Author's note:
Di platform mana pun saya menulis, prinsip saya tetap sama: no sex. Saya memang menerima pendidikan seks dan kesehatan reproduksi. Tapi entah mengapa saya jijik dengan seks, bahkan membencinya. So, aturan main saya tetap sama: no sex. Tidak pernah menulis fiksi selangkangan adalah harga mati buat Sabaku No Maureen. Ayo kita buat cerita-cerita indah yang sehat dan tanpa merusak pikiran pembacanya. Ayo kita jadi penulis fanfiksi yang bermoral. Ayo kita banggakan Sabaku Gaara, Hinata, dan GaaHina dengan membuat kisah-kisah indah tanpa fantasi seksual yang liar.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 10
Benda di tangan Hinata bukanlah test pack. Jangan harap bisa menemukan benda persegi dengan dua garis merah di rumah itu. Percuma, kalian takkan menemukannya.
Sehelai kertas tebal mengilat di tangan Hinata bukan pula hasil tes lab dokter yang menyatakan kehamilan. Masih banyak kabar manis lain bagi pasangan suami-istri selain hadirnya keturunan. Tak terkecuali surat pernyataan diterima sebagai mahasiswa pascasarjana Konoha University. LOA (Letter of Acceptance) mendarat cantik di tangan Hinata.
"That's great. I proud of you," puji Gaara bangga.
Anehnya, Gaara sama sekali tidak senang. Berbulan-bulan lalu dia sangat mendambakan LOA. Kini, angannya lindap seiring kenyataan akan kondisi Gaara.
"What happen, Princess? You look so sad."
Gaara menghapus senyum bangganya. Ganti memandang Hinata tak mengerti. Bukankah LOA dari universitas bergengsi ini salah satu impian besar Hinata?
"Gaara-kun, kurasa aku takkan mengambilnya."
Kening Gaara berkerut. Ganjil, Hinata bukan tipikal orang yang menolak kesempatan emas. Ia merangkum wajah Hinata. Menatapnya dalam-dalam.
"Suamimu tentu boleh tahu alasannya...?"
"Karena Gaara-kun."
Kebingungan Gaara belum usai. Apa hubungan dirinya dengan rencana Hinata melanjutkan pendidikan?
"Aku ingin fokus merawat Gaara-kun." Pungkas Hinata mantap.
Gaara terpaku. Egois sekali dia bila menjadi penghalang cita-cita Hinata. Rencana melanjutkan S2 sudah tersusun di kepala Hinata sejak hari pertama kuliah S1. Bagaimana mungkin rencana itu berantakan begitu saja hanya karena satu alasan?
"No way, Hinata. Kau harus tetap lanjut S2. Itu keinginanmu sejak lama." Bantah Gaara.
Bantahannya disambuti gelengan Hinata. Mana tega ia menikmati bangku perkuliahan sementara suaminya sakit parah? S2 tidak semudah S1. Tugas menggunung, mengencani buku-buku tebal tiap hari, dan drama menyelesaikan tesis. Hinata tak yakin bisa mencurahi Gaara perhatian bila ia nekat meretas mimpinya. Dalam kondisi sekarang, impiannya tak lagi masuk skala prioritas.
"Ayolah, Hinata. Masuk Konoha University tidak gampang. Seleksinya sangat ketat. Aku saja gagal waktu apply S2 Manajemen Bisnis ke sana. Ini saatmu." Nada suara Gaara lembut membujuk.
Dilema menyergap Hinata. Haruskah tawaran menggiurkan ini diambil sekarang juga? Benar kata Gaara. Menembus tembok tinggi Konoha University sangat sulit. Kini, kesempatan hadir di depan mata. Hinata akan dicaci banyak orang bila melewatkannya begitu saja. Tapi, apakah para pembully julid mempedulikan Gaara juga? Apakah mereka mau tahu keadaan Gaara? Hinata bergulat dengan perang batin dalam dadanya.
"Aku akan bertambah sakit bila kau tidak mengambilnya, Princess...uhuk."
Ujung kalimat terpotong. Gaara terbatuk. Ia menyambar sehelai tissue dan menangkupkannya. Pria berjas hitam itu terbatuk lagi. Dengan ngeri, Hinata melihat lembar putih di tangan Gaara memerah.
"Astaga...Gaara-kun batuk darah." Hinata mendesah ketakutan.
Punggungnya sakit tiap kali terbatuk. Tanpa terduga, Gaara meninggalkan Hinata.
Bibir wastafel menyemburkan air. Gaara terbatuk berkali-kali. Darah mengalir bersama dahak. Bukan kali pertama serangan ini terjadi. Bungsu Sabaku itu telah terbiasa. Yang dicemaskannya hanyalah reaksi Hinata.
