NARUTO MILIK MASASHI KISHIMOTO SENSEI
"IMPOSSIBLE TO RUN AWAY FROM ME"
BY HINATA KUCHIKI HEARTFILIA
Naruto and Hinata
rate-M
"Painful Reality..."
chapter 6
holla minna-san sehat semua kan. Jumpa lagi dengan fanfic Hikhulia yang standard dan gak jelas alurnya.
Jika reader sekalian malas dan tidak suka dengan fanfic ini,Hikhulia menyerahkannya pada pembaca sekalian.
Hikhulia minta saran dan bantuan atas fanfic ini.
Maaf juga jika masih jelek dan tidak bisa memenuhi harapan minna-san…
Akhir kata selamat membaca.
Flashback on
Beberapa bulan setelah Hyuuga Hinata di Konoha International High School.
Saat ini Konoha memasuki musim gugur, dedaunan yang hijau dan segar kini berubah warna menjadi warna-warna terang seperti merah, emas, tembaga, kuning, coklat, kuningan yang berputar-putar hingga akhirnya jatuh ke bahu jalan . Beberapa toko pakaian mulai memajang koleksi musim dingin mereka,tidak lupa dengan label diskon yang tertera di etalese kaca toko mereka. Toko buku yang selama ini buka dengan jadwal panjang, mulai mengurangi jadwal buka mereka.
Seorang gadis atau biasa disapa Hinata,paham akan jadwal toko buku tidak ingin menyesal terlambat membeli buku,dikarenakan toko buku itu tutup. Keingintahuannya yang besar membuat dia tidak sabar untuk menunggu besok,dan lebih memilih terlambat pulang daripada penasaran sampai besok.
Dengan mantel coklat dibawah lutut,dipadu dengan stocking creamnya dan sepasang boots senada dengan mantelnya,dia mulai berjalan meninggalkan toko buku,saat akan melewati taman kota,gadis itu merasa tidak asing dengan seorang gadis berambut pirang. Sepertinya gadis pirang itu terlibat masalah. Hinata yang penasaran,akhirnya memilih untuk bersembunyi di balik pohon dan mendengar semua pembicaraan mereka.
"Hentikan Papa! Sasori-kun tidak terlibat sama sekali,kami hanya berteman baik!"
Pria yang disebut Papa oleh gadis pirang itu terlihat sangat menyeramkan,rambut hitam panjangnya dan kulit pucatnya menambah keseraman wajahnya. Pria itu ditemani dengan tiga orang bertubuh besar dan tegap,sepertinya mereka adalah bodyguard Pria itu.
"Bukankah sudah Papa ingatkan untuk menjauhi anak berandalan sepertinya?! Dan kau masih tidak mengerti juga?!" ujar pria itu,sementara lelaki yang disebut dengan berandalan itu terlihat menyedihkan,wajah dan tubuhnya dipenuhi memar.
"Aku mohon Papa! Berhenti memukul Sasori-kun!"gadis itu terisak dengan menggenggam tangan pria itu.
"Kalian bertiga boleh berhenti sekarang! Ingat Shion! Kau tidak boleh sampai kehilangan Naruto! Bocah itu sangat berguna untuk perusahaan kita dan-"
"Tapi aku tidak mencintainya dan aku hanya mencintai Sasori-kun!"potong gadis itu berteriak sambil menunduk.
"Cinta? Dengar Shion,cinta hanya akan terwujud jika kau memiliki apa yang kau inginkan. Dan bocah itu dapat mewujudkannya."
"Aku tidak ingin hidup bersama dengan lelaki yang tidak kucintai, aku hanya ingin hidup bersama pria yang kucintai. Aku benci Papa!"
Plak…
Tamparan keras mendarat di pipi putih gadis itu, perkataanya membuat Papa nya jengah dengan tingkah laku gadis itu.
"Sampai kapan kau akan mempertahankan sikap keras kepalamu itu Shion! Hidup bersama dengan Naruto jauh lebih baik dibanding dengannya"tunjuknya pada lelaki yang masih terkapar itu.
"Papa tahu dengan sikap boros dan hura-hura mu itu. Kau tidak bisa hidup tanpa barang mewah dan kartu kredit, kau seperti Mama mu. Dan apakah bocah ini dapat membeli semua kebutuhanmu?! Tapi Naruto,dia selalu memenuhi kebutuhanmu, apertemen dan mobil yang kau gunakan juga hasil pemberiannya" ujarnya marah.
Meskipun Shion selalu di jemput oleh Naruto,sebenarnya dia memiliki mobil mewah dan sebuah apartemen mewah pemberian Naruto. Naruto juga memberikan Shion kartu kredit untuk membeli semua kebutuhan gadis itu. Dia selalu menggunakan kartu itu untuk membeli semua barang mewah, tidak peduli seberapa mahal barang itu, asal dia memilikinya.
Selama ini Naruto tidak pernah mengeluh bahkan menegurnya, lelaki itu selalu berkata asal dia senang lelaki itu juga senang. Dan selama ini Shion juga menggunakan kartu pemberian Naruto untuk membiayai kekasih pemabuknya.
"Aku mengerti! Aku akan membuat Naruto selalu disisi ku, tapi dengan satu syarat" ucapnya serius.
"Katakan…! Asal Naruto berada di pihak kita, Papa akan menuruti kemauanmu!"
"Biarkan aku tetap dengan Sasori-kun. Tidak hanya di pihak kita saja, aku akan membuat Naruto memberikan sebagian asetnya kepada Papa, dan membuat perusahaan Papa lebih besar lagi"
Mendengar usulan Shion,pria itu tampak senang dan menyetujuinya dengan mudah. Naruto memang anak yang cerdas, tapi mengenai Shion dia lebih bodoh dari keledai. Naruto selalu menuruti perkataan Shion, Naruto bahkan tidak segan-segan berbohong kepada orangtuanya asal itu membuat Shion senang.
