. Ia tahu ayahnya bisa mengamuk jika mengetahui apa yang sudah ia lakukan. Tapi, ia percaya Heechul sudah menghilangkan seluruh 'barang bukti' perbuatannya hari itu. Salah satu keuntungan sebagai anak pemilik yayasan sekolah dan anak dari kepala sekolah adalah akses tak terbatas. Tentu saja Kyuhyun dan Heechul menggunakan keuntungan itu sebaik mungkin.

"Ayo kita pulang, hyung"


END


Sesuai janji saya kemarin, chapter 2 nya di publish hari ini!

Jangan lupa meninggalkan jejak jika berkenan :)

Kalau mau menyapa author (pede amat si author), boleh langsung di pm atau ke akun Ig khusus punya author (Kyon0_2)