"Semuanya!"

Semua pasang mata yang ada di kedai itu memusatkan perhatian mereka pada satu orang yang berdiri sambil mengangkat tinggi-tinggi gelas kaca berukuran kecil berisi soju. Suasana ramai kedai kini berubah sunyi berkat satu orang itu.

"Mari kita bersulang untuk kesuksesan perusahaan ini, untuk kita semua, dan tentunya untuk atasan kita yang jenius dan berwibawa, Tuan Kim Namjoon. Bersulang!"

"Bersulang!"

Suara dentingan kaca bertemu kaca terdengar di seluruh isi kedai. Suara gelak tawa dan obrolan kembali meramaikan kedai yang berukuran sedang itu.

Namjoon tersenyum ketika rekan kerjanya meminta bersulang, dia memerhatikan wajah riang penuh kebahagiaan di semua rekan kerjanya. Semua orang yang hadir mala mini merupakan orang-orang yang setia padanya walaupun mungkin ada beberapa dari mereka yang terpaksa datang ke kantor.

Terpaksa atau tidak, Namjoon benar-benar berterima kasih pada mereka semua. Jika bukan karena bantuan dan dukungan mereka, rapat hari ini mungkin tidak akan berjalan semulus dan selancar yang Namjoon harapkan.

"Apakah Anda tidak minum sojunya, Tuan Kim?"

Namjoon berdeham singkat sebelum menjawab sambil tersenyum, "Seseorang sedang menungguku di rumah, aku tidak ingin mabuk saat pulang nanti."

"Waaah, apakah itu kekasih Anda, Tuan Kim?"

"Eh, Tuan Kim punya kekasih?"

"Tentu saja dia punya, dasar bodoh. Bos semuda dan setampan dia mana mungkin tidak memiliki kekasih? Perempuan mana yang akan menolak pesonanya?"

Gelak tawa mengisi sudut kedai yang tengah Namjoon tempati, dia sendiri tertawa kecil mendengar obrolan tersebut. Hembusan napas keluar dari mulutnya. Lagipula, dia akan menyetir nanti, dia hanya akan membahayakan dirinya sendiri jika minum terlalu banyak.

Mata Namjoon beralih ke soju yang mengisi gelas kaca yang ada di tangannya. Pikirannya memutar kembali rapat pagi tadi, tapi bukan itu yang menjadi fokusnya. Melainkan Lee Jaehwan, pria yang merupakan pemiliki Perusahaan Lee saat ini. Masih sulit dipercaya bahwa Lee Jaehwan ternyata anak adopsi dan sekarang menyandang kedudukan tertinggi di perusahaan keluarga Lee.

Apa yang Jimin katakan padanya pagi itu terputar ulang, tentang hubungan antara cucu dan kakek yang dimiliki Jaehwan dan kakeknya.

Jika perihal tersebut memang benar, lantas kenapa kakeknya masih memberikan semua kepemilikan perusahaan pada Jaehwan? Apakah dia tidak memiliki cucu lain?

Namjoon melipat tangannya di depan dada, bukankah Jimin bilang ibunya Jaehwan merupakan anak kedua dan termuda di keluarga Lee? Lalu bagaimana dengan kakaknya? Apakah dia memiliki anak?

Tangan Namjoon terangkat mengusap wajahnya. Astaga, kenapa pula dia memikirkan semua hal itu? Bukan tempatnya juga untuk memikirkan urusan keluarga lain di saat keluarganya sendiri berantakan. Ngomong-ngomong soal keluarganya, mata Namjoon beralih ke Taehyung yang duduk di samping Jimin. Adiknya itu terlihat menikmati waktunya dengan asisten sekaligus stafnya.

Apakah dia harus menghampiri Taehyung dan membicarakan kejadian kemarin? Tidak, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Dia mengajak semua stafnya untuk merayakan hari penting ini. Taehyung masih terhitung sebagai stafnya, dia berhak menikmati malam ini tanpa harus memikirkan kejadian kemarin.

"Kau baik-baik saja, Kawan?"

Namjoon menoleh ke sampingnya. Hoseok tengah berjalan dengan sebotol soju dan gelas kecil di tangannya, pria itu kemudian menarik kursi dan duduk di samping Namjoon.

"Kau tidak punya teman minum?" Namjoon mengangkat alisnya.

Hoseok tertawa, dia kemudian menepuk punggung Namjoon, "Tentu saja aku punya banyak teman minum, semua yang ada di sini mengenalku, Joon. Pertanyaannya adalah.., apakah kau punya teman minum?"