.
Sejak saat itu, Hinata tidak pernah tenang. Dia ingin memberitahukannya niat jahat Shion pada Naruto, namun dia tidak berani, dia takut jika Naruto sampai tahu mengenai Shion, Naruto akan sedih. Belum lagi jika sampai Naruto tidak percaya dengannya dan menuduhnya ingin merusak hubungannya dengan Shion. Semuanya gadis itu pendam dan memilih membuat Naruto mencintainya, sehingga saat Naruto tahu kebenarannya lelaki itu tidak terlalu sedih. Tanpa dia tahu, bahwa menyembunyikannya dari Naruto sama saja dia melukai lelaki itu. Dan tentunya dia juga akan terlibat dalam masalah besar.
.
.
.
Flashback off
.
" Shion…!"
" Sasori-kun!"
Seorang lelaki berambut merah datang menghampiri kedua gadis itu. Lelaki itu tampak berantakan, dari cara bicara dan berjalannya sepertinya lelaki itu mabuk.
" Shion! Aku butuh uang saat ini. Aku kalah bermain kartu dan jika aku tidak mengembalikan uang mereka, mereka akan mendatangi ku" ujarnya mendekati Shion dan menggenggam tangan Shion.
" Bukankah sudah kubilang untuk tidak menemui ku di tempat umum!" lelaki itu masih setia menggenggam tangan Shion.
" Aku tahu! Tapi,mereka selalu mengejarku dan mungkin mereka akan menemukan ku sekarang. Cepatlah….! Bukankah kau bilang akan memberikan semua yang kuinginkan?!" pekik Sasori dan mulai mencengkram bahu Shion kuat.
BUAAGGGH…!
Seorang datang melepaskan cengkraman lelaki itu dan memberikan pukulan tepat di wajahnya. Darah segar mengalir dari sudut bibir lelaki itu yang kini terkapar di tanah.
Hinata begitu kaget dengan kedatangan Naruto dan langsung memukul Sasori. ' Apakah Naruto mendengar semua pembicaraan mereka dan bagaimana dengan nasibnya nanti, bagaimana jika Naruto marah dan membuat perhitungan dengannya?!' batin Hinata.
Naruto menatap Shion dengan wajah marah,melihat bahu Shion yang kini memerah akibat cengkram Sasori membuat dia mengalihkan wajahnya dan menatap Sasori.
Naruto menghampiri dan memberikan tinju dan pukulan berkali-kali. Sasori yang dihajar seperti itu langsung babak belur. Dengan kekuatan dan keahlian beladirinya mematahkan tangan Sasori, bukan hal sulit baginya.
"Naruto..! hentikan! Kau bisa membunuhnya"Naruto bahkan tidak menghiraukan teriakan Shion.
"HENTIKAN MELUKAI ORANG YANG KUCINTAI NAMIKAZE!" pekik Shion.
Mendengar perkataan Shion,Naruto langsung menghentikan pukulannya dan menatap Shion dengan pandangan terkejut dan kecewa. Hinata yang sedari tadi berdiri dan menatap perkelahian itu,juga terkejut dengan pernyataan Shion.
"Hah…! Hah…. Cinta kau bilang!?" Naruto menghela nafas berulang kali sambil tertawa mengejek mendengar perkataan Shion.
"Ya… aku mencintainya. Dan kau tidak berhak melukainya seper-"
"Apa kau sadar dengan ucapanmu?! Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari ku Shion!?" teriak Naruto.
Mendengar teriakan dari luar,siswa yang berada dalam gedung mulai keluar dan melihat pertengkaran Shion dan Naruto. Sahabat Naruto yang melihat juga tampak kaget.
"Ada apa ini Naruto!?" Tanya Sasuke. Mereka bingung dengan Naruto yang terlihat marah,belum lagi dengan lelaki yang babak belur dan Hinata yang berdiri seperti patung.
"Diamlah Sasuke! Ini bukan urusan kalian!" ancam Naruto.
"Siapa bajingan ini Shion? Apa maksud dengan perkataanmu?" Naruto mulai mengurangi suaranya,dia masih berharap bahwa Shion tidak serius dengan ucapannnya tadi.
"Bajingan? Kaulah bajingan di sini Namikaze. Akibat ulahmu hidup ku menjadi sengsara!" teriak Shion.
Sakura yang mendengar ucapan Shion menjadi marah,dia tidak suka sahabat baiknya di sebut bajingan. "Jangan menyebut Naruto seperti itu Shion,kau-"
"Sudah kubilang ini bukan urusan kalian!" potong Naruto berteriak sambil menatap Sakura marah. Sakura yang kaget dengan reaksi Naruto memilih sembunyi di balik tubuh Sasuke, ini pertama kalinya Naruto membentaknya.
"Apakah kau tahu Namikaze?! Papa ku sangat menginginkan harta dan jabatan seperti Tou-san mu. Dan kau lah satu-satunya cara mendapatkan itu semua" sambil menunduk,Shion memulai ceritanya.
"Papa ku selalu mencari tahu informasi mengenai keluargamu. Sejak kau masuk ke sekolah yang sama denganku,itulah awal kesengsaraanku. Kau harus seperti ini pada Naruto… ini…itu…. Semua mengenaimu,dia bahkan akan menghukumku jika aku tidak berhasil dekat denganmu."
"Apa ini sebabnya kau tidak ingin menjadi kekasihku?"Tanya Naruto,dia masih setia menatap Shion dengan marah.
