Manik Seokjin menangkap sebuah pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekasihnya, Kim Namjoon, menangis di pelukan seorang adik yang dipaksa berpisah dengan sang kakak saat mereka kecil. Meskipun demikian, Seokjin tersenyum. Dia senang Namjoon akhirnya bersatu kembali dengan Taehyung. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Dan untuk mengira kedua kakak beradik itu melewatinya tanpa tahu menahu kabar satu sama lain, tanpa berbicara, bercanda, bahkan menangis bersama. Fakta itu membuat Seokjin ikut bersedih.

"Unni."

Seokjin menoleh ketika mendengar Jungkook yang memanggilnya. Keduanya sedang duduk di mantras yang mereka pinjam dari super market yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini. Mereka berdua membiarkan Namjoon dan Taehyung untuk berbicara empat mata dan selagi kedua pria itu sibuk, mereka memutuskan untuk berbincang bersama. Untuk saling mengenal lebih jauh, kata Jungkook.

"Berapa umur Namjoon-oppa?"

"Dua puluh enam tahun, berbeda hampir satu setengah tahun denganku." Seokjin menunjuk dirinya sendiri.

Jungkook membelalakan matanya, "Kau lebih muda?"

Seokjin mengangguk, "Kenapa kau terlihat terkejut, Jungkook-ah?"

"Aku kira kalian berdua seumuran." Jungkook menggelengkan kepalanya.

Seokjin tertawa kecil mendengar Jungkook yang berbicara dengan nada tidak percaya. Semua orang yang melihatnya dengan Namjoon juga berpikir demikian.

"Namjoon merupakan seniorku. Saat Namjoon mendapatkan master degreenya, aku masih di tingkat graduate." Seokjin menjelaskan, "Namjoon merupakan mahasiswa yang sangat pandai, dia dikenal sebagai 'mahasiswa jenius' karena nilai-nilainya yang nyaris sempurna. Dalam satu tahun, Namjoon mendapatkan master degreenya."

Seokjin tersenyum, "Dia lulus beberapa bulan setelah aku mengenalnya."

Seokjin kembali mengingat hari di mana dia mengenal Namjoon. Seokjin pun tersenyum ketika dia mengingat saat Namjoon menyatakan perasaannya di hari yang sama dengan natal dan hari di mana dia mengenal Namjoon.

Jungkook tersenyum, "Unni, apakah kau mencintai Namjoon-oppa?"

"Sangat, Jungkook-ah." Seokjin merona.

Senyuman Jungkook semakin membesar hingga memperlihatkan giginya. Sebenarnya dia tidak perlu bertanya hal itu pada Seokjin. Jungkook bisa melihatnya dari cara Seokjin memandang Namjoon, cara Seokjin berbicara pada Namjoon, dan perilaku Seokjin terhadap Namjoon.

Jungkook mengerti, karena dia juga merasakan hal yang sama pada Taehyung. Perasaan yang Seokjin punya pada Namjoon merupakan perasaan yang sama dengan yang dia punya pada Taehyung. Cintalah nama perasaan tersebut. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, sulit dipaparkan, sulit dideskripsikan.

Perasaan tersebut dapat diutarakan bukan hanya melalui lisan atau tulisan, dengan aksi pun perasaan tersebut dapat diutarakan. Karena rasa peduli kita yang tinggi, perhatian intens kita, serta perlindungan yang sedikit berlebihan sudah termasuk ke dalam perasaan cinta atau sayang. Mungkin rasa sayang Namjoon pada Taehyung berbeda dengan rasa sayang Namjoon pada Seokjin. Tapi keduanya memiliki bentuk aksi yang sama, hanya berbeda makna penyampaian.

Ya, Jungkook tahu apa perasaan cinta ini. Dia bersyukur cinta pertamanya adalah Taehyung. Entah apa yang akan dia lakukan saat ini jika seandainya dia tidak dipertemukan dengan pria itu lima belas tahun lalu.

