Naruto Belong's To Masashi Kishimoto Sensei

Impossible To Run Away From Me

Original Story By Hinata Kuchiki Heartfilia

Rate- m

This fanfic not for adolescent even children

" Regret And Pain"

Chapter 7


Sebagai pembaca yang baik dan cerdas, ada baiknya anda mampu menyaring dan meneliti setiap kata maupun perbuatan buruk di fanfic ini. Baik itu bully bahkan perbuatan yang paling buruk.

Dan saya sebagai author, tidak pernah berniat membuat fanfic ini untuk ditiru bahkan dicontoh. Saya membuat fanfic ini hanya untuk hiburan semata dan bukan untuk ajang mencari keuntungan, tetapi sebagia media menyalurkan hobi baru saya. Dan dari fanfic yang saya buat, Saya berharap anda dapat mengerti bagaimana rasanya menjadi salah satu korban dari perbuatan jahat.

Saya harap anda mau mengambil kesimpulan dari setiap fanfic yang anda baca, demi kebaikan anda dan sekitar.

Oke…. Selesai dengan ceramahan sok hebat saya….

Bagaimana kabarnya minna-san….? Saya harap sehat semua, agar ada yang membaca fanfic ini. Ho…ho… ha….hiii….hi….hi…

Saya sudah update kilat kan? Tapi mungkin versi slow motion….

Kalau kata Ligtening Mcqueen…. Kaaaaacaawaaaawwwww 'slow motion'

Oke….oke… langsung saja…. Selamat membaca…..


Penyesalan…..

Apakah ada manusia di bumi ini yang mau merasakan dan menerima penyesalan?

Bahkan sebelum kita dapat mengerti apa itu kata penyesalan, kita berharap tidak akan pernah merasakannya. Menderita, sakit, putus asa suatu rasa yang benar-benar…..!

Tak satupun kata yang mampu menandingi penyesalan. Apakah waktu dapat di putar untuk menghindari penyesalan? Jika waktu dapat di putar, maka penyesalan tidak akan pernah ada di bumi. Bukankah penyesalan termasuk karunia yang di berikan Tuhan kepada kita? Agar kita menghargai dan tidak mensia-siakan apa yang telah diberikan pada kita.

Dan pertanyaan utamanya, siapkah kau merasakan penyesalan?

.

.

.

Sia-sia, menderita, sakit, putus asa, bingung, seakan kau sedang mimpi buruk bahkan saat membuka mata. Namikaze Naruto kini tau apa itu Penyesalan. Suatu kata yang menjungkir balikkan kehidupannya. Bahkan saat dia ingin memperbaiki dan mencari solusi, Jawabanya Sia-Sia…..!

Dia….!dia….!dia….!dia…..! seseorang penyebab Naruto merasakan hal ini telah pergi… ! pergi…! dan menambah penderitaannya.

Kebenaran pun seolah menambah penderitaannya…..

.

.

.


Beberapa hari setelah insiden.

Flashback for the day Hinata's gone.

Hyuuga Mansion

"Hina-chan! Dengarkan Kaa-san sayang, Kaa-san janji akan merahasiakan ini semua kepada Tou-san mu dan juga pada Hanabi. Ini akan menjadi rahasia kita berdua. Bisakah kau jujur pada Kaa-san apa yang terjadi denganmu?"

Sudah seminggu Hinata tidak keluar dari kamar,dan sudah berulang kali Kaa-sama nya membujuknya untuk menjelaskan semuanya. Dan jawaban gadis itu hanya…..

"Hu..hu..Kaa-sama…Kaa-sama…maaf…maaf….!"

Dan kembali, jawabannya tangisan dan isakan sambil meminta maaf. Semua cara telah digunakan Kaa-sama nya untuk membujuk gadis itu. Dan jika Kaa-sama nya meninggalkan kamar Hinata. Gadis itu akan menangis berjam-berjam, dan tubuh gadis itu sudah sangat lemah. Dia hanya makan sekali sehari dan sisanya menangis seharian.

"Anata…Aku tidak tahan dengan ini. Biarkan Hinata pergi anata, mungkin ini jalan terbaik agar dia bisa kembali ceria lagi!"

"Baiklah….! Jangan khawatir! Hinata bukan gadis lemah, dia putri kita yang kuat, mungkin ada alasan kuat yang membuat dia merahasiakan semuanya" Hiashi membawa istrinya ke dalam pelukannya yang saat ini menangis.

Hiashi pernah berniat membawa Hinata ke psikiater. Namun di urungkannya, dia yakin putrinya baik-baik saja, mungkin Hinata hanya tertekan. Dan keputusan yang tepat hanya menuruti kemauan gadis itu.

.

"Mengapa kau tidak ingin sekolah di Inggris Hinata? Kerabat kita banyak disana, dan mereka akan menjagamu disana!"

Saat ini keluarga Hinata sepakat akan mengirim Hinata melanjutkan sekolahnya di Inggris. Tapi tampaknya Hinata tidak setuju dengan rencana orangtuanya.

"Seluruh orang juga tahu bahwa Hyuuga akan melanjutkan sekolahnya disana Tou-sama! dan Hinata tidak ingin orang lain tahu dimana Hinata sekolah." jawab Hinata menunduk

Hiashi menoleh ke istrinya dan diberikan anggukan sebagai jawabannya.

"Baiklah! Kau bisa memilih dimana kau akan sekolah." ujar Hiashi menatap Hinata.

"Tou-sama…!Kaa-sama…!Tapi Hinata memiliki persyaratan lagi, maukah Tou-sama dan Kaa-sama menyetujuinya?." Hinata menatap serius kedua orangtuanya.

Dengan pertimbangan yang berat dan melihat kondisi Hinata, akhirnya kedua orangtua Hinata setuju dengan semua permintaan dan keinginan gadis itu.

.

Semua kebutuhan gadis itu telah dipenuhi orangtuanya, Hinata akan berangkat malam ini juga, sebagai salah satu syarat yang diberikannya. Pergi meninggalkan Konoha tanpa ada yang mengetahuinya.

Pantulan di cermin besar itu menampilkan tubuh Hinata dengan dress selutut berwarna putih dipadu dengan jaket kulit hitam dan boots berwarna senada, dia terlihat manis dan menawan.

Hinata hanya berdiri menatap pantulan dirinya dengan pandangan kosong. Dia memang Hyuuga Hinata, seorang gadis dengan harkat bartabat tinggi, yang sayangnya tidak dapat dijaganya dengan baik. Begitulah saat ini kata-kata itu berputar di otaknya.

Mengabaikan mengenai kejadian waktu itu sangat mustahil, mana ada yang mau diperlakukan sehina itu, tapi tidak hanya mengotori tubuhnya saja, Naruto seakan mengejek dan menginjak-injak harga dirinya lebih dalam lagi. Masih dengan tatapan kosong belia itu kembali menerawang masa tersuram dalam hidupnya.

Saat malam itu terjadi, seluruh tubuh dan hatinya sangat menderita. Tidak hanya karena perlakuan Naruto.

Ketika lelaki itu terbuai dalam mimpinya, lelaki itu memanggil nama Shion berulang kali, dia bahkan menangis dan mengatakan menyesal telah melepaskan Shion. Mendengar itu membuat Hinata sangat terluka, bahkan dalam mimpi pun lelaki itu memanggil dan menangisi Shion yang mengkhianatinya. Padahal waktu itu Hinata masih berada dipelukan lelaki itu.

Perlakuan kasarnya yang melukai kaki Naruto dan meninggalkan lelaki itu meskipun lelaki itu meneriaki namanya adalah sebuah kebenaran menurutnya. Meminta maaf…! Setelah melakukan itu? Ayolah dia bukan Kami-sama yang mudah memaafkan seseorang, dia hanya manusia. Benar-benar manusia biasa.

