My dear little sister III.
.
.
.
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto.
Genre : Family ,Hurt/Comfort ,Romance.
Rate : T.
Pair : Naruto x ...
Warning : typo, mainstream, ooc, newbie, dll.
Ingat jangan pedulikan genre ya.
.
Dan disini bakal ada adegan sedikit ecchi gak mutu.
.
.
.
.
.
.
.
Summary:
Sebuah kebahagiaan memiliki seoarang adik perempuan yang sangat menyayangimu, dan sebuah kebahagian memiliki kakak laki-laki yang selalu melindungimu. Semoga kalimat itu terus berada dihati kita.
Akankah seorang mampu menghancurkan ikatan mulia dari mereka yang terlahir dari asal yang sama.
.
.
.
xXx
.
.
Chapter 3.
Sekolah dasar tempat Sara telah berakhir. Banyak sekali daru para orang tua yang menjemput anak-anak mereka.
Kecupan lembut dipipi, elusan dikepala terpampang didepan mata kecil Sara.
Menuai rasa iri dari gadis kecil bermata violet itu.
"Hufft...". Sara menghela nafasnya lelah, kenapa takdir seakan mempermainkannya.
Duduk diantara kebahagiaan yang tidak ia miliki.
Ia juga anak yang ingin dimanja oleh orang tuanya, di cium dan di belai dengan kasih sayang oleh kedua orang tuanya.
Sudah cukup pemandangan menyakitkan untuk hari ini. Sara meraih tongkatnya, dengan gerakan yang sangat hati-hati tangan kiri Sara mulai menumpukan tongkatnya pada tanah. Lalu menegakkan tubuhnya.
Dengan tertatih Sara melangkahkan kakinya keluar dari area sekolahan yang mulai sepi dari para murid.
Setelah keluar dari area sekolah Sara segera menuju ketempat dimana ia selalu pergi ketika ia bosan atau tidak punya teman. Tempat yang menjadi tempat favoritenya.
Sara menelusuri trotoar jalan dengan tongkatnya yang bersih. Sesekali ia bersenandung dan menyapa para pejalan kaki yang ia lewati.
Tak sedikit pula pejalan kaki yang menyapanya balik.
.
..
.
Setelah agak lama berjalan, akhirnya ia sampai di sebuah cafe yang lumayan agak besar. Yang terletak di daerah yang cukup ramai.
Jadi tak heran jika cafe itu laris setiap saat.
Tapi untungnya Sara datang saat jam kerja. Jadi cafe agak sepi. Hanya ada beberapa anak sekolah yang bolos dan orang umum.
Setelah agak lama mengamati kondisi diluar cafe. Sara mulai mengayunkan tongkatnya menuju dalam cafe.
Sara membuka pintu kaca cafe dan segera masuk. Diedarkannya pandangan kesekeliling ruangan. Setelah merasa cukup aman Sara langsung melenggang masuk menuju kedalam dapur.
"Selamat siang kak Ayame, paman Teuchi". Ujar Sara ketika telah masuk ke dapur.
Tangan kanannya menengadah lalu berlari pelan menuju tempat dimana Ayame berada.
"Selamat siang juga. Sara sayang". Ayame langsung merendah, untuk menyambut tubuh kecil Sara yang perlahan mendekat padanya dengan tangan menengadah.
Tidak begitu lama Sara dan Ayame melepaskan pelukan mereka.
"Bagaimana apakah ada sesuatu yang menarik di sekolah ?". Tanya Ayame dengan senyum sumringah yang terpatri diwajah cantiknya.
Sara tersenyum lebar. Setelahnya ia duduk di lantai dan mulai menggeledah tas punggungnya, setelah merasa sesuatu yang ia cari sudah ketemu. Lantas ia tarik tangannya keluar tas.
"Tadahhh... ". Teriak Sara. Sambil tangannya menunjukkan kertas ujiannya.
"Lihatlah kakak.. nilaiku hitung-hitungan alias matematika dapat seratus lagi". Ujarnya senang.
Ayame lantas mengambil kertas itu dan tersenyum senang. "Wah... Sara memang hebat dan cerdas".
Tiba-tiba saja paman Teuchi datang menyela kegiatan mereka yang tengah asyik membicarakan nilai ujian Sara.
"Wah wah... ada apa ini ?. Ramai sekali". Ujar paman Teuchi lalu menunduk menyamakan tingginya dengan Sara.
"Aku dapat Nilai seratus lagi paman". Sara memperlihatkan kertas ujiannya.
Teuchi pun juga sangat bangga mengetahui Sara yang yang telah seperti putrinya sendiri mendapat nilai sempurna.