Nah, benar kan? Hinata berlari menghampiri Gaara. Memeluk pria itu dari belakang. Menatap nanar darah yang menggenang.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan Gaara-kun dan bersenang-senang di ruang kuliah?" Hinata meninggikan suaranya.
Sontak Gaara berbalik. Pandangan mereka berdua bertabrakan. Sendu mata Gaara mengabsen tiap lekuk wajah cantik istrinya.
"Sudah kubilang, bukan waktunya khawatir. Jangan pikirkan aku."
"Aku tak bisa berhenti memikirkanmu, Gaara-kun."
Dalam gerakan slow motion, Gaara membawa Hinata ke dalam pelukannya. Menciumi ubun-ubun wanita itu, turun perlahan ke keningnya.
.
.
.
Kelelahan, Sai memutuskan pulang ke flatnya. Menolak perintah Danzo-ayahnya-untuk pulang. Lelahnya sore ini akibat diskusi alot dengan calon mertua.
Tak mudah menyenangkan Yamanaka Inoichi. Ayah dari calon istrinya itu tak menginginkan resepsi pernikahan. Sebentuk keinginan anti mainstream yang akan disyukuri para calon mempelai pria. Urusannya tak jauh dari budget.
Inoichi menginginkan pernikahan putri semata wayangnya tanpa perayaan yang sia-sia. Pria pengelola puluhan toko bunga itu lebih menginginkan Ino dan Sai segera memberinya cucu. Akan tetapi, Danzo berseberangan dengan Inoichi. Tuntutan pencitraan membuat pria setengah umur itu ingin membuat pesta mewah untuk pernikahan putranya.
Sai dibuat pusing dengan kelakuan para orang tua. Ino santai saja. Menyerahkan urusan ini pada yang lain. Mau tak mau Sai menyukai sikap simple calon istrinya. Ino tidak materialistis, tidak pula banyak menuntut.
Pesta atau tidak, sebenarnya bukan masalah bagi pelukis setenar Sai. Harta benda berlimpah, deposito membengkak, investasi saham dimana-mana. Sulitnya adalah menyatukan persepsi Danzo dan Inoichi.
Flat berkamar dua di lantai 28 itu menjadi tempat pelarian. Berharap bisa menyendiri untuk sementara. Harapan membentur kenyataan. Betapa kagetnya Sai karena ia menginjak sesuatu di keset depan pintu flat.
Sai menginjak sesuatu yang empuk. Sesuatu yang hidup! Ia tundukkan pandang, mencari-cari sesuatu di bawah kakinya.
Baiklah. Ini kelewatan. Gangguan datang di waktu yang buruk. Trouble berwujud Uchiha Sasuke.
"Ngapain kau tiduran di lantai, pantat ayam?" gerutu Sai.
Sasuke mengumpat, bangkit dari lantai. Ditepuk-tepuknya jas, menepiskan debu. Ia sebal karena kelamaan menunggu sepupu jauhnya.
Jelas saja Sai tak mau disalahkan. Bagaimana dia tahu bila Sasuke datang tanpa berkabar? Ditingkahi perdebatan kecil, keduanya masuk flat.
Gelap sekali di dalam. Lampu-lampu menyala. Sasuke tersandung kanvas kosong yang berserakan di lantai. Sekali lagi ia mencaci Sai yang slebor dan tidak rapi.
"Baiknya kau cepat menikah saja, bodoh. Agar ada yang mengurus rumahmu. Tempat tinggalmu seberantakan pemiliknya." Oceh Sasuke kesal.
"Enak saja menyebutku berantakan. Kau yang lebih berantakan dariku. Masa pemimpin perusahaan tidur di lantai?" balas Sai tak terima.
Sasuke mendengus. Ia duduk tanpa dipersilakan. Sai berjalan melewatinya untuk membuatkan minuman.
Caramel macciato yang mengepul hangat menenangkan suasana. Selamat tinggal debat tidak penting. Duo rambut gelap itu duduk berhadapan. Menyesap cangkir di tangan.
"Aku mau cerita!" cetus Sasuke dan Sai kompak.
Keduanya saling lempar pandang jijik, dan memulai lagi.
"Kau duluan." Kali kedua mereka berbicara bersamaan. Kalau saja mereka lelaki dan perempuan, mereka akan dikira berjodoh.
Sai menghempa nafas kasar. Mengisyaratkan tanpa kata agar Sasuke curhat lebih dulu.
Obrolan dua laki-laki mengalir. Adalah keresahan Sasuke lantaran Sakura sangat care pada Gaara. Begitu perhatian hingga Sakura menolak permintaan Sasuke dan Sarada untuk berhenti kerja. Sai serius mendengarkan. Ekspresi wajahnya melunak.
"Kau yang tolol, pantat ayam." Itulah kalimat pertama yang meluncur dari mulutnya.
