"We hate some persons because we do not know them and will not know them because we hate them."

Charles Caleb Colton

Seokjin sangat tahu tentang kakeknya yang membenci keluarganya Namjoon, terutama ayahnya. Saat dia menceritakan Namjoon ke ibu dan bibi-bibinya, kakeknya tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Setelah makan malam bersama, kakeknya mengajak Seokjin ke ruang kerjanya untuk "berbicara".

Dunia ini sangatlah kecil, dia terkejut ketika tahu kakeknya pernah bekerja sama dengan ayahnya Namjoon. Menceritakan semuanya dari awal, tentang bagaimana mereka bertemu di salah satu pesta rekan kerja mereka hingga ke bagian saat mereka setuju untuk bekerja sama. Layaknya cerita pada umumnya, kisah yang diceritakan kakeknya memiliki plot twist.

Pengkhianatan.

Setelah kerja sama mereka berlangsung dua tahun, tiba-tiba saja ayahnya Namjoon memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Awalnya kakeknya menduga itu karena urusan pernikahan ayahnya Namjoon. Tapi seiring berjalannya waktu, dugaan kakeknya terbukti salah.

Saat dia menerima undangan pernikahan dari ayahnya Namjoon, kakeknya merasa senang bukan main. Dia sudah menganggap pria itu sebagai putranya sendiri. Tidak mungkin dia melewatkan pernikahan itu. Jadilah kakeknya pergi bersama neneknya. Tapi yang tidak diduga adalah perlakuan ayahnya Namjoon saat bertemu kakek-neneknya. Tidak ada kehangatan dan keramahtamahan dari pria itu, melainkan pundak dingin yang angkuh.

Barulah di penghujung acara, ayahnya Namjoon memberikan pengumuman yang tidak akan dilupakan kakeknya sampai kapan pun. "Seperti yang kalian semua ketahui, aku, Kim Won-Shik, telah mendirikan perusahaan yang kini naik daun dari nol. Karena itu, nikmatilah acara pernikahanku dan istriku yang mewah ini sebagai perayaan resmi dari kesuksesan kerja kerasku!"

Tibalah kakeknya di akhir ceritanya. Kakeknya tidak marah, melainkan lebih dari marah. Dia mengatakan bagaimana pria seperti ayahnya Namjoon merupakan orang yang tamak, keji, dan rendah. Kakeknya bahkan sampai menghina seluruh keluarga itu.

Tapi dari semua yang telah kakeknya ceritakan, ada satu hal yang mengganjal di benak Seokjin. "Lalu kenapa Jaehwan setuju untuk membentuk aliansi dengan Namjoon?"

Kakeknya tersenyum simpul lalu dengan santai dia menyesap teh hangatnya sambil berkata, "Karena kakek yang menyuruhnya. Aku tahu selama ini mereka berusaha untuk memberikan proposal itu ke kita, apalagi istri pria bejat itu. Hah! Suami-istri sama saja, lebih mementingkan kekayaan dibanding yang lain. Bahkan mereka menjadikan anak mereka sebagai "anjing" mereka."

"Apa maksud kakek?"

"Balas dendam yang paling manis adalah secara tidak langsung, Seokjin. Dan aku melakukannya dengan membuat Kim Namjoon menderita karena harus bersusah payah mendapatkan aliansi yang diinginkan orangtuanya."

Dari sanalah Seokjin menyadari letak masalahnya. Kebencian yang kakeknya punya terhadap ayahnya Namjoon, sama saja seperti kebencian yang dimiliki Namjoon terhadap ibunya sendiri. Dua orang yang terluka perasaannya, dua orang yang telah dibutakan mata hatinya.

Seokjin pun memberanikan diri untuk mengajukan sesuatu ke kakeknya malam itu. Dia siap mengambil alih penuh perusahaan keluarga mereka dengan syarat kakeknya memaafkan perbuatan buruk ayahnya Namjoon yang lalu. Awalnya kakeknya terlihat skeptikal, tapi akhirnya dia menyetujui permintaan Seokjin.

"Tapi ada satu syarat yang harus kau setujui juga, Seokjin."

Apa pun itu, asalkan masalah kakeknya dengan keluarga Namjoon selesai, Seokjin siap menyetujuinya.

"Aliansi yang telah terbentuk antara dua perusahaan harus dibatalkan."

Maka selesai sudah masalah itu. Atau itulah yang Seokjin pikirkan.

Di sinilah dia, lima tahun kemudian, baru mengetahui bahwa bangkrutnya perusahaan keluarga Namjoon adalah karena tuduhan kakeknya. Ternyata kakeknya masih belum memaafkan keluarga itu. Bahkan saat Namjoon tidak berbuat salah, dialah yang kena dampak paling besar.

