Taehyung memantapkan hatinya. Dia akan menemui Seokjin dan memberitahu perempuan itu tentang keluarganya, terutama tentang orangtuanya yang akan kembali ke Seoul beberapa bulan lagi. Sebenarnya hanya ibunya yang akan kembali ke Seoul, ayahnya meninggal dua tahun lalu. Sekarang dia merasa telah menjadi pendosa karena tidak memberitahu kakaknya soal kedatangan ibu mereka dalam beberapa bulan dan tentang kematian ayah mereka dua tahun silam.
Alasan Namjoon tidak tahu adalah karena pria itu tidak bisa dihubungi Taehyung. Mereka tidak tahu nomor satu sama lain dan Namjoon memutuskan hubungan dengan orangtuanya. Kenapa Mr. Lee tidak memberitahu Namjoon? Itu karena Namjoon benar-benar tidak mau berhubungan lagi dengan orangtuanya.
Taehyung tidak tahu kakaknya akan sebenci itu kepada orangtua mereka. Padahal Namjoon adalah anak kandung orangtua mereka dan Taehyunglah yang dipindahkan ke Busan dengan alasan yang tidak dia ketahui. Seharusnya Taehyung yang membenci mereka, bukan kakaknya.
Taehyung menggelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Dia menatap lekat peta yang ada di ponselnya. Walaupun Taehyung sudah tinggal di Seoul selama 2 bulan, Taehyung masih belum terbiasa dengan jalanannya. Saat ini dia sedang berada di kereta hendak menuju apartemen Seokjin.
Tidak sampai setengah jam, Taehyung telah sampai di apartemen Seokjin. Dia pun menghampiri pria yang kelihatannya berada di akhir lima puluhnya. Taehyung bertanya tentang Seokjin, namun pria itu enggan memberitahunya dengan alasan dia tidak pernah melihat Taehyung kemari.
Namun setelah sedikit penjelasan dan perdebatan, pria yang bernama Kwang-sun itu pun memberitahu Taehyung bahwa Seokjin tinggal di lantai dua. Tapi Kwang-sun menambahkan bahwa Seokjin sedang pergi ke luar dan belum kembali. Menurut dugaan Taehyung, Seokjin sedang berada di kampusnya, Universitas Hongik.
Dan ke sanalah Taehyung akan pergi.
Saat Taehyung sedang sibuk melihat peta di ponselnya, dia tidak sengaja menabrak seseorang. Ketika dia hendak meminta maaf, Taehyung terkejut ketika mengetahui siapa orang yang baru saja dia tabrak.
"Namjoon-hyung."
Namjoon merintih kesakitan karena kopi panasnya baru saja tumpah ke bajunya. Taehyung pun segera meminta maaf dan berkata bahwa dia akan menggantikan kopi kakaknya itu. Namun Namjoon membalasnya dengan gelengan kepala.
"Kau ingin ke mana? Dan di mana Jungkook?"
"Aku ingin pergi ke Unniversitas Hongik dan Jungkook ada di apartemen," jelas Taehyung.
Keduanya kini berjalan di tengah ramainya kota Seoul. Suara klakson mobil dapat terdengar dari perempatan jalan di depan mereka. Bermacam toko terlihat di pinggiran jalan dan Taehyung tidak akan berbohong, dia sangat ingin masuk ke kedai kopi yang tidak jauh dari Universitas Hongik. Dia ingin memesan espresso macchiato dingin karena udara lembab ini lama-lama menyiksanya juga.
Namun sepertinya kopi itu harus menunggu karena netranya tiba-tiba menangkap sosok Seokjin yang hendak menyeberang. Dia pun memanggil nama Seokjin, namun perempuan itu tidak menoleh. Taehyung pun meminta kakaknya untuk tetap di tempatnya dan Taehyung pun berlari ke arah Seokjin.
Namjoon berteriak, "Taehyung! Apa yang kau lakukan?!"
Tapi Taehyung tidak memedulikan teriakan kakaknya itu. Dia terus berlari.
Lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan semua orang pun menyeberang, begitu pula dengan Seokjin. Taehyung mempercepat larinya sebelum lampu lalu lintas berubah hijau dan kendaraan mulai berjalan kembali.
