Di altar gereja di salah satu negara Beijing tengah berdiri calon suami-istri yang beberapa menit saat lagi akan mengucapkan janji pernikahan mereka. Diantara mereka tengah berdiri seorang pendeta melengkapi ingkatan tali pernikahan yang akan dimulai sekarang
"Wahai tuan wang, apa engkau bersedia menikah dengan nona Lu Fei saat ini" ujar pendeta kepada mempelai pria setelan jas hitam tegap dihadapannya
"Ya, saya bersedia" ucapnya tegas tanpa keraguan
"Baik. Saya akan menanyakan lagi, apakah anda akan mencintai istri anda dengan sepenuh hati anda"
"Ya, saya mencintai istri saya dengan sepenuh hati"
"Sekali lagi saya bertanya kepada anda, apakah anda akan menjaga dan merawatnya dengan baik. Jika terjadi sesuatu kesalahpahaman diantara kalian berdua, dapatkah anda berjanji akan menyelesaikan dengan cara tenang dan akan merangkul istri anda ke jalan yang benar"
"Ya, saya akan melakukannya!"
Selesai dengan janji telah dibuat oleh mempelai pria. Kini kata yang sama diajukan oleh pendeta kepada mempelai wanita. Dan aku berada di kursi hadirin dibagian belakang mulai meneteskan airmata. Ini bukan airmata kebahagiaan ku berikan, ini adalah airmata kesedihan dan tidak ingin saat ini terjadi.
Aku xiao zhan, seseorang berada dialtar saat ini. seseorang yang sangat ku cintai, aku tidak rela ia menikah dengan orang lain. Tidak rela. Aku mengusap punggung tangan ku untuk menghapus airmata ku seiring menahan tangisan ku beberapa saat lagi akan pecah.
Dan hal yang aku pertahankan sedari tadi terjadi. Janji pernikahan itu telah selesai dan mereka berdua dinyatakan sebagai suami-istri sah di mata negara. Bibir bawah ku gigit sangat kuat mencoba meredakan isakkan ku dari pelampiasan rasa sakit ku rasakan.
Seseorang berada di sampingku memegang lembut bahuku dan berujar "ikhlaskan zhan.. ini adalah pilihannya"
Kepala ku menoleh kepadanya. Dia katakan ikhlas?
Siapa yang akan ikhlas melihat orang yang kau cintai menikah bukan dengan mu. Melainkan orang lain. Dan dia menyuruhku untuk ikhlas. Ini tidak bisa ku lakukan, walaupun aku harus agar dia bahagia. Akan memakan waktu begitu lama agar rasa ini hilang.
Wajah iba yang ia berikan kepadaku sangat menyebalkan. Orang hanya bisa kasihan kepadaku dan tidak mengerti keadaan ku. Seolah berkata 'tidak apa-apa. Biarkan dia bersamanya, kau akan mendapatkan kebahagiaan dari orang lain kelak'. Miris sekali percintaanku
Yubin. Sahabat sekaligus sepupu bernama wang yibo itu menghapus lembut airmata ku menggunakan jari telunjuknya sambil menatapku untuk tersenyum untuk sekarang
"kamu harus kuat zhan.. kamu tidak sendiri, masih ada teman mu bahkan aku ada untukmu zhan"
Mata ku menatapnya mulai berkaca-kaca. Aku tidak butuh ini, aku butuh dia. dia tidak boleh memilih jalan ini, bagaimana pun dia hanya untukku. Egois! Kata itu sekarang ingin ku lakukan.
Namun pertahanan ku runtuh, aku kembali menangis dalam pelukkan yubin. Untuk meredam isakkan, aku meletakkan wajahku ke dadanya berusaha sebisa mungkin isakkan ini tidak ada orang lain mendengarnya. Semenit kemudian aku merasakan tangan milik yubin mengusap lembut punggung ku, ia memberikan ku ketenangan
"tenanglah.. kau bisa melewati ini zhan. jika kau menginginkan aku bisa menggantikan posisinya untukmu"
