My dear little sister II.
.
.
.
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto.
Genre : Family ,Hurt/Comfort ,Romance.
Rate : T.
Pair : Naruto x ...
Warning : typo,mainstream,ooc,newbie,dll.
.
.
.
.
.
.
.
Summary:
Sebuah kebahagiaan memiliki seoarang adik perempuan yang sangat menyayangimu, dan sebuah kebahagian memiliki kakak laki-laki yang selalu melindungimu. Semoga kalimat itu terus berada dihati kita.
Akankah seorang mampu menghancurkan ikatan mulia dari mereka yang terlahir dari asal yang sama.
.
.
.
xXx
.
.
Chapter 2.
Beberapa tahun kemudian di kota ramai tokyo...
"Kakak... sarapan sudah siap". Teriak seorang bocah perempuan baersurai merah. Dengan tongkatnya ia tertatih menaiki tangga.
Sembari mengalunkan nada sayangnya terhadap kakaknya, tanpa hentinya senyum terpancar dari wajahnya yang cantik.
"Kakak...". Ujarnya lagi.
"Iya aku segera turun". Akhirnya sahutan yang ditunggunya pun terdengar, dengan begini ia tahu bahwa kakanya sudah bangun dari tidurnya.
Tanpa pikir panjang gadis kecil itu berbalik hendak menuruni tangga. Sebelum sampai di lantai, tiba-tiba tangan kekar telah menangkapnya.
Membawa tubuhnya melayang keatas angin. Dengan sedikit berteriak anak itu mengayunkan tongkatnya karna ketakutan.
"Turunkan aku... ". Teriaknya dengan mata terpejam. Sementara sang pelaku pengangkatan hanya terkekeh pelan melihat adik perempuan tersayangnya berteriak ketakutan.
Diturunkan tubuh adiknya di atas kursi makan. "Hehh... kakak kebiasaan. Kakak kan tahu aku takut ketinggian". Ujar Sara dengan wajah cemberut khas anak-anaknya.
"Iya... maaf". Ujar Naruto dengan tangan terkatup memohon ampun.
"Ayo cepat sarapan kita akan segera berangkat". Ujar Sara mulai menyantap makanan di depannya.
Di sebuah apartemen kumuh itu tempat tinggal Naruto dan adiknya sekarang. Bukan lagi mansion mewah seperti dulu dimana semua telah tersedia. Sekarang ia harus bekerja keras untuk keberlangsungan hidupnya dan juga adiknya.
Semenjak kejadian beberapa tahun silam banyak hal telah terjadi. Semenjak saat itu Naruto seakan telah lupa akan orang tua.
Ia merasa sudah menjadi seorang anak yatim piatu. Tapi ia bersyukur masih ada adiknya yang menemaninya sampai sekarang. Ia berjanji akan melindungi adiknya dari apapun dan kapanpun.
Ingin rasanya Naruto kembali kerumahnya. Tapi entah mengapa hatinya menolak keras keinginan itu. Lagipula dia pun tak punya uang untuk pergi ke eropa.
Mungkin kalian bingung bagaimana anak kecil bisa bertahan hidup sendirian di kota yang keras ?.
Setelah keluar dari dermaga seseorang menemukan mereka.
.
Flashback ON.
Dengan langkah tertatih seorang anak bersurai pirang berjalan diatas trotoar jalan. Darah kering membasahi perut dan bajunya. Masih bisa ia rasakan saat besi mengkilap itu menyayat perutnya. Sungguh sakit rasanya.
Ditambah lagi sekarang dipunggunnya adik kecilnya sedang terbaring nyaman akan kehangatan.
Membawa tubuhnya sendiri saja sudah sangat membuat kakinya gemetar tak karuan. Ditambah adiknya sudah bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya.
Meski begitu rasa syukur tak hentinya terucap dari bibir mungilnya. Dalam keadaan seperti ini ia masih bisa berjalan walau berat tiap langkahnya.
Sakit... perutnya sakit. Anak itu telah mencapai batas kemampuannya. Hawa dingin desember benar-benar membuat kakinya kaku.
Bruukhh...
"Hahh... akhh...". Anak itu tersungkur beberapa kali helaan nafas ia hembuskan, air mata mengalir deras dari shappirenya.
