Taehyung menatap Namjoon yang menyetir mobil. Suasana sunyi di mobil tidak memudar sejak keduanya meninggalkan gedung. Dan bukan hanya suasana, ekspresi datar juga tetap terpampang di wajah Namjoon tanpa ada perubahan sedikit pun. Walaupun begitu, tidak ada yang bisa Taehyung lakukan.

Taehyung bisa saja mencoba menghibur sang kakak, namun sepertinya Namjoon hanya akan mengabaikannya. Dia merasa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda, walaupun mungkin sedikit dibutuhkan untuk mencairkan suasana.

Taehyung pikir akan lebih baik jika dia membiarkan Namjoon. Bukan dalam artian tidak peduli, hanya saja menurut Taehyung itu yang terbaik.

Mobil hitam milik Namjoon berhenti di sebuah bangunan bertingkat lima, apartemen Taehyung. Pemilik mobil hitam itu masih saja diam saat Taehyung berterima kasih dan pamit. Tapi Namjoon sempat melirik ke arah Taehyung yang menatapnya.

"Berhati-hatilah, hyung." Taehyung berujar pelan.

Taehyung menutup pintu mobil dan berjalan menuju gedung apartemen.

Taehyung membalikkan badannya, dia melihat kepergian kakaknya hingga mobil hitam tersebut hilang di kejauhan.

.

.

.

Sepanjang perjalanan, pikiran Namjoon kosong. Dia tidak membalas saat adiknya berbicara. Suasana hatinya benar-benar berada di bawah batas.

Namjoon harap suasana hatinya setidaknya membaik saat dia sampai di apartemen Seokjin. Namjoon tidak ingin mengabaikan perempuan itu seperti dia mengabaikan adiknya barusan.

Walaupun Seokjin mungkin akan mengerti bahwa suasana hatinya sedang buruk, tapi tetap saja. Seokjin akan melakukan segala hal untuk membuatnya senang. Bahkan hanya untuk senyuman kecil yang sangat kecil, perempuan itu akan melakukan berbagai hal.

Namjoon tidak ingin Seokjin bersusah payah membangkitkan suasana hatinya dan Namjoon sangat tidak menginginkan jika dia sampai membentak Seokjin.

"Sial." Namjoon mendesah frustasi, "Tenang, Namjoon, tenang. Besok merupakan hari penting. Jangan mengacaukannya."

Kedua tangannya mencengkeram setir mobil hingga buku-buku jarinya berubah putih. Namjoon menghela napas dan membuangnya kasar.

Saat ini mobilnya tengah menepi di pinggiran jalan. Lebih baik menepi dan menenangkan diri daripada nekat berkendara dalam keadaan kacau.

Setelah merasa lebih tenang, Namjoon kembali menginjak gas. Karena malam ini merupakan malam yang spesial baginya dan Seokjin, Namjoon berpikir akan bagus jika dia menginap di apartemen Seokjin. Dia ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu. Dan berhubungan besok natal, yang berarti libur, kenapa tidak?

Perjalanan menuju apartemen Seokjin membutuhkan waktu sekitar emput puluh menit karena jalanan ramai akan mobil dan juga orang-orang. Kwang-sun, pemilik apartemen, memberitahu Namjoon bahwa dia sampai tepat pada waktunya untuk makan malam. Dari apa yang Kwang-sun bilang, Seokjin baru saja tiba dari supermarket dan saat ini Seokjin sedang memasak makan malamnya.

"Benarkah, Paman?" Namjoon bertanya memastikan.

"Ya. Lagipula, aku dapat mencium bau harum yang aku sangat yakin berasal dari apartemen Seokjin." Kwang-sun tersenyum, "Siapa lagi yang memiliki hobi memasak di sini selain Seokjin?"

Namjoon terkekeh mendengar penuturan Kwang-sun.

Di bangunan ini hanya Seokjin yang memiliki hobi memasak. Orang-orang yang juga tinggal di sini jarang memasak karena sebagian besar tidak bisa dan malas. Jadilah Seokjin menawarkan untuk memasak untuk mereka semua karena jumlah penghuni apartemen ini tidak banyak. Hanya ada sekitar 10 orang, termasuk Seokjin dan Kwang-sun.