Namjoon diam mendengar pertanyaan Hoseok. Namjoon baru sadar kalau selama ini dia sibuk dengan pikirannya sendiri, dia bahkan tidak sadar semua rekan kerjanya yang tadi duduk di dekatnya sekarang sudah tidak ada.

"Kelihatannya dugaanku benar. Kau memiliki masalah dengan siapa kali ini?" Hoseok bertanya lagi.

Namjoon menghembuskan napas lelah, dia bahkan bingung sendiri.

"Aku selalu mengagumimu, Joon." Hoseok berdecak, "Tapi tidak kusangka kau bisa semenyedihkan ini."

Namjoon berdecak kesal, dia memberikan tatapan tajam ke Hoseok, "Jaga mulutmu, sebaiknya kau jangan lupa kalau aku merupakan atasanmu. Aku bisa memecatmu kapan pun aku mau."

Hoseok tertawa mendengarnya.

Namjoon membalasnya dengan tertawa kecil, dia hanya bergurau dan Hoseok sudah pasti mengerti. Mereka berdua sudah berteman sejak kecil. Walaupun ada perbedaan dua tahun, mereka tidak mempermasalahkannya. Alasan kenapa Namjoon tidak masalah dengan Hoseok yang berbicara informal padanya adalah karena Hoseok merupakan orang yang paling mengerti dirinya selama bertahun-tahun.

Setiap kali Namjoon memiliki masalah terkait orangtuanya, Hoseok merupakan orang pertama yang akan dia hubungi. Namjoon melihat Hoseok seperti dia melihat Taehyung, yaitu sebagai adik. Orangtuanya tidak pernah tahu tentang Hoseok, Namjoon tidak pernah mengenalkan teman-temannya pada orangtuanya dan begitu pula sebaliknya.

Hanya Hoseok, satu-satunya teman masa kecilnya yang dia beritahu tentang kelakuan orangtuanya. Laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya itu merupakan orang pertama yang dia beritahu jika sudah bersangkutan dengan ibunya.

"Hoseok, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Namjoon menatap langit-langit kedai yang dibuat dari kayu. Dia menghembuskan napas lelah entah untuk yang ke berapa kalinya.

Hoseok diam memerhatikan Namjoon. Dia dapat melihat bagaimana pundak Namjoon merosot, padahal dia baru saja tertawa.

"Apakah kau tidak bisa langsung bicara dengan ibumu? Tentang kau yang tidak pernah suka watak ibumu yang memaksa dan otoriter." Hoseok melirik ke arah Taehyung, "Dan membeda-bedakan orang seakan-akan dia yang paling baik dan suci."

Seandainya semudah itu, pikir Namjoon.

Namjoon sudah mencoba untuk berbicara baik-baik dengan ibunya, sudah dia coba sejak dia berumur dua belas tahun. Tapi apa yang dia dapat? Komentar ibunya yang berkata bahwa Namjoon terlalu buta akan dunia yang luas ini, terlalu naïf kata wanita itu.

Namjoon mendengus. Jika dia terlalu naïf, dia tidak mungkin membangkang ibunya demi dirinya dan adiknya.

Kepala Namjoon berdenyut. Namjoon mengerang sakit dan memijat keningnya.

"Apakah kau baik-baik saja, Joon? Apakah kau mau aku antar pulang? Kita bisa naik mobilmu atau aku, terserah kau saja." Dalam sekali tarikan napas, Hoseok berujar khawatir.

Namjoon menggelengkan kepalanya, erangan kembali keluar dari mulutnya ketika rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."

"Jangan berbohong, Namjoon. Kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi bukan aku. Aku sudah mengenalmu sejak kita kecil, aku mengerti jelas tabiat burukmu yang suka berbohong."

Namjoon mengibaskan tangannya, isyarat bahwa dia tidak butuh bantuan Hoseok. Dia menyenderkan punggungnya ke sofa. Namjoon menghembuskan napas lega saat punggungnya menyentuh permukaan sofa yang empuk.

Botol soju yang Hoseok bawa tidak tersentuh sejak mereka berbicara, bahkan soju di gelas Namjoon masih utuh. Dia tidak bersemangat untuk merayakan lagi. Setidaknya staf-stafnya terlihat bersenang-senang.

"Maaf jika ini menambah sakit kepalamu, tapi apakah kau sudah memberitahu Seokjin tentang ibumu?" Hoseok mengangkat bahunya, "Selain dia bertemu ibumu tanpa sengaja hari itu."

Namjoon memejamkan matanya, dia kemudian menggeleng pelan.

Dia dapat mendengar Hoseok yang bergumam sesuatu, mungkin merutuki dirinya yang menyembunyikan hal-hal penting dari kekasihnya sendiri.

