"Baiklah anak-anak! Lima menit lagi kalian harus mengumpulkan post test!"

Murid-murid yang mendengar seruan dari guru tersebut mengeluarkan erangan kesal. Suasana di kelas tiba-tiba berubah menjadi gaduh karena bisik-bisik dari para murid. Entah karena mereka bertanya tentang soal, jawaban, atau hanya sekedar bertanya apakah ada yang sudah selesai.

Suasana kelas yang normal ketika di akhir-akhir waktu ujian.

"Psst, Hoseok-ssi."

Hoseok menoleh ke belakang. Dia langsung bertatapan dengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Dari raut wajah laki-laki itu, Hoseok dapat menebak apa yang akan terjadi selanjut.

Dia pasti akan bertanya entah tentang soal atau jawaban, pikir Hoseok.

"Apa kau tahu nomor lima belas?" Laki-laki itu bertanya dengan suara pelan.

Hoseok memutar matanya, "Tentu saja aku tahu."

Wajah laki-laki itu berseri-seri, "Benarkah?"

"Ya." Hoseok menyeringai, "Tapi aku tidak akan memberitahumu. Selamat menyelesaikan soal sialan itu."

Hoseok berdiri dengan kertas soal dan jawabannya di tangannya. Dia kemudian berjalan ke depan kelas sambil melambaikan tangannya ke arah laki-laki yang duduk di belakangnya.

"Aku sudah selesai." Hoseok berujar sambil melempar kertas post testnya ke guru yang tengah duduk di depan kelas.

Hoseok kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu kelas. Dia tidak memedulikan panggilan gurunya dan tatapan tidak percaya dari murid-murid di kelas. Lagipula, untuk apa dia memedulikan mereka semua? Sebentar lagi dia akan lulus dan yang Hoseok pedulikan saat ini adalah keluar dari bangunan menyebalkan ini.

Hanya itu yang dia pedulikan.

.

.

.

Bel istirahat berbunyi. Semua murid dari kelas sepuluh hingga dua belas dipersilahkan keluar kelas dan beristirahat. Guru-guru yang mengajar juga ikut keluar kelas. Tapi itu setelah mereka memberikan tugas atau projek untuk murid-muridnya.

Hoseok sudah keluar dari kelasnya bahkan sebelum bel berbunyi. Dia berpikir jika dia sudah selesai mengerjakan post test maka sudah seharusnya dia keluar.

Sekarang, Hoseok sedang berdiri di depan salah satu kelas sepuluh. Murid-murid yang berada di lantai tersebut mempercepat jalannya ketika mereka berada di dekat Hoseok. Hoseok sendiri tidak peduli karena ini semua sudah biasa baginya.

Jung Hoseok. Nama seorang pemuda yang ditakuti seluruh sekolah sejak dia di tahun pertamanya. Seorang murid yang berlagak dan kelihatan seperti berandalan yang tidak peduli dengan sekitarnya dan juga pembuat onar sekolah nomor dua. Kenapa nomor dua? Karena orang yang menempati nomor satu tersebut adalah seorang senior yang sudah lulus dua tahun lalu dan merupakan teman dekat Hoseok.

Sebut saja nama Hoseok dan teman dekatnya itu, maka semua murid akan berubah pucat dan diam mematung. Sedangkan guru-guru hanya akan menghembuskan napas lelah dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak ada yang tahan dengan dua laki-laki tersebut.

"Hoseok-oppa!"

Hoseok mengangkat kepalanya ketika mendengar suara feminim itu. Dia kemudian tersenyum kala melihat seorang perempuan berjalan ke arahnya dengan melambaikan tangan.

"Apakah kau sudah menunggu lama?" Perempuan tersebut bertanya setelah dia berdiri di depan Hoseok.

Hoseok menggelengkan kepalanya, "Sudahlah. Kau selalu menanyakan hal yang sama setiap kali aku menjemputmu. Bagaimana jika aku mentraktirmu, Jihoon-ah?"

