"Terima kasih banyak, nuna! Masakan nuna memang yang terbaik," seru seorang bocah laki-laki sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Seokjin tersenyum.
Seokjin mengulurkan tangan kanannya yang langsung diterima anak laki-laki di depannya, "Benarkah, Seo-ah? Padahal aku tidak terlalu pandai memasak jika dibandingkan dengan para koki di luar sana."
"Kalau begitu nuna jangan membandingkan diri sendiri dengan koki-koki lain. Karena bagi semua orang di sini, nuna merupakan koki terhebat dan tidak ada yang bisa mengalahkan masakan nuna!"
Seokjin tersenyum, "Terima kasih, Seo-ah."
Mereka berdua pun memasuki ruang tengah, di mana keluarga Kwang-sun berada. Tangan kanan Seokjin yang masih dipegang oleh Seo, diayunkan oleh sang bocah. Seokjin pun juga ikut mengayunkan tangannya dan aksinya tersebut berhasil membuat anak laki-laki berusia enam tahun itu tertawa.
"Nuna, ayunkan aku!" pinta Seo diselingi tawa. Permintaannya segera dikabulkan oleh Seokjin.
Suara tawa Seo semakin keras ketika Seokjin tiba-tiba mengangkatnya. Semua orang di ruangan itu juga ikut tertawa melihat Seokjin tengah bermain dengan bocah yang usianya berbeda 18 tahun dengan Seokijn.
Beberapa saat kemudian, Seo terlihat tertidur di pangkuan Seokjin. Bocah itu sudah menggunakan tenaganya hanya untuk bermain dengan nuna kesayangannya. Kwang-sun pun memakluminya.
"Kau tahu, Seokjin." Kwang-sun memperhatikan cucunya yang tertidur, "Seo Jun hampir setiap saat menghampiriku hanya untuk mencarimu. Dia bagaikan surat yang mencari keberadaan perangkonya, kau tahu?"
Seokjin tersenyum dan bergumam, "Benarkah?"
Tangannya tidak berhenti mengusap rambut Seo Jun, "Tapi kenapa dia terus mencariku? Pastinya dia juga mencari yang lain, bukankah begitu, Kwang-sun?"
Kwang-sun berdecak, "Anak itu jarang mencari yang lain. Hanya kau yang dia cari, Seokjin."
Kwang-sun lalu bergumam menambahkan, "Bahkan dia tidak mencariku yang jelas-jelas kakeknya."
Seokjin yang mendengar Kwang-sun mengeluh hanya dapat tertawa canggung.
Seokjin meminta maaf pada Kwang-sun. Pria yang berada di akhir lima puluhnya itu menggelengkan kepalanya, tamda bahwa Seokjin tidak perlu meminta maaf.
Seokjin mengedarkan pandangannya ke ruangan yang masih dipenuhi dengan anggota keluarga Kwang-sun. Dia pun berhenti ketika melihat Namjoon tengah bermain dengan cucu kedua Kwang-sun.
Dia dapat melihat Seung Jun, cucu kedua Kwang-sun, tertawa ketika Namjoon memperlihatkan ekspresi wajah, yang menurut Seokjin, konyol. Dan pada akhirnya, Seokjin ikut tertawa berkat Namjoon yang terus memperlihatkan wajah konyolnya.
"Apakah wajahku benar-benar lucu hingga kau tertawa sekencang itu?" Namjoon bertanya pada Seokjin.
Seokjin terkejut mendengar Namjoon. Dia tidak menyadari Namjoon yang memperhatikannya ketika dia tertawa.
Namjoon terkekeh melihat raut terkejut kekasihnya itu.
"Jujur saja, Namjoon, wajahmu lebih terlihat konyol daripada lucu," sela Kwang-sun.
Namjoon tertawa mendengar ucapan Kwang-sun
Melihat Namjoon tertawa, Seung Jun pun mengikutinya. Bocah berusia empat tahun itu tertawa hingga terlihat gigi kelincinya. Namjoon yang tidak tahan dengan keimutan Seung Jun pun mencubit kedua pipi Seung Jun sambil membuat suara konyol. Aksinya itu membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
Seung Jun yang dicubit pun mengeluh. Namun dia tetap tertawa, "Hyuuuung, berhentiiii..."
Keluhannya itu tidak didengar oleh Namjoon. Pipinya terus saja dicubit dan dicium-cium oleh Namjoon.
"Ya ampun, Namjoon, apakah kau masih lapar sampai kau melahap pipi cucuku?" lawak Kwang-sun.
Seokjin pun terpaksa menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk mencegah suara tawanya keluar. Dia tidak bisa tertawa lepas saat ini. Selain karena dia sedang bersama keluarga Kwang-sun, ada bocah enam tahun yang tertidur pulas di pahanya. Tentunya Seokjin tidak tega membangunkan bocah itu hanya karena dia tidak bisa menahan tawanya.
