Aren POV

"Ya ampun...aku masih tidak percaya kau adalah manusia yang dikutuk"ucapku pada Langsit yang sedang bertengger dengan santai di tanganku saat aku berjalan dari lab komputer setelah seorang guru memintaku mencarikan sesuatu disana. "Kukira kau semacam dedemit atau sejenisnya,"ucapku lagi.

"Manusia kadang berpikiran aneh-aneh terhadap apa yang belum mereka tahu,padahal apa yang mereka khawatirkan belum tentu seburuk itu,"balas Langsit dengan mengepakkan sayap emasnya yang indah dan menghilang.

'Bukannya kau dulu juga manusia ya???'pikirku. Kakiku terus melangkah melalui sepanjang lorong itu yang jendelanya memperlihatkan langsung keadaan di lapangan. Aku memandangi keluar sana sambil berpikir sejenak, 'Waktu untuk mencari pemegang yang sah sudah sangat terbatas,sampai kapan kami akan seperti ini tanpa perkembangan sama sekali?'.

Aku memang sudah memikirkan seseorang yang sangat cocok. Tapi Boss tidak akan mengizinkan seorang penduduk sipil menjadi bagian dari kami,kecuali orang itu memang benar-benar menerimanya. Sudah tidak ada waktu lagi,penyerangan besar-besaran Orvatto bisa terjadi kapan saja,itu akan membuat kekacauan di kota ini.

Saat aku melanjutkan langkahku,tiba-tiba seseorang berlari dengan cepat melewatiku. Dia membawa dua kantung plastik dari minimarket yang kelihatannya sangat berat. Aku pun penasaran,dan menghentikannya.

"Hei,kau...Mahesa kan?kita sekelas di kelas tujuh"ucapku sambil menghentikannya. "Kenapa kau membawa banyak sekali barang?".

"A...Aren?wah,sudah lama sekali rupanya,aku sampai tidak mengenalmu,ini ya?aku menawarkan jasa membelikan sesuatu untuk guru-guru"balasnya sambil tersenyum. Dia mengangkat kedua kantung yang kulihat isinya berupa makanan dan semacam alat tulis kantor.

"Untuk apa kau melakukan itu?,benar ya,dari dulu kau selalu saja nyari kerjaan dimana-mana,lalu,itu uang buat apa?jangan-jangan buat beli kaset ps lagi seperti dulu"tanyaku.

"Bukan kok,aku cuma lagi pengen beli gundam edisi terbaru"jawabnya sambil tersenyum. "Sudah dulu ya,nanti kita ngobrol lagi!"dia pun berlari meninggalkanku. Sementara aku hanya bisa memandanginya sambil geleng-geleng kepala.

'Dasar,tu anak ga ada cara lain buat nabung apa? kayaknya enak banget,ngerjain apa-apa kek gampang banget'pikirku sambil berjalan ke kelasku. Disana aku melihat Rerta dan yang lain sedang membicarakan suatu hal.

"Apa yang kalian bicarakan?"tanyaku sambil menghampiri mereka.

"Ah,begini,kau pernah bilang kalau ada orang yang cocok sebagai pemegang cincin disini kan?,siapa dia kak?"balas Aren yang sedang duduk di meja. Oke,jelas-jelas guru akan memarahinya jika dia kepergok sedang duduk di meja seperti ini.

"Hm,kalian sedang membicarakan tentang hal itu rupanya,yah,kemungkinan dia akan bergabung hanya sedikit,kau tahu? dia hanya penduduk sipil,aku yakin boss juga tidak bisa menerimanya kan?"tanyaku pada Boss yang ada di sampingku.

"Ya...ini bukan hal main-main.."jawab Boss yang terlihat resah.

"Maa...aku bahkan berpikir kalau ini hanyalah permainan"ujar Yamamoto dengan riang.

"Karena itu kau idiot,Yakyuu Baka"balas Gokudera dengan cibirannya yang khas.

"Aku bahkan ragu dia bisa berantem atau membela dirinya...hhh...mikir apa sih aku ini?"ujarku sambil memikirkan Mahesa. Ya,Mahesa memang orang yang cocok. Dia jelas-jelas memiliki rain flame dalam dirinya. Aku seakan merasakannya saat aku bertemu dia lagi setelah menerima Sky Ring ku 3 bulan lalu. Mungkin itu juga berkat Langsit sih.