"Terima kasih, tapi kakakku sudah membuatkanku bekal." Jihoon, sang perempuan, menolak dengan lembut.

Dia mengangkat tempat makannya dan memperlihatkannya pada Hoseok.

Hoseok tersenyum, "Baiklah, kalau begitu di mana kita akan makan?"

Jihoon terlihat sedang berpikir. Beberapa saat kemudian, perempuan itu tersenyum lebar dengan wajah yang berseri-seri.

"Atap sekolah!" seru Jihoon.

Hoseok tertawa pelan, "Baiklah, atap sekolah kalau begitu."

.

.

.

Malam di Seoul akan menyuguhkan pemandangan indah jika dilihat dari bangunan bertingkat. Lampu-lampu menyala terang, garis-garis bercahaya membentang sangat panjang, berpadu denga kerlip lampu gedung maupun rumah.

Namun di saat seperti sekarang digunakan Hoseok dengan mengunjungi klub malam. Hoseok belum diperbolehkan minum bir, tapi laki-laki itu tetap menelan cairan tersebut tanpa peduli umurnya. Selain itu, Hoseok juga membayar seorang perempuan untuk memenuhi nafsunya, tidak peduli seberapa mahal perempuan-perempuan itu meminta. Kedua hal tersebut sudah sering dia lakukan sejak dia berada di kelas sebelas.

Bagi Hoseok, uang merupakan segala-segalanya. Dengan uang, semua masalah bisa diselesaikan. Dan dengan uang, dia bisa memuaskan dirinya sepuas yang dia mau.

Semua ini terasa normal bagi Hoseok, tapi tidak bagi teman dekatnya yang selalu dia ajak ke klub.

"Kau harus berhenti memainkannya, Hoseok."

Seakan-akan tuli, Hoseok tetap sibuk mencium perempuan yang duduk di pangkuannya. Tangannya bergerilya menyentuh badan perempuan tersebut. Dia hampir menyentuh bokong perempuan tersebut namun dicegah oleh laki-laki di sampingnya.

Hoseok melepas pagutannya dengan perempuan di pangkuannya dan memicingkan matanya ke laki-laki di sampingnya, "Apa maumu, Namjoon?"

"Hentikan semua ini." Namjoon menyandarkan punggungnya ke sofa, "Kau hanya akan menyakiti perasaan Jihoon."

Hoseok berdecak, "Seperti kau tidak pernah mencium perempuan saja."

"Hei." Namjoon menarik kerah Hoseok, "Aku memang mencium banyak perempuan, tapi itu dulu. Dan aku tidak pernah mencium perempuan lain ketika aku memiliki kekasih."

"Kekasih yang tidak kau cintai, maksudmu?" Hoseok menyeringai.

Namjoon berdecak, dia melepaskan kerah Hoseok secara kasar.

"Aku merupakan seorang pria yang nafsunya perlu dipenuhi, Namjoon." Hoseok menggelengkan kepalanya, "Jihoon tidak bisa memuaskanku bahkan jika aku memaksanya dia tetap tidak akan mau."

Namjoon berdecak, "Dasar bajingan. Jihoon merupakan adik kelasmu, jangan seenaknya memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan."

Hoseok mengangkat bahunya.

"Jika kau menjadi aku, kau juga akan melakukan hal yang sama." Hoseok berujar santai.

Namjoon tertawa meremehkan, "Beruntungnya, aku bukan dirimu."

"Sekedar informasi saja, definisi dari seorang pria adalah orang yang tidak akan menyakiti fisik, mental, atau hanya sekedar perasaan seorang wanita, Jung." Namjoon menambahkan, "Kau benar-benar seorang bajingan."

Hoseok menatap tajam Namjoon, "Jika kau tidak menyukainya, lalu kenapa kau membiarkanku melakukan ini semua, huh?"

Namjoon mengarahkan telunjuknya ke Hoseok dengan tatapan tajam, "Aku sudah memberitahumu berkali-kali, tapi apakah kau mendengarkan? Tidak, kau seakan-akan tuli dengan semua nasihatku."

