Mata Taehyung membulat sempurna, dia menggigit bibir bawahnya. Jemari Taehyung mencengkeram erat celananya hingga buku-buku jarinya berubah putih. Dapat terlihat jelas Taehyung ketakutan, namun Namjoon tidak menyadarinya.
"Apa lagi yang kau sembunyikan, Taehyung?!" bentak Namjoon.
"Namjoon, kenapa kau membentak Taehyung?" Seokjin berseru, berlari keluar dari dapur diikuti Jungkook.
Seokjin dengan segera menarik lengan Namjoon. Tangan satunya dia tempatkan di punggung Namjoon, memberikan usapan lembut untuk menenangkan Namjoon. Saat Seokjin menatap wajah Namjoon, napas Seokjin tercekat.
Namjoon terlihat sangat menakutkan. Mata coklatnya melebar penuh dengan amarah. Alisnya mengkerut dengan kedua tangannya terkepal erat. Jika Seokjin harus jujur, saat ini, dia seperti melihat pancaran tombak api di kedua mata Namjoon. Aura di sekitar Namjoon membuat Seokjin bergidik ngeri, ditambah dengan ekspresi dingin Namjoon.
Mata Seokjin beralih ke belakangnya. Jungkook tengah memanggil nama Taehyung berkali-kali, tangan Jungkook bergerak pelan mengusap lengan Taehyung.
"Aku rasa kita harus memisahkan mereka berdua, Jungkook-ah." Seokjin berujar pelan, tangannya masih mengusap punggung Namjoon.
Jungkook menatap Seokjin, mengangguk samar.
Seokjin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia sedang membahas resep-resep makanan dengan Jungkook di dapur. Satu detik kemudian, Seokjin mendengar suara kencang Namjoon.
"Jungkook-ah, bawa Taehyung ke atas." Seokjin menghela napas, "Aku akan berbicara empat mata dengan Namjoon."
Tanpa bersuara, Jungkook menuntun Taehyung menaiki tangga.
Ketika Jungkook dan Taehyung tidak terlihat lagi, Seokjin menghela napas, "Apakah kau keberatan memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, Namjoon-ah?"
Namjoon tidak menjawab.
Ketika Seokjin sudah mencoba empat kali dan tidak mendapatkan jawaban dari Namjoon, Seokjin menghembuskan napas pasrah, tangannya masih tetap mengusap punggung Namjoon.
Setidaknya Namjoon sudah lebih tenang, pikir Seokjin.
Beberapa menit berlalu dan Namjoon masih tetap diam. Seokjin memakluminya.
Seokjin tersenyum kala Namjoon bersandar padanya. Dia mungkin tidak bisa membuat Namjoon memberitahu masalahnya, tapi membuatnya tenang sudah cukup bagi Seokjin.
.
.
.
Pukul satu siang, Perusahaan Kim.
"Kenapa kau harus bekerja di saat orang-orang libur?"
Jimin menghela napas, "Sayang, kita sudah membicarakan ini kemarin malam."
"Aku tidak peduli. Kau harus datang ke butik ibumu sore ini, Park Jimin."
Jimin mendesah kesal ketika sambungan telepon diputus oleh Yoongi. Sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain, jika tunangannya itu sudah berbicara ketus padanya, maka Jimin harus melakukan apa pun yang dikatakan perempuan itu.
Seharusnya hari ini Jimin menikmati waktunya dengan keluarganya dan keluarga Yoongi. Dia juga sudah berjanji pada Yoongi untuk menemani fitting baju pernikahan di butik ibunya siang ini. Tapi Hoseok tiba-tiba menghubunginya dan memberitahu bahwa Jimin harus mempersiapkan rapat untuk besok dengan Perusahaan Lee.
Jimin ingin tidak masuk, tapi rapat dengan Perusahaan Lee sangatlah penting. Jika rapat besok berjalan dengan lancar, maka peluang bagi Perusahaan Lee membentuk mitra aliansi akan terbuka sangat besar. Pembentukan mitra aliansi tersebut sangatlah penting bagi perusahaan yang dipegang Namjoon ini.
Jemari Jimin kembali sibuk mengetik jadwal Namjoon untuk besok. Di tengah-tengah ketikannya, Jimin membuka catatan yang dia simpan di laci meja kerjanya. Setelah membaca beberapa halaman, Jimin kembali sibuk mengetik di komputernya.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Bilik kerja Jimin kosong, sang pemilik sedang menyeduh kopi.
Jimin menyesap sedikit kopi yang dia seduh, berjalan kembali ke bilik kerjanya.
"Astaga." Jimin memijat tengkuknya, "Sial sekali hari ini. Dan aku belum selesai menyortir file-file milik Namjoon."
