Suara bising orang-orang bercampur pemberitahuan dari speaker merupakan hal pertama yang menyambut kedatangan Seokjin setelah dia melewati proses landing dan mengambil kopernya. Ketika pintu kaca yang memisahkan ruang pengambilan bagasi dengan lorong utama bandara terbuka, Seokjin menarik napas dalam-dalam. Dia merasa bahwa dia harus mempersiapkan dirinya untuk apa saja yang mungkin akan terjadi nanti.
Entah itu bagus atau buruk.
Dengan satu tangan menarik kopernya, Seokjin mengamati sekitarnya. Setelah pesawatnya landing, dia menerima pesan dari Jihoon. Perempuan yang lebih muda darinya itu memberitahu bahwa dia sudah menunggu di depan pintu keluar.
Seokjin sudah lupa tempat-tempat yang ada di Bandara Incheon, oleh karena itu dia mengandalkan petunjuk arah yang telah tersediakan.
Ketika melihat kata 'exit', Seokjin tersenyum girang. Beruntung dia tidak lepas dari bahasa Korea sejak pindah ke Kanada. Seokjin berjalan menuju pintu keluar terdekat, ketika pintu kaca terbuka, seorang perempuan bertubuh mungil menubruknya. Perempuan itu memeluknya erat seakan-akan Seokjin adalah bantal terempuk yang pernah dia temui.
Seokjin tertawa senang dan balik memeluk perempuan itu. Setelah sesi memeluk, mereka berdua melepas pelukan mereka. Senyuman lebar menghiasi kedua wajah mereka.
"Astaga! Aku tidak percaya kau benar-benar di sini, Seokjin!" seru perempuan mungil itu.
Seokjin kembali tertawa. Dia menepuk pelan kepala perempuan yang lebih pendek darinya itu, "Aku juga tidak percaya aku kembali ke Korea setelah lima tahun, Jihoon-ah."
"Berapa kali harus aku beritahu? Panggil aku Woozi."
"Aku masih bertanya-tanya kenapa kau lebih memilih dipanggil 'Woozi' ketimbang nama aslimu." Seokjin menggelengkan kepalanya heran.
Jihoon tersenyum menanggapi ucapan Seokjin. Dia pun mengulurkan tangannya sebagai isyarat untuk memberikannya bawaan Seokjin. Seokjin yang mengerti maksud Jihoon pun menggelengkan kepalanya tidak mau. Tapi sayang sekali, Jihoon tidak menerima jawaban Seokjin dan tanpa izin menyambar tas koper Seokjin.
"Jihoon-ah.."
"Hush!" Jihoon mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Seokjin, "Kau adalah tamuku maka dari itu aku berhak membawa barangmu. Nah, sekarang nikmati saja liburanmu, Jin-ah."
Tanpa menunggu balasan dari Seokjin, perempuan mungil itu berbalik badan dan berjalan sambil menarik koper Seokjin. Melihat hal tersebut, Seokjin hanya bisa tersenyum pasrah dan mengikuti langkah temannya itu.
Udara dingin di Incheon tidak terasa asing bagi Seokjin. Dia sudah terbiasa dengan udara dingin mana pun karena dia sering berpergian keluar negeri di musim dingin. Walaupun begitu, ternyata udara di sini lebih dingin daripada udara di Kanada. Seokjin sampai harus menjejalkan kedua tangannya ke saku mantelnya.
Seharusnya dia membawa sapu tangan. Seokjin merutuk kebodohannya untuk yang ke sekian kalinya. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu lupa membawa sapu tangan. Jika saja ibunya ada di sini sekarang, mungkin wanita itu sudah menceramahinya mengenai pentingnya sapu tangan di musim dingin.
"Eh, apakah ini mobilmu?" Seokjin menatap mobil hitam yang terparkir rapih di hadapannya.
"Yep."
Kening Seokjin mengerut seperti teringat sesuatu. "Tapi sejak kapan kau punya mobil? Seingatku kau tidak pernah bilang apa-apa soal membeli mobil."
