Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 15
"Ayah, mataku sakit."
Sepulang berjalan-jalan, Shinki mengeluhkan sakit di kedua mata. Gaara menatap sekilas wajah Shinki. Bulan demi bulan berlalu. Perasaan Gaara tetap sama saat memandang wajah Shinki: ingin memeluknya.
Perlahan Gaara melepas pandang. Dibukanya botol kaca. Diteteskannya obat ke mata Shinki. Tiga menit menunggu, Gaara meneteskan jenis obat kedua. Ia telaten melakukannya setiap hari. Tak lupa dia cium kening Shinki penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Ayah." Ucap Shinki.
"Sama-sama, Sayang. Berbaringlah. Ayah temani."
Shinki merebahkan diri di ranjang. Gaara ikut berbaring di sebelahnya. Andai tirai hitam di mata Shinki tersingkap, akan dia lihat pancaran kasih di mata ayah angkatnya.
"Ayah...?"
"Hm?"
"Aku senang Yodo dan Araya baik-baik saja."
Senyum memoles wajah tampan Gaara. Anak ini telah belajar empati sejak kecil. Tak perlu Gaara bersusah payah menanamkan empati. Kehidupan jalanan yang keras telah mengajarinya.
Siang ini, Gaara mengajari Shinki berbagi. Bukan lewat teori. Tetapi melalui orang-orang duafa tak beruntung yang mereka temui.
Katakanlah ini bukan pengalaman jalan-jalan biasa. Gaara membawa Shinki ke panti asuhan, komunitas street performance, dan rumah jompo. Kalau biasanya Shinki dibawa Ayah-Bundanya ke restoran mahal, resort mewah, dan naik pesawat udara, kini Shinki dikenalkan arti memberi pada sesama.
Masih terasa betapa lembut tangan Gaara membantu Shinki membagikan bingkisan pada para warga senior. Jiwa sosial anak tampan ini tumbuh pesat. Tanpa disuruh sesiapa, tas rajutan penuh uang saku pemberian Hinata berubah bentuk menjadi es krim coklat ekstra-besar, buku bacaan, pakaian baru, dan sepatu. Semua benda itu diberikannya untuk Yodo dan Araya.
"Sayang ya, Bunda nggak ikut." Shinki menguap. Kantuk memanggil.
Tepat ketika Shinki tertidur dalam belaian Gaara, pintu kamar berderit. Hinata menghambur masuk. Rambutnya terburai-burai. Panjang umur, bisik Gaara dalam hati.
.
.
.
Private room restoran di skylevel sebuah mall itu riuh-rendah. Lima wanita cantik dengan pakaian branded dan perhiasan indah duduk mengelilingi meja bundar. Lady Skuad berkumpul dalam formasi lengkap. Hikaru disambut hangat setelah lama vacum.
"Lihat, apa yang dibelikan Itachi untukku minggu lalu." Pamer Mikoto. Sebentuk kalung mutiara besar menggantung indah di lehernya.
Mata Mebuki membulat kagum. Kushina membungkuk untuk melihat lebih jelas. Hanya Hikaru dan Karura yang nampak kurang tertarik. Kedua wanita itu hanya pasang badan di sini. Jiwa mereka melayang ke tempat lain.
Benang merah transparan menghubungkan hati Hikaru dan Karura. Dua perempuan cantik yang kini telah menjadi keluarga itu tengah memikirkan anak mereka. Sesekali keduanya bersitatap.
"Kenapa kaulakukan itu, Hikaru?" desis Karura.
Hikaru masih bisa mendengarnya. Dia mengetuk-ngetukkan jari bermanikur ke dinding gelas. Kepingan es di dalamnya mulai mencair.
"Apa salah anakku Gaara? Dia telah menjadi suami terbaik untuk Hinata."
Percayalah, tiada kebencian di mata Hikaru. Wanita berkulit putih itu sesungguhnya menyayangi Gaara. Ia hanya tersandera amanat Hiashi. Gelisah Hikaru memilin-milin rambut ungu gelapnya.
"Gaara baik, sangat baik. Amanah Hiashi menawanku..." desahnya ke langit-langit.
"Apakah Shinki tidak cukup?"
"Shinki anak angkat, Karura."
Nota yang tak sengaja terobek Mebuki sama persis dengan hati Karura sekarang ini. Karura meneguk saliva. Gaara tak berdaya, tak berdaya memenuhi permintaan penting itu. Bila seisi Konoha mampu dibeli keluarga Sabaku sekalipun, Gaara tetap tak berdaya.
