Sore itu Seokjin disibukkan dengan Jihoon yang tidak henti-hentinya mengoceh. Seakan-akan tuli, Seokjin mengabaikan ocehan temannya yang lebih muda darinya itu. Dia lebih memilih untuk memeriksa dandanannya ketimbang menguras energinya dengan merespon Jihoon.

"Jin-ah, aku sudah memberitahumu berkali-kali bahwa yang mengadakan pesta natal ini adalah kakakku. Kenapa kau sangat kekeh untuk ikut?" Untuk kesekian kalinya, Jihoon mendobrak masuk ke kamar tamu yang sementara digunakan Seokjin.

"Woozie-ah, aku juga sudah memberitahumu berkali-kali bahwa aku tahu dan akan tetap ikut ke pesta kakakmu itu." Seokjin tersenyum puas ketika dia berhasil memasang antingnya, kemudian berbalik badan, "Kenapa kau sangat kekeh agar aku tidak ikut?"

Wajah Jihoon berubah masam mendengar ucapan Seokjin. Dia melipat tangannya di depan dada. "Kau sangat tahu kenapa, Seokjin."

Mendengar nada tajam Jihoon, Seokjin menghembuskan napas. Dia tahu Jihoon hanya khawatir. Ini bersangkutan dengan hubungannya dan Yoongi. Dan perlu ditekankan, hubungan mereka berdua jauh dari kata "baik".

Sudah lima tahun sejak Seokjin terakhir kali melihat dan berbicara dengan Yoongi. Terakhir kali dia melihat perempuan itu adalah sebelum dia pergi ke Busan untuk bertemu keluarga besarnya untuk pertama kalinya. Bahkan dia juga tidak hadir di pernikahan Yoongi dan Jimin.

Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya Seokjin memiliki nyali yang cukup besar untuk ikut Jihoon ke pesta natal yang diadakan Yoongi. Bukan hanya karena hubungannya dengan Yoongi yang telah terputus, tapi juga karena hal lain. Pergi ke pesta itu berarti Seokjin akan bertemu Jimin, Jungkook, Taehyung, dan tentu saja Namjoon.

Pikirannya berteriak menolak untuk pergi ke pesta itu, tapi tidak dengan hatinya.

"Yah, mau diapakan lagi? Aku sudah bersiap-siap sedaritadi," ujar Seokjin sambil mengangkat bahunya.

Jihoon berdecak sebal. "Aku sudah memberitahumu berkali-kali, Seokjin. Aku harap kau tidak menyesal saat bertemu kakakku dan yang lain."

Seokjin melihat Jihoon berbalik badan dan keluar dari kamarnya. Dia tahu betapa khawatirnya Jihoon, tapi Seokjin rasa ini sudah cukup. Lima tahun kabur dan bersembunyi dari orang-orang yang dia cintai terasa sangat lama dan hal itu sangat menyiksa Seokjin.

Selagi dia ada di sini, selagi dia memiliki nyali, Seokjin akan bertemu keluarga yang telah dia tinggalkan. Dan dia akan mencoba untuk memperbaiki kesalahannya lima tahun lalu.

.

.

.

Salju turun perlahan malam itu, tapi udara dingin tetap saja terasa menusuk tulang seperti biasa. Seokjin menghembuskan napas, dia memerhatikan saksama kepulan asap di depan wajahnya. Seulas senyuman muncul di wajahnya ketika dia melihat butiran salju turun. Layaknya anak kecil, Seokjin menengadahkan kedua tangannya. Sebutir salju mendarat di telapak tangannya kemudian menghilang seakan-akan diserap oleh tangannya.

Kebanyakan orang mungkin membenci musim salju karena suhunya yang dingin. Tapi tidak dengan Seokjin. Dia lahir di bulan dingin ini dan bulan ini pula yang menjadi bulan favorit Seokjin. Bulan Desember merupakan bulan di mana dia bisa merayakan dua hal bersama keluarganya, apalagi jika bukan natal dan tahun baru.

Mungkin untuk yang kali ini akan sedikit berbeda karena dia merayakannya di Seoul sedangkan keluarganya ada di Quebec. Tapi dia juga punya keluarga di Seoul.

