Matahari bersinar dengan terik di langit siang Seoul. Jam menunjukkan pukul satu siang, menandakan break time para pekerja. Namun, seorang pria berperawakan tinggi terlihat masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas di hadapannya. Dan pria itu adalah Kim Namjoon.

"Berapa banyak lagi yang harus aku tanda tangani?" Namjoon bertanya dengan pandangan tertuju ke kertas di mejanya.

Matanya beralih ke pria yang berdiri dengan tegap di depan mejanya. Dia mengambil secarik kertas dari tangan pria tersebut. Setelah membaca isi kertas tersebut, Namjoon mengerutkan dahinya heran.

"Hanya ini?"

Pria di depannya mengangguk, "Yang tersisa hanyalah kertas yang berisikan kontrak perusahaan ini dengan perusahaan Lee. Untuk kertas kontrak lainnya belum sampai ke tangan saya."

"Aneh…tapi tetap saja. Aku ingin kau untuk mencari kertas kontrak perusahaan lain, terutama dengan perusahaan yang menghadiri meeting minggu lalu," perintah Namjoon.

"Baiklah."

Ruangan itu hening sejenak. Yang terdengar hanyalah suara pendingin ruangan dan juga suara goresan pena. Selesai menandatangani kertas kontrak, Namjoon menyerahkan kembali kertas tersebut pada pria yang masih setia berdiri di depan mejanya.

"Aku dengar kau bertemu dengan adikmu kemarin," sahut pria itu.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Yoongi. Dia tahu dari Seokjin-nuna."

Namjoon berdiri dari kursinya. Dia meregangkan tubuhnya yang pegal karena telah duduk sejak dia masuk ke ruangannya. Desahan lega keluar ketika dia mendengar suara retak di tengah peregangannya.

"Seokjin?" tanyanya sambil berjalan ke mesin kopi yang ada di ruangan itu.

"Ya."

Namjoon mengeluarkan teko kopi dari mesinnya dan menuangkan kopi yang terdapat di dalam teko tersebut ke mugnya. Dia bersenandung pelan selagi tangannya sibuk menuangkan susu ke dalam mug yang berisi kopi.

"Sebaiknya kau beristirahat, hyung. Pergilah menikmati sore hari dengan Seokjin-nuna dan adikmu. Aku dengar hari ini ada festival bunga sakura di Danau Seokchon."

Namjoon berdeham pelan sambil mengaduk kopinya, "Benarkah?"

Jika dipikir-pikir lagi, itu tidak terdengar buruk. Hitung-hitung dia bisa bertemu dengan kekasihnya dan juga adiknya. Dia ingin berbicara dengan Taehyung mengenai banyak hal. Namjoon ingin tahu apa saja yang telah Taehyung lakukan selama di Busan dan dia juga ingin tahu siapa perempuan yang dia lihat bersama Taehyung kemarin malam.

"Jadi, apakah kau akan pergi atau tidak?"

Senyuman mengembang di wajah Namjoon. Dia pun berjalan ke pria yang ada di tengah ruangan dan menepuk pundak pria itu.

"Terima kasih atas usulannya, Jimin," ucapnya pada pria yang lebih pendek darinya.

"Sebaiknya kau segera pergi, hyung." Jimin mengusulkan, "Tempat itu akan ramai sekali nanti."

Jimin melihat Namjoon berjalan ke meja kerjanya dan memasukkan laptop serta berkas penting ke dalam tasnya. Namjoon mengenakan mantelnya dan pria itu pamit pada Jimin sebelum menghilang di balik pintu.

Helaan napas keluar dari mulut Jimin, "Dan sekarang aku yang terjebak dengan pekerjaan pria itu."

Sepertinya dia harus memberitahu Yoongi bahwa dia akan sedikit telat untuk kencan mereka nanti.

.

.

.

"Festival di Seokchon?"

"Ya. Kau sedang tidak kuliah, bukan?"

"Tidak. Ujian berikutnya akan dilaksanakan tiga hari lagi."

"Baiklah, kalau begitu kita akan ke Seokchon. Aku dalam perjalanan ke apartemenmu, Seokjin."

"Aku sedang di luar, Namjoonie."

Mendengar perkataan kekasihnya, Namjoon mengangkat sebelah alisnya. Seokjin sedang tidak di apartemennya?

"Kalau begitu kau sedang ada di mana?"

Terdengar suara tawa Seokjin. Tapi Namjoon juga menangkap suara yang tidak dia kenal. Dua pertanyaan mengisi pikirannya. Di mana Seokjin saat ini dan siapa yang sedang bersama perempuan itu.