Ribuan pasang mata melihatnya, kedua anak kecil yang kesakitan. Tapi tak seorang pun berniat memberinya uluran tangan.
Dimana hati nurani kalian dapatkah kalian hidup dengan tenang selagi anak-anak tak berdosa ini menangis kesakitan.
Dimana hati nurani kalian.
Dimana.
Entah tiada yang tahu. Pandangannya menggelap apakah ini akhir kehidupan.
Dalam diam ia berdo'a "Tuhan sel..".
Sebelum selesai do'anya, kesadaraan sudah tak nampak dari tubuhnya. Pikirannya hilang, tubuhnya seakan telah mati. Darahnya telah terkuras sangat banyak dan tanpa makanan membuat sekujur tubuhnya pucat tak bertenaga.
.
.
Malam yang sangat dingin menaungi setiap sudut kota. Jam malam pun sudah terlampau sangat jauh. Beberapa mobil nampak masih sangat ramai menyuarakan raungannya.
Tak terkecuali mobil mewah milik menteri pertahanan jepang. Aston Martin DB9 hitam itu melaju pelan menembus dinginnya malam.
Terlihat di dalam sang menteri pertahanan yang besenda gurau bersama dengan putri kecilnya. Suaranya menggelagar dalam mobil mewah itu, hingga suara kecil putrinya mengubah atensinya.
"Ayah lihat... di sana ada laki-laki yang tidur di jalanan". Celotehnya sambil menunjuk keluar jendela kaca.
Karena penasaran akhirnya lelaki tua itu menengok ke arah telunjuk putrinya. Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati 2 anak kecil terbaring di trotoar.
Segera lelaki itu tepikan mobilnya, lalu turun untuk mengecek keadaan anak itu.
Betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati darah kering dengan jumlah yang tak sedikit itu berada di baju anak itu.
"Darah". Gumamnya. Dengan segera lelaki itu menggendongnya masuk ke dalam mobilnya".
.
Flashback off.
Dan semenjak saat itu mereka berdua tinggal di panti asuhan. Tetapi semenjak panti asuhan kekurangan donatur, Naruto yang merasa sudah mampu menghidupi diri pun memutuskan untuk keluar dari panti bersama adiknya.
Dengan uang tabungannya ia bisa membeli apartemen kecilnya. Dan sebuah motor untuknya bepergian.
Seperti pagi itu setelah sarapan Naruto menaikkan tubuh kecil Sara ke atas motor cb150r itu. Setelah itu ia pun juga naik dan langsung memacu motornya untuk menuju ke sekolah adiknya.
Setelah beberapa menit barulah mereka sampai di sekolah Sara. Karena jarak yang tak terlalu jauh perjalanan pun tak terlalu lama.
Naruto turun dari motornya lalu mengangkat tubuh Sara. Lalu menurunkannya.
"Kakak menunduklah". Ujar Sara pada Naruto.
"Hmm kenapa?".
"Menunduk saja... cepak kakak". Rajuk Sara karena Naruto tak lekas menunduk.
"Baiklah". Naruto menunduk, menuruti permintaan adiknya.
Cupp... "aku sayang kakak"
"Kakak juga sayang Sara".
Setelah mendapat kecupan dari Sara, Naruto segera menuju ke sekolah tempatnya menuntut ilmu.
Tak perlu heran. Tentu karena prestasinya, menteri pertahanan dengan senang hati membiayainya.
Tepat waktu itulah gelar yang selalu didapat oleh Naruto. Ia selalu datang paling pagi dari teman-temanya. Bukan untuk melakukan hal-hal aneh, setelah sampai ia akan duduk tenang ditempatnya lalu membuka buku tebalnya.
Tapi jangan kira dia kutu buku yang suka dibully. Naruto adalah pemegang gelar karate tingkat nasional dan akan melaju ke tingkat internasional sekaligus kapten club basket KHS.
.
xXx
"Ayah Ibu aku berangkat". Teriak gadis bersurai pink pendek itu sambil menyabit tasnya dan langsung pergi meninggalkan ruang makan.
"Hati-hati ya Sakura. Jangan mengebut". Sahut Mebuki dari dalam dapur. "Iya". Tanpa pikir panjang Sakura langsung mengambil kunci mobilnya.