"Hyuuuuuung..." Seung Jun kembali menggerutu.
Tangannya yang kecil mencoba melepaskan tangan Namjoon yang jauh lebih besar dari pipinya. Karena merasa kasihan, Namjoon pun melepaskan pipi Seung Jun dengan berat hati.
Setelah meminta maaf kepada Seung Jun dan kembali mencium pipi bocah itu, Namjoon mengalihkan pandangannya ke Seokjin.
"Apa?" Seokjin bergumam tanpa suara.
Namjoon pun menunjuk jam dinding di ruangan itu. Seokjin mengikuti arah yang ditunjuk Namjoon. Dia langsung mengerti apa maksud Namjoon.
Saat ini sudah pukul setengah tujuh pagi. Sudah saatnya dia dan Namjoon berangkat ke apartemen Taehyung dan Jungkook.
Kemarin malam saat dia dan Namjoon bersiap-siap untuk tidur, Seokjin mengusulkan untuk berkunjung ke apartemen Taehyung dan Jungkook, mengingat ini akan menjadi natal pertamanya dengan mereka. Dan pertama kalinya Namjoon merayakan natal dengan Taehyung setelah bertahun-tahun berpisah.
Mendengar usulan Seokjin, Namjoon pun menyetujuinya. Dia berkata akan lebih baik jika mereka berdua berangkat pagi sehingga mereka bisa tinggal lebih lama.
Namjoon pun berdiri. Seokjin meminta tolong untuk mengangkat Seo Jun dari pangkuannya. Namjoon tertawa kecil ketika melihat Seokjin yang kesusahan.
"Kalian ada acara?" Istri Kwang-sun bertanya.
Seokjin tersenyum kecil, "Kami ingin mengunjungi adiknya Namjoon. Sudah lama sejak Namjoon dan adiknya merayakan natal bersama. Jadi kami berpikir akan sangat bagus jika kami mengunjunginya."
Istri Kwang-sun pun membalasnya dengan tersenyum. Dia pun berdiri dan menghampiri cucu keduanya. Seung Jun langsung meraih tangan neneknya. Mereka berdua berjalan ke pintu depan bersama Namjoon, Seokjin, dan Kwang-sun.
Namjoon membungkuk, "Maaf jika kami merepotkan kalian."
"Kalian sama sekali tidak merepotkan. Kalian tidak tahu betapa senangnya Seo Jun dan Seung Jun saat melihat kalian berdua datang," jelas istri Kwang-sun sambil mencium pipi cucu keduanya yang berada di gendongannya.
Senyuman lebar terpampang di wajah Namjoon hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Apakah Seungie-ah dan Seo-ah jadi nakal karena hyung dan nuna datang?"
Kwang-sun dan istrinya terkekeh melihat cucu mereka yang digelitiki Namjoon. Seokjin pun tertawa kecil melihat Seung Jun mencoba untuk menggapainya dan meminta tolong kepadanya namun dicegah Namjoon.
"Baiklah, sudah saatnya hyung dan nuna berangkat." Namjoon berujar yang dibalas dengan keluhan bocah di depannya.
"Seungie-ah, hyung harus bertemu adik hyung. Apakah hyung tidak boleh bertemu dengan adiknya?"
Seung Jun menggelengkan kepalanya, "Hyung boleh bertemu adik hyung. Tapi hyung harus berjanji akan bermain dengan Seungie dan Seo-hyung."
Namjoon pun menganggukan kepalanya. Dia mengulurkan jari kelingkingnya, "Baiklah, hyung berjanji akan bermain ke sini lagi."
"Yay! Hyung akan bermain dengan Seungie lagi!"
Ketiga orang dewasa yang menyaksikan interaksi itu tidak bisa untuk tidak tersenyum. Beberapa saat kemudian, Seokjin pamit kepada Kwang-sun dan istrinya. Dia tidak lupa memberikan ciuman di kening Seung Jun dan sebuah fly kiss yang selalu dia berikan kepada Seung Jun dan juga Seo Jun.
"Aku tidak tahu kau akan melakukan gestur itu," sahut Namjoon saat mereka sudah di dalam mobil.
Seokjin mengerutkan dahinya, "Gestur apa?"
"Barusan itu. Kau memberikan Seung Jun sebuah fly kiss."
Sebuah 'oh' pun keluar dari mulut Seokjin.
"Ya, aku selalu memberikan Seung Jun dan kakaknya sebuah fly kiss dan terkadang lebih dari satu kali."
Namjoon berdecak, "Ck, sepertinya aku memiliki dua saingan berat walaupun keduanya masih kecil."
