Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 5

Di apartemennya, Deidara terduduk lesu. Ia memunggungi pintu. Wajahnya tengadah menatap Konoha citylight dan mobil-mobil yang berlalu-lalang meramaikan malam. Rambut pirangnya berantakan.

Usut punya usut, Deidara sedang patah hati. Apa lagi kalau bukan karena artis asuhannya dilamar orang. Sudah lama Deidara naksir Hinata. Sayangnya, ia keduluan Gaara.

Gaara? Hmmm, ingin sekali Deidara menculik pemuda itu dan membotaki rambut merahnya. Dalam bayangannya, Hinata takkan mau menikahi Gaara bila sang calon suami botak. Asal Deidara tahu saja. Cinta Hinata untuk Gaara melebihi perkara rambut.

"Huaaaa, Hinata sudah jadi milik Gaara! Aku harus bagaimana, un?" ratap Deidara, menjambaki rambutnya sendiri.

Tak sadar dia meratap dan memanggil nama Hinata. Sampai-sampai kemunculan Sasuke dan Sai lolos dari perhatian.

"Hei, pria jejadian! Ngapain kautarik-tarik rambutmu? Sudah bosan ya, jadi orang waras?"

Gertakan Sasuke menghempaskan Deidara dari angan. Ia kaget melihat si rambut pantat ayam berdiri menjulang di mulut pintu.

"Ada penyusup, un! Bagaimana kau bisa masuk ke flatku, un?"

Sasuke berkacak pinggang mendengarnya. Sai tersenyum masam.

"Ck ck ck...Deidara, kau ini sudah banci, pikun lagi. Kau yang undang kami, bodoh. Pintu flatmu tidak terkunci. Kami sudah pencet bel dari tadi."

Ups, Deidara lupa! Spontan dia menepuk jidatnya. Dimaki-makinya diri sendiri.

Tanpa disuruh, Sasuke dan Sai memasuki flat. Ruang tamu tak bisa dibedakan dengan kapal Titanic sehabis menabrak gunung es. Sai refleks meluruskan lukisan yang tergantung miring. Sasuke duduk di sofa yang melesak.

"Jadi, tamu tidak dapat minuman ya di sini?" sindirnya.

Deidara berdecak sebal. Si rambut raven tak peka dengan suasana hatinya. Ia melenggang ke pantry dengan muka ditekuk.

"Awas kalau sampai kauhidangkan alkohol, kami takkan pernah ke sini lagi." Ancam Sai.

Sai dan Sasuke pria teladan. Sama seperti Gaara, mereka pantang alkohol. Dan Deidara cukup waras untuk tidak memaksakan prinsip mereka.

Sambil meracik teh, Deidara masih bisa menguping obrolan Sasuke dan Sai di ruang tamu. Ia tertawa sendiri setelah Sasuke merepet kesal.

"Gara-gara baka otouto. Mobilku menginap di bengkel. Aku harus naik bis. Order taksi online susah sekali. Aku naik bis yang kondekturnya memaki-maki dan harus melihat penumpang muntah. Menjijikkan."

Bungsu Uchiha naik bis? Deidara menahan tawa. Bisa geger para wartawan kalau tahu itu. Dari suara tawanya, Deidara yakin kalau Sai berpikiran hal serupa.

Tiga cangkir teh Chamomile tersaji di meja tamu. Setelah menyesap sepertiga isi cangkirnya, Sasuke melempar tanya. Deidara berutang penjelasan pada mereka.

"Kalian tahu, un?" desah Deidara dramatis. Sukses membuat Sasuke dan Sai berjengit. Kenapa lagi banci kaleng merangkap drama king/queen ini?

Jeda sejenak. Sengaja Deidara mengulur waktu agar duo pria berambut gelap itu makin penasaran. Rasa ingin tahu Sasuke dan Sai bercampur kejengkelan. Jika sampai informasinya tak penting, Deidara akan menyesal.

/Lavenderku dilamar Gaara, un. Dilamar Gaara!"

Plush

Sasuke menyembur wajah Deidara dengan cairan teh. Sai terbatuk-batuk. Lihatlah wajah tuan rumah ditambah misuh-misuhnya.

"Uchiha! Aku ini tuan rumah, un! Tamu tak tahu diuntung! Sudah kubuatkan minuman, kau malah menyemburku un! Mau alih profesi jadi dukun, un?"

Dikata-katai begitu, wajah Sasuke merah padam. Perasaan Sai tercabik. Antara kaget dan ingin tertawa. Ia pun kasihan pada sepupu jauhnya yang kena maki tuan rumah.