"Aku memang tidak membelinya." Jihoon menjawab singkat, perempuan itu membuka bagasi mobilnya dan memasukkan koper Seokjin. Setelah selesai, dia menutup kembali bagasinya dan berbalik menatap Seokjin sambil tersenyum. "Kakakku yang membelikannya."
"Yoon..gi?" ucap Seokjin ragu.
Jihoon mengangguk semangat. Dia jadi ingat saat kakaknya tiba-tiba menyuruhnya untuk memilih mobil. "Kakakku tiba-tiba menelponku saat aku sedang mendesain pakaian untuk acara fashion show di New York. Tahu-tahunya dia menyuruhku untuk memberitahunya mobil yang aku inginkan. Aneh, bukan?"
"Tunggu." Seokjin mengangkat kedua tangannya di depan dadanya, "Acara fashion show di New York? Tapi itu dua tahun lalu!"
"Ya, memang dua tahun lalu," beo Jihoon.
"Jadi selama dua tahun terakhir kau punya mobil hitam mewah dan tidak memberitahuku apa-apa? Astaga, Min Jihoon! Teganya kau ini!"
"Hei! Kenapa kau berbicara seakan-akan aku kejam? Kau sendiri punya mobil yang lebih mewah dan mahal daripada punyaku. Dan ini merupakan mobil pertamaku dan satu-satunya." Jihoon merengek sambil menghentakan kakinya ke lantai.
Jika perempuan itu sedang merengek, dia kelihatan sangat berbeda dengan kakaknya. Ah, mengingat Yoongi hanya akan membuat kepalanya sakit.
"Apakah kau bisa mengantarku ke tempat penginapanku?" Seokjin bertanya mengubah topik pembicaraan. Dia mencoba menghangatkan tangannya dengan menggosokkan kedua tangannya. Nihil, tangannya tetap kedinginan.
"Ya dan tidak." Jihoon menghembuskan napas lelah dan menarik Seokjin menuju pintu penumpang mobilnya. "Masuklah," titahnya sopan. "Aku tidak bisa membuat tamuku membeku kedinginan karena udara dingin Incheon, bukan?"
.
.
.
Seokjin mendesah lega ketika wajahnya diterpa kehangatan dari penghangat mobil Jihoon. Dia dapat merasakan tangannya kembali setelah berkontak fisik dengan udara dingin di luar sana. Seokjin pun membuat dirinya nyaman di kursi penumpang, Jihoon di sampingnya sedang fokus membawa mobil.
Mobil, lampu lalu lintas, papan iklan, pohon, toko di seberang jalan, kerumunan manusia. Semua itu dapat terlihat jelas dari kaca depan mobil. Matahari sedang tertutup awan jadinya cahayanya yang masuk ke kaca tidak terlalu terik.
Sudah lima tahun sejak Seokjin menginjakkan kaki di Seoul. Dia sudah mengunjungi banyak sekali kota karena urusan bisnis, tapi dia tidak pernah sekali pun datang ke Seoul. Bahkan saat keluarga besarnya mengadakan pertemuan, dia tidak datang. Hanya orangtuanya dan Jaehwan yang datang.
Banyak yang telah terjadi di negara ini, terutama di Seoul. Lima tahun Seokjin berusaha keras untuk menghindarinya, tapi di sinilah dia berada sekarang. Di jantung negara Korea, tempat kenangan baik dan buruk menumpuk.
"Apakah Sandeul sudah memberitahumu, Jin-ah?" Suara Jihoon memecahkan lamunan Seokjin.
"Memberitahuku apa?"
"Kau akan tinggal di tempatku selama dua minggu ke depan."
"Tapi aku sudah menyuruh Sandeul untuk memesan kamar di hotel," sergah Seokjin.
Jihoon tersenyum dan melirik sekilas ke sampingnya. "Ya, dia memang sudah memesannya. Tapi aku menyuruhnya untuk membatalkannya. Aku ingin menghabiskan dua minggu ke depan denganmu. Mumpung pekerjaanku tidak terlalu banyak."
