"Real happiness is cheap enough, yet how dearly we pay for its counterfeit."
Hosea Ballou
Seokjin tersenyum sambil berterima kasih ketika Dong-min menaruh semangkuk nasi di hadapannya. Dong-min pun terpana ketika melihat wajah Seokjin. Dia sampai tidak mendengar ibunya yang memanggil namanya tiga kali. Remaja itu baru sadar ketika seseorang menjentik keningnya dengan keras.
"Aduh!" ujarnya kesakitan. Tangannya otomatis naik untuk mengusap bagian yang berdenyut sakit. "Siapa yang melakukan itu huh?!"
"Habis kau tidak mendengar panggilan ibumu." Taehyung menatap sepupunya dengan alis tertekuk.
Dong-min mengeluarkan suara tidak jelas. Dia kemudian mengacungkan telunjuknya ke Seokjin dan berteriak, "Memangnya siapa yang tidak akan terpana dengan wajah secantik itu?! Hanya orang yang aneh yang akan bilang kalau Seokjin-nuna jelek. Bahkan wanita mana pun akan merasa iri dengan kecantikan Seokjin-nuna."
"Dong-min, kalian berbeda lima belas tahun. Lagipula, hati Seokjin sudah diambil Namjoon." Ibunya berujar mengingatkan.
Dong-min yang tidak menerima perkataan ibunya pun terus menggerutu sambil memeluk erat lengan Seokjin. Sedangkan Seokjin hanya bisa tersenyum pasrah. Padahal dia baru saja ingin mencicipi masakan yang dibuat ibunya Dong-min. Sup miso khas Jepang.
Belum sehari Seokjin menetap di rumah bibinya Namjoon, dia sudah mengetahui beberapa hal baru tentang Namjoon dan keluarganya. Ternyata keluarga ibunya Namjoon merupakan keturunan Jepang. Itulah kenapa orangtuanya Namjoon sering pergi Jepang, selain urusan bisnis juga karena urusan keluarga.
Lalu bibinya Namjoon juga memberitahu soal pernikahan orangtuanya Namjoon yang didasari kesepakatan bisnis antara dua pihak. Orangtuanya Namjoon memang saling mengenal sejak sma, tapi hubungan mereka tidak terlalu dekat. Hanya sebatas teman satu angkatan, kata bibinya Namjoon. Ibunya Namjoon juga awalnya tidak mau menikah dengan ayahnya Namjoon, tapi pada akhirnya dia tidak memiliki pilihan lain.
Jadilah mereka menikah tanpa adanya cinta di antara mereka. Itu juga merupakan alasan kenapa ibunya Namjoon baru hamil tiga tahun setelah pernikahan mereka. Wanita itu juga menjadi tempat pelampiasan amarah suaminya. Setiap kali ada masalah, ayahnya Namjoon akan menumpahkan amarahnya ke ibunya Namjoon. Pria itu bahkan tidak sadar betapa banyaknya luka memar di tubuh istrinya karena perlakuan kasarnya.
Seokjin turut sedih mendengar itu. Di balik sosoknya yang tangguh dan kuat, ibunya Namjoon tetap merupakan seorang wanita yang rapuh dan layaknya wanita kebanyakan, dia mudah hancur. Tapi dia tidak membiarkan perlakuan kasar suaminya membuatnya lemah.
Dia tetap berdiri tegap memandang ke depan karena dua putranya, kata bibinya Namjoon.
Seokjin hanya bisa diam seribu bahasa. Dia baru sadar betapa sakit tubuh juga hati ibunya Namjoon selama ini. Tindakan keras serta paksaan wanita itu merupakan bentuk kasih sayangnya pada Namjoon dan Taehyung. Dia terus memantau dua putranya dari jarak jauh.
Pertemuan pertamanya dengan ibunya Namjoon bukanlah pertemuan yang mengenakan. Tapi Seokjin ingin bertemu wanita itu sekarang. Banyak sekali yang harus dia pelajari dari ibunya Namjoon.
"Pergi sana, Pria tua jelek! Seokjin-nuna sebaiknya bersama seseorang yang tampan sepertiku."
"Cih, tampan apanya? Kau hanyalah bocah dekil yang manja. Seokjin tidak akan mau dengan bocah sepertimu."
"Lihat saja, Pria tua! Nuna, kau mau kan menjadi kekasihku?"