Air mata kembali mengalir dari wajah pucatnya, lingkaran hitam pekat bahkan sudah mengelilingi sekitar matanya. Dia ingat jelas bagaimana perjuanganya membeli obat pencegah kehamilan itu, mengabaikan rasa sakit tubuh bagian bawahnya dia tetap berjalan. Pandangan orang-orang yang berlalu lalang pun seolah lebih membuat dia menderita. Bagaimana tidak, penampilan berantakannya juga cara berjalannya yang pincang, mereka pasti menganggap Hinata salah satu korban pelecehan. Dan ya! Dia memang korban saat ini.

Berjam-jam gadis itu menangis di taman kota dekat komplek rumahnya, dia takut, sangat takut! Bagaimana orangtuanya jika sampai mendengar kemalangan gadis itu. Menghela nafas panjang, dia memutuskan untuk manghadapi orangtuanya dan menutup rapat masalah yang terjadi dengannya.

"Sayang…! Kau sudah siap untuk berangkat?" lamunan gadis itu terhenti saat mendengar panggilan Kaa-samanya yang datang menghampirinya, dengan cepat dia menghapus jejak airmata di pipi pucatnya.

"Putri Kaa-san memang sangat cantik." Ujar wanita itu mengelus wajah Hinata.

"Kaa-sama! Kaa-sama….!Gomenna!"

"Nanni! Ada apa sayang?"

"Gomen! Hontou ni gomennasai Kaa-sama." tangis gadis itu pecah dihadapan wanita cantik itu.

"Daijoubu…. Kaa-san baik-baik saja, kau hanya perlu focus belajar dan selalu sehat disana. Kami semua akan baik-baik saja." Kaa-sama Hinata ikut menangis, tangannya menghapus airmata di wajah Hinata dengan sayang.

Kata-kata Kaa-sama Hinata bertolak belakang dengan keadaannya, wajah Kaa-sama Hinata juga sembap dan lingkaran hitam juga mengelilingi sekitar matanya. Hinata tahu selama ini Kaa-sama nya juga ikut sedih melihatnya. Kaa-sama nya juga ikut tidak tidur dan akan makan jika Hinata makan. Hah…. Ibu…. Tidak ada yang dapat mengukur kasih sayang seorang Ibu.

"Kaa-sama! Onee-sama cepatlah! Tou-sama sudah lama menunggu, mau sampai kapan kalian akan berdrama ria disini?!" sedari tadi gadis kecil itu mendengar pembicaraan kedua wanita itu, tidak tahan dengan tangisan keduanya akhirnya dia datang menghentikannya.

"Hana-chan! Tolong jaga Kaa-sama dan Tou-sama ya! Nee-san janji akan memberikan hadiah untukmu setiap bulan, maka dari itu-"

"Nee-sama…!" Hanabi berhambur kepelukan Hinata, dia menangis memeluk Hinata. Dia juga sedih dengan kepergian Hinata yang mendadak, selama ini dia juga menangis melihat Nee-san nya, dia hanya akan menangis di kamar dengan diam.

"Janji! Nee-sama harus janji membelikan ku hadiah setiap bulannya. Jika tidak, aku akan sangat marah!"

Kini mereka bertiga yang berdrama ria, menangis dan saling berpelukan meluapkan rasa sayang, dan merelakan kepergian Hinata.

Tidak ada kata-kata lebih dari Tou-sama nya, pria itu hanya mengelus kepala Hinata dan mengucapkan menjaga diri dengan baik. Mereka mengantar kepergian gadis itu di bandara Konoha. Jam yang menunjukkan pukul 02.45 membuat hanya sedikit orang yang berada di dalam gedung itu. Selepas kepergian Hinata, kedua wanita kembali menangis, sedangkan pria itu hanya diam merangkul kedua wanita itu, raut wajahnya yang tegas tidak dapat menutupi kesedihannya di wajahnya.

.

.

.

Penthouse milik Naruto

"Hah…hah…Maaf….!maaf…..!Hinataa….!"

Naruto kembali terbangun di tengah malam, keringat mengalir deras dari wajah tampannya, mata biru cerahnya sedikit redup. Kaos hitam yang dikenakannya melekat sempurna oleh keringat dan membuat otot-otot nya tercetak jelas.

Merasa tenggorokannya kering, Naruto berjalan menuju lemari es nya, dan meneguk air es itu dengan cepat.

Mimpi buruk, dia kembali mimpi buruk. Dan sialnya mimpinya selalu sama. Dia akan melihat Hinata menangis dan menatapnya marah, dan saat dia berlari menjangkau gadis itu, dia seakan berlari ditempat dan tak bisa menjangkaunya. Dan ketika dia meneriaki nama Hinata, gadis itu akan tersenyum sambil menangis dan berlalu meninggalkan Naruto.

"Sial-sial, mau sampai kapan kau jadi pecundang Naruto!"

Setelah mimpi buruk, Naruto tidak akan bisa tidur, dia akan menenangkan diri nya di bawah guyuran air dingin dan membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandinya. Dia juga akan menangis dan mengucap maaf berulang kali. Namun sayang, permintaan maafnya tidak akan pernah di dengar oleh Hinata.

.

.

.

Konoha International Senior High School.

"Kau mau kemana Naruto! Setidaknya makanlah terlebih dahulu! Woi…Naruto!" mengabaikan panggilan Sasuke, Naruto tetap berjalan meninggalkan kelas.

"Biarkan Sasuke. Jika kau menghalanginya, dia akan marah dan berakhir mengacak-acak kelas. Kau mau itu terjadi?." tegur Shikamaru.

"Ini aneh! Beberapa hari dia tidak datang, setelah dia kembali sekolah, Naruto akan menunggu Hinata dan mengunjungi kelas Hinata saat istirahat. Dan kenapa Hinata tidak pernah sekolah lagi, tingkah Naruto juga menjadi pemarah dan pendiam, Naruto juga mengabaikan kesehatannya dan setiap malam dia akan pergi untuk minum. Bagaimana menurut kalian?" dengan senyumnya Sai mengeluarkan semua pendapatnya.

Mendengar penjelasan Sai, sahabat Naruto hanya menoleh dan melirik satu sama lain dan larut dalam pikiran masing-masing.

"Sakura! Kau tidak menyembunyikan apa pun kan?"

"Ap-apa maksudmu Sasuke-kun? Bukankah sudah kubilang Naruto hanya meminta nomor Hinata malam itu. Aku tidak menyembunyikan apa-apa pun!" nada suara Sakura mengecil saat melihat tatapan tajam Sasuke.

"Sudahlah, kalian berdua juga tidak perlu berkelahi. Sekarang tugas kita untuk mencari tahu sebab ini semua. Dan ini tugas utama mu Sasuke, kau yang paling dekat dengannya." Gaara ikut bicara.

"Aku tahu, sebelum kau mengingatkan ku, aku sudah bertanya. Tanpa bertanya sekalipun, biasanya Naruto langsung cerita semua. Tapi…!" Sasuke menghentikan perkataannya dan menoleh ke semua sahabatnya. "Jangankan bercerita, saat aku bertanya dia akan marah dan mengusir ku sambil mengatakan ini bukan uransan mu." Tangan Sasuke mengepal di sela-sela perkataanya.

Dia dan Naruto dibesarkan di lingkungan yang sama. Meskipun waktu itu Naruto pergi ke Amerika, itu tidak memutuskan persahabatan mereka. Mereka akan tetap berkomunikasi dan bercerita satu sama lain. Naruto memang orang yang paling terbuka, dan dia akan berada di samping Sasuke untuk membantu menyelesaikan masalah Sasuke. Tapi kini, Naruto menolak Sasuke berada di sampingnya dan menyembunyikan semua masalahnya. Naruto seakan tidak butuh bantuannya dan menganggap semua persahabatan mereka seperti angin lalu saja. Dan Sasuke benci hal itu.

.

