Suara percikan api terdengar jelas di kedua telinga Seokjin. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, namun sinar matahari belum terlihat. Seokjin dapat mendengar suara ketawa anak perempuan yang merupakan anak tetangganya. Seulas senyuman muncul di wajah Seokjin.
Walaupun anak perempuan itu tidak memiliki ayah, setidaknya dia masih memiliki ibu yang menyayanginya sepenuh hati. Seokjin pernah diundang makan malam oleh keluarga yang hanya terdiri dua orang itu dan Seokjin dapat bersumpah itu merupakan makan malam terhangat yang pernah dia rasakan.
Seokjin menghembuskan napas, dia merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya. Kemarin dia sudah menghubungi ibunya dan tepat di deringan terakhir, ibunya mengangkat teleponnya.
Seokjin masih ingat nada terkejut ibunya kemarin.
"Seokjin? A-apa yang.."
"Jika kau benar-benar ibuku, datanglah ke apartemen di mana kau meninggalkanku bertahun-tahun lalu."
Seokjin meringis mengingat apa yang dia ucapkan kemarin. Seharusnya dia tidak berbicara sekasar itu. Tapi itu juga bukan sepenuhnya salah Seokjin. Dia tidak mengira ibunya akan menerima panggilan teleponnya.
Dia akan bertemu ibunya sebentar lagi. Mereka berdua setuju untuk bertemu di lobi apartemen antara pukul enam dan setengah tujuh pagi, yang artinya tidak lama lagi.
Setelah bertahun-tahun lamanya, Seokjin akan bertemu dengan ibunya lagi. Dia tidak ingat tampang ibunya, tidak ada satupun yang Seokjin ingat mengenai ibunya. Bagaimana dengan ayahnya? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya. Apakah ayahnya masih ada? Apakah kedua orangtuanya masih bersama?
Banyak sekali pertanyaan yang mengisi kepala Seokjin. Dia tidak tahu harus bertanya apa pada ibunya nanti. Tapi satu hal yang pasti, dia akan bertanya tentang kenapa ibunya meninggalkannya. Satu pertanyaan itu harus mendapat jawabannya karena jika tidak, Seokjin mungkin akan membenci ibunya selama hidupnya.
Getaran di saku celananya menyadarkan Seokjin dari lamunannya. Saat dia melihat ID sang penelpon, Seokjin segera melempar asal selimutnya dan bergegas mengenakan alas kaki.
Pintu apartemennya dia buka lebar hingga menimbulkan suara bedebum keras. Seokjin tidak melihat ke belakang di mana tetangganya beserta anak perempuannya melihat keluar, bertanya-tanya apa yang terjadi. Fokus Seokjin hanya tertuju pada satu hal, dia harus segera turun ke lobi lantai satu.
Dengan jantung yang berdetak keras di dadanya, Seokjin memaksakan kakinya agar berlari lebih cepat. Dia tidak peduli jika dia hampir jatuh saat turun tangga. Tanpa memedulikan kakinya yang masih terluka, Seokjin terus berlari sekuat tenaga hingga dia sampai di lantai satu.
Deru napasnya terdengar keras.
Di sana. Tepat di meja resepsionis, seorang wanita dan seorang pria tengah berdiri. Mereka berdua tidak terlihat menyadari keberadaan Seokjin. Saat wanita itu menyentuh layar ponselnya, Seokjin merasakan getaran di saku celananya.
Seokjin melirik ke saku celananya lalu balik ke pasangan yang ada di resepsionis. Matanya kemudian beradu tatap dengan dua pasang mata lainnya. Sambil menghela napas, Seokjin memberanikan diri untuk bersuara.
"Kenapa kalian meninggalkanku?"
.
.
.
"Apakah kau sudah gila?! Kita tidak bisa menyerahkan Seokjin kepada orang lain! Aku tidak peduli jika orangtua kita terus mengganggu kita berdua. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyerahkan Seokjin, anak satu-satuya kita, pada orang lain!"
"Eun-gi, dengarkan aku." Pria itu, ayahnya Seokjin, memegang lengan istrinya. Dengan suara yang bergetar, dia berkata, "Aku juga tidak ingin melakukan ini, apalagi pada putri semata wayangku. Tapi kita tidak memiliki pilihan lain."
