"Ini lezat sekali!"

Seokjin tersenyum mendengar pekikan Jungkook. Taehyung yang duduk di samping Jungkook, mengangguk tanda setuju. Sepasang kekasih tersebut tersenyum sangat lebar dengan mangkuk berisi mandu-guk buatan Seokjin di tangan mereka.

Jungkook kembali menyuap pangsit beserta kuahnya, dia memekik untuk yang kedua kalinya ketika menelan makanan di mulutnya. Seokjin tertawa pelan melihat reaksi Jungkook.

"Aku tidak tahu masakanku selezat itu, Jungkook-ah." Seokjin berdiri, mengambil mangkuk kosong dari tangan Taehyung.

Jungkook tersenyum lebar, "Masakanmu adalah masakan terlezat yang pernah aku makan sejak datang ke Seoul, Seokjin."

Seokjin berterima kasih dengan memberikan seulas senyuman sebelum dia berjalan meninggalkan ruang tengah dengan membawa mangkuk kosong.

Namjoon memerhatikan Seokjin dengan senyuman di wajahnya.

Hobi Seokjin adalah memasak dan dia menyalurkan hobinya dengan bekerja paruh waktu di restoran dekat apartemennya. Seokjin juga sering memasak untuk seluruh penghuni apartemen walaupun tidak ada yang memintanya.

Memasak bukan hanya keahlian Seokjin. Dia juga ahli dalam berakting dan yang membuat Namjoon terkejut, Seokjin juga ahli dalam hal manajemen. Namjoon kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu, saat Seokjin membantunya menyelesaikan masalah keuangan di perusahaan.

Tapi Namjoon heran kenapa Seokjin, perempuan yang memiliki banyak talenta, selalu diganggu mahasiswa di kampus.

Namjoon tahu Seokjin merupakan mahasiswa kesayangan dosen di kampus dan dia jarang mendapat nilai jelek. Namjoon juga tahu dengan kepintaran Seokjin, banyak mahasiswa yang akan iri. Tapi perlakuan yang Seokjin dapatkan sudah kelewat jauh dari batas.

Namjoon sudah mencoba berkali-kali menghentikan para mahasiswa yang mengganggu Seokjin, namun semuanya sia-sia. Semua tindakannya hanya akan membuat situasi semakin kacau. Terutama sejak satu kampus tahu bahwa Namjoon adalah kekasih Seokjin. Semua mahasiswa akan memanggil Seokjin 'pelacur' atau 'jalang'.

Seokjin tidak pernah memberitahu Namjoon. Lantas bagaimana Namjoon bisa tahu?

Namjoon tahu saat dia mengajak Seokjin ke pesta lulusannya. Saat Seokjin sedang di toilet, Namjoon tidak sengaja menguping percakapan beberapa perempuan yang berada tidak jauh darinya. Awalnya Namjoon mengabaikan mereka, namun saat perempuan-perempuan itu menyebut nama Seokjin dan memanggil Seokjin 'pelacur', emosi Namjoon melonjak.

Tidak lama setelah itu, Namjoon langsung menarik Seokjin menuju parkiran ketika Seokjin keluar dari toilet.

Seokjin mungkin terlihat seperti seorang perempuan cantik dengan ketulusan hati yang besar serta talenta yang sangat banyak, namun Seokjin tetaplah seorang manusia dan setiap manusia pasti akan tiba di suatu titik di mana mereka ingin menyerah. Namjoon menyadari hal itu.

"Hyung."

Namjoon mendongak, mengerjapkan matanya.

"Astaga! Aku sudah memanggil selama lima menit," Taehyung menepuk dahinya. "Apakah semua baik baik saja?"

Namjoon menghembuskan napas, menggeleng, "Sejak tadi pagi tidak ada yang baik-baik saja."

Taehyung menatap khawatir kakaknya, "Apa yang terjadi?"

"Membicarakannya hanya akan membuat kepalaku pening." Namjoon mengangkat bahunya, "Tapi aku menyuruhmu datang ke sini untuk membicarakan hal tersebut, jadi apa boleh buat."

Namjoon bersedekap, menyandarkan punggungnya ke sofa. Namjoon lalu menatap Taehyung, "Ngomong-ngomong di mana Jungkook?"

"Ya Tuhan!" Taehyung berseru, "Jungkook pergi ke dapur menyusul Seokjin-nuna beberapa menit lalu, hyung."

