Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 6

Pria tampan itu bergelung di tempat tidurnya. Rasa sakit bersuara. Merusak tidur malamnya, membuatnya harus menggigit bantal kuat-kuat.

Bad timing. Demam tinggi seakan memanasi tubuh pria itu. Namun, di saat yang sama, ia justru merasakan seluruh tubuhnya seolah ditimpa berblok-blok es. Selimut sutra tebal tak cukup menahan hawa dingin membekukan. Dingin itu datang dari tubuhnya sendiri.

Susah payah Gaara mengatur ritme nafasnya. Sulit sekali hanya sekedar untuk menarik udara. Tiap tarikan nafas membutuhkan usaha sekeras penyelam yang mengambil oksigen terbatas dari lautan dalam.

Telah hampir pecahkah tabung oksigen di paru-parunya?

Siapkah Gaara bila sebentar lagi dirinya mesti bergantung pada selang oksigen?

Mengapa penyakit ini melemahkannya dari hari ke hari?

Apakah obat-obatan oral itu tidak berjalan sebagaimana fungsinya?

Rentetan tanya berdesakan di kepala Gaara menuntut jawaban. Namun, sekarang ini Gaara terlalu sakit untuk mencari jawabannya. Ia butuh rasa sakit ini diakhiri.

Seingatnya, seharian tadi dia baik-baik saja. Hanya keletihan yang menjumput raga. Kesakitan baru unjuk gigi setibanya di rumah.

Tunggu, apakah itu berarti...?

Perlahan Gaara memutar ingatan. Dia sampai di rumah di waktu bersamaan dengan Hinata menerima e-mail dari Naruto. Rasa sakitnya bertambah kuat seiring tangis sesal gadis itu. Kalau dipikir-pikir, apa yang perlu disesali? Hinata tidak bersalah. Narutolah yang lebih dulu mengontaknya. Gaara percaya Hinata bukanlah tipikal gadis yang sengaja bermain api. So, mengapa Hinata harus minta maaf?

Dan...

Mengapa raganya sesakit ini mendengar kenyataan Naruto berusaha membuka jalan komunikasi lagi dengan Hinata?

Perasaan Gaara bergolak. Ingin marah, tapi entah pada siapa. Tak mungkin dia memarahi Hinata. Bukan Sabaku Gaara bila dia memarahi, menyalahkan, atau bahkan memaksa Hinata ganti e-mail demi menghindari Naruto. Gerbang kebebasan pun telah Gaara buka. Hinata dibebaskannya untuk membalas e-mail Naruto.

Mempertahankan sikap lembut di depan Hinata jauh lebih mudah. Berdamai dengan hatinya sendirilah yang susah. Gaara bersusah hati lantaran perasaannya sendiri.

Seperti akar membaca zat hara yang terkandung di dalam tanah, Gaara mulai memahami isi hatinya. Malam ini ia sakit gegara gejolak psikologis. Ok fine, dia harus melawannya. Sakit ini datang dari iblis, bukan dari Tuhan.

Gaara berbaring menghadap tembok. Dicobanya berlayar kembali dalam lelap. Ketika kelopak matanya mulai memberat, tiba-tiba Gaara muntah.

Di kamar utama, Rasa dan Karura tertidur gelisah. Sebentar-sebentar mereka terbangun kaget. Mimpi buruk mengusik malam. Dua-tiga kali mereka bermimpi melihat Gaara kritis.

.

.

.

Mengapa Tuhan pertemukan

Kita yang tak mungkin menyatu

Aku yang tlah terikat janji (Afgan-Ku Dengannya Kau Dengan Dia).

Silakan menghukum si gadis Hyuuga. Ia telah melanggar beberapa aturan ketat yang dibuat Papanya. Keluar lewat jendela kamar, menyelinap kabur melintasi halaman depan, dan berakhir di restoran midnight sama sekali di luar kebiasaan Hinata. Hiashi akan mengulitinya hidup-hidup.

Biarlah, biarlah malam ini saja Hinata menjadi anak badung. Dari pada ia mati berdiri di kamar mewahnya dengan memendam seribu penyesalan. Seribu sesal itu dialamatkan pada siapa lagi selain pada bungsu Sabaku yang telah menautkan hati padanya.

Sesal. Hinata berteman sesal. Perasaan bersalah merontokkan kebahagiaan. Bukan, bukan berarti Hinata tak lagi bahagia dengan lamaran Gaara. Hanya saja, ia terlanjur menanamkan luka ke hati malaikat cintanya.

Pukulan penyesalan itu yang membuat Hinata terdampar di resto midnight. Ia tak sendiri. Temannya berbelah rasa tak lain tak bukan si gadis pirang dengan bola mata aquamarine. Dua porsi ramen di depan mereka nyaris tak tersentuh. Hinata terlalu sibuk curhat, dan teman makannya kelewat asyik menyimak.

