Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 13
Ini pelukan pertama Hikaru sejak kematian Hiashi. Peristiwa naas tercerabutnya nyawa sang kepala keluarga membuat Hinata serasa tak mengenaali ibunya lagi. Hinata coba memaklumi. Ibunya pastilah sangat terpukul.
Bukan berarti Gaara dan Hinata tak peduli pada Hikaru sejak mereka menikah. Tak terhitung berapa kali mereka mencoba menemui Hikaru. Mereka berdua berbagi perhatian dengan adil antara Hikaru, Karura, dan Rasa. Nyatanya, Hikaru sendirilah yang menarik diri.
Masih segar dalam ingatan Hinata tentang kunjungan terakhirnya ke kediaman Hyuuga. Akhir pekan itu, dia dan Gaara membawakan strawberry shortcake kesukaan Hikaru. Kata para pelayan, Hikaru mengisolasi diri di dalam kamar. Surat-surat bertumpukan di kotak pos, belum dibuka. Sejumlah panggilan telepon menanti untuk dibalas. Ajakan Lady Skuad untuk kumpul-kumpul cantik ditampik.
Kasak-kusuk beredar di antara para made. Nyonya majikan mereka sering kepergok menciumi pakaian lama mendiang Hiashi. Satu malam mereka pernah mendapati Hikaru tertidur berbantalkan peti kayu jati berisi barang-barang koleksi suaminya. Pilu, pilu sekali. Kehilangan membuat jiwa meranggas.
Hati Hinata banjir rasa syukur. Akhirnya Hikaru membuka diri. Namun, mengapa firasat buruk ini tak juga pergi?
"Maafkan Mama baru sempat menengok kalian," sesal Hikaru.
Gaara mencium tangan ibu mertuanya takzim. Tersenyum penuh pengertian. Hinata mengerjapkan mata dengan terharu.
Asisten rumah tangga menghidangkan salad, sirloin steak, dan Italian chocolate. Mereka bertiga duduk rapi mengitari meja makan. Hikaru menempati kursi di tengah meja. Anggun tangannya memotong-motong steak. Cara makan dan table mannernya sesempurna Hinata.
Manik mata Hikaru menangkap manisnya perlakuan Gaara pada sang putri. Betapa lembut dan penuh cinta tatapan dari iris jade milik Gaara. Tangan hangatnya sigap menolong Hinata saat perempuan cantik itu tak lihai memakai pisau.
Puji Tuhan, batin Hikaru lega. Paling tidak, putrinya berada di tangan aman. Tinggal satu masalah yang perlu di-clearkan.
"Hinata Sayang, kau sudah terlambat?"
Tanya yang melompat dari mulut Hikaru membingungkan Hinata. Apanya yang terlambat? Ia menatap lugu mata sang ibu.
"Terlambat? Ah...masa kau tak mengerti." Tunjuk Hikaru ke arah perut ratanya.
Lonceng berdentang di kepala Hinata. Tangannya berkeringat dingin. Pisau melicin dalam genggaman. Gaara mulai paham arah pembicaraan mertuanya.
Gawat. Cepat atau lambat, hal ini akan terjadi. 'Tagihan' tak berwujud dari seorang wanita baya yang mendamba cucu. Gaara dan Hinata saling tatap. Mengungkap kalut tanpa suara.
Bagaimana mereka harus menjawab pertanyaan Hikaru?
Bagaimana menyingkap tirai takdir di depan wanita itu?
Bagaimana membuat hati Hikaru lapang menerima kenyataan pahit?
Dan sejumlah bagaimana-bagaimana lainnya bergaung di kepala mereka. Ternyata kunjungan Hikaru berselubung tagihan. Tagihan yang mustahil mereka sanggupi.
Piring porselen bertelinga. Cangkir kristal bermata. Teko perak berperasaan. Sendok, garpu, dan pisau tegang mendengarkan. Benda-benda mati itu amat peka pada kecamuk perasaan tuannya.
"Hinata?" usik Hikaru.
"I-iya, Ma. Kita bicarakan setelah makan ya." Dalih Hinata tergagap.
Kepala Hinata rusuh. Rusuh dengan sejumlah alibi. Ia ingin, sangat ingin melindungi Gaara. Jangan sampai Gaara hancur di depan ibunya.
Sementara itu, hati Gaara mendingin. Bersiap atas kemungkinan paling buruk. Gaara siap menghadapi apa pun kecuali satu: berpisah. Dirinya takkan kuat berpisah dari Hinata.