"Ini terakhir kalinya aku menasihatimu, Hoseok. Aku memperingatkanmu."

"Baiklah, baiklah, Pak Tua." Hoseok melambaikan tangannya.

Namjoon menatap tajam Hoseok beberapa saat sebelum dia beranjak pergi, meninggalkan Hoseok dengan perempuan berambut pirang yang masih tetap di pangkuannya.

"Apakah semuanya baik-baik saja?"

Hoseok berdeham, "Ya, semuanya baik-baik saja."

Sebuah seringaian kembali muncul di wajahnya. Tangannya kembali bergerilya hingga sampai di bokong perempuan yang tak dikenalnya tersebut.

Hoseok memajukan wajahnya dan berbisik, "Bagaimana jika kita lanjutkan kegiatan kita barusan?"

.

.

.

Empat bulan berlalu dan Hoseok lulus dengan nilai yang memuaskan. Dia menjadi murid dengan nilai terbaik ketiga di angkatannya walaupun sikapnya yang tidak senonoh. Semua guru yang hadir di acara kelulusan tersebut memberikan penghormatan mereka dengan berdiri dan bertepuk tangan kepada tiga murid dengan nilai terbaik. Semua murid yang mengetahui nilai Hoseok pun dibuat terkejut, namun mereka tetap bertepuk tangan untuk Hoseok dan dua murid lainnya.

Hoseok mengedarkan pandangannya ke audiens yang terdiri dari para murid, guru, dan juga orangtua. Namun keningnya berkerut ketika dia tidak melihat seseorang tertentu.

Jihoon tidak ada di sana.

Setelah pemberian penghargaan serta serangkaian acara lainnya, Hoseok pamit kepada kedua orangtuanya untuk mencari Jihoon. Dia bertanya kepada beberapa murid dan guru mengenai keberadaan Jihoon, namun mereka semua menggelengkan kepalanya.

Hoseok sudah mencoba menghubungi Jihoon hingga lima kali, tapi semua panggilannya tidak diangkat. Saat Hoseok mencoba yang ke enam kalinya, dia melihat sosok perempuan yang sangat dikenalnya.

Senyuman mengembang di wajahnya, Hoseok pun berlari ke sosok tersebut.

Namun senyuman tersebut luntur ketika seseorang menamparnya di pipi. Yang menamparnya bukan kekasihnya, melainkan perempuan lain.

"Berani-beraninya kau memainkan Jihoon."

Hoseok mengangkat kepalanya dengan tangan di pipinya yang merah. Dia menatap tajam perempuan yang baru saja menamparnya.

"Dan menurutmu kau siapa?" Hoseok bertanya dengan sinis.

"Aku adalah kakaknya Jihoon. Min Yoongi."

Suara perempuan tersebut terdengar lantang, tegas, dan mantap. Dia berdiri tegap dengan jubah hitam menutupi pakaiannya dan toga di kepalanya. Tidak lupa medali di lehernya. Kulit perempuan tersebut terlihat sangat mulus namun pucat. Dengan make up tipis di wajahnya, membuatnya terlihat sangat menawan.

Namun penampilan perempuan tersebut tidak membuat Hoseok terpana, melainkan apa yang baru saja dikatakan perempuan itu.

"Selama ini aku tahu kau mengencani Jihoon." Yoongi melanjutkan, "Dan aku juga tahu kau telah membayar banyak perempuan untuk memenuhi nafsumu yang menjijikan selama kau menjadi kekasih Jihoon."

Jihoon yang sedaritadi menyaksikan di belakang kakaknya, tidak melakukan apa-apa. Dia tidak bergegas ke samping Hoseok ketika kakaknya menampar laki-laki itu. Dia tidak ingin membantu Hoseok karena dia kecewa dan sedih.

"Apa yang kau katakan? Itu sama sekali tidak benar!" Hoseok berteriak dengan kencang.

