24 Desember
Ruangan kerja itu lengang. Walaupun Namjoon yang tengah duduk di ruangan itu merupakan pria berpangkat tinggi dan termasuk orang sibuk, tidak terlihat banyak kertas di hadapannya seperti biasanya. Dia hanya membaca laporan akhir tahun yang diserahkan asistennya pertama kali di pagi hari.
Namjoon terlihat sangat fokus dengan tulisan serta grafik yang tertera di kertas yang ada di tangannya. Di tengah-tengah sesi membacanya, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Masuk," serunya dengan lantang.
Seorang pria berperawakan lebih pendek darinya, namun tidak mengurangi kadar ketampanan di wajahnya, masuk dengan membawa sebuah buku tebal.
"Apakah kau sudah membaca laporan yang aku serahkan?"
"Baru saja selesai." Namjoon menutup laporan yang dimaksud, "Apakah ada lagi?"
"Seperti biasa." Jimin, sang asisten, menghela napas, "Hanya saja, kali ini Taehyung yang menyusunnya."
Namjoon mengangkat alisnya, "Taehyung? Tapi anak itu tidak aku suruh menyusun laporan akhir tahun."
"Entah, aku sendiri juga bingung," Jimin mengangkat bahunya, "Dia sendiri yang memberikan laporan ini padaku."
Ruangan itu kembali lengang. Namjoon menghembuskan napas dan mengambil laporan keduanya di hari itu, "Pastikan kau memberitahu Taehyung untuk tidak mengerjakan laporan yang lain."
Jimin yang mendengar itu hanya menggangguk kecil sebagai jawaban.
"Omong-omong, bagaimana kabar Seokjin-nuna?" Jimin bertanya. "Sugarku menanyakan kabarnya."
Mendengar kalimat terakhir Jimin, Namjoon berdecak.
Tanpa memalingkan perhatiannya dari laporan di depannya, Namjoon menjawab pertanyaan sang sekretaris, "Seokjin baik-baik saja. Kenapa Yoongi tidak menghubungi Seokjin saja?"
"Dia sudah mencobanya berkali-kali tapi tidak pernah dijawab. Apakah Seokjin-nuna mengubah nomor teleponnya?"
Namjoon mengerutkan dahinya. Seingatnya, Seokjin tidak pernah mengganti nomor teleponnya. Tapi jika diingat-ingat lebih baik, ponsel perempuan itu rusak karena tertindas mobil saat kecelakaannya beberapa bulan lalu.
"Dia memang menggantinya. Tapi itu beberapa bulan lalu, setelah dia keluar rumah sakit," jelas Namjoon.
Jimin mendengus mendengar jawaban Namjoon. Pantas saja Yoongi tidak bisa menghubungi Seokjin. Seokjin ternyata mengganti nomor teleponnya.
"Yoongi sudah mencoba menghubungi Seokjin-nuna dari dua bulan lalu, bodoh. Dia khawatir setelah mendengar kabar Seokjin yang terkena kecelakaan. Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Namjoon mengangkat bahunya santai, "Kau tidak pernah bertanya."
"Hah, sudahlah," Jimin menghembuskan napas menyerah, "Aku akan keluar saja."
Belum lama Jimin keluar dari ruang kerja Namjoon, pria itu kembali membuka pintu dan menghampiri meja Namjoon untuk yang kedua kalinya.
"Mana nomor teleponnya?" Jimin mengulurkan tangannya.
Namjoon menatap Jimin dengan tatapan datar. Sedangkan Jimin yang mendapat tatapan tersebut hanya terkekeh dengan senyuman yang membuat kedua matanya sipit.
"Dasar pendek," rutuk Namjoon.
Alis Jimin berkedut mendengar kalimat Namjoon. "Siapa yang kau panggil pendek, huh?"
"Kau," jawab Namjoon singkat sambil menyerahkan secarik kertas kecil bertuliskan serangkaian nomor.
"Sekarang tolong keluar dan jangan ganggu aku. Ganggu saja Taehyung. Aku yakin semua pekerjaannya sudah selesai."
Mendengar sang CEO yang mengusirnya, Jimin berdecak dan segera melangkahkan kakinya keluar ruangan itu lagi. Namun kali ini dia tidak kembali lagi.
Namjoon menghela napas dan kembali fokus dengan laporan yang ada di tangannya.
"Kertas dan kertas. Sejak kapan keseharianku dipenuhi dengan kertas? Menyusahkan saja," rutuk Namjoon dengan perasaan jengah.
.
.
.