Seokjin tertegun mendengar pertanyaan konyol Dong-min. Dia melirik ke bibinya Namjoon, namun wanita itu hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya. Dia pun kembali menatap Dong-min yang balik menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Dong-min, sudahlah. Kau membuat Seokjin tidak nyaman." Namjoon berdiri di samping Seokjin dan mencoba melepaskan tangan Dong-min yang masih memeluk lengan Seokjin.
Dong-min menatap Namjoon tajam. "Kau yang membuatnya tidak nyaman, Hyung. Lagipula, hubungan kalian sudah tidak ada. Kandas, hilang, putus, berakhir."
"Dong-min, itu tidak sopan!" Ibunya memukul pelan bagian belakang kepalanya Dong-min. "Cepat minta maaf ke Namjoon dan Seokjin."
"Tidak mau." Dong-min memalingkan wajahnya yang tertekuk.
"Cepat minta maaf sekarang atau kau harus pergi ke kebun besok pagi," ujar ibunya mengancam.
Dong-min menatap ibunya dengan tatapan menantang. Ibunya pasti hanya bercanda. Tidak mungkin Dong-min akan disuruh pergi ke kebun besok pagi. Dia sudah punya janji dengan teman-temannya, lagipula sepupunya yang biasanya pergi ke kebun.
"Dasar anak tidak tahu diri." Dong-min mengaduh kesakitan ketika ibunya menarik telinganya. "Cepat minta maaf atau kau akan pergi ke kebun dengan Namjoon besok pagi. Ibu tidak peduli kau ada janji dengan teman-temanmu atau tidak."
Dong-min mencoba untuk melepaskan tangan ibunya dari telinganya. Tapi bukannya terlepas, tarikan ibunya semakin menjadi-jadi, membuatnya kembali meraung kesakitan. "Baiklah, baiklah! Aku minta maaf!"
"Permintaan maaf macam apa itu? Bibi, tarik lebih kuat lagi." Taehyung tersenyum puas melihat sepupunya. Dia pun tertawa ketika mendengar teriakan Dong-min yang mengaduh kesakitan. Jungkook yang diam menyaksikan hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Bibi, sudahlah. Lagipula, Dong-min tidak salah." Namjoon menarik lembut tangan bibinya dari telinga Dong-min. "Hubunganku dan Seokjin memang sudah putus. Tapi itu bukan berarti kami tidak bisa menjadi kekasih lagi," ucap Namjoon sambil melirik ke Seokjin.
Seokjin pun tersenyum sebagai respon. Ya, itu benar. Mungkin mereka bukan lagi kekasih, tapi masih ada kesempatan kedua. Dan kali ini, Seokjin yakin semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
"Jadi selama ini kau bekerja di perusahaan keluargamu?"
"Ya." Seokjin tersenyum ketika mengingat sesuatu, "Aku akhirnya mengerti bagaimana rasanya menjadi pemimpin perusahaan."
"Kau lelah?" tanya Namjoon.
Seokjin mengangguk, "Sangat."
Pagi itu udara berhembus pelan. Masih ada hawa dingin yang terasa, namun tidak sedingin saat malam hari. Saat Seokjin keluar dari kamar tidurnya, dia berpas-pasan dengan Namjoon yang sudah rapih dengan pakaian dan peralatan berkebunnya. Tanpa basa-basi, Seokjin pun menawarkan bantuan yang langsung diiyakan Namjoon.
Jadilah mereka sekarang di perkebunan milik keluarga ibunya Namjoon.
"Wajar saja jika kau lelah, Jin-ah. Sekecil apa pun perusahaan, pasti kita juga akan lelah memimpinnya," ujar Namjoon. Dia pun memeriksa tanaman yang ada di hadapannya, melihat apakah sudah siap dipetik atau belum. "Lagipula, perusahaan yang kau pimpin sekarang bukanlah perusahaan kecil."
Seokjin berdeham, "Ya, aku tahu." Dia pun menghembuskan napas yang membentuk kepulan asap. "Tapi aku sudah mulai terbiasa dengan jadwal harian yang padat."
"Jangan terlalu dibiasakan." Setelah memeriksa tanaman itu, Namjoon berdiri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ironinya, aku dulu juga seperti itu."