"Sara memang paling hebat, kakak Naruto pasti bangga dengan Sara". Ujar paman Teuchi senang. Sembari jempolnya ia tunjukkan pada Sara.
"Tentu saja. Jika kakak tidak bangga aku akan memukulnya". Ujar Sara senang dengan tangannya yang mengepal lunak.
Mendengar pernyataan Sara yang polos itu membuat paman Teuchi dan Ayame tertawa bersama-sama.
Setelah habis tertawa semuanya pun terdiam. "Apakah kakak belum kesini paman ?". Tanya Sara pada Teuchi.
"Tentu saja belum. Sara kan tahu kak Naruto pulangnya agak sore".
Sara menggembungkan pipi. "Kali saja kakak pulang lebih awal". Gumamnya lirih hampir tak bersuara.
"Ya sudah. Sara pasti lapar kita makan ya". Ajak Ayame pada Sara, karena dia tahu Sara baru pulang sekolah pasti belum makan apa-apa.
Sara menggelengkan kepala. "Nggak mau. Sara maunya nanti kalau sudah ada kakak".
"Tapi Nanti perut Sara sakit loh". Ayame sedikit khawatir karena tidak mau makan jika tidak ada Naruto, padahal kan Naruto masih lama pulangnya.
"Nggak mau". Sara menutup mulutnya rapat-rapat tanda bahwa keputusannya telah bulat.
"Kakak Ayame suapin mau ?". Tanya Ayame lagi. Masih berusaha membujuk Sara yang kekeh.
"Disuapi ?". Sara membuka mulutnya.
"Iya". Sahut Ayame senang, karena sepertinya rencana miliknya berhasil.
"Ya sudah. Tapi sedikit, biar aku bisa makan sama kakak". Akhirnya Sara menyetujuinya.
Dengan sangat senang hati Ayame menyuapi gadis cantik yang sudah seperti adiknya ini.
.
.
xXx
.
Diruangan besar bernuansa putih dengan banyak garis hitam tengah bersemayam didalamnya seorang pria paruh baya bersurai pirang yang tengah mengacak rambutnya frustasi.
Perawakannya yang tampan dan pembawaannya yang tenang seakan telah menyembunyikan kenyataan bahwa fikirannya telah kacau sejak bertahun-tahun lalu lamanya.
Perusahaan yang diurusnya pun kadang mengalami penurunan dan peningkatan kinerja yang tak beraturan semenjak tragedi buruk yang dialaminya dahulu kala.
Tok.. tok...
"Tuan Namikaze bolehkah saya masuk". Ujar seorang dari luar ruangan.
"Ya masuklah". Sahut Minato dingin. Dengan tangannya yang senantiasa memijat pelipisnya.
Klek...
Pintu terbuka menampakan tubuh ramping seorang wanita bersurai hitam pekat. Dengan beberapa kertas dalam pelukannya.
"Permisi tuan. Saya ingin memberikan laporan tentang kerja sama dengan klien kita dan beberapa permintaan kerjasama yang menunggu persetujuan anda". Ujar wanita itu sopan.
Minato mengangkatnya dan tersenyum. "Terima kasih, letakkan saja disini". Tunjuk Minato pada sudut meja kerjanya.
Wanita itu langsung meletakkan berkas yang ia bawa diatas tempat sebagaimana ditunjukkan oleh Minato.
"Kalau begitu, saya kembali kerja lagi tuan".
Minato mengangguk.
Wanita itupun lantas mundur dan meninggalkan ruangan Minato.
Klek...
Merasa pintu telah tertutup. Minato lantas menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya yang lelah pada sandaran kursi.
Diraihnya berkas berkas dari pegawainya. Setelah membacanya seulas senyum terpatri diwajahnya yang tampan, tak lama senyum itu kembali pudar.
Kerja sama nya dengan kliennya berjalan lancar. Dan banyak perusahaan yang meminta kerja sama dengannya.
Ya meskipun perusahaan itu pernah terpuruk, tapi dengan dukungan dan bantuan dari istri dan teman-temannya perusahaan yang dulu hampir bangkrut kembali membaik.
.
..
.
Sementara itu Kushina, wanita cantik bersurai merah gelap itu tengah duduk sendirian didepan televisi.
Kesepian. Sudah pasti di mansion yang bak istana itu. Suami pergi bekerja, hanya punya beberapa pembantu, dan tidak ada satupun teriakan cempreng anak kecil yang memekakan telinganya.
Mansionnya yang indah menjadi sebuah tempat yang tak bermakna sama sekali.