"Aku kaget, bodoh!" Sasuke balas menggertak. Sambil menyapu bibirnya yang belepotan teh dengan tissue, ia mengkonfirmasi.

"Jadi, Hyuuga dilamar panda?"

Deidara manggut. "Yups. Di depan pasir putih dan buih ombak. Romantis sekali, un. Aku keduluan, un. Hinata...oh, Hinata."

Manager artis itu menangis bombay. Sai dan Sasuke bergidik. Bukan malam yang menyenangkan. Flat ini jadi seperti basecamp pria-pria kesepian. Dua pria tulen, satunya pria setengah-setengah.

Tangan Sai mendarat di punggung Deidara. Ditepuknya punggung berbalut t-shirt hitam itu pelan. Dihiburnya Deidara tanpa kata. Sai merutuki diri karena tak seberbakat Gaara dalam menenangkan orang lain.

Sasuke? Ah, pantat ayam itu tak banyak membantu. Ia malah setengah tak percaya kalau si panda merah akhirnya melamar Hinata tercintanya.

.

.

.

Dear, Hinata-chan

Konichiwa...ups, aku tidak tahu di sana sudah jam berapa sekarang. Apa kabar, Hinata-chan? Kuharap kau baik-baik saja. Bagaimana pemotretannya? Bagaimana rencana lanjut studi itu?

Hinata-chan,

Aku sedang berada di tanah misi. Di sini tantangannya lebih sulit untuk mewartakan Alkitab. Tak mudah merasul di tengah orang terbelakang dan kelaparan. Bagi mereka, urusan perut lebih penting dibandingkan religiositas.

Papa Minato belum mau bicara denganku. Tapi, puji Tuhan Mama Kushina masih lancar berkomunikasi. Mama menghiburku. Katanya, Papa hanya perlu waktu. Papa selamanya akan tetap menyayangiku dan begitu pula sebaliknya.

Dukungan Mama Kushina menguatkanku. Aku berusaha menyeimbangkan diri antara tugas perutusan, hidup berkomunitas, dan hidup rohani. Tiap pagi, aku tak lupa Ibadat pagi sambil meditasi dan doa syukur. Aku tak pernah lupa berdoa Angelus setiap pagi, siang, dan sore. Kau juga tidak lupa kan, Hinata-chan? Malam-malamku menjadi hangat dengan Kompletarium dan menulis renungan harian.

Aku menikmati hidupku. Di sini aku tinggal bersama dua orang Pastor. Satu Pastor senior keturunan Eropa, satu lagi Pastor muda sepertiku. Pastoran tempat tinggal kami kecil sekali. Ruang tamu digabung sekaligus dengan ruang makan dan ruang tengah. Dapur? Jangan harap kau bisa menemukan kitchen set dan kompor listrik seperti di rumah kita. Hanya ada satu kompor di pastoran. Ada juga toaster, itu pun sudah tua. Kalau kami mau membuat kopi, kami harus merebus air. Tidak ada dispenser.

Di sini tak ada gereja, Hinata-chan. Aku dan dua rekanku sedang berusaha meminta bantuan dari kongregasi kami untuk membangun tempat ibadah. Bantuan on process, oh aku tak sabar melihat gereja berdiri tegak di tanah misi.

Kami tak hanya fokus dengan kegiatan keagamaan. Kami juga memperhatikan pendidikan anak-anak di sini. Tahu tidak? Anak-anak di sini malas sekolah. Jangankan sekolah, berpakaian pantas pun mereka enggan. Pernah kuberi mereka masing-masing satu set pakaian seragam. Mereka hanya memakai seragam saat di sekolah. Pulangnya, kulihat mereka menggantungkan seragam di pohon.

Makanan di sini terbatas. Kau kecewa kalau mengharapkan steak, pizza, atau puding. Bahkan ramen instan pun sulit didapat. Tapi aku bahagia meski dalam keterbatasan.

Hinata-chan,

Maafkan aku telah meninggalkanmu. Maaf bila aku mematahkan hatimu. Kamu gadis paling sempurna yang pernah kukenal. Siapa pria waras yang tidak mau bersama gadis sesempurna dirimu?

Saat Retret Agung selama sebulan penuh, aku sering membayangkan wajahmu. Aku hampir menyerah dan ingin lepas jubah saja. Namun, Tuhan menegurku dengan lembut. Tuhan hadirkan pemandangan persis seperti yang kutemui di tanah misi sekarang ini: anak-anak bertelanjang dada, makanan terbatas, orang kelaparan, fasilitas minim, dan keadaan tak aman. Aku tersadar.

