"Jinseok, apakah kau bisa sedikit lebih cepat? Ini sudah siang."
Seokjin memasukkan pakaian kotor di tangannya dengan kasar dan memberengut. Dia berkacak pinggang dan menghela napas kesal ketika melihat Namjoon yang duduk bermalas-malasan di bangku.
"Jika kau ingin aku cepat selesai, bantulah aku, Namjoon-ah. Dan jam 8 itu masih terhitung pagi," ujar Seokjin sambil melanjutkan memasukkan pakaian kotornya.
Namjoon melihat malas kekasihnya yang kembali sibuk. Dia menyesal sudah menawarkan Seokjin untuk membersihkan apartemen perempuan itu. Tapi hey, setidaknya dia bisa membawa kabur Seokjin lagi ke Hongdae.
Dia tersenyum ketika mengingat kejadian dua hari lalu. Ya, dia ingat bahwa Seokjin sedang menghadapi ujian mid-term di kampusnya. Tapi dia pikir Seokjin terlalu memaksa dirinya untuk belajar padahal perempuan itu tergolong pintar jadi dia membawa Seokjin pergi ke Hongdae untuk sedikit refreshing.
Dan soal Seokjin yang tergolong pintar, perempuan itu sebenarnya lumayan mahir di bidang manajemen. Padahal perempuan itu berkuliah di jurusan Departemen Film.
Namjoon mungkin CEO dari perusahaan keluarganya, tapi dia terkejut ketika Seokjin dapat menyelesaikan masalah keuangan perusahaan beberapa bulan lalu. Bahkan perempuan itu yang mengatur separuh perencanaan untuk memperbaiki masalah. Yang Namjoon lakukan hanya mengevaluasikan pekerjaan sang kekasih.
Namjoon terkekeh ketika mengingat wajah-wajah rekan kantornya pada hari itu. Sepertinya bukan hanya dia yang terperangah dengan keahlian Seokjin dalam bidang manajemen yang tiba-tiba muncul. Tapi, perempuan itu suka memaksakan dirinya sendiri padahal Namjoon tahu Seokjin akan lulus 100%.
"Kau terlalu memaksakan dirimu, Jinnie-ya."
"Siapa?"
Namjoon menunjuk Seokjin dengan jari telunjuknya. Perempuan itu kemudian meniru Namjoon dengan menunjuk dirinya sendiri. Dan Namjoon pun tertawa melihat ekspresi bingung Seokjin.
Seokjin mengerutkan alisnya, "Maksudmu?"
Namjoon berdiri dan berjalan menghampiri Seokjin. Dia kemudian mengambil pakaian yang masih ada di dalam hamper dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.
"Kau seharusnya santai saja untuk ujian mid-term ini. Aku tahu dan yakin kau akan lulus seratus persen," jelas Namjoon. Pria itu kemudian menutup mesin cuci dan memasukkan detergen beserta koin laundry dan menekan beberapa tombol sebelum mesin cuci itu bekerja.
"Namjoon, aku baru akan lulus 15 bulan lagi. Dan bagaimana jika skripsiku nanti tidak diterima?"
"Jangan khawatir, kau pasti akan lulus. Se-ra-tus per-sen," ujar Namjoon dengan penuh penekanan.
Seokjin menghela napas. Terkadang kekasihnya itu bisa terlalu percaya diri. Tapi itulah salah satu hal yang Seokjin ingin miliki.
Dia ingin percaya diri seperti Namjoon. Dia ingin seberani Namjoon. Dia ingin sepintar Namjoon. Dia ingin sebahagia dan segembira Namjoon. Dia ingin sebebas Namjoon. Dan masih banyak lagi.
Seokjin meringis ketika dia merasakan rasa sakit di dahinya. Dia menatap tajam pria di depannya yang baru saja menjentik dahinya.
"YA! Kenapa kau melakukan itu?!"
"Kau seharusnya jangan iri padaku, Jinseok. Syukurilah apa yang kau punya saat ini."
Seokjin mengerutkan dahinya bingung.
"Kau baru saja mengatakannya dengan keras," jawab Namjoon.
Seokjin semakin mengerutkan dahinya. Sebelum dia dapat bertanya lebih lanjut, Namjoon sudah mendahuluinya.
"Kau bilang kau ingin sepercaya diri, seberani, sepintar, sebahagia, dan sebebas aku," tambah Namjoon yang berhasil membuat Seokjin menutup rapat mulutnya.
Namjoon melirik ke kekasihnya yang berubah diam. Semburat merah terlihat menghiasi wajah cantik dan mulus kekasihnya itu. Dia pun terkekeh pelan melihat Seokjin yang malu.
Seandainya Seokjin tahu yang sebenarnya tentang hidupnya, tentang masa lalu, mungkin perempuan itu tidak akan merasa iri padanya.
.
.
.
Dengan nafas yang memburu, seorang laki-laki berlari di tengah ramainya stasiun. Karena terburu-buru, dia tanpa sengaja menabrak beberapa orang di sekitarnya. Membuat semua orang yang ditabraknya sedikit kesal.
Maniknya menangkap kereta yang sedaritadi ia cari. Namun matanya terbelalak lebar ketika mendapati transportasi tersebut mulai menjauh dari peron. Dia pun mempercepat langkah kakinya.