"Aku harus bagaimana, Ino? Kelembutannya, penolakannya untuk permintaan maafku, caranya meyakinkanku bahwa semua ini bukan salahku...justru membuatku makin menyesal." Hinata menekap separuh wajahnya.

Hening melingkupi meja no. 5. Jemari ramping Ino menyisiri rambut pirangnya. Matanya sayu memandang wajah kuyu Hinata.

"Aku juga pernah terjebak di zona yang sama denganmu, Hinata. Bahkan lebih parah..." ucap Ino serak.

Hinata mengangkat kepala. Sedikit menurunkan tangan. Dia tatap Ino dari sela-sela jarinya.

"Seminggu setelah Sai melamarku, aku dan Sasuke masih terjebak nostalgia. Kami bahkan melakukan kebodohan dengan berdua-duaan di tempat seperti ini. You know Hinata, sempat dicap pelakor oleh Sakura sungguh tak enak. Walaupun kami akhirnya kembali berteman..."

Helaan nafas berat Ino mengakhiri tuturnya. Ya, Hinata sudah tahu. Dirinya bukan pelakor. Dan tak pernah terpikir olehnya untuk menghubungi Naruto duluan.

"Gaara berbeda dengan Sakura. Hatinya lembut dan bening. Jiwanya bersih. Dia berpikiran terbuka. Kau dan Gaara bukan baru setahun-dua tahun saling mengenal. Percayalah, dia takkan meninggalkanmu hanya karena satu godaan kecil." Papar Ino meyakinkan.

Godaan kecil? Jemari Hinata membentuk simbol tanda kutip. Ternyata yang bisa menggoda bukan hanya awam. Selibator pun bisa terperangkap dalam posisi yang sama.

"Aku sependapat dengan Gaara. Balaslah e-mail Naruto sebagai seorang teman. Katakan bahwa kau telah menemukan pengganti."

Dua pendapat yang sama. Keraguan Hinata menyusut. Dibukanya aplikasi e-mail. Tangan pucat itu lincah mengetikkan balasan.

Send. E-mail telah terkirim. Entah mengapa, Hinata lega luar biasa. Impitan kecemasan di perutnya sedikit mengendur.

Iseng dibukanya lagi folder kotak masuk. Sibuk memikirkan e-mail Naruto membuatnya melupakan sepuluh e-mail masuk yang lain. Tiga e-mail datang dari notifikasi sosial media. Postingan foto dan videonya banjir like serta komentar dari followers. Empat e-mail berikut dikirim oleh online shop. Sejumlah barang yang Hinata beli akan segera dikirimkan. Dua e-mail berasal dari brand parfum yang mengajukan tawaran endorse.

Sekejap Hinata menimbang-nimbang. Dirinya model, itu pun bukan model papan atas. Dunia modeling baru dijejakinya setengah tahun lalu. Endorse sama sekali di luar portofolionya. Tarif bukanlah prioritas Hinata. Ia terjun ke dunia modeling semata karena passion.

Sepertinya endorse menarik juga. Diputuskannya menerima tawaran itu. Urusan fee, biarlah nanti didiskusikan dengan Deidara.

Satu e-mail di deretan terbawah hari ini menarik fokus matanya. E-mail itu terkirim pukul sembilan pagi tadi. Bukan e-mail biasa, tetapi lebih mirip surat resmi. Terdapat beberapa berkas attachment.

Kimimarokaguya .id? Baca Ino dari balik bahu Hinata.

Hinata mengangguk dengan jantung berdebar. Bukankah ini e-msil Profesor di pascasarjana tempatnya mengajukan lamaran melanjutkan studi? Sebenarnya, Hinata tak berharap banyak. Terlebih dia kurang yakin dengan proposal penelitiannya. Hinata mantap mengirimkan submisi pengajuan LOA (Letter of Acceptance) ke Konoha University atas dukungan Gaara dan Hikaru.

"Hinata, oh my God...kamu diterima! Kamu akan menjadi mahasiswa pascasarjana! Selamat ya!" Ino berseru senang.

Mata Hinata berlinang. Hatinya melagukan mada syukur. Tuhan penuh kejutan.

"Profesor Kimimaro melihat potensi dalam dirimu. Kau memang pintar, Hinata. Kesempatan lanjut S2 layak untukmu."

Ya, Hinata harus berterima kasih pada Profesor Kimimaro. Profesor muda yang membukakan jalannya melanjutkan studi. Profesor yang berjanji akan membimbingnya.

.

.

.

Paginya, Hinata tak bisa tersenyum lagi. Lengkung indah di bibirnya sempurna terhapus. Hal itu karena awan duka yang menggelayut di keluarga Hyuuga.