"Aku memang menyukaimu,tapi untuk menjadi kekasihmu…. Hatiku tidak dapat melakukannya. Sasori lah orang yang kucintai dan dia sudah menjadi kekasihku sejak Junior School." Sasori yang menjadi pusat pembicaraan kini mulai sadar dan berdiri sambil memegang perut dan wajahnya.
"Menyukai? Apa maksudmu harta dan kekuasaan Tou-san ku. Dan,apa ini juga alasanmu selalu menolak ajakan ku ke Amerika?" Naruto mulai sadar sekarang.
"Tidak juga… aku memang menyukaimu,kau selalu menjagaku. Dan mengenai harta dan pemberianmu selama ini, aku lebih menyukainya dibanding kau Namikaze."ujar Shion sombong.
Naruto yang seperti ingin menghampiri Shion, langsung dihentikan Sasuke dengan mengcengkram bahu Naruto.
"Lepaskan Sasuke,sudah ku bilang ini bukan urusanmu" desis Naruto.
"Tenanglah! Kau ingin mendengar semua penjelasannya bukan?" peringat Sasuke dan melepaskan tangannya.
"Ya, aku memang tidak ingin kembali sana. Jika aku kembali kesana, aku akan di tekan dengan pertanyaan mengenaimu. Memuakkan sekali! Apakah kau tahu, mengapa setiap keluargamu mengajak ku ikut berlibur aku selalu ditemani kedua orangtuaku. Mereka ingin membuat kontrak kerja dengan Tou-san mu" lanjut Shion.
Naruto kini sadar dengan semua yang dikatakan Shion,pantas saja gadis itu tidak mau ikut berlibur jika tidak di temani kedua orangtuanya. Naruto memang aneh dengan tingkah laku kedua orangtua Shion,mereka selalu menyuruh Shion untuk mengajak Naruto pergi bermain dan meninggalkan orangtuanya dan orangtua Shion. Dan saat dia kembali, dia pernah melihat Tou-san nya menandatangani sebuah kertas. Naruto kini sangat menyesal,demi keegoisannya dia membuat kedua orangtuanya bekerja sama dengan keluarga licik itu.
Dulu Shion bukan tergolong anak orang kaya,terlihat dari cara berpakaian gadis itu. Dia juga tahu bisnis Papa nya juga bukan bisnis yang besar bahkan tergolong kecil. Namun, setelah bekerja sama dengan Tou-san nya,bisnis Papa Shion mengalami kenaikan, bahkan saham bisnis Papa Shion sudah di perjual belikan di Bursa Efek.
"Dan apa alasanmu memberitahukan ini semua kepada Naruto?" Sasuke ikut angkat bicara. Dia memang sudah tahu bahwa Shion bukan gadis baik-baik,tapi melihat Naruto begitu mendamba Shion,dia mengurungkan niatnya membuat Naruto menjauhi Shion.
"Aku ingin Naruto menjauhi kehidupanku,dan mengenai pemberianmu selama ini aku sangat berterima kasih, tapi aku tidak berniat mengembalikannya, karena itu sudah menjadi milikiku. Aku juga tidak peduli lagi dengan Papa egois ku itu." Shion menatap Naruto.
"Apa kau kira aku mau meminta kembali barang bekas wanita licik dan brengsek sepertimu?! Pergilah dari sini sekarang,sebelum aku membunuh kalian berdua. Satu hal lagi, aku akan membuat hidupmu dan hidup kekasih kesayanganmu ini menderita selamanya. Dan kau tidak usah khawatir dengan orangtua mu, aku juga akan membuat mereka menderita."
Kalimat yang Naruto lontarkan begitu mencekam dan menakutkan. Semua yang mendengar perkataannya Naruto ikut takut,seolah-olah perkataannya ditujukan pada mereka.
Shion yang mendengar perkataan Naruto juga sangat takut. Sekarang dia harus pergi dari sini sebelum Naruto dan sahabatnya berubah pikiran. Shion berjalan dengan memapah tubuh Sasori yang babak belur.
Naruto memang orang yang baik, tapi tipe orang seperti Naruto mampu melakukan hal berbahaya jika menyangkut orang yang disayanginya. Perkataan Shion yang mengatakan memanfaatkan Naruto agar membuat orangtuanya bekerja sama dengan orangtua Shion,membuat Naruto sangat marah.
"Kalian semua bubar dan jangan ada diantara kalian yang menyebarkan ini semua. Jika sampai ada diantara kalian yang menyebarkan hal ini! Seluruh keluarga kalian akan ikut merasakan akibatnya!" ancam Sasuke kepada semua siswa.
"Berhenti di situ Hyuuga! Kau juga harus menjelaskan ini semua!" panggil Shikamaru.
Hinata yang berniat melarikan diri,tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya ketika mendengar panggilan Shikamaru.
Tubuh Hinata kini sangat lemas,dia hanya berdiri menunduk meremas gaunnya dengan tubuh bergetar.
Naruto menghampiri Hinata yang berdiri kaku dan bergetar. Naruto mengulurkan tangannya berniat menyentuh gadis yang kini sangat ketakutan.
"Na-Namikaze-san…. Ak-aku…"cengkram kuat di bahunya membuat dia menatap Naruto takut-takut.
Mata indah Hinata melebar melihat tatapan Naruto,tatapan Naruto terasa kosong,gadis itu juga dapat merasakan tubuh Naruto yang gemetar dari genggaman tangannya di bahu gadis itu.
"Sejak kapan? Sejak kapan kau mengetahuinya?"Naruto menatap mata Hinata dengan tatapan kosong.
"Aku-aku…." Gugup Hinata.
"AKU BERTANYA SEJAK KAPAN!" cengkraman di bahu Hinata semakin kuat,Hinata kaget dan syok dengan teriakan Naruto. Air mata yang sedari tadi ditahannya mulai mengalir.
