Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 12
"Hinata-san, maukah makan siang bersamaku?"
Hinata membeku. Tangannya menekan-nekan tombol lift dengan frustrasi. Salahkan lift di fakultas Teknik Konoha University yang selalu penuh pada jam makan siang.
Susah payah Hinata merangkai alasan untuk keluar lab lebih cepat. Ia berpacu dengan waktu untuk mencapai lift. Semata demi menghindari pria berambut silver itu.
"Ano, Profesor Kimimaro. Saya tidak bisa. Saya..."
"Sudah janji dengan si rambut merah itu? Hm?"
Kepala Hinata terangguk. Kehabisan cara menghindari profesor yang setengah mati mengejarnya. Kalau tahu keadaannya begini, lebih baik sekalian saja ia bolos kuliah.
Gaara tak bisa mengantarnya karena ada rapat penting bersama jajaran direksi Sabaku Enterprise. Praktis Hinata harus menghadapi manuver supervisor tesisnya sendirian. Berkuliah tanpa Gaara seperti makan ramen tanpa bumbu.
"Itukah yang membuatmu gelisah sejak tadi, Hinata-san? Kau terlalu bergantung dengan Sabaku-san?" kejar Profesor Kimimaro.
Hati Hinata serasa terjeblos lantai terracotta. Bagaimana bisa Profesor Kimimaro mengetahui nama Gaara? Seingatnya ia belum pernah menyebutkan nama Gaara pada pembimbing riset.
Membaca kebingungan Hinata, Profesor Kimimaro tertawa sumbang. Ditunjukkannya layar tab. Sebuah file berjudul 'My special student' terbuka. Betapa terkejut Hinata mendapati Profesor Kimimaro membuat catatan tentangnya. Mulai dari data pribadi, nama pasangan, hingga bunga kesukaan. Stalker, batin Hinata geram.
"Mudah menyadap semua tentangmu, Hinata-san." Profesor Kimimaro melebarkan senyum. Layar tab kembali menutup.
Berada di dekat Hinata membuat image profesor luruh dalam diri Kimimaro Kaguya. Profesor sekaliber dirinya, yang super sibuk dengan urusan penelitian dan kegiatan lain, mana sempat stalking mahasiswanya? Profesor dengan publikasi ilmiah berlimpah serta pengetahuan seluas samudera, masih sempat-sempatnya mengajak mahasiswa makan siang berdua. Putra keluarga Kaguya sungguh tergila-gila pada Hinata. Hatinya jatuh di tempat yang salah. Di tempat wanita bersuami.
Ting
Lega luar biasa, Hinata berlari masuk lift. Kelegaannya berlangsung kurang dari sedetik. Profesor Kimimaro mengekorinya.
Lift menggelinjang turun. Perut Hinata kegelian. Ia memandang ke arah pewangi ruangan yang menempel di dinding kaca. Ke arah mana pun, asalkan tidak pada pria berambut keperakan. Kaki besar Prof Kimimaro terus membuntuti Hinata hingga ke lobi.
"Makanlah bersamaku...sekali saja." Prof Kimimaro tak lelah membujuk.
"Tidak bisa, Profesor. Saya harus menemani suami saya."
Meniru cara Gaara, Hinata membuat penekanan pada kata 'suami'. Urat malu Profesor Kimimaro sepertinya sudah putus. Ia mencekal langkah Hinata di tengah lobi.
"Ada hal tentang penelitian yang harus kubicarakan. Tadi pagi aku dapat undangan call for paper untuk seminar internasional. Temanya pas dengan penelitianmu. Ayo kita susun skema papernya sambil makan siang."
Benar-benar kelewatan. Begitu ambisinya Profesor Kimimaro ingin berduaan dengan Hinata hingga ia menggunakan undangan menulis paper sebagai modus. Benang kesabaran Hinata masih panjang. Halus ditolaknya ajakan berbalut tipuan itu.
Oh God, bantu aku, batin Hinata putus asa. Siapa saja, tolong bebaskan Hinata dari cengkeraman profesor agresif. Dia menoleh kanan-kiri. Berusaha mengalihkan perhatian dosen pembimbingnya.
Pintu kaca berdenting membuka. Dari balik salju tebal, muncul siluet tinggi dengan rambut dan pakaian gelap. Hinata merasa familiar dengan sosok itu dari gaya berjalan dan bajunya.
Sasuke.
Untuk pertama kali seumur hidupnya, Hinata senang didatangi bungsu Uchiha. Papa Sarada itu berjalan mantap ke arahnya. Mata onyxnya berkilat benci memandang Profesor Kimimaro.
"Ah, Uchiha ya?" desis Profesor Kimimaro melihat Sasuke.
Sasuke menarik kasar tangan Hinata. Si pemilik tangan meringis. Tangan Sasuke tak selembut Gaara.
"Ikut aku. Gaara masuk rumah sakit. Dan kau!" gertaknya pada Profesor Kimimaro.
"Sekali lagi kau menggoda istri orang, kulaporkan kau pada pihak kampus. Biar kau dipecat dan gelarmu dicabut!"