Namjoon sedang membenahi meja kerjanya yang terlihat sedikit berantakan. Tahun ini merupakan tahun yang sibuk. Perusahaan yang dipegangnya mengalami kemajuan yang tinggi. Dengan harga saham yang naik, Namjoon harus mempertimbangkan gerakan selanjutnya yang harus dia ambil. Keputusannya membeli saham bisa menguntungkan namun juga bisa merugikan.
Merasa mejanya sudah bersih, Namjoon memasukkan dua laporan perusahaan tahun ini ke dalam tas kerjanya lalu mengenakan jasnya. Dia tidak lupa mengambil mantelnya. Udara Seoul bulan ini sangat dingin. Bertepatan saat ini bulan Desember dan musim salju juga tengah melanda, mengharuskan Namjoon dan semua orang untuk mengenakan mantel setiap kali mereka akan keluar gedung.
Baru saja Namjoon mengambil kunci mobilnya, pintu ruangan terbuka. Dia sedikit terkejut karena sejak Jimin masuk dan menyerahkan laporan, tidak ada lagi yang masuk. Saat ini sudah pukul enam sore, semua pekerja sudah dapat pulang tiga jam yang lalu karena berhubungan besok hari natal.
Namjoon pikir gedung ini sudah kosong, jadi dia terkejut ketika mendengar pintunya terbuka. Belum lagi siapa pun yang masuk itu tidak mengetuk terlebih dahulu.
"Hyung...ah maksudku Tuan Kim."
Mendengar suara adiknya, Namjoon menghembuskan napas lega. Dia kemudian mendorong kursinya dan menaruh laptopnya di dalam tasnya.
"Itu tidak apa-apa, Tae. Jam kerja sudah selesai tiga jam yang lalu." Namjoon mengingatkan sang adik.
"Ada apa? Kenapa kau masih di sini? Apakah kau ingin aku antar ke apartemenmu?" Namjoon bertanya sambil menghampiri Taehyung yang masih berdiri di dekat pintu.
"T-tidak…maksudku, tentu, aku memang butuh tumpangan karena di luar dingin. Tapi, saat ini bukan itu masalahnya."
Namjoon mengerutkan keningnya.
Dari cara Taehyung berbicara, Namjoon sangat yakin adiknya itu gugup. Tidak ingin membuat Taehyung semakin gugup, Namjoon menetralkan wajahnya dan bertanya, "Lalu ada apa?"
Taehyung menelan ludahnya mendengar kakaknya yang langsung ke inti pembicaraan. Sejujurnya, dia tidak ingin memberitahu hal ini. Tapi Taehyung tidak memiliki pilihan lain selain memberitahu Namjoon. Dia sudah menyimpannya terlalu lama. Dia bahkan memberitahu Jungkook lebih awal dari Namjoon yang merupakan kakaknya.
Belum lagi beberapa bulan lalu, tepatnya di hari di mana dia dan Seokjin masuk rumah sakit, Taehyung gagal memberitahu Seokjin. Sepertinya jika dia terus mengoper hal ini ke orang lain, dia hanya akan bertambah gugup dan menyesal.
Ya, menyesal karena telah melibatkan orang lain dalam urusan dan masalah keluarganya.
"Sebelum semuanya terlambat, aku harus memberitahu Namjoon-hyung." Taehyung bergumam dengan pelan.
"Memberitahuku apa?"
Sontak Taehyung mengangkat kepalanya, dia kaget mendengar pertanyaan Namjoon.
Namjoon yang sepertinya mengerti maksud ekspresi Taehyung pun berkata, "Kau barusan berkata kau harus memberitahuku. Apa yang harus kau beritahu? Dan tidak bisakah kau memberitahuku di mobil? Ini sudah larut dan aku tidak ingin membuat Seokjin atau Jungkook menunggu kita berdua."
"Tidak!"
Mata Namjoon membulat sempurna. Dia kaget mendengar teriakan Taehyung. Taehyung yang berteriak sendiri juga sama dengan kakaknya, dia bingung kenapa dia tiba-tiba berteriak.
Namjoon memegang pundak Taehyung, "Taehyung-ah, kau baik-baik saja?"
Taehyung menelan ludahnya, "Y-ya, aku baik-baik saja, hyung."
"Dengar." Namjoon menghela napas, "Jika kau tidak siap memberitahuku, jangan memaksakan diri. Mengerti?
Respon yang Taehyung berikan membuat Namjoon menatap adik laki-lakinya itu bingung. Taehyung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rasa penasaran semakin menggebu dalam diri Namjoon.
"Baiklah. Jika kau tidak ingin memberitahuku di mobil, maka bisakah kau beritahu aku sekarang juga?"
Taehyung meringis ketika mendengar suara tegas Namjoon.