"Trial and error." Taehyung menghembuskan napas lelah, "Atau itu yang Namjoon-hyung ucapkan waktu itu."

"Selama dua minggu, Namjoon-hyung terus bolak-balik dari rumah ke pengadilan. Semua yang hadir waktu itu lebih banyak dari pihak lawan, belum lagi bukti nyata yang mereka punya." Mengingat kejadian itu membuat Taehyung meremas celananya kesal. Kakaknya tidak pernah mencuri jerih payah orang lain. Dia bukanlah seorang pencuri. Tapi tetap saja, setelah berkali-kali mencoba membela diri sendiri, semuanya sia-sia. Pada akhirnya, lawannya menang dan semua hasil kerja keras kakaknya diambil tidak menyisakan satu pun.

"Semuanya mereka ambil. Saham, mobil, bahkan lahan bangunan juga. Satu-satunya yang tersisa hanyalah modal yang Namjoon-hyung berikan ke perusahaan. Itu pun juga diambil beberapa persen oleh lawan."

Seokjin mendengarkan dengan saksama. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, para tamu sudah mulai berkurang menyisakan mereka berenam. Dia, Jihoon, Taehyung, Jungkook, Yoongi, dan Jimin.

"Lalu bagaimana dengan pekerjaan Namjoon?" Seokjin menatap empat orang di depannya.

"Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi." Jimin menggelengkan kepalanya. Setelah mengantar para tamunya ke pintu depan, Jimin langsung bergabung. "Percuma jika dia ingin menyelamatkan perusahaan keluarganya. Tidak ada yang bisa diselamatkan, bahkan reputasi saja tidak." Yoongi mengusap punggung suaminya, mencoba untuk memberi kekuatan walaupun dia tahu itu tidak ada gunanya.

"Jika kau penasaran apa pekerjaan Namjoon saat ini, dia bekerja di perkebunan milik keluarga ibunya di Ilsan." Yoongi memberitahu tanpa mengalihkan perhatiannya dari suaminya. "Aku mengundangnya untuk merayakan natal bersama tahun ini, tapi jawabannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya," gumam Yoongi lelah.

Seokjin dapat melihat jelas raut lelah dan sedih di wajah keempat temannya. Dia tidak tahu perbuatan kakeknya dapat berdampak ke teman-temannya juga. "Seandainya aku bisa mengembalikan semuanya ke awal, apakah kalian mau memaafkanku?"

Taehyung tersenyum mendengar pertanyaan Seokjin, namun dia menggelengkan kepalanya. Seokjin menatap Taehyung tanpa berkedip. "Kami akan sangat menghargai bantuanmu, Noona, tapi biarlah yang terjadi untuk berlalu. Jika kau turun tangan memperbaiki keadaan, sayangnya yang ada situasinya hanya akan menjadi lebih rumit."

"Jika aku harus jujur, lebih baik seperti ini."

Seokjin tidak mengerti, bagaimana Taehyung bisa berkata seperti itu?

"Selama hidupnya, Namjoon-hyung selalu dikekang dengan beban berat. Terutama ekspetasi tinggi ayah kami. Aku bukannya senang hasil kerja keras Namjoon-hyung diambil paksa, tapi karena kejadian itu Namjoon-hyung tidak punya beban berat lagi." Taehyung tersenyum ikhlas, ingatannya menerawang ketika dia berkunjung ke Ilsan minggu lalu. Sedih melihat nasib buruk menimpa kakaknya yang sangat dicintainya itu, tapi senang karena dapat melihat kakaknya tersenyum penuh keringanan meski hidupnya tidak semudah dulu.

"Uang mungkin bukanlah sesuatu yang akan Namjoon-hyung dapatkan dengan mudah dan banyak, tapi yang penting adalah bagaimana Namjoon-hyung dapat menerima kesusahan hidupnya saat ini dengan murah senyum." Taehyung tertawa kecil mengingat kakaknya yang kelihatan seperti anak kecil meski mendapat nasib buruk. "Bagiku itu sudah cukup membuatku tenang dan bahagia."

Sulit dipercaya. Taehyung yang sedang duduk di hadapannya ini berbeda dengan Taehyung yang dia kenal lima tahun lalu. Sudah tidak ada lagi Taehyung yang mudah terbawa kesedihan dan amarah, yang ada hanyalah Taehyung yang dapat menerima semua hal baik maupun buruk dengan lapang dada.