Naruto menunggu tepat di depan pintu kelas Hinata. Dia akan berlari kencang agar bisa menemui Hinata, bahkan sensei Hinata terkadang bingung bagaimana Naruto bisa berada di depan pintu. Bel istirahat saja baru berbunyi sebentar, apa Naruto membolos? Ketika di tanya, Naruto menjawab tidak.

"Ah…! Namikaze-kun, kau ingin menemui Hinata lagi kan! Dia masih belum datang, ini sudah dua belas hari dia tidak masuk. Jika kau mengetahui alasannya, tolong sampaikan secepatnya." Hinata terkenal dengan kerajinanya bersekolah, gadis itu selalu hadir. Dan ini hampir dua minggu Hinata tidak hadir. Surat panggilan selama ini pun tidak membuat Hinata sekolah.

Naruto hanya mengaguk dan memasuki kelas Hinata. Dan benar, bangku gadis itu masih kosong. Kini dia rindu dengan wajah polos dan lugu gadis itu.

"Senpai!" panggilan salah satu teman Hinata membuat Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Hyuuga-san, tapi… maukah senpai menemuinya kerumahnya? Kami pernah mengunjunginya, namun Hyuuga-san menolak bertemu dengan kami. Mungkin jika senpai menemui Hinata, itu dapat membuat dia kembali sekolah"

Naruto tersenyum kecut. Dia memang pernah berpikir ingin mengunjungi Hinata, dia hanya masih terlalu takut untuk menemui Hinata. Dia takut akan berurusan dengan orangtua Hinata. Bagaimana pun dia masih remaja, dan dia belum siap berurusan dengan masalah besar.

"Aku paham, jika suatu saat dia menghubungimu, bisakah kau memberitahu ku?!" nada bicara Naruto sarat akan keputusasaan.

Dengan gontai Naruto berjalan di lorong kelas, tubuhnya terlihat lebih kurus. Kulit tan nya yang selama ini cerah pun terlihat pucat, dan terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya. Saat akan melewati ruang para sensei, pendengarannya menangkap nama gadis yang di tunggunya. Dia mencari asalnya, pandangannya tertuju kepada Kurenai-sensei dan seorang pria berambut panjang. Kalau tidak salah, lelaki dengan rambut panjang biasanya dari klan Hyuuga.

"Bagaimana bisa? Ini sangat mendadak tuan, sebentar lagi Hinata akan mengikuti lomba tahunan!" Raut wajah Kurenai sangat kaget dan cemas.

"Saya paham. Saya hanya menyampaikan pesan dari Hiashi-sama selaku Tou-san Hinata-sama." jelas pria itu.

"Apa anda mengetahui alasan Hinata pindah mendadak?" tanya Kurenai

"Maaf, itu bukan wewenang saya, saya hanya di beri tugas untuk menyampaikan bahwa nona saya tidak bersekolah di sini lagi." terang pria itu kembali.

Tubuh Naruto bergetar dengan ucapan pria itu, segitu kejamnyakah dia sampai membuat gadis lugu seperti Hinata meninggalkan sekolah ini. Dan bagaimana dengannya? Apa dia harus menjadi pecundang dan orang terbrengsek di dunia?

Naruto berjalan menelusuri lorong kelas dengan berlari menuju kelasnya.

Bruuk…

Naruto mendudukkan diri dengan kasar dibangkunya, semua kaget dengan perlakuan Naruto, belum lagi dengan tingkah Naruto.

"Hufftt…hu..hah..ha..ha…" tawa Naruto terdengar mengerikan, dia tertawa keras seperti meledek, bahkan tatapannya dingin dan kosong.

"Bodoh…bodoh…kau pecundang Naruto…pecundang!"

Naruto tertawa dan meneriaki dirinya bodoh, dia juga membenturkan kepalanya ke meja berulang kali dan menjambak surai kuningnya.

"Naruto! Adaa apa denganmu!" teriak Sasuke berlari menghentikan aksi gila Naruto. Namun, saat Sasuke menarik paksa kerah baju Naruto. Dia langsung tersungkur ke lantai dengan darah mengalir dari sudut bibirnya, Naruto meninju rahang lelaki itu keras.

"Aku bilang ini bukan urusanmuu….!" Teriak Naruto.

Sasuke kembali berdiri sambil menyeka bibirnya.

"Haah? Ini bukan urusan ku kau bilang? Sadarlah kau brengsek!" teriak Sasuke dan langsung membalas Naruto.

Bugh..brukk…bugh…brukkk…..

Perkelahian antar keduanya kini tak terelakkan lagi, bangku dan meja yang terlihat rapi kini berantakan. Mereka seakan tidak peduli dengan teriakan para gadis dan tetap melanjutkan perkelahian mereka.

Buagghhh…

"AKU BILANG INI BUKAN URUSANMU SASUKE!" teriak Naruto menendang tepat di perut Sasuke.

Arrghh…

Tidak terima dengan perlakuan Naruto, Sasuke memukul tulang kering Naruto. Dan membuat Naruto terjatuh, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sasuke langsung menghajar Naruto. Perkelahian keduanya berlanjut dengan saling memukul di lantai.

"Sialll! Apa yang kalian lakukan idiot!" maki Shikamaru. "Cepat lerai mereka!"

Shikamaru kaget dengan pandangan yang dilihatnya, kelasnya terlihat berantakan. Para gadis pun teriak dan menangis histeris ketakutan, sementara yang lain tidak berani mendekati mereka. Namun, yang paling membuatnya lebih terkejut adalah Naruto dan Sasuke yang saling memukul di lantai. Di ikuti oleh Gaara, Sai, Lee dan Kiba yang kaget ikut berlari melerai perkelahian sahabat semati itu.

"Hentikan kalian berdua!" tarik Shikamaru dan Gaara memegang Naruto.

Sementara Sasuke dipegang Lee dan Kiba. Dan Sai menahan kedua tubuh mereka dari depan.

"Apa kalian ingin di keluarkan, hah?" ujar Sai marah.

"Tanyakan pada si idiott itu…. Dia tiba-tiba mengamuk!" maki Sasuke

"Sudah kubilang ini bukan urusan kalian!"

"Diamlah Naruto! kami semua mengkhawatirkanmu, apa kau sadar dengan perbuatanmu" ungkap Gaara.

"Saudara kau bilang?! Kenapa saat kau butuh bantuan ku, kau menghindar bodoh!?" habis sudah kesabaran Sasuke, bagaimana pun dia sayang dengan Naruto. Rasa sayang persaudaraan.

"Tapi saat ini aku tidak butuh bantuan kalian semua. Aku akan mengatakannya, jika aku butuh." Naruto mengecilkan nada suaranya. Dia menyesal membuat sahabatnya khawatir, tapi ini masalahnya dan dia belum siap untuk jujur. Mungkin nanti dia akan jujur.

"Sekarang lepaskan tangan kalian!" desis Naruto.

"Tidak sebelum kau menjelaskan semuanya! Kami akan membantumu Naruto" mohon Gaara, yang diberikan anggukan yang lain.

Amarah Naruto kembali memuncak, dia benar-benar jengkel dengan sikap mau tahu sahabatnya. Dan kembali menghajar mereka semua. Tidak ada yang bisa menghentikan Naruto, mereka berlima kini ikut babak belur bersama Sasuke.

"Ah…ini benar-benar sakit, bukan begitu Sasuke~!?" Sai tersenyum memegangi wajahnya sambil menatap Sasuke. Sementara, Sasuke hanya mendengus marah.

"Apa yang terjadi dengannya?!" Gaara mencoba berdiri sambil memegang perutnya.

"Dasar! Dia serius menghajar kita, kau baik-baik saja Kiba?" dengan tertatih Lee mendekati Kiba yang masih tertidur dilantai.

"Ah….seharusnya aku menolak ajakan kalian masuk kelas, jika saja aku menolak mungkin sekarang aku akan mendapatkan nomor kouhai manis itu dan tidak berakhir mengenaskan." adu Kiba menyesal.