Jungkook tahu tidak seharusnya dia mengatakan ini, tapi, dia merasa bersyukur Taehyung berpisah dengan Namjoon hari itu. Karena jika tidak, maka Jungkook mungkin tidak akan bertemu dengan Taehyung. Dia mungkin tidak akan mengerti perasaan ini. Dan dia mungkin tidak akan merasakan ketulusan dan kehangatan dari dicintai seseorang. Tidak setelah orangtua serta kakek-neneknya meninggal.

.

.

.

Setelah berbincang dan bercanda, Seokjin dan Jungkook berpisah. Kedua perempuan itu terpaksa berpisah karena Namjoon dan Taehyung yang menyeret mereka pergi dengan alasan ingin menikmati 'quality time' bersama kekasih masing-masing. Seokjin dan Jungkook tidak habis pikir dengan kekasih mereka itu, tapi sepertinya mereka tidak memiliki pilihan selain membiarkan kekasih mereka.

Untuk Seokjin, saat ini, perempuan itu tengah berjalan beriringan dengan Namjoon yang menggenggam tangannya. Seokjin pun menggigil ketika udara musim semi menerpanya, dia tertawa walau merasa kedinginan, "Aku tidak tahu akan sedingin ini."

"Dan kau meninggalkan sarung tanganmu di mobil." Namjoon melirik tangan Seokjin yang ada di genggamannya.

Seokjin terdiam sejenak. Dia pun tersenyum dan mengangkat tangannya yang berada di genggaman hangat kekasihnya, "Aku mungkin sengaja meninggalkannya."

Namjoon tampak terkejut setelah mendengarnya. Seokjin kembali tertawa ketika melihat wajah terkejut kekasihnya. Seokjin menarik Namjoon dan memaksa pria itu untuk mengikutinya.

Seokjin tertawa, "Kau terlihat lucu, Namjoonie."

Namjoon dapat merasakan debaran keras dan kuat di dadanya. Dan Namjoon sadar, dia baru saja jatuh cinta pada perempuan di hadapannya. Bukan untuk yang pertama kalinya, tidak, dia sudah jatuh cinta pada Seokjin berkali-kali, lebih dari yang bisa dia bayangkan dan dia tahu itu akan terus berulang tanpa henti.

Seulas senyuman terukir di wajah Namjoon. Tangan yang berada di genggamannya dia genggam lebih erat. Namjoon tidak ingin melepaskan tangan halus ini, dia tidak ingin melepaskan suara lembut ini, dia tidak ingin melepaskan apalagi melupakan perempuan ini.

Namjoon kemudian membawa mereka berdua menuju jembatan yang berdiri kokoh di tengah taman. Jembatan itu tidak sepi, namun Seokjin tidak apa-apa dengan itu. Terdapat beberapa pohon sakura berukuran kecil di jembatan tersebut, menambah keindahan dan nuansa romantis di tempat tersebut.

Beberapa orang terlihat sedang mengambil foto untuk mengabadikan momen indah ini. Beberapa orang lainnya terlihat sedang mengobrol, bersenda gurau dengan pasangannya, temannya, atau keluarganya.

Seokjin terpukau dengan pemandangan yang dia lihat saat ini. Dia tidak tahu Seokchon akan seindah ini di musim semi. Warna merah muda dari bunga-bunga Sakura yang mekar menghiasi taman itu. Bagaikan hujan, taman itu seperti disirami ratusan atau mungkin ribuan bunga merah muda dari tanaman Sakura. Dan bukan hanya taman itu, tapi seluruh Kota Seoul juga.

"Indah sekali." Seokjin melihat sekeliling.

Binar di mata Seokjin tidak luput dari penglihatan Namjoon. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Seokjin dan mendekatkan Seokjin ke tubuhnya. Aksinya itu berhasil mengundang perhatian Seokjin.

"Ya, memang indah." Namjoon mengecup pipi Seokjin, "Tapi tidak seindah dirimu."

