Midnight Indigo Love Story

by Hamonk

.

Ada sesuatu yang menari di kepalanya, disertai musik lama yang terngiang dan mengalun begitu lambat. Kepulan asap rokok menghilang perlahan di udara, menjadikannya lebih tak terlihat di keadaan ruang gelap seperti ini. Rintik hujan di luar masih sama, belum berhenti sejak setengah jam yang lalu. Sasuke duduk di dekat jendela, bahu kanannya bersandar dan matanya memandang langit yang sama gelap dengan kamarnya. Rokok yang dipegangnya hampir habis, abunya berserakan di atas celana jins yang dikenakannya. Meski sedikit kedinginan karena dia tak memakai atasan apapun, Sasuke mencoba mengacuhkannya.

Pikirannya sedikit kosong, bau asap rokok dan parfum wanita melekat di penciumannya. Di atas ranjangnya, terdapat seorang wanita yang baru dikenalnya. Wanita berambut panjang yang sedikit tua darinya, mungkin satu atau dua tahun, entahlah. Hal itu tidak begitu penting. Wanita itu bernama Hinata. Wanita dengan bentuk payudara bagus dan besar. Hinata tengah tertidur sejak dua jam yang lalu, seusai mereka bersetubuh tanpa perasaan yang jelas.

Sayangnya, Sasuke merasa yakin tidak ada perasaan apapun yang perlu dilibatkan. Wajah memerah Hinata ketika dia menindihnya masih terngiang jelas diingatannya. Desahan wanita itu seperti musik yang bergema di kepalanya saat ini. Hujan di luar sana adalah pengiring yang tepat untuk mereka berdua, menemani rasa kesepian yang berkecamuk bercampur dengan amarah. Sasuke bahkan tak cukup sekali membuat wanita itu mencapai puncaknya. Wanita dengan wajah polos yang menyenangkan, begitu pikir Sasuke.

Aroma alkohol menguar dari mulut Hinata saat wajah mereka saling berdekatan. Hinata mabuk, dilema, dan tak tahu dimana dia harus memposisikan dirinya. Mereka menghabiskan waktu begitu cepat. Sasuke yang hanya mengenal namanya, bergerak lebih cepat dari dugaannya. Pada akhirnya, Hinata tertidur pulas seolah sudah terjun jauh ke alam mimpinya. Sedangkan Sasuke, dia beranjak mengasingkan dirinya sendiri di dekat jendela, menghabiskan batangan rokoknya yang membuat pikirannya berkelana kemana saja.

Dan, Sasuke baru saja mengingat sesuatu. Sesuatu yang menjadi segalanya, sesuatu yang memulai semuanya, hingga membuatnya berkesempatan meniduri Hinata malam ini. Wanita itu tidak mencintainya, bahkan mengenalnya saja tidak.

Sasuke bertemu Hinata di sebuah bar yang tak jauh dari tempatnya bekerja paruh waktu. Usai pekerjaannya selesai, Hinata terlihat duduk sendiri di trotoar, dengan kondisi sangat mabuk. Sasuke melihat tidak ada siapapun di sana kecuali Hinata. Wanita itu sendiri dan menangis. Sasuke menghampirinya, merasa bodoh karena sebenarnya ini bukan urusannya. Tapi mengingat Hinata beberapa jam lalu sempat membeli sesuatu dari tokonya, membuat Sasuke memutuskan untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Ini konyol. Sasuke mungkin tidak akan melakukan ini jika Hinata bukan wanita cantik.

"Kau tidak apa-apa?" Sasuke bertanya dengan sedikit membungkukkan badannya. Dia memperhatikan Hinata yang mengenakan baju biasa yang tertutup. Entah apa alasan wanita itu begitu mabuk dan sendirian di sini. Bahkan Sasuke sadar wanita itu baru saja memuntahkan isi perutnya.