"Apakah malam ini semua orang akan makan malam bersama?" Namjoon melihat sekelilingnya yang sepi.

Kwang-sun menggelengkan kepalanya, "Tidak. Semuanya pergi menemui keluarga mereka."

"Hanya ada paman dan Seokjin?"

"Jangan lupakan keluargaku, Namjoon. Mereka juga ada di gedung ini." Kwang-sun tertawa kecil.

Namjoon tertawa mendengar perkataan Kwang-sun. Dia pun pamit pada pria berumur lima puluh enam tahun itu dan beranjak pergi untuk menemui Seokjin yang ada di lantai dua. Kwang-sun membalasnya dengan anggukan kecil, tidak lupa senyuman hangat yang tidak luntur sejak Namjoon datang.

Tangga merupakan pilihan Namjoon untuk saat ini. Dia merasa menggunakan tangga akan sangat membantu kakinya yang terasa sedikit kram karena duduk di kantor seharian. Dan hei, semua orang tahu bahwa menggunakan tangga lebih sehat daripada lift. Lagipula, apa susahnya naik ke lantai dua dengan tangga?

Namjoon mengetuk pintu apartemen Seokjin beberapa kali.

Suara ketukan itu menggema di seluruh penjuru lantai dua yang lengang. Di lantai itu hanya ada dua pintu apartemen, satu milik Seokjin dan satunya lagi milik tetangga Seokjin yang merupakan seorang wanita berumur tiga puluh dua tahun dan putrinya yang berumur sepuluh tahun.

Seokjin pernah bercerita bahwa wanita itu merupakan single parent karena suaminya meninggal dua bulan sebelum putrinya lahir.

Dan ngomong-ngomong soal Seokjin, perempuan itu menampakkan dirinya di depan Namjoon. Dan betapa senangnya Namjoon saat sepasang mata hazel, yang pada akhirnya, balas menatapnya.

Layak dirinya sewaktu pertama kali jatuh cinta pada kedua mata hazel itu, Namjoon merasakan desiran hangat di dadanya. Dia dapat merasakan jantungnya yang berdebar sangat kencang hingga Namjoon merasa jantungnya akan meledak.

Seharusnya saat ini Namjoon menyapa Seokjin. Tapi karena perasaan itu kembali. Perasaan yang dia rasakan saat dia memandang mata hazel indah dan menenangkan itu untuk pertama kalinya. Sebuah perasaan yang muncul saat kali pertamanya jatuh cinta. Perasaan yang hanya dia rasakan karena cinta pertamanya, Kim Seokjin.

Namjoon ingat sekali, dia masih duduk di bangku kuliah dua tahun lalu. Namjoon kehilangan alasan untuk hidup dan sudah berada di titik di mana dia ingin mengakhiri hidupnya. Orangtuanya menelantarkannya dan lebih memilih untuk bekerja, sedangkan adiknya dipindahkan ke Busan sejak mereka masih kecil.

Namjoon sama sekali tidak tahu harus dia apakan hidupnya saat itu. Dia putus asa.

Keputusan tersebut sudah bulat dan Namjoon tidak memiliki keraguan sedikit pun. Namjoon sudah muak dengan keluarganya yang berantakan.

Semakin cepat dia melakukannya, semakin cepat pula dia akan bebas. Mungkin itu yang ada di pikirannya saat itu. Tapi apa yang ada di hatinya berbeda.

Tepat di hari yang sama, Namjoon tidak sengaja menabrak seseorang yang membuat kehidupannya berubah 180 derajat. Seorang perempuan asing yang memiliki sepasang mata hazel yang indah dengan suaranya yang lembut. Perempuan itu berhasil membuatnya terpana dan membuatnya merasakan desiran aneh yang terasa sama asingnya dengan perempuan tersebut.

Namun sangat disayangkan, pertemuannya dengan perempuan itu tidak bertahan lama. Namjoon hanya dapat melihat perempuan asing itu dari dekat selama tidak lebih dari lima menit. Karena setelah perempuan itu meminta maaf padanya, perempuan itu melesat pergi menjauh. Perempuan itu meninggalkan Namjoon dengan perasaan asing yang masih saja melekat kuat.

