Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 7

Dear, Naruto

Terima kasih e-mailnya. Aku sudah membaca pengakuanmu. Kini kutahu perasaanku terbalas.

Naruto, aku sudah dapat penggantimu. Dia tak lain sahabatmu sendiri. Malaikat tampan berambut merah melamarku.

Tuhan sangat adil. Ketika kulepaskan dirimu, Ia kirimkan pengganti yang luar biasa. Aku tak mampu bersaing dengan Tuhan untuk mendapatkanmu. Kala aku sudah merelakan, aku diberi cinta yang baru.

Semoga kamu setia dalam panggilanmu.

Regards,

Hinata

Sebongkah es menindih tenggorokan Naruto. Mata birunya memanas. Aneh, mengapa ia sedih sekali membaca surat elektronik Hinata?

Jari telunjuknya bergerak, scrolling ke bawah. Hinata mengirimkan foto-fotonya bersama Gaara di bawah barisan e-mail pertama. Potret pasangan yang sangat serasi.

Tak dapat dipungkiri, Naruto patah hati. Mengapa sakitnya baru tiba saat ini? Naruto akan membawa cinta dan perih hatinya sepanjang hidup hingga mati.

Siapa bilang Naruto tak mencintai Hinata? Ia sangat mencintai gadis itu. Sayang, cintanya bukan untuk menuju couple goals semacam pernikahan. Cinta Naruto untuk Hinata harus dikonversikan seperti cintanya pada seluruh umat Katolik di bawah tanggung jawabnya.

Sampai kapan pun, Naruto takkan jatuh cinta lagi pada wanita lain. Hinata satu-satunya wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta. Berat sekali menjalani kisah cinta selibat.

Hati Naruto sedih tak terkira sewaktu dirinya memberkati pernikahan Gaara dan Hinata. Siapa peduli? Semua orang sibuk memberi perhatian pada keluarga Hyuuga yang dirundung duka. Hanya Tuhan yang tahu pedih hatinya.

Dimatikannya laptop. Beberapa jenak kemudian, Naruto beranjak menuju kamar Pater Kakashi. Sesaat ia ragu di depan pintu coklat gelap itu.

Demi memantapkan hati, Naruto mulai membuat tanda salib. Ia berdoa.

"Allah Roh Kudus, tolonglah saya untuk mengingat segala perkataan, perbuatan dan kelalaian yang telah menyakiti orang lain dan yang sudah menyakiti hati Tuhan, dangan melanggar perintah-perintahMu. Bantulah saya untuk menyesali segala dosa saya dan dapat mengaku dangan baik, demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin."

Doa itu sedikit menguatkan. Diperiksanya batin, disadarinya kesalahan. Apa pun tanggapan Pater Kakashi, Naruto harus siap.

Satu, dua, tiga kali Naruto mengetuk pintu. Pater Kakashi membukanya. Pria berambut perak dengan masker menutup sebagian wajah itu melipat dahi. Tak biasanya Naruto datang menjelang senja begini.

"Pater, saya minta sakramen rekonsiliasi." Pinta Naruto.

"Baik, ayo masuk."

Naruto berlutut di depan Pastor senior itu. Suaranya bergetar saat ia mengucap,

"Pater, berkatilah saya orang berdosa."

Sulit menebak ekspresi wajah Pater Kakashi. Masker itu benar-benar mirip topeng. Namun dia tetap memberkati Naruto.

"Ini pengakuan saya yang pertama," kata Naruto pelan.

"Saya jatuh cinta."

Keheningan merambati kamar sempit itu. Tangan Pater Kakashi tergantung lemas. Sebenarnya bukan kali pertama ia membimbing konfrater junior yang jatuh cinta. Entah mengapa, ada yang berbeda. Pastor muda ini mengingatkannya pada diri sendiri.

"Coba ceritakan," perintahnya lunak.

"Dia bidadari berambut indigo...matanya indah...wajahnya cantik, secantik hatinya." Naruto komat-kamit seraya berusaha menghapus wajah Hinata dari ingatan.

Pater Kakashi tafakur mendengarkan. Pikirnya, gadis yang dicintai Naruto bukanlah gadis biasa.

"Pertama kali aku melihatnya sewaktu aku masih di sekolah biasa. Dengan lembut dia mengambilkan kotak pensilku yang jatuh. Saat itu juga, hatiku bergetar. Tapi aku tahu diri. Tujuan hidupku bukan untuk menikah, Pater. Sengaja aku berjarak darinya. Tak kuberi ia sedikit pun harapan."

Dilematis. Begitulah cinta selibator. Mereka tak bisa memilih cinta, tetapi suka atau tidak mereka harus membendung cinta itu.

