Namjoon menatap layar bagian bawah komputernya, di mana tertulis tanggal serta waktu saat ini. Tahun sudah berganti untuk ke sekian kalinya dan baru kali ini dia melewatkannya seorang diri. Biasanya ada Hoseok, Jimin, Yoongi yang menemaninya. Dan karena sekarang ada Taehyung, Jungkook, dan Seokjin, seharusnya mereka juga ikut merayakan tahun baru bersamanya.

Namjoon menghembuskan napas lelah. Ya, seharusnya.

Salah satu alasan kenapa dia menghabiskan malam tahun barunya sendirian adalah karena Seokjin yang tiba-tiba menghilang. Tanpa pesan atau surat singkat, perempuan itu menghilang seakan-akan ditelan bumi. Bahkan Yoongi yang hampir setiap saat tahu keberadaan Seokjin, tidak tahu apa pun. Namjoon sudah bertanya ke Hoseok, Jimin, Jungkook, bahkan Taehyung. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu.

Lalu alasan kedua, ibunya. Tidak ada hari di mana wanita itu tidak datang ke rumahnya atau kantornya, apalagi saat dia tahu bahwa Seokjin menghilang. Namjoon tiba-tiba ingat terakhir kali dia bertemu ibunya. Minggu lalu ibunya datang ke rumahnya. Dengan senyuman menghiasi wajahnya, dia berbicara dengan nada riang.

"Namjoon, kabar baik untukmu!"

Mendengar itu, Namjoon mengangkat sebelah alisnya. Ibunya jarang berbicara seriang itu.

"Apalagi sekarang?" tanyanya singkat.

"Oh kenapa kau tidak senang sedikit, son? Ini benar-benar kabar baik untukmu."

"Ya, karena itu aku bertanya."

Ibunya menggelengkan kepalanya, "Kau benar-benar datar. Seingat Ibu kau tidak sedatar ini saat kecil."

"Orang-orang berubah dan aku bukan anak kecil lagi," jawab Namjoon sambil mengangkat bahunya. "Jadi apa kabar baiknya?"

"Kau akan menikah dengan putri keturunan Jeon!"

Awalnya Namjoon biasa-biasanya saja. Dia kira keluarga Jeon yang lain karena bisa saja ada lebih dari satu keluarga Jeon di luar sana. Seperti keluarganya dan keluarga Seokjin.

"Oh, maksudmu keluarga yang selalu ayah sebut?"

Ibunya mengangguk dengan semangat, terlampau semangat sampai Namjoon mengernyitkan keningnya.

"Ibu senang kau tidak masalah dengan pernikahan ini." Ibunya tertawa ringan, "Ibu kira kau akan menentangnya."

Namjoon memalingkan wajahnya dan mendengus. "Siapa bilang aku setuju?" gumamnya.

"Siapa pula namanya?" tanyanya berbasa-basi.

"Jeon Jungkook."

Namjoon mengusap wajahnya, dia benar-benar lelah dengan ibunya. Tepat saat ibunya mengucapkan nama Jungkook, amarah Namjoon meluap. Dia ingat jelas pertengkaran yang meletus antara dia dan ibunya minggu lalu.

"Apakah kau sudah gila?! Kenapa kau seenaknya memasangkanku dengan Jungkook?!" Dengan nada tinggi dan kasar, Namjoon menghampiri ibunya, "Apakah kau tega menyakiti perempuan itu?!"

"Menyakiti Jungkook? Jangan bercanda, Namjoon, Ibu tidak–"

"Jungkook adalah kekasihnya Taehyung. Jangan bilang kau tidak tahu?"

"Tentu saja Ibu tahu dan karena itu Ibu–"

"Karena itu kau memasangkan Jungkook denganku? Karena Taehyung tidak berguna bagimu?" Namjoon memberikan ibunya tatapan tajam dengan seribu pedang, "Apakah kau tidak tahu seberapa kerasnya Taehyung belajar agar dia bisa diakui oleh ayah dan kau? Apakah kau tahu seberapa perih dan sakitnya Taehyung saat tahu bahwa kau dan ayah selalu menempatkannya di posisi terakhir? Apakah kau tahu seberapa sabarnya Taehyung sejak dia tinggal bersama kita?!"

"Kau tidak tahu apa-apa, Namjoon!"

Namjoon kaget mendengar ibunya, dia sampai melangkah mundur.

