Seokjin menoleh ke belakang ketika dia mendengar ponsel Namjoon bergetar, itu sudah kedua kalinya ponsel Namjoon bergetar. Seokjin bingung dia harus mengangkat panggilan telepon itu atau tidak karena yang menelepon adalah ibunya Namjoon.

Seokjin menggigit bibir bawahnya, dia masih ingat bagaimana ibunya Namjoon memperlakukannya kemarin. Sepertinya akan lebih baik jika dia tidak mengangkat panggilan telepon itu.

"Siapa yang menelpon, Jinseok?"

Suara Namjoon mengejutkan Seokjin yang melamun. Seokjin mendongakkan wajahnya dan melihat Namjoon yang tengah berdiri di depan cermin.

"Kenapa tidak kau angkat?" Namjoon bertanya lagi.

Seokjin menghela napas ketika melihat Namjoon yang kesulitan memasang dasinya. Dia kemudian menghampiri Namjoon, "Biar aku pasangkan."

Namjoon tersenyum sebagai tanda terima kasih dan membiarkan Seokjin mengambil alih pekerjaannya barusan.

"Jadi…"

Seokjin menatap Namjoon dan berdeham, "Kenapa?"

Namjoon melihat ke belakang Seokjin kemudian balik menatapnya.

Mengerti maksud Namjoon, Seokjin menghindari tatapan penuh tanya Namjoon dan lebih memilih untuk fokus pada dasi yang ada di tangannya. "Kenapa kau ingin tahu?"

Namjoon mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Seokjin, "Karena seseorang baru saja menelponku dan kelihatannya kau mengabaikannya, Jinseok."

Seokjin tidak berkata apa pun.

Beberapa saat kemudian, ponsel Namjoon kembali bergetar. Karena penasaran, Namjoon mengambil langkah menuju nakas di samping tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya. Saat dia baru mengambil satu langkah, Seokjin menarik dasinya.

"Astaga." Namjoon mengeluh dan mengusap lehernya, "Kenapa kau menarik dasiku? Kau ingin mencekekku?"

"Ibumu yang menelpon, Namjoon. Apakah sekarang kau masih ingin mengangkatnya?"

"Dia tidak mungkin menelponku." Namjoon berucap dingin.

Seokjin melepas genggamannya di dasi Namjoon dan berkata, "Kalau begitu, kau bisa memeriksanya sendiri. Aku tidak akan mencegahmu tapi.."

Getaran ponsel Namjoon yang ada di nakas terdengar jelas di telinga Seokjin. Dia sedikit terkejut ketika Namjoon melangkah dengan lebar dan mengambil ponselnya.

Seokjin dapat melihat Namjoon menggengam erat ponsel yang ada di tangannya. Dia tidak dapat melihat wajah Namjoon, tapi Seokjin dapat menebak ekspresi wajah Namjoon.

"Lebih baik jika kau tidak mengangkatnya, Namjoon. Tapi jika kau ingin mengangkatnya, aku tidak akan memaksamu."

Namjoon berdecak, "Aku? Mengangkat panggilan wanita tua itu? Hah! Yang benar saja!"

Seokjin meringis ketika Namjoon melempar kasar ponselnya ke nakas. Ketika Namjoon berjalan keluar kamar, Seokjin hanya diam. Beberapa saat kemudian, layar ponsel Namjoon menyala dengan tulisan 'Ibu' terpampang jelas, ponsel itu bergetar untuk keempat kalinya pagi itu dan untuk yang keempat kalinya juga Seokjin tidak mengangkat panggilan telepon tersebut.

Dengan menarik napas, Seokjin berjalan keluar kamar, dia harus menyiapkan sarapan sebelum Namjoon berangkat kerja. Seokjin tidak bisa membiarkan Namjoon berangkat kerja dengan kondisi perut kosong dan suasana hati yang tidak bagus.

Sambil berjalan di lorong lantai dua, Seokjin bertanya dengan lantang, "Namjoon, kau ingin sarapan dengan apa pagi ini?"

.

.

.

Suasana kantor pagi itu tidak sesibuk biasanya, hanya departemen tertentu yang diharuskan masuk hari ini karena adanya rapat penting dengan Perusahaan Lee. Jimin menerima laporan dari salah satu teman kerjanya bahwa banyak pegawai yang mengambil cuti padahal mereka seharusnya masuk hari ini.

