"Dasar anak terkutuk!"

Sebuah meja kecil yang terbuat dari kayu dilempar ke lantai, menimbulkan suara berdebum yang keras di ruangan 3×3 meter tersebut. Terdapat kursi kayu yang telah hancur, dibiarkan tergeletak di lantai. Tirai dibiarkan menutupi jendela, menghalangi masuknya cahaya matahari. Secara keseluruhan, ruangan itu tampak sangat pengap, dengan lampu yang hanya menjadi sumber cahaya serta satu kipas kecil di ujung ruangan.

Tidak ada yang terlihat bagus di ruangan kecil itu. Kertas-kertas, potongan serta serpihan kayu dari meja dan kursi yang rusak, kotak pizza yang kosong, serta masih banyak sampah yang tergeletak di lantai. Ruangan itu terlihat seperti tempat pembuangan sampah. Kotor, bau, dan pengap.

"Kau." Seorang wanita mengacungkan jari telunjuknya, "Kau adalah anak sialan, anak sampah, anak tidak diinginkan. Kau seharusnya mati saja!"

Jari telunjuk wanita itu teracung ke arah Taehyung yang berbaring di sofa reyot berwarna coklat. Mata biru bayi itu menatap ibunya yang berdiri di hadapannya.

"Seharusnya aku menggugurkanmu saja saat kau masih di perutku." Ibunya mengepalkan tangannya, "Kau menghancurkan hidupku, Anak Terkutuk!"

"Aira, hentikan!"

Seorang pria datang dan mencengkeram erat pergelangan tangan ibunya, "Apa yang kau pikir kau lakukan?!"

Taehyung dapat melihat ibunya yang terus melawan sang pria, mencoba lepas dari cengkeraman sang pria. Dia terus memerhatikan kedua orangtuanya dengan mata birunya yang terbuka lebar, penuh rasa penasaran. Kaki dan tangannya terkulai di sisi tubuhnya, dia tidak bisa menggerakan kaki dan tangannya.

Taehyung menangkap suara-suara teriakan dan bentakan yang keluar dari mulut orangtuanya. Mereka sedang bertengkar seperti biasanya, dan dia terus menjadi saksi dari kebiasaan kedua orang dewasa itu seperti biasanya.

.

.

.

Matahari bergulir ke ufuk barat, digantikan oleh bulan yang ditemani oleh bintang-bintang. Langit malam Daegu terlihat sangat kelam, bintang-bintang serta bulan yang biasanya menghiasi langit malam kini tidak tampak. Awan menutupi bulan dan bintang. Prakiraan cuaca mengumumkan akan turun hujan disertai suhu yang akan turun hingga 5 derajat Celsius.

Suara debuman kembali terdengar dari rumah yang sama. Kali ini, Taehyung tidak menyaksikan pertengkaran orangtuanya. Tapi itu bukan berarti dia tidak mendengarnya.

Suara teriakan sang ibu terdengar hingga ruang tamu yang kecil, di mana Taehyung terbaring lemas, tidak bergerak. Beberapa detik setelahnya, terdengar suara makian sang ayah dilanjut dengan suara keras lainnya. Taehyung masih mendengarnya, dia tidak bisa menghampiri orangtuanya.

Taehyung ditinggalkan sendirian di ruang tamu dengan pintu depan yang tidak terkunci.

Tapi orangtuanya tidak khawatir, mereka tidak peduli. Mereka sedang sibuk, itulah yang ada dipikiran Taehyung. Dia ingat jelas apa yang ibunya pernah katakan pada ayahnya saat pria itu marah ketika menyadari dia ditinggal sendirian di ruang tamu dengan pintu terbuka.

Ibunya bilang, "Untuk apa aku peduli dengan anak terkutuk ini? Jika dia diculik, aku akan membiarkannya saja. Lagipula, siapa yang ingin menculik anak berpenyakitan?"

Taehyung mungkin belum genap dua tahun, tapi dia ingat perkataan ibunya.

.

.

.

"Aira, kenapa kau membenci anak kita?"

"Kenapa? Kenapa, kau bilang?!"

Hari yang berbeda, kejadian yang sama.

"Anak ini bukanlah anakku, dia adalah anakmu yang terkutuk. Karena dia, hidupku hancur!"

"Jangan bersikap egois, Aira. Kaulah yang mengandungnya dan kaulah yang melahirkannya. Dia adalah anakmu, anak kita!"

"Kau sangat naïf. Aku tidak pernah menginginkan anak ini, barang sedetik pun tidak! Kaulah yang membuatku hamil! Kau dan anak terkutuk ini adalah alasan kenapa aku diusir dari keluargaku!"

Ibunya berkata dengan nada tajam, penuh kebencian, dengan sorot mata dingin terus terarah padanya.

"Aku lebih memilih untuk mati daripada mengurus anak terkutuk ini."

.

.

.

Malam di bulan Desember yang dingin.

