Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 3

Pagi-pagi sekali Gaara sudah turun dari kamarnya. Ia rasakan tubuhnya lebih segar. Selamat tinggal tusukan rasa sakit di dada.

Lorong-lorong di mansion keluarga Sabaku sesunyi pemakaman. Gaara mempercepat langkah menuju dapur. Ruangan besar berlantai putih itu kosong. Sejak kemarin, tiga asisten rumah tangga kepercayaan keluarganya minta cuti berjamaah.

Ada hikmahnya juga mereka cuti, pikir Gaara senang. Ia punya kesempatan untuk memasak. Telah lama Gaara tidak main di dapur. Kesibukan pekerjaan dan mencurahkan perhatian untuk Hinata membuatnya terlupa.

Dibukanya kulkas. Sejenak berpikir-pikir mau masak apa? Pintu pertama berisi kue, susu, dan granola. Ruangan di pintu kedua disesaki sayuran, ikan salmon, daging, dan buah-buahan. Lajur di pintu ketiga dimuati keju, mentega, yoghurt, daun pepermint, pancake beku, dan nugget. Sedangkan pintu kedua tak lain freezer yang terisi oleh es krim serta makanan beku lainnya.

Tumpukan salmon begitu menggoda. Gaara telah memutuskan. Diambilnya salmon lalu ditutupnya pintu lemari es. Iris jade pria muda itu menyapukan pandang ke sekeliling, mencari bumbu yang diperlukannya.

Semua bahan telah siap. Meja dapur besar dan berkilap itu menjadi tempat main Gaara saat ini. Sambil mengiris jamur shitake, Gaara teringat ucapan Karura waktu ia masih kecil. Kata Mommynya, ikan bagus untuk kecerdasan otak. Ada zat baik bernama Omega3 di dalamnya.

Teringat Mommynya membuat Gaara ingat pula dengan Daddynya. Rasa menunggui Gaara semalaman. Pria paruh baya itu memberikan total kasih sayangnya, utuh sempurna hanya untuk Gaara. Bahkan, saat Temari melahirkan pun, Rasa tak pernah menungguinya full time.

Pernah Gaara menanyakan hal itu pada Rasa dan Karura. Tanda tanya yang menghuni hatinya. Mengapa kedua orang tuanya begitu mencintai Gaara, melebihi kedua kakaknya?

"Karena kau istimewa," Begitu jawaban yang didapatnya.

Lebih aneh lagi, Kankuro dan Temari sama sekali tak cemburu. Jangan harap bisa menemukan frasa iri hati di buku hidup mereka. Keduanya justru ikut mendukung langkah orang tua mereka. Betapa besar cinta kasih mereka untuk Gaara.

"Hai, Adik Kecil!"

Pisau di tangan Gaara terlompat. Suara kencang Kankuro menyentakkan lamunannya.

"Wuuups," Kankuro melompat gesit, menangkap pisau itu, dan melemparnya ke meja.

"Mau menusuk perutku?"

"Kau membuatku kaget," kata Gaara.

Kankuro terkekeh kecil. "Kau tidak nampak kaget."

Gaara mendesah tak kentara. Tangannya sibuk membaluri salmon dengan bumbu.

"Apa dunia sudah mau kiamat? Adikku memasak pagi-pagi begini," seloroh Kankuro.

"Aku suka memasak. Kau saja yang tidak tahu. Makanya, jangan terlalu sibuk dengan pabrik boneka."

"Yah...as you know, Daddy tidak mencantumkan namaku di daftar penerus perusahaan. So, aku harus berdiri sendiri dengan talentaku."

Sesaat Gaara menelan saliva. Walau telah lama berlalu, tetap saja ia tak habis pikir. Rasa hanya mencantumkan namanya di daftar ahli waris. Kankuro dan Temari tidak diamanahi mengurus perusahaan. Mereka hanya mendapat kepemilikan saham dan beberapa aset.

"By the way, kau kerasukan malaikat mana sih, sampai mau masak sarapan?" usik Kankuro.

"Aku memasak untuk Hinata."

Reaksinya di luar dugaan. Gaara harus mencengkeram kuat tepi meja begitu mendengar teriakan super keras dari mulut kakaknya.