Sore Hari, Pukul 5 sore.

"Hm,mereka bahkan belum bergerak ya,padahal Orvatto sudah mulai bersiap-siap. Sampai kapan mereka mau menunggu?"ucap Seseorang sambil berdiri diantara tumpukan musuh yang telah dikalahkannya.

"Gah...siapa sebenarnya kau?dari keluarga apa kau?"tanya seorang musuhnya yang masih sadar.

"Hah?aku bukan mafia,setidaknya belum. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?,dan jika kau bertanya siapa namaku, namaku Mahesa"jawabnya sebari meninggalkan mereka semua.

Mahesa melangkah dengan cepat,perlahan diapun keluar sari gang sepi itu dan muncul di depan daerah pertokoan.

'Benar...sampai kapan lagi dua beesaudara itu akan menunggu'pikirnya. "Kau berpikir hal yang sama kan,Tarsa?"tanyanya pada seekor cendrawasih yang diselimuti oleh Rain Flame. "Kau menemuiku,padahal aku bukanlah pemilikmu,kau benar-benar tidak sabaran ya?,ah ya benar,kau belum bisa berkomunikasi denganku,untuk sekarang".


Tsuna POV

"Ngomong-ngomong,Aren kun,bukannya kita harus pulang dengan mobil?sopir kalian pasti sedang mencari kita sekarang"ucapku saat kami sedang berjalan di depan sebuah daerah ekonomi yang cukup ramai.

"Biarlah,Juudaime,kau tahu kalau mereka berdua punya hobi membuat masalah"ucap Gokudera padaku.

"Apa apaan itu? kau tahu kalau aku hanya ingin mengajak kalian berkeliling"balas Aren dengan sebal. "Kita tidak pernah punya waktu untuk begini".

"Ya,itu karena pertengkaranmu dengan si bodoh itu"komentar Gokudera.

"Hah?kenapa kau membawa-bawaku juga?"ucap Rerta yang tidak terima.

"Hei,aku hanya mengatakan 'Si bodoh' jika kau seperti itu,berarti kau mengakui kalau kau itu bodoh!".

"Lu ngajak berantem hah?".

"Maa maa,jangan berkelahi disaat seperti ini lah"ucap Yamamoto melerai mereka,disaat begini memang dia yang paling bisa diandalkan.

"Diam kau Maniak Baseball!".

Aku memilih untuk menghiraukan mereka bertiga dan berjalan didepan bersama Aren. Kelihatannya dia juga sama sepertiku,dan pura-pura tidak mengenal orang-orang itu.

"Eh,yang disana itu...bukannya itu Mahesa?"ucapnya sambil menunjuk ke seorang anak dengan rambut hitam tipis yang sedang melihat-lihat ke etalase toko.

"Mahesa?temanmu?"tanyaku dengan bingung. Aku baru melihatnya kali ini.

"Yah...dia sekelas denganku di tahun pertama,ketika tahun kedua aku sekelas dengan Rerta dan bukan dengannya"balas Aren sambil menghampirinya. "Oi,Mahesa!".

Anak itu menoleh ke arah kami dan menghampiri kami. "Hai Aren,sedang apa kau disini?".

"Itu harusnya perkataanku,toko figuran bukan disini kan?"balasnya sambil memandang ke etalase toko yang tadi Mahesa lihat.

"Hehehe,aku hanya jalan-jalan, ngomong-ngomong,apakah ini murid baru dari Jepang itu?kenapa kau tidak mengenalkanku padanya,Aren?".

"Benar juga,Boss,ini Mahesa,si gila kerja, Mahesa, ini Sawada Tsunayoshi"ucap Aren memperkenalkanku padanya. Sementara Mahesa menjabat tanganku dengan bersemangat.

"Kau sangat beruntung,Aren, hah?sudah jam segini?aku harus segera pulang,dah!"Mahesa pun berlari melewatiku. Tapi saat dia berjalan melewatiku, dia berbisik pelan, "Kalian terlalu lama" setelah itu dia pergi dan berlari.

Aku hanya bisa terdiam memikirkan kata-kata nya. Ada yang aneh dengan anak itu,dia bukan orang biasa. Lalu aku pun menyadarinya,ada sesesuatu di tanganku. Dan aku pun melihatnya,sebuah gumpalan kertas.

"Apa itu?"tanya Aren yang penasaran.