"Beberapa waktu lalu, dia menikah dengan sahabat saya. Rasanya sakit, Pater. Apa lagi saya tahu kalau sahabat saya lebih lama mengenalnya. Dan sahabat saya jauh lebih sempurna."

Pater Kakashi terenyak. Ah, serasa deja vu. Terbayang masa mudanya bersama wanita cantik berambut panjang hitam. Setengah detik berselang, tangan Pater Kakashi mendarat di kepala Naruto.

"Kau tak sendiri," gumamnya.

"Maksud Pater?"

Dengan berat, Pater Kakashi mengurai benang kusut kisah cintanya. Tentang ia yang mencintai Kurenai. Lalu Kurenai lebih memilih Asuma, sahabatnya sendiri. Pater Kakashi sadar diri. Ia seorang biarawan. Sebab itu ia hanya bisa mencintai Kurenai dari kejauhan.

Naruto terpekur menyimak kisah seniornya. Sementara itu, Pater Kakashi tak tega memberi Naruto penitensi (denda dosa). Jatuh cinta bukanlah dosa. Tuhan sendiri Maha Cinta. Sebaliknya, cinta akan menjadi dosa jika digunakan untuk menyakiti sesama makhluk Tuhan.

Firasat Pater Kakashi membisikkan, Naruto haruslah dibimbing untuk mengelola perasaan cintanya. Ia berjanji pada diri sendiri akan mengajari Naruto mengelola rasa. Realita pahit yang harus dijalani selibator adalah mencintai tanpa memiliki.

.

.

.

Ku melintas

Pada satu masa

Ketika ku menemukan cinta

Langit kemerahan. Cahaya pertama pagi merentang masuk lewat jendela besar yang dibiarkan terbuka. Daun-daun merah berguguran.

Dedaunan gugur bagai potongan hati Karura. Cepat sekali sang waktu berlari. Serasa baru kemarin Gaara terlahir dari rahimnya. Dan kini, Gaara telah pergi. Pergi meninggalkan rumah masa kecilnya bersama belahan jiwa.

Tak terhitung air mata menetes ke pipi Karura saat mendekap Hinata. Hinata yang bersedia menjadi pendamping hidup Gaara. Kecemasan membadai di hati wanita akhir lima puluhan itu. Bagaimana jika Hinata tak bisa menerima kondisi Gaara?

Ujung jari Karura menyentuh bedcover. Beberapa malam lalu, Gaara muntah di sini. Karura, tanpa banyak protes, mengangkat bedcover itu dan mencucinya di ruang belakang. Dia sendiri yang mencucikannya. Menikmati titik-titik kesedihan yang tersapu bersama tetes darah Gaara. Menolak tawaran sekumpulan asisten rumah tangga yang siap sedia membantu.

Saat itu kehadiranmu

Memberi arti di hidupku

Meskipun bila saat ini

"Good morning," sapa pelayan hotel.

Hinata tersenyum ramah. Si pelayan berseragam kuning menyodorkan nampan sarapan dari troli makanan.

"Here's your breakfast." Tambahnya.

Dengan hati-hati, Hinata membawa nampan hitam itu ke meja. Wangi pancake strawberry mencumbu udara. Diakuinya selera Gaara tinggi. Pria pilihannya itu mengajak Hinata honeymoon singkat. Sebuah president suite di hotel five-star menjadi tempat mereka menginap. Mulai dari zona istirahat hingga room service, semuanya kualitas terbaik.

Gaara keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Jas putih melapisi tubuhnya. Ia mengambil nampan sarapan lalu duduk di pinggir ranjang, tepat di sisi istrinya.

"Aku suapi ya," tawar pria itu lembut.

Hinata menurut. Menerima suapan demi suapan Gaara. Di dekat Gaara, Hinata tenang. Gaara sungguh-sungguh menepati janjinya menjadi apa pun untuk Hinata.

"Gaara-kun tidak makan?" Pertanyaan itu tercetus seketika dari bibir Hinata.

"Nanti saja. Kau lebih penting, Princess."

Darah Hinata berdenyar. Ini salah satu dari sekian banyak hal yang disukai Hinata pada diri Gaara. Pria Januari itu selalu membuatnya merasa penting, merasa dicintai, dan dibutuhkan. Perasaan yang lama hilang sejak patah hatinya dengan Naruto.

"Aku sudah kenyang," tolak Hinata di suapan terakhir.

"Sedikit lagi, Princess. Nanti potongan pancake ini akan sedih kalau ditinggal sendirian."

Hinata menahan tawa. Rasanya seperti anak kecil. Ia pun menelan suapan terakhir.

"Pintar..." Gaara membelai lembut helaian indah mahkota Hinata.