"Kau pikir kau tahu apa soal cara kami memperlakukan Taehyung, huh? Memangnya kau tahu kenapa kami tidak mau mengadopsi Taehyung saat kau membawanya dari Daegu? Memangnya kau tahu?!"

Namjoon terjengkang ke belakang berkat ibunya yang mendorongnya. Dengan mata yang terbuka lebar, Namjoon menatap ibunya yang menangis.

Ibunya tidak pernah menangis. Sejak dia kecil, Namjoon tidak pernah melihat ibunya menangis. Saat dia senang atau sedih ketika melihat nilai Namjoon, ibunya tidak menangis. Saat ayahnya memarahi Taehyung bahkan sampai memukulnya, ibunya tidak menangis. Wanita itu selalu berdiri tegap dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak ada senyuman maupun air mata.

Oleh karena itu, melihat ibunya menangis saat ini tepat di depan matanya membuat Namjoon diam seribu bahasa. Bukan karena air mata yang mengalir di pipinya, melainkan perasaan sedih, kecewa, dan penuh kesakitan yang dia lihat di mata ibunya.

"Ibu tidak mau mengadopsi Taehyung karena Ibu takut ayahmu akan membeda-bedakan kalian berdua. Lebih baik Ibu menyakiti perasaanmu dengan tidak mengadopsi Taehyung daripada membiarkan ayahmu menyakiti bayi semungil dan sesuci Taehyung," jelas ibunya dengan suara serak.

Namjoon tahu dia tidak seharusnya bertanya, tapi dia sudah tidak dapat menahannya setelah bertahun-tahun. "Lalu kenapa kau diam saat ayah memarahi Taehyung? Kenapa kau ikut memarahi Taehyung?"

"Karena Ibu tahu bahwa ayahmu hanya akan lebih memarahi Taehyung. Dia tidak pernah menyukai Taehyung, barang sedetik pun tidak. Kenapa Ibu memarahi Taehyung? Karena jika bukan Ibu, ayahmulah yang akan melakukannya. Kau tidak tahu seberapa buruknya watak ayahmu, apalagi saat dia marah."

"Kau tahu alasan kenapa Ibu memindahkan Taehyung ke Busan? Itu bukan karena Ibu membencinya, Namjoon. Ibu tahu kau tidak pernah mau bekerja di perusahaan keluarga, ayahmu juga tahu. Karena itu ayahmu berencana memaksa Taehyung untuk menggantikan tempatmu, dia tidak peduli jika Taehyung tidak mau. Itulah kenapa Ibu memindahkan Taehyung ke Busan. Untuk menjauhkannya dari ayahmu."

"Rumah yang ditempati Taehyung dan Bibi Yona merupakan rumah peninggalan kakek-nenek Ibu. Kartu kredit yang Bibi Yona gunakan hanya dapat dikontrol oleh Ibu. Itulah kenapa ayahmu tidak pernah mengungkit soal Taehyung, karena dia pikir Ibu sudah 'membuang'nya. Tapi tidak, Ibu tidak membuang Taehyung. Demi Tuhan, mana mungkin seorang ibu tega melakukannya jika bukan demi kebaikan anaknya?"

Dengan pipi yang basah, ibunya menangis tersedu-sedu. Raungan kesedihan penuh rasa sakit ibunya menggema di rumah yang sunyi itu. Namjoon menatap ibunya yang terduduk lemas di lantai.

Hilang sudah sosok ibunya yang tegas dengan wajah menatap lurus ke depan tanpa keraguan. Yang ada hanyalah sosok seorang ibu yang terluka hatinya karena putranya sendiri.

Namjoon telah menggores hati ibunya yang telah digores ayahnya. Dia telah mendurhakai ibunya yang telah berkorban banyak.

.

.

.

Dengan tarikan napas, Seokjin membuangnya perlahan. Matanya bergerak untuk melihat sekelilingnya. Tidak ada yang berubah. Tentu saja, dia hanya meninggalkan Seoul selama satu bulan. Sebuah senyuman terpampang jelas di wajah perempuan yang sudah berumur dua puluh lima tahun. Rasanya baru kemarin dia merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh tahun bersama Kwang-sun dan keluarganya.

"Jin-ah!"

Seokjin menoleh ketika namanya dipanggil. Senyumnya semakin melebar ketika ibunya menghampirinya dengan senyuman yang tidak kalah lebar.

"Ada apa, Ibu?"