Pasti sangat menyenangkan jika didepannya sekarang kedua anaknya sedang berkejar-kejaran lalu memeluknya.
Tapi tunggu apakah hal itu mungkin.
Kalaupun masih. Putra pertamanya pasti sudah sangat besar dan sudah enggan bermain kejar-kejaran.
Tapi masih ada putri kecilnya. Yang pasti sangat manja padanya.
Kushina jadi tersenyum sendiri saat membayangkan putrinya yang cantik memeluknya erat penuh kasih sayang.
.
xXx
.
"Woi.. Kiba, dimana celanaku". Teriak Naruto yang hanya mengenakan celana dalamnya.
Kiba pun tersentak mendapat teriakan dari sahabat pirangnya. "Tunggu sebentar. Celanamu tersangkut di tas ku".
Sudah Naruto duga setiap celananya hilang pasti terbawa oleh Kiba. Benar-benar kebiasaan buruk.
Brakk...
Pintu terbuka. Kiba pun keluar dari dalam kamar mandi dengan celana biru ditangannya. "Maaf, aku tidak sengaja membawanya". Ujar Kiba dengan cengirannya.
"Dasar gila, suka sekali kau dengan celanaku". Sungut Naruto penuh emosi.
"Lain kali lihat apa yang kau bawa. Kalau perlu ambil celana Hinata sana". Tambah Naruto.
Naruto mengibaskan celananya ke wajah Kiba, setelah itu Naruto pun langsung masuk kedalam kamar mandi untuk memakai celananya.
Tak berselang lama Naruto keluar dengan celana biru pendek diatas dengkul kaki.
"Mana kaosku". Ujar Naruto sembari tangannya menengadah di depan Kiba. Tanpa banyak bicara Kiba langsung melempar kaos biru ditangannya, yang langsung dipakai oleh Naruto.
"Ayo kelapangan. Semua pasti sudah menunggu kita". Ujar Kiba langsung menenteng tasnya dan keluar dari kamar mandi. Diikuti oleh Naruto setelahnya.
Kamar mandi laki-laki yang baru dipakai Naruto dan Kiba berhadapan langsung dengan kamar mandi putri.
Hingga setelah Naruto keluar dengan tas punggung dan jaket kulit yang ia jinjing. Samar-samar Naruto mendengar suara Sakura yang tenang dan berkesan lembut di dalam sana.
'Astaga... apalagi yang gadis itu lakukan'. Naruto membatin dalam hatinya.
Sekarang apa yang baru saja ia lakukan hingga gadis cantik itu berceramah dalam kamar mandi.
Tanpa pikir panjang lagi Naruto segera masuk kedalam kamar mandi. Dengan langkah berat.
Saat telah sampai di tujuannya yaitu kamar mandi wanita. Naruto sempat kaget saat melihat gadis yang ia ketahui bernama Shion, gadis yang tadi pagi sempat ia bantu.
'Astaga apa karena aku mengantarkan gadis itu. Sekarang Sakura cemburu padanya'. Batin Naruto tak habis pikir dengan sikap Sakura yang sangat berlebihan padanya.
"Kau mengerti kan". Ujar Sakura penuh penekanan.
"Tentu saja Nona Sakura, aku akan melakukan apa yang kau katakan". Ujar gadis berambut pirang pucat itu dengan girangnya.
"Bagus". Sakura langsung mengacungkan jempolnya senang.
"Ehmm...". Naruto berdehem. Dan langsung masuk dalam pembicaraan kedua gadis cantik itu.
Sakura dan Shion mendingak ke arah suara itu.
"Ehmm.. Naruto. Apa yang kau lakukan di sini ?". Tanya Sakura gugup. Pasalnya ia sekarang berada di kamar mandi.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau dengan murid baru ini di kamar mandi ?". Tanya Naruto balik. Matanya melirik pada tubuh kecil Shion.
Sepertinya Sakura tidak berbuat macam-macam padanya.
"Kami tidak melakukan apa-apa". Ujar Sakura semakin gugup.
"Shion kau keluarlah". Tambah Sakura.
"Siap bos". Teriak Shion semangat dan langsung keluar meninggalkan Naruto dan Sakura di kamar mandi.
Hening...
Sakura pov ON.
Bagus sekarang hanya aku sendiri dan Narutoku saja. Sepertinya ini kesempatan yang bagus.
Cukup lama aku memandangnya. Tubuhnya yang kekar dan tan eksotis. Apalagi sekarang dia hanya memakai kaos basket yang sangat terbuka.
"Naruto.. ". Ucapku pelan. Sangat pelan hingga mampu membuat telinga Naruto bergetar karnanya.