"Untuk orang dengan IQ tinggi, kau benar-benar bodoh, Namjoon," gerutu Hoseok. "Bukankah kau sendiri yang berjanji akan melindungi orang-orang yang aku sayangi? Di mana Namjoon yang aku kenal dulu, huh? Apakah kau takut ibumu akan mengancam melucuti kekayaan dan pangkatmu sebagai seorang CEO?"

Namjoon menggeram pelan, untuk apa dia takut dengan ancaman ibunya? Kekayaan? Pangkat? Semua itu tidak ada artinya baginya.

"Dengar, jika kau mencoba untuk membangkitkan semangatku, lebih baik jangan mengungkit soal ibuku yang akan melucuti pangkatku di perusahaan." Namjoon tertawa meremehkan, "Dia tidak akan berani melakukan itu karena dia akan kehilangan ahli waris."

Hoseok diam. Dia mengubah posisi duduknya, "Maaf, aku tidak tahu harus berkata apa lagi."

Namjoon memerhatikan Hoseok.

"Kau benar, dia akan kehilangan ahli waris. Dia tidak mungkin mengangkat Taehyung sebagai CEO karena dia tidak pernah menyukai Taehyung." Hoseok mengambil botol soju dan menuangkan isinya ke gelas, "Tapi sebaliknya, dia bisa memaksamu untuk melakukan apa pun yang dia inginkan karena sepertinya dia sudah mengetahui kelemahanmu."

Hoseok mengangkat gelasnya, kemudian meneguk isinya. Pria itu meringis ketika merasakan efek hangat di tenggorokannya.

"Kelemahanku?" tanya Namjoon dengan kening berkerut.

Dengan anggukan, Hoseok menjawab, "Ya, siapa lagi kalau bukan Seokjin?"

.

.

.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada berikut.

Namjoon mendesah kesal ketika ponselnya dialihkan langsung ke pesan suara. Ini sudah ketiga kalinya Namjoon menghubungi Seokjin, tapi tiga kali pula perempuan itu tidak mengangkat teleponnya. Namjoon tahu Seokjin tidak ada kelas hari ini karena semua mahasiswa diliburkan, dia juga tahu bahwa Seokjin berencana untuk menginap di rumahnya hingga tahun baru.

Rasa khawatir semakin bertumbuh besar, Namjoon tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia sudah mengirim beberapa pesan sebelum dia meninggalkan kedai minum, semua panggilan teleponnya tidak diangkat hingga sekarang. Namjoon juga sudah menghubungi Yoongi, tapi perempuan itu menjawab bahwa dia tidak melihat Seokjin sejak kemarin. Jungkook juga memberi jawaban yang sama saat dia dihubungi.

Namjoon menghempaskan tubuhnya ke jok mobil, lampu merah menyala terang di depan sana. Otaknya berputar, dia benar-benar khawatir. Tidak mungkin dia bertanya pada Hoseok, Jimin dan Taehyung. Mereka bertiga sejak pagi ada di kantor, bahkan hingga sekarang masih minum-minum di kedai bersama staf yang lain.

"Ayolah, lampu merah sialan." Namjoon bergumam, dia menggertakkan giginya tidak sabaran.

Ketika lampu hijau menyala, Namjoon langsung menginjak gas dan menyalip mobil di depannya. Dia menulikan telinganya ketika suara klakson mobil terdengar keras. Kakinya tidak terangkat dari pedal gas, bahkan saat mobilnya melaju di atas rata-rata. Beberapa kali mobil yang Namjoon salip membunyikan klakson, entah karena terkejut atau kesal.

Mobil Namjoon memasuki permukiman tempat Namjoon tinggal. Dia melewati beberapa blok terdepan sebelum melihat rumahnya. Lampu depan rumahnya menyala terang, semua tirai menutupi pemandangan dalam rumah lewat jendela.

Setelah mematikan mesin mobil dan mengeluarkan kunci dari slot, Namjoon bergegas merogoh saku dan mengeluarkan kunci rumah. Dia membuka kunci pintu depan dengan tergesa-gesa. Umpatan keluar secara spontan ketika pintu belum juga terbuka.

Setelah terdengar suara 'klik', Namjoon membuka pintu dan segera menutupnya, tanpa sengaja menutupnya terlalu keras hingga menimbulkan suara keras yang menggema di rumahnya yang sepi.

Terlalu sepi, pikir Namjoon.

Dia segera berjalan menuju ruang tengah. Ketika tidak melihat Seokjin di sana, Namjoon bergegas ke atas. Namjoon berharap Seokjin ada di atas karena jika tidak, dia mungkin akan menggila.

Namjoon memutar kenop pintu perlahan, "Seokjin, apakah kau di dalam?"