Jimin menggelengkan kepalanya mengingat Yoongi yang memarahinya lewat telepon jam 5 pagi tadi. Perempuan itu mengomel tentang Jimin yang lebih mementingkan pekerjaan daripada tunangannya, Jimin yang masih setengah sadar hanya dapat mendengar omelan kekasihnya sambil berdeham tidak jelas. Pada akhirnya, Yoongi menyuruhnya untuk bangun dan bersiap-siap pergi ke kantor.

"Astaga, kenapa dia sangat membingungkan? Dia yang mengomel karena aku harus masuk ke kantor tapi dia juga menyuruhku untuk cepat-cepat ke kantor."

Dalam perjalanannya menuju ruangan Namjoon, Jimin dapat melihat kesibukkan orang-orang di sekitarnya. Hari ini merupakan hari yang penting bagi perusahaan mereka, jika rapat dengan Perusahaan Lee berjalan dengan lancar, kemungkinan terbentuknya mitra aliansi antara dua perusahaan akan terbuka besar, itulah kenapa semua orang yang masuk hari ini sangat sibuk.

Lima belas menit sebelum rapat dimulai, dapat terlihat raut panik di wajah rekan-rekan kerjanya. Jimin berdeham cukup keras, sengaja dia lakukan untuk menarik perhatian semua orang yang ada di lantai itu.

"Aku yakin kalian semua tahu bahwa rapat ini sangat penting dan aku sangat menghargai usaha dan kerja keras kalian semua hingga detik ini." Jimin menghela napas, pandangannya berputar ke segala penjuru lantai itu, "Jika rapat ini berjalan lancar, kalian semua akan mendapat kenaikan gaji dan juga bonus dari Tuan Kim dan percayalah padaku, hanya kalian yang hadir hari ini yang mendapatkan kenaikan gaji."

Sorakan rekan-rekan kerjanya memenuhi seisi lantai, Jimin tertawa mendengarnya. Beberapa dari mereka ada yang bertanya untuk memastikan, ekspresi terkejut dan bahagia terpampang jelas di wajah mereka semua.

"Astaga, kau ini benar-benar tidak bisa menutup mulutmu, Park."

Jimin menoleh ke sampingnya.

"Namjoon bilang jangan katakan sepatah kata pun soal kenaikan gaji, Kawan. Beruntung kau tidak memberi tahu mereka soal bonusnya."

"Aku lupa." Jimin tertawa, dia menepuk pundak Hoseok, "Terima kasih sudah mengingatkanku soal bonusnya, Hoseok."

"Semuanya dengarkan baik-baik." Jimin meninggikan suaranya dan lantai itu berubah sunyi, "Selain kenaikan gaji, setelah rapat, Tuan Kim akan mentraktir kita untuk minum."

"Benarkah?!" tanya seorang rekan kerjanya tidak percaya.

Sambil tersenyum lebar, Jimin menjawab, "Ya, aku tidak membual soal ini."

Suara gelak tawa dan seruan kembali menghiasi lantai itu.

Hoseok berdecak kesal, dia meninju lengan kiri Jimin, "Kau ini…astaga, aku tidak percaya kau membocorkan kejutan Namjoon."

"Mereka berhak tahu, lagipula, apa salahnya jika aku membocorkan kejutan Namjoon-hyung?" Jimin bertanya, tangan kanannya sibuk mengusap lengan kirinya yang barusan ditinju Hoseok.

"Kejutan, Park. Apakah kau tidak tahu apa artinya kejutan?" Kening Hoseok berkerut, tampak jelas raut kesalnya.

Jimin mengangkat bahunya, dia kemudian berbalik badan dan berjalan meninggalkan Hoseok, dia masih memiliki beberapa hal yang harus dia cek dan selesaikan sebelum rapat dimulai.

"Dia dan Yoongi sama saja." Hoseok menggelengkan kepalannya, "Dan di mana Namjoon? Rapat akan dimulai kurang dari lima belas menit lagi dan dia belum terlihat batang hidungnya."

Hoseok merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Di deringan ketiga, Namjoon mengangkat panggilan teleponnya.

