"Love will find its way through all the languages on its own."

Rumi

"Bersulang!"

Seokjin tersenyum lebar. Suara dentingan gelas kaca terdengar jelas di rungan terbuka itu. Walaupun salju turun disertai udara dingin bulan Desember, malam itu terasa hangat bagi Seokjin.

"Lima..empat..tiga..dua..satu! Selamat tahun baru!" seru semua orang yang ada di sana.

Seokjin melihat dengan dua matanya sendiri pancaran kebahagiaan di mata teman-teman yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. Dia tertawa ketika melihat Jihoon yang menggerutu karena iri melihat kakaknya dicium Jimin. Hal yang sama juga terjadi pada Jaehwan.

Sepupunya itu mengernyitkan keningnya ketika melihat Taehyung mencium Jungkook. Sepertinya dua sahabatnya itu iri karena tidak memiliki pasangan untuk menemani mereka saat malam tahun baru.

"Itu sangat menjijikan." Jihoon menggerutu sambil berpura-pura muntah.

Yoongi yang melihatnya pun berdecak tidak terima. Dia kemudian melingkarkan tangannya di leher Jimin dan menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Jihoon. "Siapa yang suruh merayakan tahun baru sendirian?"

"Ah diam saja kau nenek lampir!"

"Siapa yang kau panggil nenek lampir huh?! Dasar bocah tidak tahu diri!"

Jaehwan menggelengkan kepalanya melihat kakak beradik Min itu saling kejar-kejaran. Dia baru bertemu teman-temannya Seokjin hari ini, tapi dia mempertanyakan kewarasan mereka semua.

"Hiraukan mereka."

Jaehwan menoleh ke sampingnya.

"Ini sudah seperti rutinitas sehari-hari mereka jika bertemu." Taehyung berkata sambil memberikan seulas senyuman.

"Benarkah?" tanya Jaehwan dengan alis terangkat.

Taehyung tertawa kecil ketika mendengar nada skeptikal Jaehwan. Dia mengangguk sebagai jawaban. "Namanya juga kakak beradik. Kau tidak bisa menyalahkan mereka kalau kadang-kadang tingkah mereka seperti anak kecil meskipun mereka sudah dewasa."

Jaehwan berdeham menyetujui ucapan Taehyung. "Sepertinya kau benar juga. Aku sendiri juga seperti itu dengan Seokjin."

Taehyung tertawa, "Benarkan apa kataku barusan?"

Jaehwan melihat orang-orang di sekelilingnya dengan saksama. Sepertinya dia mengerti kenapa Seokjin sangat sedih ketika dia harus pindah ke Quebec. Seokjin harus meninggalkan teman-temannya. Dan bukan hanya sekedar teman, tapi keluarganya yang sudah mendukung dan menemaninya di saat dia sendirian.

Sudah lama sekali sejak Jaehwan melihat hubungan pertemanan seerat dan sedekat ini. Matanya tidak sengaja melihat Seokjin yang tertawa. Apakah hanya dia saja atau apakah wajah Seokjin memang terlihat lebih cerah dari biasanya?

"Nuna terlihat sangat senang," ujar Taehyung.

Jaehwan mengangguk pelan. "Ya, dia terlihat lebih cerah dibanding biasanya."

"Baguslah kalau begitu. Itu berarti dia menikmati waktunya di sini."

Jaehwan terdiam memikirkan sesuatu. Dia kemudian berbalik badan menghadap Taehyung. "Apakah kau bisa mengantar Seokjin ke Ilsan besok?"

"Eh?"

"Namjoon ada di sana, bukan?"

Taehyung mengangguk dan berucap ragu, "Ya, Namjoon-hyung ada di sana. Tapi apakah Nuna mau bertemu Namjoon-hyung secepat itu?"

"Lebih cepat, lebih baik."