Sebelum Namjoon melemparkan berbagai macam pertanyaan, Seokjin sudah lebih dulu memberitahunya, "Lovin'her Flower Café, Hongdae. Dan aku sedang bersama Taehyung dan Jungkook."

"Jungkook?" tanya Namjoon spontan.

"Ya, kau ingat perempuan yang bersama Taehyung kemarin malam? Namanya Jungkook, Jeon Jungkook."

Namjoon berdeham dan menganggukkan kepalanya walaupun dia tahu Seokjin tidak bisa melihatnya. Seokjin pun memberitahunya untuk mematikan ponselnya karena menelpon sambil mengemudi bisa berbahaya. Dan Namjoon terpaksa melakukan perintah kekasihnya.

"Jeon Jungkook…"

Pandangannya tertuju ke jalanan di depannya. Namun pikirannya tengah bekerja, dia sedang mengingat-ingat sesuatu. Atau lebih tepatnya seseorang.

"Kenapa nama itu terdengar familiar?"

.

.

.

Seokjin meletakkan ponselnya ke dalam tas. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke perempuan di sampingnya.

"Ada apa, unni?" Jungkook bertanya.

Seokjin menggelengkan kepala. Dia pun memberitahu bahwa Namjoon baru saja menghubunginya dan memberitahunya bahwa pria itu mengajak untuk pergi Seokchon.

"Seokchon?" kali ini Taehyung yang bertanya.

Dengan anggukan kepala, Seokjin memberitahu Taehyung dan Jungkook bahwa hari ini ada festival bunga sakura di Danau Seokchon, Seokjin pun tertawa ketika melihat reaksi Jungkook. Perempuan itu bersorak gembira sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.

Seokjin merasa gemas setiap kali dia melihat Jungkook. Perempuan yang lebih muda tiga tahun darinya itu terlihat seperti kelinci, itu menurut Seokjin. Tapi Taehyung juga berkata sedemikian rupa. Bukan hanya tampangnya yang mirip kelinci, tapi sifat hypernya pun juga sama, kata Taehyung.

"Nuna, apakah kita akan ke Seokchon dengan subway?" Taehyung menyendok kue tartnya.

"Tidak." Seokjin menggeleng, "Namjoon akan menjemput kita dengan mobilnya dan setelah itu kita akan langsung ke Seokchon."

"Oh."

Seokjin mengerutkan dahinya.

Taehyung terdengar tidak senang mendengar penjelasannya. Apakah pria itu lebih suka menggunakan subway? Tapi jika mereka menggunakan subway, maka mereka harus berganti kereta beberapa kali. Akan lebih cepat menggunakan mobil.

Sebelum Seokjin sempat bertanya, dia membalikkan badannya ketika mendengar namanya dipanggil. Matanya terbuka lebar ketika melihat Namjoon yang baru saja masuk ke dalam café.

"Bagaimana kau bisa cepat sekali?" Seokjin bertanya heran.

Namjoon tersenyum, "Jalanan tidak terlalu ramai."

"Jadi, bagaimana jika pergi ke Seokchon sekarang?" lanjut Namjoon bertanya.

"Kenapa buru-buru?"

Namjoon melihat ke depannya. Senyumnya luntur ketika melihat Taehyung yang menatapnya datar. Ada apa dengan adiknya itu? Bukankah seharusnya Taehyung merasa senang karena dapat bertemu dengan kakaknya?

"Sekretarisku memberitahu akan lebih baik jika kita berangkat sekarang. Seokchon lumayan jauh dari Hongdae dan aku yakin banyak orang yang akan datang ke festival itu."

Taehyung mengangkat sebelah alisnya, "Sekretarismu? Dia yang mengusulkanmu untuk pergi ke Seokchon?"

Namjoon pun mengangguk sebagai balasan. Tapi apa yang Taehyung katakan selanjutnya membuatnya mematung seketika dan membuatnya ingin meninju adiknya itu.

"Apakah sekretarismu mengusulkanmu pergi ke Seokchon supaya kau bisa berselingkuh dengannya?"

"TAEHYUNG!" Jungkook melotot.

Rahang Namjoon mengeras. Dia mencoba menahan tinjunya yang siap melayang kapan saja ke muka datar adiknya itu. Ah, pria di depan ini tidak terlihat seperti adiknya yang dia kenal. Dia terlihat seperti orang asing bagi Namjoon.

"Apa kau bilang?" Namjoon menggeram dengan alis yang berkerut.

Jungkook menghampiri Taehyung dan menyuruh pria itu untuk meminta maaf pada Namjoon. Tapi pria berusia dua puluh tiga tahun itu tidak beranjak dari tempat duduknya dan kelihatannya dia tidak berencana untuk meminta maaf pada Namjoon.

