A/N:
Yuhuuu, saya update lagi. Saya update di sela-sela break time PK LPDP. Saya lagi PK 159. Senangnya masih bisa update cerita GaaHina sambil PK. Happy reading.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 14
Bruk!
Suara apa itu? Di pertengahan koridor, Gaara menghentikan langkah. Datangnya dari arah pintu putih di ujung lorong. Sebelum ia sempat menuju pintu itu, ia dikagetkan dengan kehadiran Hinata. Wanita berkimono biru muda itu tergopoh keluar dari kamar utama sambil membawa kertas-kertas laporan dalam pelukannya.
"Gaara-kun..." panggilnya sedikit terengah.
Ayo kita check Shinki di kamarnya. Suara itu dari arah sana, kan?"
Tanpa bicara, Gaara memimpin langkah Hinata ke kamar Shinki. Waswas dirinya memutar handel pintu. Berharap putra angkatnya baik-baik saja.
Harapan Gaara lesap. Mata jadenya melebar ngeri mendapati Shinki jatuh telungkup di karpet. Anak lelaki 6 tahun itu menjerit kesakitan.
Sepasang tangan pucat beradu cepat dengan tangan kokoh nan hangat. Tangan Gaara menjangkau lebih cepat. Lengan-lengannya menggendong Shinki. Lembut menelentangkannya kembali di kasur empuk.
"Huaaaa...sakit Ayah! Kepala Shinki sakit!"
Tangis kesakitan Shinki menikam malam. Rasa bersalah berpusar di hati Gaara. Seharusnya ia tetap di sana menjaga Shinki. Anak tunggalnya belum hafal lingkungan baru.
Hinata ikut menyesal. Laporan riset sialan. Kalau saja tak ada agenda rutin presentasi tiap minggu, sudah pasti Hinata lebih betah meluangkan waktu berjam-jam di samping Shinki dan Gaara. Mau rasanya cepat menggondol gelar master. Agar tak perlu lagi berkewajiban menyusun laporan progres riset yang menyita waktu.
Dengan iri, Hinata melihat Gaara mendekap Shinki. Bukan iri karena Shinki bisa menempel rapat di tubuh suaminya. Perasaan ini lebih mengarah pada sense menjadi orang tua. Gaara yang mandul saja bisa begitu fatherly. Perasaan kalah menghantam Hinata technical knock out.
"Semoga sakitnya pindah ke Ayah," bisik Gaara penuh harap.
"Jangan!" teriak Shinki.
"Ayah Gaara tidak boleh sakit!"
Sayangnya Ayah sudah terlanjur sakit parah Nak, batin Gaara sedih. Hinata maju. Mengelus rambut Shinki penuh kasih. Shinki meraba tangan halus Hinata.
"Ini Bunda ya?" tebaknya ragu.
"Bunda di sini, Sayang."
Mahligai pernikahan Gaara dan Hinata kian berwarna dengan kehadiran Shinki. Syukur pada Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Roh Kudus yang memberi mereka petunjuk. Shinki hadir di saat mereka berniat adopsi. Proses adopsi berjalan lancar. Shinki terbebas dari kehidupan seniman jalanan yang keras.
"Ayah..."
"Iya, Sayang."
"Shinki kepikiran Yodo dan Araya."
Mendengar itu, Gaara dan Hinata saling tatap. Pilihan mereka memang tidak keliru. Anak baik ini masih memikirkan teman-temannya saat sudah hidup nyaman. Lembut Gaara menjamah kening Shinki dengan bibirnya.
"Mereka akan baik-baik saja, Sayang. Minggu depan kita temui mereka ya." Janji Gaara.
Shinki manggut. Dalam pikirannya, terbayang wajah letih Yodo dan Araya seusai pentas di depan galeri atau museum. Apa mereka sudah makan? Ataukah mereka sedang tidur melingkar berteman dingin dan kegelapan? Sayang sekali, Yodo dan Araya tak bisa merasakan ranjang empuk, kamar berpemanas ruangan, air hangat di bathtub, pakaian bagus, dan makanan enak.
Bayangan lain berkejaran di benak Shinki. Suatu bayangan yang menstimulusnya untuk berteriak marah dan membenturkan kepala ke dinding.