"Kau pintar, jenius, penuh dengan ide dan cara. Kenapa hanya ini yang bisa kau pikirkan?" Ibunya Seokjin meremas kemeja depan ayahnya, mata hazelnya yang biasanya terlihat hangat kini terlihat redup. Cairan bening air mata menggenang di mata wanita itu.
"Aku tidak akan melakukannya.. Persetanan dengan orangtua kita! Aku tidak akan melakukan ini pada putriku sendiri!"
Suara teriakan, raungan, dan tangis kesedihan ibunya terdengar hingga ke kamar Seokjin. Perempuan yang hanya berumur tiga tahun itu ikut menangis. Dia meremas kuat-kuat selimut yang menutup tubuhnya. Dia tidak mengerti kenapa orangtuanya saling berteriak, tapi dia tidak menyukainya.
"Dengarkan aku, Eun-gi! Orang yang akan kita temui adalah orang yang dapat kita percayai, kita mengenalnya sejak sma. Kau ingat Kwang-sun? Dia bersedia membantu kita. Dia dan istrinya akan menjaga Seokjin dengan baik, mereka sudah berjanji padaku."
"Ayah macam apa kau ini, huh?!" Ibunya Seokjin mendorong ayahnya sampai pria itu terjatuh, "Teganya kau menyerahkan putrimu pada orang lain. Kau tidak pantas dipanggil 'ayah'!"
"Demi Tuhan! Aku melakukan ini demi kebaikan putri kita. Memangnya kau pikir aku ingin menyerahkannya pada orang lain begitu saja? Apakah kau berpikir sebegitu rendahnya tentang aku?"
Ibunya Seokjin menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia meremas kepalanya yang sakit berkat masalah keluarganya. "Aku tidak ingin orangtua kita merenggut Seokjin…m-mereka akan memaksanya belajar..di-dia akan tersiksa ji-jika bersama mereka. A-aku tidak ingin hal itu sampai terjadi pada Seokjin..cukup kita berdua yang menjadi boneka mereka…"
Ruangan itu legang, menyisakan suara isak tangis ibunya Seokjin. Ayahnya menghembuskan napas kesal bercampur lelah, dia juga tidak ingin putrinya tersiksa oleh paksaan pihak keluarganya dan istrinya.
Sejak kecil, masa depan mereka berdua telah ditentukan oleh orangtua mereka. Di mana mereka akan sekolah, pekerjaan mereka, sampai pasangan hidup. Walaupun begitu, mereka berdua tetap menjalaninya, berharap hal yang sama tidak akan terjadi pada anak mereka. Tapi harapan mereka tidak terkabulkan.
Keserakahan keluarga mereka yang menjadi alasan utamanya.
Keluarga istrinya menginginkan Seokjin sebagai penerus Perusahaan Lee, bukan anak laki-laki yang diadopsi adik istrinya. Sebaliknya, keluarganya tidak memiliki penerus selain Seokjin dan adik sepupunya. Sangat disayangkan, Seokjin merupakan satu-satunya orang yang bisa menjadi penerus perusahaan keluarga karena adik sepupunya merupakan seorang autis.
Pihak keluarganya tidak memiliki pilihan lain, mereka tidak bisa memaksa adik sepupunya Seokjin memimpin perusahaan di masa yang mendatang. Yang menyebalkan adalah pihak keluarga istrinya. Mereka tidak mau jika yang menjadi penerus merupakan seorang anak adopsi, mereka menginginkan penerus yang memiliki hubungan darah.
Seokjin pun menjadi objek perebutan kedua pihak keluarga. Mereka baru saja mengadakan pertemuan keluarga, di mana kedua pihak keluarga bertemu untuk mendiskusikan perihal tersebut. Tapi bagaikan nasi menjadi bubur, keserakahan sudah menyelimuti ayah dari pihaknya dan istrinya. Tidak ada yang mau mengalah.
Itulah kenapa dia memutuskan untuk menyerahkan Seokjin pada orang lain. Dengan tujuan untuk menyembunyikan Seokjin dari keluarganya untuk sementara waktu. Setidaknya sampai keadaan membaik. Jika terpaksa maka sampai semua masalah selesai.
"Kita tidak memiliki pilihan lain, Eun-gi." Ayahnya Seokjin mengusap wajahnya, "Kau tahu salah satu dari mereka tidak akan mengalah."