Namun sayang, kereta itu sudah lebih dulu berangkat ke stasiun berikutnya. Laki-laki yang baru saja selesai berlari, hanya dapat menerima nasibnya sambil mengatur nafasnya.
'Sial!' rutuk laki-laki itu dalam hatinya.
"Oppa!"
Mendengar suara yang sangat dikenalnya, laki-laki itu membalikkan badannya. Dia melihat seorang perempuan tengah berlari menghampirinya. Perempuan tersebut terengah-engah. Namun beberapa saat kemudian dia menatap tajam laki-laki di depannya.
"YAA! Kenapa kau tiba-tiba berlari ke dalam stasiun lagi?!"
"Aaah, maaf soal itu. Tapi, koperku tertinggal di kereta," ucap sang laki-laki sambil tersenyum kaku. Dia pun menggaruk tenguknya yang tidak gatal.
Sang perempuan pun mendengus kesal mendengar penuturan laki-laki di depannya. Dia kemudian menunjuk ke koper yang ada di sampingnya, "Kopermu ada padaku, Kim Taehyung! Bagaimana kau bisa lupa akan hal sekecil ini? Padahal kau dapat menghafal semua rumus yang dosenmu berikan seakan-akan kau meneguk air putih."
Taehyung yang diomeli oleh perempuan tersebut hanya terkekeh dan menampilkan senyuman kotaknya. Jika teman-temannya melihat pemandangan ini, mereka sudah pasti akan tertawa. Lagipula saat ini dia tengah diomeli oleh perempuan yang umurnya 2 tahun lebih muda darinya. Bagaimana itu tidak lucu?
"Mungkin otakku sedang tidak berfungsi dengan baik karena melihatmu seharian ini, Jeon Jungkook," goda Taehyung.
"Oh, jadi sekarang kau menyalahkanku? Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Dengan begitu otakmu akan bekerja dengan baik lagi."
Taehyung dibuat menganga melihat Jungkook yang benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan tadi. Perempuan itu terus berjalan dengan tidak mempedulikan Taehyung.
Semenit kemudian, Taehyung sadar bahwa kopernya masih dibawa Jungkook yang sudah menghilang dari jangkauan matanya.
"Ya Jeon Jungkook! Kau masih membawa koperku!"
.
.
.
Sambil menarik kopernya, pasangan dengan marga Kim dan Jeon itu berjalan beriringan di seberang jalan kota Seoul. Keduanya baru saja keluar dari stasiun kereta setelah sedikit masalah.
Kedua manik Taehyung melirik ke sana-sini. Dia mengamati lingkungan sekitarnya, mencoba mengingat di mana dia berada. Berbeda dengan perempuan di sebelahnya. Manik Jungkook terus menatap kagum lingkungannya. Ini merupakan pertama kalinya dia berada di Seoul, sebuah kota yang menurutnya sangat indah belum lagi terkenal.
"Taehyung, kota ini sangat indah. Terima kasih sudah mengajakku."
Pandangan Taehyung beralih ke Jungkook yang menatapnya dengan senyuman yang menunjukkan gigi kelincinya. Dia menjadi gemas dengan perempuan yang satu ini.
"Kamu sangat menggemaskan, Kookie. Dan kenapa berterima kasih?"
"Karena kau sudah mengajakku ke Seoul. Aku selalu ingin pergi ke sini sejak aku kecil," jelas Jungkook. Dia kembali sibuk mengamati lingkungan sekitarnya, masih dengan rasa kagum yang tidak bisa dia pendam.
Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan lirih. Dia sekarang mengerti maksud perkataan Jungkook. Dan karena itu, dia merasa kasian walaupun dia tahu Jungkook tidak ingin dikasihani.
'Jangan berkata seperti itu, Kook. Kau memberitahuku untuk tidak mengasihanimu tapi kenapa kau berbicara seolah kau menginginkan belas kasihanku?' batin Taehyung.
Tidak seharusnya dia berpikir seperti itu. Dengan segera, Taehyung membuang jauh-jauh pikirannya itu. Dia kemudian meraih tangan Jungkook dan menggenggamnya lembut.
Ya, tidak seharusnya dia berpikir seperti itu. Ini Jungkook yang dia maksud. Kekasihnya yang sangat dicintainya.
"Taehyungie, apakah semuanya baik-baik saja?"
Taehyung mengangguk mendengar pertanyaan Jungkook. Dia tidak bermaksud membuat khawatir Jungkook. Dan untuk meyakinkan Jungkook, Taehyung mendaratkan ciuman di pipi kekasihnya itu.
"Ke-kenapa kau melakukan itu?" tanya Jungkook dengan semburat merah yang muncul di pipinya.
Taehyung terkekeh melihat reaksi Jungkook. Dia kemudian menarik pelan tangan Jungkook. Dia tidak ingin kekasihnya untuk khawatir. Perempuan itu seharusnya menikmati harinya, bukannya mengkhawatirkan Taehyung.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin menciummu."
Jungkook menggembungkan pipinya yang memerah. Dan Taehyung tidak bisa menahan suara tawanya dan mencubit gemas pipi kekasihnya itu.
"Berhenti mencubitku, Tae!" rengek Jungkook.
"Kau terlalu menggemaskan, Kookie-ah."
Jungkook mendengus, "Dan kau terlalu aneh."
"Only for you, my dear bunny."
.
.
.
.
.
And Taehyung and Jungkook are here ( o ⊰ o)