Seokjin tertawa. Dia tidak tahu bahwa kekasihnya bisa iri dengan dua bocah yang umurnya berpaut sangat jauh. Benar-benar konyol.
.
.
.
"Kapan kau mengadopsinya, Tae?"
"Beberapa hari lalu. Bukankah dia lucu, hyung? Astaga, kau makhluk kecil imut tidak berdosa."
Namjoon tertawa geli mendengar perkataan Taehyung. Adiknya itu terlihat sangat sibuk mencium seekor anak anjing yang telah menjadi bagian anggota keluarga mereka, setidaknya itu yang Taehyung katakan padanya.
"Tae, berhentilah mencium 'anak'mu."
"Dan untuk benar-benar mengira kau telah menyerang Seung Jun dengan beribu-ribu ciuman," sela Seokjin yang mengaduk coklat hangatnya.
Namjoon menunjuk dirinya, "Aku mencium Seung Jun yang jelas-jelas anak kecil. Berbeda dengan Taehyung yang mencium Yeontan yang jelas-jelas bukan anak kecil."
"Tae sudah menganggap Yeontan sebagai anaknya sendiri, Namjoon-oppa," bela Jungkook.
Taehyung tersenyum lebar, "Itu benar sekali, Kookie-ah!"
Seokjin tertawa ketika melihat kekasihnya yang menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Jungkook katakan. Tidak lama setelah itu, Seokjin mendapati Namjoon yang kini asyik bermain bersama anak anjing yang baru diadopsi Taehyung.
"Aku tidak tahu Namjoon-oppa menyukai anjing." Jungkook berujar seraya melihat interaksi Taehyung dan Namjoon.
Seokjin menjawab, "Dia memang suka anjing, tapi tidak ingin kesusahan merawatnya."
Jungkook tertawa kecil, "Sepertinya dia lebih memilih untuk merepotkanmu."
Seokjin pun terdiam sejenak. Seulas senyuman muncul di wajahnya, "Ya, sepertinya begitu."
.
.
.
Sore itu, Namjoon mengundang Jimin, Hoseok, dan Yoongi ke rumahnya dalam rangka merayakan natal bersama. Tentunya mereka tidak bisa menolak. Ini sudah menjadi tradisi selama sekitar empat tahun lalu.
Suara kaca bertemu kaca terdengar nyaring di ruangan yang luas tersebut. Dipadukan dengan suara orang-orang saling berbincang. Seokjin mengernyit ketika merasakan cairan hangat namun tajam itu mengalir di tenggorokannya. Dia tidak terlalu suka minum wine atau minuman anggur lainnya.
"Sepertinya kau masih belum terbiasa dengan minuman itu, Seokjin-ah." Suara Min Yoongi menyapanya.
Seokjin pun mengibaskan sebelah tangannya, "Kau tahu aku tidak suka minum-minum, Yoongi."
"Aku juga tidak," balas Yoongi.
Keduanya diam hingga Jungkook datang menghampiri dan menyapa Seokjin dan Yoongi.
"Kalian tidak minum seperti yang lainnya?" tanya Jungkook.
"Tidak, Jungkook-ah. Aku dan Seokjin tidak suka minum-minum," ujar Yoongi sambil lalu-lalang.
"Baguslah." Jungkook tersenyum, "Aku pikir hanya aku yang tidak minum di sini."
"Bagaimana jika aku buatkan minuman hangat untuk kita bertiga? Aku yakin Namjoon tidak keberatan jika aku mengobrak-abrik dapurnya," tawar SeokJin pada kedua perempuan yang lebih muda darinya.
Yoongi dan Jungkook saling bertatapan. Tawaran Seokjin tidak terdengar buruk. Mereka tidak bisa minum minuman keras seperti pria-pria yang ada di ruangan tengah.
Yoongi menatap Seokjin, "Coklat panas?"
Seokjin mengangguk.
.
.
.
"Berhentilah memasang topengmu, Namjoon-ah."
Namjoon mengalihkan pandangannya ke arah kirinya.
"Apa maksudmu, Hoseok?" Kening Namjoon mengerut.
Hoseok menyesap wine yang tersisa di gelasnya. Dia kemudian berjalan ke Namjoon dan menepuk pelan pundak pria yang lebih tua dua tahun darinya.
"Jangan bertingkah seolah-olah kau tidak tahu, Namjoon. Aku dapat melihatnya walaupun samar-samar." Hoseok berujar sambil menunjuk wajah Namjoon.
"Kau cukup baik menyembunyikannya dari Seokjin. Aku salut padamu, bro."
Namjoon menghela napas dan mengempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di belakangnya. Hoseok pun ikut duduk, namun dengan raut muka yang lebih rileks.
"Jadi, apa masalahnya?"