Yoongi berdecak. Perempuan itu berkacak pinggang dan menatap Hoseok dengan tatapan dinginnya.

"Kalau begitu jelaskan foto ini, Hoseok-ssi." Yoongi mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya ke Hoseok.

Mata Hoseok terbuka lebar.

Di foto tersebut, terlihat jelas sekali Hoseok tengah duduk dengan seorang perempuan berambut pirang di pangkuannya. Dan yang lebih buruk lagi, di foto tersebut memperlihatkan Hoseok yang tengah mencium perempuan di pangkuannya.

"A-aku...foto ini..."

Hoseok berkeringat. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Pandangannya masih tertuju ke foto yang terpampang di ponsel Yoongi.

"Jangan mencoba membela dirimu sendiri, Hoseok-ssi. Jika kau tidak puas dengan bukti tersebut, aku memiliki saksi mata."

Tepat setelah Yoongi berbicara, Hoseok dapat melihat dua laki-laki berdiri di belakang Yoongi dan Jihoon. Hoseok kenal dengan dua laki-laki tersebut. Murid satu angkatannya, Park Jimin dan satunya lagi adalah teman dekatnya, Namjoon.

"Foto itu," Hoseok menelan ludahnya, "Dari mana kau mendapatkannya?"

Yoongi menatap Hoseok datar, dia menunjuk ke belakangnya, " Jimin, yang mengirim foto tersebut. Dia diminta untuk mengisi shift temannya walaupun dia tidak bekerja di bar itu. Dan kebetulan sekali, dia melihatmu."

Hoseok memberengut, "Kekasih pendekmu itu berbohong."

"Satu hal lagi yang perlu kau tahu, Hoseok-ssi," Yoongi menunjuk Namjoon, "Namjoonlah yang mengonfirmasikan kebenaran foto tersebut. Dia juga memberitahuku dan Jihoon tentang kebiasaan kotor dan menjijikanmu untuk datang ke bar."

Hoseok terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Ada dua penyebab. Satu, dia masih kalut dengan foto yang Yoongi perlihatkan. Dan dua, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Yoongi. Namjoon yang merupakan teman dekatnya, sahabatnya, sosok yang bagaikan kakaknya, membongkar rahasia tergelap dan terdalamnya?

"Namjoon." Hoseok membersut, "Kau pengkhianat."

Namjoon menatap Hoseok dengan tatapan datar, "Kau menyebutku pengkhianat padahal kau sendiri yang seharusnya disebut demikian."

"Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan Jihoon saat kau mencium perempuan yang bahkan tidak kau kenal?" Namjoon memicingkan matanya.

"Diam kau!" teriak Hoseok.

Namjoon berdecak, "Kau memanggil dirimu sendiri 'pria' tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau terlihat seperti seekor rusa yang tertangkap lampu depan mobil. Kau bukanlah seorang pria, Hoseok, tapi lebih tepatnya seorang pecundang."

Tidak terima dengan kalimat Namjoon, Hoseok berlari ke arah Namjoon dengan tangan terkepal. Beberapa detik kemudian, Namjoon terpental ke lantai dengan Hoseok yang menindihnya. Tidak selesai di situ, Hoseok kembali melayangkan tinju ke wajah Namjoon bertubi-tubi. Namjoon tidak mendapatkan waktu untuk menahan tinju Hoseok, membuatnya menjadi mangsa empuk di mata Hoseok.

Suara jeritan dan teriakan terdengar menggema di ruangan itu. Para guru dan murid yang melihat kejadian tersebut berteriak menyuruh Hoseok untuk berhenti. Beberapa murid laki-laki berlari menghampiri Hoseok dan Namjoon. Mereka semua mencoba menjauhkan Hoseok dari Namjoon. Jimin pun ikut serta, dia membantu Namjoon berdiri lain sedangkan Hoseok ditahan oleh tiga murid laki-laki.