Langkah kaki Jimin terhenti ketika dia melihat seorang wanita tengah berdiri di depan bilik kerjanya. Jimin mengerutkan keningnya, wanita itu terlihat familiar. Tapi dia tidak bisa mengenali wanita itu karena sosok itu membelakangi Jimin.
Pakaiannya terlihat seperti pakaian kerja wanita pada umumnya. Dengan kemeja, rok hitam, dan blazer hitam.
Namun Jimin menahan napasnya ketika wanita itu berbalik. Sekujur tubuhnya berubah kaku, Jimin tiba-tiba merasakan suhu ruangan berubah dingin. Tangannya mencengkeram erat gelas berisi kopinya, takut-takut gelas itu jatuh.
"Kau pasti asistennya Namjoon. Park Jimin, benar?" Wanita itu bertanya, tersenyum ke arah Jimin.
Jimin mengerjap, mengulum bibirnya. Dia dengan segera memperbaiki ekspresi serta postur tubuhnya.
"Ya, itu benar." Jimin mengangguk.
Wanita itu mengacungkan jari telunjuknya, "Apakah kau kenal siapa aku?"
"Ya, saya kenal." Jimin kembali mengangguk.
"Bagus kalau begitu." Wanita itu bertepuk tangan, "Aku ke sini untuk melihat-lihat saja. Sudah lama sejak aku menginjak kaki di gedung ini. Namjoon bekerja dengan sangat baik sebagai seorang pewaris."
Jimin diam, dia tidak tahu harus berkata apa.
Wanita itu berjalan dengan anggun, menghampiri Jimin.
"Aku punya satu pertanyaan." Wanita itu menatap Jimin, "Apakah Kim Taehyung bekerja di sini?"
Jimin tidak menjawab. Dia dilanda kebingungan, apakah dia harus menjawab dengan jujur atau tidak?
Wanita itu berdeham, kemudian menggeleng, "Lupakan saja. Namjoon pasti menyuruhmu untuk tidak memberitahuku."
Wanita itu kemudian berjalan melewati Jimin, sedangkan Jimin tetap diam di tempatnya.
"Oh, satu hal lagi." Wanita itu berbalik, "Beritahu Namjoon untuk tidak mengacaukan meeting besok dengan Perusahaan Lee atau aku yang akan turun tangan."
Suara lift terdengar menggema di lantai itu. Saat pintu lift tertutup, Jimin menghembuskan napas lega. Dia mengelap keringat di keningnya. Lantai itu diisi beberapa AC yang menyala dengan baik, tapi keringat Jimin tidak mau berhenti mengalir.
Jimin tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dia berjalan ke bilik kerjanya. Jimin menaruh kopinya di atas meja, kemudian duduk di kursinya. Layar komputernya masih menyala, namun jarinya tidak bergerak menyentuh keyboard.
"Astaga." Jimin mengerang.
Jarinya terangkat memijat batang hidungnya, dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu. Jimin pikir wanita itu sedang sibuk di Jepang. Dia benar-benar terkejut melihat wanita itu berdiri di depan bilik kerjanya.
Jimin mengangkat kepalanya.
Terdapat USB di samping keyboardnya. Di bawah USB itu terdapat secarik kertas. Jimin mengambil kertas itu dan membacanya.
Ganti jadwal Namjoon dengan yang ada di USB.
Sesimple itu tulisan yang tertera di kertas yang Jimin baca.
Dengan terpaksa, Jimin menyambungkan USB yang ada di tangannya ke komputernya. Dia membuka file yang ada di USB itu dan membaca jadwal yang dibuat dengan rapih.
Jimin berdecak, "Dia membuatnya dengan rapih, tapi jadwal seperti ini akan menyita waktu Namjoon-hyung."
Setelah berperang dengan batinnya, Jimin akhirnya merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
Deringan pertama, tidak diangkat.
Deringan kedua, tidak diangkat.
Setelah menunggu satu menit, Jimin mendesah kesal. Namjoon tidak mengangkat panggilan teleponnya. Jimin terus mencoba, namun tetap tidak diangkat. Setelah mencoba enam kali, Jimin mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke tasnya.
Dia akan mencoba menghubungi Namjoon lagi nanti, dia masih memiliki satu pekerjaan yang belum selesai dan dia juga harus datang ke butik ibunya.
Jimin meringis ketika membayangkan Yoongi yang akan memarahinya seandainya dia tidak datang. Mencoba menyingkirkan pikiran tentang Yoongi yang memarahinya, Jimin kembali fokus ke pekerjaannya.