Apakah lima tahun selama itu, pikir Seokjin sendu.

"Noona, jika kau mau, aku bisa menemanimu ke Ilsan."

Seokjin terbelalak kaget mendengar tawaran Taehyung. Pergi ke Ilsan dan bertemu Namjoon? Demi Tuhan, apakah bisa semudah itu?

"Aku tidak tahu, Tae…" Seokjin bergumam tidak yakin. Matanya melirik ke arah Yoongi. Wanita itu masih saja enggan melihat ke arahnya. Seokjin tidak dapat menyalahkannya, karena salahnya pula tidak memberitahu hingga detil semua jadi berantakan seperti ini.

Seokjin mengutuk dirinya di masa lalu.

"Apa salahnya?" Seokjin menoleh ke asal suara. "Hitung-hitung kau bisa menjelaskan semuanya ke Namjoon. Dia mungkin seorang pria, tapi bahkan seorang pria juga membutuhkan kejelasan yang pasti, Seokjin."

Seokjin meremas kedua tangannya. Pikirannya mencerna kalimat bijak dari Yoongi.

"Aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap bertemu Namjoon. Tapi aku ingatkan." Tatapan tajam itu pun kembali hadir mengisi dua mata Yoongi, "Bukan hanya kau yang tersakiti di sini. Namjoon juga punya perasaan."

Seokjin mengangguk. Tentu saja, dia sadar itu. Tapi sepertinya dia terlalu terbutakan dengan rasa takut sampai-sampai dia lupa hal itu.

"Omong-omong, di mana Hoseok-oppa?" tanya Jungkook mengalihkan topik.

Sebelum Seokjin sempat menjawab, perempuan di samping terlanjur lebih cepat. "Kanada tentu saja.

Jungkook mengangkat alisnya mendengar jawaban Jihoon. "Oh? Kau tahu itu Woozie-ah?"

Jihoon menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Seokjin dapat melihat semburat merah muncul di pipi perempuan itu. "Tentu saja aku tahu."

Yoongi berdecak tidak terima, dia kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Seketika moodnya berubah ketika mendengar nama Hoseok. Jimin yang menyadari perubahan mood istrinya pun menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa menerima pria itu untuk yang kedua kalinya, Adik kecil." Yoongi melipat tangannya di depan dada dan berujar datar, "Padahal dialah yang mematahkan hatimu waktu sma."

"Seperti yang Taehyung-oppa katakan, biarlah yang terjadi untuk berlalu." Jihoon membalas tatapan datar kakaknya dengan ekspresi yang tidak kalah datar, "Hoseok-oppa sudah meminta maaf lagipula, jika dia mengulang kembali kesalahannya, aku akan membuatnya untuk tidak mengulanginya lagi."

Sebuah seringaian muncul di wajah Yoongi. "Itu baru adikku."

Sisa malam itu pun berlewat terlampau cepat. Saat jarum jam menunjukkan angka dua belas tengah malam, dari balkon rumah Jimin dan Yoongi terlihat jelas rentetan kembang api yang menghias hitamnya langit malam.

Malam itu terasa dingin dengan salju yang terus turun perlahan-lahan. Namun Seokjin dapat merasakan kehangatan di hatinya. Dia merasa tenang untuk yang pertama kalinya setelah lima tahun.

Seulas senyuman terpantri di wajahnya. Besok dan seterusnya, Seokjin berharap untuk yang terbaik bagi mereka semua. Terutama bagi dia dan Namjoon.

.

.

.

"Apa?" Jaehwan menganga tidak percaya mendengar perkataan sepupunya.

Beberapa jam lalu dia tiba di Incheon karena rencana impromptu. Seokjin tidak bisa menjemput karena Jaehwan tiba pagi buta, oleh karena itu Jaehwan menetap di hotel terdekat. Barulah saat jam delapan pagi Jaehwan menghubungi Seokjin dan bertanya posisinya.

Setelah sampai di apartemen Jihoon, tanpa basa basi, Jaehwan langsung memberitahu Seokjin semua yang dia dapatkan. Dia juga menyerahkan kertas salinan surat persetujuan lima tahun lalu. Yang membuat Jaehwan terkejut adalah ekspresi Seokjin yang kelihatan biasa-biasa saja.

"Kau bilang apa barusan? Sepertinya aku salah dengar." Seakan ingin mempertegas kalimatnya, Jaehwan mengorek kupingnya dan menangkup telinga kanannya.

Seokjin menghela napas lelah melihat tingkah laku sepupunya itu. Jihoon yang memerhatikan interaksi dua sepupu itu sejak daritadi hanya diam menikmati sarapan paginya. Dia sudah terbiasa dengan hal ini.

