Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 4

Malam membungkus langit ketika Gaara mengantar Hinata sampai ke gerbang rumah. Gadis itu berlama-lama membuka seat belt, seakan enggan berpisah dengan tunangannya. Senyum bermain di bibir Gaara melihat gelagat gadis itu.

Disapukannya pandang ke arah wajah ragu Hinata. Nampak jelas sekali model cantik itu enggan jauh-jauh darinya. Ah, menggemaskan sekali. Sudah berhasilkah ia merebut hati Hyuuga Hinata?

Tangan Hinata bergerak naik-turun. Jika sabuk pengaman ini terlepas, waktunya dengan pemuda Sabaku akan berakhir. Mungkin baru besok pagi mereka bertemu. Keraguan makin menguat. Oh God, Hinata selalu ingin di dekat Gaara.

"Takkan lama lagi, Hinata. Aku janji." Hibur Gaara, seolah dapat memaknai isi hati gadisnya.

Hinata tergeragap. Ekspresi wajahnya tak keruan. Gemas, Gaara menjawil lembut hidung bangir Hinata.

"I promise...you can be Mrs. Sabaku as long as possible."

Wajah Hinata bersemu. Inikah yang dinamakan ikatan batin? Gaara mampu menembus isi pikirannya. Apakah pikirannya bagai buku yang terbuka, hingga Gaara dapat membacanya dengan leluasa?

"S-sampai saat ini aku masih tak percaya..." Hinata patah-patah angkat bicara.

"Tak percaya apa, Princess?"

Dasar perut Hinata serasa digelitik mendengar panggilan manis itu. Sungguhkah ia princess pemilik hati Gaara?

"Aku masih setengah percaya kalau Gaara-kun melamarku tadi siang. Seperti mimpi..."

Selang sedetik, Hinata merasakan cubitan di pipinya. Ia kesakitan, pelan mengelus pipi.

"Sorry, Princess. Kalau kamu kesakitan, artinya bukan mimpi. Kamu percaya, kan?" ujar Gaara menyesal. Menyesal telah membuat Princessnya merasa sakit walau sedikit.

Hati Hinata menghangat. Ya, ia percaya. CEO Sabaku Enterprise melamarnya! Betapa indah. Hari-hari berpelangi akan terbentang.

Senyuman si gadis lavender melebar. Matanya bercahaya. Giliran Gaara yang berdesir. Binar itu, senyuman itu, begitu menggemaskan. Terlebih Hinata menampakkan binar mata dan senyum bahagia karena dirinya. Hati Gaara melambung ke kaki langit kebahagiaan.

Seat belt terbuka. Dengan gallant, Gaara membukakan pintu mobilnya untuk Hinata. Gadis berhigh heels itu turun dari mobil dengan anggun. Gaara menggandeng tangan Hinata hingga ke halaman berumput.

"Mau mampir dulu?" tawar Hinata.

Gaara menggeleng. "Sudah terlalu malam, Hinata. Tapi aku akan menghadap Uncle Hiashi dan Auntie Hikaru secepatnya."

Ah, Hinata tak butuh janji. Dia hanya memerlukan bukti. Dan Gaara akan segera menepatinya.

"Ok. See you, Gaara-kun."

Tangan pucat itu melambai dengan berat. Baru dua langkah menuju pintu utama, suara lembut Gaara menahannya. Hinata berbalik. Menatap pemilik jade itu dengan siratan tanya.

Betapa Hinata tak menyangka. Gaara menempelkan keningnya ke kening Hinata dan berbisik,

"Obat untuk hati yang terluka adalah kasih sayang."

Kalimat itu menempel kuat dalam kotak ingatan Hinata. Takkan pernah dia melupakannya.

.

.

.

Obat untuk hati yang terluka adalah kasih sayang.

Obat untuk hati yang terluka adalah kasih sayang.

Obat untuk hati yang terluka adalah kasih sayang.

Seperti mantra, Hinata merapal quotes itu dalam hati. Katakanlah itu quotes of the day dari Gaara. Ia terus berjalan ke kamarnya sambil mengulang-ulang perkataan itu.