Jika Sasuke salah satu mahasiswa Profesor Kimimaro, dapat dipastikan ia mendapat kesulitan. Sasuke telah membentak peneliti terhormat di Konoha University. Bukan hanya membentak, dia pun melemparkan ultimatum.
Di mobil, Sasuke memarahi Hinata. Wanita itu tertunduk lesu. Terbiasa diperlakukan dengan penuh kelembutan oleh Gaara, hatinya sakit dibentak Sasuke. SUVputih itu tersendat-sendat di sepanjang jalan bersalju.
"Keterlaluan kau! Gaara sakit dan kau malah berduaan dengan akademisi genit itu!" geram Sasuke, memukul dashboard dengan kepalan tangan.
"Aku tidak berduaan dengannya. Setengah mati aku berusaha menghindari dia," bela Hinata dengan suara bergetar.
Sasuke mendengus sinis. Energinya dihabiskan untuk mengomeli Hinata. Kata Sasuke, Gaara lebih segala-galanya dibandingkan Profesor Kimimaro. Ya, itu benar. Hinata sangat setuju dengan Sasuke kali ini.
.
.
.
Sebelumnya tak ada yang mampu
Mengajakku untuk bertahan di kala sedih
Sebelumnya
Ku ikat hatiku
Hanya untuk
Aku seorang
Sekarang kau di sini
Hilang rasanya
Semua bimbang
Tangis kesepian
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini
Aku tak mengerti
Akankah sama jadinya
Bila bukan kamu
Lalu senyummu
Menyadarkanku
Kau cinta pertama
Dan terakhirku
Sebelumnya
Tak mudah bagiku
Tertawa sendiri
Di kehidupan
Yang kelam ini
Sebelumnya
Rasanya tak perlu
Membagi kisahku
Saat ada yang mengerti
Sekarang kau di sini
Hilang rasanya
Semua bimbang
Tangis kesepian
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini
Aku tak mengerti
Akankah sama jadinya
Bila bukan kamu
Lalu senyummu
Menyadarkanku
Kau cinta pertama
Dan terakhirku
Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku
Tuk cari yang lebih baik
Lalu senyummu
Menyadarkanku
Kau cinta pertama
Dan terakhir ku (Sherina-Cinta Pertama dan Terakhir).
.
.
.
Hinata rebah di pelukan Gaara. Kepalanya menyandar ke dada bidang pria itu. Dada yang beberapa jam lalu disesaki keganasan sel kanker.
"Bagaimana kau bisa di sini, Gaara-kun?" tanya Hinata setengah terisak.
Gaara mengelus rambut Hinata. Menciumi jemari wanitanya.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan, Princess. Tadi aku sesak nafas saat memimpin rapat. Daddy melarikanku ke rumah sakit. Kata Sakura aku hanya kelelahan. That's it."
Sejenak Hinata menyusut air mata. "Kemana Daddy Rasa?"
"Daddy kembali ke kantor. Tenanglah, Hinata. Jangan cemaskan aku lagi."
Gaara terbatuk. Tulang punggungnya serasa ditarik. Lembut Hinata menyeka bercak merah di sudut bibir Gaara. Adakah ilmu memindahkan kanker? Kalau ada, Hinata ingin mempelajari dan mengamalkannya.
Seorang suster berambut ungu memasuki paviliun. Ia mengangsurkan nampan berisi set menu makan siang. Hinata menyuapi Gaara. Persis seperti yang dilakukan Gaara saat honeymoon tempo hari.
Hati Gaara dirayapi kehangatan. Setiap pertemuan dengan Hinata adalah peneguhan. Hinata adalah benteng terbesar semangat hidupnya. Alasan Gaara untuk bertahan dan terus bertahan.
Tapi sampai kapan? Sel-sel jahanam ini agaknya kebal dengan obat sitostatika. Sudah terlalu riskan untuk melakukan operasi. Menurut Sakura, kondisi Gaara terlalu lemah.
Dua-tiga kali Gaara kesulitan menelan. Hinata mengulangi dengan sabar. Ia bahkan ikut mengunyahkan makanan agar Gaara lebih mudah menelannya. Dinginnya cuaca bersalju di luar kontras dengan kehangatan cinta Gaara dan Hinata.
"Hinata?" panggil Gaara lirih.
"Iya?"
"Kalau aku meninggal..."
"Sssttt...berhenti bicara itu, Gaara-kun."
"Dengarkan aku. Carilah penggantiku saat aku pergi."
Hinata menggeleng kuat. Bibirnya terkatup rapat. Dari sekian banyak topik, kenapa Gaara harus membahas ini?
"No, Gaara-kun. No...kau cinta terakhirku."
Ketegasan Hinata membungkam Gaara. Ia telah membuat istrinya ketakutan. Sebelum sempat menenangkan Hinata, iPhonenya berdering. Telepon dari rumah.
"Tuan Gaara, Nona Hinata, Hikaru-sama datang ke rumah. Beliau ingin bertemu Anda berdua." Lapor asisten rumah tangga.
Firasat buruk menerpa mereka.