"Kenapa kau terburu-buru sekali, hm?" tanya ibunya penasaran. Seokjin meraih tas yang tengah dibawa ibunya. Dia kemudian hanya membalas pertanyaan ibunya dengan senyuman yang sama dan berbalik badan.

Dia tertawa kecil ketika mendengar gerutuan ibunya. Tanpa mengindahkan ibunya yang menggerutu, Seokjin mempercepat langkahnya hingga dia berdiri di samping lampu lalu lintas. Jalanan siang itu seperti yang Seokjin duga, ramai. Seoul tidak pernah sepi baik pagi, siang, maupun malam.

Angin musim dingin menyapa siang itu. Seokjin memejamkan matanya, dia dapat merasakan dingin yang menusuk tulang bahkan dibalik mantel dan syalnya.. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai berterbangan searah dengan arah angin bertiup.

"Astaga, Jin-ah." Seokjin menoleh ke sampingnya. Ibunya berdecak sambil merapihkan rambut Seokjin. "Kelihatannya putriku sedang bahagia hari ini."

"Tentu saja dia bahagia, Eun-gi. Dia akhirnya kembali ke Seoul setelah menghabiskan satu bulan di Busan," timpal ayahnya.

"Jadi, putriku ini akan segera lulus, hm?" Ayahnya tersenyum bangga dan merangkul tubuh Seokjin yang lebih pendek, "Kau benar-benar kebanggaan kedua orangtuamu ini, Jin-ah."

"Aku masih harus melakukan beberapa ujian lagi, lalu menerima hasilnya, lalu.."

"Baiklah, baiklah. Kami mengerti, kami mengerti," potong ibunya dengan anggukan kepala.

Seokjin tertawa mendengar respon ibunya.

Seokjin menghabiskan satu bulan waktunya di Busan dengan keluarganya. Ternyata silsilah keluarganya tidak terlalu rumit. Namun yang rumit adalah kakeknya. Seokjin tentunya bertemu dengan kedua kakeknya, tapi jika harus jujur saja, Seokjin lebih menyukai kakek dari ayahnya.

Pria yang sudah di akhir tujuh puluhnya itu menyambut Seokjin dengan pelukan hangat beserta kecupan di kening dan pipi. Seokjin merasa lebih nyaman dan rileks saat dia bersama kakeknya yang satu itu. Dia dapat membicarakan bermacam-macam hal dan kakeknya tidak akan mengomentarinya. Pria itu akan ikut berbicara dengannya, menimpalinya, dan kadang membuat lelucon.

Lalu ada kakek dari ibunya. Pria itu lebih muda dua tahun dari kakeknya yang satu lagi, namun auranya lebih tegas dan lebih dingin. Seokjin akhirnya mengerti kenapa Jaehwan sangat menghormati kakeknya yang ini. Pria itu tidak suka lelucon, dia lebih suka untuk berbicara langsung ke inti. Permainan yang dimainkan pria itu berupa permainan fakta, angka, diagram, dan macam-macamnya.

"Apakah Jaehwan akan menetap di Seoul?"

Orang-orang yang berdiri di pinggir jalan kini mengangkat kaki mereka dan berjalan menyebrangi jalan raya. Tangan kanannya sibuk menarik kopernya, sedangkan tangan kirinya menenteng tas ibunya.

"Ya, dia bilang dia akan berada di Seoul selama dua minggu. Masih banyak yang harus dia jelaskan tentang perusahaan keluarga kita kepadamu, Jin-ah."

Seokjin berdeham pelan. Dia sudah menduga hal itu.

Mata Seokjin beralih menatap langit cerah Seoul. Sinar matahari tidak terik siang itu membuat tubuh Seokjin rileks walaupun harus disapa dengan angin musim dingin. Dia suka musim dingin, tapi tidak sebanding dengan musim semi.

Banyak kenangan bahagia di musim semi. Ingatannya memutar ulang kejadian setahun yang lalu. Seokjin ingat hari itu, hari di mana dia menghabiskan waktunya bersama Namjoon dengan membersihkan apartemennya, pergi ke laundry, lalu Hongdae. Saat malam tiba, mereka bertemu Taehyung dan Jungkook.

Lalu musim dingin. Alasan kenapa dia suka musim dingin adalah karena dia lahir di musim ini. Di musim ini pula dia merayakan natal dan tahun baru dengan orang-orang yang dia cintai. Namun musim dingin kali ini meninggalkan rasa pahit baginya.