"Aku tahu aku bukan ibu yang baik. Ibu macam apa yang akan meninggalkan anaknya di bawah pohon di tengah-tengah musim dingin seperti ini? Maafkan ibumu yang jahat, ini, Nak."

Taehyung menggeliat di dalam boks yang diisi dengan bantal empuk dan lapis demi lapisan selimut hangat. Dia dapat melihat wajah ibunya, mata biru yang menatapnya penuh dengan rasa sedih dan penyesalan.

Ibunya membelai kepalanya yang ditutupi topi hangat, "Seandainya kau lahir di situasi yang berbeda, ibumu yang bodoh ini tidak akan meninggalkanmu."

Butir air mata hangat menyentuh pipi Taehyung yang merah karena hawa dingin yang menerpa. Ibunya tersenyum, namun air mata terus mengalir membasahi pipi.

"Ibu benar-benar menyesal. Bukan karena telah mengandung dan melahirkanmu, tapi karena telah menjadi takdir jelekmu." Tangan ibunya beralih mengusap pipinya, "Jika suatu hari nanti kita bertemu, ibu berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik."

"Karena itulah, ibu mohon." Suara isakan keluar dari mulut ibunya, "Jangan menyerah. Jangan menyerah seperti ibumu ini, Taehyung-ah."

"Ibu menyayangimu, Nak." Ibunya memberinya kecupan di keningnya.

Kecupan itu terasa ringan, namun hangat. Kehangatan tersebut tidak bertahan lama, sama seperti ibunya yang menghilang di tengah malam yang dingin dan tenang.

Di tengah malam bulan Desember yang dingin, di bawah pohon besar yang melindunginya dari salju yang turun, Taehyung ditinggal oleh ibunya. Wanita yang mengandungnya, melahirkannya, dan wanita yang merupakan takdir jeleknya.

.

.

.

Sekarang Taehyung mengerti, alasan kenapa ibu kandungnya meninggalkannya, menelantarkannya, membiarkannya kedinginan dan kelaparan di tengah musim dingin empat belas tahun lalu.

Ibu kandungnya meninggalkannya bukan karena wanita itu membencinya, tapi karena dia tidak tahu harus melakukan apa untuk merawat Taehyung. Ibunya masih muda, dia masih berumur dua puluh satu tahun dan dia belum siap.

Taehyung terdiam. Ibunya bisa saja memiliki masa depan yang lebih baik. Wanita itu cantik, pintar, dan berbakat dalam menyanyi. Dia memiliki mata biru muda yang indah, kulitnya putih mulus bagaikan susu, rambutnya pirang alami, tidak pernah sekali pun dia mengecat rambutnya. Ibunya memiliki suara yang indah, halus, dan lembut ketika dia menyanyi dan membisikkan kata-kata menenangkan di telinganya.

Taehyung ingat. Ibunya bukan hanya berteriak, membentak, dan mengeluarkan kata-kata kasar padanya. Ibunya juga membisikkan kata-kata menenangkan dengan suara halusnya ketika Taehyung menangis di tengah malam. Ibunya akan bersenandung atau bernyanyi untuk membawanya kembali ke alam mimpi setiap kali dia terbangung karena mimpi buruk.

Taehyung ingat itu semua.

"Taehyung-ah."

Taehyung menoleh, menatap wajah Bibi Yona yang ceria seperti biasanya. Wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu tersenyum. Terdapat guratan lelah di wajahnya, namun dia tetap tersenyum.

"Apakah semuanya baik-baik saja, Nak?" Bibi Yona menghampiri Taehyung.

Taehyung bergeser, memberikan tempat bagi Bibi Yona untuk duduk.

Taehyung diam, mengangguk.

Bibi Yona membelai rambut Taehyung, masih tersenyum, "Apa yang tengah mengusikmu, Nak?"

Suara kicauan burung-burung terdengar dari tempat Taehyung berada.

Saat ini musim semi dan bunga-bunga bermekaran di pekarangan rumahnya. Dari balkon kamar Jungkook, dapat terlihat taman kota yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ini merupakan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan, suhunya tidak terlalu dingin maupun panas, Kota Busan disulap seperti taman bunga, dengan pohon-pohon sakura berukuran besar maupun kecil di sepanjang jalan.

Musim yang subur, indah, dan cerah. Musim yang sangat disukai banyak orang.

Taehyung berdeham, "Empat belas tahun lalu, kenapa Namjoon-hyung membawaku pulang bersamanya ke Seoul?"

Angin musim semi bertiup di saat itu juga, Taehyung tidak merasa dingin maupun panas. Dia menoleh ke pekarangan rumahnya berkat suara pekikan Jungkook. Jungkook terlihat sedang berlarian dengan seekor anjing Samoyed yang mereka temukan di taman.

Taehyung tersenyum ketika Jungkook kembali memekik senang. Perempuan itu jatuh berguling ke rumput ketika Samoyed putih itu berlari ke dekapan Jungkook.