Ingatannya melayang pada pemuda bersurai merah itu. Demi Tuhan, Hinata tak bisa berhenti memikirkannya. Kata guru agamanya di sekolah, jika rindu seseorang, ingatlah kebaikannya. Hinata pun terus mengingat semua kebaikan Gaara.

Gaara yang berhati lembut. Gaara yang tak pernah menghakiminya. Gaara yang menemaninya dalam suka dan duka. Gaara, pemberi rasa nyaman dan pembuat tenang jiwa. Semua karena Gaara. Luka hati Hinata terobati karena cinta kasih Gaara yang teramat tulus.

Tahukah kalian? Bahkan, Hinata tak lagi memikirkan Naruto. Fokus atensinya teralih sempurna gara-gara Gaara. Tanpa diminta, rongga hatinya telah berdamai dan mengikhlaskan. Membiarkan Naruto merentangkan sayap di langit pilihannya dan mengizinkan sepotong hati yang lain masuk.

Tenggelam dalam renungan dan ingatan, tak terasa Hinata tiba di kamar. Dia letakkan tas Pradanya begitu saja di sofa. Saatnya berbilas diri, berteman busa sabun dan air hangat di bathtub. Tergesa Hinata memungut mantel mandi dan setumpuk pakaian bersih dari walking closet. Begitu terburunya dia hingga tak sadar tasnya tersungkur jatuh dari sofa coklat-kemerahan. Isi tas Hinata berhamburan di karpet. Satu lagi kecerobohan Hinata: ia lupa menutup pintu kamar.

Uap hangat dan aroma terapi yang berembus dari bak mandi membuat Hinata terlena. Hampir satu jam ia membasuh tubuh yang letih. Puas berendam, Hinata memakai pakaian tidur dan berjalan keluar kamar mandi pribadinya.

Pemandangan pertama yang tertangkap netranya adalah siluet Hiashi yang menjulang menakutkan. Hati Hinata mencelos. Bagaimana bisa Papanya ada di sini? Dengan ngeri, ia menatapi mulut pintu yang menganga lebar.

Hal kedua yang menghempas hatinya dalam gelombang ketakutan adalah benda biru-keperakan di tangan sang Papa. Hiashi mencengkeram erat kotak kosong itu. Logo Rasa Jewelry berpendar keperakan di bawah temaram lampu.

"Jelaskan padaku, Hinata." Perintah Hiashi tegas.

Tangan besar tak kasat mata serasa memelintir perut Hinata. Tidak, dia belum siap membagi kebahagiaan malam ini. Izinkan Hinata menikmatinya sebentar lagi.

"Jelaskan! Ini apa?"

Raungan Hiashi menggetarkan dinding kamar. Hinata mematung seperti manusia patung Rolling Stones yang biasa melakukan street performance di sekitar Museum Madame Tussauds. Rasa dingin yang tak ada hubungannya dengan air conditioner di ruangan itu, merayap naik ke tubuhnya.

"Ga-Gaara-kun melamarku, Papa."

Prak!

Kotak cincin jatuh dari tangan Hiashi. Alhasil tangan kekar pria itu menggantung di udara bagai robot kehabisan baterai. Dia terbeliak menatap putrinya.

"Ulangi kata-katamu sekali lagi!" perintah Hiashi, nada suaranya berbahaya.

Hinata menarik nafas panjang. Ditatapnya mata Hiashi lurus-lurus.

"Gaara-kun melamarku." Tukasnya mantap.

Sedetik. Tiga detik. Lima detik, Hiashi berbalik tajam. Ia menggeram memanggil istrinya. Amarah Hiashi memanggil Hikaru dalam hitungan menit. Wanita berkimono biru muda itu tergopoh memasuki kamar.

"Hikaru, putri kita dilamar anak Rasa!" sergah Hiashi, marah bercampur kaget.

Degup jantung Hinata kian cepat. Tangannya berkeringat dingin. Dia berharap, amat berharap sang Mama mendukungnya.