"Adikku memasak untuk seorang wanitaaaa? Temariiiiiiii, Gaara kerasukan gadis Hyuugaaaaaa!"

Good job. Kankuro telah menciptakan rona merah jambu di pipi pucat Gaara. Ia berpaling, cepat-cepat memanggang salmon. Berusaha tak memedulikan tawa membahana pria berambut coklat di belakangnya.

Teriakan Kankuro membangunkan Temari dan putranya, Shikadai. Mereka tergopoh-gopoh beranjak dari paviliun. Shikadai, dengan mata segaris karena kantuk, berjalan terseret mengikuti sang ibu. Dikiranya Kankuro dalam bahaya.

"Benarkah, Kankuro? My dear Gaara tersihir dengan pesona Heirres Hyuuga?"

Suara mezosopran Temari memburai konsentrasi Gaara. Ditatapnya timer waswas. Jangan sampai salmonnya hangus hanya karena gangguan tak penting.

"Aku juga memasak untuk kalian." Bantah Gaara.

Temari terkikik. Diacaknya rambut merah Gaara penuh sayang. Katanya, tak apa-apa bila Gaara hanya sempat memasak untuk Hinata. Gaara bersiap menanggapi ketika didengarnya Shikadai merepet.

"Mendokusai."

Dalam hati Gaara mengakui betapa miripnya Shikadai dengan Shikamaru. Like father like son. Selesai memasak sarapan, Gaara menggendong Shikadai. Menciumi rambut anak enam tahun itu.

"Kukira ada kebakaran atau apa. Aku kan masih kecil, tapi malah mendengar obrolan orang dewasa." Ceplosnya.

Kankuro melongo. Temari menyilangkan di depan dada. Sementara itu, Gaara tertawa sembari mengelus rambut keponakannya.

.

.

.

Betapa kaget Hinata melihat Rubicon silver itu terparkir di depan gerbang rumahnya. Ia berlari lincah menghampiri Gaara yang tengah bersandar di kap mobil.

"Selamat pagi, Gaara-kun." Sapanya sehangat sinar kuning dari bola raksasa di langit sana.

Hati Gaara melonjak girang. Ekspektasinya sesuai dengan realita. Tiada lagi mendung di kepala Hinata. Alih-alih mendung, ia lihat matahari terbit di wajah gadis itu.

"Ayo, kuantar ke lokasi pemotretan. Hari ini kau ada pemotretan di Suna Beach, kan?" ajak Gaara.

Mata Hinata membola. Alisnya bergelombang. Perut Gaara serasa tergelitik melihat ekspresi imut itu.

"Bagaimana Gaara-kun bisa tahu? Aku belum cerita."

Sebagai jawaban, Gaara mengangkat tinggi iPhonenya. Memperlihatkan chatnya dengan Deidara-manager Hinata-semalam. Hinata memandang tak percaya layar yang berpendar di depannya. Sebesar itu perhatian Gaara.

"Ano, memangnya Gaara-kun tidak ke kantor?"

"Kau yang lebih penting."

Sudah cukup. Satu kalimat dengan empat kata itu cukup membuat hati Hinata teraduk-aduk. Gaara menawarkan lengan, menuntun Hinata ke mobil. Satu kakinya bersiap menaiki kendaraan mewah itu ketika...

"Ehem ehem."

Langsung saja Gaara teringat tokoh perempuan jahat di serial Harry Potter 5. Dehaman itu berasal dari Hiashi. Apakah Papa Hinata itu Dolores Umbridge wannabe?

"Selamat pagi, Uncle Hiashi." Gaara kembali ke posisi semula, menjabat tangan Hiashi.

"Begitu ya, cara membawa putri orang? Tidak minta izin dulu dengan Papanya?"

Wajah Gaara mulus tak terbaca. Berhadapan dengan Hiashi serasa berhadapan dengan bom waktu: misterius dan tak terduga.

"Gomen, saya kira Anda sudah pergi ke kantor. Setahu saya, Anda biasa ke kantor satu jam sebelum pukul delapan."

Kening Hiashi terlipat. Anak ini observant juga, batinnya. Dia bahkan tahu jadwal keseharian anggota keluarga gadisnya.

Sadar dengan situasi, Hinata cepat membalikkan badan. Ia lempar tatapan lembut ke arah Papanya.