"Seokjin," jawab Namjoon singkat.
Hoseok mengerutkan alisnya, "Seokjin? Memangnya ada apa dengannya?"
"Apakah kalian bertengkar?" tebak Hoseok.
Erangan kesal keluar dari mulut Namjoon. Hal tersebut membuat Hoseok semakin khawatir dengan sahabatnya tersebut.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kemarin Taehyung memberitahuku bahwa ayahku telah meninggal dua tahun lalu dan ibuku akan kembali ke Seoul." Namjoon menjelaskan dengan kening yang berkerut.
Hoseok pun terkejut mendengarnya. "Ayahmu meninggal?"
Namjoon berdeham sebagai jawaban. Dia tahu Hoseok pasti terkejut mendengar berita tersebut. Tapi dia tidak peduli sedikit pun. Saat ini, yang Namjoon pedulikan hanya tentang ibunya yang akan kembali dari Jepang.
Namjoon mengalihkan pandangannya ke Seokjin yang berada di dapur, "Aku takut ibuku akan menyakiti Seokjin."
"Woah woah, tunggu sebentar kawan. Menyakiti Seokjin? Apa maksudmu dengan kalimat yang terakhir itu?"
"Jika wanita tua itu melihat Seokjin, dia hanya akan mengomentari Seokjin. Lagipula, kau sendiri tahu bahwa ibuku memandang seseorang dari kaya atau tidaknya orang tersebut."
Mau tidak mau, Hoseok pun setuju dengan Namjoon. Karena itulah kenyataannya.
Hoseok ingat saat dia pertama kali bekerja di perusahaan Kim. Saat itu, dia masih dalam masa orientasi. Hoseok harus mengenali dan menghafal tempat-tempat yang ada di gedung bertingkat terebut, ditambah dengan sektor-sektor yang ada juga. Dan dari sanalah dia mengetahui orangtua Namjoon. Tepatnya saat dia tidak sengaja mendengar percakapan Namjoon dengan ibunya lewat telepon.
"Dengar, aku tahu kau merupakan ibuku. Tapi itu di mata orang-orang. Bagiku, kau bukanlah ibuku dan juga Taehyung."
Hoseok tidak seharusnya mendengar percakapan tersebut. Tapi karena rasa penasarannya sangat besar, dia pun akhirnya mendengarkan.
"Berhentilah menjodohkanku dengan anak orang yang hanya kau pandang sebelah mata! Sebaiknya kau tahu bahwa uang tidaklah penting bagiku! Dan ingat ini baik-baik. Kebahagiaan tidak selalu dalam bentuk uang ataupun kekayaan."
Bohong jika Hoseok lupa dengan perkataan Namjoon. Berkat perkataan Namjoon, Hoseok kembali mengingat masa lalunya.
"Kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dan kalaupun bisa, aku yakin harganya akan sangat mahal."
Dia benar-benar dibuat bisu oleh kata-kata Namjoon. Hingga sekarang pun masih sama.
"Kebahagiaan tidak bisa beli, huh? Kau benar-benar hebat, Namjoon." Hoseok bergumam dengan bibir menempel di pinggiran gelas.
Namjoon mengibas tangannya, "Itu hanya sebuah kalimat yang sudah lama. Lebih baik jika dilupakan saja."
Ketika Namjoon hendak berdiri, Hoseok kembali berkata, "Ya, memang sebuah kalimat lama. Tapi kalimat tersebut memiliki arti yang mendalam. Aku yakin kalimat itu akan membuat semua orang yang mendengarnya bisu seketika."
Namjoon mendengus dan menyesap winenya, "Semua orang kecuali wanita itu. Dia tidak akan berubah bahkan jika aku atau Taehyung menceramahinya."
"Yah, begitulah. Bukan hanya ibumu yang memandang sesuatu atau seseorang sebelah mata, kau tahu?"
Namjoon menyipitkan matanya, "Kau terdengar seperti mendukung wanita itu."
"Oh please, jangan mengambil kesimpulan seperti itu, Namjoon. Aku hanya mengatakan sebuah fakta." Hoseok mengangkat kedua tangannya.
Namjoon tertawa mendengar pembelaan Hoseok terhadap dirinya sendiri. Dia juga tahu bahwa Hoseok tidak ada niatan untuk mendukung ibunya.
"Jangan khawatir, aku tahu kau tidak akan sudi bersekokong wanita itu."
Hoseok memutar matanya, "Terserah kau saja, Tuan Kim."
Namjoon tertawa ketika mendengar nada menyerah Hoseok. Hoseok sendiri pun tertawa.
"Berjanjilah padaku kau akan berhenti memasang topeng itu," ucap Hoseok seusai sesi ketawanya.
Namjoon terdiam sejenak.
"Aku akan berusaha."