Seokjin berdeham singkat. Itu tidak terlalu buruk. Selain dia tidak perlu repot-repot mencari taksi atau naik bus dan subway, dia bisa mengejar ketertinggalan dengan Jihoon. Terakhir kali dia melihat temannya itu dua tahun lalu di acara fashion show di New York.
"Kau tidak keberatan tinggal di tempatku, bukan?" Jihoon bertanya memastikan.
Seokjin dapat melihat kerutan di kening Jihoon, fokus perempuan mungil itu masih ke jalanan di depan. Dia pun tersenyum. "Seharusnya aku yang bertanya itu, Jihoon-ah."
Jihoon terkekeh, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk hari ini?"
Mendengar pertanyaan itu, sebuah ide melintas di kepalanya Jihoon. Saat mereka sampai di lampu lalu lintas yang berubah merah, Jihoon menoleh ke sampingnya.
Sambil tersenyum, dia menawarkan, "Bagaimana kalau kita minum-minum?"
.
.
.
Suara getaran ponsel yang beradu dengan permukaan nakas yang terbuat dari kayu berhasil membangunkan Jaehwan. Dia tidak membutuhkan alarm bervolume keras untuk membangunkannya, cukup dengan getaran ponselnya gelembung mimpinya pecah. Sambil mengerang, Jaehwan menyibak selimut halusnya dan beralih duduk di pinggiran kasurnya.
Dengan setengah kesadarannya, dia meraih ponselnya dari nakas. "Halo?"
"Kenapa suaramu serak, Son?"
Seketika, kantuk hilang dari matanya. "Kakek?"
"Astaga, ada apa dengan suaramu itu, huh? Jangan bilang kau habis minum-minum dan mengalami hangover?"
"Tidak, tidak. Aku baru saja bangun," jawab Jaehwan dengan gelengan kepala. Dia berdiri dan beranjak keluar kamarnya. Saat dia melihat jam, dia kaget ketika tahu sekarang baru jam 5 pagi.
Seokjin pasti sedang bersenang-senang di Seoul, rutuk Jaehwan dalam hatinya.
"Son? Kau tidak balik tidur, bukan?"
"Tidak, tidak. Aku ada di sini." Jaehwan berdeham beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu, "Hanya sedang melamun."
"Well, berhentilah melamun. Kau bisa kerasukan makhluk halus," canda kakeknya sambil tertawa.
Tanpa membalas candaan kakeknya, Jaehwan berjalan ke dapur. Dia membuka lemari es dan mengeluarkan sekarton jus. Dia dan Seokjin berbeda, jika sepupunya minum kopi setelah bangun, maka dia lebih memilih jus.
"Apakah semuanya baik-baik saja, Kakek?" Setelah mengambil gelas di rak atas, Jaehwan mengisi gelasnya dengan jus berwarna merah muda, jus jambu, kesukaannya. "Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja di sini baru jam 5 pagi."
"Oh, benarkah? Maafkan aku, Son. Aku lupa ada perbedaan 13 jam di Korea dan Kanada."
"Tidak apa-apa, Kakek," sergah Jaehwan. "Aku harusnya berterima kasih karena kakek sudah membangunkanku sepagi ini. Aku memang berencana bangun pagi hari ini."
"Hm, baguslah kalau begitu."
Dengan tangan kiri memegang ponselnya di telinga, Jaehwan membawa gelas berisi jusnya ke mulutnya. Saat minuman dingin itu masuk ke tenggorokannya yang kering, Jaehwan harus menahan untuk tidak mendesah lega. Ponselnya masih terhubung dengan kakeknya, tidak mungkin dia melakukannya seenak jidat.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan."
"Kakek bisa bertanya apa saja padaku." Jaehwan kembali menyesap minuman dinginnya, "Berlama-lama juga tidak apa. Aku tidak ada jadwal penting hari ini."
"Bagus. Kalau begitu kenapa aku mendapat laporan tentang Seokjin yang pergi ke Seoul?"
Jaehwan terbatuk mendengar pertanyaan kakeknya. Sial, kenapa pula dia minum saat kakeknya berbicara? Orang tua itu tidak pernah bisa diprediksi. Satu detik dia melempar lelucon, ramah, dan hangat. Satu detik kemudian dia serius, ganas, dan dingin.