Rencana kebohongan mengendap di kepala Hinata. Bagaimana jika dirinya pura-pura mandul? Akankah Gaara setuju? Biarlah ibunya menyalahkan dirinya saja karena ketidakmampuan meneruskan keturunan. Silakan Karura dan Rasa menghakiminya. Hinata siap dilecehkan untuk kesalahan yang tidak diperbuatnya, semata demi Gaara.
"Lho, kenapa kau beres-beres? Ada pelayan kan..." cegah Hikaru.
Hinata tersenyum kikuk. Memberesi piring kotor. Iris lavendernya mengedip ke arah Gaara, memberi kode. Sekejap kode Hinata ditangkap Gaara.
"Tak apa-apa. Biar kubantu. Sini, Hinata."
Keduanya membawa peralatan makan ke dapur. Sambil mencuci piring, mereka berdiskusi dalam suara pelan. Gaara menolak mentah-mentah ide Hinata untuk menjadikan dirinya tumbal. Infertilitas tidak ada pada diri Hinata. Dialah yang salah.
"Tapi Gaara-kun..."
Gaara melap tangannya. Menatap Hinata dengan tatapan terlembut. Hinata luluh. Dengan melantun seribu doa, mereka kembali ke ruang makan.
"Jadi, kapan kalian akan memberi Mama cucu?" tagih Hikaru.
Walau telah menyiapkan mental, tetap saja Hinata dan Gaara stress. Tak tahu bagaimana harus membuka kotak pandora kebenaran.
"Ma, maaf kami belum bisa memberikan cucu." Hinata angkat bicara dengan suara kecil.
"Kenapa? Kau takut program kehamilan menghambat studimu? Tidak perlu cemas, Hinata. Putri Mama jagonya multitasking."
"Bukan itu, Ma. Kami tidak bisa memberi cucu karena..."
"Aku mandul." Gaara menyela.
Hikaru bagai tercapit labah-labah beracun mendengarnya. Dicengkeramnya punggung kursi erat. Matanya nyalang menatap menantunya. Ditatap setajam cakar elang, Gaara tetap tegar.
"Kau mandul?" ulang Hikaru shock.
Gaara mengangguk.
"Ta-tapi Mama jangan menyerah. Kami akan adopsi." Hinata menimpali. Ia pernah membicarakan ini dengan Gaara, dan Gaara sepakat.
Mata Hikaru membara. Senyumnya getir.
"Anak adopsi dan anak kandung sangat berbeda." Tandasnya.
"Sama saja, Ma. Kita bisa mendidiknya untuk menjadi anak yang..."
Tangan Hikaru terangkat. Memotong argumen Hinata. Wajahnya dihiasi gurat sedih. Bara di matanya padam. Makin kuat firasat buruk melanda Gaara dan Hinata.
Sedetik. Tiga detik. Lima detik, Hikaru menghela nafasnya dan berujar.
"Gaara, ceraikan Hinata. Biarkan Hinata mendapat keturunan dari pria lain."
Setiap kata yang terucap dari lisan Hikaru bagai panah cinta yang menusuk jantung Gaara. Dunianya runtuh seketika. Mendung berputar-putar di kepalanya, siap menumpahkan hujan.
"Tidak!" pekik Hinata.
"Aku tidak mau berpisah dengan Gaara! Tidak mau, Ma! Tidak mau!"
Hinata berteriak seperti anak kecil. Lupakan segala tatakrama. Lupakan segala aturan keluarga terpandang. Kepalan tangan mungil Hinata memukul-mukul permukaan meja. Ia tak mau, sungguh tak mau terpisah dari Gaara.
"Ini amanat Papamu, Hinata. Papamu menginginkan keturunan. Harus ada penerus keluarga Hyuuga."
Tubuh Hinata merosot. Ia bersimpuh di kaki Hikaru. Mencengkeram pelan tepi yukata ibunya.
"Ma, kumohon jangan paksa aku dan Gaara bercerai. Aku akan melakukan apa pun asal bukan perceraian." Hinata merintih pilu.
Jika Hinata sudah sedemikian sedihnya, kedukaan Gaara tak terkatakan. Pria berambut merah itu hanya bisa tertunduk dalam. Tak berdaya. Perasaan tak berguna menampar ulu hatinya.