"Pa, Gaara-kun baik sekali mau mengantar Hinata foto shoot. Boleh, kan?"

.

.

.

Dan...di sinilah mereka sekarang.

Hinata berdiri anggun di bentangan pasir putih. Membawakan gaun cantik bernuansa broken white dengan kancing mutiara. Rambutnya jatuh dalam kepang-kepang kecil, manis sekali. Satu tangannya diletakkan di pinggang, senyum tipis memoles bibir.

Fotografer beraksi. Tombol shutter ditekan. Hinata berpose cantik. Seisi pantai takjub dibuatnya.

Dari puncak karang, Gaara terpesona. Mensyukuri kecantikan dan keanggunan makhluk Tuhan yang sangat dia cintai. Tak sadar bila dirinya sendiri juga tengah menjadi perhatian para gadis. Mulai dari model sampai wardrobe, dibuat terkesima oleh kehadiran CEO Sabaku Enterprise.

Pemotretan ditunda sejenak saat jam makan siang. Gaara menarik lengan Hinata dengan sikap protektif, menjauhkannya dari tangan-tangan para lelaki rasa player. Mengacuhkan tatapan sebal Deidara.

"Dia tanggung jawabku, un. Seenaknya saja kautarik-tarik dia. Memangnya dia sudah jadi istrimu, un?" Deidara berkoar memprotes.

"Sebentar lagi." Jawab Gaara pendek.

Hinata merona hebat mendengarnya. Inikah cara Gaara untuk membuatnya flirting? Ataukah...

Ketika para model dan kru berdesakan mengambil kotak makan siang, Gaara membawa Hinata menjauh dari kerumunan. Diabaikannya komplain Hinata yang ingin lunch bersama rekan-rekan setimnya.

"Aku bisa membelikanmu seratus porsi bento lengkap dengan restorannya kalau kau mau," ujar Gaara tenang.

"Bukan bentonya, Gaara-kun. Tapi teman..."

"Kupastikan kau akan lebih senang makan bersama teman hidupmu."

Jantung Hinata nyaris melompat dari tempatnya bertengger. Apa-apaan Gaara ini? Beraninya ia menggunakan diksi 'teman hidup'.

Langkah mereka surut. Buih ombak menjilati sepatu mereka. Tanpa diduga, tetiba Gaara berlutut di depan Hinata. Disentuhnya tangan mulus pucat itu penuh kelembutan.

"Hyuuga Hinata, you know I love you." Gaara berbisik lembut.

Debar halus menghentak hati Hinata. Skenario apa lagi yang tengah dimainkan pemuda bersurai merah ini? Gaara menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

"Aku mau kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku."

Seember air dingin serasa menyiram perut Hinata. Otaknya memberontak, meyakini ini semua bukan mimpi. Hadiah dari Tuhan teramat manis. Belum lama ditinggal biarawan, Hinata telah dilamar pria tampan luar-dalam. Belum lunas kekagetan Hinata, didengarnya Gaara bernyanyi merdu.

Baby open your heart

Won't you give me a second chance

And I'll be here forever

Open your heart

Let me show you how much I care

And I will make you understand

If you open your heart

To love me once again

I'll try to make it up to you (Westlife-Open Your Heart).

Hinata merasa melayang. Hatinya seringan kapas. Beberapa jurus kemudian, Gaara menjejalkan kotak biru-keperakan berisi sepasang cincin ke tangannya.

Hati-hati dibukanya tutup kotak itu. Cincin pertama bertatahkan berlian berhias huruf G. Cincin satunya, berhiaskan permata yang sama, dengan tatahan huruf H. Gaara menunggu, menatap lembut wajah sumringah Hinata. Tanpa terkatakan, gadis itu tahu apa yang mesti dilakukan.

Jarak mereka menyempit. Jemari lentik Hinata lembut memasangkan cincin berinisial H ke jari manis Gaara. Lihatlah, wajah Gaara bercahaya. Mata jadenya berbinar bahagia.

"Thanks a lot, Princess."

Princess? Hinata tersenyum manis. Cincin bertatahkan huruf G itu telah beristirahat di jari manis tangan kanannya.

Selamat hari patah hati untuk fans Hinata. Tak lama lagi, Hinata akan menyandang predikat Nyonya Sabaku.