Sasuke mendelik. Apakah ia salah alamat? Berharap saudaranya mendukung, tetapi malah seperti ini.
"Cobalah kecilkan sedikit egomu. Gaara sedang sakit. Kita tak tahu kapan dia akan sembuh. Penyakit Gaara bukanlah penyakit biasa. Bayangkan bila kau jadi Gaara."
Nasihat Sai mendobrak pintu berjeruji di hati Sasuke. Telah egoiskah dirinya? Kemanakah empatinya? Alih-alih ikut memperhatikan Gaara, dia malah mencemburui Sakura. Cinta membutakan mata hati dan membuat orang egois bila dosisnya berlebihan. Mendadak Sasuke ingin cepat pulang dan memeluk Sakura.
.
.
.
"Tidak. Tidak bisa!"
Nada bicara Hinata naik satu oktaf. Seseorang yang meneleponnya di seberang sana mengomel. Habislah Hinata dimarahi pihak agency.
"Itu melanggar prinsip saya. Uang? Hahaha, it's not important!"
Tak biasanya Hinata yang lemah lembut menggunakan nada sarkastik. Ia celingukan kanan-kiri, memastikan rumahnya kosong. Semoga Gaara tak perlu mendengar diskusi runyam ini.
"Sekali tidak mau tetap tidak mau! Ini berkaitan dengan urusan hati dan cinta! Bye."
Hinata tergesa menutup pembicaraan. Ia lepas high heels. Dibiarkannya sepasang benda mahal itu menggelinding ke bawah rak.
Jadwal pemotretan hari ini padat sekali. Hinata baru pulang ketika malam mencium bintang. Pulang-pulang ia langsung bersitegang dengan agency gegara penolakan menjadi bintang iklan.
Sebenarnya, Hinata cukup fleksibel. Ia tak pilih-pilih job kecuali model vulgar. Tetapi kali ini ia harus menjaga sepotong hati. Hati lembut nan putih yang tulus mencintai.
Tawaran menjadi model iklan produk susu ibu hamil cukup menarik. Honornya pun tinggi. Demi Gaara, ditolaknya job satu itu. Segala sesuatu tentang kehamilan dan keturunan sebisa mungkin dihindari Hinata. Menjaga perasaan Gaara adalah tujuannya. Bagaimana kata hati pria mandul bila istrinya mempromosikan produk kehamilan?
Rejeksi Hinata berbuah perdebatan panjang dengan owner agency. Bahkan Hinata diancam terdepak dari agency bila terus membangkang. Lupakah pemilik agency kalau modelnya yang satu ini sudah kelebihan harta? Dengan kelonggaran hartanya, mudah bagi Hinata membeli agency sekaligus pemiliknya.
Membuang kegusaran, Hinata menuju kamar utama. Gaara belum pulang. Tak sabar wanita bergaun tafetta itu menyambut kepulangan suaminya.
Hingga malam membubung, deru mobil Gaara belum juga terdengar. Hinata dirasuki waswas. Hatinya merintih memanggil-manggil Gaara. Dia pun berpindah dari kamar utama ke ruang tamu.
"Gaara-kun...cepatlah pulang, Gaara-kun." Hinata bergulak-gulik gelisah di sofa.
Bayangan buruk melintas. Bagaimana bila Gaara pingsan saat menyetir mobil? Bagaimana bila Gaara batuk darah atau penyakitnya mengalami perburukan secara mendadak? Rusuh hati Hinata memikirkan Gaara.
Kerusuhan hati membawa Hinata dalam tidur gelisah. Punggungnya pegal karena tertidur pas di bawah rangka sofa. Wajah pucat Gaara sulit terhapus dari pikiran.
Tengah malam, Hinata merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningnya. Ia mengelus kening. Ada yang menciumnya. Mata mengantuk Hinata menangkap kilasan rambut merah.
"Maafkan aku, Princess." Sesal Gaara.
Hinata menegakkan tubuh. Memeluk posesif lengan Gaara. Menghirup kuat-kuat wangi Blue Seduction Antonio Banderas yang menguar dari tubuh pria itu.
"Gaara-kun, tetaplah di rumah. Lebih baik gaji kecil asalkan kita tetap bersama." Hinata memohon. Hatinya teraduk cemas.
Gaara mengelus rambut panjang Hinata. Mengecup pelipisnya penuh sayang.
"Akulah yang harus bekerja keras menafkahimu, Princess." Ujarnya sabar.
"Gaara-kun bisa bekerja dari rumah. Please...aku tidak ingin Gaara-kun kelelahan. Aku...aku tak ingin jauh darimu."
Kalimat terakhir Hinata menggema di kepala Gaara. Wanita anggun ini tak mau jauh darinya? Ah, Gaara tak menyangka Hinata seterus terang itu.