"Sialan kau Sasuke! Sudah kubilang jangan mengganggu Naruto. Lihat hasil perbuatanmu." Shikamaru menatap bosan Sasuke sambil memegang wajahnya.

"Diamlah Nara! Kau tahu wajah tertekan Naruto membuat ku muak." ujar Sasuke mencoba bangkit.

"Ya, terimakasih atas pemberitahuannya Uchiha, tapi kau tahu Naruto tidak pernah meninggalkan kita dan jika sampai dia seperti ini, pasti ada alasannya. Karena ketidaksabaranmu itu, mungkin dia tidak akan pernah cerita."

"Cihh….terserah!"

Semua tahu bahwa Naruto orang yang paling terbuka diantara mereka semua. Mereka memang khawatir dengan Naruto. Dan menunggu waktu yang tepat saja, karena merasa diabaikan Naruto, si bungsu Uchiha merasa jengkel, dasar kekanak-kanakan.

.

Mobil Naruto melaju cepat menuju rumah Hinata, dia butuh penjelasan. Dengan bertanya dengan penjaga gerbang perumahan mewah itu, Naruto berhasil mendapatkan alamat Hinata.

Mobilnya berjalan pelan, dia meneliti setiap rumah, dia harus mencari rumah dengan pagar tinggi dan ketemu…..

Sebuah pagar besi menjulang tinggi di hadapan Naruto, di bagian kiri pintu pagar itu terdapat ukiran dari keramik bertuliskan marga milik Hinata.

Naruto memandang pagar itu lama, dia seperti pernah melihat pagar rumah Hinata, tapi dimana? Apa dia pernah kerumah ini sebelumnya? Atau ini hanya perasaannya saja?

Akh…

Naruto tiba-tiba meringis, dia baru ingat dia belum mengobati luka di tubuhnya. Memutuskan untuk kembali nanti, dia pergi meninggalkan rumah Hinata.

Naruto kembali mengunjungi rumah Hinata, mobil hitam metalik miliknya hanya terpakir di sekitar pagar rumah Hinata. Dia ingin masuk dan langsung mengunjungi Hinata. Namun, dia tidak mungkin langsung menemui Hinata seperti itu. Bagaimana jika Hinata tiba-tiba histeris dan semakin menjauhinya.

Malam kini menampakkan dirinya. Pagar-pagar tinggi milik tetangga Hinata dan hanya mobil yang lalu lalang membuat komplek perumahan itu terlihat sepi. Memang tidak heran, ini adalah rumah untuk kalangan orang kaya, mana mungkin ada orang yang pulang dengan jalan kaki atau menaiki bus.

Tidak menyerah dengan usahanya, Naruto menunggu hingga malam di dalam mobilnya sambil mengamati pintu pagar Hinata. Dia berpikir Hinata akan keluar, dia hanya ingin memastikan keadaan Hinata. Dan jika keadaannya memungkinkan, dia akan menemui Hinata dan meminta maaf. Dan mungkin akan….. dia masih ragu dengan pemikiran di otaknya.

HINATAA….!

Dengan nafas tersengal-sengal, Naruto memperbaiki cara duduknya. Menghela nafas panjang Naruto mengusap kasar wajahnya, dia kembali mimpi buruk. Melirik jam tangannya, Naruto berucap sebal. Jika sampai terlambat sekolah dia bisa kena masalah karena melewatkan tes oleh sensei galak itu.

Matanya menatap pintu pagar, dia menunggu Hinata keluar namun sampai jam tiga pagi, tidak ada tanda-tanda Hinata. Dia hanya melihat mobil masuk dan keluar. Karena lama menunggu ia tertidur dan kembali bangun dengan mimpi buruk.

"Aku akan kembali lagi Hinata….!"Naruto berharap dapat menemui Hinata, dan meluapkan semua rasa rindunya.

.

Berjalan santai, lelaki bersurai kuning itu mengabaikan tatapan aneh yang melihatnya. Beruntung dia langsung mengenakan earphone nya, sehingga dia tidak perlu mendengar oecehan yang tidak perlu. Sesampainya di dalam kelas, dia kembali di tatap aneh, beberapa mencoba berbisik, beberapa menatapnya takut. Dan sisanya jengkel luar biasa.

"Ohayou….minna-san!" sapa Naruto dengan cengiran lebar khas miliknya.

"Diam kau bodoh! Bisa-bisanya kau santai, kau tidak lihat wajah tampan ku babak belur seperti ini,huh!" dengus Kiba menanggapi Naruto.

"Naruto-kun~" Naruto merinding mendengar panggilan Sai. "Semalam benar-benar sakit, aku sulit sekali mengunyah dan berakhir memakan bubur menjijikan itu. Jika kau melakukannya lagi, aku tidak segan-segan membuat mu menjadi bahan untuk lukisan ku!."masih dengan senyuman mengerikannya Sai berujar ceria.

"Kau benar-benar kuat Naruto, aku merasakan semangat masa muda milik mu semalam!" dengan mengacungkan ibu jarinya, Lee memberi pujian dan kemudian meringis, dia lupa bahunya masih lebam.

Sementara Gaara dan Shikamaru hanya menatap diam dan datar. Mereka takjub dengan kepribadian para sahabatnya.

Srrek… suara pintu bergeser terdengar nyaring, sepertinya sang pendatang dalam mood buruk.

Dan benar saja, Sasuke datang dengan wajah dingin ditekuk. Dia memaksa siswa yang duduk di sebelah Naruto untuk bertukar tempat. Dia bahkan mengabaikan wajah marah Sakura. Saat akan duduk, dia menatap marah wajah Naruto yang ikut menatapnya dengan cengiran lebarnya.

Kesal…kini urat kekesalan terlihat jelas diwajah Sasuke, dengan cepat dia berdiri dan menendang meja milik Naruto.

"Ah… Sasuke-chan kasar sekali!"

"Diam kau dobe! Bisa-bisanya kau santai dengan ini semua. Apa kau tahu aku sangat mencemaskanmu!"

… hening….. dan …..

Bwaha…ha….ha….

Semua yang ada di kelas itu tertawa lebar. Bagaimana tidak, Sasuke yang terkenal dengan sebutan ICE Prince, dengan lugu nya menyampaikan perasaannya di muka umum. Sepertinya dia kelepasan.

"Diam kalian semua, atau kalian ingin mati di tanganku!" Sasuke menekan setiap kata-katanya.

Mereka memang berhenti tertawa. Namun, mereka tidak takut dengan ancaman Sasuke. Dan memilih menyembunyikan tawa mereka dengan cara mereka.

"Ini semua karena ulahmu Naruto."

"Aku mengerti, tapi aku tidak akan meminta bantuan kalian sekarang. Jika aku butuh, aku akan mencari kalian." Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh sahabatnya.

Dan di balas dengusan dan tawa mengejek dari mereka.

Ya, terkadang lelaki suka menyelesaikan masalah dengan saling memukul. Dan author juga bingung dengan itu. Author seorang gadis, jadi maklum.

.

.

.

Kembali…. Naruto kembali mengunjungi rumah Hinata. Dan hasilnya pun sama, gadis itu tidak pernah terlihat keluar dari depan pintu pagar itu. Dia hanya melihat gadis kecil yang diyakininya adik perempuan Hinata. Dan sepasang suami istri yang seumuran dengan orangtuanya yang sepertinya adalah orangtua Hinata. Ini sudah seminggu dia menunggu Hinata.

Tap….tap….tap….

Seorang lelaki sibuk dengan pikirannya sendiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan mewah itu. Dia sudah menetapkan pilihannya, dia akan menemui Hinata langsung kerumah gadis itu. Apa pun perlakuan gadis itu akan dia terima, dia tidak ingin tersiksa lebih dalam lagi dan setiap hari bangun dengan mimpi buruk.