Sesampainya di garasi mobil. Mata Sakura menelusuri garasi mencari mobil pribadinya berada.
Setelah menemukannya Sakura langsung menaikinya.
Mobil viper merah itu melaju sangat kencang di jalanan pagi tokyo. Datang pagi adalah hal yang paling ia suka. Karena di waktu pagi itu dia bisa berduaan saja dengan pria kesayangannya. MUNGKIN.
Sesampainya di dikelas dengan cepat Sakura mencari seseorang yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
Dan benar saja Dalam sekolah yang sangat sepi ini prianya sudah duduk manis ditempatnya.
Seringai licik terukir di bibirnya yang basah. Sakura berjalan mendekat lalu duduk di kursi samping Naruto.
"Bagaimana, tugasku sudah selesai". Ujar Sakura lembut.
Naruto mengangguk tanpa sedikitpun menoleh pada Sakura. "Mana ambilkan". Ujar Sakura lagi. Kini dengan tangan mengadah meminta buku tugasnya.
"Ada di dalam tas kau ambil saja sendiri". Sahut Naruto tanpa menoleh. Sakura langsung menggeledah tas Naruto untuk mencari bukunya. Sanyangnya ia sama sekali tak menemukan tanda bukunya berada.
"Mana Naruto di sini tidak ada bukuku". Ujar Sakura. Wajah kesal sudah nampak padanya.
"Ada dalam cari saja". Tanpa menoleh lagi. Perhatiannya masih terpaku akan bukunya.
Sakura dengan wajah kesalnya segera mencekal dagu Naruto lalu membaliknya. "Aku tidak suka kalau kau tak memperhatikanku". Ujarnya garang.
Sakura paling tidak suka di duakan apalagi oleh Naruto. Perhatian Naruto hanya untuknya bukan untuk orang lain. Sakura sangat benci jika Naruto lebih memedulikan hal lain selain dirinya.
"Sepertinya aku tidak membawanya". Setelah Naruto mencoba menggeledah tasnya, ternyata benar bahwa dia tak membawa buku tugas Sakura.
Sudah pasti dapat dilihat wajah Sakura yang memerah karena amarah. "Kalau begitu tugasmu aku bawa". Ujar Sakura seenaknya.
"Tapi itu tugasku Sakura". Ujar Naruto berusaha meminta ampunan pada Sakura.
"Biarkan... ini hukumanmu". Ujar Sakura dingin.
Sungguh seorang atlet karate tingkat nasional dapat dikalahkan dengan mudah oleh gadis manja.
Tentu saja begitu. Sakura memang sudah sangat sering memperlakukan Naruto dengan semena-mena. Tentu saja alasannya adalah karena Naruto miskin.
Kenapa Naruto tidak melawan ? Itu karena Naruto sangat menghormati Ayah Sakura yang telah berbaik hati padanya dan adiknya.
Ya Ayah Sakura adalah menteri pertahanan yang telah menyelamatkannya dari maut dahulu kala.
Bahkan seringkali Naruto berpikir bahwa dia sudah seperti budak Sakura.
..
...
..
Kelas mulai ramai. Suara bising pun mulai memenuhi ruangan kelas.
"Brother... kenapa denganmu... wajah mu itu sama sekali tidak menunjukkan jiwa mudamu...". Teriak Lee...
"Nenek sihir itu memonopoli ku lagi". Desah Naruto.
"Owh... bersabarlah saudaraku. Suatu saat nanti kau pasti bisa membalasnya haha...". Ujar Lee yang memberi semangat pada Naruto.
Lee adalah salah satu teman Naruto di panti asuhan.
Teng... teng... teng...
Suara bell masuk berbunyi semua murid pun serentak duduk ditempatnya masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak". Sapa Kurenai yang baru saja masuk kelas.
"Pagi. Sensei". Sahut serentak para murid.
"Kumpulkan tugas minggu lalu. Dan yang tidak meng...". Belum selesai Kurenai melantunkan perintah, tiba-tiba Sakura telah mengangkat tangannya.
"Naruto tidak membawa tugas Sensei". Ujar Sakura dengan sinis.
"Benarkah itu Naruto ?". Tanya Kurenai memastikan.
