A/N:
Boleh saya minta tolong? Siapa pun yang baca cerita ini, bisakah kalian share? Share ke fandom Naruto dan GaaHina. Saya nggak ngejar keterbacaan, review, follows, and favs. Keinginan saya sederhana. Memotivasi author fanfict GaaHina lainnya, dan menunjukkan kalau fanfict GaaHina masih mempunyai eksistensi hingga tahun 2020. Minggu lalu saya coba masuk grup GaaHina All The Way tapi sampai sekarang belum diapprov sama admin. Atau grupnya udah nggak aktif ya? Sayang banget kalau gitu. Padahal di fandom GaaHina ada beberapa author yang keren banget ceritanya: Shiorinsan (Kak Tiffany), Hime Hoshina, Nerazzuri, Heise Fire (Natalia Xaverius), Michele Aoki, dan Madam Fein. I have a strong memory. Saya ingat judul-judul cerita mereka yang kece punya. X dan Gara Gara Gaara punya Nerazzuri, Lawless dan Broken Arrow punya Kak Shiorinsan, Primadona punya Hime Hoshina, Let The Story Begin punya Madam Fein, dan My Mute Angel miliknya Heise Fire. Padahal cerita-cerita itu sudah lama dipublish. Bahkan sampai sekarang saya masih baca cerita mereka. Efek kangen Gaara dan GaaHina. By the way, pas nonton Boruto, melintas pertanyaan di kepala saya: kalau Naruto mati di serial ini, mungkin nggak ya, Om Masashi Kishimoto dan Mikio Ikemoto mengganti pairing NaruHina jadi GaaHina? Cause Gaara kan belum nikah dan Hinata jadi janda. Atau kita bikin petisi aja ya...ups. Hanya pertanyaan dari pendukung pair GaaHina.
So...happy reading.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 9
Cantik.
Rumah itu cantik sekali. Berdiri anggun persis di tempat masa kecil mereka. Tempat pertama dimana Gaara dan Hinata bertemu.
Dulunya, bekas rumah itu adalah sebuah taman bermain. Tuhan memang tepat waktu. Taman bermain itu diratakan dengan tanah dua setengah tahun sebelum pernikahan Gaara dan Hinata. Tanah kosong itu dijual, dan Gaara tak membuang waktu untuk segera membelinya.
Sebuah rumah besar bertingkat dua dengan pagar putih menggantikan taman bermain. Halamannya seluas lapangan bola. Di halaman depan, sebentuk air mancur berbentuk tiara menari cantik. Airnya memercik ceria. Beberapa batang pohon meneduhi samping kiri halaman. Jalan setapak memisahkan halaman depan dan belakang. Halaman belakang berisi rumah kaca dan kolam renang dangkal dengan air bening kebiruan.
Interior rumah didominasi warna putih. Lantai terbuat dari marmer. Anak-anak tangga putih terhubung ke lantai dua. Rumah dengan empat kamar tidur itu dilengkapi jacuzzi, home theatre, dan perpustakaan kecil. Sejuk hati Hinata menempati rumah ini. Gaara paling tahu cara membuatnya nyaman.
"Kau suka rumahnya, Princess?" Gaara menanyainya lembut.
"Suka?" ulang Hinata tak percaya. Masih saja Gaara melempar tanya.
"Gaara-kun, hanya orang tidak waras yang tak menyukai rumah sebagus ini."
Gaara tersenyum lega. Mengedarkan pandang ke penjuru bordes. Pada tirai putih yang berayun dibelai angin pagi. Pada kusen jendela yang sedikit berderak karena kencangnya angin.
"Yah...mungkin tak sebesar kediaman keluarga Hyuuga," ucap pria bersurai merah itu merendah.
"Besar atau kecil, aku akan selalu nyaman tinggal dimana pun asalkan selalu bersamamu."
Ucapan filosofis Hinata menghentak hati Gaara. Sejak kapan istrinya yang tak banyak bicara jadi mudah merangkai kata begini?