Naruto segera menoleh, menatap wajah cantik Sakura yang tengah memasang senyum genit padanya.
"Ya.. apa yang kau pikirkan ?". Ujar Naruto dingin.
Kutautkan tanganku dibelakang tubuh, bibir bawahku yang basah aku lumat dengan gigi dan bibir atasku.
Dengan perlahan kugerakkan tubuh sintalku mulai mendekat dan berhenti di depan tubuh Naruto.
Langsung kutautkan tangan ku di bahu tegap Naruto yang keras. Aku meremasnya dengan tanganku.
"Benar-benar menyenangkan saat kita hanya berdua". Aku memejamkan mataku menikmati hawa panas tubuh Naruto yang perlahan membelaiku.
"Dasar... jangan berpikir aneh. Kita sedang di toilet".
Akhh... nikmat sekali saat nafasnya menerpa wajahku. Tubuhku memang sudah sangat dekat dengan Naruto sekarang. Tapi dimana benda itu, aku tidak merasakan benda itu sama sekali.
"Sakura buka matamu, kita tidak sedang bermain disini". Ujar Naruto yang kelihatannya mulai tak nyaman dengan kelakunku.
Aku langsung mendelik saat dia mengatakan kalimatnya barusan. Aku menatapnya tajam.
Apa maksutnya kita tidak sedang bermain. Memangnya dia pernah bermain denganku, jangankan ingin bermain saat ku ajak bermain pria ini selalu menolakku.
"Apa ?". Tanyanya ambigu.
Dasar si kuning bodoh ini memang benar-benar menyebalkan.
"Dengar tuan Namikaze apa maksutmu kita sedang tidak bermain ?, kau bahkan tidak pernah mau jika aku ajak bermain".
"Jadi aku mau bermain sekarang". Ujar Sakura penuh penekanan.
Aku mulai geram dengan kebodohannya yang akut ini seharusnya dia berada di kelas Ips agar dapat peka dengan orang lain yang ada disekitarnya.
Tanpa pikir panjang, langsung saja aku menjambak rambut pirangnya yang panjang. Dan langsung kutarik.
Membenturkan bibirnya diatas bibirku.
Emhh.. ini dia yang selalu aku sukai, tapi kenapa selalu aku yqng memulai dan yang harus aktif. Setidaknya aku ingin pria ini juga menggerakkan lidahnya.
Sudahlah aku tidak peduli. Yang penting sekarang kami berdua hanya sendiri, Naruto juga sedang pasrah padaku. Biarkan dia tidak membalasku yang penting sekarang aku bisa menciumnya meski sepihak.
Astaga... apa ini ?. Aku agak kaget saat merasakan sesuatu yang keras dalam celana pendek Naruto. Tapi aku juga merasa senang akhirnya benda ini keluar juga.
Dengan sangat perlahan aku mulai mengarahkan tanganku pada benda keras itu.
Sempat kulihat Naruto yang memejamkan mata di sela ciuman kami. Sepertinya dia mulai menikmati apa yang kulakukan. Bagus.
Aku mulai mengelusnya. Dan responnya pun sangat memuaskan, benda itu bertambah besar dan keras setiap aku menaik turunkan tanganku disepanjang tubuh benda itu.
Aku tersenyum dalam ciuman yang nikmat itu. Hhh... rasanya aku ingin tertawa saat perlahan lidah Naruto merayap mencari keberadaan lidahku.
Sok menahan diri sih. Sekarang tetap terangsang kan haha...
Beberapa menit kemudian, aku mulai meremas benda milik Naruto yang sangat besar. Lalu kumasukkan tanganku kedalam celana Naruto. Dan dapat kurasan daging keras, bersih, berotot, dan panas.
Aku mulai memainkan benda itu dan sungguh sangat menyenangkan saat Naruto mendesah lembut karenanya.
Norman pov's.
"Naruto woi, kau dimana". Teriak seseorang yang samar dapat Sakura dengar di telinganya Namun begitu kegiatan yang ia lakukan sekarang telah mengambil seluruh perhatiannya.
Satu-satunya hal yang Sakura mau adalah bagaimana membuat Naruto benar-benar menyukai dan cendu pada belaiannya.
Begitu pula dengan Naruto yang tengah menikmati sensasi dari tangan lembut Sakura di kejantanannya. Hingga tak mendengar teriakan temannya.
.
.
.
-TBC-
..
Baiklah semuanya terima kasih ya sudah membaca fic kedua aku. Dan jangan lupa review ya.
Flame juga gak papa kok.
Nge-fav sama nge-follow juga gak papa.
.
.
And jangan lupa baca legendary sword.
.
.
REVIEWS