"Benar Sensei".
"Tumben sekali kau tidak tertib Naruto. Jadi, sekarang kau bisa keluar dari kelasku". Ujar Kurenai tenang sambil mempersilahkan Naruto keluar.
Naruto berdiri diliriknya Sakura yang tengah tersenyum senang.
.
xXx
Naruto pov ON.
Sial sekali nasibku hari. Harus keluar dari kelas. Lihat saja wajah licik si nenek sihir itu seenaknya saja mengambil tugasku.
Sudahlah dari pada aku berdiri tak jelas di sini lebih baik aku ke perpustakaan.
Tunggu siapa gadis itu sepertinya dia anak baru. Mungkin sedikit pertolongan akan membantu.
Naruto pov OFF.
Terlihat Naruto yang tengah dihukum oleh Kurenai-sensei tampak bingung ingin melakukan apa. Karena memang selama bersekolah tidak sekalipun ia mendapat hukuman.
Setelah duduk agak lama di depan kelas, akhirnya Naruto memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Daripada hanya melamun lebih baik dia membaca 'Ilmu dapat Waktu tak terbuang sia-sia' . Begitulah pikir Naruto.
"Sepi sekali". Gumam Naruto. "Apa hanya aku yang diluar ?". Lanjutnya.
Tentu saja diluar sepi semua murid berada dalam kelas.
Beberapa menit kemudian sampailah ia di depan perpustakaan.
"Naruto". Sapa sesorang dari belakang. Naruto menoleh kebelakang dilihatnya seseorang yang baru saja memanggilnya.
"Kakashi-sensei. Kenapa kau disini ?". Ujar Naruto bingung ketika melihat senseinya yang selalu menyembunyikan wajah di balik masker itu.
Kakashi terdiam, berfikir sejenak tentang alasannya berada di perpustakaan. Sebelum ia menjawab pertanyaan murid teladannya.
"Emm.. kupikir aku sedang mencari referensi cara datang tepat waktu". Ujarnya sambil tertawa pelan.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan diluar. Ini kan masih jam pelajaran ?". Kakashi ganti bertanya.
Naruto meghela nafas. " aku dihukum Kurenai-sensei". Ujarnya dengan wajah lesu.
"Haha... tumben sekali kau dihukum Naruto. Seperti bukan kau saja. Yasudah daripada melamun lebih baik kita membaca buku tentang cara datang tepat waktu". Kakashi pun menggandeng tangan Naruto untuk masuk ke perpustakaan besar itu.
Naruto sweetdrop. "Buku itu hanya cocok untukmu sensei".
Begitu masuk Kakashi dan Naruto langsung disambut oleh rak-rak yang tersusun tinggi hingga mencapai sekitar sepuluh meter yang mengharuskan murid untuk mendaki tangga jika ingin mengambilnya, ribuan buku terpajang disana. Sunggung tempat itu adalah surga bagi seorang pembaca dan merupakan neraka jahannam bagi para berandalan sekolah tentunya.
Setelah menyapa guru penjaga perpustakaan Naruto langsung mengambil sebuah buku dimana disana tertera susunan abjad yang membentuk kata MATEMATIKA.
Naruto berjalan santai berusaha meredam bunyi setiap langkahnya. Ia berniat untuk duduk di bangku paling pojok, karena disitulah tempat paling nyaman untuk berkonsentrasi.
Sementara Naruto telah serius membaca bukunya. Lain halnya dengan Kakashi. Terlihat guru bermasker itu masih mengobrol dengan guru penjaga perpustakaan itu.
"Emm... begitu y. Baiklah murid itu perempuan kan. Pasti akan lebih nyaman dengan lelaki tampan". Ujar Kakashi lirih.
"Terserah kau saja". Ujar guru penjaga perpustakaan.
.
xXx
.
"Sial.. seenaknya sensei menambah hukumanku". Desah Naruto.
Baru saja ia menikmati dunia matematikanya, dan tanpa aba-aba Kakashi menyuruhnya ke ruang kepala sekolah dengan alasan hukuman dari Kurenai masih kurang.
Berkali-kali Naruto menghela nafasnya. Kenapa hari ini dia sial sekali.
Setelah agak lama berjalan akhirnya Naruto sampai di ruang kepala sekolah.