Hiashi, pemimpin keluarga merangkap komisaris utama Hyuuga Corp, meninggal dunia. Kematiannya datang secepat ekor tornado menyapu apa pun yang dilewati. Pria keras tetapi penyayang itu terpedaya serangan jantung. Sewaktu Hinata kabur, Hiashi blingsatan mencari putrinya di penjuru rumah. Alhasil ia jatuh dari tangga dan hadirlah serangan itu.

Keluarga Hyuuga bergelimang duka. Hikaru beberapa kali pingsan. Para pria-wanita berambut indigo dan bermata lavender mendatangi kediaman utama. Mereka semua turun tangan dalam persiapan kremasi Hiashi.

Hinata terpukul, amat terpukul. Andai saja ia tak kabur malam itu. Andai saja dia tak melanggar aturan yang dibuat Papanya. Mungkin saja Hiashi masih hidup sampai saat ini.

Menangis dan menangis, hanya itu yang bisa Hinata lakukan untuk mengeluarkan peluru dukanya. Ratusan pelayat berdatangan. Mulai dari kerabat hingga kolega bisnis. Teman-teman baiknya belum satu pun menampakkan diri.

Di antara mereka, hanya Gaara yang paling Hinata butuhkan. Rongga hatinya tak putus menyebut nama Gaara. Kemanakah Gaara? Dimana dirinya? Apakah Gaara tak mau lagi melihat wajahnya karena mengira ia masih ada hati dengan Naruto? Dihadapkan dengan deretan prasangka, tangis Hinata kian menjadi.

Hinata serasa telah mati juga. Walau tak begitu akrab dengan Hiashi, biar bagaimana pun Papanya adalah penopang. Hiashi pilar terkokoh dalam jajaran pohon keluarga. Kini raganya telah terbenam dalam peti mati. Bagaimana lagi Hinata bisa menjangkau penopangnya?

Kehilangan sosok ayah mengombang-ambingkan Hinata. Gadis lembut itu kehilangan arah. Betapa ia masih membutuhkan sosok ayah.

Jenazah Hiashi dipindahkan ke funeral house. Dengan berat, Hinata meluncur ke sana. Rumah duka adalah salah dua tempat yang dihindarinya selain krematorium.

"Papa...Papa," Hinata memanggil-manggil Hiashi.

Ia sadar tindakannya takkan berguna. Hiashi tak dapat lagi menyahut. Tapi...

Sepasang lengan hangat mendekapnya. Menarik Hinata dalam dekapan ternyaman. Mata amnethys itu mengerjap. Wangi ini, pelukan ini, surai merah ini, ah...sesuatu yang dinantinya.

"Ga-Gaara-kun?" Hinata terbata. Isakannya menghebat.

"Maafkan aku," lirih Gaara di sela desah nafasnya.

"Maafkan aku membiarkanmu sendiri dalam hitungan waktu."

Gelembung air mata Hinata pecah. Sedu-sedannya tumpah. Gaara tak peduli dengan jas Versacenya yang basah.

"Kau takkan kehilangan sosok ayah Princess." Gaara berujar lembut. Hinata menatapnya tak paham.

"Aku bisa menjadi apa pun untukmu. Menjadi pendamping hidup, pelindung, pengajar, motivator, kakak, sahabat sejati, dan aku bisa menjadi Ayahmu. Ayah yang mencintaimu setulus jiwa."

Uluran tangan Gaara yang penuh kasih membasuh perih hati Hinata. Cinta Gaara menyublim luka batinnya. Berjuta cinta untuk Sabaku Gaara.

"Hinata, maaf. Kita harus mempercepatnya." Gaara meneruskan tanpa menunggu respon.

Hinata mengernyit bingung. Dari pintu ruang persemayaman, teman-teman mereka masuk satu per satu. Naruto berjalan paling depan dengan jubah putih. Sasuke dan Sai kompak mengenakan baju hitam didampingi pasangan mereka. Ino yang berparas sendu dan Sakura yang lebih pendiam dari biasa. Itachi menggandeng dr. Hana. Paling belakang, Deidara melangkah gontai.

"Mereka akan menjadi saksi pernikahan kita. Naruto yang akan memberkati penyatuan ini..." Gaara membeberkan rencananya.

Mata Hinata membulat sempurna. Oh Tuhan, cepat sekali. Tunai sudah keraguan. Waktu terus berlari. Gaara mengambil keputusan terbaik.

Di depan tubuh Hiashi yang membujur kaku, Sabaku Gaara menikahi Hyuuga Hinata. Peti mati, meja penuh buah-buahan, setengah tubuh yang diawetkan, botol formalin, dan orang-orang baik menyaksikan perhelatan hati dalam selimut duka.