"Tolong pertimbangkan lagi, Hikaru. Anak kita saling mencintai. Tegakah kau memisahkan mereka?"
Vibrasi permohonan begitu intens dalam suara Karura. Menggetarkan dinding hati Karura. Apakah pilihannya salah? Telah kelirukah tindakannya? Jauh di dalam hati, Hikaru takut murka Tuhan.
"Ingat, Hikaru. Tuhan Yesus sangat membenci perceraian. Apa yang disatukan Tuhan, tak boleh dipisahkan lagi."
Ucapan terakhir ibu tiga anak itu tertangkap telinga ketiga wanita sosialita yang asyik mengagumi perhiasan. Wajah-wajah penuh tanya menyeruak. Pertanyaan mengalir dari bibir berhias kosmetik mahal. Baik Hikaru maupun Karura enggan membuka suara. Terlalu menyakitkan untuk dikisahkan.
Karura menyambar tas kulit hitam berkilaunya. High heelsnya mengetuk-ngetuk lantai. Menyisakan tatapan aneh dari Mebuki, Kushina, dan Mikoto.
"Ada masalah apa, Hikaru?" cecar Mikoto.
"Jangan bilang kau dan Karura bertengkar." Serobot Kushina.
"Oh, atau ini ada hubungannya dengan Gaara dan Hinata? Kenapa? Mereka mau cerai ya?" Mebuki kumat ceplas-ceplosnya.
Hikaru kabur dari ruangan tanpa menjawab. Tepat ketika ia keluar dari private room, matanya tertumbuk ke arah Hinata. Akhirnya putrinya itu datang. Biru pakaiannya, murung wajahnya. Di tengah perjalanan menuju meja 35, tak sengaja Hinata bertabrakan dengan Deidara.
"Hinata? Kita ketemu di sini, un." Mantan managernya itu bereaksi berlebihan. Ia hendak memeluk dan mencium Hinata, namun wanita indigo itu menghindar.
"Kemana suami mandulmu itu, un?"
Dari balik pot tanaman dan air mancur mungil, Karura mengawasi adegan itu dengan hati teriris. Kabar tentang Gaara berembus amat cepat. Mengapa kekurangan anaknya menjadi konsumsi publik yang begitu gampang disebut-sebut?
Sejak tadi Karura tak benar-benar pergi. Ia ingin tahu rencana Hikaru. Dahaga ingin tahunya menuntut untuk dipuaskan.
Setelah melepaskan diri dari Deidara, Hinata berjalan menghampiri ibunya. Bersama mereka duduk di meja yang telah direservasi. Nampak sebuah amplop menyembul dari tas Hikaru.
Karura menahan nafas. Logo pengadilan tercetak di kanan atas. Ketika amplop itu berpindah ke tangan Hinata, tubuh wanita itu melemas seketika.
"Tolong minta Gaara segera menandatanganinya. Lebih cepat lebih baik. Ok?"
Tangan Karura menutup telinga. Tidak, dia tak ingin mendengar ini. Hikaru sungguh nekat. Apa yang disatukan Tuhan tak dapat dipisahkan kembali.
"J-jadi, Mama mengajakku ke sini hanya untuk menyerahkan surat laknat ini?" tanya Hinata, gugup bercampur tak terima.
Hikaru tersenyum misterius. Tangannya melambai ke belakang. Waiters membawakan tiga porsi fettucinni dan tiga gelas orange juice. Hinata dan Karura tak paham. Mengapa Hikaru memesan makanan untuk tiga orang?
"Mama ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Oh tidak, mungkin saja kau sudah kenal. Biar kalian lebih dekat. Profesor Kaguya..."
Hinata bergidik. Karura merosot di balik pot. Ya, Tuhan, pria berambut perak itu...
"Astaga Karura, kenapa kau menangis?"
Hal pertama yang didapatinya setiba di rumah setengah jam kemudian adalah dekap hangat Rasa. Pria berambut coklat itu membelainya. Menyusut air mata yang berguguran dari ujung dagu.
"Mom menangis? Ada apa?" tanya Temari dan Kankuro. Panik melihat Mommy mereka masuk mansion sambil menangis.
Karura sesenggukan. Patah-patah diceritakannya kejadian di restoran. Sukses mengundang tatap sedih Rasa, kerling kecewa Temari, dan amarah Kankuro.
"Shit! Beraninya Auntie Hikaru memaksa Hinata cerai dari Gaara dan menjodohkannya dengan profesor gadungan itu!" maki Kankuro.