Aku membukanya,diatas kertas yang lecek itu tertulis jelas sebuah tulisan yang benar-benar mengagetkan.

Aku Tahu

"Apa ini? siapa yang memberikanmu kertas ancaman ala-ala film horor,boss?"tanya Yamamoto tiba-tiba.

"Kebiasaanmu yang sering muncul tiba-tiba itu jauh lebih horor dari kertas ini"balas Rerta dibelakangnya.

Aren tiba-tiba merebut kertas itu,dan memasukkannya ke kantong, "Bukan apa-apa,tadi ada orang tidak dikenal yang menjatuhkan ini"ucapnya.

'Aren...kau sepikiran denganku kan?'aku memandangi Aren,dan dia mengangguk seolah-olah dia tahu apa yang kupikirkan.


Tsuna POV

Malam itu,aku dan Aren bertemu di meja makan. Kami sengaja menyuruh yang lain untuk latihan di hutan yang mengelilingi mansion ini sehingga aku dan Aren bisa berbincang secara empat mata.

"Dari sejak aku bertemu dengannya, Hyper Intuition ku mengamuk seperti sedang memberitahuku ada yang disembunyikan orang itu"ucapku pada Aren.

"Dari awal Mahesa memang tidak terlalu dikenal sih,kami hanya mengetahuinya sebagai si 'gila kerja' yang dimana pun kami bertemu dengannya,dia pasti sedang kerja sambilan"balas Aren sambil mencari data tentang Mahesa yang sudah diretas olehnya. Tunggu,maksudku oleh CEDEF, tidak mungkin anak dengan rangking lima dari bawah ini bisa meretas kan?

"Bagaimana menurutmu?apa dia bersama Orvatto?"tanyaku.

"Orvatto baru datang ke negara ini setahun lalu,bagaimana bisa Mahesa berada di pihak Orvatto sejak awal?"jawab Aren sambil menunjukkan data yang telah diperolehnya.

Aku membacanya dengan teliti. Kecerdasannya rata-rata,semuanya rata-rata. Tidak pernah ada riwayat dia mengikuti kelas bela diri atau apa. Dia juga kerap kali terlihat sedang melihat-lihat ke etalase toko.

"Melihat ini membuatku berpikir kalau dia itu semacam pengutil dan bukan musuh"gumam Aren sambil melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan Mahesa sedang berada didepan etalase toko dan memerhatikan sesuatu. "Tunggu,kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal?".

"Ada apa?"tanyaku penasaran.

"Benda yang dia perhatikan...bukannya ini Mafia Ring?"Aren menunjuk ke sebuah cincin yang Mahesa perhatikan di rekaman itu.

"Tunggu,Aren,tadi saat kau memergokinya,dia sedang ada dimana?"tanyaku dengan penasaran.

"Toko...Barang Antik"jawabnya dengan cepat.

Sekarang semuanya menjadi jelas. Satu kesimpulan yang kami dapat, Mahesa mungkin adalah sesorang yang terkait dengan mafia sejak awal. Atau mungkin dia pernah sekali mengeluarkan Dying Will Flamenya dang mengetahui dari suatu sumber informasi tentang cincin yang bisa memperkuat nyala apinya.

"Ini mungkin bukan kebetulan...bisa saja Mahesa mengetahui tentang Nusantara Ring itu"ucapku. "Tunggu...Aren,bisa kau perlihatkan padaku Cincin yang tersisa?"aku memintanya.

Aren pun pergi sebentar dan dia kembali denhan membawa sebuah box berisikan cincin-cincin itu. Box yang mirip dengan tempat yang dulu digunakan untuk menyimpan Vongola Ring kami.

"Kita memiliki Storm,Rain,Cloud, Lightning,dan Sun disini"ucap Aren sambil memerhatikannya. Tiba-tiba dia mengusap matanya seolah-olah tidak percaya.

"Ada apa?"tanyaku penasaran.

"Ini cuma halusinasiku saja atau...ukiran nya hilang?"Aren menunjukkanku Rain Nusantara Ring yang kosong,tanpa ukiran yang sebelumnya ada di sana.

"Apa?jangan bilang itu palsu!"ucapku.

"Tidak...yang lain masih yang asli...harusnya mereka juga diganti jika benar-benar ada yang mengganrinya dengan yang palsu"jawab Aren. "Langsit,bisakah kau keluar?"Aren memanggil Langsit,yang seketika muncul dan terbang ke bahu Aren.