Menatap dirinya di cermin besar, Naruto puas dengan penampilannya. Kemeja biru miliknya digulung setengah di padu dengan rompi hitam dan celana jeans hitam . Surai kuningnya hanya ditata seadanya. Sebagai pelengkap Naruto mengenakan jam rolex hitamnya. Dan sepatu kets miliknya.

Tin…tin…tin…. Naruto tiba saat petang hari di kediaman Hinata, seharusnya dia bisa datang di siang hari. Namun karena gugup dia berakhir dengan berganti pakaian berulang kali, karena keringat yang mengucur deras.

"Ada yang bisa saya bant-. Ah… bukankah anda putra Minato-sama?" saat meminta izin memasuki rumah Hinata, Naruto bingung… bagaimana bisa penjaga pintu itu mengetahui dia dan Tou-san nya?. Sementara ini pertama kali dia berkunjung.

"Silahkan masuk tuan muda!" Naruto memarkirkan mobilnya dan memberikan kunci kepada salah satu pria berseragam hitam. Dan kembali merasa pernah melihat taman ini dan mengalami kejadian ini sebelumnya. Ini De ja vu…..

"Selamat datang tuan muda! Saya senang anda datang berkunjung, nona Hinata pasti sangat senang jika mendengar ini." Seorang wanita tua datang menghampiri Naruto,degup jantung Naruto berdetak cepat mendengar Hinata akan senang jika dia berkunjung. Namun Naruto merasa aneh dengan senyum wanita tua itu menghilang diganti dengan wajah murung dan sedih.

"Silahkan masuk, tuan dan nyonya sudah menunggu anda. Dan nona muda juga sangat senang dengan kedatangan anda"

Deg…deg….deg…..

Naruto menarik nafas dalam untuk menetralkan pernafasannya, bagaimana dia harus bereaksi menghadapi Hinata, belum lagi seluruh keluarga gadis itu disini. Naruto merinding melihat pajangan beberapa samurai milik keluarga Hinata. Bagaimana jika Tou-san nya marah dan menebas lehernya… Naruto menggelengkan kepalanya cepat dan menghapus memori menakutkan itu.

Sepanjang jalan Naruto tak henti-hentinya takjub dengan rumah Hinata. Mansion milik Hinata memang mansion terbesar di komplek ini, tidak salah juga isinya benar-benar mewah. Naruto seakan memasuki istana Jepang tempo dulu.

"Tuan muda!" panggil wanita tua itu membuyarkan lamunan Naruto. "Apakah anda ingat dengan taman ini?" tunjuk wanita itu kesebuah taman luas yang dipenuhi bunga cantik.

"Oh-oh..… taman bunga itu!" gugup Naruto, bagaimana dia bisa ingat. Ini pertama kalinya dia datang bukan.?

Mata Naruto memicing melihat taman bunga itu, memori otaknya mulai berputar dan mengingat sedikit demi sedikit.

Penglihatan Naruto menampilkan bayangan buram.

"Naruto-kun….! Aku ingin melihat Hana-chan!"

"Sebentar Hinata…."

"Berjanjilah…!"

"Aku janji….!"

Naruto tersentak dengan apa yang dilihatnya, itu adalah dirinya waktu kecil dan apa maksud dengan dia memanggil gadis rambut pendek itu dengan sebutan Hinata? Dan siapa Hana-chan? Janji apa yang mereka katakan?

"Tuan muda…! Tuan muda anda baik-baik saja!" wanita tua itu memangil membuyarkan lamunan Naruto.

"Gomennasai! Saya hanya sedang berpikir, siapa itu Hana-chan?" selidik Naruto.

"Oh! Maksud anda nona Hanabi. Nona Hanabi adalah adik kecil nona Hinata dan Hana-chan adalah panggilan sayang Mikoto-sama dan Ojou-sama. Wajar anda lupa, waktu itu anda datang berkunjung untuk melihat kelahiran nona Hanabi, usia anda membuat anda cepat melupakannya. Saya paham!" ucapan terakhir wanita itu membuat Naruto sedikit kesal, entah apa dia merasa seperti orang bodoh dengan ucapan itu.

Mereka kembali melanjutkan perjalan. Dan kembali Naruto seakan melihat bayangan mengenai dia dan gadis itu berlari dan tertawa bersama di lorong ini.

"Saya ingat anda dulu dan nona Hinata berlari di setiap lorong sambil tertawa. Ah saya jadi merindukannya."

Apa ini….!? Siapa yang dirindukkan disini, kenapa dia seakan bermain teka-teki.

"Kita telah sampai tuan muda! Hiashi-sama, Mikoto-sama…. tuan muda sudah berada disini." Wanita tua itu membukakan pintu dan meminta izin.

"Terima kasih Minorin-san, tolong siapkan teh untuk Naruto!."

Minorin hanya menunduk dan berlalu pergi.

"Kemarilah Naruto-kun, silahkan duduk!" ujar wanita cantik itu dengan sopan. Naruto yakin dia adalah Kaa-san Hinata.

Kaa-san Hinata tidak seorang diri, dia bisa melihat pria paruh baya itu menatapnya serius. Dan seorang gadis kecil yang tersenyum lebar untuknya, dan di balas senyum oleh Naruto.

"Anoo… etto… Gomennasai saya adalah Namikaze Naruto. Saya datang untuk menemui Hyuuga-san, ma-maksud saya Hinata." degup jantung Naruto semakin berdetak kencang.

"Jangan seformal itu Naruto. Kami sahabat orangtua mu, dan kau juga berarti putra kami." mendengar itu membuat Naruto sedikit lega.

"Ne…Ne…! Naruto-nii…. Apakah kau ingat denganku?" tanya gadis itu antusias.

Kedua orang dewasa itu hanya menggeleng dengan senyum tipis. Mendengar Naruto akan datang, Hanabi senang sekali dan tidak sabar menemui Naruto.

"Hanabi… kau Hanabi kan." jawab Naruto berpura-pura kenal, lalu dibalas anggukan riang gadis itu.

Jika saja mereka tahu mengenai perbuatan Naruto kepada Hinata, entah apa yang akan terjadi padanya. Hinata benar-benar gadis baik.

Perbincangan antara mereka bertiga memakan waktu panjang, suasana disekitar mereka juga tegang. Hanabi hanya diam dan mendengar semua perkataan orangtuanya dengan mangkuk besar berisi es krim di tangannya.

Mereka menjelaskan semua kepada Naruto, Kaa-sama Hinata bahkan menangis sesegukan menjelaskan mengenai Hinata yang tertekan dan menangis setiap hari. Naruto yang mendengar itu semua menunduk diam mengepalkan tangan.

Seperti tersambar petir, penjelasan yang diberi Tou-sama Hinata membuat Naruto mematung seketika.

"Hinata memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke luar Negeri. Dia tidak ingin orang tahu dia berada dimana sekarang." jelas Hiashi

"Bisakah Oji-san memberitahukan dimana Hinata saat ini?!" pinta Naruto.

"Aku tidak tahu alasan yang pasti Naruto. Jika sampai kami mengatakan dimana keberadaan Hinata. Gadis itu berkata tidak akan pernah kembali. Dan ini salah satu syarat yang diberikan Hinata."

"Syarat apa maksud Ji-san?"

"Sebelum keberangkatannya Hinata mengajukan beberapa syarat, diantaranya tidak memberitahukan kepada siapa pun mengenai keberadaanya."

"Dan kenapa Oji-san dan Oba-san memberitahukan ini semua kepadaku?" tanya Naruto menatap sepasang suami istri itu.

Hiashi yang duduk disebelah istrinya menatap lurus Naruto.

"Hinata hanya memberitahu kau akan datang kemari. Dia ingin kami memberitahu mengenai keadaannya. Lalu dia meminta kau masuk ke kamarnya."

"Maksud Ji-san, Hinata memberitahu bahwa aku akan datang dan apa Hinata memberi tahu alasannya? Apakah ada hal yang disampaikan Hinata, mengapa dia tertekan dan menangis?" selidik Naruto. Jika bisa jujur, dia ingin mati saja, dengan sabar dia menunggu jawaban pria itu.

