Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 16
Lewat setahun sejak Naruto ditahbiskan menjadi seorang Kleris. Bahagia? Nyatanya tidak. Pria pirang bermata biru itu justru didera resah.
Kian lama, Naruto kian merasa jauh dengan jalan panggilan. E-mail super panjangnya untuk Hinata waktu itu semata hanya berakhir kamuflase. Naruto tidak benar-benar bahagia dengan pekerjaannya.
Menjadi Pastor memang impiannya sejak kecil. Namun, euforianya hanya sesaat. Kebahagiaan karena telah dibolehkan memimpin Misa dan menandatangani buku baptis menguap dengan cepat. Kini yang tertinggal hanyalah kegetiran.
Entah. Naruto semakin tak nyaman dengan kehidupan membiara. Ia jadi sering memeriksa batinnya sendiri, mengadakan refleksi dan kontemplasi. Seperti inikah hidup yang benar-benar ia inginkan? Bukan, persoalannya bukan tentang materi dan fasilitas terbatas di tanah misi. Rasa tak nyamannya cenderung berpusat pada ritme hidup dan prinsip di kongregasi.
Perasaan tak cocok dengan kongregasi terus membesar bagai bola salju. Naruto merutuki potret ketimpangan yang terjadi di kalangan selibator. Beberapa bulan lalu, Pater Kakashi diam-diam menemui cinta pertamanya. Pertemuan berbalut seks itu toh tidak membuat Pater Kakashi terjerat hukum. Ia tetap bisa melenggang di panggung perklerisan tanpa bersalah. Desas-desus menyebar kalau Pater Kakashi memiliki kedekatan dengan orang dalam hingga ia lolos dari lubang jarum sanksi.
Tidak adil. Hati Naruto berontak tiap kali mendengar berita buruk tentang para Imam yang melakukan pelecehan seksual terhadap umat, Misbinar (putri altar), atau biarawati. Sebuah konvensi terbentuk di kepalanya. Konvensi kalau aturan selibat tak relevan lagi. Sayangnya, Naruto bukanlah Paus Fransiscus.
Kepala Naruto dibebani pergolakan pagi ini. Konsentrasinya buyar saat bergulat dengan setumpuk buku baptis. Tepat pada saat itu, Pater Kakashi mendatanginya. Benda mungil berlogo apel tergigit tergenggam di tangan.
"Tadi aku lewat ruang makan dan menemukan handphonemu tergeletak di sana. Berbunyi berkali-kali, sepertinya ada telepon." Pater Kakashi berkata datar.
Naruto merebut handphonenya. Terperangah melihat 35 miss call dan puluhan chat. Puluhan panggilan tak terjawab datang dari satu pemilik nomor yang sama: Uchiha Sasuke. Segera saja Naruto menelepon balik sahabatnya itu.
"Bagus ya, baru telepon balik!" semprot Sasuke sebelum Naruto sempat berkata 'halo'.
"Ada apa, Teme?" tanya Naruto lesu. Tak enak pagi-pagi mendapat sarapan berupa omelan gratis.
"Gaara sakit."
Aneh. Ponsel agak dijauhkan Naruto dari telinganya. Tak biasanya Sasuke menelepon hanya untuk mengabarkan sakitnya salah satu sahabat mereka. Setahu Naruto, sahabat-sahabatnya baik-baik saja. Makanya ia ringan saja menanggapi kabar itu.
"Ah, hanya sakit biasa kan? Semoga dia cepat..."
"Gaara sakit. Sekarang dia koma di Konoha Hospital." Sela Sasuke sedingin es.
Prak!
iPhone meluncur lepas dari pegangan Naruto dan jatuh membentur lantai. Wajah Naruto sepucat Sadako. Samar didengarnya Sasuke bicara lagi.
"Hei...Dobe, anybody here?"
Tangan dan kaki Naruto tremor. Kecemasan naik ke perutnya, terus hingga ke ulu hati. Gaara sakit? Dan dia koma? Hati-hati Naruto mengambil kembali iPhonenya.
"Sa-sakit apa Gaara?" Mendadak Naruto jadi mirip Hinata saat dia sedang gugup.
"Mr. C. NSCLC." Sasuke menjawab pendek.
Menahan debur kecemasan yang mengombak di hatinya, Naruto memutus sambungan secara sepihak. Dia berlari ke kamarnya. Tak sempat menutup pintu. Secepat kilat Naruto berkemas.
"Naruto, apa yang kaulakukan?"
Teguran Kakashi menyentakkannya. Sambil melempar pakaiannya ke dalam tas, Naruto berkata.
"Aku izin pulang, Pater. Sahabatku sakit parah."
Pater Kakashi berjalan masuk ke kamar juniornya. Menatapi Naruto yang berkutat dengan setumpuk pakaian dan buku-buku.
"Tidak bisa." Tolaknya tegas.
"Kenapa?" Naruto menegakkan diri, menutup keras ritsleting tas perjalanannya.