"Kau menginginkan masa depan yang cerah bagi Seokjin, aku pun juga sama. Orangtua mana yang tidak menginginkan itu?"
"Tapi tidak seperti ini. Tidak dengan menyerahkan putri kita pada orang lain." Air mata mengalir dari kedua mata hazel ibunya, wanita itu tidak bisa menerima cara penyelesaian suaminya.
"Kita dapat memercayai Kwang-sun, percayalah yang satu ini padaku. Mungkin kita tidak bisa membujuk orangtua kita, tapi setidaknya kita bisa menjauhkan mereka dari Seokjin. Mungkin tidak selamanya, tapi untuk sementara waktu."
Tangan kasar ayahnya Seokjin meremas lembut tangan ibunya yang lembut. Senyuman kecil menghiasi wajahnya untuk pertama kalinya pada hari itu. "Aku janji ini bukan untuk selamanya," ucapnya penuh cinta.
"Pernikahan kita merupakan sesuatu yang diatur orangtua kita, tapi aku tidak pernah mau menikah dengan wanita lain selainmu, Sayangku."
Malam itu diakhiri dengan orangtuanya Seokjin saling berpelukan, mencoba menghalau hawa dingin yang menyelimuti tubuh mereka. Saat matahari belum menampakkan sinarnya, mereka membawa Seokjin ke suatu tempat. Dengan koper yang berisi baju dan perlengkapan Seokjin, mereka pergi meninggalkan kediaman megah mereka.
Hanya ada satu tujuan di kepala pasangan itu. Kota Seoul, kota yang jauh dari kediaman utama keluarga mereka di Busan.
Kota di mana Seokjin tumbuh besar tanpa kedua orangtuanya, di mana semua kenangan baik dan buruk tersimpan di kepala dan hatinya. Hingga saat ini.
.
.
.
Dengan kedua tangan yang menutup wajahnya, Seokjin menghembuskan napas entah untuk yang ke berapa kalinya. Apa yang baru saja dikatakan kedua orangtuanya membuat kepalanya semakin penuh dengan pertanyaan. Setidaknya beberapa pertanyaannya telah terjawab melalui cerita masa lalunya.
"Apakah kau sekarang mengerti kenapa kami menyerahkanmu pada Kwang-sun?" tanya ibunya.
Seokjin mengangguk. Dia mengangkat kepalanya yang tertunduk kemudian menggeleng. "Tapi aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau mengumpat dengan ketidakhadiran kalian di hidupku selama dua puluh satu tahun ini."
"Apa maksudmu, Seokjin?" Kini ayahnya yang bertanya.
"Kalian ingin masa depanku cerah dan bahagia. Tapi bahkan setelah kalian menyerahkanku, masa depanku tetap dihiasi awan," ucap Seokjin dengan datar.
"Sejak kecil, aku selalu diganggu di sekolah bahkan sampai kuliah pun begitu. Aku memiliki insomnia karena mimpi buruk yang terus menghantuiku yang ternyata merupakan ingatan masa laluku. Lalu sekarang, aku memiliki masalah dengan kekasihku." Seokjin tertawa miris, "Aku mulai berpikir bahwa hidupku akan terus seperti ini."
Kening ibunya mengerut, "Kekasih, kau bilang?"
Seokjin mengangguk pelan.
"Apakah kau mau memberitahu kami soal masalah itu?"
Seokjin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia sedang mencoba untuk menyelesaikan masalahnya dengan masa lalunya. Masalahnya dengan masa sekarang dan masa depan harus dikebelakangkan untuk saat ini.
"Apakah kedua keluarga masih memperebutkan aku?"
Ayahnya menghembuskan napas lelah. Seokjin dapat melihat wajahnya yang berubah kusam ketika mendengar kata 'keluarga'. Dia tidak ingin mengganggu ayahnya dengan menyebut masalah keluarga mereka, tapi Seokjin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ya, tentu saja mereka masih. Perusahaan keluarga ibumu tetap berjalan dengan sepupumu, Jaehwan, yang memimpin walaupun kakek kalian keberatan. Nah, soal perusahaan keluarga ayah…"
Hembusan napas kembali keluar dari mulut ayahnya. Kini giliran ibunya yang menjawab.