"Aku datang". Ujar Naruto malas.
"Ehh... Naruto apa yang lakukan disini ?". Ujar kepala sekolah KHS yang kebingungan.
"Anu.. Tsunade-sama. Aku disini untuk menggantikan Kakashi-sensei".
"Owh... begitu. Aku kira kau dihukum". Ujar Tsunade tertawa ringan.
Naruto pun juga ikut tertawa ringan atau lebih tepatnya tertawa garing. 'Memang aku dihukum'. Batin Naruto.
"Ya sudah... Naruto sekarang kau harus mengantar murid baru ini ke kelasnya". Ujar Tsunade.
Naruto tersentak. "Hahh... beb-baiklah".
.
xXx
.
Bel.. istirahat telah berbunyi, para murid pun berhamburan keluar. Banyak dari sebagian murid memilih untuk pergi ke kantin, sekedar mengisi perut yang berteriak-teriak meminta jatah.
Tidak dengan Naruto sekarang. Ia masih sibuk dengan hukumannya.
Di koridar sekolah itu Naruto berjalan beriringan dengan Shion. Ya dia adalah siswa baru itu.
Banyak yang menatap mereka ?.
Tentu saja banyak. Naruto adalah atlet Nasional semua tentangnya akan menjadi trending topik selama tiga bulan penuh.
"Memangnya kau dikelas apa Naruto ?". Tanya Shion pada Naruto yang tampak terbengong sebelum pertanyaan tadi diajukan.
"Ohh.. aku ?. Kelasku di sebelahmu ?". Ujar Naruto santai.
"Emm... ". Gumam Shion tanda mengerti. "Ipa 1 atau Ipa 3 ?". Lanjut Shion.
"Tentu saja Ipa 1". Naruto memperlihatkan jari telunjuknya banngga.
"Wahh... ternyata Naruto pintar ya". Puji Shion dengan agak tertawa kecil.
"Tentu saja". Naruto menyombongkan diri.
..
...
..
Sementara itu di kelas Ipa 1. Dimana kelas Naruto berada semua murid menatap ke arah jendela.
"HAHH APA INI. KENAPA SI PIRANG ITU MENCURI START LAGI". Teriak Kiba tak terima akan takdir.
"Benar sekali... Naruto memang hebat, kharisma yang terpancar dari dalam dirinya sangat kuat sehingga para gadis mudah sekali takluk padanya". Ujar Shino menimpali kalimat kiba barusan.
"Dasar kau. Seharusnya kau setuju padaku. Jika begini terus kita bisa jomblo sampai lulus". Kiba uring-uringan karena kalimat Shino.
"Para lelaki itu ngomongin apa sih ?. Sepertinya seru sekali". Sakura bertanya pada Ino Sembari mulutnya mengunyah makanan yang baru saja ia beli di kantin.
"Entahlah.. mungkin Narutomu sedang berjalan dengan seorang gadis". Ujar Ino.
Sakura tersentak mendengar penuturan Ino. Tanpa menunggu lama ia pun langsung berdiri, dan beranjak munuju jendela.
"Tunggu Sakura aku hanya bercan". Ucapan Ino terputus ketika melihat pemandangan didepannya. Naruto yang tengah berjalan beriringan dengan gadis yang tak ia kenal.
"Da".
Dan sudah Ino duga pasti Sakura akan sangat marah melihat pemandangan ini.
"Siapa gadis itu ?. Berani sekali dia mendekati Narutoku". Ujar Sakura dengan penuh amarah.
"Sabar Sakura". Ino berusaha menenangkan Sakura.
"Awas kau Naruto aku akan menghukummu".
..
...
..
"Okeyy... kita sudah sampai".
"Ada yang bisa aku tolong lagi nona ?". Tanya Naruto pada si gadis.
"Tidak terima kasih Naruto. Sampai jumpa". Ujar Shion lalu masuk dalam kelas.
.
.
.
.
-TBC-
..
Baiklah semuanya terima kasih ya sudah membaca fic kedua aku. Dan jangan lupa review ya.
Flame juga gak papa kok.
Nge-fav sama nge-follow juga gak papa.
.
.
And jangan lupa baca legendary sword.
.
.
REVIEWS