"Namjoon, kau ada di mana?" Hoseok berbalik badan dan menangkup ponselnya, suara seruan gembira rekan kerjanya terlalu keras, "Materi rapat mungkin penting, tapi jika kau datang terlambat, sama saja seperti kita menyajikan materi yang tidak berguna."

"Aku dua tahun lebih tua darimu, apakah ini caranya kau berbicara dengan atasanmu yang lebih tua darimu?" Gerutuan Namjoon terdengar jelas di telinga Hoseok, tapi dia tidak memedulikannya.

"Dengar, aku hanya menyampaikan fakta. Kau tahu sendiri betapa susahnya mengatur rapat dengan Perusahaan Lee." Hoseok menghela napas, matanya melirik ke arlojinya, "Kurang dari lima belas menit dan batang hidungmu belum terlihat sedikit pun."

"Dewi Fortuna sedang tidak di sisiku, pagi ini sangat kacau, kau tidak bisa menyalahkanku."

"Astaga." Hoseok menatap tajam dinding di depannya, "Aku tidak peduli seberapa kacau pagimu, Namjoon, yang aku pedulikan adalah lancar atau tidaknya rapat nanti."

"Rapat nanti akan sama seperti rapat yang biasa kita lakukan dengan perusahaan lainnya, jangan terlalu khawatir, Hoseok." Namjoon berujar menenangkan di ujung telepon sana.

Hoseok menepuk dahinya, "Kim Namjoon, Perusahaan Lee merupakan perusahaan yang kuat, lebih kuat dari kita. Jika kita memberikan kesan yang tidak bagus, kemungkinan mereka menolak bekerja sama akan terbuka lebar."

"Jangan bilang kau lupa kalau inilah yang selalu diinginkan ibumu?"

Tidak ada respon dari Namjoon.

Saat ini Hoseok tidak peduli seberapa kacau hubungan Namjoon dengan ibunya. Bilang dia gila karena berpikir seperti itu, lagipula, jika rapat ini tidak berjalan lancar maka ibunya Namjoon tidak akan segan-segan untuk turun tangan. Hoseok tidak mau hal itu sampai terjadi, sekalinya ibunya Namjoon turun tangan, maka wanita itu akan melakukan apa pun untuk memperbaiki keadaan.

"Dengar, Namjoon." Hoseok memijat pelipisnya, tiba-tiba dia merasa pusing, "Bukan hanya kau yang tidak menyukai ibumu, hampir semua orang di gedung ini tidak menyukai wanita itu. Maafkan aku jika ini terdengar tidak sopan, tapi jika kau terlambat, maka kita semua yang akan menerima akibatnya, Joon."

Hoseok dapat melihat rekan-rekan kerjanya yang kembali sibuk dengan pekerjaan mereka, namun terlihat jelas gurat senang di wajah mereka semua. Hoseok menghembuskan napas, "Aku mohon, untuk kali ini saja, turuti kemauan ibumu. Maaf jika kau keberatan, Namjoon."

Tanpa mendengar balasan Namjoon, Hoseok memutuskan sambungan telepon.

Sama seperti Jimin dan rekan kerjanya yang lain, Hoseok masih memiliki pekerjaan yang belum selesai dan itulah yang akan dia kerjaan sekarang.

.

.

.

Jimin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dia menghitung jumlah kursi yang ada. Dua belas, tidak kurang dan tidak lebih. Orang-orang yang akan menghadiri rapat ini berjumlah dua belas, enam dari Perusahaan Lee dan enam lagi dari perusahaan mereka sendiri. Yang akan menyampaikan materi adalah kepala tiap-tiap departemen di perusahaan, termasuk Namjoon, selaku pemilik perusahaan.

Moderator rapat kali ini adalah dia sendiri, Jimin sudah membaca berkali-kali materi rapat. Dia juga sudah melakukan simulasi jauh-jauh hari, bahkan dia sampai meminta pendapat Yoongi mengenai caranya berbicara.

Hembusan napas keluar dari mulutnya, ini adalah hari yang penting, hari yang ditunggu-tunggu semua orang. Rapat ini harus berhasil karena Jimin yakin dia dan yang lain tidak ingin dihadapi dengan perintah otoriter ibunya Namjoon.

Pintu ruangan dibuka, Jimin menoleh ke belakangnya. Dia menghembuskan napas lega ketika yang masuk adalah Namjoon.