Dia ingin sekali mengeluarkan semua hal yang tengah menggerogoti pikirannya saat ini pada kakak laki-lakinya yang ada di depannya. Tapi mulutnya sedang tidak bekerja sama dengannya saat itu juga. Dan lagi, kenapa keberaniannya yang sering dia tunjukkan ke banyak orang, terutama kakaknya sendiri, harus hilang seperti debu yang ditiup angin?
"Taehyung, ini sudah semakin larut dan malam ini aku ada rencana dengan Seokjin. Aku tidak ingin membuatnya menungguku terlalu lama. Dan aku yakin kau juga memiliki rencana dengan Jungkook." Namjoon yang sudah lelah menunggu adiknya, akhirnya kehilangan kesabarannya, "Cepat katakan saja padaku!"
Suara bentakan Namjoon menggelegar sampai keluar ruangan. Beruntung bagi mereka berdua lantai itu sudah kosong akan orang-orang.
Saat ini jam menunjukkan pukul enam sore menjelang malam. Semua pegawai sudah meninggalkan gedung. Orang yang terakhir pergi adalah Jimin, meninggalkan Namjoon dan Taehyung di lantai tersebut.
Keduanya masih berdiri di ruangan Namjoon dan keheningan melanda di antara kedua kakak-beradik tersebut.
Namjoon sudah jengah dengan Taehyung yang sedaritadi enggan berbicara jadi dia tidak memiliki pilihan lain selain membentak. Dan hal tersebut merupakan salah satu hal yang benci dia lakukan pada orang yang dia kenal maupun sayangi.
"Taehyung…"
"Hyung, kau tahu bahwa ayah dan ibu masih di Jepang mengurusi pekerjaan mereka di sana, benar?"
Mendengar kata-kata "ayah dan ibu" membuat mood Namjoon turun drastis. Dan bohong jika Taehyung tidak menyadari perubahan mood sang kakak. Dia dapat melihatnya dari raut wajah Namjoon yang tertekuk seketika. Aura yang dipancarkan Namjoon juga berubah gelap. Hal tersebut hanya membuat Taehyung semakin enggan berbicara. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain.
"Aku sangat tahu akan hal tersebut," ucap Namjoon dengan nada yang dingin dan tajam.
Taehyung meringis mendengar perkataan Namjoon.
Dia tahu, sangat tahu kakaknya tidak akan suka membicarakan kedua orangtua mereka. Taehyung dapat melihat pancaran kebencian di mata sang kakak yang tertuju ke orangtua mereka saat dia hendak meninggalkan Seoul. Dan karena itu, Taehyung berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengungkit kedua orangtua mereka jika suatu hari nanti dia bertemu dengan Namjoon kembali.
Tapi, untuk yang satu ini, dia harus mengingkari janjinya sendiri. Karena Taehyung tahu, jika dia tidak mengungkapkannya, maka Namjoon akan tersakiti nantinya. Begitu pula dengan Seokjin.
"Kenapa kau mengungkit hal itu? Kau hanya membuang waktu kita berdua jika ingin memberitahu kondisi mereka di sana."
Taehyung menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bermaksud memberitahumu tentang kondisi ayah dan ibu."
"Lalu apa yang ingin kau beritahu?" tanya Namjoon jengah.
"Hal yang akan aku beritahu masih ada kaitannya dengan ayah dan ibu, tapi kau harus mendengarnya, hyung!" Taehyung berteriak mendahului Namjoon yang hendak berbicara.
Namjoon menatap datar Taehyung yang ada di hadapannya. Apa pun itu hal yang ingin Taehyung beritahu, jika itu bersangkutan dengan orangtua mereka, Namjoon enggan mendengarnya. Lebih baik dia menulikan pendengarannya dan pergi.
"Taehyung, apa pun itu, aku tidak ingin mengetahuinya atau bahkan mendengarkannya."
"Bahkan jika aku berkata ayah telah meninggal dua tahun lalu dan ibu akan kembali, kau masih tidak ingin mendengarkan?"
Sepertinya keputusan Taehyung menolak untuk berbicara dengan Namjoon di mobil merupakan keputusan yang sangat tepat. Karena saat ini, tubuh Namjoon berubah kaku dan pikirannya kosong seketika berkat satu kalimat yang Taehyung ucapkan.
Namun kalimat berikutnya yang Taehyung ucapkan membuatnya merasakan sebuah perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan, yaitu ketakutan. Dan dia berharap kalimat tersebut hanyalah sebuah kebohongan belaka seorang Kim Taehyung.
"Ibu akan kembali ke Seoul, hyung."
.
.
.
.
.