"Ka-kau menyakitiku Namikaze-san…"
Naruto menarik,tepatnya menyeret gadis itu menjauh dari para sahabatnya,dia bahkan tidak memperdulikan Hinata yang kesulitan mengimbangi jalannya karena menggunakan High heel.
"Naruto…! Naruto… jangan menyakitinya!" teriakan Sakura tidak dihiraukan Naruto,dan tetap membawa Hinata menjauh.
"Biarkan mereka Sakura, Naruto hanya ingin penjelasan saja,dan dia tidak akan menyakiti Hinata" mendengar penjelasan Sasuke,Sakura sedikit tenang,dan mereka memilih meninggalkan tempat itu.
.
Bruk…
Naruto menarik paksa Hinata ke taman belakang sekolah. Taman yang menjadi saksi bisu tempat Hinata berulang kali ditolak.. Dan mendorong dan menekan tubuh gadis itu kasar di sebuah pohon.
Hinata meringis sakit di punggungnya,sepertinya punggungnya sedikit memar.
"Sejak kapan? Aku bertanya sejak kapan Hyuuga?"Naruto kembali mencengkram bahu gadis malang itu.
Hinata hanya diam dan menunduk. Melihat reaksi Hinata,membuat Naruto jengkel dan mencengkram wajah Hinata agar menatapnya.
Sepasang bola mata sebiru laut itu melebar melihat bola mata lavender yang tampak kosong,air mata juga mengalir dari bola mata indah itu.
Mereka berdua hanya menatap satu sama lain tidak ada yang berniat memulai pembicaraan. Seperti ada magnet kuat di kedua bola mata mereka.
"Kau menyakiti tubuh dan wajah ku Namikaze-san" ucap Hinata menyadarkan Naruto.
"Ini tidak sebanding dengan kebohonganmu selama ini,kau berhak menerima jauh dari ini"
"Jika aku mengatakan bahwa Shion mengkhianatimu. Apakah kau percaya?"
Naruto melepaskan genggamannya dari wajah dan bahu gadis itu. Dia bahkan mundur satu langkah. Tampaknya dia kaget dengan perkataan Hinata.
"Kau tidak mungkin percaya dengan ku,sedangkan membelaku saja kau tidak mau dan memilih diam sambil menggenggam tangan Shion" Hinata kembali mengingat kejadian waktu itu,dia menghapus air matanya dan menatap Naruto.
Benar! Semua yang dikatakan Hinata memang benar! Jika saja waktu itu Hinata memberitahunya, dia mungkin tidak akan mempercayai dengan mudah. Dia mungkin akan marah dan menganggap Hinata ingin merusak hubungnnya. Dan mengenai kejadian waktu itu pun dia belum meminta maaf.
"Tapi bukan berarti kau harus menyembunyikan semuanya dari ku" jawab Naruto menatap Hinata.
"Kau tidak akan pernah percaya dengan ku, matamu hanya menatap Shion. Apakah itu sangat sakit? Tapi ini tidak sebanding dengan rasa sakit hati ku Namikaze-san, dan kau lah yang lebih cocok berhak menerima jauh dari ini. Dan mengenai Shion yang mengkhianatimu, ini bukan salahnya dan salahku, ini semua salahmu yang begitu bodoh dan naif"
Naruto kembali mencengkram bahu gadis itu dan menatapnya marah. Hinata yang merasa dalam keadaan bahaya,berusaha melepaskan diri dari Naruto dengan mendorong tubuh Naruto.
Naruto menggenggam kedua tangan gadis itu dan menaruhnya di sisi kepala gadis itu. Dia menatap wajah takut Hinata. Hinata saat ini sangat menggemaskan, wajah takut dan bibir gadis itu yang bergetar juga….. Gawat….! Kepala Naruto kembali sakit,jantungnya pun kini mulai berdetak cepat. Dia kembali teringat saat dia merasakan bibir gadis ini.
"Na-Namikaze-san apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan tanganku, aku ing-"
"Hmmph…"
Naruto membungkam mulut Hinata dengan bibirnya. Naruto menekan bibirnya dengan bibir mungil gadis itu dengan kasar. Hinata yang diperlakukan seperti ini berusaha melepaskan diri,cengkram kuat di tangannya dan kekuatan yang berbeda jauh membuatnya kesulitan melapaskan diri.
"Mmmnghh..hah…" Hinata berusaha menetralisir pernafasannya yang memburu kencang saat, Naruto melepaskan untuk kebutuhan oksigen. Naruto menciumnya sangat kasar dan lama.
Melihat wajah memerah Hinata membuat dia hilang kendali. Dia berniat menyentuh bibir Hinata lagi. Melihat pergerakan Naruto,Hinata memalingkan wajahnya.
"Percuma menghindarinya Hyuuga" bisik Naruto tepat di telinga gadis itu. Naruto kembali mencengkram wajah Hinata,salah satu tangan Naruto digunakan untuk memegang kedua tangan gadis itu diatas kepala gadis itu.
Naruto kembali menyatukan bibir mereka dan memagut dengan kasar. Dia tidak henti-hentinya menekan bibir Hinata bahkan menggigit bibir Hinata yang nyaris berdarah.
Tak tahan dengan ini semua,Hinata menendang tulang kering Naruto hingga ciuman keduanya terlepas. Hinata mengatur pernafasannya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Wajah dan matanya memerah menahan tangis. Bibirnya pun tampak membengkang.
Setelah berhasil menenangkan pernafasannya, Hinata menampar wajah Naruto yang telah pulih dari tendangan Hinata. Dia bergegas meninggalkan Naruto,tanpa memedulikan salah satu sepatunya yang rusak saat Naruto menariknya paksa.