Kita sudah tak bersama lagi

Ada satu yang kurindu

Kehangatan cinta dalam pelukanmu

Perasaan sesak mengoyak dada Karura. Ditinggal Gaara menikah tak seperti ketika ia mengantarkan Temari ke gerbang pernikahan. Temari masih tinggal di dekatnya. Sedangkan Gaara lebih memilih memboyong Hinata ke rumah pribadinya.

Karura dihantui empty nest syndrome. Gangguan psikologis yang dialami orang tua saat anak tinggal terpisah. Sakitnya tak tertahankan ditinggal Gaara.

"Gaara...Gaara," isak Karura.

Ia bangkit ke walking closet. Memeluk baju-baju lama Gaara yang masih tertinggal. Menghirup wangi khas anak ketiganya. Tak lagi hidup bersama Gaara membuat Karura merasa timpang. Walau pintu rumah Gaara selalu terbuka untuknya.

Permadani tebal meredam langkah Rasa. Ia menyusul istrinya tanpa suara. Rasa memeluk Karura dari belakang. Menciumi tengkuk perempuan baya yang masih cantik itu.

"Yang kehilangan dia bukan hanya kau, Karura." Ia berbisik halus.

.

.

.

Biarkan aku melukiskan bayangmu

Karena semua mungkin akan sirna

Bagai rembulan sebelum fajar tiba

Kau selalu ada

Di lembar kisah

Di relung hati terdalam (Adera-Melukis Bayangmu).

Gaara menarikan jemarinya di atas bidang hitam-putih itu. Menstimulasikan ketenangan ke jiwa Hinata lewat alunan musik. Mata Hinata setengah terpejam. Kepalanya tersandar di lengan Gaara.

"Gaara-kun?"

"Ya?"

"Terima kasih."

Gaara mengerjap bingung. Untuk apa istrinya berterima kasih?

"Terima kasih untuk semuanya. Untuk seluruh cintamu, pernikahan ini, dan kesabaranmu."

"No need to thanks, Princess. Akulah yang harus mengucapkan itu. Terima kasih mau menemani sisa hidupku."

Bibir Hinata melengkung membentuk senyum manis. Tuhan memberi racun cinta sekaligus obatnya. Habis kematian Hiashi, terbitlah penyatuan dua jiwa.

"Hinata, maafkan aku." Kata Gaara tiba-tiba, sukses menjatuhkan Hinata dari kaki langit angan.

"Kenapa harus minta maaf? Gaara-kun tidak salah apa-apa."

Ibu jari Gaara menyentuh dagu Hinata. Lembut mengangkatnya. Mereka bertatapan lama. Dapat Hinata rasakan hembusan nafas hangat Gaara.

"Maafkan aku tak bisa menyentuhmu."

Kesunyian merambat. Perasaan Hinata bergejolak. Bukan, bukan karena Gaara tidak pernah menyentuhnya sejak malam pertama. Melainkan suatu perasaan bahwa ada sesuatu yang buruk tengah terjadi.

"Non-small cell lung cancer," gumam Gaara lirih.

"Stadium lanjut. Aku harus kemoterapi oral untuk mencegah penyebaran sel kanker. Obat-obat kemoterapi itu jahat, Princess. Mereka membuatku tak bisa menyentuhmu dan aku...mandul."

Menara hati Hinata tersambar petir. Dadanya menggemuruh hebat. Ia terbeliak memandang Gaara.

"Se-sejak kapan, Gaara-kun?"

Bibir Gaara bergerak. Akan tetapi Hinata tak dapat mendengar apa jawabnya. Hati dan jiwanya serasa melayang, hampa, tak percaya.

Tidak, tiada rasa kecewa karena kemandulan dan ketidakmampuan melayani di ranjang. Hinata sama sekali tak mempermasalahkan itu. Yang memenuhi pikirannya hanyalah kesehatan Gaara.

Gaara sakit kanker paru-paru. Kanker, penyakit mematikan yang hanya pernah dibayangkannya terjadi di novel dan film. Penyakit yang takkan pernah diharapkan menghinggapi orang-orang terkasih. Celakanya, sel jahat itu justru mengendap di tubuh Gaara. Gaaranya, Gaara belahan jiwa Hinata.

Jade dan lavender bertabrakan. Demi Yesus yang rela disalib, Gaara tak kuasa menangkap kilauan kristal bening. Air mata Hinata tumpah.

"No!" jerit Hinata.

Tangisan Hinata menikam pagi. Mengiris hati. Menyayat perih.

"Gaara-kun berjanji akan mendampingiku! Gaara-kun tidak boleh sakit! Tidak boleh!"

Gaara memeluk erat Hinata. Menenangkan wanitanya tanpa bicara. Ia pun tak ingin sakit. Sama seperti orang normal lainnya, Gaara menginginkan kesehatan agar ia bisa selalu mendampingi Hinata.