Taehyung bergantian melirik ke Jaehwan dan Seokjin. Dia juga mau kakaknya untuk berbaikan dengan Seokjin, tapi jika dipaksakan juga tidak bagus.

"Apa yang Jaehwan katakan benar, Tae-ah."

"Tapi Jungkook-ah, Nuna sendiri yang bilang kalau dia belum siap." Taehyung menatap istrinya dengan kening yang berkerut.

Jungkook tersenyum lembut, tangannya bergerak memberi usapan di lengan suaminya. "Dia siap, Tae."

Kerutan di kening Taehyung semakin menjadi. "Apa maksudmu?"

"Unnie yang bilang sendiri kalau dia siap bertemu Namjoon-oppa." Jungkook yang melihat kebingungan di raut wajah Taehyung pun menjelaskan, "Dia berkata seperti itu saat kita menyiapkan makan malam."

"Benarkah?" tanya Taehyung yang masih tidak percaya.

Jungkook berdecak kesal. Dia kemudian melipat tangannya di depan dadanya dan memalingkan badannya dari Taehyung. "Jika kau tidak percaya, tanya saja Yoongi-unnie dan Woozie."

"Kookie-ya, bukan begitu maksudku." Taehyung mencoba untuk merangkul Jungkook, tapi tangannya ditepis kasar oleh sang istri yang sedang hamil.

"Terserah, aku tidak peduli."

Jungkook pun berjalan menghampiri Seokjin, meninggalkan Taehyung yang tercengang karena mood Jungkook yang berubah tiba-tiba.

"Astaga, apa salahku kali ini? Kookie-yaa!" Taehyung berteriak memanggil Jungkook sambil berlari menghampiri wanita itu.

Jaehwan tertawa melihat interaksi pasangan suami istri itu. Beruntung dia tidak punya pasangan yang sedang hamil. Tapi sayang sangat disayangkan, dia ditinggal sendirian lagi entah untuk yang ke sekian kalinya.

"Sialnya aku ini," gumamnya sambil menghela napas.

.

.

.

Pagi setelah perayaan tahun baru, Seokjin pergi ke Ilsan ditemani Taehyung dan Jungkook. Jaehwan tidak ikut karena dia bilang dia harus kembali ke Quebec. Walaupun tahun baru saja berganti, itu bukan berarti dia bisa mengambil cuti seperti Seokjin. Banyak yang harus dikerjakan untuk tahun ini meskipun baru dimulai.

Sebelum berangkat ke bandara, Jaehwan sempat bertemu dengan Taehyung. Dia berpesan untuk menjaga Seokjin selama dia di Korea. Jaehwan juga menitip pesan untuk Namjoon.

"Tolong sampaikan kepada Namjoon permohonan maafku atas masalah yang disebabkan kakekku. Sampaikan kepadanya juga untuk menjaga Seokjin."

Awalnya Taehyung tidak mengerti maksud Jaehwan, tapi sekarang dia mengerti. Jaehwan baru saja memberikan restunya kepada Namjoon. Seokjin dan Namjoon mungkin tidak akan menikah dalam waktu cepat, tapi Jaehwan sudah memberikan izinnya sedini ini.

Taehyung tersenyum memikirkan itu. Kakaknya mungkin masih sakit hati karena kejadian lima tahun lalu, tapi dia menerima semuanya dengan lapang dada. Lagipula, Namjoon sendiri yang bilang bahwa dia masih menyimpan perasaan cintanya terhadap Seokjin.

Dia melirik Seokjin yang sibuk berbicara dengan Jungkook lewat kaca spion tengah. Sama halnya dengan kakaknya, Seokjin juga masih memiliki perasaan yang sama.

Taehyung tersenyum, cinta akan saling menemukan dengan sendirinya dalam segala kondisi.

.

.

.