"Karena masa tugasmu belum selesai. Seorang biarawan tak bisa seenaknya pulang kapan pun dia mau. Jatah cutimu telah kaupakai saat memberkati pernikahan sahabatmu."
Amarah Naruto mendidih. Jiwa solidaritasnya bergolak. Ia kecewa, kecewa sekali dengan aturan super ketat di kongregasi.
"Aku harus pulang! Sahabatku sakit!" seru Naruto berkeras.
Pater Kakashi tersenyum miring. "Bukan keluarga intimu, kan? Aturan tetap aturan."
"Semua sahabatku adalah keluarga!" Naruto meraung ke wajah berlapis masker itu. Darah naik ke kepalanya.
Atmosfer menegang. Suhu ruangan memanas. Pater Kakashi bertolak pinggang. Belum pernah ia diteriaki koleganya yang lebih muda.
"Jaga sikapmu, Namikaze! Atas instruksi Provinsial, kau harus tetap di sini dan menyelesaikan tugasmu!"
Panggilan jiwa persahabatan pun menang. Naruto tak peduli bila ia telah melanggar kaul ketaatan. Ternyata persahabatan lebih penting dari panggilan imamat.
"Aku mengundurkan diri," putusnya tetiba.
"Buat apa aku bekerja di sebuah institusi tetapi institusi tersebut menghalangiku berbelah kasih dengan sahabatku sendiri? Aku mengundurkan diri. Menjadi Imam bukan jalanku."
Dengan nada finalitas dalam pembicaraan, Naruto mengemasi semua barangnya dan bergegas pergi. Sengaja ia tinggalkan stola dan kasula Imamnya. Meninggalkan Kakashi dalam keterkejutan.
.
.
.
Kapal feri itu berlayar meninggalkan tanah misi. Berdesakan dengan penumpang lainnya, Naruto terlarut dalam perasaan. Selamat tinggal umat. Selamat tinggal Paroki kecil yang masih dalam tahap pembangunan.
Ia tak menyesali keputusannya. Segera setelah menjenguk Gaara, ia akan mengurus berkas pengunduran diri. Papa Minato benar. Dunia biaraawan tak cocok untuknya. Apa reaksi Minato dan Kushina jika Naruto muncul di pintu depan rumah mereka?
Ah, tak penting. Kondisi Gaara lebih utama.
"Gaara..." Bibir Naruto menggumamkan nama sahabatnya.
Gaara, sahabatnya yang berhati lembut. Gaara, sosok paling sabar dan penyayang di antara Naruto, Sasuke, dan Sai. Gaara, penyembuh luka hati Hinata. Bagaimana bisa pria yang ada karunia penyembuh dalam dirinya terkena penyakit katastropik?
Perlahan Naruto merantai ingatan. Jika dipikir-pikir lagi, Gaara memang telah memperlihatkan tanda kalau dirinya berbeda. Gaara punya kondisi berbeda dibanding sahabat-sahabatnya.
Lingkaran hitam yang mengelilingi dua telaga indah milik Gaara nampak tak wajar. Pria berambut merah itu satu-satunya yang paling mudah kelelahan dan paling lama beristirahat setelah bermain basket sewaktu mereka masih sekolah. Sejak pertama kali mengenal Gaara di senior high school, Naruto memperhatikan satu hal. Gaara lebih sering sakit dibandingkan seluruh teman sekelasnya. Ia pun ingat percakapan Kushina dengan Karura saat tak sengaja menguping pembicaraan mereka. Kata mereka, Gaara terlahir prematur.
Frustrasi, Naruto mengacak rambut pirangnya. Apa? Apa lagi yang bisa diingatnya tentang Gaara? Sekali waktu Naruto pernah melihat bungsu Sabaku itu mimisan. Dan...oh iya, Naruto pun sadar kalau Gaara lebih banyak terbatuk. Sering ia menangkap basah Gaara tetiba terbatuk dengan frekuensi tak biasa untuk orang sehat. Memorinya berkelana, terus berkelana...
"Naruto, kau menyelamatkan hidupku."
Suara lembut Gaara membangunkan Naruto di kamar rumah sakit. Minggu pagi kala itu, Gaara menjenguk Naruto dan Sasuke. Keduanya membebaskan Gaara dari owner Akatasuki Group. Gaara diculik oleh pemilik perusahaan yang menjadi saingan bisnis Rasa.
"Ah, tidak masalah." Naruto menanggapi dengan ceria seperti biasa.
Gaara terbatuk. Pelan mendekat ke ranjang Naruto. "Bagaimana...keadaanmu?"
"Lebih baik. Tanganku yang patah akan segera sembuh."
Kelegaan terpulas di wajah pucat Gaara. Mata jadenya memandangi tangan Naruto yang digips.
"Dan...bagaimana keadaannya?"
"Kalau itu rahasia. Nanti juga Sasuke akan menemuimu."
"Oh...begitu."
