Seokjin berjalan tergesa-gesa–atau mungkin lebih tepatnya setengah berlari, ke kamarnya yang terletak di ujung apartemennya. Dengan bathrobe yang hanya melapisi tubuhnya, Seokjin terpaksa membiarkan tubuh dan juga rambutnya basah hanya untuk menerima panggilan telepon. Dia baru saja selesai mandi ketika handphonenya berbunyi dari kamarnya.

Seokjin menghela napas. Dia kemudian mengangkat panggilan teleponnya. "Halo?"

"Good morning, princess," sapa suara berat dari ujung lain yang membuat Seokjin tersenyum ketika menyadari siapa yang menelponnya.

"Selamat pagi juga, Joonie," sapa Seokjin balik dengan diselingi tawa kecil.

"Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Seokjin pun kembali tertawa. Namun kali ini, suara tawanya sedikit lebih keras dari sebelumnya.

"Yaa Kim Seokjin, aku sedang tidak bercanda. Berhentilah menertawakanku."

Seokjin menutup mulutnya. Suara tawanya pun mulai mereda namun senyuman tetap terpantri di wajahnya.

"Aaah, maafkan aku. Apakah kau bebas hari ini, Namjoon-ah?" tanya Seokjin.

Perempuan itu kemudian berjalan kembali ke kamar mandinya. Dia meraih handuk yang tergantung di balik pintu. Setelah meletakkan handphonenya di tempat yang kering dan mengubahnya menjadi speaker mode, Seokjin mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"Ya, aku sepenuhnya bebas hari ini. Apakah kau ingin aku ke sana?"

Seokjin mendengus. "Tidak, aku ingin kau ke Mars–oh tentu saja aku ingin kau ke sini!"

Terdengar suara tawa yang keras di ujung lain dan Seokjin berdecak tidak suka. "Apa yang kau tertawakan, Mr. Kim?"

"Kau, sayangku. Well, aku tidak bisa membuat princessku menunggu terlalu lama, bukan? Bersabarlah sebentar saja karena your knight in shining armor akan segera datang. Bye, sweetheart."

"Yak, Kim Namjoon—"

Seokjin kembali mendengus kesal mendengar perkataan Namjoon yang baru saja menutup panggilan secara sepihak. Walaupun kelihatannya Seokjin kesal pada laki-laki tersebut, wajahnya mengatakan sebaliknya karena saat ini, rona merah tengah menghiasi wajahnya.

Perempuan tersebut tidak menerima perlakuan Namjoon yang berhasil menggodanya di pagi hari yang cerah ini. Berani-beraninya laki-laki itu menggodanya sepagi ini.

Walaupun begitu, Seokjin diam-diam tersenyum. Setidaknya dia memiliki Namjoon yang selalu bisa menghiburnya setelah kesibukan yang dia lalui belakangan ini. Itu pun sudah lebih dari cukup.

.

.

.

"Tidak, aku ingin kau ke Mars–oh tentu saja aku ingin kau ke sini!"

Namjoon tertawa dengan kerasnya mendengar kalimat sarkasm Seokjin. Dia tidak tahu bahwa perempuan itu bisa-bisanya memberikannya kalimat sarkastik.

"Apa yang kau tertawakan, Mr. Kim?"

Namjoon berhenti tertawa. Dia pun tersenyum mendengar nada ketus dari sang kekasih.

"Kau, sayangku. Well, aku tidak bisa membuat princessku menunggu terlalu, bukan? Bersabarlah sebentar saja karena your knight in shining armor akan segera datang. Bye, sweetheart."

"Yak, Kim Namjoon—"

Belum sempat mendengar balasan utuh dari si empu suara, Namjoon memutuskan panggilan secara sepihak.

Dia kembali terkekeh karena telah berhasil membuat Seokjin kesal. Satu hal yang dia sukai, yaitu menjahili Seokjin. Terkadang Namjoon juga suka menyelipkan sedikit godaan seperti barusan. Dan dia tahu dan sangat yakin, bahwa saat ini, kekasihnya itu pasti tengah menggerutu dengan semburat merah di pipinya.

"Kau beruntung aku tidak melihat wajah merahmu, Kim Seokjin. Jika aku melihatnya, aku tidak akan segan-segan untuk menciummu," monolog Namjoon sambil menatap handphonenya yang mati.

Karena tidak ingin membuat Seokjin menunggu terlalu lama, laki-laki berusia 26 tahun itu bersiap-siap berangkat ke apartemen Seokjin. Setelah mengganti celana joggernya menjadi celana jeans, Namjoon meraih kunci mobilnya dan berjalan ke garasi untuk menghidupkan mobilnya.

Rumahnya dengan apartemen Seokjin berjarak lumayan jauh. Akan membutuhkan waktu 25 menit bagi Namjoon untuk sampai di apartemen perempuan tersebut.