Setelah berkendara selama kurang lebih tiga jam, mobil yang dikendarai Taehyung sampai di daerah pedesaan. Seokjin merapatkan mantel yang dipakainya ketika udara musim dingin bercampur udara sejuk pagi hari khas pedesaan menyapa. Sudah lama sekali sejak dia melihat pemandangan desa seperti ini.

Seokjin menghirup dalam-dalam udara di sana. Dingin memang, tapi lebih sejuk daripada udara di perkotaan.

"Sudah lama tidak ke desa, ya, Unnie?"

Seokjin mengangguk, "Ya, terakhir kali aku ke pedesaan adalah ketika aku masih sma."

"Sudah selama itu?" tanya Jungkook dengan mata terbuka lebar.

Seokjin terkekeh dan menganggukkan kepalanya.

"Berita bagus untukmu, Nuna." Taehyung muncul dari dalam mobil dengan beberapa hot packs di tangannya, "Mulai sekarang kau akan lebih sering ke pedesaan."

"Eh, kenapa begitu, Taehyung-ah?" tanya Seokjin yang bingung.

Taehyung memberikan dua hot packs ke Jungkook yang diterima dengan senang hati, kemudian memberikan dua lagi ke Seokjin. "Tentu saja untuk bertemu dengan Namjoon-hyung."

Pipi Seokjin yang sudah merona berkat udara dingin semakin berwarna merah muda mendengar ucapan Taehyung. Dia berdeham pelan dan memalingkan kepalanya.

Jungkook terkekeh di balik tangannya, sedangkan Taehyung tersenyum puas. Setelah mengeluarkan barang bawaan mereka dari bagasi, mereka bertiga berjalan memasuki pekarangan rumah yang lumayan luas. Seokjin mengamati sekitarnya dengan saksama. Di depannya terdapat rumah dengan desain tradisional seperti saat dinasti kerajaan dulu.

Desain rumah itu hampir sama seperti rumah saat dinasti Joseon, yang membedakannya hanya desain interiornya yang terlihat seperti perpaduan era jamana dulu dan sekarang. Bahkan pintu di rumah itu masih menggunakan pintu geser, kecuali untuk pintu depan.

Seokjin merasa seperti dibawa ke era Joseon. Dia dibuat terkagum-kagum dengan rumah ini. Walaupun letaknya di pedesaan, tapi tidak kalah dengan rumah di daerah perkotaan. Bahkan mungkin lebih bagus.

"Taehyung-ah, aku tidak tahu kau akan datang."

Seokjin menoleh ke asal suara. Seorang wanita yang kelihatannya berumur 40'an tersenyum menyambut kedatangan mereka. Suara nyaring anak kecil terdengar dari belakang wanita itu. Seokjin terkejut ketika seorang anak kecil menubruk Taehyung.

"Hyung! Selamat tahun baru!"

Taehyung mengacak-acak rambut anak kecil yang memeluknya itu. "Selamat tahun baru juga, Dong-min."

Jungkook tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Dia kemudian menoleh ke sampingnya dan berbisik ke Seokjin, "Dong-min merupakan sepupu Taehyung dan Namjoon-oppa. Dia mungkin kelihatan seperti anak kecil, tapi dia sudah berumur 15 tahun."

"Oh..tunggu. Sepupu, kau bilang?" Seokjin menatap Jungkook tidak percaya. Jungkook pun mengangguk yang semakin membuat Seokjin tidak percaya bahwa remaja yang sedang memeluk Taehyung merupakan sepupunya Taehyung dan Namjoon.

"Kau pasti bercanda…" gumam Seokjin.

"Tidak, dia memang sepupunya mereka berdua." Jungkook terkekeh melihat ekspresi terkejut Seokjin. Awalnya dia sendiri juga sama terkejutnya seperti Seokjin ketika dia tahu bahwa Dong-min yang bertubuh kecil ini merupakan sepupunya Taehyung dan Namjoon.

"Jadi, mana hadiahnya?" Mata Dong-min berbinar-binar dengan tangan yang terulur ke arah Taehyung, menunggu hadiah yang dimaksud. Taehyung menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepupunya yang kekanak-kanakan.