Seokjin kembali menghembuskan napas. Dia merasa bersalah karena telah meninggalkan orang-orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya. Jujur saja, Seokjin sangat merindukan Kwang-sun dan keluarganya. Terakhir kali dia menghubungi pria itu sekitar dua tahun lalu. Entah bagaimana kabarnya saat ini.

"Eh benarkah? Wah, selamat kalian berdua!"

Seokjin berbalik badan ketika mendengar suara pekikan Jihoon. Dari tempatnya berada, dia dapat melihat Jihoon sedang berbicara dengan dua orang yang kelihatan tidak asing di matanya. Mata Seokjin melebar ketika menyadari bahwa dua orang itu adalah Taehyung dan Jungkook.

"Sudah berapa bulan?"

"Tiga, Jihoon-ah."

"Apakah kalian sudah tahu jenis kelaminnya?"

"Tidak. Kami baru bisa tahu saat janinnya berusia lima bulan. Lagipula, kami ingin menjadikannya kejutan."

Waktu lima tahun terlihat mengubah wajah Jungkook. Perempuan itu, ah tidak. Wanita itu terlihat lebih dewasa, lebih matang, dan anggun dari terakhir kali Seokjin melihatnya. Pandangannya Seokjin tidak sengaja melihat Jungkook yang sibuk mengusap perutnya yang kelihatan membulat.

Jihoon baru saja bertanya jenis kelamin dan juga umur. Seokjin tentu tahu apa yang tengah mereka bicarakan barusan. Jungkook hamil dan Taehyung adalah ayahnya.

"Tunggu." Seokjin kembali melihat Jungkook dan Taehyung yang kelihatan bahagia. Dari kejauhan Seokjin juga melihat cincin emas melingkar manis di jari manis Jungkook. Itu berarti...

"Aku tidak menyangka kau datang ke pesta ini setelah lima tahun."

Sudut mata Seokjin menangkap sosok wanita bergaun hitam segelap langit malam itu. Kulit pucatnya serta sorot pandangnya, tidak salah lagi. Itu pasti Yoongi.

"Berikan aku satu alasan bagus agar aku tidak mengusirmu dari sini," ujar Yoongi dingin.

Seokjin tidak membuka mulutnya untuk merespon Yoongi, dia hanya balas menatapnya. Merasa resah dengan Seokjin yang diam, Yoongi pun berdecak dan berkacak pinggang. "Hei, apakah lima tahun berlalu dan kau berubah tuli huh?"

"Unnie!"

Jihoon berlari menghampiri mereka berdua. Dia berdiri di depan Seokjin sambil memegang tangan kakaknya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya itu ke wanita yang ada di belakangmu, Jihoon. Jangan bilang kau yang mengundangnya ke sini?"

"Tidak." Perhatian kedua kakak beradik itu beralih ke Seokjin. "Aku yang mengundang diriku sendiri. Dan aku punya alasanku."

"Apa pun itu alasannya, kau tidak seharusnya ada di sini, Nyonya Muda Lee."

Seokjin mengerutkan keningnya. Nyonya Muda Lee?

"Jangan bertingkah seakan-akan kau tidak mengerti, Seokjin. Kami semua tahu bahwa kau memutuskan Namjoon karena pria lain. Tidak usah memasang muka bodoh itu."

Mendengar ucapan Yoongi, Seokjin dapat merasakan amarah yang muncul tiba-tiba di hatinya. Dengan lantang Seokjin berkata, "Kau tidak tahu apa-apa soal alasan aku pergi, Yoongi."

"Aku tahu semuanya, Seokjin. Tidak ada yang perlu kau tutup lagi. Semuanya sudah terbongkar." Yoongi menatap Seokjin dingin. Jihoon yang melihat tatapan kakaknya itu seperti bisa melihat tombak runcing yang berapi di mata kakaknya.

"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja sendiri ke Namjoon. Dia ada di sana ketika kau memutuskan hubungan kalian berdua kemudian kau pergi dengan seorang pria bernama Lee Jaehwan. Itu merupakan alasanmu pergi ke Kanada, bukan? Karena pria itu?" Yoongi menyipitkan matanya seakan ingin mempertajam pandangannya ke Seokjin.

"Bicara apa-apaan kau, Yoongi? Tentu saja itu bukan alasanku pergi ke Kanada. Jika kau tahu alasan yang sebenarnya, kau tidak akan menuduhku berselingkuh. Lagipula, untuk apa aku berkencan dengan sepupuku sendiri?" Tanpa sadar, Seokjin mengambil langkah maju, membuat Yoongi terpaksa mundur.

