Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 2
"Hinata, are you ok?"
Kepala berambut indigo itu tersandar layu di bahu Gaara. Si gadis Hyuuga tumbang dalam kesedihan. Air matanya meleleh.
Taman yang hanya berjarak sepelemparan batu dari gereja menjadi saksi bisu kepedihan Hinata. Bangku-bangku semen tegak mendengarkan. Kuntum-kuntum bunga menyimak. Rerumputan berhenti berdansa dibelai angin.
Gaara kecewa, sangat kecewa. Kedua kalinya dalam satu hari ia lihat kelopak mata gadis itu berair. Kecewanya ia alamatkan pada diri sendiri, keadaan, pada Naruto, bahkan pada Konsili Vatikan yang begitu kaku dengan hukum selibasinya. Kesadaran menghantamnya pelan.
Siapa dia?
Enak saja mengatur-atur pembuat hukum Katolik sejuta umat.
Petinggi negara teokrasi sekelas Paus saja bergeming dengan hukum konservatif itu.
Betapa kelirunya dia.
Bukan, bukan itu yang bisa dilakukan Gaara. Kini fokusnya dikembalikan pada Hinata. Peduli amat dengan hukum biara. Gara-gara biarawan pirang itu, gadis kesayangan Gaara patah hati. Jika tak ingat Hinata, sudah Gaara koyak-koyak kasula Imam yang membalut tubuh Naruto.
"Kauingat janjimu padaku, Hinata?" tanya Gaara memecah kebekuan.
"Y-ya, Gaara-kun." Hinata tergeragap. Tangannya sibuk menyeka air mata.
Dalam satu gerakan lembut, Gaara menyingkirkan tangan Hinata. Ganti dirinya yang menghapus kilauan bening di mata lavender itu. Janji berkobar di hatinya. Takkan lagi ia biarkan air mata Hinata mengalir hanya untuk menangisi hal-hal tak berharga. Biarawan yang lebih memilih egonya sendiri masuk dalam daftar hal tak berharga tersebut.
Sekilas Gaara melirik Guess di pergelangan tangan. Pukul setengah lima sore. Biji-biji waktu terus berjatuhan. Tak terasa mereka telah melewatkan jam demi jam di sini.
Meski langit menggelap, meski awan-awan mulai keberatan menampung air, Gaara takkan beranjak sebelum Hinata sendiri yang mengajaknya. Gaara takkan meninggalkan Hinata. Intuisi memanggil, memintanya terus mendampingi belahan jiwa.
Hati Hinata rusuh. Galau mengumpul di otaknya, membentuk gelembung besar yang siap membocorkan diri kapan saja. Tahbisan Naruto sungguh memerihkan hati dan jiwa.
Namun, setitik rasa syukur menetes lembut. Syukur karena ia tak sendiri melewatinya. Ada malaikat tampan berambut merah dan bermata jade di sisinya. Malaikat yang selalu ada, tak pernah pergi.
Gaara menemani dalam diam. Akan tetapi, sunyi lebih baik bagi Hinata. Telinganya pekak mendengar rentetan komentar pahit dari teman-temannya.
"Mencintai calon Pastor? Hinata, kau mau bersaing dengan Tuhan?" Kritikan Sakura melompat di kepalanya.
"Astaga, kupikir pelakor lebih terhormat tenimbang perebut kekasih Kristus."
Tak salah lagi, Inolah yang menyemburkan ucapan itu. Hinata merinding mengingatnya. Jadi, dia lebih rendah dari pelakor?
"Sudah cukup, Hinata. Lepaskan Namikaze-san. Dia takkan surut dalam panggilan hidup membiara hanya karena cinta gadis polos sepertimu." Tanggapan sok bijak itu pernah didengar Hinata dari si pelukis terkenal calon suami Ino.
Oh, jangan samakan Gaara dengan mereka. Tak sepatah kata pun terlontar dari bibir Gaara untuk mencemoohnya. Pemuda Sabaku itu sangat, sangat menghormati apa pun pilihannya. Memiliki hati lembut membuat Gaara menghindari sikap judgemental.
Langit terisak-isak. Tetes dinginnya membasahi rumput, bangku taman, dan tubuh sepasang gadis dan pemuda yang terpagut dalam perasaan mereka. Makin lama, tangisan langit kian menjadi.
"Hinata, ayo kita pulang. Aku takut kau sakit," bujuk Gaara lembut.
Hinata mematung. Air matanya berbaur dengan air hujan. Sederas apa pun hujan yang mengguyur Konoha, tak sederas tangis kesedihan di hati Hinata.