"Dong-min, harus berapa kali aku beritahu. Jangan selalu menagih hadiah setiap kali Taehyung datang ke sini."

Seokjin menoleh ketika mendengar suara yang familiar di kedua telinganya. Badannya menegang ketika melihat sosok tinggi berdiri beberapa meter di depannya.

"Tapi hyuuunngg.."

"Tidak ada 'tapi'." Sosok itu pun menggelengkan kepalanya dengan tangan terlipat di depan dada, "Kau harus bekerja keras jika memang mau diberikan hadiah. Dasar anak-anak jaman sekarang, tidak tahu apa artinya bekerja keras."

"Namjoon-hyung, apa kabar?" Taehyung menyapa kakaknya sambil tersenyum.

Namjoon pun membalas senyuman Taehyung dan meghampiri adiknya itu. "Kabarku baik-baik saja. Bukannya kau dan Jungkook baru datang ke sini beberapa minggu lalu?"

"Apakah salah jika adikmu ini mengunjungimu di tahun baru?"

Namjoon tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, tentu saja tidak," ujarnya sambil menepuk pundak Taehyung.

"Lagipula, aku juga membawa tamu spesial hari ini." Taehyung menoleh ke belakang. Dia memberi isyarat ke Seokjin yang ditangkap dengan jelas oleh wanita itu.

Seokjin secara tidak sadar meremas lengan Jungkook yang ada di sampingnya. Jungkook yang merasakan remasan itu pun mengusap tangan Seokjin. "Itu tidak apa-apa, Unnie. Namjoon-oppa tidak menyalahkanmu, dia tidak marah padamu."

Walaupun begitu, lima tahun sudah berlalu sejak Seokjin terakhir kali bertemu Namjoon. pertemuan terakhir mereka juga tidak berlangsung dengan baik. Mengingat hari itu membuat Seokjin mengutuk dirinya sendiri. Seandainya dia tidak bertindak layaknya pengecut, mungkin hari ini dia tidak akan segugup ini di hadapan Namjoon.

"Jin-ah."

Seokjin menelan ludahnya ketika mendengar suara Namjoon yang memanggil namanya. Sudah lama, terlalu lama, sejak suara berat itu memanggil namanya. Sudah lama sekali sejak Seokjin mendengar suara itu. Bahkan setelah lima tahun berlalu, Seokjin masih merasakan perasaan hangat dan nyaman menjalar di dadanya ketika mendengar suara berat itu.

"Apa kabar?" tanya Namjoon sambil mengulas senyuman.

.

.

.

Seokjin tidak pernah merasa sebersalah ini dalam hidupnya. Apakah itu perasaan bersalah? Ataukah itu malu? Dia sudah tidak tahu lagi. Tapi intinya, dia merasa tidak pantas duduk di samping Namjoon. Bagaimana pun juga, dia sudah menyakiti pria itu secara langsung dan tidak langsung. Dan dia belum meminta maaf.

"Apa pun yang sedang kau pikirkan, lupakan itu semua, Jin-ah." Seokjin tersentak ketika tangannya digenggam Namjoon, dia pun menoleh ke sampingnya. "Kau mungkin belum menjelaskannya padaku, tapi aku mengerti. Kau pasti punya alasan di balik tindakan dan ucapanmu saat itu."

Namjoon tersenyum. Demi Tuhan, pria itu tersenyum padanya. Bahkan setelah Seokjin menyakiti perasaannya, Namjoon masih tetap tersenyum padanya.

Perasaan tidak enak itu kembali muncul, membuat dadanya sesak. Tidak seharusnya Namjoon tersenyum, terutama padanya. Dia telah menyakiti Namjoon, begitupula dengan kakeknya. Sudah terlalu banyak luka yang dia toreh di hatinya Namjoon, dan lagi-lagi, pria itu masih mau memberikannya senyuman.