Banyak yang mencintaimu, Hinata. Saat kamu lapar, makanan lengkap langsung terhidang di hadapanmu. Kalau kamu sedih, pasti banyak yang menghiburmu. Mulai dari si panda itu, Ino, si pelukis Sai, bahkan si Teme jelek itu akan turun tangan. Jika kamu terluka, dokter 24 jam akan siaga mengobatimu. Nah kalau mereka, siapa yang mau peduli? Siapa yang mau memperhatikan dan mengasihi mereka selain para abdi Tuhan?

Sekali lagi maafkan aku, Tuhan. Semoga kau selalu bahagia. Semoga kau segera menemukan penggantiku. Tuhan memberkati.

Dariku, Pastor yang gagal membersamaimu

Hinata memegang dadanya. Meredakan jantung yang bergemuruh. Entah novel atau film apa yang belum lama ia nikmati, namun gadis itu serasa terlempar dalam jalinan kisah romansa yang rumit.

Ini e-mail pertama Naruto sejak upacara tahbisan. Belum pernah Naruto menulis begini panjang dalam surat elektronik. Ia lebih atraktif saat ditelepon.

Perlahan Hinata menekuk kedua kakinya di ranjang queen size. Air matanya luruh membasahi pipi. Mengapa baru sekarang Naruto membuat pengakuan? Mengapa tak dari dulu saja Naruto mengutarakan kata cinta? Ataukah ini kesengajaan?

Pengakuan Naruto sangat terlambat. Dia terlanjur mengikat diri dalam tiga kaul kekal untuk taat, selibat, dan melarat. Hinata terlanjur menerima lamaran Gaara.

Sepotong nama itu melintas. Gaara, malaikat tampan berambut merah itu. Gaara yang memberikan seluruh hatinya untuk Hinata. Gaara yang mencintai Hinata tiada terhingga.

Listrik ribuan volt menyengat hati Hinata. Dia didera rasa bersalah. E-mail dari Naruto tak ada artinya dibandingkan seluruh pengorbanan Gaara.

Sedikit-banyak Hinata rasakan pewaris tunggal Sabaku Enterprise itu banyak berkorban untuknya. Waktu, tenaga, pikiran, materi, bahkan perasaan, telah Gaaara korbankan demi Hinata. Cinta Gaara seluas Samudera Pasifik, sangat dekat, namun terlambat disyukuri. Cinta Naruto sekecil protozoa, sejauh ratusan kilometer, tetapi teramat didamba. Tak henti Hinata mengomeli diri sendiri.

Perasaan bersalah mengungkungnya. Sesal itu membelenggunya kuat-kuat tatkala menatap deretan huruf yang dikirimkan Naruto. Perlukah ia membalas surelnya? Perlukah ia menceritakan pada Naruto bahwa dirinya telah menemukan pengganti yang sepuluh kali lipat jauh lebih baik?

Kekuatan Hinata diruntuhkan air mata. Tetes beningnya berkejaran, berebut turun di pipi pualamnya. Tanpa membalas e-mail Naruto, ditutupnya MacBook. Ia beralih meraih iPhone.

.

.

.

Gaara membanting tubuhnya di masterbed. Meeting dengan Uchiha Group, disusul kunjungan ke beberapa kantor cabang menguras habis energinya. Parahnya, dada pria muda itu terasa dibebani dua barbel. Berat dan sakit sekali.

Rasa sakit itu datang sejak menginjakkan kaki di mansion Sabaku. Yang diinginkan Gaara saat ini hanyalah memejamkan mata dan mengakhiri hari di bawah selimut. Hasrat itu ambyar seketika mendapati request FaceTime dari Hinata.

Tak mau calon istrinya cemas, Gaara bangkit duduk. Kepalanya sedikit pusing karena bangkit terlalu cepat. Segera ia buang tampang kusutnya. Menggantinya dengan senyum menawan.

Senyum maut Gaara tak terbalas. Wajah dibaluri air matalah yang menyambut netra jadenya. Sontak Gaara menajamkan fokus perhatian tanpa terbagi.

"Hinata...ada apa, Princess? Kenapa menangis?"

Terdengar suara nafas satu-satu. Kedua bahu Hinata terguncang. Firasat Gaara tak enak. Mengapa pandangan mata Hinata penuh sesal?

"Gaara-kun, m-maafkan aku...maafkan aku." Hinata meratap.