Namun entah kenapa, dari ujung matanya, Taehyung dapat melihat truk yang berjalan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Mungkin sekitar 100 km/jam dan truk itu kelihatannya tidak akan berhenti. Taehyung mengalihkan pandangannya dari truk itu menuju perempatan di depannya.
"Sial," gumam Taehyung.
Di depan sana, Seokjin masih berjalan di zebra cross. Perempuan itu terlalu lambat jalannya. Dalam benaknya, Taehyung tahu truk itu akan menabrak Seokjin jika perempuan itu tidak segera mempercepat langkahnya.
Dengan segara, Taehyung mempercepat derap kakinya.
Hal selanjutnya yang terjadi adalah dirinya yang memeluk Seokjin dan maniknya yang mendapati truk tersebut hanya berjarak kurang dari 50 cm di hadapannya. Hal terakhir yang Taehyung ingat adalah kakaknya yang berteriak memanggil namanya dan Seokjin. Dan setelah itu, semuanya menjadi hitam.
.
.
.
Lorong itu sepi dan hampir kosong jika seandainya tidak ada Namjoon, Jungkook, dan perawat yang berjaga di meja konter yang berada di ujung lorong. Suara isakan yang keluar dari mulut Jungkook terdengar dengan jelas di kedua telinga Namjoon. Sedangkan pria itu sendiri hanya diam dan menatap lekat lantai putih rumah sakit seakan-akan lantai itu adalah sesuatu yang menarik.
Sorot mata Namjoon tidak memiliki emosi apa pun. Kosong melompong. Dia seperti melihat ke kejauhan.
Detik berganti menit dan menit pun menjadi jam. Setelah 3 jam, lampu tanda operasi itu akhirnya padam, menandakan operasi di ruangan itu telah selesai. Suara pintu terbuka menyadarkan Namjoon dan Jungkook dari pikiran masing-masing. Keduanya sontak berdiri dan menghampiri pria yang berbalutkan jubah operasi berwarna hijau pada umumnya.
"Bagaimana keadaannya, Dokter Jung?" Namjoon bertanya pada pria yang usianya berkisar lima puluh.
"Adikmu baik-baik saja, Namjoon. Herannya, lukanya tidak terlalu parah mengingat dia baru saja tertabrak truk." Dokter itu menambahkan, "Hanya tulang di lengannya yang patah dan tulang pinggulnya yang sedikit retak. Tapi aku jamin dia akan pulih dalam 3 sampai 4 bulan."
"Aku mulai berpikir tulang adikmu terbuat dari baja." Dokter Jung terkekeh di akhir penjelasannya. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah menjadi serius, "Tapi kabar buruknya, dia kehilangan banyak darah."
Namjoon tidak tahu apakah dia harus merasa lega atau khawatir. Dia melirik Jungkook yang hanya diam di sampingnya. Ekspresi perempuan itu sulit dibaca. Tapi Namjoon yakin Jungkook merasakan hal yang sama dengannya saat ini.
"Hei, jangan seserius itu. Adikmu memang kehilangan banyak darah tapi itu sudah kami tangani." Seulas senyuman muncul di wajah sang dokter, "Selain dua hal itu, dia juga memiliki luka ringan seperti memar di beberapa bagian tubuhnya."
Dokter Jung menepuk pundak Namjoon, "Jangan khawatir, Namjoon, dia baik-baik saja dan dalam hitungan bulan dia akan pulih."
Dokter Jung pun pamit pada Namjoon dan Jungkook dengan alasan ingin membersihkan dirinya. Pria itu juga berkata bahwa Taehyung akan segera dipindahkan ke ruang rawat VIP, satu lantai dengan Seokjin. Namjoon menghela napas lega mendengarnya. Dia pun berterima kasih pada Dokter Jung.
Tidak lama setelah perbincangan mereka dengan Dokter Jung, dua orang perawat keluar dengan Taehyung yang tidak sadarkan diri di atas brankar dengan dibaluti selimut. Namjoon dan Jungkook mengikuti dua perawat tersebut hingga mereka tiba di ruangan bernomor 512.
Setelah berterima kasih pada dua perawat tersebut, Jungkook mengambil kursi. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Taehyung yang tergulai lemah. Mata Taehyung terpejam. Anestesi yang disuntikan pada Taehyung sewaktu mereka membawanya ke rumah sakit masih bekerja hingga beberapa jam kemudian.