Namun dia tidak bisa menyingkirkan pikiran akan satu hal.
Dia baru saja bertemu dengan ibunya Namjoon. Jimin memiliki firasat buruk dengan kembalinya wanita itu ke Seoul.
.
.
.
Yoongi menghembuskan napas lelah ketika melihat jam dinding di butik ibunya Jimin. Saat ini sudah pukul setengah enam menjelang malam dan Jimin belum juga datang. Butik ibunya Jimin akan tutup pukul enam dan saat ini, para karyawan sedang bersiap-siap menutup butik.
Seorang karyawan wanita menghampirinya dan menawarkan secangkir teh hangat. Yoongi tersenyum dan berterima kasih, menerima teh hangat tersebut. Senyumannya luntur ketika karyawan wanita itu berjalan pergi.
Yoongi kembali menghembuskan napas lelah, pundaknya merosot. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa. Terlihat dengan jelas raut lelah di wajahnya.
"Apakah kau baik-baik saja, Yoongi?"
Yoongi menegakkan punggungnya, tersenyum ketika melihat ibunya Jimin menghampirinya, "Aku baik-baik saja, Bu."
"Apakah kau sudah mencoba menghubungi Jimin?"
Yoongi mengangguk, kemudian menggeleng, "Dia tidak mengangkat ponselnya."
Nyonya Park memberi usapan di punggung Yoongi.
Keheningan melanda mereka berdua. Teh yang ada di tangan Yoongi berubah dingin. Yoongi menghela napas dan meletakkan cangkir tehnya di meja di hadapannya.
"Maaf sudah merepotkanmu, Ibu." Yoongi berdiri.
Nyonya Park mengerutkan keningnya, "Kau ingin ke mana, Yoongi-ah?"
Yoongi meraih mantelnya, "Aku harus pulang, orangtuaku pasti khawatir."
"Yoongi-ah, kenapa kau berbohong pada ibuku?"
Yoongi berbalik ketika mendengar suara Jimin. Matanya terbuka lebar, sedangkan Jimin yang melihat ekspresi Yoongi hanya tersenyum.
Jimin menghampiri Yoongi, "Orangtuamu tidak akan khawatir karena mereka sudah tahu aku akan mengantarmu pulang. Lagipula, aku tidak akan membiarkan tunanganku pulang sendirian."
Senyuman Jimin semakin membesar ketika Yoongi hanya diam, masih dengan ekspresi terkejutnya.
"Akhirnya kau datang, Minnie."
Jimin mengerang, "Ibu, berapa kali aku harus memberitahumu, jangan memanggilku 'Minnie.' Itu memalukan."
Yoongi tertawa pelan, dia menutup mulutnya, mencoba menahan suara tawanya. Namun usahanya itu tidak berhasil karena Jimin sudah lebih dulu menangkap suara tawanya.
Jimin kembali tersenyum. Bagi Jimin, Yoongi adalah perempuan yang sangat manis. Yoongi merupakan satu-satunya perempuan yang menarik perhatiannya sejak dia masih kecil. Mengingat masa lalunya dengan Yoongi, membuat Jimin tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" Yoongi bertanya.
Jimin menggeleng pelan. Dia kemudian meraih tangan Yoongi dan menggenggamnya.
"Ibu, aku akan mengantar Yoongi pulang." Jimin pamit pada ibunya.
"Baiklah." Ibunya mengingatkan, "Jangan menginap di apartemen Yoongi, Jimin-ah. Kalian belum menikah, baru bertunangan."
"Ibu, aku tahu itu." Jimin mengerang kesal, "Anakmu ini sudah dewasa, tidak perlu diingatkan setiap saat."
Nyonya Park berdecak, "Kau tumbuh terlalu cepat."
Jimin dan Yoongi tertawa mendengar perkataan Nyonya Park. Yoongi kemudian pamit yang dibalas dengan pelukan dari Nyonya Park. Wanita itu mengantar Yoongi dan Jimin hingga mereka masuk mobil.
"Kau tahu, Yoongi-ah."
Yoongi menoleh ke Jimin.
"Aku mulai berpikir ibuku lebih menyayangimu ketimbang putranya sendiri." Jimin terkekeh.
Yoongi berdecak kemudian mencubit lengan Jimin, "Jangan asal berbicara, Park."
Jimin meringis kesakitan, "Aduh, itu sakit, Sayang."
Yoongi melepaskan lengan Jimin. Dia kemudian bersedekap, duduk dengan wajah datar, "Aku menyuruhmu datang sore, bukan menjelang malam."
"Aku tahu." Jimin menghela napas, "Ada sedikit masalah di kantor."