"Tunggu, sepupu kau bilang?" beo Yoongi.

"Ya." Seokjin melipat tangannya di depan dada. "Sepupu," ucapnya dengan tekanan di setiap hurufnya.

Yoongi menggelengkan kepalanya. "Omong kosong. Jika dia memang sepupumu, kenapa aku tidak tahu huh? Kau sendiri bahkan tidak tahu siapa orangtuamu."

Lima tahun lalu, Seokjin mungkin akan sakit hati jika mendengar kalimat itu. Tapi dia bukanlah Seokjin yang dulu. Dia tahu siapa orangtuanya dan dia tidak akan bungkam ketika ada yang berkata buruk kepadanya.

"Aku tahu siapa orangtuaku. Itulah alasan kenapa aku tiba-tiba menghilang setelah natal lima tahun lalu."

"Lalu kenapa kau memutuskan hubunganmu dengan Namjoon-hyung, Noona?"

Taehyung melangkah masuk mendekati Yoongi dan Seokjin. Di sampingnya berdiri Jungkook yang mengusap lembut lengan Taehyung, wanita itu mencoba untuk menahan Taehyung agar tidak kelepasan.

Jihoon yang berdiri di dekat Seokjin pun menggigit bibir bawahnya. Dia tahu hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat dengan hadirnya Seokjin di pesta ini. Tapi dia tidak tahu akan seserius ini. Dia berharap Seokjin hanya akan bertemu kakaknya. Jika ada Taehyung, maka situasinya akan menjadi lebih serius.

Di saat-saat seperti ini Jihoon benar-benar berharap Hoseok ada di sampingnya. Pria itu selalu tahu apa yang harus dilakukan di situasi seperti ini. Kenapa di saat aku membutuhkannya dia malah tidak ada, pikir Jihoon.

"Bukankah aku sudah pernah memberitahumu lewat surat, Tae? Jangan bilang kau tidak membacanya."

Taehyung mengerutkan alisnya bingung. "Surat? Apa maksudmu? Aku tidak menerima surat apa pun darimu selama lima tahun ini, Noona."

"Surat yang aku titipkan ke resepsionis di perusahaan Namjoon lima tahun lalu. Astaga! Aku bahkan menitipkannya di hari aku datang ke perusahaan Namjoon."

"Jangan salahkan Taehyung jika dia tidak membacanya." Yoongi kembali membuka mulut, "Kau tidak tahu seberapa sibuknya dia mengurus Namjoon dan perusahaan keluarganya yang diambang kebangkrutan,"

"Bangkrut?"

Yoongi berdeham. "Apakah kau tidak membaca beritanya? Perusahaan Kim bangkrut karena semua aset mereka diambil paksa oleh pemilik Perusahaan Lee."

"Pengadilan tidak bilang seperti itu, Yoongi-noona," sergah Taehyung.

"Diambil paksa atau terdakwah mencuri. Bagiku sama saja." Yoongi menghela napas, "Intinya, karena perusahaan keji itu semua usaha yang telah Namjoon lakukan terbuang sia-sia."

"Perusahaan Lee tidak mengambil aset perusahaan keluarganya Namjoon."

Taehyung dan Yoongi menatap Seokjin dengan kening mengerut. Sebelum ada yang berbicara lagi, Seokjin lebih dulu bersuara. "Aku tahu itu karena aku pemilik perusahaan itu."

Sial, rutuk Jihoon di pikirannya. Dia lupa fakta bahwa Seokjin merupakan pemilik Perusahaan Lee saat ini. Seokjin sudah memiliki kekuasaan penuh atas perusahaan itu sejak dia pindah ke Quebec.

Aura di sekeliling mereka tiba-tiba saja berubah drastis. Jika barusan auranya suram, maka kali ini auranya menjadi lebih parah. Jihoon dapat melihat wajah kakaknya yang mengeras seiring dengan rahangnya. Jika wajahnya yang makin tajam merupakan tanda buruk, maka kepalan tangannya malah memperburuk keadaan.

"Siapa yang bilang Perusahaan Lee mengambil aset perusahaan milik Namjoon?" tanya Seokjin memastikan.

"Orang tua itu yang bilang. Siapa namanya? Lee Jong..."