Namjoon menghela napas untuk mengontrol emosinya. Dia tidak bisa membiarkan emosi mengendalikannya dan melampiaskannya pada adiknya. Lagipula, dia sedang berada di tempat umum. Dia tidak bisa melampiaskan emosinya di depan Jungkook atau Taehyung, terutama Seokjin.

"Itu tidak apa-apa, Jungkook," gumam Namjoon.

Seokjin menatap khawatir kekasihnya. Seokjin tahu Namjoon mencoba menahan emosinya, jadi dia merasa khawatir. Seokjin pun berdiri dan memegang erat lengan sang kekasih. Tangan satunya lagi dia letakkan di punggung pria itu dan bergerak ke atas ke bawah, berusaha menenangkan kekasihnya.

"Apakah kau baik-baik, Namjoon-ah? Mungkin pergi ke Seokchon bisa ditunda lain hari," ujar Seokjin dengan pelan.

Namjoon menggelengkan kepalanya. Dia ingin menikmati sore harinya dengan kekasihnya, dia ingin berkenalan dengan Jungkook, dan yang terpenting, dia ingin berbicara dengan adiknya. Namjoon ingin melepas rindu pada adiknya yang sudah sangat lama tidak dia lihat.

"Taehyung, aku tidak peduli kau ingin menyakiti perasaanku ataupun membuatku marah, tapi aku tidak akan melampiaskannya dengan menyakitimu balik. Karena aku tidak mungkin menyakiti adikku sendiri."

.

.

.

"Kenapa kau membenci Namjoon-oppa? Taehyung, dia itu kakakmu. Tidak seharusnya kau seperti ini."

Taehyung tidak bergeming ketika Jungkook menasihatinya. Dia tidak ingin bersikap baik hati pada pria yang bernama Kim Namjoon.

Ya, mungkin pria itu merupakan kakaknya, well lebih tepatnya kakak tirinya. Intinya, Namjoon adalah kakaknya. Tapi, Taehyung tidak bisa menyingkirkan rasa sakit dan pedih yang dia rasakan lima belas tahun lalu, saat dia dipindahkan ke Busan.

Taehyung ingin tahu kenapa Namjoon tidak mencegah atau menghentikan orangtua mereka dari memisahkan mereka? Kenapa Namjoon tidak ada saat dia hendak berangkat? Kenapa Namjoon tidak mencoba mencarinya? Kenapa dia tidak melakukan semua itu?

"Aku membencimu."

Itulah yang Taehyung katakan pada Namjoon saat pria itu menariknya paksa untuk 'berbicara'. Dan Namjoon hanya memasang wajah datar, begitupula dengan Taehyung.

"Kenapa?"

Taehyung tersenyum miring, "Kenapa, kau bilang?"

"Oh aku beritahu kenapa." Taehyung mengepalkan tangannya, "Kau membiarkanku pergi ke Busan, kau tidak melakukan apa-apa saat mereka memaksaku untuk pindah, kau tidak ada saat aku akan berangkat, kau tidak mencoba mencariku, kau…"

Taehyung menggigit bibirnya, "Kau…tidak peduli pada adikmu ini."

Pada akhirnya, Taehyung menyesal telah mengatakan semua hal itu. Karena hal selanjutnya yang terjadi, adalah kakaknya yang terlihat sangat tersakiti. Satu hal yang sangat tidak Taehyung inginkan terjadi sejak Namjoon menjadi kakaknya adalah menyakiti kakaknya tersebut.

.

.

.

"Aku mencoba mencegah mereka sejak aku tidak sengaja mendengar bahwa mereka akan memindahkanmu ke Busan. Dan aku ada saat kau akan berangkat. Selama lima belas tahun, aku sudah mencoba berbagai cara untuk mencarimu. Bahkan aku pernah pergi ke Busan saat aku berusia empat belas tahun dengan hanya berbekal uang 40,000 Won dan berakhir kelaparan di tengah jalan."

Kedua kakak beradik itu tertawa mendengar aksi nekat Namjoon.

Namjoon memberitahu Taehyung bahwa sejak dia melakukan aksi nekat itu, kedua orangtua mereka mengetatkan pengawasan Namjoon. Saat dia duduk di perusahaan Kim dan menjadi CEO di perusahaan tersebut, diam-diam Namjoon mencoba mengambil akses menuju rekening bank orangtuanya.

"Aku pikir dengan masuk ke rekening bank mereka, aku dapat menemukanmu dengan mengecek tagihan kereta yang mereka bayar saat kau pindah. Tapi…"

Taehyung menatap kakaknya dengan penuh rasa ingin tahu. Namjoon terkekeh melihat ekspresi adiknya itu.