"Aku paham perasaanmu. Tapi kumohon jangan menyakiti dirimu sendiri."
Perkataan Gaara dimasukkannya ke telinga kiri. Lalu diendapkannya lagi ke telinga kanan. Endapan itu turun perlahan ke dada, ke hatinya.
Dari balik kabut air mata, dilihatnya Gaara menekapkan tangan ke dada. Seonggok tanda tanya Hinata pendam sendiri. Mengapa Gaara nampak begitu kedinginan? Apa ia sakit? Tidak cukupkah jas Armani yang membalut lekuk sempurna tubuhnya?
Jas? Hinata tersentak kaget. Selapis kain hangat berlengan panjang itu telah berpindah ke tubuhnya. Air hujan tak lagi kelewat menyiksa. Tombol lampu di kepala Hinata menyala.
"Gaara-kun, kita pulang." Ajaknya tergesa.
Senyum rekah di bibir pucat Gaara. Sedikit terhuyung ia membawa Hinata ke mobilnya. Jeep Wrangler Rubicon silver itu melaju membelah ruas jalan yang tergenang.
Dengan cemas, Hinata memperhatikan Gaara. Gaara menyetir sambil menahan dingin di sekujur tubuhnya. Kulit pucat pemuda itu bertambah pucat. Tawaran Hinata untuk ganti menyetir dianggapnya angin lalu saja. Mana tega Gaara membiarkan pujaan hatinya mengemudi sementara ia masih bisa?
.
.
.
Lady Skuad berkumpul di mansion mewah keluarga Sabaku. Sekumpulan sosialita itu tengah menanti sahabat mereka yang dirundung duka. Ruang tamu berkarpet hitam beludru dengan jajaran peti kayu jati dan lemari pajangan kristal itu menjadi saksi.
Cangkir porselen berdenting. Sesekali Karura memandang pintu utama. Di sampingnya, Mikoto melakukan hal yang sama. Mebuki nyaris membanting smartphonenya, kesal.
"Kemana si Kushina itu? Katanya mau curhat," gerutu Hikaru, pentolan geng sosialita tersebut. Rambut biru-keunguannya meretih seolah tersetrum listrik.
"Sabarlah, Hikaru. Kushina pasti datang." Karura berkata menyabarkan.
Pintu besar berpernis mengilap berderit terbuka. Bunyi berisiknya mengiringi kehadiran Kushina. Segera saja wanita cantik itu berlari dengan lengan terentang. Ia menghambur memeluk Karura.
"Kushina...ya, Tuhan, ada apa?"
Bahu ibu satu anak itu naik-turun menahan isak. Otomatis Karura mengeratkan dekapannya.
"Oh my Naruto...my Naruto." Berulang kali Kushina memanggil nama jagoan kesayangannya.
Mebuki berdecak tak sabar. Tangan berhias gelang swarrowski milik Mikoto mengelus lembut rambut Kushina. Hikaru membuang raut sebalnya.
"Coba cerita pada kami, Kushina."
Itu permohonan, bukan perintah. Datangnya dari Karura. Sekarang kita tahu dari mana Gaara mewarisi sifat lembut dan sabarnya.
"Narutoku ditahbiskan hari ini. Minato marah-marah. Ia berkeras Naruto harus menjadi penerusnya. T-tapi Naruto tak mau, dan mereka bertengkar." Kushina mengadu, seperti anak kecil yang putus asa.
Hening. Hanya dengung pemanas ruangan yang terdengar. Kesebalan Mebuki berubah jadi simpati. Mikoto dan Hikaru saling tatap.
"Ini memang berat, Kushina. Cobalah mengikhlaskan," hibur Karura.
Wajah Kushina bersimbah air mata. Telah dia coba untuk ikhlas. Tapi tidak untuk suaminya.
"Lebih baik jangan baca koran besok pagi, Kushina." Cetus Mebuki tiba-tiba. Sukses mengundang pandangan bingung dari anggota geng Lady Skuad lainnya.
"Wali kota marah-marah di tahbisan anaknya sendiri akan jadi headline."
"Mebuki!" tegur Hikaru, menginjak kaki istri Haruno Kizashi itu.
Karura mendesah lelah. Nyinyiran kawannya ini sama sekali tak memperbaiki keadaan. Melihat wajah keruh ibu-ibu sosialita itu, Mebuki membungkam diri.
"Mom, I'm home."
Lamunan Karura buyar. Suara barithon anak bungsunya menjadi pengalih perhatian. Pelan dilepasnya pelukan Kushina kemudian dihampirinya Gaara. Mata Karura melebar mendapati Gaara pulang dengan tubuh basah kuyup dan wajah sepucat mayat.