Nada suara Gaara kian lembut. Wajah tampannya sedikit tertunduk. Ia nampak berusaha keras menahan diri agar tidak terbatuk di depan Naruto. Gaara menahan batuk, menutup rapi kondisinya di balik raut wajah lembut meneduhkan.
Bayangan masa lalu memudar. Mata Naruto menghangat. Semua hal baik tentang Gaara berkelebatan. Gaara yang menautkan kembali hati Hinata. Gaara yang sangat mencintai Hinata dan menyayangi sahabat-sahabatnya. Gaara yang menyimpan sendiri penyakitnya demi menjaga perasaan semua orang. Telah banyak hal berarti yang dilakukan Gaara. Naruto takut, amat takut kehilangan Gaara.
.
.
.
"Bukankah selama ini aku selalu menuruti Mama dan Papa? Kumohon Ma, batalkan niat Mama. Bersama Gaara adalah satu-satunya hal yang kuinginkan."
Ratap tangis Hinata menyambut Naruto sesampai di paviliun rumah sakit. Ada apa ini? Niat apa yang membuat Hinata teramat sedih dan memohon-mohon pada Hikaru?
Ragu-ragu Naruto mendekat. Paviliun hening dan sedingin. Dengan hati terluka, dilihatnya Gaara terbaring lemah di ranjang putih. Kondisinya seperti mayat hidup. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Infus membalut lengan kiri. Tubuhnya terhubung dengan elektrokardiograf dan sejumlah kabel. Wajah Gaara pucat seolah pembuluh darahnya telah berhenti mengalir.
Hinata, Hikaru, Temari, Rasa, dan Karura duduk mengitari ranjang. Wajah Hinata sendu berurai air mata. Di sela sedu-sedannya, ia melanjutkan.
"Gaara pria terbaik dalam hidupku, pria paling sempurna. Ayah yang hebat untuk Shinki. Dalam keterbatasannya, Gaara mau dan mampu mengasuh anak special berkebutuhan khusus. Tidakkah itu semua mampu menutup kekurangannya di mata Mama? Kumohon Ma, izinkan aku tetap bersama Gaara."
Naruto serasa menjadi pengganggu. Ia baru akan berbalik kembali ke pintu saat Rasa memanggilnya.
"Naruto, kemarilah."
Perhatian seisi paviliun terburai. Lima pasang mata menatap. Naruto seakan berjalan di bawah lampu sorot menyilaukan.
"Mungkin kami akan butuh bantuanmu sewaktu-waktu."
"Bantuan apa, Uncle Rasa?"
"Sakramen perminyakan..." desis Temari lirih, lirih sekali.
Naruto terkesiap. Tangannya sedingin baja beku. Tidak, tidak secepat ini. Ia yakin ucapan wanita berkuncir empat itu hanyalah nada putus asa dan kepasrahan yang terlalu dini.
Plak!
Terperanjat mereka semua. Tangan Karura melayang ke pipi Temari. Matanya berkobar.
"Keterlaluan kau, Temari! Kau ingin adikmu mati?" Wanita itu setengah berteriak.
Temari shock. Ini pertama kali ia ditampar ibunya. Wanita itu menunduk dalam.
"Tidak, Mom. Bukan begitu..."
"Adikmu akan sembuh! Gaara akan berumur panjang!" jerit Karura.
Rasa mendekap istrinya. Berbisik menenangkan. Temari mundur ke sudut ruangan, terisak kecil.
"Tidak." Kata Naruto keras-keras.
"Aku takkan pernah memberi sakramen perminyakan. Karena aku bukan Pastor lagi."
Mereka semua bagai tersambar petir mendengarnya. Naruto telah mengundurkan diri? Hinata membuka mulutnya ingin bertanya, tetapi tertahan suara lirih dari atas ranjang.
"Hinata...Hinata..."
Suara itu...bukankah itu suara Gaara? Mereka merubung ranjang besar. Menatap tak percaya Gaara yang memanggil-manggil nama Hinata.
"Gaara-kun, aku di sini...aku di sampingmu." Ucap Hinata terharu.
Tangan Rasa melayang ke tombol bel, hendak memanggil Sakura. Baru saja tombol itu ditekan, kegembiraan mereka berganti kecemasan.
Tangan Gaara yang digenggam Hinata bergerak. Pada saat bersamaan, Gaara terbatuk. Darah membasahi bibir pucatnya.
Sakura berlari masuk paviliun. Wajahnya berubah panik melihat apa yang terjadi. Wanita berambut cotton candy itu datang pada waktunya. Tepat ketika Hinata memeluk Gaara dan...Gaara muntah darah di pelukannya.
Gaara kembali jatuh tak sadarkan diri. Mata Hinata dibekukan kristal bening. Setulusnya ia akan terus menunggu Gaara, mencintainya apa pun keadaannya.
.
.
.
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku
Sepenuhnya aku ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
Setulusnya aku akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu (Padi-Menanti Sebuah Jawaban).