"Lalu kenapa jika kakek memang melakukan itu?" Seokjin mengulang kembali pertanyaannya beberapa saat lalu.

Dia menyerahkan kertas salinan itu kembali ke Jaehwan setelah itu mengambil sarapannya dan melesat meninggalkan Jaehwan menganga di tempatnya.

"Tutup mulutmu itu, Jaehwan. Nanti lalat akan masuk," titah Jihoon sambil menahan tawanya.

Setelah mencerna kalimat Seokjin, Jaehwan memutar kepalanya secepat kilat sampai-sampai membuat Jihoon meringis. Dengan langkah lebar, Jaehwan menghampiri sepupunya yang baru akan menyendok sarapannya.

"Kau sudah tahu?"

Alis Seokjin berkedut. Kapan dia bisa menikmati sarapannya?

"Ya, Jaehwan, aku sudah tahu."

"Tapi kapan?"

"Kemarin malam." Seokjin menjawab singkat.

"Dan kau tidak memberitahuku?!"

"Demi Tuhan, apakah kau tidak bisa membiarkan seorang wanita menikmati sarapan paginya?!"

Tidak bisa menahan tawanya, Jihoon tertawa keras. Jika seandainya ibunya melihat saat ini, wanita itu pasti akan menarik telinga putri bungsunya. Lihatlah. Saat ini dia tertawa begitu kerasnya sampai memukul permukaan meja. Benar-benar tidak seperti seorang wanita, ujar ibunya berkali-kali.

Setelah lelah tertawa, Jihoon mengusap ujung matanya. Dia kira dua sepupu itu akan berhenti bertengkar, tapi mereka kelihatan masih asyik dengan dunia mereka sendiri. Jihoon membuang napas kasar lalu berdiri dengan sarapannya yang belum habis kemudian berjalan menuju ruang tengah. Jika dia ingin makan dengan tenang, lebih baik jika dia menjauhi dua sepupu itu. Sekalinya mereka bertengkar akan sulit untuk mengakhirinya.

Setelah menemukan posisi yang nyaman, Jihoon meraih remote dan menyalakan tv nya. Dengan sarapan di pangkuannya dan suara tv untuk meredam kegaduhan di ruangan sebelahnya, Jihoon kembali menyantap sarapannya.

Sepertinya dia harus segera keluar dari sini. Jaehwan pasti ingin berbicara empat mata dengan Seokjin. Jika privasi yang mereka butuhkan, maka dengan senang hati Jihoon berikan. Walaupun itu berarti dia harus mengusir dirinya sendiri dari apartemennya sendiri.

Helaan napas keluar dari sela-sela bibir Jihoon. "Diusir seperti biasanya," gumamnya sebal.

.

.

.

"Kau benar-benar tidak akan melakukan apa pun?" Seokjin menggelengkan kepalanya. "Bahkan berbicara dengan kakek pun tidak?" Sekali lagi wanita itu menggelengkan kepalanya.

Jaehwan mengusap wajahnya. Sudah berkali-kali dia bertanya tapi tetap saja jawabannya sama. Tidak, tidak, dan tidak. Dia tahu sepupunya itu keras kepala, tapi baru pertama kali ini Seokjin memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa padahal masalahnya bersangkutan dengan Namjoon dan kakek mereka.

Merasa ingin meyakinkan bukan hanya Seokjin, tapi dirinya sendiri juga, Jaehwan berniat untuk bertanya sekali lagi.

"Urungkan niatmu, Jaehwan." Seokjin memandangnya mantab, namun kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil, "Keputusanku sudah bulat. Biarlah yang terjadi untuk berlalu."

"Bahkan saat kakek menuduh Namjoon yang tidak-tidak?" Gatal untuk bertanya, akhirnya keluar juga. "Seokjin, kau tahu pelakunya bukan Namjoon, tapi ayahnya. Lalu kenapa kau bersihkeras untuk diam?" Jaehwan meremas pundak sepupunya. Seokjin dapat melihat jelas amarah di mata pria itu.

Seokjin menghembuskan napas, "Karena memang tidak ada yang harus aku lakukan, Jaehwan. Kau tahu seberapa kerasnya kakeknya dan seberapa dia membenci keluarganya Namjoon. Mau ayahnya atau Namjoon, kakek sudah tidak peduli." Seokjin menggelengkan kepalanya. "Dia membutakan matanya dan aku yakin dia juga sudah menulikan telinganya. Percuma jika kita membicarakan hal ini dengannya."