"Tidak!" lega…Naruto sedikit lega. "Kami tidak diberitahu alasannya, kami pun bingung saat Hinata mengatakan kau akan datang. Dan saat kami menanyakan alasan kau datang, Hinata hanya diam. Dan dia menyuruh kami berjanji untuk tidak menanyakan apa pun untukmu. Pergilah kekamar Hinata, Naruto! Mungkin Hinata meninggalkan penjelasan untukmu." Sambung Hiashi.

Bingung…!Naruto bingung apa yang terjadi disini.

Saat memasuki ruang itu, tepatnya Kamar Pribadi milik Hinata, penciuman nya disapa aroma lavender yang menenangkan. Kamar dengan nuansa ungu muda dan putih menjadi wallpaper kamar itu. Beberapa sisi terlihat kosong yang menandakan kamar ini sudah tidak di huni lagi. Kamar dengan tempar tidur queen size dan perabotan cantik itu, seakan menunjukkan jati diri si pemilik kamar sebagai gadis telaten dan anggun.

Senyum Naruto mengembang melihat pigura besar Hinata dengan Kimono merah muda dengan bunga lavender dan kupu-kupu sebagai hiasan, sedangkan surai kelam gadis itu digulung kebelangkang, dia seperti seorang Hime-sama. Photo ketika dia melihat festival Hanabi Konoha.

"Aku baru tahu kau sangat cantik dengan Kimono Hinata." Naruto masih setia meneliti wajah senyum Hinata.

Pandangan Naruto beralih kepada rak besar buku-buku Hinata, beberapa photo Hinata yang menggenggam penghargaan. Dan…

Mata Naruto membesar menatap benda persegi itu.

"A-Apa ini? Ba-bagaimana bisa wajah ku ada disini?. Siapa gadis itu?"dengan tergesa-gesa Naruto menghampiri meja rias Hinata dan mengangkat benda itu dan membalikkan dengan cepat.

Namikaze Naruto and Hyuuga Hinata. Sebuah nama yang ditulis tangan, tulisan tangan milik anak-anak.

Di Photo itu Naruto tersenyum lebar dengan menggenggam tangan gadis kecil itu, sementara gadis kecil itu ikut tersenyum menggenggam beberapa tangkai bunga Lavender.

"Naruto-nii!" salah seorang datang menghampiri Naruto yang berdiri mematung.

"Oh…Ha-Hanabi ada apa!?" Naruto meletakkan Photo itu kembali ke meja. "Apa ada yang bisa kubantu?"lanjut Naruto.

"Tidak, hanya saja banyak yang ingin kubicarakan dengan mu. Tapi, aku sudah janji kepada Nee-sama tidak akan bertanya kepada mu. Tapi bisakah kau menjawab satu pertanyaan ku?" tanya gadis itu.

"Ya!"

"Kenapa Naruto-nii tidak pernah mengunjungi kami lagi? Oba-sama dan Oji-sama mengatakan Nii-san selalu sibuk. Maaf aku tidak akan bertanya lagi, dan Nii-san tidak perlu menjawabnya. Apa Naruto-nii melihat kotak itu." tunjuk Hanabi pada sebuah kotak terbuat dari aluminium.

Kushina dan Minato sering datang berkunjung dan terkadang keluarga Hinata yang berkunjung menemui Kushina dan Minato. Dan selalu, mereka tidak dapat bertemu dengan Naruto, lelaki itu pasti akan bersama Shion, atau menolak ikut berkunjung menemui Hinata. Lelah dengan sikap keras kepala Naruto, akhirnya orangtuanya membiarkannya. Dan lihat sekarang, dia menyesal setelah tahu bahwa orang yang akan ditemuinya sudah pergi jauh.

Naruto melirik ke arah yang ditunjuk Hanabi dan kembali menoleh menatap Hanabi.

"Untuk apa kotak itu?" tanya Naruto penasaran.

"Aku tidak tahu, Nee-sama mengatakan agar menunjukkan pada Naruto-nii, di dalamnya mungkin sesuatu yang penting. Kotak itu dilengkapi kode sandi, dan hanya Naruto yang dapat membukanya. Kalua tidak salah, Nee-sama mengatakan sandinya ketika Nee-sama menusuk kaki seseorang. Aku juga bingung, tapi Nee-sama yakin bahwa Nii-san mengetahuinya, kalua begitu aku pergi dulu, tugas ku sudah selesai."

Hanabi meninggalkan Naruto sendiri, dari kelagat gadis itu Naruto dapat menangkap wajah sedih dan kecewa yang ditujukan untuknya.

Dengan perlahan Naruto mendekati kotak itu, seperti perkataan Hanabi, kotak itu memiliki sandi. Naruto mengetikkan tanggal dimana Hinata meninggalkannya, saat menunggu beberapa saat.

Klik…. Kotak itu berhasil terbuka.

Tangan Naruto bergetar menatap isi kotak itu, semuanya berisi mengenainya. Photo dia dan Hinata ketika kecil dan sisanya photo miliknya mulai dari Junior School hingga sekarang.

Air mata menetes dan membasahi photo itu. Naruto menangis dengan apa yang dilihatnya. Selama ini dia melupakan bahkan mengabaikan Hinata. Naruto meneliti setiap photo itu, dan memori dalam kepalanya mulai mengingat mengenai Hinata dulu.

Janji….

Naruto teringat dengan janji yang dikatakan Hinata tempo dulu. Merasa dia butuh pencerahan agar memori di kepalanya jelas. Dengan cepat Naruto berlari meninggalkan kamar Hinata menuju taman tadi. Dia bahkan menghiraukan panggilan para maid Hyuuga.

Hahhh…hh…. Naruto mencoba menetralisir pernafasannya.

Mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, seakan seperti dalam sebuah film, bayangan dia dan Hinata berputar perlahan.

"Kau harus berjanji untuk tidak melupakanku dan kau harus menjadi temanku selamanya..! dan kita akan menjadi Tou-san dan Kaa-san nanti,kau mau berjanjikan. Dan aku juga berjanji tidak akan melupakanmu dan kau adalah orang pertama yang akan kutemui nanti!"

"Ha'i… aku janji…!"

HINATAA….!

Naruto berteriak keras di tengah taman itu. Dia benar-benar marah, bagaimana bisa dia melupakan janji itu. Dan kenapa Hinata menyembunyikan semua nya. Kenapa? Kenapa?...

"Oji-san aku mohon, tolong beritahu aku dimana Hinata saat ini. Aku mohon…..!"

Seluruh keluarga Hinata bahkan para maid pun terkejut dengan perlakuan Naruto. Lelaki itu tiba-tiba datang dan bersujud di depan kaki Hiashi, wajah Naruto terlihat berantakan seperti habis menangis.

"Apa yang kau lakukan anak muda! Jangan menjatuhkan harga diri mu seperti ini, bangunlah!." Dengan susah payah Hiashi mengangkat wajah Naruto agar berhenti bersujud.

"Aku mohon Oji-san…Aku mohon… tolong beritahu di mana Hinata saat." Naruto kembali bersujud, isakan lelaki itu bahkan terdengar jelas.

Tidak ada yang berani membuka suara waktu itu. Dengan bujukan Kaa-sama Hinata akhirnya Naruto mau berhenti melakukan tindakan bodoh.

Namun, meskipun Naruto memohon dengan sangat. Mereka tidak bisa mengatakan dimana Hinata saat ini, karena mereka sudah janji dan tidak ingin sampai melakukan tindakan gegabah. Dan saat ditanya mengapa Naruto ingin sekali berjumpa dengan Hinata, dia masih menjawab sebagai pecundang dan mengatakan ingin meminta maaf karena melupakan dan tidak pernah mengunjunginya.