Gotcha! Alih-alih marah, wajah Hikaru bersinar. Ia bahkan merangkul Hinata.

"That's great. Putri kita sudah besar. Oh senangnya, aku dan Karura akan menjadi satu keluarga."

Andai saja tertawa di saat ini cukup sopan, Hinata akan melakukannya. Dapat dia lihat rona merah jelek menghiasi wajah Hiashi. Pastilah Papanya kecewa berat lantaran Hikaru lebih mendukung pilihan putrinya.

"Oh...come on, Suamiku Sayang. Hinata berhak menikahi pria pilihannya." Kata Hikaru santai, seakan dia baru menjelaskan aktivitasnya memberi makan kucing kesayangan.

Hiashi sedikit mengentakkan kaki. Jujur saja, ia meragukan putra Rasa itu. Benarkah anak Sabaku Rasa yang terlalu sering diistimewakan bisa menjaga Hinatanya?

.

.

.

Terbawa perasaan, Gaara bermain piano. Hatinya bahagia luar biasa. Pria mana yang tak bahagia bila lamarannya diterima? Langit, alam, dan malaikat menjadi saksi menyatunya cinta Gaara dan Hinata.

Hinata. Hyuuga Hinata. Nama itu terus terngiang di lubuk hati Gaara. Memberi sensasi rasa nyaman tiap kali menyebutnya. Hinata yang ia cinta dengan sepenuh hati. Hinata satu-satunya cinta Gaara. Demi Nabi Abraham dan Sara, Gaara tak pernah menaruh hati pada wanita mana pun selain Hinata.

Bahagia yang melingkupi benak Gaara tak sejalan dengan tubuhnya. Baru saja menutup permainan piano dengan indah, dada Gaara terasa sakit. Pemuda berjas hitam itu terbungkuk seolah akan muntah. Diremasnya rambut merahnya, menahan sakit luar biasa.

Tes.

Bercak merah menjatuhi permadani. Makin lama, tetesan itu membanyak. Gaara tahu persis, darah itu berasal dari hidungnya.

Helaian tissue berpindah dari kotaknya ke tangan Gaara. Ketukan halus di pintu datang pada waktu yang keliru. Gaara melangkah terhuyung membukakan pintu.

Karura berdiri cemas. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran menjumpai kondisi Gaara. Muak hati Gaara mendengar tawaran Mommynya untuk ke rumah sakit. Dengan lembut tapi tegas, Gaara menggiring Karura masuk ke kamarnya.

"Sayangku, kau mimisan." Desis Karura cemas.

"I'm ok, Mom. No worries."

Keduanya duduk bersisian di sofa. Tak putus Karura melirik anak bungsunya. Seolah Gaara akan kolaps dalam waktu dekat.

"Ada yang ingin Mommy bicarakan..." Karura memulai dengan berat. Gaara menunggu ibunya bicara, sabar.

"Benarkah kamu melamar Hinata. Tadi Hikaru telepon Mommy..."

Gaara terbatuk pelan. Secepat itu kabar menyebar. Dapat dipastikan lamarannya tadi siang telah didengar orang tua Hinata. Pelan dianggukkannya kepala.

"Are you sure?" Karura meragu.

"Yes, I am."

Sunyi. Mimik wajah Karura sulit diartikan. Ia memandangi Gaara, sedih bercampur bangga.

"Menikah itu tidak hanya manisnya saja, Gaara."

"Ya, aku tahu. Aku telah memikirkan semuanya. Keinginanku sederhana, Mom. Aku ingin menjadi pria biasa. Menikah, membangun keluarga, dan memiliki anak. Di tengah kondisiku yang tidak biasa..."

Ujung kalimatnya menggantung. Suara Gaara melemah lalu menghilang. Tepat pada saat itu, Karura memeluknya erat. Air matanya jatuh.

"Mommy selalu mendukungmu, Darling. Selalu..."

Hati Gaara berangsur lega. Karura ibu sejati. Beruntungnya Gaara memiliki Karura. Bayangkan bila ibunya seemosional Kushina atau se-tidak sabaran Mebuki.