Hinata tidak menjawab. Dia menunduk dan tangisnya semakin menjadi. Sasuke memegang pundaknya, menyisihkan rambut panjang Hinata yang kusut dari wajah wanita itu. Hinata kemudian mengangkat kepalanya dan memandang Sasuke dengan mata merahnya.

"Sasuke?" Hinata memanggil namanya.

Sasuke begitu heran bagaimana wanita itu tahu namanya, tapi anehnya hal itu tak membuat Sasuke merasa asing. Dia menyadari bahwa Hinata merasakan keberadaannya.

"Kau sendirian? Dimana rumahmu?" Sasuke mencoba menetralkan sikapnya. Dia memandangi wajah Hinata yang berantakan, bulu matanya yang basah, dan pipinya yang memerah. Hinata tak menjawabnya, wanita itu menatapnya seolah Sasuke adalah hal yang dicarinya. Tangannya yang hangat menyentuh wajah Sasuke, membuat Sasuke sedikit terkejut namun tak ada ekspresi berarti dari wajahnya.

Tangan Hinata yang lembut menelusuri wajahnya, menyentuh ujung hidugnya yang mancung dan sedikit kasar. Bibir atas Sasuke menjadi tujuan akhir jari telunjuk Hinata yang bermain-main di wajahnya. Tangis wanita itu sudah lama berhenti, menyisakan mata berairnya yang membuat keadannya tampak memprihatinkan.

"Siapa namamu?" tanya Sasuke. Sasuke menatap dalam Hinata. Dia tahu wanita ini bukan sosok sembarangan seperti wanita lain yang mengiriminya banyak pesan manja. Wanita ini punya aroma khas selain bau alkohol, dan Sasuke menyukainya.

"Hi-Hinata." Jawab wanita itu.

"Kau mau menginap di tempatku?" Sasuke berkata dengan suara pelan, hampir berbisik.

"Kau orang baik?" Hinata bertanya. Dia membalas tatapan Sasuke yang semakin dekat, seolah tenggelam dengan isi pikirannya yang tak beraturan. Di sekeliling mereka tidak ada siapapun, hampir pukul jam 12 malam, dan bar di belakang Hinata baru saja memulai aktivitas malamnya. Entah mengapa Hinata sudah dalam keadaan mabuk dan menyerah terlalu dini.

"Bukan." Sasuke menjawab singkat.

Hinata tersenyum, matanya semakin sayu dan kemudian dia melingkarkan tangannya di leher Sasuke. Hinata memeluknya. "Baguslah," balasnya.

Begitulah pertemuan singkat Sasuke dengan Hinata. Sasuke melumat bibir wanita itu ketika dia berhasil menutup pintu apartemennya. Dia tidak peduli seberapa berantakan apartemennya malam ini. Aroma Hinata membuatnya mabuk, membuatnya terlena dengan sesuatu yang tak dikenalnya. Sasuke membaringkan tubuh Hinata di ranjangnya, ketika Hinata mengeluarkan desahannya, di luar hujan deras.

Napas mereka beradu, tak mengenal satu sama lain, namun Hinata berulang kali memanggil nama Sasuke. Hinata tampak mengekspresikan kemarahannya dengan baik dengan menarik rambut Sasuke kuat. Suara wanita itu memenuhi seluruh ruangan, membuat Sasuke lebih bersemangat untuk menghabisinya. Sasuke tak berhenti mencium wajah Hinata, seolah pipinya yang berisi adalah sandaran yang tepat untuk bibirnya. Sasuke memainkan musik yang dirindukan dalam kepalanya, menjadikan Hinata adalah inspirasinya malam itu. Hinata kelelahan, dan Sasuke merasa puas.

Mereka mengakhirinya, entah dengan waktu berapa lama. Sasuke menampilkan senyum tipisnya.