"Jongsan." Taehyung menambahkan.

"Ah, benar. Pria tua dan renta itu, Lee Jongsan."

Tubuh Seokjin menegang kala mendengar nama kakeknya. Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin kakeknya melakukan hal itu. Dia sendiri yang bilang bahwa Seokjin merupakan pemilik sah Perusahaan Lee saat ini. Lalu kenapa dia baru tahu berita soal perusahaan keluarganya dan keluarganya Namjoon sekarang?

"Itu tidak mungkin."

"Apanya yang tidak mungkin?"

"Lee Jongsan." Seokjin melirik ke Jihoon yang juga menatapnya dengan mata terbuka lebar. Kemudian Seokjin mengalihkan matanya ke bawah. Lantai di bawahnya itu seakan-akan menjadi sesuatu yang menarik baginya.

"Dia kakekku."

.

.

.

Pukul 09.00 Quebec, Kanada.

Sejak kakeknya menelpon, Jaehwan tidak balik tidur. Dia bahkan bergegas mandi dan tanpa sarapan, langsung menginjak gas ke apartemen Sandeul. Kakeknya mengungkit keluarganya Namjoon dan apa yang dia bilang soal keluarga itu membuat Jaehwan resah.

Tiba-tiba saja dia ingat soal berita tentang bangkrutnya perusahaan keluarganya Namjoon. Itu bukanlah berita baru, berita itu keluar sekitar lima tahun lalu, beberapa bulan setelah Seokjin pindah ke Quebec. Mendengar betapa bencinya kakeknya terhadap keluarganya Namjoon, terutama ayahnya, Jaehwan memiliki perasaan tidak enak.

Itulah alasan kenapa dia sedang berjalan mondar-mandir di ruangan kerja Seokjin.

Pintu ruangan terbuka. Sandeul masuk dengan setumpukan berkas di tangannya. Pria itu menguap entah untuk yang ke berapa kalinya pagi itu. Salahkan Jaehwan yang tiba-tiba datang ke apartemennya dan menggedor pintu depan seperti orang gila.

"Hei. Apakah kau bisa serius sedikit, Sandeul?" tanya Jaehwan yang lelah melihat Sandeul terus menguap.

Mendengar ucapan Jaehwan, Sandeul berdecak. "Salahmu sendiri yang menyeretku ke sini di hari libur. Bukan hanya Seokjin yang perlu istirahat, kau tahu."

"Ya ya ya. Untuk yang satu ini, tolong bantu aku."

Sandeul tersenyum jahil ketika mendengar nada memohon Jaehwan. Dia melirik Jaehwan di balik pundaknya. "Jarang sekali kau meminta tolong sampai memohon seperti itu, Temanku."

Jaehwan memutar matanya malas, dia sedang tidak ingin bercanda saat ini. "Seriuslah, Sandeul. Aku tidak mungkin menyeretmu paksa ke sini jika tidak menyangkut sesuatu yang serius."

Hembusan napas keluar dari mulutnya Sandeul. "Baiklah, baiklah. Omong-omong, apa yang sebenarnya kau cari? Untuk apa kau menyuruhku mengambil berkas-berkas lama ini?" Sandeul membuka salah satu berkas yang dimaksud, "Astaga, berkas ini bahkan dari lima tahun lalu."

"Benarkah? Berikan berkas itu padaku― ARGH!"

Sandeul meringis ketika melihat kepala Jaehwan terbentur laci meja yang terbuka. "Itu pasti sakit. Apa yang kau lakukan juga di bawah sana? Dasar orang aneh."

Jaehwan memegangi kepalanya yang berkedut sakit. Tanpa mengindahi gumaman Sandeul, Jaehwan memberi isyarat agar temannya itu memberikan berkas yang dimaksud. Sambil menggelengkan kepala, Sandeul menyerahkan berkasnya kemudian beranjak duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan kerja itu.

"Kadang aku tidak mengerti dengan kau dan sepupumu. Kalian berdua pintar, tapi jika aku harus jujur saja, kalian berdua bodoh tujuh puluh persen. Sebentar, itu tidak benar. Maksudku adalah keanehan kalian mencapai tujuh puluh persen ketimbang keseriusannya. Baiklah, kalian serius saat sedang rapat besar, tapi kalian sendiri tidak serius saat rapat kecil tiap akhir bulan. Aku bahkan tidak mengerti kenapa pegawai-pegawai di sini masih mau bekerja dengan kalian berdua. HELL! Aku sendiri bahkan tidak mengerti kenapa aku bisa berteman dengan pasangan sepupu aneh seperti kalian!"