Permintaan terberat Hikaru menjebak Gaara dan Hinata dalam esedihan hingga jauh malam. Lama setelah Hikaru pulang, mereka masih tenggelam di lautan kesedihan. Sedih dan takut kehilangan bercampur jadi satu.
Mengenakan baju tidur seputih salju, Gaara melangkah ke balkon kamar. Tak memedulikan hawa dingin mencambuk kulitnya. Rongga dadanya disesaki perasaan tak berharga.
Sabaku Gaara tidak berguna.
Sabaku Gaara mandul.
Sabaku Gaara tak pantas dicintai.
Benarkah pria mandul tidak layak bahagia? Benarkah tujuan pernikahan hanya untuk melegalkan seks? Bila pernikahan hanya untuk syahwat dan anak, tujuannya sempit sekali. Jangan samakan Gaara dan Hinata dengan kebanyakan pasangan lainnya.
Wangi lavender membelai penciumannya. Aroma terapi itu mengiringi langkah anggun Hinata. Selang dua detik, lengan Hinata melingkar di leher Gaara.
"Mama akan segera mengirimkan surat cerai," bisik Hinata ketakutan.
Gaara menyejajarkan wajahnya dengan wajah kusut Hinata. Sekali pandang saja, ia tahu kalau wanita ini tak ingin kehilangannya.
"Akan kita bakar." Gaara berbisik parau, menyingkirkan anak rambut yang membingkai dahi Hinata.
"Mama akan segera mencarikan suami baru untukku."
Lembut tapi tegas, Gaara memutar badan Hinata. Wanita itu menghadap dirinya. Kerling matanya menyiratkan kekalutan maha dahsyat.
"Kita akan selalu bersama. Takkan ada yang bisa memisahkan kita."
Mata Hinata berembun. Bukan, bukan ia menangis ragu. Justru dia yakin dengan pilihannya. Dia dan Gaara akan memperjuangkan keutuhan pernikahan mereka.
.
.
.
Bahtera cinta Gaara dan Hinata terancam karam. Di sisi lain, Ino dan Sai baru akan memulai perjalanan di laut cinta. Perahu cinta mereka siap berangkat hari ini.
Pernikahan Ino dan Sai berlangsung di pertengahan musim dingin. Susah payah mereka berhasil menyamakan persepsi antara Inoichi dan Danzo. Tak ada resepsi pernikahan. Sebagai gantinya, mereka mengundang anak-anak duafa se-Konoha City dan berbagi kebahagiaan di sebuah resto. Beberapa teman dekat-tak terkecuali Gaara dan Hinata-hadir atas permintaan mempelai.
Gaara dan Hinata tiba di venue ketika langit hitam pekat. Entah akan turun hujan es atau salju. Awan Nimbus bergumpal menakutkan. Puluhan anak kurang beruntung berbaris rapi, antre sebelum dipersilakan masuk.
Pelayan mengantarkan Gaara dan Hinata memasuki pintu bertuliskan "Just for owner". Satu kaki Gaara masih menapak paving block saat didengarnya suara seorang anak lelaki bersenandung.
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang... (Potret-Bunda).
Suara lembut itu sukses membuat hati Gaara trenyuh. Anak lelaki di ekor antrean menyentuh hati Gaara dengan nyanyiannya. Ia begitu fokus memperhatikan si anak bersuara merdu hingga tak sadar Hinata telah berjalan masuk venue lebih dulu.
Gaara menarik kembali satu kakinya dari lantai venue. Ia berjalan mantap mendekati anak itu. Wajah anak itu coreng-moreng penuh bekas cat. Anehnya, ia sama sekali tak menyadari kehadiran Gaara. Menoleh pun tidak. Matanya menatap lurus ke depan, kosong dan tak fokus.
Ada yang ganjil. Tatapan mata anak itu tidak fokus. Gaara terus memperhatikannya, terus sampai-sampai...
"Shinki!"
Teriakan nnyaring dua orang anak di ujung halaman menyentakkan anak lelaki dengan wajah belepotan cat itu. Tahulah Gaara kalau anak itu bernama Shinki. Sesaat Shinki menoleh-noleh mencari sumber suara.
Saat itulah Gaara tersadar. Shinki tak bisa melihat. Sepasang mata yang terpasang di wajahnya hanya mengirimkan fragmen hitam kelam. Gaara merasakan tenggorokannya sakit. Bukan karena kanker, tetapi karena keharuan.