Mendengar ucapan Namjoon, Seokjin pun tertawa kecil. Dia ingat masa-masa di mana Namjoon sibuk dengan pekerjaan kantor. Waktu itu dia selalu memberitahu Namjoon untuk tidak memaksakan tubuhnya. Dan sekarang mereka berganti posisi.
"Itu bagus, bukan? Artinya kita impas."
Namjoon tersenyum. Dia mengulurkan tangannya ke Seokjin. "Ya, sepertinya begitu. Ayo, aku yakin perutmu sudah keroncongan."
Seokjin menaikkan alisnya, "Oh? Bagaimana kau bisa tahu? Kau menebak?"
Namjoon menggelengkan kepalanya, dia menarik pelan Seokjin dan berjalan menuju rumah. "Aku ingat ini jam-jam kau biasa sarapan. Dan sepertinya kebiasaanmu itu belum berubah setelah lima tahun."
Seokjin tertegun. Dia sendiri tidak sadar kalau dia memiliki kebiasaan seperti itu, sedangkan Namjoon tahu dan ingat bahkan setelah lima tahun.
"Kau tahu?" tanya Seokjin.
Namjoon tersenyum dan melirik ke Seokjin. "Ya. Sebenarnya lebih ke 'sadar'. Kau selalu saja berkomentar jika kau lapar di jam-jam ini. Bahkan kadang kau sampai menelponku."
"Aku bahkan tidak sadar memiliki kebiasaan itu," gumam Seokjin.
"Kadang kau menyadari kebiasaan orang lain, tapi tidak dengan kebiasaanmu sendiri. Terutama jika itu sudah bersangkutan dengan orang yang kau cintai."
Pipi Seokjin memerah mendengar pernyataan cinta tidak langsung dari Namjoon.
.
.
.
Seokjin yakin dia akan bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah di temui di masa lalu. Bahkan jika mereka merupakan orang yang pernah membencinya sekali pun. Itulah kenapa Seokjin tidak terkejut ketika melihat ibunya Namjoon duduk di ruang tengah.
Walaupun bilangan umurnya semakin bertambah, wajah wanita itu tetap semulus seperti terakhir kali Seokjin melihatnya. Mungkin terdapat kerutan yang sebelumnya tidak ada, tapi dia tetap cantik seperti seorang wanita muda yang baru menikah.
Ketika wanita itu berbalik badan, dia memberikan senyuman lembut kepada Seokjin. Seokjin pun membalas senyuman itu ketika merasakan aura hangat ibunya Namjoon yang menerima kehadirannya.
"Bagaimana kabarmu, Seokjin?" tanya wanita itu.
Seokjin membungkuk sedikit sebagai rasa hormat. "Kabarku baik-baik saja…umm.."
Ibunya Namjoon pun tertawa ketika melihat Seokjin yang agak kikuk. "Panggil aku 'Ibu'. Atau bagaimana jika 'Mom'? Agar tidak tertukar dengan ibumu."
Seokjin sedikit terkejut melihat ibunya Namjoon yang berinteraksi dengan begitu santai. Tidak seperti lima tahun lalu. Tapi itu bukan berarti Seokjin tidak suka dengan sisi santai ibunya Namjoon seperti saat ini.
"Baiklah, Mom." Ibunya Namjoon pun tersenyum lebar mendengarnya.
"Astaga, kau semakin cantik saja, Jin-ah." Wanita itu menyisir rambutnya Seokjin yang tidak diikat, "Katakan padaku, apakah kau sudah memiliki gandengan?"
"Eh?" Seokjin mengerjapkan matanya.
"Mom, tolong jangan memulainya." Namjoon menghela napas, dia kemudian duduk di samping Seokjin. "Itu bukan urusanmu pula."
"Hush! Kasar sekali kau, Joon." Ibunya memberikan tatapan tajam ke arah Namjoon, "Memangnya kenapa kalau itu bukan urusanku? Aku hanya penasaran. Lagipula kalian berdua sudah tidak muda lagi. Kalian berdua tahu apa kata pepatah, bukan? Lebih cepat, lebih baik."
"Tapi bukan seperti itu juga, Mom!"
Ibunya Namjoon melambaikan tangannya dan menghiraukan perkataan putranya. "Terus saja mengulur waktu, Son. Lalu menikah dan memiliki anak di usia kalian yang sudah berkepala empat," ujar ibunya Namjoon sarkastik.