"Apa?" tanya Jaehwan masih terbatuk-batuk.
"Kenapa Seokjin pergi ke Seoul? Aku kira dia tidak punya meeting di sana. Bukankah anak itu benci datang ke Seoul? Dia bahkan tidak pernah menghadiri pertemuan keluarga besarnya barang sekali. Jangan bilang dia pergi ke Seoul karena dia ingin bertemu dengan pria itu? Aku sudah menyuruhnya untuk menjauhinya! Kenapa saat aku bilang jangan lakukan, kalian malah melakukannya, huh? Kenapa saat aku bilang 'jauhi', kalian malah 'dekati'?!"
Hening.
Telinga Jaehwan sedikit berdenging ketika kakeknya meninggikan suaranya. Dia ingin sekali merutuki siapa pun itu yang memberitahu kakeknya soal Seokjin yang pergi ke Seoul. Tapi dia harus mengurungkan niatnya itu. Masih ada kakeknya yang harus dia tangani.
"Seokjin sedang berlibur, Kakek. Dia sendiri yang minta untuk pergi ke Seoul. Hanya untuk berlibur, tidak kurang dan lebih."
"Berlibur pantatku. Tentu saja dia ingin bertemu pria itu! Pria bajingan. Dia sama saja seperti ayahnya yang terkutuk."
Jaehwan menghela napas, dia tidak tahu bagaimana Seokjin berhadapan dengan kakek mereka saat dia mengungkit Namjoon dan keluarganya, tapi tentunya Jaehwan tidak bisa meminta bantuan sepupunya saat ini. "Kenapa kakek sangat membenci Namjoon dan ayahnya?"
"Jangan sebut nama pria terkutuk itu! Apalagi ayahnya! Aku muak dengan mereka. Palsu, semua yang mereka punya palsu! Kekayaan, harta, reputasi. Hah! Mereka bisa sejaya ini bukan karena hasil kerja keras mereka sendiri. Mereka tidak perlu 'menggosok lantai berkali-kali' seperti aku dulu. Yang mereka lakukan hanya ambil, ambil, dan ambil. Hanya itu yang bisa mereka lakukan."
Roda gigi di kepala Jaehwan berputar keras, dia masih tidak mengerti maksud kakeknya. Bahkan saat lima tahun sudah berlalu sejak Seokjin meninggalkan Namjoon dan Seoul, Jaehwan masih tidak mengerti alasan dibalik dua hal. Kenapa Seokjin meninggalkan Namjoon dan kenapa kakeknya membenci pria itu.
Dia merasa tertinggal. Entah apakah orangtuanya Seokjin tahu, tapi bahkan jika mereka tidak tahu, Jaehwan tetap merasa tertinggal. Apa yang disembunyikan sepupunya? Kenapa Seokjin enggan memberitahunya?
"Kenapa, kau bilang? Akan aku beritahu."
Jaehwan menahan napas kala mendengar itu. Inilah dia. Saat-saat yang dia tunggu bertahun-tahun lamanya. Jawaban atas pertanyaannya.
"Mereka mengambil hasil kerja kerasku saat ayah pria bajingan itu mendirikan perusahaannya. Bermula dari senyuman, sopan santun, tata krama, berjabat tangan, hingga tanda tangan kerja sama. Layaknya api dalam sekam, dia membakarku diam-diam. Itulah kenapa aku membenci keluarga itu. Mereka hanyalah lintah, setelah mendapatkan yang mereka inginkan, mereka lenggang pergi."
"Apakah itu alasan Seokjin memutuskan kontak dengan Namjoon? Karena kakek menyuruhnya?"
Jaehwan sangat berharap jawabannya tidak seperti dugaannya. Karena jika iya, dia tidak tahu harus memandang kakeknya sebagai orang terhormat atau sebaliknya.
"Memangnya kau pikir apalagi, Son? Tentu saja aku menyuruhnya. Pria bejat tidak pantas bersanding dengan wanita suci."