Sambil menatap punggung Hinata yang menjauh dari nya, Naruto tertawa masam,seringai pun kini muncul di wajah tampannya. Dia memang sering mencium Shion lebih lama dari ini. Tapi belum pernah Naruto mencium Shion senafsu dan sekasar ini. Namun dengan Hinata,dia berubah menjadi liar dan kasar. Dan sialnya! Dia ingin mencicipinya lagi.
"Ha..! hanya dengan menyentuh bibirmu saja membuatku sejenak mengalihkan pikiranku dari Shion. Kau memang gadis aneh Hyuuga"seringai lebar masih menghiasi wajah tampannnya.
Naruto mengeluarkan SmartPhonenya dan menghubungi seseorang.
"Halo…!Aku ingin memblokir semua kartu kredit pemberianku untuk Shion. Ya,lakukan saat ini juga. Tidak! Biarkan itu semua menjadi miliknya."
Membiarkan Shion tetap memiliki semua pemberian Naruto memang menjadi keputusan Naruto,tapi bukan berarti dia tetap bisa mengorek kekayaan Naruto.
Saat dalam perjalan pulang dengan mobil barunya. Naruto dikagetkan dengan Hinata yang berjalan pincang di sisi trotoar.
"Apa dia gila! Apa dia ingin menjadi korban pelecehan dengan penampilan seperti itu"Naruto mengemudikan mobilnya mendekat kearah Hinata dan membuka kaca mobilnya.
"Hei..! Apa kau gila?" sambil mengemudikan mobilnya dengan lambat, Naruto mengikuti Hinata.
Tidak ada jawaban dari Hinata,dia tetap berjalan dan menghiraukan Naruto.
"Apa semua wanita sangat merepotkan seperti ini? Benar-benar merepotkan!" menghentikan mobilnya,Naruto berlari menghampiri Hinata.
"Lepaskan! Aku bilang lepaskan!"
Naruto menarik tangan Hinata,dan mengarahkan gadis itu memasuki mobilnya. Dia bahkan memasangkan sabuk pengaman Hinata,agar gadis itu tidak melarikan diri.
"Pakailah! Kau pasti kedinginan dengan gaun itu. Kenapa kau tidak membawa mantel?"
Naruto menyodorkannya jas nya pada Hinata. Hinata hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke sisi jalan. Naruto menghela nafas dan memasangkannya ke bahu depan gadis itu.
Hati Hinata menghangat dengan perlakuan Naruto. Dia memang masih marah,tapi dengan perlakuan Naruto seperti ini... Bisakah dia kembali berharap?
"Jangan berpikir kau masih memiliki harapan untuk bersama ku Hyuuga!" ujar Naruto,mulai menjalankan mobilnya.
Hinata tersentak dengan perkataan Naruto. 'Apa dia bisa membaca pikiranku?' batin Hinata.
"Aku tidak akan mengharapkanmu lagi Namikaze. Jangan terlalu sombong dengan dirimu sendiri" dusta Hinata tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Mereka berdua hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Naruto melirik Hinata diam-diam, saat melihat bibir Hinata yang agak bengkak, dia tersenyum dan merasa puas dengan perbuatannya.
"Bisakah kau mengetik alamatmu di GPS mobilku?!" mendengar permintaan Naruto,Hinata melakukannya tanpa menjawab Naruto. Naruto mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin membuat Hinata takut.
"Berhenti di sini!"ucap Hinata cepat.
"Bukankah ini masih gerbang?" Naruto menghentikan mobilnya saat akan memasuki gerbang di sebuah komplek perumahan mewah.
"Jika sampai tetanggaku melihat kau mengantarku,mereka akan memberitahukan kepada orangtua ku."peringat Hinata keluar dari mobil Naruto.
"Terserah padamu! Tapi ingat Hyuuga,bukan berarti aku melepaskanmu begitu saja" ancam Naruto,dan mengemudikan mobilnya cepat.
Beruntung bagi Hinata karena keluarganya telah tertidur. Dia tidak perlu mencari alasan dengan keadaannya yang kacau.
Konoha International Senior High School.
Tidak ada yang membicarakan kejadian pertengkaran Naruto dan Shion. Mereka seakan melupakannya. Dan untuk Shion, dia langsung mengambil langkah cepat. Dia langsung mengurus kepindahannya dan menjauh dari kehidupan Naruto. Meskipun hal itu mustahil, karena Naruto akan tetap membayar semua perbuatan Shion.
Namun,berbeda dengan Hinata,sejak kejadian waktu itu. Dia selalu mengalami hal buruk di sekolah. Setiap hari loker dan semua isinya basah dengan air berwarna merah, dan setiap hari juga dia harus membersihkannya. Tidak hanya loker, sepatu penggantinya pun turut menjadi sasaran. Hilang sebelah! Basah! Semuanya dilalui Hinata.
Dia juga sering terkena lemparan bola entah darimana dan membuat kacamatanya rusak karena terjatuh bahkan tidak sengaja terinjaknya. Dan ini sudah dua minggu dia mengalami hal ini. Bukan tidak ingin mengaduhkannya ke pihak sekolah, dia hanya tidak ingin terlibat lebih jauh. Dan dia juga tahu ini semua perbuatan Naruto yang ingin membuat dia menderita sebelum lelaki itu lulus dari sekolah itu. Itu berarti dia harus bersabar hingga dua bulan lagi.
Akibat ulah Naruto, dia juga kembali kehilangan teman yang sempat dia miliki, karena ancaman dari Naruto kepada teman-temannya.