Sebuah senyuman tulus tanpa sirat kebencian.

"Kenapa?" gumam Seokjin lirih.

Namjoon memiringkan kepalanya. "Hm?"

"Kenapa kau masih bisa tersenyum sebegitu lembutnya padaku bahkan setelah semua yang telah terjadi? Setelah aku menyakitimu selama lima tahun ini?"

Setitik salju masuk lewat jendela yang terbuka di ruangan itu. Udara dingin mempersilahkan dirinya masuk juga, menyambut mereka berdua yang duduk bersebelahan. Namjoon diam tidak menjawab pertanyaan Seokjin.

Kenapa? Karena dia mencintai Seokjin. Sesimple itu jawabannya. Taehyung dulu juga pernah bertanya hal yang sama. Saat dia memberikan jawaban itu, Taehyung kembali bertanya.

Kenapa? Karena dia mencintai Seokjin. Memangnya dia harus memiliki alasan lain untuk menjawab pertanyaan itu?

Satu hal yang Namjoon pelajari dari ibunya, yaitu cinta sejati tidak menanyakan pertanyaan, tidak membuat reservasi, tetapi menempatkan dirinya tanpa syarat ke tangan orang yang dicintai. Merupakan pilihan Namjoon untuk tetap mempertahankan cintanya terhadap Seokjin. Dan juga merupakan pilihannya Namjoon untuk menyambut kedatangan Seokjin dengan hangat dan ramah.

"Karena ini merupakan pilihanku, Seokjin," jawab Namjoon dengan lembut. "Lalu apa pilihanmu?"

Seokjin menarik napas. Pilihannya? Dia tentu punya, tapi dia masih ragu.

"Jika kau masih ragu, itu tidak apa-apa. Semua hal tidak boleh dipaksakan, begitupula dengan cinta." Namjoon memberikan remasan pelan di tangan Seokjin, "Pilihanku sudah mantap dan aku bersedia menunggu sampai kau yakin dengan pilihanmu."

"Aku tidak masalah jika aku harus menunggu lima tahun lagi, Jin-ah. Gunakanlah sebanyak waktumu untuk meyakinkan dirimu."

Menunggu lima tahun lagi? Namjoon bersedia untuk menunggunya bahkan setelah dia sudah menunggu selama lima tahun? Seokjin tidak mengerti tingkat kesabaran Namjoon. Bagaimana dia masih mau menunggu seorang wanita yang selalu mengulur waktunya seperti Seokjin?

Tidak, Seokjin ingin sekarang. Dia tidak ingin membuat Namjoon menunggu lagi. Cukup pria itu menunggu selama lima tahun, cukup penderitaan yang Namjoon lalui. Semuanya sudah cukup bagi Seokjin.

"Tidak. Aku sudah memutuskan pilihanku." Seokjin menatap Namjoon tepat di matanya, dia tidak boleh mundur untuk yang kedua kalinya.

"Jika kau sudah memutuskan pilihanmu," Namjoon mengangkat tangannya dan menangkup pipinya Seokjin, "Lalu kenapa kau menangis?"

"Karena aku benci pada diriku sendiri." Seokjin menggigit bibir bawahnya. Dia sendiri bahkan tidak sadar kalau dia menangis.

Tangan Namjoon bergerak untuk mengapus air mata yang mengalir di pipinya Seokjin. Senyuman masih terpampang jelas di wajahnya, "Janganlah membenci dirimu sendiri karena kau merupakan wanita hebat, Jin-ah."

"Wanita terhebat dan terkuat yang pernah aku temui." Setelah mengapus air matanya Seokjin, Namjoon menangkup wajah Seokjin dengan kedua tangannya. Dia mendekat dan memberikan kecupan lembut di kening Seokjin yang tertutup poni.

"Satu-satunya wanita yang aku cintai."