Hoseok meronta untuk dilepaskan namun usahanya sia-sia. Security yang mendengar kegaduhan dari luar, berlari ke dalam ruangan dan dengan cepat menahan Hoseok dan membawanya keluar dari ballroom.

Setelah pintu ballroom yang besar tertutup, Jimin menghembuskan napas lega. Dia kemudian berbalik untuk mengecek keadaan Namjoon.

Jimin meringis ketika melihat wajah Namjoon yang babak belur. Sudut bibir Namjoon robek dan darah segar mengalir dari mulut laki-laki itu. Mata kanan Namjoon lebam dengan warna merah di kelopak matanya. Terdapat luka memar di pipi Namjoon yang jika tidak segera dikompres akan berubah ungu.

Yoongi dan Jihoon berlari menghampiri Namjoon yang terkapar di lantai. Yoongi segera menghubungi rumah sakit tempat ibunya bekerja setelah dia menyadari bahwa Namjoon tidak sadarkan diri. Jihoon menangis tersedu-sedu sejak Hoseok meninju Namjoon tanpa ampun. Jimin dan seorang guru mencoba untuk mengobati wajah Namjoon dengan mengompres mata dan pipinya dan memberikan salep di sudut bibirnya.

Itu merupakan hari yang tidak bisa dilupakan Hoseok dan juga Namjoon.

.

.

.

"Sialan kau, Kim!" Hoseok berseru dengan suara yang menderu.

Saat ini, Hoseok berada di apartemennya yang kini terlihat akan hancur. Vas-vas bunga serta keramik ini dalam kondisi terpecah-belah, kasurnya terlihat seperti habis dicakar harimau dengan seprai yang robek, kapas dari bantal maupun guling berserakan di mana-mana. Terdapat serpihan-serpihan kayu di lantai kamar Hoseok.

"Dasar pengkhianat!" Hoseok berteriak dengan suara parau.

Keadaan apartemen Hoseok mencerminkan keadaan fisik dan mental pemiliknya.

Semua ini terjadi karena Jihoon memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Hoseok. Dia menyuruh Hoseok untuk menjauh darinya dan untuk melupakan semua hal yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

Di saat mendengar rentetan kalimat tersebut diucapkan oleh Jihoon, Hoseok merasa seperti hatinya baru saja ditusuk. Tapi ada hal lain yang semakin menusuk hatinya, membuat hatinya semakin berdarah dan semakin terluka.

Adalah Namjoon, teman dekatnya yang telah dia kenal sejak dia berumur lima tahun, yang memberitahu kakak-beradik Min tentang semuanya. Dari kebiasaan buruknya hingga kejadian malam itu.

Lima bulan setelah kejadian tersebut, Hoseok dan Namjoon tidak bertemu. Hoseok bahkan tidak tahu bagaimana kabar Namjoon setelah dia dibawa pergi dari ballroom. Mereka berdua memutuskan kontak.

Hoseok merasa bersalah, namun karena egonya terlalu besar, dia tidak menemui Namjoon. Setiap kali orangtuanya menyuruhnya untuk menemui Namjoon dan untuk meminta maaf kepada pria itu, Hoseok hanya akan diam dan tidak merespon perkataan orangtuanya.

Inilah yang terbaik untuk mereka semua, pikir Hoseok.

Tapi walaupun dia terus berpikir demikian, hatinya berkata lain hal.

Hoseok tenggelam di perasaan bersalahnya, dia jatuh depresi. Hoseok tidak keluar dari apartemennya selama hampir tiga bulan. Orangtuanya mengkhawatirkan keadaan Hoseok dan juga perkuliahannya. Dalam beberapa minggu, Hoseok harus berkuliah dan dia memutuskan kontak dengan orangtuanya.

Dua bulan kemudian, barulah Hoseok menampakkan batang hidungnya di kampus. Dia meminta maaf kepada para dosen serta orangtuanya. Hoseok menggunakan satu bulan pertamanya di kampus untuk mengejar materi yang dia lewatkan selama kurang lebih dua bulan.