"Tapi, aku tertangkap basah oleh wanita itu sebelum aku sempat berhasil. Jadi…"

"Dia mengganti rekeningnya dan menghapus yang lama." Taehyung melengkapi kalimat Namjoon.

Namjoon tersenyum miris. Dia sudah mencoba berbagai cara. Bahkan Namjoon hampir memohon untuk dapat dipertemukan dengan adiknya. Tapi, akan ditaruh di mana harga dirinya jika dia sampai memohon pada orangtuanya layaknya budak? Tidak, dia tidak akan pernah memohon pada orang tua itu. Dia tidak sudi.

"Bagaimana kau bisa kembali ke sini? Apakah wanita itu tidak memantaumu?" tanya Namjoon.

Taehyung berdeham, "Satu-satunya orang yang bekerja untuk orangtua kita yang mengawasiku selama di Busan hanyalah Bibi Yona dan…"

Namjoon mengangkat sebelah alisnya ketika melihat adiknya yang berubah gugup.

"Hei, katakan saja." Namjoon menepuk pelan pundak Taehyung, "Itu tidak apa-apa."

Taehyung melirik kakaknya ragu, "Bibi Yona meninggal beberapa bulan lalu, dua minggu setelah ulang tahunku."

Air muka Namjoon berubah.

"Ke-kenapa dia bisa…" Kata-kata Namjoon tersendat.

"Entahlah. Dokter yang menanganinya bilang bahwa tubuh Bibi Yona sudah terlalu lemah walaupun dia masih berumur empat puluh enam tahun. Dokter itu bilang mungkin karena bibi terlalu keras saat bekerja dan mungkin karena bibi sering lupa untuk berobat ketika dia sakit." Taehyung menimpali.

Namjoon menunduk, "Aku tidak ada di sisinya ketika dia menghembuskan napas terakhir. Aku bahkan tidak menghadiri pemakamannya."

"Hyung, Bibi Yona memberitahuku bahwa kau tidak perlu merasa sedih apalagi menyesal. Dia tahu bahwa kau tidak diizinkan untuk datang ke Busan. Bibi memberitahuku untuk memberikanmu surat ini seandainya aku bertemu denganmu."

Namjoon mengambil sepucuk surat yang sudah berwarna kuning karena sudah lumayan lama disimpan. Dia pun membuka surat tersebut dan membacanya.


Namjoon, anakku,

Saat kau membaca surat ini, itu berarti dua hal. Kau sudah bertemu dengan Taehyung dan aku yang sudah kehabisan waktu di bumi ini. Lima belas tahun bukanlah waktu yang cepat maupun singkat, tapi aku tahu, kau telah tumbuh menjadi seorang pria gagah dan sukses seperti yang selalu kau impikan.

Dua puluh enam tahun lalu, kau datang ke dunia ini dengan suara tangisanmu. Aku masih ingat pertama kalinya aku menggendongmu, mencium kening serta pipimu, serta kata pertama yang kau ucapkan. Semua 'hal pertama' yang telah kau alami, aku ingat itu semua.

Namjoon, aku bukanlah ibumu ataupun seseorang yang memiliki ikatan darah denganmu. Tapi, aku tidak bisa mengelak rasa rindu serta rasa sayangku padamu. Kau merupakan 'putra'ku dan apa pun yang terjadi selama lima belas tahun ini, tidak akan mengubah fakta bahwa aku sangat menyayangimu, Namjoon.

Sebagai permintaan terakhirku, aku ingin kau untuk tidak merasa bersalah ataupun menyesal. Itu tidak apa-apa, nak. Aku mengerti situasimu dan aku harap kau juga bisa mengertinya.

Keduanya, situasi keluargamu dan juga ibumu.

Peluk & cium hangat,
Bibi Yona


Air mata pun keluar dan Namjoon memeluk surat terakhir dari wanita yang telah merawatnya sejak dia bayi dan telah menjadi sosok ibu yang sangat ingin dia miliki.

Taehyung yang melihat kakaknya menangis pun tidak bisa menahan air matanya.

Tepat di bawah pohon sakura yang bermekaran sebelum habis waktu hidupnya, kedua kakak beradik saling berpelukan melepas rindu, kesedihan, dan duka yang bercampur aduk menjadi satu. Setelah lima belas tahun berpisah, akhirnya mereka dapat bercanda ria dan menangis bersama seperti saat mereka masih kecil.

.

.

.

.

.

Chapter khusus Namjoon dan Taehyung, a bit mellow but it's okay, right?

Ditunggu tanggapannya ya, guys!