Kesabarannya memang patut diacungi jempol. Namun kesabaran Hinata hilang saat dia melihat namanya berada di urutan paling bawah saat ujian tengah semester. Dia yakin dengan semua jawabannya,mustahil jika dia berada di pringkat terakhir. Ini pasti perbuatannya. Hinata berniat menghampiri orang membuat dia berada di pringkat terbawah.
"Naruto! Aku rasa ini sudah cukup, ini sudah keterlaluan. Sasuke tolong beritahu Naruto, kalian semua juga beritahu Naruto!"
Tidak ada yang mau mendengar Sakura, Sasuke bahkan menulikan pendengarannya begitu juga dengan semua sahabat Naruto yang lain.
"Bisakah kita berbicara Namikaze-senpai!?"
Mereka semua dikagetkan dengan kedatangan Hinata,dilihat dari raut wajahnya sepertinya gadis itu mendengar semua pembicaraan mereka.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Hyuuga!" bersama dengan sahabatnya lelakinya Naruto berjalan melewati Hinata.
"Aku masih menyukaimu!"
Semua berbalik menatap Hinata. Apa gadis ini sudah gila?
"Tapi aku tidak akan mengharapkanmu lagi. Aku meminta maaf karena merahasiakannya dari mu. Dan aku akan menjauh dari kehidupanmu, tapi aku mohon…" tatapan Hinata melembut sambil tersenyum lebar.
"Biarkan aku bersama dengan mu hingga kau lulus dari sini. Aku janji tidak menemuimu lagi, jika perlu aku akan pergi meninggalkan Negara ini."
Jujur!mendengar perkataan Hinata, sahabat Naruto sangat sedih. Sebegitu besarnya cinta gadis ini kepada Naruto.
"Aku tidak menginginkan kau untuk pergi dua bulan lagi, aku ingin kau pergi jauh saat ini juga"
Setelah mengatakan itu, Naruto berjalan meninggalkan Hinata diikuti sahabatnya.
"Hinata-chan, maaf atas semua ulah Naruto dan sahabatnya" Sakura mencoba menenangkan Hinata.
"Tidak apa-apa Sakura-san. Aku permisi dulu"
Jika ditanya mengenai perasaan Naruto. Dia memang tidak ingin melukai Hinata,namun harga dirinya seakan melarang untuk berhenti melukai Hinata.
.
.
.
Malam ini langit Konoha dipenuhi bintang-bintang yang memancarkannya cahaya begitu indah, tidak mau kalah bulan pun unjuk diri memancarkan sinarnya. Angin berhembus dengan lembut, benar-benar suasana malam yang menenangkan.
Berbeda jauh dengan suasana di pinggiran kota Konoha. Tepatnya, di parkiran sebuah club malam yang terkenal di kalangan anak muda.
"Lepaskan Naruto! Kau mabuk sekarang, sebaiknya kau pulang dan menjauhlah dari ku!" pekik Shion berusaha melepaskan cengkraman tangan Naruto dari tangannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau kembali denganku!"paksa Naruto
"Kau menyakitiku Naruto, pergilah ke gadis Hyuuga itu! Dia lebih berhak denganmu." cengkraman di pergelangan Shion kini mengendur. Tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini Shion menarik tangannya dan berlari meninggalkan Naruto.
Inilah kebiasaan baru Naruto, setiap malam dia mengunjungi club malam yang berbeda. Berharap bertemu Shion dan membuat Shion kembali padanya. Meskipun saat itu dia mengusir Shion, namun hati dan pikirannya tidak mudah menghapus kenangannya dengan Shion.
Permohonannya benar-benar terkabul, dia menemukan Shion. Tapi anehnya, Shion tidak bersama dengan si merah lemah itu, kini dia bersama lelaki lain bermesraan dan saling bercumbu, dengan pakaian yang benar-benar mini. Dengan keadaan mabuk Naruto menyeret Shion menjauh dari lelaki hidung belang itu.
Hyuuga Hinata ,hanya mendengar namanya saja membuat dia marah. Naruto masih menyimpan amarah terhadap Hinata yang menyembunyikan mengenai Shion selama ini. Mengeluarkan Smartphonenya Naruto menghubungi seseorang.
"Sakura! Kau memiliki nomor Hinata kan? Kirimkan sekarang untuk ku!" perintah Naruto melalui sambungan telepon.
{Apa kau gila menelponku jam segini? Ini hampir pagi Naruto} balas Sakura sengit, bisa-bisanya Naruto menghubunginya lewat tengah malam.
"Cepatlah! Aku ingin meminta maaf kepadanya."dusta Naruto.
{Kau tidak mabukkan Naruto! berhentilah mengharapkan Shion,Naruto!}
"Jika kau tidak ingin memberitahukannnya aku akan mencari tahu sendiri" Naruto memutuskan sambungan secara sepihak.
Saat akan menghubungi seseorang, Smartphone Naruto menampilkan sebuah email.
From : Haruno Sakura
Subject: Jangan mengganggu jam tidurnya.
Message : Hyuuga Hinata. 713xxxxxxx
Seringai muncul di wajah Naruto. Kini tinggal memancing ikan saja. Naruto mengemudi dengan kecepatan penuh menuju rumah gadis itu. Beruntung dia mengantar Hinata waktu itu, dia tidak perlu repot-repot mencarinya.
Drrrttt…drrtttt….
Mendengar getaran Smartphonenya Hinata menghentikan belajarnya.
"Nomor tidak dikenal" baca Hinata pada layar Smartphonenya.
"Hallo… dengan Hyuuga Hinata" jawabnya ramah
{Hinata! Ini aku Namikaze Naruto, kau tidak perlu bingung, aku mendapatkan nomormu dari Sakura}
'Untuk apa Naruto menghubunginya jam segini. Hinata? Apa aku tidak salah dengar?'pikir Hinata.