"Astaga, Mom."
Seokjin terkekeh ketika melihat ekspresi Namjoon yang terlihat sudah lelah dengan sikap ibunya sendiri. Namjoon terlihat seperti ingin menarik rambutnya sendiri dan itu terlihat lucu di mata Seokjin.
"Jangan khawatir, Mom. Kami berdua tidak akan menikah saat umur sudah berkepala empat." Seokjin berujar meyakinkan.
"Oh?" Ibunya Namjoon tersenyum penuh dengan harapan, "Apakah kalian akan menikah secepatnya dan memberikanku cucu-cucu yang imut dan lucu?" Astaga, Jin-ah! Aku tidak tahu kau bisa sebersemangat itu soal menikah dengan Namjoon."
Mata Seokjin melebar terkejut. "E-eh bukan itu maksudku.."
"Tidak apa-apa. Aku suka dengan semangatmu yang membara itu, Nak. Lebih cepat, lebih baik." Ibunya Namjoon mengangguk setuju dengan ucapannya sendiri. "Astaga! Aku sudah tidak sabar mengendong cucu-cucuku yang imut dan lucu dari kalian berdua, tentu saja setelah kelahiran anaknya Taehyung dan Jungkook. Tapi tetap saja. Aku sangat yakin cucu-cucuku akan setampan dan secantik orangtuanya."
Seokjin hanya bisa diam melihat ibunya Namjoon yang sibuk membicarakan 'cucu-cucunya' yang bahkan belum lahir. Wanita itu salah mengartikan kalimat Seokjin barusan. Saat Seokjin ingin membenarkan, ibunya Namjoon sudah kelewat senang.
"Dia bahkan berkata 'cucu-cucu'," gumam Seokjin.
"Hiraukan saja ibuku. Dia memang tidak sabaran memiliki cucu." Namjoon menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman di wajahnya, "Padahal itu berarti dia akan dipanggil 'nenek'."
Seokjin terkekeh mendengarnya, "Tapi sepertinya ibumu tidak keberatan dengan itu. Dia kelihatan terlalu senang padahal Jungkook baru hamil tiga bulan."
"Kau tidak tahu seberapa semangatnya Mom saat Taehyung dan Jungkook memberitahunya bahwa mereka akan menikah. Apalagi saat Jungkook memberitahunya tentang kehamilannya." Namjoon tersenyum geli ketika ibunya terus mengoceh tentang barang-barang yang akan dia berikan ke cucu-cucunya.
Dia tahu ibunya menginginkan cucu, tapi dia tidak tahu ibunya memiliki baby fever. Sepertinya demamnya itu hanya akan bertambah parah jika anaknya Taehyung dan Jungkook lahir nanti.
"Tapi aku tidak bisa menyalahkan ibumu, Namjoon." Seokjin tersenyum malu-malu, "Aku sendiri juga suka anak kecil, apalagi bayi mungil."
Namjoon baru ingin mengatakan sesuatu ketika suara ibunya memekik kencang.
"Benarkah itu, Jin-ah? Astaga! Kalau begitu itu merupaka berita bagus. Kalian berdua harus menikah secepatnya lalu memiliki anak. Jangan khawatir, Nak, aku akan membantu resepsi pernikahanmu. Kalian akan memiliki pernikahan terbagus sepanjang masa."
Namjoon diam memerhatikan mereka berdua. Dia terkejut bukan karena ucapan ibunya, melainkan karena Seokjin yang merespon dengan anggukan dan tertawa. Seokjin tidak mencoba membantah kalimat ibunya Namjoon, dia malah mengiyakannya.
Ketika Namjoon merasakan sepasang mata memerhatikannya, Namjoon memutar pandangannya ke ujung ruangan. Taehyung berdiri sambil memerhatikannya dengan tatapan yang Namjoon mengerti maksudnya. Adiknya itu seakan-akan memberitahunya sesuatu lewat tatapannya itu.
Seokjin masih mencintaimu seperti lima tahun lalu, ucap Taehyung lewat tatapan matanya.
Dan ketika mata Namjoon bertemu dengan mata hazel Seokjin, dia mendapatkan jawaban akan pertanyaannya kemarin. Pertanyaan yang telah menghantui selama lima tahun ini, tentang perasaan Seokjin kepadanya.