Semburat merah muncul di kedua pipi Seokjin yang kemudian menjalar ke telinganya. Namjoon terkekeh melihat wajah merah kekasihnya.

"A-apa-apaan kau ini," ucap Seokjin terbata-bata.

Perempuan itu mengalihkan pandangannya, enggan menatap Namjoon. Dia mencoba menjauh dari Namjoon tapi pria itu tidak membiarkannya.

"Kenapa kau cantik dan imut sekali, Jinseok? Itu ilegal, kau tahu." Namjoon pura-pura berdecak.

Namjoon menarik Seokjin hingga punggung perempuan itu menyentuh dadanya.

Seokjin mendengus, "Apanya yang ilegal, Tuan Kim? Jangan asal berbicara."

Namjoon tertawa mendengar celetukan ketus kekasihnya. Bukannya melepaskan Seokjin, pria itu beralih mengusak surai perempuan itu.

"Kenapa kau melakukan itu?!" Seokjin melotot.

Namjoon terkekeh, "Kau terlalu menggemaskan, Jinseok."

Seokjin bersungut-sungut. Tangannya merapihkan rambutnya yang berantakan berkat usakan Namjoon. Sementara Namjoon hanya melihat Seokjin terus menggerutu dan merapihkan rambut.

"Kau boleh marah, boleh memukulku, bahkan menamparku dan membenciku. Tapi aku tidak akan melakukan semua hal itu padamu. Karena siapa yang ingin menyakiti 'el cielo' yang telah menjadi alasan mereka bahagia, senang, damai, dan tenang?" Namjoon menggeleng, "Tentunya tidak ada."

Seokjin menatap Namjoon, "El cielo?"

"It means 'heaven', dear. And you are my heaven, my angel, my everything."

Tepat setelah itu, sebuah ledakan terdengar dari langit. Suara orang-orang yang terkejut dan terpukau dengan langit Seoul yang kini dihiasi berbagai warna dari kembang api, terdengar di sekitar Seokjin dan Namjoon. Namun kedua insan itu tidak memedulikannya.

Jika orang-orang terpukau dengan indahnya kembang api, maka Namjoon terpukau dengan indahnya mata, wajah, serta semua yang ada pada kekasihnya. Begitu pula dengan Seokjin.

Namjoon menyelipkan tangannya ke tengkuk Seokjin. Beberapa saat kemudian, bibir keduanya bertemu dalam ciuman lembut dan hangat. Bohong jika Namjoon berkata dia tidak gatal untuk mencium Seokjin. Bibir perempuan itu bagaikan candu baginya, Namjoon tidak pernah merasa cukup, tidak peduli berapa kali mereka berciuman.

Namjoon mencintai bibir Seokjin layaknya dia mencintai wajah dan mata Seokjin yang indah. Tapi tidak sebesar dia mencintai Seokjin karena telah menjadi Seokjin, kekasih hatinya, orang yang telah membuatnya gila, yang telah membuat jatungnya berdebar tidak karuan.

"Terima kasih karena telah memperbolehkanku mengenalmu, karena telah menjadi kekasihku, karena telah menghiburku, membuatku bahagia, karena telah menjadi 'mi cielo y mi angel', my heaven and my angel."

.

.

.

.

.

Bagi yang tidak tahu, master degree sama saja seperti strata dua (S2). Sedangkan program/tingkat 'graduate' adalah program/tingkat untuk mengejar master degree (S2). Program/tingkat 'graduate' biasanya diselesaikan 2 tahun dan maksimal 4 tahun.

Aku tidak tahu tentang dunia perkuliahan jadi aku mencarinya di internet. Aku bahkan bertanya soal perkuliahan pada orangtuaku :")

Saat membaca artikel di internet dan mendengarkan penjelasan orangtuaku, aku semakin dibuat bingung. Apakah dunia perkuliahan serumit itu? Mungkin aku akan mengetahuinya nanti saat sudah terjun langsung :)