Hari sudah sangat gelap, keluarga Hinata mengatarkan Naruto untuk pulang, mereka juga memberikan kotak itu kepada Naruto, karena itu adalah milik Naruto sekarang.

Brum…

Tidak memperdulikan rambu-rambu lalu lintas, Naruto melaju dengan kecepatan penuh. Air muka nya sangat mengerikan, matanya menatap lurus dan mencengkram setir kuat. Dia pulang dengan hasil kosong dan berakhir di nasehati panjang lebar oleh Hiashi.

Bruk…

Naruto membanting tubuhnya kasar ke atas kasur milik nya. Sesaat akan menutup matanya, dia teringat dengan kotak itu dan bangkit untuk melihat kembali isi kotak itu.

Meremas beberapa photo wajahnya, dia murka dengan kebodohannya sendiri. Dengan kesal Naruto membanting kotak itu ke lantai, dan membuat gambar-gambar itu berceceran.

Sebuah amplop tampak dari beberapa gambar berserakan itu. Saat akan akan meneliti isi nya, sebuah benda terjatuh dari dalamnya.

"Ini… bukankah ini milik wanita?"

Dengan tergesa Naruto mengeluarkan surat yang ada didalamnya, belum sampai beberapa menit Naruto meremas surat itu.

Meremas surai kuningnya, dengan cepat Naruto menghubungi seseorang.

"Oji-san! Kau masih dikantor?."ujar Naruto cepat.

"Ya aku mas-." belum sempat pria diserang meneruskan perkataanya, Naruto memutuskan sepihak.

.

Brakkk…..

"Ah….. rupanya keponakan kesayangan ku datang, tidak apa-apa Naruto, kau bisa menerobos masuk dan melupakan kau memasuki ruangan Direktur, apa perlu aku mengganti tulisan bertuliskan Presiden Direktur sebesar tubuh mu?." Tekan pria itu tanpa melihat si pembuat onar.

Merasa tidak ada jawaban, pria itu melirik dari ekor matanya, lalu menatap serius dan meneliti dari atas kebawah wajah berantakan Naruto.

"Ada apa Naruto? Jangan bilang kau ingin mobil baru? Atau kau ingin tahu dimana gadis pengkhianatmu itu. Atau kau ditusuk lagi?"

"Jangan membahas dia lagi Kakashi Oji-san. Aku ingin Oji-san mencari tahu mengenai seorang Hyuuga-"

"Tidak bisa Naruto, kau tahu keluarga mereka salah satu keluarga terpandang. Apa salah satu dari Hyuuga yang mencelakai mu.?"

"Tidak, aku ingin mencari tahu mengenai Hinata, Hyuuga Hinata."

"Untuk apa kau mencari tahu penerus klan Hyuuga itu? Kau tidak membuat masalahkan.?"

Sebelumnya dia kaget dengan kehancuran mobil Naruto, dia takut ada orang jahat yang akan melukai keponakan nakalnya. Selang dari situ, dia hampir saja serangan jantung menemukan Naruto bercucuran darah, dia berpikir Naruto menghubungi waktu itu karena Naruto dalam keadaan demam. Belum lagi masalah dengan si gadis kuning itu. Dan sekarang berurusan dengan salah satu pria mengerikan di Jepang.

Jika terus begini dia bisa mati cepat.

"Dengar Naruto, aku tidak pernah meminta menjadi pengganti Tou-san mu untuk meneruskan perusahaan ini. Tapi aku memakluminya atas dasar keluarga. Dan jika kau ikut-ikutan membuat masalah, aku bisa tambah pusing. Belum lagi jika Kaa-san mu tahu mengenai masalah ini." Jujur pria itu.

Hatake Kakashi adalah paman Naruto dari kerabat Kakeknya. Hokage Group adalah perusahaan besar di bawah naungan keluarga Naruto, yang bergerak dibanyak bidang. Namun perusahaan mereka paling menonjol di bidang kontruksi. Pendiri Hokage Group adalah kakek buyutnya Senju Hashirama dan Senju Tobirama. Yang diturunkan kepada kakek dan neneknya, Jiraiya dan Tsunade lalu ayahnya dan juga kepada kerabat lain yang tersebar di berbagai Negara. Dan untuk Konoha, Kakashi di paksa untuk menjaganya sebelum Naruto mengambil ahli.

"Aku mohon Ji-san! Aku ingin bertemu dengannya." mohon Naruto putus asa.

"Inggris, bukankah seluruh penerus klan biasanya dikirim ke Inggris? Kenapa kau tidak mencari disana?" keadaan berantakan Naruto membuat dia tak tega, bagaimana pun juga, dia yang merawat bocah nakal ini bertahun-tahun.

"Hah… baik, tunggu sebentar, aku akan mencari tahu."

Menunggu beberapa menit, akhirnya Kakashi menghampiri Naruto yang menatap keluar kaca gedung di dalam ruangan itu.

"Dia tidak disana, sepertinya mereka tidak ingin khalayak mengetahui dimana Hinata." Kakashi menepuk bahu Naruto, dia dapat merasakan tubuh Naruto mengejang dengan ucapannya.

"Tolong Ji-san, aku mohon cari tahu mengenainya, jika kau mengetahuinya tolong sampaikan padaku."

"Dengar Naruto, meskipun aku memiliki jabatan yang tinggi disini, bukan berarti aku harus mengerjakan itu setiap saat. Tapi kau bisa, kau bisa leluasa mencari tahunya jika kau mengambil ahli posisi ini. Tapi akan kuusahakan semampu ku."

Nada bicara Kakashi sarat akan sebuah kelicikan, dia ingin membuat Naruto cepat mengambil ahli perusahaan, lalu dia akan bebas. Namun, mengenai janjinya dia tetap akan mencari tahu keberadaan Hinata.

.

.

.

Penthouse milik Namikaze Naruto.

Akhhaa….brakkk…. trang…. Brukkk….

Sial….sial….sial….

Sesampainya di apartemennya, Naruto melampiaskan kemarahannya kepada seluruh isi apartemennya. Melemparnya, membanting, menendang, mengumpat. Dia berharap dengan melakukan itu semua, sedikit bebannya berkurang.

"Aku membunuh bayi ku sendiri. Sial…! kenapa aku harus menjadi pecundang, seharusnya aku langsung mencari mu Hinata. Maaf…maaf…maaf…..!"

Tidak satu pun merespon ucapan Naruto. Kini dia tahu apa itu penyesalan. Penyesalan yang benar-benar mengerikan dan menyakitinya inci demi inci tubuhnya.

.

.

.

Hari demi hari dilaluinya dengan tersiksa.

Setiap hari dia kembali mimpi buruk, dan bertambah parah di setiap hari, dia seperti melihat Hinata menangis dengan darah mengalir dari wajah gadis itu.

Setiap hari mimpi buruk itu menghitamkan dan menutupi hari nya.

Setiap hari dia menangis menggenggam photo Hinata dan surat 'itu'.

Setiap hari dia menanti dan merusak mood Kakashi, yang berakhir dengan usiran dan menunggu untuk menunggu sesuatu yang ditunggunya. Dan melarang merusak barang-barang miliknya.

Setiap hari wajah kasihan dan khawatir diberikan Kaa-sama Hinata kepadanya. Dan setiap hari dia dinasehati Hiashi untuk berhenti memohon mengenai Hinata.

Setiap hari Kaa-chan nya memarahi dan menasehati untuk berhenti mengganggu keluarga Hinata.

Setiap hari dia menyalahkan diri nya sendiri karena mengabaikan Hinata, dan lebih memilih bersama Shion waktu itu.

Setiap hari dia bertengkar dengan para sahabatnya yang tidak mampu menemukan Hinata. Tanpa memikirkan perasaan sahabatnya yang harus ditekan dan dimarahi orangtua mereka masing-masing demi membantu Naruto.

Selalu…. Setiap hari dia berulah…. Setiap hari….

Hingga saat dia berusia 18 tahun, dia telah mampu mengambil ahli Hokage Group menggantikan Kakashi.