Ketika Jungkook mengangkat kepalanya dan melihat ke balkon, perempuan itu tersenyum manis ke arah Taehyung. Taehyung membuang wajahnya, semburat merah terlihat di kedua pipinya.

"Kau menyukainya, Taehyung-ah?" Bibi Yona bertanya, tertawa.

Taehyung menutup rapat mulutnya, mengangguk pelan.

"Itu tidak apa-apa." Bibi Yona tersenyum maklum, "Kau sudah berumur lima belas tahun, itu wajar."

Taehyung batuk, mencoba mengganti arah pembicaraan, "Bibi, apakah kau tahu kenapa Namjoon-hyung membawaku ke Seoul?"

"Tentu saja aku tahu." Bibi Yona menghembuskan napas, "Aku ada di sana bersama kakakmu, Taehyung-ah."

"Kenapa?"

Bibi Yona menoleh, menatap Taehyung.

"Kenapa Namjoon-hyung melakukannya?" Taehyung menambahkan, "Kenapa Namjoon-hyung mau membawaku pulang dan merawatku? Kenapa dia menjadikanku sebagai adiknya padahal aku hanyalah sebuah beban?"

Dengan cepat, Bibi Yona menggeleng, "Itu tidak benar, Taehyung-ah, kau bukanlah beban."

"Tapi ibu berkata seperti itu!" Taehyung berseru kencang, "Dia bilang aku hanyalah sebuah beban, aku hanya memperlambat dan menghalangi Namjoon-hyung untuk mencapai cita-citanya."

"Taehyung." Bibi Yona memegang pundak Taehyung, "Itu sama sekali tidak benar. Kenapa kau bisa berpikir hal yang sama dengan ibumu, Nak? Apakah kau mau tahu suatu hal?"

Taehyung mengangguk.

"Kakakmu tidak pernah menginginkan perusahaan keluarganya, itu bukanlah cita-citanya. Kakakmu ingin bekerja di bidang musik. Tapi kondisi keluarganya berkata lain. Sejak lahir, masa depan kakakmu sudah diatur sedemikian rupa, dia dipaksa menjadi seseorang yang belum tentu dia inginkan. Dan malam itu, empat belas tahun lalu, saat dia menginginkan seorang adik, Tuhan mempertemukannya dengan adik yang selama ini dia inginkan."

Taehyung menganga tidak percaya.

"Kakakmu ingin memiliki adik, tapi orangtuanya tidak. Itulah alasan utama kenapa kakakmu membawamu pulang ke Seoul empat belas tahun lalu. Dia menyayangimu pada pandangan pertama. Aku pun juga sama, Taehyung-ah."

"Setibanya di Seoul, Namjoon langsung meminta Tuan Lee untuk menemaninya ke dokter untuk melakukan check up. Dokter berkata bahwa kau memiliki kelainan Hypotonia. Kakakmu yang belum genap empat tahun berubah menjadi sangat protektif terhadapmu ketika Tuan Lee menjelaskan tentang kelainan yang kau miliki. Dia sangat menyayangimu, Taehyung-ah. Aku mohon, jangan meragukan kakakmu."

.

.

.

Bibi Yona pernah berpesan pada Taehyung, dia memberikan pesan terakhirnya.

Wanita itu berkata, "Cintailah dirimu sendiri, Taehyung-ah. Bahkan jika orang-orang berkata hal buruk tentang dirimu, tetap cintai diri sendiri. Karena bagaimana kita bisa mencintai orang lain jika kita tidak bisa mencintai diri sendiri?"

Pesan itu terus terngiang di kepala Taehyung selama dua minggu setelah Bibi Yona dikubur, menyatu dengan tanah. Taehyung tahu apa yang Bibi Yona katakan adalah benar, tapi dia selalu saja merasa tidak puas hati.

Taehyung iri dengan apa yang Namjoon miliki. Keiriannya akan kakaknya sendiri membuatnya buta. Buta akan fakta bahwa Namjoon tidak memiliki satu hal yang selama ini dia miliki, kebebasan.

.

.

.

.

.

Secara harfiah, hypotonia berarti 'hilangnya otot' atau bisa disebut 'floppy baby'. Definisi dari kelainan ini adalah merendahnya tegangan otot saat istirahat. Tanda-tandanya seperti memiliki sedikit/tidak memiliki kontrol di otot-otot leher dan memiliki lengan dan kaki yang menggantung lurus ke bawah dari sisi tubuh.

Kelainan ini bisa diobati dengan melakukan terapi.

Salah satu keuntungan menulis dan membaca cerita adalah kita bisa mengetahui hal baru, bukan?

Fun fact, aku menghabiskan hampir dua jam ketika mencari penyakit otot pada bayi. Awalnya aku ingin menulis asma, tapi menurutku itu terlalu mainstream jadilah aku memilih hypotonia.

Dan ya, mata Taehyung berwarna biru. Aku tidak tahu kenapa aku baru mencantumkannya sekarang -_-;