"Hyung, syukurlah kau sudah datang." Jimin menghampiri Namjoon, "Aku kira kau akan terlambat atau yang lebih buruk lagi, kau tidak datang sama sekali."

"Berapa menit lagi?" tanya Namjoon.

Jimin melihat arlojinya, "Kurang lebih lima menit lagi. Jangan khawatir, Hyung, semuanya sudah siap."

"Apakah ibuku datang?"

Jimin tidak langsung menjawab, dia pun bertanya, "Memangnya kenapa, Hyung?"

Namjoon menggeleng, "Tidak, hanya bertanya."

Merasa tidak akan mendapat penjelasan lebih, Jimin menganggukkan kepalanya, masih ada hal yang lebih penting lagi yang harus dia cemaskan saat ini.

Suara ketukan pintu membuat Namjoon dan Jimin menoleh.

"Masuk," ujar Jimin dengan lantang.

Taehyung yang masuk, menatap Jimin serius, "Mereka sudah datang."

Jimin mengangguk, "Baiklah, tolong beritahu yang lain untuk segera ke sini."

Sebelum keluar ruangan, Taehyung melirik sekilas ke Namjoon. Apa yang terjadi di antara mereka berdua kemarin, dia harus melupakannya sementara. Dia dan Namjoon bisa membicarakannya lagi nanti, setelah semua ini selesai.

Dengan anggukan, Taehyung bergegas keluar ruangan.

"Materinya sudah siap?" Namjoon memutuskan untuk berjalan ke kursi yang berada di ujung ruangan.

Jimin mengangguk, matanya fokus tertuju ke iPad di tangannya, "Materi dan proyektor sudah siap semua."

"Baiklah." Namjoon menghela napas, "Beritahu aku sesuatu tentang pemilik Perusahaan Lee. Sekecil apa pun itu informasinya, beritahu aku."

Jimin melirik sekilas ke Namjoon sebelum balik fokus ke iPadnya.
"Kau mungkin akan terkejut, tapi orang yang akan kau temui hari ini sebenarnya bukan pemilik sejati Perusahaan Lee."

Namjoon membelakakan matanya tidak percaya, bukan pemilik sejati Perusahaan Lee?

"Namanya Lee Jaehwan, satu tahun lebih tua darimu. Dari informasi yang aku dapat, dia merupakan anak adopsi. Ibunya merupakan anak kedua dan termuda dari keluarga Lee dan ayahnya merupakan seorang pengusaha yang cukup terkenal di Kanada."

Jimin melanjutkan penjelasannya, "Ini merupakan informasi pribadi dan aku sudah bersusah payah mendapatkan. Aku dengar Lee Jaehwan memiliki hubungan yang kurang baik dengan kakeknya."

"Lee Donghan?" Namjoon bertanya memastikan.

Jimin mengangguk, "Ada yang bilang itu karena Lee Jaehwan merupakan anak adopsi."

Namjoon diam mendengarkan penjelasan yang Jimin berikan selanjutnya. Dia masih memikirkan informasi yang Jimin berikan. Lee Jaehwan merupakan anak adopsi?

Selama ini Namjoon berpikir pemilik Perusahaan Lee merupakan pria yang sudah di usia tiga puluh, bayangannya pria itu sudah berkeluarga. Tapi ternyata pria itu hanya satu tahun lebih tua darinya dan merupakan anak adopsi. Namjoon mulai bertanya-tanya, apakah Lee Jaehwan sehebat itu sampai ibunya ingin bekerja sama dengan Perusahaan Lee?

"Tuan Kim."

Namjoon mengerjapkan matanya, dia menoleh ke sampingnya, tempat Jimin berdiri. Jimin meggerakkan matanya ke arah kirinya, Namjoon mengikuti arah gerak matanya Jimin. Keningnya berkerut ketika matanya jatuh pada sosok pria yang tengah berdiri di dekat proyektor, pasalnya dia tidak mengenal pria tersebut.

"Selamat pagi, Tuan Kim."

Pria tersebut tersenyum ramah, dia berbicara menggunakan bahasa Inggris, "Salam kenal, saya Lee Jaehwan, pemilik Perusahaan Lee. Saya harap rapat ini berjalan lancar, Tuan Kim."