Lembut ditariknya tangan Hinata ke kamar utama. Iris lavender itu tak berkedip menatapi potret dirinya dari tiap sudut. Erros mungkin sedang meniupkan inspirasi ke kepala Gaara hingga ia mendekor kamar itu dengan foto-foto pujaan hatinya.
Semua foto Hinata, mulai dari Hinata kecil hingga saat ini memenuhi dinding kamar. Hinata sendiri tak tahu bagaimana bisa semua foto itu berada di tangan Gaara. Apakah suaminya berbakat papparazi?
"Ketahuan aku stalker ya," seloroh Gaara, tertawa kecil.
Hinata ikut tertawa. Ia malu foto-fotonya terpajang di ruangan berdinding putih ini.
"A-ano Gaara-kun, perlukah aku mengganti dekorasi?" Hinata tergeragap.
"Untuk apa?"
"Aku...well, aku malu. Semua potretku ada di sini."
Gaara menepuk pelan puncak kepala Hinata.
"Masa seorang model masih gugup dan malu begitu pada suaminya sendiri?"
Perkataan Gaara menyadarkannya. Ya, ia seorang model. Model yang telah bersuami.
Barang-barang mereka letakkan di sudut kamar. Masih terlalu lelah untuk menatanya. Mungkin ini akan menjadi urusan asisten rumah tangga saat ia datang nanti. Tersisa setengah jam sebelum ke rumah sakit.
Terlihat Gaara merebahkan diri di ranjang king size. Hinata cukup peka. Ia merasa suaminya kelelahan menempuh perjalanan cukup jauh. Gadis Desember itu pun menyusul Gaara berbaring di sebelahnya.
"Kau lelah, Gaara-kun?" tanyanya lembut.
"Sedikit. Tapi tak terasa lagi karena hadirmu."
Tangan Hinata terulur. Membelai halus rambut Gaara. Sedetik kemudian ia berteriak kaget. Sehelai, dua helai rambut merah menempel di telapaknya.
"Gaara-kun, rambutmu..."
Gaara menoleh merespon kekagetan istrinya. Tanda tanya berganti perasaan wajar. Dia tak heran. Lagi-lagi rambutnya rontok. Obat bodoh terapi pembunuh sel kanker itu penyebabnya.
"No worries, Hinata. Dengan begini, lama-lama suamimu takkan laku lagi. Pesaingmu berkurang." Gaara berusaha menanggapi situasi ini dengan canda. Meyakinkan wanitanya jika ia sama sekali tak masalah.
Tenggorokan Hinata serasa tercekik. Gaara masih saja membawa rileks penyakitnya. Melihat Gaara membuat Hinata semakin bersyukur.
Pernah dia berpikir bahwa hidupnya yang paling menderita. Gadis yang tak diinginkan dan tak dicintai hanya karena terlibat cinta selibat dengan Naruto. Pemikiran itu keliru besar setelah dia mengetahui kondisi Gaara. Pasti berat sekali menjadi seorang Sabaku Gaara.
Jika tak ingat janjinya pada diri sendiri, Hinata sudah menumpahkan seliter air mata. Ingin ia luapkan tangis pada dua helai rambut Gaara di tangannya. Ya, Tuhan yang Maha Penyembuh, sembuhkanlah Gaara. Penyakit ini tak pantas untuknya.
"Mendung itu tidak cocok untuk wajah cantikmu."
Hinata terlonjak kaget. Di luar dugaan, Gaara menyentuh lembut wajahnya. Ikatan batin yang kuat membuat Gaara mampu merasakan kesedihan Hinata.
"Aku baik-baik saja, Hinata. Belum waktunya untuk khawatir." Tambahnya menenangkan.
"Gaara-kun, aku takut kehilanganmu."
Tanpa bisa dikontrol, Hinata mengeluarkan ketakutan terbesarnya. Gaara yang ia cinta, Gaara yang ingin ia peluk selamanya. Gaara yang membuatnya melupakan patah hati. Bahkan, Hinata sudah tak ingat lagi bahwa dulu ia mencintai Naruto. Ataukah perasaan pada Naruto lebih mengarah pada kekaguman semata? Satu hal yang pasti: Gaara cinta sejatinya.