Hinata terlelap begitu cepat ketika Sasuke menyelesaikan tugasnya. Dia berhenti memeluk tubuh Hinata dan berbaring sejenak di samping wanita itu. Matanya memandang langit-langit apartemen yang catnya sudah mengelupas. Udara sedikit dingin, tapi Sasuke sengaja membuka jendela untuk membiarkan angin malam masuk. Sasuke menyelimuti tubuh telanjang Hinata dengan selimutnya. Dia memandangi tubuh wanita itu sejenak dan membayangkan apa yang akan terjadi besok pagi.

Sasuke beranjak, mengenakan kembali celananya dan mengambil rokok di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Dia menyalakannya tanpa tergesa dan kemudian melamun di dekat jendela. Hinata. Sasuke tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan wanita itu. Dia tak punya perasaan apapun. Ya, tentu saja. Mereka baru bertemu. Mungkin pagi nanti Hinata akan langsung menghilang dari pandangannya, atau menamparnya terlebih dahulu.

Sasuke akan menunggu pagi tiba, sebentar lagi, setidaknya dia berniat untuk tidur terlebih dahulu.

.

Hinata membuka matanya. Ketika dia bangun, kepalanya terasa begitu berat. Sesuatu yang berat menindih dadanya yang telanjang—tangan Sasuke. Aneh rasanya, Hinata tak mengingat apapun, tapi kehadiran laki-laki asing di sampingnya rasanya mudah diprediksinya. Oh kini dia tidak lupa sepenuhnya ketika dia menyaksikan wajah Sasuke yang terlelap di sebelahnya. Sasuke hanya mengenakan celana jins yang tampak tidak nyaman. Dada laki-laki itu tampak bersih dengan kulitnya yang agak dingin.

Hinata berusaha memposisikan dirinya dengan benar. Dia menyingkap selimut yang menutupi setengah badannya. Sasuke yang merasakan pergerakan Hinata sedikit mengerang. Hinata kemudian bangkit, namun memilih duduk di atas tubuh Sasuke yang terlentang. Hinata menatap wajah Sasuke yang masih tertidur. Cahaya matahari masuk dari jendela yang tak memiliki tirai, yang memungkinkan satu dua orang dari gedung sebelah dapat melihat keadaan mereka berdua saat ini.

Berat tubuh Hinata membuat Sasuke lambat laun tersadar, dia membuka matanya perlahan dan wajah Hinata yang begitu dekat adalah hal pertama yang Sasuke lihat. Mereka saling bertatapan untuk beberapa lama. Napas mereka bersatu, bibir mereka berdekatan, dan Hinata memberikan ciuman lembut. Berulang kali, tanpa memaksa.

Sasuke membalas ciuman Hinata dan melingkarkan tangannya di pinggang Hinata. Mereka saling melumat dan bertukar air liur. Sasuke mengarahkan tangan kanannya ke dada Hinata, meremasnya pelan, dan kini gairahnya kembali bangkit. Sasuke tidak menyangka wanita itu akan membangunkannya dengan cara seperti ini.

Hinata menyudahi ciumannya, dia kembali memandangi wajah Sasuke. Kedua tangannya menumpu badannya di dada Sasuke. Hinata menyukai laki-laki ini.

"Boleh aku tetap di sini?" Hinata bertanya, mengecup kembali bibir Sasuke singkat. Wanita itu memainkan pinggulnya di selangkangan Sasuke yang masih tertutup celana jins. Sasuke mengangguk dan meraih pinggang Hinata, dia mendorong tubuh wanita itu ke samping dengan cepat sehingga memposisikan dirinya kini berada di atas Hinata.

Mereka melakukannya lagi. Pagi hari yang cerah akan berlalu sedikit lama. Musik yang selalu diputar dalam ingatan Sasuke dimainkannya perlahan-lahan. Sasuke menikmatinya. Menjadikan hal tersebut adalah hal yang tepat baginya ketika dia bersama sosok yang baru dikenalnya saat ini. Tidak, mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya. Sebelum ini, lebih jauh lagi.

Sasuke akan mengakhirinya, dengan sesuatu yang lebih baik daripada pertemuan singkat yang membosankan.

.

Bersambung?