"Kau memanggilku?"ucapnya dengan nada yang membawa harmoni seperti biasanya.

"Langsit san,apa kau mengetahui tentang Burung Cendrawasih yang ada di Rain Nusantara Ring?"tanyaku pada burung itu.

"Sepertinya kau membicarakan tentang Tarsa,ya...dia adalah orang yang suka seenaknya sendiri dan tidak mau menunggu. Tak heran dia pergi dari cincin itu bahkan sebelum pemiliknya yang sah datang. Sepertinya dia mencari sendiri diluar sana"jawab Langsit.

"Ya ampun!,benar-benar merepotkan"balas Aren. "Sekarang kita harus mencari seekor burung kecil juga?di Jakarta?".

"Aku khawatir dia ditangkap atau apa,dengan fakta kalau wujudnya adalah seekor burung yang cukup langka"gumamku.

"Aku akan membantu kalian mencarinya,aku bisa mencari tahu dimana rekan-rekanku hanya berdasarkan nyala api mereka"ucap Langsit sebelum dia menutup matanya.

"Kau menemukannya?lokasinya?"tanya Aren penasaran.

"Ikuti aku"Langsit terbang keluar. Kami langsung menyambar jaket kami berdua dan memasuki HDWM. Kami terbang ke kota dan turun disebuah gang kosong.

"Kenapa dia ada di tempat seperti ini?"ujarku. "Apa dia memilih gelandangan atau semacamnya?".

"Tidak tahu"balas Aren. Dia sudah lelah dengan semua hal yang terjadi.

Tiba-tiba,Hyper Intuition ku bergejolak. Aku menghentikan langkahku dan bersiap untuk bertarung. Tapi Langsit dengan tenangnya terbang ke arah kanan dan kami mengikutinya.

"Halo temanku,sudah lama rupanya" ucap Langsit pada seekor Cendrawasih yang diselimuti rain flame. Disampingnya kami melihat sebuah sosok yang memperjelas semua kecurigaan kami.

"Mahesa?".


Sosok itu berbalik,dan tersenyum dengan sangat ramah.

"Kalian sudah datang ya?aku sudah menunggu kalian"ucapnya.

Tiba-tiba,Rain Nusantara Ring yang ada pada Aren bersinar terang dalam kobaran api berwarna biru. Cincin itu terbang ke arah Mahesa dan terpakai dengan sangat mulus di jari tengahnya.

"Kalian terlalu lama,aku sudah menemukan pemegangku" ucap Tarsa. Dia terbang ke arah Langsit dan membungkuk di depannya. "Senang bertemu denganmu,panglimaku"."Senang bertemu denganmu juga, Tarsa,jadi,apa yang terjadi sampai kau repot-repot melakukan hal seperti ini?"tanya Langsit.

"Kenapa?justru aku heran padamu kenapa kau memilih anak ini sebagai pemegangmu" jawab Tarsa. "Aku mengharapkan sesuatu yang baik darinya,jika dia kalah dari pemegangku,maka aku akan menarik kembali Sky Ring darinya".dia terbang kearah Mahesa. "Mahesa,lakukan"pintanya.

"A...apa yang akan dia lakukan?"ujar Aren.

"Aku tidak tahu..."balas ku.

Mahesa melepaskan dasi sekolah yang dia pakai. Dan menyiapkan kuda-kudanya. "Tarsa,Cambio Forma"ucapnya.

"Ca..cambio forma???"ujar Aren dan Aku bersamaan.

Seketika tubuh Mahesa diselimuti oleh pakaian ala ksatria pada zaman kerajaan. Dia membawa tombak yang sangat mematikan,diselimuti oleh Rain Flame.

"Sudah lama sekali sejak aku melihat ini" Komentar Langsit disebelahku.

"A.. aku harus membantu Aren kun!"ucapku sambil memasuki HDWM.

Tapi Langsit menghalangiku,dan menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?"tanyaku sambil kembali menjadi seperti semula.

"Ini pertarungannya" jawab Langsit.

Aren menyerang Mahesa dengan senjatanya. Dia terbang kesana kemari,mencoba mencari titik lemah Mahesa. Mahesa terus menahan serangan Aren dan saat ada kesempatan,dia langsung melangkan pukulannya pada Aren dan membuatnya terlempar. Aren sudah sangat terpuruk,dia tidak mau kalah lagi setelah kalah dari adiknya sendiri.