"Aku tak mengira akan seperti ini jadinya," bisik Gaara. Menempelkan hidung mancungnya ke tengkuk Hinata. Menciumi leher wanita itu.
"Mengira apa, Gaara-kun?"
"Mengira kau takut kehilanganku. Kukira kau hanya takut kehilangan Naruto."
Pupil mata Hinata menyempit. Tidak, Gaara harus tahu.
"Hanya Gaara-kun yang kucintai. Perasaan untuk Naruto hanya kagum belaka. Bukan cinta."
Pembuluh darah Gaara menggeletar. Sebuah pengakuan tulus. Hinata mengakui cinta tulusnya untuk Gaara seorang. Betapa bahagianya.
.
.
.
Perasaan takut kehilangan Gaara masih menyandera Hinata hingga ia tiba di rumah sakit. Hari ini waktunya kontrol dengan dokter Onkologi. Hinata tak sabar ingin mengetahui kondisi terkini pria tinggi tegap yang berjalan di sisinya.
Dia perhatikan langkah Gaara melambat. Sampai akhirnya langkah itu benar-benar terhenti tepat di sebelah kursi tunggu. Wajah Gaara lebih pucat dari wajahnya.
"Gaara-kun kenapa?" Hinata melunasi tanda tanya, khawatir.
Gaara mual. Bau tajam obat-obatan ditambah sugesti negatiflah penyebabnya. Lembut Hinata mendudukkan Gaara di kursi tunggu. Sejenak mengulur waktu masuk ke ruang praktik dokter.
"Spill it out to me," mohonnya.
Hinata siap berbagi derita dengan Gaara. Rasa sakit Gaara adalah rasa sakitnya. Penderitaan Gaara penderitaannya juga.
Lengan kokoh nan hangat itu melingkari leher jenjang milik sang pewaris Hyuuga. Isi lambung Gaara berpindah ke gaun Hinata. Hinata tak peduli dress mahalnya dipenuhi muntahan Gaara.
"Sorry...sorry..." Gaara meminta maaf berulang kali.
"Tidak masalah, Gaara-kun. Yang mengontrol hasrat ingin muntah bukanlah hatimu, tetapi batang otakmu." Hinata berkata membesarkan hati.
Menit-menit berlalu lambat. Gaara dan Hinata berpelukan di kursi tunggu. Hinata menguatkan Gaara tanpa ungkapan verbalistis. Sampai akhirnya...
"Gaara? Hinata?"
Diiringi derit pintu, Sakura muncul. Jubah dokternya berkibaran. Perlahan Hinata dan Gaara merenggangkan pelukan.
"Aku menunggu kalian," ucap Sakura, tersenyum tipis.
"Gomen, Sakura. Tadi Gaara ingin muntah dan..."
"Ya, aku mengerti. Masuklah."
Ketiganya beranjak ke ruang praktik dokter. Sakura mulai memeriksa Gaara. Hinata setia menemani.
Dalamnya hati siapa yang tahu. Namun, kini kita bisa tahu kalau Hinata menyimpan denyut cemburu. Diam-diam putri Hiashi itu menyesal kenapa dulu tak mengambil Kedokteran saja saat kuliah. Dengan begitu, Gaara tak perlu dirawat wanita lain. Andai Hinata punya mesin waktu.
"Kau masih sering hemoptisis?"
Suara mezosopran Sakura mengembalikan perhatiannya. Hinata tahu bahwa hemoptisis berarti batuk darah.
"Beberapa kali," jawab Gaara perlahan.
Emerald Sakura menyuarakan kecemasan. Resah Hinata memilin jemarinya.
"Perlukah kita naikkan lagi dosis obatnya?" desis Sakura entah pada siapa.
Wajah sang pasien tenang tanpa emosi. Menaikkan dosis obat? Masih kuatkah Gaara?
"Aku takut Gaara tidak kuat..."
Tengkuk Hinata merinding. Ingatannya memutar rekaman kejadian tadi pagi. Rambut merah yang gugur.