"Astaga...kenapa kamu bisa begini, Sayangku?" tanyanya panik.
Pada saat bersamaan, Kushina mengarahkan pandangan pada Gaara. Ia menyadari Gaara masih mengenakan pakaian yang sama seperti acara tahbisan tadi pagi.
"Gaara menghadiri tahbisan my Naruto..." Kushina menjawab serak.
Alis Mikoto terangkat. Begitu pula Mebuki dan Hikaru.
"Anak-anakku juga ke sana." Ucap mereka serempak.
Gaara menghela nafas berat. Hari ini terlalu panjang dan melelahkan. Ingin ia akhiri sesegera mungkin.
"Tapi Sayang, acaranya sudah selesai berjam-jam lalu. Kenapa kau baru pulang?" tanya Karura lagi, pandangan matanya menyiratkan tanda tanya.
"Aku menemani Hinata. Dia sangat terpukul dengan tahbisan Naruto. Setelah dia tenang, barulah aku mengantarnya pulang."
Naluri keibuan Hikaru mulai reaktif. Cepat diraihnya tas Hermesnya. Terburu-buru ia pamit pada yang lain, lalu berlari keluar mansion.
.
.
.
Apa harus kurelakan kenyataan
Kita memang tak sejalan
Namun kau adalah
Pemilik hatiku (Calvin Jeremy-Pemilik Hatiku).
Jemari lentik Gaara menari lincah di atas tuts piano. Membawakan lagu, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk melarutkan gundahnya. Wajah Hinata terus terbayang.
Lagu usai. Pemuda tinggi semampai itu bangkit. Menyambar novel Brenna Yovanov dari sofa, lalu melangkah ke balkon kamar.
Dinginnya udara malam menyerbu tengkuk, lengan, dan tungkai. Gaara terduduk di kursi berukir. Berusaha meresapi alur cerita dalam genggamannya. Semakin ia berusaha, semakin pudar keinginannya untuk membaca.
Otaknya mungkin telah berkelana dalam lautan imaji. Huruf-huruf itu sontak bertransfigurasi menjadi wajah Hinata. Wajah pualam yang banjir air mata. Wajah sedih tak terperi yang merobek-robek hati Gaara.
Konsentrasi terkikis. Novel meluncur lepas dari pegangan. Detik berikutnya, connecting door bergeser terbuka.
"Gaara, kau belum tidur, Nak?"
Suara tapak kaki di lantai keramik mengiringi kehadiran Sabaku Rasa. Pengusaha berlian dan mutiara itu duduk di samping putra ketiganya. Rasa merangkul Gaara dengan sikap fatherly.
"Pasti kamu sedang memikirkan Hinata," tebak Rasa.
"Bagaimana...Daddy tahu?" tanya Gaara tersendat.
"Hatimu terikat dengan hatiku, Gaara."
Ah, intel hati Rasa jauh lebih tajam dari CIA, FBI, atau KGB. Riskan Gaara bersembunyi.
"Kesedihannya adalah kesedihanmu. Lukanya adalah lukamu. Air matanya air matamu. Bahagianya bahagiamu." Ucap Rasa seolah sedang berpuisi.
Gaara mengangguk. Persis seperti itulah yang dirasakannya.
"Uhuk...uhuk."
Kepala Rasa tertoleh. Ia cemas luar biasa. Gaara terbatuk. Tangan kanannya meremas dada.
"Gaara, istirahatlah, Sayang. Jangan pikirkan hal berat lagi malam ini. Ayo, Sayang. Istirahatlah." Nada suara Rasa melembut dalam kekhawatiran.
Gaara terbatuk lagi beberapa kali. Sakit di dada kanannya menghebat. Ia tak menolak ketika Rasa memapahnya.
Rasa membaringkan Gaara di masterbed. Menyelimutinya dengan lembut. Gaara menatap Daddynya tanpa kedip. Kelak bila dia memiliki anak, akan dicontohnya pola asuh Rasa. Pertanyaannya, bisakah seseorang seperti dirinya memiliki keturunan dari seorang wanita?
"Selamat tidur, Sayang."
Setelah berkata begitu, Rasa duduk di kursi sebelah ranjang. Digenggamnya tangan Gaara. Ditatapinya wajah pias Gaara dengan perasaan berkecamuk. Gaara, buah hatinya yang paling istimewa. Sosok yang tak bisa lepas dari perhatiannya sekalipun usia dewasa telah merentang lama.
