Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 11
Mentari bercinta di langit pagi dengan malu-malu. Tahun ini, pagi pertama turun salju. Mencipta gundukan putih nan beku.
Selimut putihyang terhampar di halaman belakang tak menghibur hati Gaara. Sejak bangun dua jam lalu, rasa mual menyeruak. Efek samping obat-obat sitostatika itu.
Cornflake, roti panggang, dan bubur mutiara buatan Hinata hanya sedikit disentuh. Perasaan ingin muntah membuat selera makannya tercerabut. Sesaat Gaara hanya mengaduk-aduk mangkuknya.
Untunglah Hinata tidak ada di sini. Istrinya itu keasyikan menikmati salju pertama. Sampai-sampai dia biarkan suaminya sarapan sendirian. Gaara tak melarang. Biarlah, biarlah Hinata menikmati kesenangannya sebelum ke kampus.
Kampus? Otomatis Gaara menepuk kening. Hari ini Selasa, waktunya mengantar belahan jiwa tercinta menuntut ilmu.
Hinata kuliah S2 dua kali seminggu, tiap Selasa dan Rabu. Panggilan jiwa membuat Gaara tergerak menemani Hinata. Menunggui wanita itu sampai selesai kuliah. Persetan dengan persepsi orang. Ada yang menyebut Hinata childish karena masih ditemani sang suami kemana-mana. Ada pula yang melabeli Gaara bucin, budak cinta. Asal mereka tahu saja. Tak pernah Hinata meminta Gaara melakukan itu. Dan Gaara sendiri melakukannya atas keinginan sendiri.
Sendok di tangan Gaara mulai terangkat. Habis setengah porsi, Gaara tak kuat lagi. Rasa sakit menusuk dadanya, turun perlahan ke punggung.
Gaara bangkit berdiri. Mendorong kursi ke belakang. Memaksakan tubuh yang dilahap kanker untuk bergerak. Ia bergerak pelan ke upright piano. Bermain piano dapat menjadi obat mujarab.
Tak sempat lagi Gaara membuka partitur. Ia biarkan permainan pianonya mengalir lancar tanpa beban. Sebuah lagu yang terlintas di dalam pikiran ia bawakan.
Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading 'bout this other guy
Do you do what you did when you did with me
Does he love you the way I can
Did you forget all the plans that you made with me?
'Cause baby I didn't
That should be me, holding your hand
That should be me, making you laugh
That should be me, this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me, feeling your kiss
That should be me, buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
Till you believe
That should be me
That should be me
You said you needed a little time from my mistakes
It's funny how you used that time to have me replaced
Did you think that I wouldn't see you out at the movies
What you doin' to me
You're taking him where we used to go
Now if you're trying to break my… (Justin Bieber-That Should Be Me).
.
.
.
Kedua kaki jenjangnya menjejak salju. Dingin menjilat kulit. Menerabas gaun tidurnya.
Hinata membiarkan sifat kekanakan lepas bebas. Jemari lentiknya mengayak-ayak salju. Ingin sekali mengukirnya menjadi boneka. Sayang, gumpalan salju masih kurang banyak. Perlu lebih lama bersabar.
Salju, musim dingin, dan Gaara. Kenangan bertumpuk di kepala Hinata. Ombak kenangan menggetarkan dadanya.
Di tempat ini, tempat yang mulanya taman bermain, pertama kali jade dan lavender bertemu. Saat itu Gaara baru pindah dari negara lain. Sebagai anak pindahan, dia belum punya teman. Anak-anak meledeknya karena ia memiliki rambut merah. Hanya Hinata yang tidak ikut tertawa. Ia hampiri Gaara. Little Gaara dan Little Hinata bermain riang. Mengurai hari-hari indah penuh cinta.
Sudah cukup terjebak nostalgia. Waktunya bersiap ke kampus. Hinata membalikkan badan dan melangkah masuk ke rumah.
Melewati ruang makan, Hinata sedikit kecewa melihat Gaara menyisakan sarapannya. Bukankah saat honeymoon Gaara sendiri yang melarang Hinata menyisakan makanan? Buru-buru dihapusnya pikiran itu. Mungkin saja Gaara kena efek samping obat kemo.
Denting piano menuntun Hinata ke dekat Gaara. Ia peluk pinggang pria berjas merah hati itu. Permainan piano terhenti. Gaara berpaling. Membalas senyuman Hinata.
"Siap ke kampus, Princess?" Ia bertanya.
Hinata mengangguk mantap. Saat hendak naik ke lantai atas, Gaara menahan pergelangan tangannya.
"Kamu ada pemotretan hari ini?"
Kalau saja Gaara menanyakan hal lain, Hinata sanggup menjawab cepat. Pria ini menyentilnya halus. Pastilah ia bertanya-tanya sebab Hinata lama tak berpose cantik memeragakan produk.
"Ti-tidak ada," sahut Hinata gugup.