"Ya-Ya Namikaze-san...?"
{Hinata, datanglah ke gerbang waktu itu, aku akan menunggumu sampai kau datang}
Sambungan diputus langsung oleh Naruto. Hinata bingung dengan ini semua, bagaimana jika Naruto tetap menunggunya. Tapi dia juga tidak mungkin keluar jam segini, bagaimana pun juga dia seorang gadis. Belum lagi Naruto yang menciumnya paksa, dia harus tetap waspada.
Hinata akhirnya memilih menemui Naruto. Ya, Naruto tidak akan melakukan hal jahatkan. Dengan menggunakan mantel tebalnya dia berjalan menemui Naruto. Saat ini keluarganya sedang berlibur dan baru akan kembali saat pagi hari. Seperti biasa, Hinata akan menolak dan memilih belajar dirumah.
Sesampainya di gerbang,Hinata langsung ditarik Naruto memasuki mobilnya. Aroma tubuh Naruto tercium alcohol, jangan bilang Naruto mabuk. Hinata berusaha untuk keluar dari mobil Naruto. Namun, semua sudah terlambat.
Naruto kembali menarik paksa Hinata memasuki sebuah gedung mewah. Dia menarik Hinata ke Apertemen miliknya.
Sesampainya di Apertemennya, Naruto menarik Hinata memasuki kamar miliknya. Naruto mendorong dan menindih tubuh Hinata diatas ranjang king size miliknya.
"Namikaze….apa yang kau lakukan, jangan aku mohon jangan!" isakan dan tangisan kini keluar dari bibir mungil Hinata.
Naruto tidak memedulikan tangisan Hinata dan tetap memberikan tanda di leher gadis itu. Awalnya dia hanya ingin mencicipi bibir Hinata sebentar dan menakutinya, lalu meninggalkan gadis itu. Akibat pengaruh alcohol dan wajah memohon Hinata membuat dia lepas kendali dan melakukan hal jahat kepada gadis itu.
Malam pertama bagi mereka berdua. Dan juga, malam terakhir Naruto melihat Hinata.
Setelah sadar sepenuhnya, Naruto sangat menyesal dengan perbuatannya. Dia ingin meninggalkan Hinata yang saat ini masih terlelap. Melihat wajah tenang Hinata, dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat Hinata terbangun tanpa Naruto disisinya, itu akan membuat Hinata lebih sedih, seolah Naruto menganggapnya wanita murahan.
"Maaf Hinata! Aku sangat menyesal"
Naruto membelai pipi Hinata dengan sayang, dan memeluk Hinata erat seolah Hinata akan pergi meninggalkannya. Hingga alam mimpi ikut membawanya dan tertidur dengan mendekap Hinata erat.
Sadar dari tidurnya, Hinata kembali menangis di pelukan Naruto. Penyesalan memang selalu datang terlambat, andai saja waktu bisa diputar. Dia pasti tidak akan menemui Naruto. Bagaimana dia akan menghadapi orangtuanya. Dan bagaimana jika sampai dia hamil dan Naruto tidak mau bertanggung jawab.
Mengabaikan sakit di bagian bawah tubuhnya, gadis yang kini menjadi wanita itu melepaskan pelukan Naruto. Setelah memakai kembali pakaiannya, dia berniat untuk meninggalkan Naruto. Saat melewati dapur Naruto, Hinata seolah di panggil oleh benda runcing dan tajam.
Naruto tersadar dengan Hinata yang tidak ada di pelukannya. Dia memakai celananya dan mencari Hinata. Saat melewati dapur, Naruto lega melihat Hinata yang meringkuk di dekat meja makannya.
"Hinata! Apa yang kau lakukan disitu?" panggil Naruto.
Tidak ada jawaban dari Hinata. Hinata masih tetap menunduk dan meringkuk, dan menyembunyikan sesuatu diantara kakinya.
"Apa yang kau sembunyikan Hinata? Hinata, kau baik-baik saja kan?" Naruto yang khawatir mencoba mendekati Hinata.
"JIKA KAU BERANI MENDEKAT LAGI, AKU AKAN MEMBUNUHMU NARUTO!" ancam Hinata mengarahkan sebuah pisau kearah Naruto.
"Lepaskan pisau itu Hinata. Mari kita bicarakan ini baik-baik." bujuk Naruto mencoba mendekat perlahan.
"Aku bilang jangan mendekat!" teriak Hinata, air mata juga mengalir deras dari mata indahnya.
Naruto berhasil mengambil pisau dari tangan Hinata dan melemparnya kesembarang arah. Dia menarik Hinata kedalam pelukannya dan mengucap maaf berulang kali.
Hinata menangis sejadi-jadinya di pelukan Naruto. Dia tidak menghiraukan kata maaf dari Naruto. Hinata kembali melihat pisau yang tidak jauh darinya dan berusaha menjangkaunya, saat dia berhasil menjangkaunya. Hinata mendorong Naruto dan menancapkan pisau itu tepat di paha kiri Naruto. Meninggalkan Naruto yang berteriak memanggilnya, Hinata keluar dari apertemen milik Naruto.
Hyuuga Mansion
"Hinata dari mana saja kau!" panggil Hiashi,yang duduk membaca Koran.
Hinata langsung berlari ke pelukan Tou-sama nya. Dia menangis di pangkuan Tou-sama nya. Hiashi yang kaget Hinata tiba-tiba berlari dan meletakkan kepalanya di pangkuannya hanya terdiam mengelus kepala Hinata.
"Hina-chan…. ada apa sayang!" Kaa-sama Hinata menghampiri Hinata dan ikut mengelus kepala gadis itu.