"Apakah urusan kantor lebih penting?" Yoongi menggerutu.
Jimin menggeleng cepat, "Tidak, bukan begitu, Yoongi-ah."
"Lalu apa?" Yoongi bertanya dengan nada datar.
"Ibunya Namjoon sudah kembali." Jimin menjawab singkat.
Ketika Jimin menoleh, dia dapat melihat Yoongi yang membeku di tempatnya. Jimin menghela napas, dia sudah menduga Yoongi akan bereaksi seperti ini.
"Apakah Namjoon sudah tahu?"
"Entahlah." Jimin menghidupkan mobilnya.
"Kau sudah menghubungi Namjoon?" Yoongi kembali bertanya.
Dengan pandangan fokus ke jalanan di depannya, Jimin menjawab, "Aku akan menemuinya langsung saja."
"Rumah Namjoon. Sekarang."
Tanpa banyak bicara, Jimin memutar setirnya.
.
.
.
Api yang membara di perapian memperlihatkan warna terangnya yang menyinari sebagian ruang tengah. Suara kayu terbakar menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Seokjin dapat merasakan sensasi hangat dari arah perapian dan juga di sampingnya, di mana Namjoon tengah bersandar di pundaknya.
Malam sudah ingin menjemput. Beberapa jam lalu, saat Seokjin sedang menyalakan perapian, Jungkook turun dengan Taehyung. Jungkook memberitahu bahwa akan lebih baik jika dia dan Taehyung pulang. Seokjin pun setuju, mereka akan menyelesaikan masalah ini lain waktu. Lebih baik membiarkan Namjoon dan Taehyung menata perasaan mereka barulah membicarakannya baik-baik.
Saat Jungkook dan Taehyung pulang, Namjoon tengah terlelap. Seokjin memanfaatkan kesempatan itu untuk memasak makan malam. Sekarang Seokjin kembali duduk di sofa sambil menggenggam tangan Namjoon. Ibu jarinya bergerak di atas tangan Namjoon, memberikan usapan ringan.
Namjoon sudah lebih tenang. Namjoon masih enggan bersuara, tapi Seokjin tidak keberatan. Dia tidak akan memaksa Namjoon untuk segera memberitahunya.
Pikiran Seokjin tiba-tiba ingat percakapan Hoseok dengan Namjoon, Seokjin tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka. Seokjin mencoba untuk tidak menguping, tapi saat Namjoon berkata dia akan mempertemukan ibunya dengan Seokjin, mau tidak mau Seokjin menghentikan aktivitas memasaknya.
Seokjin dapat menebak bahwa ibunya Namjoon tidak menyukainya, dia dapat melihatnya di mata wanita itu saat mata mereka berpas-pasan. Belum lagi dengan dia yang disebut sebagai pembantu, perkataan wanita itu hanya memperkuat tebakan Seokjin. Jadi Seokjin terkejut ketika Namjoon ingin mempertemukan mereka berdua.
Di pikirannya, Seokjin sudah memainkan berbagai skenario yang mungkin akan terjadi. Mulai dari ibunya Namjoon yang hanya menatapnya datar, memakinya, menamparnya, atau melakukan ketiga hal itu bersamaan. Satu skenario yang menurut Seokjin sangat mustahil terjadi adalah ibunya Namjoon yang tersenyum ke arahnya, berbicara seakan-akan mereka teman lama, dan menerimanya.
Seokjin tahu dia berlebihan, tapi dia tidak bisa menyalahkan dirinya juga. Namjoon merupakan kekasih pertamanya dan itu berarti ini akan menjadi pertama kalinya Seokjin akan bertemu dengan orangtua kekasihnya. Seokjin gugup bukan main, dia juga takut dengan apa yang akan terjadi jika seandainya dia bertemu dengan ibunya Namjoon.
Seokjin menggigit bibir bawahnya, dia bukan seorang perempuan yang lahir dari keluarga yang kaya, bergelimang harta yang banyak. Bahkan lebih buruk lagi, Seokjin tidak ingat siapa orangtuanya.
"Seokjin, apakah semuanya baik-baik saja?"
Seokjin mengerjapkan matanya. Dia menoleh ke sampingnya dan mendapati Namjoon yang menatapnya khawatir.
"Semuanya baik-baik saja, jangan khawatir." Seokjin tersenyum menenangkan.
Alis Namjoon tertekuk, "Kau yakin?"
"Seratus persen yakin." Seokjin berucap sambil mengangkat ibu jarinya.
Namjoon tersenyum melihat Seokjin. Dia kembali bersandar di pundak Seokjin.
