Animal Planet © faihyuu
Naruto © Kishimoto Masashi
Warning(s) : OOC, Miss Typo(s), AU, Ide mainstream, Gaje, etc.
Dibuat hanya demi menuntaskan kehausan batin.
.
.
Animal Planet.
Saluran televisi itulah yang acapkali Naruto lihat ketika ia memergoki istrinya saat sedang menonton. Dengan ditemani keripik kentang dan jus buah, Hinata menonton aktivitas-aktivitas para binatang di alam bebas dengan penjelasan audio berbahasa Inggris. Tanpa subtitle.
Kalaupun bukan Animal Planet, biasanya sang istri akan memilih NatGeo Wild yang kontennya sebelas-dua belas.
Hinata jarang sekali menonton dorama ataupun film yang mengandung unsur drama-romantis seperti perempuan kebanyakan. Ia akan lebih suka menonton eksplorasi alam dan sedikit anime yang membuat kita harus memutar otak saat menonton. Dahulu, saat mereka masih berpacaran, Naruto lumayan kerepotan mencari film-film bioskop yang kiranya dapat diterima untuk wanitanya ini.
Hinata tidak akan mau menonton film romantis ataupun drama seperti pasangan kekasih kebanyakan. Horor? Okelah, mungkin pasangan kekasih kebanyakan akan memilih genre ini juga. Namun, Naruto yang seharusnya jadi sandaran ketika wanitanya takut nanti, malah ia menyandar ketakutan ke arah wanitanya. Naruto tahu dia memang pecundang ketika bicara soal makhluk tak kasat mata.
Film yang mereka tonton di bioskop sebelum dan setelah menikah paling-paling hanya film superhero ataupun animasi berbau petualangan yang digemari anak-anak.
"Lucu sekali ya, Naruto-kun." Dengan sembari menyeruput jus apel yang dibuatnya sendiri, Hinata bersuara.
"Hm?" Naruto memang tidak tidak menonton televisinya, pria pirang itu kini sedang sibuk mengendusi—terkadang juga mengecupi— surai indigo dan leher Hinata yang sekarang berada dalam pangkuannya. Pria Uzumaki ini memang suka sekali dengan aromanya menenangkan yang menguar dari sang istri.
"Rusty Spotted Cat, kucing yang dijuluki sebagai ras kucing terkecil di Asia. Asalnya dari India dan Srilanka. Gemasnya~"
Barulah sapphire milik Naruto mengarah pada televisi yang memang sedang menampilkan seekor kucing yang memang sangat mungil sedang berlari kesana-kemari. Kucing itu memang menggemaskan, terlihat seperti boneka.
"Iya, iya. Menggemaskan kok. Tapi omong-omong, Hin. Kamu apa nggak takut nabrak, ya?"
Hinata menoleh, kini jarak wajahnya dan Naruto tak sampai sepuluh senti. "Huh? Nabrak apa? Bagaimana maksudnya?"
Naruto menyeringai, "Kamu nggak takut nabrak apa? Soalnya gemesnya kamu kelewatan. Gak tahan aku," Dan sebuah kecupan dicuri Naruto dari bibir Hinata.
Setidaknya, Naruto sangat bersyukur akan jenis tontonan sang istri.
Karena pria pirang itu merasa lebih mudah dalam menjalankan gombalan receh dan aksi-aksi romantis khas drama picisan tanpa bisa ditebak oleh Hinata.
End.
Top of Form