Tubuh Karura terguncang dalam tangis. Ibu mana yang tak pilu saat anaknya akan dicerai? Rasa tak menghentikan elusannya.
"Kita akan cari jalan, Karura. Kita cari cara supaya Gaara tetap bersama Hinata." Rasa menyuguhkan seuntai janji.
Temari mengusulkan untuk membawa Gaara berobat ke Jerman. Kankuro mengingatkannya dengan logis. Mereka pernah mencoba itu dan Gaara tak mau, begitu katanya. Well, hari yang suram untuk keluarga Sabaku.
.
.
.
Jangan takut sendiri
Kamu takkan lagi sepi
Jangan takut kehilangan
Aku beri kekuatan
Belum saatnya menyerah
Tetap di sampingku
Barisan keunguan bunga lavender di rumah kaca meneduhi pandangan mata Gaara dan Hinata. Tiap hari mereka mengunjungi rumah kaca. Menikmati wangi dan segarnya bunga lavender yang ditanam Gaara.
Mereka datang saat senja. Seberkas sinar ungu kemerahan mengecup kaki langit. Mentari tertidur. Langit meredup.
Awal musim semi yang cantik. Kuntum-kuntum lavender mempercantik diri, siap menampilkan paras terindahnya. Seharusnya bisa membahagiakan andai saja tak ada ombak besar yang mengombangambingkan perahu pernikahan mereka.
"Surat itu sudah kubakar. Sampai kapan pun aku takkan memberikan tanda tanganku di sana." Gaara berkata penuh tekad.
Hinata mengangkat ibu jari. Bangga dengan hati suaminya yang begitu teguh. Demi Tuhan, hati Gaara pecah sepecah-pecahnya kala menerima surat jahanam itu. Tindakan impulsif membuat surat itu berakhir menjadi seonggok abu.
"Kita takkan menyerah. Dan...oh, Gaara-kun, pertemuan tadi siang sangat buruk."
Curhat pada Gaara adalah media katarsis paling melegakan. Dunia sempit sekali. Bisa-bisanya Hikaru terpikir menjodohkan Hinata dengan Kimimaro Kaguya.
Diam, Gaara hanya diam. Mengapa ia begitu tak diinginkan hanya karena kelemahan yang berada di luar kontrolnya? Gaara tak mau mandul. Tubuhlah yang berbicara.
Sesuatu yang berat menjatuhi pangkuan Hinata. Benda berat itu tak lain kepala Gaara. Hinata mengusap-usap rambut Gaara penuh kehangatan. Rambut merah yang selalu dikaguminya sejak kali pertama.
Bila saat engkau jatuh
Dan mulai merasa rapuh
Pundakku siap bersandar
Tanganku selalu menggenggam (Devano Danendra-Ini Aku).
Gaara bersandar pada Hinata. Hinata memberikan tubuh, hati, dan cintanya hanya untuk Gaara seorang. Ia buat Gaara nyaman dengan belaiannya.
"Maaf aku tak bisa menemanimu dan Shinki hari ini..." sesal Hinata.
"No problem. Aku...uhuk."
Damai terurai. Gaara terbatuk-batuk. Darah mengalir, berteman dahak.
Benak Hinata gaduh dengan kepanikan. Segera saja dibantunya Gaara berdiri. Dipapahnya sang suami kembali ke rumah.
Gurat kesakitan mendominasi wajah Gaara. Sekuat tenaga pria berjas pale blue itu menahan seribu jarum yang menusuk dada kanan. Keringat dingin membasahi dahinya.
Kamar Shinki yang paling dekat dari arah halaman belakang. Terpaksa Hinata membawa Gaara ke sana sebelum menelepon ambulans. Mendengar sang ayah terbatuk dan kesakitan, Shinki terhentak dari lelapnya.
"Ayah! Ayah!" teriaknya pilu.
"Ayah Gaara jangan tinggalkan Shinki! Ayah Gaara sudah janji untuk terus bersama Shinki!"
Bibir Gaara membuka. Maksud hati ingin menenangkan anak semata wayangnya. Bukannya berkata-kata, Gaara malah memuntahkan darah segar.
"Gaara-kun...kau muntah darah. Tunggu sebentar, Gaara-kun. Kita akan segera ke rumah sakit." Sergah Hinata panik.
Pandangan matanya terhalang kabut. Makin lama, kabut makin tebal. Sampai akhirnya, Gaara tak melihat apa pun lagi.
Gaara jatuh pingsan di pelukan Hinata.