"Lebih baik seperti ini. Kemarin malam aku sudah menawarkan bantuan ke Taehyung dan kau tahu apa yang dia katakan?"

Jaehwan menggigit bibir bawahnya, dia kemudian memalingkan wajahnya dari sepupunya. "Sama seperti yang kau katakan barusan," gumamnya.

Anggukan dari Seokjin membuat Jaehwan semakin kuat meremas pundak wanita itu. Dia tidak mengerti kenapa kakeknya selalu harus ditaati kemauannya. Pertama dia ingin penerus yang memiliki hubungan darah dengannya, lalu menyuruh Seokjin untuk menjauhi Namjoon, dan sekarang balas dendam.

"Hei."

Jaehwan terpaksa menatap Seokjin karena wanita itu menangkup wajahnya. Dia tidak akan berbohong, Seokjin merupakan wanita yang cantik. Saat dia pertama kali bertemu dengan sepupunya itu, dia sampai tersedak air liurnya sendiri karena sepupunya yang sangat menawan. Lima tahun berlalu dan Seokjin semakin terlihat menawan. Tapi terdapat gurat lelah di wajah menawannya itu. Jaehwan tidak tahu apakah itu karena pekerjaan atau masalah tentang kakek mereka. Sepertinya keduanya.

"Kau kurang istirahat, Seokjin."

Seokjin menggelengkan kepalanya pelan. "Istirahatku cukup. Aku lelah dengan semua masalah ini, Jaehwan."

Jaehwan menarik napas ketika Seokjin menyandarkan kepalanya di ceruk lehernya. Dia dapat merasakan napas hangat Seokjin menggelitik lehernya.

"Masalah terus saja bermunculan sejak aku bersama Namjoon. Kecelakaan itu, ibunya Namjoon, masalah keluarga kita, lalu sekarang ini." Seokjin memejamkan matanya, dia lelah dengan semua masalah itu. Kenapa dia dan Namjoon harus terus disakiti seperti ini? Padahal mereka baru menjalin hubungan selama satu tahun.

"Tidak ada hubungan yang datar, Seokjin." Jaehwan mengangkat tangannya dan mengusap pelan rambut panjang Seokjin. "Semua hubungan pasti punya momen pasang surut tersendiri. Jika kau mengharapkan hubungan yang tidak ada konflik, maka itu berarti kau dan pasanganmu tidak akan tumbuh. Layaknya game, di setiap levelnya pasti ada masalah. Itulah gunanya konflik di setiap hubungan."

Jaehwan mendorong pelan Seokjin hingga terdapat jarak di antara mereka. Dia tersenyum menenangkan, mencoba memberi kekuatan. "Bukan hanya hubungan romantis, bahkan dalam keluarga pun begitu. Caramu dan pasanganmu menanggapi masalah yang muncul itu akan menentukan seberapa kuat hubungan kalian. Tidak apa-apa jika kalian memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu. Tidak ada gunanya memaksakan hati."

"Jika kalian memang memutuskan untuk menyudahi hubungan kalian, itu juga tidak apa-apa." Jaehwan menghapus air mata yang menggenang di sudut mata Seokjin, "Toh itu juga hak setiap orang. Masalah kalian akan kembali bersama atau tidak, itu urusan takdir. Aku dengar jika kalian memang jodoh, maka kalian akan menemukan jalan untuk saling bertemu lagi. Jadi jangan bersedih hati."

"Kau jelek jika menangis, Jin." Jaehwan terkekeh ketika Seokjin memajukan bibirnya dan memukul dadanya.

"But really.." Jaehwan mengusap kepala Seokjin dengan lembut. Seokjin itu wanita kuat dan tegar, tapi sekuat dan setegar apa pun seorang wanita, mereka tetaplah makhluk berhati lembut dan sensitif. "Jangan menangis lagi. Simpanlah air matamu saat ada pria yang melamarmu nanti."

Seokjin tertawa geli mendengar itu.

Jaehwan tersenyum puas mendengar tawa Seokjin. Sepertinya dia baru saja menemukan permata terindah di dunia ini dan dia merasa harus melindunginya. Kim Seokjin mungkin sepupunya yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, tapi di mata Jaehwan, Seokjin bagaikan seorang adik kecilnya yang manis dan lugu.

"Tapi asal kau tahu, Seokjin, pria yang akan melamarmu nanti harus berhadapan denganku dulu."

"Bukan kau yang harus dia temui, tapi orangtuaku." Seokjin tersenyum, kemudian dia memeluk sepupunya itu, "Tapi ya, kurasa dia harus bertemu denganmu setelah itu, Big bro."