Semuanya berjalan lancar, kehidupan barunya di kampus membuatnya sibuk dan membantunya untuk melupakan masalah yang terjadi di acara kelulusannya. Namun, apa yang Namjoon pernah beritahu memang benar, kita tidak bisa terus menghindari masalah yang telah kita buat karena pada akhirnya, masalah itu yang akan menghampiri kita.

Sebulan kemudian, Hoseok berpas-pasan dengan Namjoon di koridor kampus. Hoseok terkejut ketika Namjoon hanya berjalan melewatinya. Dia pikir Namjoon akan meninjunya sebagai balasan saat di acara kelulusan.

Tidak sampai di situ, Hoseok kembali bertemu dengan Yoongi dan Jimin. Mereka ditugaskan untuk mengerjakan proyek secara berkelompok. Pasangan tersebut tidak berkata sepatah kata pada Hoseok, bahkan menyambutnya saja tidak.

Merasa lelah terus menghindar, Hoseok akhirnya mendatangi Namjoon.

Saat Hoseok ingin bertemu dengan Namjoon, pria itu sedang berada di kantin dengan Jimin, Yoongi. Awalnya, Namjoon menatapnya datar dan hendak pergi jika saja Hoseok tidak menahan pria itu.

"Apa yang kau mau?" tanya Namjoon datar.

"Aku ingin memperbaiki semuanya." Hoseok menelan ludahnya, "Aku ingin meminta maaf."

Yoongi berdecak, dia berdiri dan memandang Hoseok dengan dahi yang terlipat, "Kau bilang kau ingin memperbaiki ini semua, bukan?"

Hoseok mengangguk.

"Kalau begitu, apakah kau bisa memperbaiki perasaan Jihoon yang telah kau sakiti?"

Hoseok diam.

Yoongi berjalan keluar kantin. Beberapa detik sepeninggalan Yoongi, Jimin berbicara.

"Aku memaafkanmu, Hoseok." Jimin berujar dengan senyuman di wajahnya.

Hoseok membelalakan matanya, "Benarkah?"

Jimin mengangguk, kemudian menggeleng, "Aku memaafkanmu, tapi bukan akulah yang seharusnya memaafkanmu."

"Kau tidak salah apa pun padaku, Hoseok," lanjut Jimin.

Hoseok terdiam. Itu benar, dia tidak memiliki salah apa pun pada Jimin.

Hoseok menoleh ke Namjoon.

"Apa?" Namjoon bertanya dingin.

Hoseok membuka mulutnya, namun didahului Namjoon, "Jika kau ingin meminta maaf, baiklah, aku akan memaafkanmu."

Hoseok membuka matanya lebar, senyuman kecil muncul di wajahnya.

"Tapi, kau harus meminta maaf pada Yoongi dulu." Namjoon menjelaskan, "Aku tidak akan memintamu untuk meminta maaf pada Jihoon karena aku tahu kau tidak berani melakukannya. Lagipula, perempuan itu juga menyuruhmu untuk menjauhinya."

Hoseok mengangguk pelan.

Itu tidak apa-apa, dia bisa meminta maaf kepada Yoongi walaupun membuat Yoongi memaafkannya akan sulit. Tapi jika itu berarti Namjoon akan memaafkannya dan dia dapat berteman kembali dengan mereka ertiga, maka Hoseok akan melakukannya.

Tidak masalah jika dia tidak bisa membuat Jihoon memaafkannya, dia juga tidak akan memaafkan dirinya sendiri setelah apa yang telah dia lakukan.

Sebagai balasannya, Hoseok akan melakukan permintaan terakhir Jihoon. Hoseok akan menjauh dari Jihoon dan dia juga akan melupakan semua hal yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

.

.

.

.

.

Ini merupakan bagian cerita yang fokus pada masa lalu Hoseok. Sekedar informasi saja, Hoseok belum mengenal Seokjin di time setting ini.

Aku harap kalian menyukai bagian cerita ini ^^