"Benarkah?" Namjoon bertanya skeptis.

Taehyung meringis, "Aduh, kenapa kakakku sendiri tidak percaya padaku?"

Namjoon tertawa, "Aku hanya bercanda, Tae."

Taehyung tersenyum. Dia kemudian mengambil gelas berisi teh hangat buatan Seokjin dan meneguk teh tersebut, "Jadi, apakah kita akan terus menyimpang inti pembicaraan atau kita akan terjun ke intinya?"

"Maaf." Namjoon menghela napas, "Aku tidak pernah suka membahas hal yang satu ini sejak kecil."

"Ini tentang ibu?" Taehyung menebak.

Hening beberapa saat sebelum Namjoon mengangguk pelan.

"Lebih cepat aku mulai, lebih baik." Namjoon memperbaiki posisi duduknya. Raut wajahnya yang tadi kelihatan santai kini berubah serius.

Taehyung yang menyadari keseriusan Namjoon pun mempersiapkan dirinya untuk mendengar segala hal yang akan dibicarakan selama beberapa menit ke depan. Taehyung tahu, apa pun yang bersangkutan dengan ibu mereka, tidak akan terdengar mengenakan. Taehyung tumbuh dengan perasaan tidak nyaman tersebut sejak dia masuk ke keluarga Namjoon.

"Dua hari lalu kau memberitahuku bahwa ibu akan kembali ke Seoul, benar?"

Taehyung menganggukkan kepalanya.

"Well, wanita itu baru saja mengetuk pintu depan pagi ini."

"Kau tidak salah, hyung?" Taehyung menelan ludahnya, "Bagaimana jika itu ternyata bukan ibu?"

Kening Namjoon berkerut, "Walaupun aku membenci wanita itu dan sudah lama tidak bertemu dengannya, aku masih mengingat jelas wajahnya."

"B-benarkah? Aku tidak tahu kau masih mengingat wajah ibu."

Namjoon berdecak, "Sial sekali, bukan? Padahal aku sangat berharap untuk melupakannya."

Taehyung berdeham. Matanya terus melirik ke kanan serta kirinya, menghindari untuk melihat Namjoon.

Di sisi lain, Namjoon tidak henti-hentinya bersungut-sungut. Namjoon terus saja membicarakan sang ibu, dan rasa benci tidak pernah luput dari kalimat-kalimatnya. Namun Namjoon berubah diam ketika dia menyadari Taehyung yang melirik ke sana ke mari.

Postur tubuh adiknya itu tidak terlihat seperti beberapa menit lalu, Taehyung terlihat gugup.

"Tae-ah," panggil Namjoon. "Kenapa kau kelihatan gugup?"

Bola mata Taehyung melebar. Taehyung mengulum bibirnya, perasaan gugup kembali menyerangnya dua kali lipat dari sebelumnya.

"Kau tidak suka aku membicarakan ibu?"

"Tidak, maksudku, entahlah." Taehyung berbicara dengan tergegap-gegap.

"Jangan berbohong, Taehyung." Namjoon menatap Taehyung, "Kau tidak pandai berbohong."

Taehyung mengerang, "Kau kedengaran seperti Jungkook, hyung."

Namjoon mengangkat bahunya, "Itu adalah fakta, dan apakah kita akan terus menyimpang inti pembicaraan atau kita akan terjun ke intinya?"

Taehyung mengerjapkan matanya. Dia menatap kakaknya yang balas menatapnya dengan tatapan serius.

Taehyung menghembuskan napas, tangannya terkepal di atas pahanya, "Ibu benar-benar datang ke sini?"

"Seperti yang sudah aku katakan." Namjoon menambahkan, "Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya Hoseok, dia pasti akan memberitahumu hal yang sama. Dan lakukan satu hal untukku, Tae."

Taehyung menatap Namjoon.

"Kenapa kau kelihatan gugup saat aku mengatakan ibu datang ke sini?"

Pertanyaan tersebut membuat Taehyung mematung di tempatnya.

Namjoon yang melihat Taehyung menegang pun hanya diam. Taehyung tahu dia tidak memiliki pilihan selain memberitahu Namjoon.

Itulah hal yang sangat Taehyung benci, dia benci selalu berada di bawah Namjoon. Di setiap hal, Namjoon akan selalu mengalahkannya. Permainan catur merupakan salah satunya.