Jaehwan memutar matanya malas mendengar ocehan Sandeul. Dia pun menulikan telinganya dan menaruh semua perhatiannya ke berkas yang ada di tangannya. Baris demi baris dia baca, tidak terlewat diagram dan statistik yang tertera. Jaehwan sudah lupa dengan sebagian besar data yang ada. Mereka semua sudah berumur lima tahun lamanya, tentu saja dia tidak ingat.

Tapi ada satu halaman yang menurutnya janggal. Di halaman itu tidak ada diagram maupun angka seperti halaman-halaman sebelumnya, yang ada hanyalah salinan surat persetujuan. Tanpa membaca isinya, mata Jaehwan turun ke bagian paling bawah surat itu. Di sudut kanan terdapat tanda tangan Seokjin, tapi di sudut satunya merupakan tanda tangan kakeknya.

Merasa aneh dengan hal itu, Jaehwan pun kembali ke bagian atas surat dan mulai membacanya dengan saksama. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari isi surat itu.

Itulah kenapa perusahaan Namjoon bangkrut. Alasan kenapa pengadilan menuduh bahwa semua aset milik perusahaan itu merupakan hasil curian. Kakeknya yang mengajukan tuduhan tersebut disertai dengan persetujuan dari Seokjin.

Matanya kembali ke bagian bawah surat dan benar saja. Di bawah tanda tangan kakeknya terdapat jabatannya sebagai pemilik perusahaan. Pantas saja Seokjin berani pergi ke Seoul sendirian. Dia tidak pernah tahu isi kertas ini karena ini merupakan surat yang disuruh kakeknya untuk ditanda tangani sebelum dia pergi ke Kanada dan sebelum dia menjadi pemilik perusahaan.

Kenapa Jaehwan baru menyadari kebencian kakeknya terhadap keluarganya Namjoon sekarang? Bahkan saat kebencian itu sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.

"Sandeul, kau ingat berita soal Perusahaan Kim yang bangkrut?"

"Eh?" Sandeul mengerjap pelan. "Uhm, ya, berita itu. Tentu. Itu merupakan berita yang sangat besar, tapi bukankah itu berita lama?"

Jaehwan mengangguk. "Apakah ada artikel yang menyebut perusahaan ini?"

"Entahlah. Mana aku bisa ingat? Itu berita lama."

"Cobalah untuk ingat, Sandeul." Jaehwan menatap temannya serius. Di tangannya masih terpegang erat salinan surat persetujuan lima tahun lalu.

"Baiklah, baiklah." Sandeul menelan ludahnya lalu merogoh saku celananya. "Aku akan mencoba untuk mencari artikel yang kau maksud."

Jika seandainya ada, maka semua dugaan Jaehwan terbukti benar. Tapi jika tidak, maka mau tidak mau dia harus bertanya langsung ke kakeknya.

"Ah, ya, ada satu..tidak..ada beberapa artikel yang menyebut perusahaan kita ini." Sandeul membaca saksama artikel yang dimaksud, "Tapi ada yang bilang bahwa itu semua bohong? Aku tidak mengerti. Kenapa perusahaan ini disangkut pautkan dengan bangkrutnya Perusahaan Kim? Apakah karena kerjasama yang waktu itu sempat terjadi? Tapi bukankah kau membatalkannya?"

Mendengar kata "ya", Jaehwan merobek paksa satu halaman itu dan menutup berkas dengan keras sampai membuat suara gaduh yang menggema di ruangan itu. Sandeul sampai melompat kaget mendengarnya. Sebelum keluar dari ruangan itu, Jaehwan berbalik badan dan mengangkat telunjuknya.

"Pesankan aku tiket penerbangan ke Seoul sekarang juga. Bukan satu jam atau siang nanti, tapi sekarang juga."

Sandeul meringis ketika Jaehwan membanting pintu. Dia tidak tahu kenapa temannya berubah seserius itu, tapi satu hal yang pasti, alasannya pasti ada kaitannya dengan berita yang baru saja dia sebutkan.