Ketika tidak mendapat respon, Namjoon membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Matanya beredar ke kamarnya yang gelap.

"Seokjin, ini tidak lucu. Kau ada di mana?" Namjoon bertanya, kepanikan mulai memasuki tubuhnya.

Hawa dingin dari kamarnya tidak membantu sama sekali. Jantungnya berdetak cepat dan keras, dia merasa seakan-akan jantungnya akan meledak.

"Seokjin! Kau ada di mana?!" Namjoon berteriak khawatir ketika dia tidak merasakan apa pun di atas kasur.

"Demi Tuhan, kau ada di mana, Kim Seokjin?! Jika kau mencoba untuk mengerjaiku, kau berhasil, oke?!"

Namjoon mengeluarkan ponselnya, dia kemudian menekan nomor Seokjin. Telinga Namjoon mengangkap suara getaran dari nakas di sebelah tempat tidurnya. Matanya membulat sempurna ketika melihat ponsel Seokjin yang menyala menampilkan namanya.

Pikirannya mulai beredar ke mana-mana. Namjoon mulai memikirkan kemungkinan yang terjadi. Seokjin bisa jadi sedang keluar dan melupakan ponselnya, tapi mana mungkin dia keluar tengah malam seperti ini? Atau mungkin Seokjin sudah kembali ke apartemennya dan lupa ponselnya, tapi tas dan barang-barang perempuan itu masih ada di sini.

Namjoon berbalik badan dan benar saja, barang bawaan Seokjin masih ada di kamarnya.

Seketika dia memikirkan kemungkinan terburuk. Apakah Seokjin diculik? Apakah Seokjin diculik saat perempuan itu sedang di luar sore tadi?

Apakah dan apakah, semua kemungkinan terburuk terus terpikirkan oleh Namjoon. Dia bahkan tidak sadar saat lampu kamar dinyalakan. Namjoon baru sadar dari lamunannya ketika suara lembut seorang perempuan terdengar oleh telinganya.

"Namjoon? Kau sudah pulang?"

Namjoon berbalik badan dengan sangat cepat hingga dia dapat mendengar sendi-sendinya bersuara, mungkin karena kelelahan. Dengan mata yang terbuka lebar, Namjoon melihat Seokjin sedang berdiri di ambang pintu. Perempuan itu terlihat sedang tersenyum seperti biasanya ketika menyambut kedatangan Namjoon. Terdapat buku di tangan Seokjin.

Ah, dia habis dari ruang baca. Namjoon mengusap wajahnya. Pantas saja sedaritadi Seokjin tidak mendengar suaranya. Namjoon sengaja membuat ruang baca di rumahnya sedikit kedap suara, dia membuatnya karena tidak ingin diganggu saat sibuk seandainya teman-temannya datang ke rumah dan menginap.

"Kau dari ruang baca," gumam Namjoon.

Seokjin mengangguk, kemudian berjalan mendekati Namjoon, "Tidak heran kenapa kau suka sekali dengan ruangan itu. Rasanya nyaman berada di sana."

"Ya, tentu saja. Memang itu tujuan aku membuat ruangan itu."

"Namjoon," Seokjin menatapnya dengan kening berkerut, "Apakah semuanya baik-baik saja? Wajahmu kelihatan kusut sekali. Apakah rapatnya berjalan lancar? Akan aku siapkan air panas, kau sebaiknya jangan tidur dulu, oke?"

Seokjin mengusap pelan pipi Namjoon, senyuman masih ada di wajah perempuan itu.

Namjoon mengangguk, air panas kedengarannya enak. Badannya terasa pegal, terutama bagian lehernya.

"Oh." Seokjin memijat pundak Namjoon, "Sepertinya ada yang harus dipijat."

Namjoon mengerang ketika Seokjin kembali memijat pundaknya. Astaga, badannya terasa remuk sekali.

"Ya, sepertinya."

Seokjin tertawa mendengar respon Namjoon. Dia kemudian memberi usapan di pundak Namjoon, "Aku tidak akan lama. Sepertinya hari ini merupakan hari keberuntunganmu, Namjoon. Tidak setiap hari kau mendapat layanan pijat dariku."

Namjoon tertawa kecil, dia melihat Seokjin menaruh bukunya di nakas dan berjalan ke kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, Namjoon langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hari ini benar-benar bukan hari keberuntungannya.

Namjoon menutup matanya, dia tidak sadar bahwa rasa kantuk segera menjemputnya. Beberapa saat kemudian, ponsel Seokjin yang berada di nakas bergetar, menandakan ada yang menghubunginya. Tapi Namjoon tidak menyadarinya karena dia sudah terlelap.

Mrs. Kim is calling...