"Shinki jelek! Shinki jelek!" omelnya, terus membentur-benturkan kepala.
Perubahan drastis Shinki segera diantisipasi Gaara. Di saat istrinya masih terkaget-kaget, Gaara kembali menarik putra kesayangannya dalam dekapan. Menjauhkannya dari dinding. Mengusap-usap kepala Shinki.
"What happen, Dear? Apa yang kamu rasakan?"
Shinki memukuli kepala dengan kepalan tinjunya. Satu tangan Gaara memegang lembut tangan Shinki. Lembut genggaman tangan Gaara menenteramkan bocah itu.
"Shinki jelek, Shinki nggak bisa jaga Yodo dan Araya dari Om jelek itu." Ia mengadu, seolah baru saja dijahili teman-teman sepermainannya.
"Om jelek siapa, Sayangku?"
"Om jelek yang bikin mata Shinki buta!"
Gaara membeku. Begitu pula Hinata. Spekulasi mereka salah. Shinki tidak buta sejak lahir. Ada sesuatu, mungkin kejahatan orang dewasa, yang telah membuat anak polos ini terenggut penglihatannya. Segera setelah Shinki resmi diadopsi, Gaara membawa anak itu ke dokter spesialis mata terbaik di Konoha. Dokter memvonis mata Shinki tak bisa sembuh lagi. Alhasil ia hanya diberi obat untuk mengurangi rasa nyeri di matanya.
"Sayangku, mata Ayah adalah mata Shinki. Ayah akan menjadi mata Shinki..." ujar Gaara dengan ketulusan amat nyata.
Hinata menelan saliva. Beruntungnya ia dinikahi Gaara. Gaara seperti malaikat. Tuhan menganugerahi Hinata pasangan berhati emas.
Shinki menggelosor di pangkuan Gaara. Ia nikmati belaian kasih sang ayah. Sejurus kemudian, Gaara mengambil rosario dan segelas air bening. Dia berdoa beberapa lama. Dicelupkannya rosario ke dalam gelas, lalu diangsurkannya gelas itu ke tangan Shinki.
"Minumlah, Shinki. Dulu, Grandpa Rasa sering melakukan ini untuk Ayah."
Shinki menurut. Menghabiskan isi gelas dalam dua tegukan.
"Anak pintar..." Gaara tersenyum.
.
.
.
Perempuan bergaun tidur flanel itu berbaring menghadap tembok. Yakin pria berambut merah di sampingnya sudah terlelap, ia menangis. Pundaknya bergetar hebat menandakan isak yang dalam. Tangisnya menghebat dalam kebisuan. Air mata berkilau dari mata lavendernya.
Jarum jam yang bergeser di angka 12 tidak berhasil memanggil kantuk Hinata. Alih-alih mengantuk, ia justru meneteskan air mata. Air mata untuk Gaara. Air mata untuk Shinki. Air mata untuk pernikahannya.
Terbayang segala perlakuan lembut Gaara untuknya dan Shinki. Gaara menyembuhkan patah hatinya. Gaara bersedia memerankan apa pun yang tidak dimiliki Hinata. Gaara yang merawat Shinki walau dengan segala kerumitan. Pria berhati bersih itu mendedikasikan waktunya untuk mengasuh anak spesial berkebutuhan khusus. Sebuah pilihan yang langka.
Hinata takut perpisahan. Sampai salju turun di gurun pasir sekalipun, takkan pernah ia mau berpisah dengan Gaara. Malaikat cintanya ini terlalu berharga.
"Uhuk..."
Tiba-tiba Gaara terbatuk, lalu ia terbangun. Cepat Hinata menyapu air mata.
Hidung Gaara berdarah. Beberapa tetesnya menodai bedcover. Gaara dibangunkan rasa sakit. Lagu lama, bahkan ia heran kalau dirinya tak terbangun malam-malam karena gangguan ini.
"Sa...kit." erang Gaara. Meremas dada sebelah kanan.
Kontan Hinata merengkuh belahan jiwanya. Tangan Hinata mengelus dada Gaara. Berharap kanker itu pergi untuk selamanya.