Butiran air kembali keluar dari mata Jungkook. Hatinya terasa seperti diremas ketika melihat kondisi kekasihnya yang terbaring lemah, tak berdaya di atas brankar. Dia dapat melihat beberapa perban menutupi lengan dan pipinya. Jungkook yakin masih banyak lagi perban yang menutupi tubuh kekasihnya yang terluka. Memikirkannya hanya membuatnya semakin sedih.
Dia pun menoleh ketika merasakan sentuhan ringan di pundaknya.
"Seperti yang Dokter Jung bilang, Taehyung baik-baik saja." Namjoon berkata halus.
Jungkook mengangguk. Dia tahu Taehyung akan baik-baik saja, tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan sedih dan khawatir di hatinya. Namjoon memakluminya. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Jungkook. Tapi untuk orang yang berbeda.
"Jungkook, tolong jaga Taehyung. Aku ingin memeriksa Seokjin."
Jungkook mengangguk singkat.
Dengan langkah lebar, Namjoon berjalan menuju kamar bernomor 518. Tanpa mengetuk, Namjoon memutar kenop pintu dan membukanya. Saat dia berjalan masuk ke ruangan itu, dia disuguhkan dengan pemandangan yang sama saat dia berada di ruang inap adiknya. Namun, kali ini yang terbaring di atas kasur adalah kekasihnya, Seokjin.
Namjoon berjalan menuju ranjang yang berada di tengah ruangan. Matanya melihat Seokjin yang terbaring tak sadarkan diri dengan perban melingkar di kepalanya. Jika yang menangani Taehyung adalah Dokter Jung, ayahnya Hoseok, maka yang menangani Seokjin adalah Dokter Min, ibunya Yoongi.
Sebelum Namjoon menunggu Taehyung, Namjoon pergi bersama perawat yang membawa Seokjin untuk segera ditangani. Setelah operasi, Dokter Min keluar bersamaan dengan Seokjin di atas brankar. Wanita yang usianya berkepala empat itu menjelaskan bahwa tempurung lutut Seokjin retak karena mungkin lutut perempuan tersebut merupakan bagian pertama yang menghantam aspal. Masih ada beberapa luka lainnya di tubuh Seokjin, tapi tidak separah milik Taehyung.
Dokter Min mengira Seokjin yang tertabrak truk, padahal Taehyunglah yang tertabrak. Mengingatnya membuat Namjoon merinding. Dia tidak percaya hal seperti ini akan terjadi pada Seokjin dan Taehyung.
Yang bisa Namjoon lakukan saat ini hanyalah berdoa untuk yang terbaik bagi Seokjin dan Taehyung. Seperti apa yang Dokter Min dan Dokter Jung bilang, dia harus yakin Seokjin dan Taehyung akan baik-baik saja.
.
.
.
"Ugh…"
Jungkook berbalik ketika mendengar suara berat itu. Matanya terbelalak kaget ketika melihat Taehyung membuka matanya. Sendok teh yang tadinya ada di tangannya kini jatuh ke lantai dan menghasilkan suara dentingan lumayan keras.
"Apa yang…di mana aku?" Taehyung mengerang kesakitan.
Mata Jungkook berkaca-kaca. Dia tidak percaya ini. Dokter Jung memberitahunya bahwa efek anestesi akan hilang esok hari. Namun saat ini baru jam 7 malam. Jungkook pun meletakkan gelas berisi teh hangatnya di meja dan berjalan menghampiri Taehyung.
"Taehyung-ah…" Jungkook memanggil pelan.
Taehyung mengerjapkan matanya beberapa kali karena intensitas cahaya yang masuk ke matanya. Namun beberapa saat kemudian, pria itu membelalakan matanya.
"J-Jungkook-ah…"
Jungkook tersenyum, "Tae…ya Tuhan, kau sudah bangun. Syukurlah."
Seulas senyuman kecil muncul di wajah Taehyung. Dia pun menjulurkan tangan kirinya yang masih berfungsi dengan baik ke arah kekasihnya yang hendak menangis. Taehyung menggenggam lemah tangan Jungkook, "Ya, aku sudah bangun, Jungkook-ah."