"Keadaan perusahaan keluarga ayahmu tidak terlalu bagus, Nak. Sejak kedua keluarga mengetahui bahwa kau menghilang, kesehatan kakek dari ayahmu menurun drastis. Dia terus memikirkan nasib keluarganya di masa depan, bahkan saat ayahmu mengambil alih perusahaan, keadaan kakekmu tidak membaik."
"Seburuk apapun ayahku membesarkanku, dia masih peduli pada dua cucunya, Seokjin." Ayahnya tersenyum kecil sambil menatap Seokjin, "Dia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padamu. Dia juga takut jika seandainya perusahaannya bangkrut, anak-anak beserta cucu-cucunya harus menanggung semua hutang yang dimiliki perusahaan selama beberapa tahun belakang ini."
"Ibu akan berterus terang saja. Keluarga ayahmu sudah berubah, mereka tidak sama seperti saat kau masih kecil, Seokjin. Lain halnya di keluarga ibu."
Seokjin mengingat sesuatu. "Beberapa hari lalu kekasihku mengadakan rapat dengan Perusahaan Lee. Apakah itu perusahaan keluargamu, Ibu?"
Ibunya kelihatan terkejut mendengar ucapan Seokjin. Sedangkan Seokjin kelihatannya tidak menangkap keterkejutan ibunya.
"Bisa jadi. Untuk memastikannya, apakah kau tahu siapa yang ditemui kekasihmu itu saat rapat?" tanya ayahnya menyelidiki.
Seokjin menggelengkan kepalanya. Dia tidak bertanya jauh mengenai rapat yang Namjoon hadiri beberapa hari lalu. Tapi seingatnya perusahaan yang menghadiri rapat dengan Namjoon merupakan perusahaan kelas atas. Dia ingat Namjoon pernah memberitahunya bahwa perusahaan itu menduduki posisi teratas, mengalahkan perusahaan yang dipegang Namjoon.
Seokjin menggigit bibirnya, "Perusahaan keluarga kita..apakah termasuk perusahaan terkenal?"
Ibunya mengangguk. "Setelah kemunduran perusahaan ayahmu, Perusahaan Lee menguasai hampir seluruh sektor industri di negara ini."
Ruang tamu itu berubah sunyi. Di kepalanya, Seokjin sedang berpikir. Dia ingin membantu orangtuanya menyelesaikan masalah yang tengah bergejolak di keluarganya. Sudah dua puluh tahun lebih dan masalah itu belum juga selesai.
"Kau tidak perlu melakukan apa pun, Seokjin."
Seokjin menoleh.
"Biarkan kami yang menyelesaikannya. Ini merupakan masalah yang dimulai kedua orangtua kami," ucap ayahnya sambil tersenyum menenangkan.
"Ya, tapi aku merupakan putri kalian. Akulah yang diinginkan kedua keluarga." Seokjin balas berbicara dengan tegas.
Jika ini merupakan masalah orangtuanya, maka ini juga merupakan masalahnya. Cukup sudah dirinya yang terus menghindar masalah dalam hidupnya. Dia bukanlah lagi gadis remaja yang bingung dengan jati dirinya. Dia merupakan Kim Seokjin, seorang penerus yang diinginkan kedua pihak keluarga orangtuanya.
"Biarkan aku menemui keluarga kita, Ibu, Ayah."
Untuk pertama kalinya, Seokjin yakin dengan keputusan yang dibuatnya.
"Biarkan aku mengambil alih Perusahaan Lee dan menanggung semua hutang perusahaan keluarga ayah."
Kali ini, Seokjin tidak akan mundur.
.
.
.
.
.
Astaga…
Akhirnya aku menulis masa lalunya Seokjin.
Sudah lama sejak aku ingin menulis chapter ini.
Sejak awal aku merevisi cerita ini, aku merombak ulang alur ceritanya. Dan yang paling aku tidak sabar sejak mulai merevisi adalah bagian konflik utama cerita ini dan endingnya.
Uhuhuhuuu~
Aku benar-benar tidak sabar untuk dua hal itu.
Aku akan mencoba untuk menulis konflik utamanya dalam beberapa chapter karena aku merasa cerita ini memiliki awalan yang terlalu panjang. Goalku adalah menyelesaikan cerita ini kurang dari empat puluh chapter.
Mari kita lihat apakah aku bisa melakukannya (insert thinking emoji)
