Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 8

Pukul lima pagi, Hinata terbangun. Ia kaget merasakan spasi kosong di ranjang besarnya. Bukankah semalaman Gaara memeluknya?

Hati Hinata berdesir hangat mengingat pelukan Gaara. Walau tanpa seks, pernikahan Gaara dan Hinata tetaplah hangat. Ok mereka tak bisa dibandingkan dengan pasangan normal lain dalam hal bercinta. Namun, kehidupan pernikahan mereka tak kalah hangat.

Hinata pandai bersyukur. Cinta kasih Gaara sudah lebih dari cukup. Gaara anugerah terindah yang Hinata miliki.

Mereka berdua puas dengan saling berpelukan sepanjang malam. Menghabiskan malam di ranjang yang sama. Berbagi kehangatan di satu selimut. Itu sudah cukup, sangat cukup.

Tak ada aktivitas mengoyak selaput darah. Tak ada organ kelelakian yang menembus miss V. Mungkin kalian akan menganggap aneh pernikahan itu. Tapi buktinya, Gaara dan Hinata tak kehilangan cinta hanya gara-gara perkara seksual.

Cukup sudah dengan ingatan semalam. Hati Hinata berombak kecemasan. Dimanakah Gaara?

Lamat-lamat didengarnya suara batuk dari kamar mandi pribadi di kamar tidur mewah itu. Telinganya menangkap suara itu untuk kedua kali. Hinata bisa mendengar Gaara terbatuk beberapa kali.

Dada Hinata serasa ditimpa batu bata. Memahat luka. Tapi tanpa meneteskan darah. Alhasil dia hanya bisa memukul-mukul sumber dari luka itu.

Tangan mungil Hinata memukuli dadanya. Bola mata lavendernya berawan. Kala mata itu terpejam, hujan turun perlahan dari pelupuknya.

Kontan Hinata menyalahkan diri sendiri. Betapa bodohnya dia. Bukankah janji telah terpatri untuk tidak menangis lagi? Hinata harus tegar demi Gaara.

Logikanya belum lumpuh. Jika dirinya rapuh, bagaimana bisa menguatkan Gaara? Surviver kanker seperti Gaara lebih membutuhkan penguatan ketimbang air mata. Bilur-bilur bening dari mata orang terkasih justru akan melemahkan Gaara.

Terus terang, hati Hinata koyak. Realita getir bahwa Gaara harus berteman dengan kanker menghantamnya dengan kesedihan luar biasa. Gaara sakit parah. Sewaktu-waktu kondisinya dapat memburuk.

Ingin menyalahkan Tuhan, tetapi takut dosa. Tuhan dan semesta bekerja di lini misterius. Orang baik dihajar kanker. Orang jahat lintang-pukang kesana kemari dengan tubuh bugar.

Lamunannya lindap. Segera Hinata menyudahi melankolia yang mengalun di jiwanya. Ia bangkit berdiri, meraih botol kaca di nakas. Mengguncang pelan isinya. Pil-pil putih besar berkejaran di dasar botol. Ia melesat mengambil segelas air putih. Saat kembali ke kamar, Hinata melihat Gaara tersenyum padanya. Pria itu menampilkan sikap semua baik-baik saja.

"Selamat pagi, Princess." Gaara menyapa hangat.

"Pagi," kata Hinata seraya menyodorkan beberapa butir obat dan segelas air bening.

Gaara meminumnya. Hati Hinata berangsur lega. Kini ia hafal jadwal minum obat Gaara.

"Kau pengertian sekali..." puji Gaara. Apa yang dilakukan Hinata pagi ini sangat berarti untuknya.

"Bukan apa-apa, Gaara-kun. Hanya langkah kecil."

"Langkah kecil katamu?"

Hinata mengangguk samar. Ia merayap ke meja rias. Menyisir rambut panjangnya, menatap sekilas refleksi diri di cermin. Andai aku bisa menukar tubuhku, batin Hinata sedih.

.

.

.

Lunas perahu menggesek bebatuan di permukaan danau. Katakanlah perahu itu seperti angsa putih. Ucapkan pujian pada pengukirnya yang mampu membentuk perahu serupa angsa.

Angsa putih itu dinaiki sepasang pria wanita berpakaian putih. Perahu meluncur anggun melayari danau. Lajunya mantap mengitari perairan kecil nan jernih itu.

Berbanding terbalik dengan tangan si perempuan indigo yang gemetar memegang guci abu-abu. Kian lama, getarannya mengeras hingga guci ikut bergetar. Tangan Hinata tremor. Ia paling takut dengan kremasi. Celakanya, hari ini ia harus melawan rasa takut dengan membawa guci berisi abu Hiashi.

Sepasang tangan dingin memegang jemarinya lembut. Mengambil alih guci itu. Meletakkannya di dekat tiang perahu. Sejurus kemudian, Gaara merengkuh tubuh kaku Hinata.

"Semoga takutnya pindah padaku," bisiknya ke telinga gadis itu.

"Ti-tidak bisa, Gaara-kun."

"Kenapa?"

"Rasa takut bersumber dari pengalaman dan trauma. Pengalaman kita berbeda."

"Kalau begitu, aku ingin tukar jiwa denganmu. Biar kau tidak takut lagi."

Gaara melakukan apa pun, apa pun untuk memadamkan bara ketakutan Hinata. Melihat ketakutan sang istri sama saja membuat hatinya sendiri tak tenteram. Hinata adalah segalanya bagi Gaara.