"Tou-sama….Kaa-sama…. ma-maafkan Hinata… maaf-maaf….!"
"Tou-sama…..Hinata mohon, biarkan Hinata pergi dari Konoha. Hinata janji akan melakukan semua yang Tou-sama inginkan. Tou-sama…! Tou-sama!" mohon Hinata sambil sesegukan.
Semua bingung dengan tingkah laku Hinata. Hiashi dan Mikoto memilih bungkam dengan pernyataan Hinata.
Sudah seminggu Hinata malas makan, dia juga mengurung diri di kamar seharian. Dan sudah seminggu surat dari sekolah datang kerumahnya.
Gadis itu akan terisak jika ditanyai sebab dia seperti ini. Tubuh dan wajahnya kini terlihat lemas dan pucat. Kedua orangtuanya yang tidak tega akhirnya memilih mengabulkan keinginan Hinata. Saat keinginannya dikabulkan, Hinata mulai makan dan keluar dari kamarnya. Untuk kesekolah dia masih menolak.
.
.
.
Seorang gadis melebarkan bola matanya. Benda persegi panjang yang digenggamnya seakan bom waktu yang akan meledak entah tahu kapan.
Benda persegi itu, menunjukkan dua garis merah. Dua garis merah…. Dia sangat paham dengan garis itu…
Hamil…. Satu kata yang menohok relung hatinya yang paling dalam.
"Ba-Bagaimana ini…. Apa yang harus ku lakukan?" tangis gadis itu pecah di ruangan persegi berwarna putih itu.
"Onee-sama….. Apa yang Nee-sama lakukan?" seorang gadis terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.
"Ha-Hanabi…." Ujar gadis itu gugup….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hana-chan….Jangan mengganggu Nee-san mu… kemarilah! Dan bantu Kaa-san menyiapkan makan siang!" panggil Kaa-sama mereka.
"Kaa-sama….Onee-sama…Onee-sama… sedang menonton televisi…!" Hanabi menanggapi dengan berlebihan.
"Biarkan Onee-san mu istirahat…!"
"Ta-Tapi-tapi…in-ini pertama kalinya Nee-sama menonton televisi!" ujar Hanabi terbata-bata.
"Hana-chan…. Kau berlebihan…. Aku kan hanya menonton televisi saja." jelas Hinata sambil cemberut.
"Kemarilah dan bantu Kaa-san!" Mikoto menarik Hanabi menuju dapur.
Jika Hinata tidak bertindak cepat membeli obat pencegah kehamilan waktu itu. Mungkin dia juga akan bernasib sama dengan gadis yang saat ini Hinata tonton.
.
.
Beberapa hari dirawat dirumah sakit,kini Naruto sudah diperbolehkan keluar. Naruto merahasiakan semuanya dari kedua orangtua dan sahabatnya.
Saat dia kembali kesekolah, dia selalu mencari dan menunggu Hinata. Hasil yang dia dapatkan pun nihil. Hinata masih tidak masuk kesekolah, dia memang berniat menemui Hinata. Namun… dia belum siap menghadapi kemungkinan terburuk.
.
Terlambat… Naruto terlambat menemui Hinata. Dia kini sadar dan ingat semua mengenai Hinata dulu dan janji mereka. Saat dia mencari Hinata ke rumah gadis itu. Hinata sudah…...
Yang lebih menyakitkan lagi… Hinata meninggalkan sebuah surat singkat untuknya. Surat yang membuat dia ingin mati seketika…. Dan saat dia ingin meminta penjelasan…. Hinata sudah pergi jauh meninggalkan Naruto.
From: Hyuuga Hinata
To: Namikaze Naruto
Naruto-kun…. Aku sudah menggugurkannya…...Maaf melakukannya tanpa persetujuanmu terlebih dahulu. Kau tidak perlu bertanggungjawab dan kau tenang sekarang.
Tidak hanya surat singkat di dalam amplop yang kirim untuk Naruto. Tapi juga sebuah benda persegi panjang dengan dua garis merah. Sebuah benda, bukti kejahatan Naruto.
T.B.C.
Maaf jika gantung….
Chapter selanjutnya saya akan menjelaskan keadaan Naruto saat ditinggal Hinata.
Balasan atas review dan saran dari semua yang membuat saya sangat senang dan terharu:
Hanazonori444: Sudah saya kurangi. Terima kasih banyak.
Lililala249 : ok. Terima kasih banyak.
Winda289 : kamu juga bingung ya. Anggap saja nama ibu mereka sama. Terima kasih banyak.
Narunata: Terima kasih banyak.
Akari: ok akan saya perbaiki. Terima kasih banyak.
Hime: ok akan saya ingat. Terima kasih banyak.
Uzumaki Isana, Megahinata, Oortaka, Name Alfan, Lulu-Chan, Ryani, Natachan, Anonym, Guest, Ana, Hikarishe, Kazuga Dragneel, Noor236, Maura Raira, Kurumi Keiko, ,Vi2NHL : Terima kasih banyak. Ini sudah update…
Windar nata swift : ditunggu aja. Terima kasih banyak.
Lavender No Mei: Terima kasih banyak. Saya akan mengingat.
Hinata Lover from TL: salam kenal juga. Terima kasih banyak.
Saya juga sangat berterima kasih dan terharu kepada (jilid 5):
Yui Harumi, Himechan642,Lovelylany, Neviayantisk, Rei Hana, Trii Cue, Choco Creamy, Naruhina Kudo 123, Agustriyant60, Rikardo. , Crzyfic, AAAllisWell.
Dan juga kepada stalker reader… Thank You very much...
Saya menerima kritik dan saran yang pedas, tapi tidak menggunakan kata-kata kasar.
Minna-san review Onegai…..