Setelah panggilan telepon dari ibunya Namjoon, Seokjin memutuskan kontak dengan Namjoon dan yang lainnya. Seokjin juga tidak menghadiri pernikahan Jimin dan Yoongi. Padahal teman-temannya sudah mengingatkannya lewat chat dan pesan suara.

Seokjin tahu tidak seharusnya dia melakukan itu, tapi dia harus menyelesaikan masalahnya. Dua masalah kini sudah selesai, tersisa satu masalah lagi.

Sesuai dengan janjinya, Jaehwan akan membawa Seokjin ke rapat yang akan diadakan bersama perusahaannya Namjoon, dimana Seokjin akan memberitahu Namjoon semuanya.

.

.

.

"N-nuna…"

Seokjin hanya diam ketika Taehyung menatapnya dengan kedua mata terbuka lebar. Hari ini Seokjin akan mengikuti rapat antara perusahaan yang dipimpin Jaehwan dan Namjoon. Rapatnya akan berlangsung di gedung perusahaan Namjoon.

Seokjin meminta pada Jaehwan agar mereka tiba di lebih dulu karena Seokjin ingin berbicara sebentar dengan Namjoon. Jaehwan pun menyetujui permintaan Seokjin walaupun dia tidak tahu apa yang akan Seokjin bicarakan dengan Namjoon.

"Apakah kau bisa membawaku ke Namjoon?" tanya Seokjin langsung ke intinya.

"Memangnya ada apa, Nuna?"

"Ada yang harus aku bicarakan dengannya." Seokjin menjawab sesingkat mungkin.

Setelah menatap Seokjin dan Jaehwan bergantian, dengan ragu, Taehyung mengangguk.

Seokjin menoleh ke Jaehwan dan berbisik, "Aku tidak akan lama."

Jaehwan tersenyum, rapat baru akan mulai setengah jam lagi. Tidak perlu buru-buru.

Mata Seokjin beredar mengamati sekitarnya. Dinding lantai itu dicat putih. Beberapa tanaman dapat terlihat menghiasi lantai itu. Lorong yang Seokjin lewati menghubungkan bagian resepsionis dengan ruang yang berisi kubik-kubik tempat para staf bekerja. Lantai itu bagaikan sarang lebah, tidak ada orang yang tidak sibuk.

"Namjoon-hyung ada di dalam."

Seokjin menatap pintu kaca di depannya. Setelah berterima kasih pada Taehyung, Seokjin menarik napas dalam-dalam dan mengetuk pintu. Terdengar suara Namjoon yang mempersilahkannya masuk. Dengan jantung yang berdetak keras di dadanya, Seokjin mendorong pintu dan melangkah masuk.

Seokjin menahan napasnya ketika melihat Namjoon yang duduk di kursi hitam. Fokus pria itu tertuju ke komputer yang ada di depannya. Dengan kacamata bertengger di batang hidungnya dan tangan yang sibuk menggerakkan mouse, Namjoon tidak menyadari kehadiran Seokjin.

"Ada apa?"

Suara berat Namjoon menyadarkan Seokjin. Dia mengerjap, tenggerokannya bergerak karena ludah yang baru saja dia telan. Dengan suara yang bergetar, Seokjin memanggilnya, "Namjoon."

Seokjin meringis ketika pria yang dia panggil menggerakan kepalanya dengan cepat.

"Apakah aku berhalusinasi?" gumamnya.

Seokjin pun menggeleng. Dengan ragu, Seokjin berjalan maju, sedikit demi sedikit menghapus jarak antara mereka berdua. Dia berhenti di depan meja Namjoon.

"Maaf jika aku membuatmu khawatir. Selama ini aku ada di Busan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, aku baik-baik saja. Dan mungkin ini akan mengejutkanmu, tapi aku bertemu dengan orangtuaku." Seokjin tersenyum kecil, "Itulah kenapa aku tiba-tiba menghilang, masalah keluarga."

"Ah, begitu rupanya," jawab Namjoon. "Kalau begitu selamat karena bertemu dengan orangtuamu. Aku harap kalian dapat hidup bahagia sebagai keluarga lagi."

"Itulah harapan kami." Seokjin kemudian berdeham, "Ada yang harus aku beritahu, Namjoon. Ini ada kaitannya dengan ibumu dan hubungan kita."