Perahu melambat di tengah danau. Seakan tahu pasti arah yang dikehendaki penumpangnya. Setelah menguatkan hati, Hinata menghanyutkan guci berisi abu Hiashi. Masygul dipandanginya guci kelabu itu hingga melenyap ditelan buih putih.

"Selamat jalan, Papa." Bibir Hinata menggumamkan kalimat perpisahan.

Perempuan itu tidak menangis. Terima kasih untuk Gaara yang membentenginya dengan ketegaran. Hinata kuat menghanyutkan abu jenazah Hiashi tanpa tangisan.

"You're a strong Princess," Gaara melempar pujian, tersenyum tulus.

"Because of you..." balas Hinata.

Ciuman kening Gaara adalah hadiah manis untuk Hinata. Perjalanan kembali ke tepi terasa sangat melegakan.

"Gaara-kun, gawat!"

Tanpa sengaja, mata Hinata tertumbuk ke bawah. Lambung perahu bocor. Air mulai merembes.

Tubuh Gaara menegang. Kemungkinan besar mereka akan tenggelam. Secepat mungkin didayungnya perahu menepi. Sementara Hinata menguras air sebisanya.

Byur!

Apa yang ditakutkan Gaara terjadi. Perahu terbalik. Beruntung mereka berdua bisa berenang. Gaara menarik tubuh Hinata merapat, membawanya berenang hingga ke tepian. Dalam hati Hinata mengagumi suaminya. Pria berambut merah itu berenang dengan teknik gaya dada yang sempurna.

Sepersekian detik, keduanya berdiri bersisian di rumput. Hinata sangat bersyukur. Danau tak begitu dalam. Entah bagaimana jadinya bila mereka harus merenangi danau yang lebih dalam dari itu.

"Gaara, are you allright?" tanya Hinata cemas.

Ia menoleh ke samping. Gaara bernafas satu-satu. Wajahnya sepucat perkamen. Pria berjas putih itu tampak sangat kedinginan.

"Aku...tidak apa-apa..." sahut Gaara sambil melawan dinginnya air yang membasahi pakaian.

Hinata menggeleng kuat. Parasnya berubah kalut. Tidak, Gaara tidak baik-baik saja. Gaara jadi begini karena salahnya. Jika saja dia tak mengajak Gaara menghanyutkan abu jenazah Hiashi ke danau. Perlahan Hinata mendekap Gaara. Mentransfer kekuatan dalam diam.

.

.

.

"Sarada, cepatlah tidur. Besok Mama piket pagi."

Tanpa kenal lelah, wanita berambut sewarna bubble gum itu membujuk putri semata wayangnya. Anak berambut hitam panjang itu menggeliat. Ia tak bisa tidur.

"Ma, kenapa Mama tidak berhenti kerja saja? Biar Sarada bisa terus bersama Mama." Protes Sarada manja.

"Hmmm...itu juga yang kupikirkan, Sakura." Lelaki berambut raven yang menelentang di samping Sarada menggumam setuju.

Sakura menarik nafas panjang. Anak dan suaminya menyuarakan permintaan. Permintaan yang tak mungkin dituruti dalam waktu dekat.

"Aku ini dokter, Sasuke. Dokter spesialis kanker sangat dibutuhkan. Bagaimana nasib pasien-pasienku kalau aku angkat kaki dari pekerjaan ini?" tanya Sakura retoris.

"Seakan onkologis di kota ini hanya dirimu seorang." Cibir Sasuke.

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika Sasuke seorang dokter, dia akan mengerti.

"Aku belum bisa berhenti, Sasuke. Setidaknya sampai..."

"Sampai kau selesai menangani si panda itu? Hello Sakura, my Honey, hanya ada dua pilihan bagi pengidap kanker: sembuh atau mati. Sampai kapan kau mau menangani si panda merah jelek itu?"

"Sasuke!" bentak Sakura.

"Dia sahabat kita!"

"Sahabat yang menyusahkan istriku dengan penyakitnya. Sahabat yang sok kuat dengan menyembunyikan kondisinya dari banyak orang."

Sakura enggan memperpanjang adu argumen. Kenyamanan Sarada berada di urutan prioritas. Tanpa kata, ia naik ke ranjang. Berbaring di samping kanan anak perempuannya. Sarada pun terlelap di tengah kedua orang tuanya.

.

.

.

a/n:

5 tahun lalu, saya pernah di sini. Sayangnya, karena satu kecerobohan, cerita-cerita saya hilang dan tak bisa kembali lagi. Kini saya kembali lagi ke sini untuk menuntaskan rindu pada Gaara dan satu-satunya couple favorit saya: GaaHina. Tujuan saya menulis cerita Jade Mencinta Lavender ada dua. Pertama, mengkritisi aturan selibat di kalangan rohaniwan Katolik. Dalam pemikiran saya, aturan ini tak lagi relevan dengan perkembangan zaman dan menimbulkan banyak masalah. Masalah-masalah yang muncul di antaranya pelecehan seksual dan pernikahan siri yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Ide cerita Jade Mencinta Lavender inspired by my experience and my lovestory. Kedua, saya juga menyindir mindset rerata masyarakat di Indonesia mengenai tujuan pernikahan. Pernikahan haruslah menghasilkan keturunan. Rendah sekali bila cinta dan pernikahan dimaknai hanya sebatas itu. Saya ingin menekankan bahwa pernikahan tanpa seks dan tanpa keturunan pun tetap membahagiakan.

By the way, thanks for read my story. Minggu, 23 Februari 2020, meet and greet yuk sama Sabaku No Maureen di Comic Frontier, temu sapa penulis novel Dear Malaikat Izrail di booth Benito Publisher. Balai Kartini, jam 10.00-16.00. See you.