Insting Gaara bekerja. Segera ia menyadari ada yang tidak beres. Lurus dipandanginya mata Hinata. Bertanya tanpa suara.
Tatapan Gaara bagai sinar X-Ray. Hinata tertunduk. Makin besar kecurigaan Gaara.
"Aku...aku sudah tidak di agency itu lagi."
Teramat berat mengatakannya. Hinata mendongak, memandang Gaara takut-takut. Air muka pria itu berubah bingung.
"Kenapa? Kau ada masalah? Tell me..."
"Aku bertengkar dengan owner agency. Setelah aku menolak membintangi iklan produk kehamilan, aku dianggap mempermalukan agency dan aku..."
Kalimatnya dibiarkan mengambang. Gaara segera menarik benang merahnya.
"Menolak job di luar kebiasaanmu, kecuali job vulgar dan erotis..."
"Aku tidak akan menyakiti perasaan Gaara-kun."
Gaara mematung. Produk kehamilan, suami mandul. Dua entitas itu masih berkorelasi. Kesedihan besar menyantap hati Gaara. Paru-parunya dilumat kanker. Kesempatannya menghadirkan keturunan di rahim Hinata tersungkur. Pedih, pedih tak terperi.
Hinata jawab kerisauan Gaara dengan dekapan di kedua lengan. Ia menidurkan bibir ranumnya di kening Gaara. Mensugestikan ketenangan. Mentransfer peneguhan.
.
.
.
Cobaan Gaara bertambah berat setiba di kampus. Ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, Hinata disambut hangat oleh Profesor Kimimaro Kaguya. Profesor termuda di Konoha University. Produk didikan Jerman yang sangat berkompeten.
"Ohayo, Hinata-san. Telah menunggumu sejak tadi." Profesor Kimimaro melempar senyum sok manis, lengannya terentang untuk merangkul Hinata.
Si wanita bergaun dan berambut indigo berkelit. Tepat ketika Gaara merangkulnya protektif.
"Princess, belajar yang rajin ya. Berikan yang terbaik untuk researchmu. Aku percaya kau bisa, Istriku."
Gaara menekankan kata 'istri'. Rona ungu jelek tertinggal di wajah Profesor Kimimaro. Gaara tertawa dalam hati. Kini roman muka profesor mata keranjang itu menyerupai wajah Paman Vernon di serial Harry Potter.
Gaara melempar pandang waswas punggung Hinata yang menghilang ditelan pintu laboratorium. Membayangkan istrinya dikurung selama beberapa jam bersama profesor tukang modus itu membuat Gaara semakin mual. Jangan hanya karena ada dua gadis saja di laboratorium yang dipimpinnya, Profesor Kimimaro jadi iseng cari kesempatan dalam kesempitan.
Lagi pula, Hinata mengambil jurusan minim perempuan. Gaara tak bisa menyalahkan istrinya yang jebolan fakultas Teknik dan sekarang ini meneruskan riset nanoteknologi. Laboratorium tempat Hinata meneruskan master sekaligus penelitian bertema Tissue Regeneration Materials. Secara singkat mengawinkan material nanoteknologi dengan disiplin ilmu tissue regeneration di bidang medis. Rumit sekali, kan? Jangan tanya Gaara. Dia pun pura-pura paham tiap kali Hinata menceritakan progres risetnya.
Sambil menunggui istrinya, Gaara membunuh waktu dengan membaca buku tipis karangan Carlos Maria Dominguez. Buku yang menceritakan kegilaan kolektor buku. Berulang kali konsentrasinya pecah. Tak henti Gaara melayangkan pandang ke pintu lab.
Kadang ia menyimpan tanya. Kapankah hidupnya dan Hinata tenang? Habis Naruto, terbitlah Kimimaro. Gaara ingin, ingin sekali mengarungi ketenangan bersama istrinya.
Inilah alasan kuat Gaara rela mengurangi kesibukannya di kantor dan mendampingi Hinata lanjut S2. Sejak awal, Gaara merasakan hawa negatif dalam diri Profesor Kimimaro. Profesor Kimimaro tertarik pada Hinata, baik pada proposal riset maupun pada diri pribadi. Pria berambut perak itu mengistimewakan Hinata. Ketika mahasiswa lainnya dibanti saat Zemi (presentasi laporan progres riset mingguan tiap Senin pagi), hasil kerja Hinata selalu dipuji. Sudah melampaui hitungan jari ajakan Profesor Kimimaro untuk makan siang bersama. Ajakan itu tak pernah bersambut. Profesor Kimimaro juga membolehkan Hinata pulang duluan walaupun kegiatan di lab masih berjalan. Saat itu Hinata harus pulang cepat karena Gaara demam.
Mengingat itu semua, Gaara bersedih hati. Harapan untuk hidup tenang masih jauh panggang dari api. Mungkin perlu waktu sebelum Hinata terbebas dari profesor tak tahu malu itu. Pertanyaannya, cukupkah waktu Gaara untuk melewati hidup damai dan bahagia bersama Hinata?