Berbeda dengannya, Seokjin akan membutuhkan 30 menit lebih jika dia ingin ke rumah Namjoon. Perempuan itu tidak memiliki kendaraan pribadi yang mengharuskannya untuk menggunakan kendaraan umum seperti kereta bawah tanah atau bus.

Selama perjalanan, Namjoon terus memikirkan Seokjin. Tadinya dia ingin mengejutkan Seokjin dengan datang ke apartemen perempuan itu tanpa memberitahunya. Tapi dia tidak bisa menahan kerinduannya terhadap kekasihnya yang satu ini.

'Aaah, padahal aku baru bertemu dengannya dua hari lalu,' batin Namjoon.

Jalanan kota Seoul pagi itu tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Mobil Namjoon melaju dengan kecepatan sedang. Walaupun dengan kecepatan tersebut, laki-laki itu sampai di apartemen Seokjin hanya dalam 15 menit.

Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah tersedia, Namjoon beranjak masuk ke bangunan apartemen tersebut untuk menemui Seokjin. Dia disambut ramah oleh pemilik bangunan yang sering ia lihat jika datang kemari.

Saat tiba di depan apartemen Seokjin, Namjoon mengetuk pintu kayu yang ada di hadapannya hingga sang empu membukanya. Senyuman merekah saat melihat perempuan berambut coklat panjang dengan mata hazel yang membulat sempurna ketika melihatnya.

"Jadi, ke mana kita akan pergi?" tanya Namjoon sambil memperlihatkan senyumannya.

Seokjin memiringkan kepalanya, tanda bahwa dia bingung. "Apa maksudmu, Namjoon-ah?"

"Jinseok, ayolah. Lebih baik kita berangkat sekarang dan menikmati semilir udara pagi sambil jalan-jalan ke Hongdae."

Namjoon membukakan pintu lebih lebar dan menarik pergelangan tangan Seokjin. Perempuan yang ditariknya itu sontak terkejut, tubuhnya pun bergerak ke depan. Jika bukan karena Namjoon, wajahnya mungkin sudah mencium lantai yang dilapisi karpet itu.

"Woah! Maaf, aku tidak bermaksud menarikmu sekencang itu," ucap Namjoon yang melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Seokjin.

"I-itu tidak apa-apa. Umm..Namjoon-ah, bukan bermaksud tidak sopan tapi, apakah kamu bisa..."

"Bisa apa, heum?" tanya Namjoon dengan sedikit nada menggoda.

Dia menatap perempuan di hadapannya dengan senyumannya yang khas. Dan karena itu, lesung pipi terlihat di kedua pipinya, membuat Seokjin diam melongo.

"Aku tahu aku tampan, tapi aku tidak tahu bahwa ketampananku bisa membuatmu betah menatapku seperti itu, Jinseok." Perkataan Namjoon berhasil menyadarkan Seokjin dari lamunannya.

Perempuan itu segera menundukan kepalanya karena malu. Rona merah mulai menghiasi wajahnya yang sudah berubah bagaikan kepiting rebus. Hal tersebut membuat Namjoon kembali terkekeh dan meletakkan salah satu tangannya di dagu Seokjin.

Dengan perlahan tapi pasti, Seokjin terpaksa bertatap muka langsung dengan laki-laki yang sudah membuatnya malu pagi itu. "Kau tidak perlu malu, Jinseok. Dan tentunya Kau tidak perlu memalingkan wajah cantikmu dariku."

Selesai dengan kalimatnya, Namjoon memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir Seokjin. Tindakannya itu berhasil membuat Seokjin semakin memerah.

Setelah puas membuat malu kekasihnya itu, Namjoon menggendong Seokjin ala bridal style hingga keduanya terduduk bersebelahan di sofa Seokjin yang berwarna conrsilk. Tangannya beralih untuk membelai surai coklat sang kekasih.

"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan hari ini?"

"A-aku hanya ingin bertemu denganmu. Maaf jika aku menyusahkanmu, Namjoon-ah." Seokjin kembali menundukan kepalanya tidak berani menatap kekasihnya yang sedaritadi tersenyum.

"Kalau begitu bagaimana jika kita bersih-bersih? Aku tahu hari ini kau biasanya membersihkan apartemenmu." Seokjin pun mengganguk semangat yang dibalas dengan Namjoon mengusak rambut perempuan itu karena tidak tahan dengan keimutan kekasihnya.

30 menit ke depan dihabiskan sepasang insan tersebut dengan membersihkan apartemen Seokjin. Hingga sang pemilik apartemen dibuat kaget dengan suara Namjoon yang meneriaki namanya.

"Ada apa, Joonie?!" tanya Seokjin yang kalang kabut.

"Kenapa pakaian kotornya banyak sekali? Dan kenapa ada boxer di sini?! Kau tidak tidur dengan laki-laki kan, Kim Seokjin?!"