"Cuma segini tekadmu?"tanya Mahesa sambil berjalan ke arah Aren. "Aku mulai berpikir kalau Rerta lah yang pantas memgang Sky Ring".

"Kaupikir aku tidak tahu ha???memangnya kau pikir aku tidak menyadari semua itu?aku tahu,aku bukanlah orang yang pamtas memiliki Langsit. Aku tahu aku tidak cukup kuat untuk melindungi semuanya,tapi akan kucari cara untuk melakukannya!!!"teriak Aren. Aku melihatnya,saat Aren mengumandangkan tekadnya, Langsit tersenyum, senyum yang sama seperti yang sering diberikan oleh Reborn.

"Kurasa sudah waktunya untuk mulai serius" Langsit terbang ke arah Aren. "Kau bisa melakukannya,Aren, aku bersamamu".

"Ya..."Aren mengangguk. "Cambio Forma!".

Celurit di kedua tangan Aren mulai berubah bersamaan dengan saat Langsit megubah dirinya menjadi kobaran api. Benda tajam itu berkembang,kini lebih terlihat panjang dan berubah bentuk.

Aren melancarkan serangannya,serangan yang jauh lebih kuat dan cepat dari sebelumnya.

'Cambio forma...ini makin membingungkan,siapa sebenarnya yang membuat cincin-cincin ini, Talbot?,tidak...bukan...ini sama sekali bukan...ini juga tidak terlihat seperti buatan Kawahira'pikirku dengan bingung. Sementara aku masih melihat pertarungan antara Aren dan Mahesa. Ini mengingatkanku pada saat dimana Gokudera pertama kali bertemu denganku.

"A..aku menang"ucap Aren sambil mengarahkan celuritnya ke leher Mahesa yang jatuh ke tanah.

Saat itu juga cmbio forma mereka berdua berhenti,dan Tarsa serta Langsit muncul kembali.

"Kau melakukannya dengan baik,Aren" ucap Langsit pada Aren.

"Hm,masih banyak sekali kekurangan,tapi kupikir itu bisa diterima,berusalah untuk menjadi lebih kuat agar aku tidak kecewa, anak kecil" Ucap Tarsa sebelum dia menghilang masuk ke dalam cincin.

'Burung itu sama sekali tidak cocok menjadi penunggu Cincin Hujan!'pikir ku yang memerhatikan tingkah laku Tarsa dari tadi.

"Ah,kau tidak apa-apa,Mahesa?"tanya Aren pada Magesa yang memegangi punggungnya yang sakit.

"Aduh...ya, aku baik-baik saja,maaf atas kata kataku tadi,"jawabnya sambil tersenyum.

"Ya...tidak apa-apa"ujar Aren.

"Ngomong-ngomong,aku sudah mendapat cincin ini, ini jadi milikku kan?wah,aku benar-benar senang sekali!!"Mahesa tersenyum bahagia sambil memandangi cincin yang terpasang di jarinya.

"Itu milikmu,anak muda,bagaimanapun,kaulah yang dipilih oleh Tarsa. Kau berhak memilikinya," balas Langsit.

"Eh...bukannya kita harus kembali?aku yakin yang lain sedang mencari kita..."ujarku. "Kau bisa berdiri,Aren kun?".

"Ya,ayo kita pulang,emm...Mahesa,apa kau mau ikut?"tanya Aren pada Mahesa yang juga berdiri.

"Ah tidak,orangtuaku pasti sedang mencariku sekarang,sampai jumpa besok!"jawabnya sambil berlari ke jalanan utama.


"Eh? kau mendapatkan Rain Guardian? dan kau juga bisa melakukan Cambio Forma??? kenapa kau tidak mengajakku tadi,kakak??"ucap Rerta saat kami kembali ke rumah.

"Hehe, berusalah lebih keras agar kau tidak tersusul olehku, Tuan Peniru"balas Aren dengan sombongnya.

"Grrr...ni anak lama-lama songong juga. Hei Hydro, ayo kita lakukan Cambio Forma!!"pinta Rerta pada Hydro yang sedang ada di sampingnya.

"Tidak mau,kau masih terlalu payah bagiku"balasnya sambil memalingkan muka.

"Apa apaan dengan sikapmu itu hah???".

To Be Continued