Seketika, Namjoon mendongakkan kepalanya. Sebelum dia sempat membuka mulutnya untuk berbicara, Seokjin lebih dulu bersuara. "Aku tidak tahu apakah ibumu sudah memberitahumu atau belum, tapi dia berencana menikahkanmu dengan Jungkook."

"Aku tahu."

Seokjin terkejut mendengarnya. Namjoon menatapnya datar untuk kemudian menundukkan kepalanya. Pria itu mencopot kacamatanya dan menaruhnya di meja, dia kemudian memijat keningnya.

"Ibuku sudah memberitahu semuanya dan sebenarnya kau agak terlambat memberitahuku itu." Namjoon menghela napas.

"Aku dan Jungkook tidak akan menikah." Namjoon kemudian menatap Seokjin sambil tersenyum, "Aku dan Jungkook berbicara dengan pihak keluarganya. Kami bilang bahwa kami sudah mencintai orang lain dan selebihnya berjalan agak lancar."

"B-begitu…"

Namjoon mengalihkan pandangannya dan mencoba mengganti topik pembicaraan. "Aku tidak tahu kalau Jungkook ternyata dilahirkan dengan 'sendok perak' di mulutnya. Ketika orangtuanya meninggal, kakek-neneknya tidak mengizinkan keluarga ayahnya untuk membesarkan Jungkook. Jadilah Jungkook tinggal dengan kakek-neneknya sampai mereka meninggal dan sampai dia bertemu Taehyung."

"Lalu bagaimana kalian bisa sampai ingin dinikahkan?" Seokjin bertanya penasaran.

"Karena keluarga kami memiliki hutang."

Namjoon dan Seokjin menoleh ke sumber suara. Napas Seokjin tercekat ketika melihat ibunya Namjoon di depan pintu.

"Syukurlah kau ada di sini, Seokjin. Kau selalu muncul di momen yang tepat," ucap ibunya Namjoon. Wanita itu berjalan menghampiri Seokjin. Setelah berdiri tepat di samping Seokjin, ibunya Namjoon menatap Seokjin dan Namjoon secara bergantian kemudian berkata, "Aku merestui kalian."

Seokjin menatap wanita di sampingnya dengan ekspresi terkejut. Saat dia menoleh ke Namjoon, pria itu juga mengenakan ekspresi yang sama dengannya.

Helaan napas keluar dari mulut ibunya Namjoon. "Selama ini, aku selalu bertindak seperti seorang penjahat padahal niatku hanya untuk menjaga kedua putraku. Aku tidak sadar bahwa tindakanku itu menyakiti Namjoon dan Taehyung bahkan merambat ke orang-orang yang mereka cintai."

"Aku tidak akan menyebutkan satu per satu semua ucapan dan tindakanku yang telah menyakiti kalian berdua, tapi jauh di lubuk hati terdalamku, aku hanya ingin melindungi dua putraku. Oleh karena itu, maafkan aku."

Seokjin semakin dibuat terkejut ketika ibunya Namjoon bersujud. Dia baru saja ingin membantu ibunya Namjoon untuk berdiri ketika Namjoon berlari ke ibunya. Pria itu kemudian memegang pundak ibunya dan memeluknya dengan erat. Ucapan maaf terus terlontar dari mulutnya Namjoon bersamaan dengan suara isak tangis dari pasangan ibu dan anak itu.

Senyuman merekah di wajah Seokjin. Dia kemudian berjalan menuju pintu dengan perlahan-lahan, takut menganggu Namjoon dan ibunya. Setelah berada di luar, Seokjin menutup pintu ruangan Namjoon rapat-rapat. Tapi sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Seokjin dapat mendengar suara ibunya Namjoon.

"Ibu tahu selama ini Ibu salah, tapi Ibu yakin untuk yang satu ini, Ibu tidak akan salah. Jangan lepaskan Seokjin, apa pun kondisinya. Dia merupakan wanita yang kuat dan tegar dan Ibu hanya rela jika kau bersama Seokjin."

Seokjin tersenyum mendengar ucapan ibunya Namjoon. Namun senyuman itu kemudian hilang.

Putramu tidak akan melepaskanku, tapi akulah yang akan melepaskannya, pikir Seokjin.

.

.

.

.

.

So, bagaimana ceritanya?

FYI, cerita ini akan selesai sebentar lagi. Perhitungan kasarku kira-kira sampai chapter 35 tapi itu bisa lebih singkat lagi dan bisa lebih panjang lagi. So who knows (insert emoji)