Alis Seokjin berkerut tidak suka dengan kalimat terakhir Namjoon. Jujur saja, dia merasa tersinggung dengan perkataan Namjoon. Tidur dengan pria lain? Dia bahkan tidak pernah melakukan aktivitas intim dengan seorang pria pun. Bahkan dengan kekasihnya saja tidak pernah.

"Namjoon, aku tidak pernah tidur dengan pria manapun. Bahkan kau sendiri."

Amarah yang tadinya menguasai diri Namjoon, seketika hilang begitu saja.

Itu benar. Bagaimana dia bisa lupa akan hal itu? Seokjin masih perawan. Perempuan itu sangat menjaga harta yang sangat berharga bagi seorang perempuan. Astaga, bagaimana dia bisa sampai lupa?

"Aku rasa akan lebih baik jika kita pergi ke laundry."

Suara Seokjin membuyarkan Namjoon dari lamunannya. Pria itu melihat Seokjin yang berjongkok di sebelahnya dan mengambil pakaian kotor yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam hamper.

"Aku yakin semua pakaian ini tidak akan muat di mesin cuciku," lanjut Seokjin.

Namjoon sadar bahwa dia baru saja menyakiti perasaan perempuan itu. Seokjin tidak melihatnya saat dia berbicara. Dan saat ini, perempuan itu juga menghindari tatapannya.

'Sialan. Apa yang baru saja aku lakukan?'

"Jinseok, aku tidak bermaksud untuk mengatakannya,"

"Aku tahu. Oleh karena aku mengingatkanmu. Karena aku tahu bahwa kau lupa dan tidak bermaksud mengatakannya."

Namjoon merasa hatinya seperti disayat ketika melihat Seokjin yang tersenyum ke arahnya saat perempuan itu berbicara. Bagaimana perempuan itu bisa tersenyum saat seseorang baru saja menyakiti perasaannya?

"Seokjin–"

Namjoon membelalakan matanya tidak percaya. Dia dapat merasakan tekstur lembut dan kenyal dari bibir Seokjin yang menempel di bibirnya. Dan secara refleks, Namjoon melingkarkan lengannya di pinggang ramping kekasihnya.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Namjoon," ujar Seokjin pelan setelah mereka berpisah dari ciuman mereka.

Namjoon mengerutkan alisnya. "Tapi aku baru saja menyakiti perasaanmu."

Seokjin menggeleng pelan. Dia kemudian memajukan badannya dan memberikan kecupan di bibir kekasihnya.

"Sudah aku bilang, itu tidak apa-apa. Nah, bagaimana jika kau mengantarku ke laundry sebagai balasan?" tawar Seokjin. Perempuan itu berdiri dan mengambil hamper yang penuh dengan pakaian kotor.

Namjoon pun bergegas berdiri. Kemudian dia meraih tangan Seokjin dan menggenggamnya erat. "Baiklah."

Namjoon mengambil hamper dari Seokjin dengan tangannya yang kosong. Seokjin pun memperlihatkan senyumannya sebagai tanda terima kasih dan Namjoon tidak bisa untuk tidak tersenyum sebagai balasannya. Keduanya kemudian berjalan keluar apartemen Seokjin dengan jari mereka yang saling bertautan.

Setelah tiba di mobil, Namjoon menghidupkan mobilnya. "Jadi, tentang boxer itu…"

"Itu milikmu, Namjoonie. Kau meninggalkannya ketika kau mandi di apartemenku dua hari lalu," jelas Seokjin sambil memasangkan seatbeltnya.

Namjoon pun tertawa kecil. "Sesibuk itukah kau sampai tidak sempat mencuci semua pakaian kotor itu?"

"Kau mengajakku ke Hongdae dua hari lalu, Namjoon. Dan jangan bilang kau lupa bahwa aku sedang ujian mid-term di kampus?" tanya Seokjin dengan alis berkerut samar.

"Mungkin aku lupa," jawab Namjoon dengan pandangan tertuju ke depan.

"Dasar kakek tua…" gumam Seokjin.

Namjoon melirik sebentar ke Seokjin. Dia kemudian menampilkan smirknya. "Kalau aku kakek tua, itu berarti kau nenek tua, Jinseok."

Seokjin melempar tatapan tajam ke arah Namjoon yang tertawa terbahak-bahak. Jika saja mereka sedang tidak di mobil dan Namjoon sedang tidak mengemudi, Seokjin mungkin sudah memberikannya cubitan atau pukulan di lengan pria itu.

"Aku membencimu…" gerutu Seokjin.

Namjoon tersenyum penuh kemenangan. "Aku juga mencintaimu, Jinnie-ya."

To Be Continued

.

.

.

.

.

Terima kasih peksopek96 dan Pink Alpaca 124 atas reviewnya di prolog dan terima kasih semuanya yang membaca cerita ini. Aku tunggu tanggapan kalian mengenai chapter ini, guys!