Hatinya yang lembut membisikkan tuntunan. Pelan ditepuknya tangan Shinki. Dituntunnya anak itu menghampiri kedua temannya.
"S-siapa ya?" tanya Shinki terbata.
"Panggil aku..."
"Shinki! Kamu ngapain aja sih?"
Seruan cempreng Yodo dan Araya memutus jawaban Gaara. Dengan lembut, Gaara melepas tangan Shinki. Memberi kesempatan anak itu untuk bercengkerama dengan Yodo dan Araya.
"Yodo...Araya..." Shinki memanggil teman-temannya.
Demi Tuhan, Gaara tidak bisa berhenti melepaskan perhatiannya dari Shinki. Anak spesial berkebutuhan khusus itu mengalihkan dunianya. Naluri seorang ayah terbangun dalam diri Gaara. Naluri ingin memeluk Shinki, melindunginya, menjaganya, menjauhkannya dari jalanan yang keras.
"Hei, tadi aku dapat permen dari kakak pirang baik hati." Yodo memamerkan sekantong besar permen.
Ketika Shinki dan Yodo asyik makan permen, Gaara mendekati Araya. Ramah mengajaknya bicara. Dari Araya, Gaara mengantongi fakta menggiriskan tentang anak buta yang ia perhatikan sejak tadi.
Shinki dan kedua temannya menjadi penampil seni jalanan. Merelakan masa kanak-kanak untuk hidup keras demi mendapatkan beberapa keping uang. Wajah Shinki belepotan cat karena ia memerankan berbagai lakon dengan media boneka. Shinki buta sejak pertama kali Araya mengenalnya. Tak ada yang tahu siapa orang tua kandung Shinki.
Ujung hidung Gaara memerah. Dua titik bening bergetar di pelupuk mata, sewaktu-waktu siap terjun bebas. Shinki dan kisah sedihnya membawa Gaara hanyut dalam melankolia. Ia harus melakukan sesuatu. Inikah petunjuk dari Tuhan?
.
.
.
"Shinki, tadi ada Om ganteng perhatiin kamu." Araya melapor, menggamit tangan Shinki.
"Yang tadi gandeng tangan aku bukan?"
"Iya. Om ganteng itu nangis liat kamu."
"Sekarang dimana dia?"
"Di sana, Hinata. Anak dengan wajah belepotan cat."
Iris lavender Hinata mengikuti gerak bola mata Gaara. Ah, anak itu. Anak berparas tampan yang sukses membuat mata Gaara berkaca-kaca. Tiap kali Gaara melihat Shinki, selalu timbul perasaan ingin merengkuhnya.
"Gaara-kun, kita harus cepat bergerak." Hinata mendukungnya.
Acara pun usai. Puluhan anak duafa berjalan pergi. Diam-diam Gaara mengikuti Shinki. Sementara itu, Hinata mengalihkan perhatian Yodo dan Araya agar suaminya bergerak lebih leluasa.
Pintu keluar venue terlewati. Shinki berjalan terseret di trotoar. Tak ingin membuatnya takut, Gaara sementara mengawasi Shinki dari jarak aman.
Lima pemuda tanggung bertubuh besar mencegat Shinki. Mereka merebut kotak makanan di tangannya. Salah seorang pemuda memiting tubuh Shinki ke tanah. Yang lain memukulinya dengan buas.
Tak bisa dibiarkan. Gaara berlari mendekati Shinki. Dipeluknya anak itu erat-erat. Melihat kehadiran Gaara, gerombolan anak nakal itu menghilang.
Shinki tergugu. Badannya tremor. Kotak makanan bersegel rapi kini tumpah. Isinya berhamburan hingga ke zebra cross. Isak tangis Shinki meremuk hati Gaara. Tidak, tolong jangan ada tangisan anak sekecil ini.
"Tenanglah, Sayang. Sekarang kau aman." Gaara berujar lembut, lembut sekali.
"Ayah...Ayah..."
Tak salahkah pendengarannya? Shinki memanggil apa barusan?
"Ayah..." Shinki terisak, menarik-narik jas Gaara.
Sontak Gaara mengeratkan pelukan. Memberikan ciuman kasihnya di kening Shinki. Tuhan memang adil. Ia buat Gaara mandul. Setelahnya, Ia buktikan bahwa pria mandul pun bisa menjadi ayah. Seorang ayah berhati putih yang penuh kasih sayang. Tak dinyana, pelukan Gaara hari itu menjadi titik balik dalam hidup Shinki.