Kekalahan Taehyung di permainan catur bukan bertanda bahwa dia bodoh, tidak, Taehyung bukanlah orang bodoh. Hanya saja kakaknya merupakan seseorang yang memiliki otak yang lebih terasah daripada Taehyung. Sejak Namjoon kecil, dia selalu dijejalkan buku ilmu pengetahuan sedangkan Taehyung tidak.

Terdapat garis yang memisahkan mereka. Garis pertama, Namjoon lahir dari keluarga yang sukses luar-dalam. Garis kedua, keluarga Namjoon merupakan keluarga dengan orang-orang pintar di dalamnya. Garis ketiga, Namjoon memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Taehyung.

Semua perbedaan tersebut menjadi alasan Taehyung untuk mengejar semua hal yang pernah Namjoon lakukan. Namun Taehyung sadar, seberapa banyak, besar, dan kuat usaha yang dia kerahkan, sampai kapan pun dia tidak akan pernah sama dengan kakaknya. Hal tersebut membuat Taehyung tidak puas hati, membuatnya terus mengejar sebuah bayangan yang tidak akan pernah dapat dia tangkap.

Walaupun Namjoon sudah mencoba untuk menjaganya, melindunginya, menyayanginya, Taehyung tetap membenci kedudukannya yang di bawah Namjoon. Taehyung tidak membenci Namjoon, untuk apa dia membenci kakaknya yang menyayanginya sepenuh hati?

Taehyung hanya ingin memiliki kedudukan yang sama dengan Namjoon di mata ibunya yang sekarang dia miliki. Tapi sepertinya Taehyung harus menelan pahit kenyataan bahwa ibunya yang dia miliki saat ini, lebih mementingkan Namjoon. Terbukti dengan bagaimana wanita itu memindahkan Taehyung ke Busan.

"Taehyung, apakah kau akan menjawab pertanyaanku atau tidak?"

"Ya." Taehyung menghela napas, "Aku akan menjawab pertanyaanmu, hyung."

Namjoon segera menimpali, "Jika kau merasa tidak nyaman, kau tidak perlu memberitahuku. Aku tidak bermaksud memaksamu."

Taehyung tersenyum, dia benar-benar tidak bisa membenci Namjoon. Kakaknya itu selalu bersikap ramah padanya tidak peduli seberapa benci ibu mereka dengan keramahan Namjoon padanya.

"Tidak." Taehyung menggeleng, "Aku tetap akan memberitahumu, kau berhak mengetahui semua hal yang aku ketahui dan tidak kau ketahui."

Namjoon mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Kau bilang ibu datang ke sini," Taehyung menatap Namjoon serius, "Aku sudah tahu hal itu sebelum kau memberitahuku."

"Kemarin pagi, ibu tiba di Seoul dan malamnya dia menelponku, memberitahu bahwa dia akan menemuimu pagi ini. Ibu menyuruhku untuk tidak memberitahumu karena dia ingin memberikanmu kejutan, alasan lain kenapa aku tidak memberitahumu. Dan alasan satunya lagi adalah karena aku tidak berani memberitahumu."

Namjoon diam mendengarkan penjelasan Taehyung, dia berusaha mencerna semua kalimat Taehyung. Jadi adiknya tahu bahwa ibunya akan datang?

Taehyung cepat-cepat menambahkan, "Maafkan aku, hyung. Aku ingin memberitahumu tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut kau akan marah dan berbicara buruk tentang ibu. Percayalah, hyung, aku benar-benar ingin memberitahumu tapi aku…"

"Apa lagi?" Namjoon memotong kalimat Taehyung.

Taehyung menatap Namjoon dengan perasaan bingung.

"Apa lagi yang kau sembunyikan?" Namjoon bertanya kembali.

Mulut Taehyung terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar.

"Demi Tuhan, Taehyung, apa lagi yang kau sembunyikan?!" Namjoon membentak.

Taehyung dapat melihat kilatan api yang membara di sorot mata kakaknya. Kali ini, kilatan api tersebut bukan menunjukkan betapa semangatnya sang kakak, melainkan betapa murkanya dia.

Sorot dingin Namjoon terus terarah ke Taehyung. Taehyung dapat merasakan jantungnya yang berdebar sangat cepat. Sorot mata Namjoon mengingatkannya pada masa lalunya yang kelam. Sebuah masa lalu yang tidak akan pernah Taehyung lupakan.

Jika Namjoon membenci ibunya, maka Taehyung merasa kasihan pada ibunya.