Berkat pertemuan yang sangat singkat itu, Namjoon merubah keputusannya. Dia ingin tahu siapa perempuan asing tersebut.

Namjoon menjelajahi seluruh kampus hanya untuk melihat perempuan yang telah mencuri perhatian dan juga hatinya. Dia bertanya pada hampir semua mahasiswa, bahkan dosen dan mentor di kampus hanya untuk mengetahui nama perempuan tersebut.

Namjoon tidak memiliki keberanian yang cukup untuk bertanya pada perempuan itu sendiri. Bahkan menyapa sekali pun dia tidak berani. Jadi Namjoon memutuskan untuk menjaga jarak dan memendam perasaannya seorang diri.

Entah kenapa, tapi Namjoon memiliki perasaan bahwa dia akan kembali bertemu dengan perempuan itu. Dia tidak tahu kapan, tapi dia yakin hari itu akan datang.

Dan hari itu pun tiba tanpa dia sadari.

25 Desember.

Kedua kalinya Namjoon melihat pemilik bermata hazel itu dari dekat dan pertama kalinya Namjoon berkenalan dengan perempuan bernama Kim Seokjin.

Pertemuan itu terjadi beberapa bulan sebelum Namjoon mendapatkan master degreenya. Namjoon sangat ingat di mana kejadian itu berlangsung. Distrik Mapo-gu, jalan Wausan-ro. Tidak terlalu jauh dari tempat keduanya belajar, yakni Universitas Hongik.

Saat itu Seokjin tengah berlari karena dia takut terlambat masuk kelas siangnya. Dan kebetulan, Namjoon tengah berada di kedai kopi di depan jalan tersebut. Namjoon melihat Seokjin dari tempatnya berada dan dia tidak memiliki niatan untuk menghampiri perempuan tersebut. Namun semuanya berubah dalam sekejap mata.

Seokjin tidak menyadari mobil yang melaju kencang ke arahnya. Dia masih terus berlari hingga dia tiba di zebra cross untuk menyebrang. Namjoon yang melihat itu pun langsung berlari tanpa memedulikan kopinya yang jatuh.

Namjoon mendorong Seokjin hingga keduanya jatuh ke pinggir jalan. Seokjin selamat begitu pula dengan sang pengendara mobil.

Seokjin tidak henti-hentinya berterima kasih pada Namjoon. Dan entah dari mana Namjoon mendapatkan keberanian, tapi dia akhirnya berkenalan dengan Seokjin. Perempuan yang selama ini memenuhi pikiran dan hatinya dan orang yang telah membangkitkan semangatnya untuk hidup.

"Kaulah cinta pertamaku."

Seokjin memiringkan kepalanya, "Apa itu barusan, Joon?"

"Kau adalah cinta pertamaku dan harus menjadi cinta terakhirku." Namjoon menggenggam tangan Seokjin.

"Namjoon-ah, apa yang kau bicarakan?"

Namjoon hanya tersenyum, menampilkan lesung pipinya.

Tidak menjawab pertanyaan Seokjin, Namjoon melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping kekasihnya dan menyandarkan dagunya di pundak Seokjin.

"Hei, ada apa?" Seokjin balas memeluk Namjoon, "Apakah kau kedinginan? Sebaiknya kita segera masuk ke dalam. Aku takut kau sakit."

Namjoon hanya membalasnya dengan dehaman. Kedua matanya tertutup. Dia mengunci semua pergerakan Seokjin dan perempuan itu tidak bisa menahan tawanya saat Namjoon semakin merapatkan pelukannya.

"Malam ini kau milikku sepenuhnya." Namjoon bergumam di pundak Seokjin.

Seokjin mengangkat tangannya dan mengusap pelan surai coklat milik Namjoon. Dia pun tersenyum, "Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah sepenuhnya milikmu, Namjoon."

.

.

.

.

.

double update karena aku merasa selama ini aku selalu lama update di ffn.

aku juga ingin cerita ini cepat sampai di chap 20'an karena ceritanya sebenarnya sudah sampai situ di wattpad

tolong beritahu aku pendapat kalian tentang 'Hold On' sejauh ini^^