Seokjin tersenyum lembut. Tidak sering Namjoon bermanja-manja seperti ini, tapi jika Namjoon sedang dalam mode manja, dia tidak akan mau berjauhan dengan Seokjin. Terkadang Seokjin bingung kenapa Namjoon masih bertingkah laku seperti anak kecil di umurnya yang sudah melewati dua puluh tahun.
Tapi Seokjin sendiri tidak bisa berkata tidak, dia diam-diam menyukai Namjoon di mode manjanya.
Tiba-tiba saja Seokjin penasaran dengan keadaan Taehyung. Seokjin tidak sempat bertanya Jungkook, jadi dia hanya bisa berharap Taehyung baik-baik saja. Atau setidaknya merasa lebih baik.
Jujur saja, Seokjin akan bereaksi sama seperti Taehyung jika dia berada di posisi Taehyung. Namjoon yang marah merupakan satu hal yang sangat jarang Seokjin lihat. Hoseok pernah bercerita tentang masa lalunya, saat perang dingin terjadi di antara dia dan Namjoon. Bahkan apa yang Hoseok ceritakan tidak sebanding dengan apa yang Seokjin lihat beberapa jam lalu.
Taehyung pasti merasa sangat terguncang, Seokjin dapat memastikan satu hal itu.
Lamunan Seokjin buyar ketika suara bel terdengar. Seokjin menepuk pelan pundak Namjoon, memberi isyarat bahwa dia harus membuka pintu.
Dengan terpaksa dan berat hati, Namjoon mengangkat kepalanya. Seokjin tertawa kecil ketika melihat wajah Namjoon yang kembali murung. Bukan salah Seokjin juga, lagipula, akan sangat tidak sopan jika dia tidak segera membuka pintu depan.
Seokjin terkejut ketika siapa yang datang, "Jimin, Yoongi, kenapa kalian tiba-tiba datang?"
"Namjoon. Kami harus memberitahunya sesuatu." Tanpa basa-basi, Yoongi memberitahu alasan dia dan Jimin datang.
Seokjin mengangguk pelan, dia membuka pintu sepenuhnya dan mempersilahkan kedua temannya masuk.
"Namjoon, ada sesuatu yang harus kami beritahu." Kening Jimin berkerut, "Apakah kau baik-baik saja?"
Jimin menatap khawatir Namjoon yang kelihatan lesu. Namjoon hanya melirik sekilas, kemudian balik menatap perapian. Tak sepatah kata pun Namjoon ucapkan, membuat Jimin semakin khawatir.
"Apakah kalian bisa memberitahuku saja?"
Jimin dan Yoongi menoleh ke Seokjin.
"Bukan bermaksud tidak sopan, tapi akan lebih baik jika kalian tidak mengusik Namjoon untuk saat ini." Seokjin menoleh sebentar ke Namjoon, kemudian berbisik, "Dia ada masalah dengan Taehyung."
Jimin menatap Seokjin dengan perasaan penuh penasaran. Sebelum dia sempat bertanya, Yoongi sudah lebih dulu membalas, "Baiklah."
"Tapi akan lebih baik jika kita memberitahunya secara langsung." Yoongi menghela napas, "Aku juga bukan bermaksud tidak sopan, Seokjin, tapi ini benar-benar penting."
Seokjin mengerutkan keningnya, "Tidak bisakah kalian memberitahuku saja? Apa yang sebenarnya ingin kalian beritahu?"
"Ibunya Namjoon sudah kembali." Jimin menjawab dengan keras.
Yoongi menatapnya tajam, sedangkan Seokjin hanya menatapnya datar tanpa berkedip. Jimin memang sengaja mengeraskan suaranya agar Namjoon dapat mendengarnya.
"Itulah apa yang perlu kami beritahu, Seokjin." Jimin menambahkan dengan singkat.
Jimin melirik Namjoon dan dia kaget ketika Namjoon tidak menanggapi kalimatnya sedikitpun. Namjoon tetap fokus menatap perapian dengan tanpa berekspresi sedikit pun, sama seperti ekspresi Seokjin.
Ngomong-ngomong soal Seokjin, Jimin bertanya-tanya kenapa Seokjin tidak terlihat terkejut. Dia kembali melihat Seokjin, dan benar saja. Ekspresi Seokjin sama sekali tidak berubah, tetap datar layaknya air yang tenang.
"Kami sudah tahu."
Mendengar perkataan Seokjin, mata Yoongi dan Jimin melebar.
Seokjin menjelaskan, "Dia datang ke sini pagi ini."
"Itulah kenapa aku membentak Taehyung." Namjoon menatap perapian dengan rasa benci yang amat besar, "Ibuku sudah kembali, neraka duniaku baru saja mengetuk pintu depan."