Matahari tidak pernah terbit di pikiran Naruto, pikirannya selalu terkena badai dibarengi kilat petir yang menyambar. Perlahan Namikaze Naruto berubah….

Tidak ada wajah ceria dan senyum lebar miliknya, melainkan wajah dingin dan angkuh. Tidak ada Naruto pembuat onar, melainkan Naruto si pengamuk dan pemarah. Tidak ada, tidak ada lagi Naruto yang dulu.

Disaat usianya 22 tahun, dia lebih memilih mempercayai dirinya sendiri dibandingkan orang disekitarnya.

Hingga pada titik terpuruknya, dia frustasi bertahun-tahun tidak menemukan Hinata dan berakhir kecanduan obat penenang dan berbagai obat tidur.

Tidak! Dia tidak mengonsumsi Narkoba, dia hanya meminum obat dari dokter pribadinya. Meskipun itu juga dapat membunuhnya.

.

.

.

Tujuh tahun telah berlalu sejak kepergian Hinata.

Naruto menatap bosan layar tipis itu.

Layar yang menampilkan dirinya yang melakukan sebuah Interview di televise swasta. Dengan judul ' Namikaze Naruto, Presdir Muda Berusia 24 Tahun Yang Kembali Membuka Cabang Di Eropa, Dan Menaikkan Perolehan Laba Jepang'.

Brakk…..

Atensi pria itu digantikan tatapan tajam kepada sosok pengacau.

"Dengar Shikamaru! Tentukan mana pilihanmu! Kau ingin hidup nyaman didekat ku atau berakhir menjadi sampah." Ujarnya dingin menusuk.

"Ya, aku sudah bosan mendengar ucapanmu, dan jangan khawatir harta ku masih banyak, dan tanpa mu pun aku masih bisa berdiri sendiri, dasar baka." Hardik Shikamaru tidak terima. Ini adalah sekian kali dia diancam jika berlaku lancing, dan tidak dipungkiri, meski menanggapi santai, rasa takut tetap berada disekitarnya hanya dengan ucapan Naruto.

Naruto menanggapi dengan angkuh, menyandarkan diri di kursi empuknya dan memilih bersidekap dada.

"Lihat baka! Kau masih membutuhkan ku." Angkuh Shikamaru.

Naruto masih diam, inilah kebisaan baru nya, diam seakan semua orang lebih rendah darinya.

"Jika mengenai lokasi Hinata, jawabannya ruangan kosong. Dan mengenai kehamilannya," menghentikan ucapannya, Shikamaru dapat melihat wajah terkejut Naruto. "Tipuan dan kebohongan untuk mu sendiri, selamat Naruto, kau berhasil ditipu tujuh tahun." Lanjut Shikamaru datar.

Tawa hambar, jawaban atas ucapan Shikamaru.

"Sasuke dan Kiba mencari tahu ke setiap toko dan rumah sakit untuk mencari tahu dimana Hinata memperoleh alat tes itu. Mereka menemukan seorang suster tua." Menyodorkan sebuah amplop, Shikamaru melanjutkan ucapannya. "Suster itu sudah pensiun tujuh tahun yang lalu, pantas kita tidak mengetahuinya."

Dengan bergetar Naruto berniat menyentuh amplop sial itu. Dan terhenti dengan ucapan Shikamaru.

"Itu hanya sebuah surat perjanjian, jika dia memberikan keterangan palsu, kau dapat melaporkannnya ke aparat," menghela nafas panjang. "Dia mengatakan, bahwa Hinata ingin menyamarkan tes kehamilan itu, menjadi positif. Dan satu hal lagi." Perlahan Shikamaru berjalan mundur mendekati pintu keluar dan menggenggam knop pintu. "Hinata mengatakan, jika seseorang menanyakan hal ini, wanita itu harus jujur." Secepat kilat Shikamaru keluar dari ruangan Naruto setelah mengucapkan kata terakhirnya. Dan….

Trangg….. braaakkk…. Brukk…..

Naruto mengamuk sejadi-jadinya, beruntung Shikamaru tanggap untuk kabur, jika tidak mungkin dia akan koma karena terkena lemparan nyasar Naruto.

Menghubungi langganan Naruto.

"Tolong! Siapkan kebutuhan untuk ruangan Namikaze Naruto. Ya, kualitas terbaik dan harus selesai petang ini." Pesan Shikamaru.

Sangking seringnya menghancurkan barang pribadi nya, membuat Shikamaru harus membuat laporan keuangan mengenai kebrutalan Naruto.

Beban kebrutalan si bodoh Naruto ¥ xxx

Cash pribadi si bodoh Naruto ¥ xxx

"Apartemen milik ku sekarang!" perintah Naruto, berjalan melewati Shikamaru di depan ruangannya.

Melirik ke dalam, Shikamaru meringis melihat keadaan ruangan itu. Lalu berjalan mengikuti Naruto. Dia bisa apa. Dia hanya berharap Naruto dapat pulih dari keterpurukannya.

Penjelasan serius diberikan Shikamaru, Naruto hanya setia mendengar, dengan duduk angkuh di sofa mahal miliknya.

"Pulanglah! Aku ingin kau mengeluarkan semua orang kita mencari Hyuuga itu." Tidak ada lagi panggilan Hinata. "Bila perlu ancam seluruh Hyuuga penipu itu." Geram Naruto.

Mana mungkin Shikamaru berani mengancam Hyuuga. Jika Hyuuga terkena masalah, klan Uchiha dan Tou-san Naruto akan ikut membela. Lebih baik dia mencari akalnya sendiri. Bisa-bisa hanya karena masalah pribadi Naruto, pertempuran antar Klan berlangsung.

.

.

.

Menatap kosong pada Photo Hinata dan surat 'itu' yang selama ini dijaganya dengan baik. Tanpa pikir panjang, Naruto langsung melempar semuanya kedalam api menyala.

Berjalan gontai menuju kamar nya, Naruto membuka nakas dan mengambil botol pil obat tidur nya. Dia berharap bisa bertemu dengan Hinata dalam mimpi dan memberikan pelajaran atas kebohongannya, meskipun hanya dalam mimpi.

Biasanya dia akan takut memimpikan Hinata. Tapi kini dia begitu antusias ingin menemui gadis itu dalam mimpi.

.

Sudah seminggu, dan masih tidak ada kabar dari Shikamaru. Dan dia benci menunggu, lebih baik dia langsung ke Mansion Hyuuga lalu mengacak- acak sesukanya.

Sesaat akan berdiri, layar monitornya menampilkan email masuk.

From : Nara Shikamaru

Sub : Penting!

Message : Setengah jam lagi aku sampai dikantor, tunggulah!

Setengah jam bagai tiga jam menurut Naruto, bukan karena bosan menungu, tapi karena sudah tiga jam dia menunggu.

Akhirnya seseorang yang ditunggu menampakkan diri. Wajah pria itu Nampak kusut dan berantakan. Sepertinya dia tidak mandi beberapa hari.

"Sebelum kau menemuiku, bisakah kau mencari tahu arti penampilan rapi.?!" Ujar Naruto

"Terserah pada mu Naruto! aku akan memberikan informasi penting ini, dengan satu syarat."

Naruto menanggapi dengan gerakan mata.

"Tiga bulan cuti tanpa ada gangguan." Coba Shikamaru.

Tidak ada jawaban…

" 40 hari?" tawar Shikamaru.

" 20 hari jika setimpal." Jawab Naruto.

"Baiklah 20 hari tanpa gangguan." Pasrah nya. Seharusnya tawaran pertamanya tujuh bulan saja.

"Venice, Paris, L.A, Athena, Lisbon, Seoul, dan terakhir Amsterdam. Hinata selam ini berpindah- pindah tempat untuk menghilangakan jejak. Dari informasi yang ku peroleh, dia sudah menduduki jabatan penting di salah satu perusahaan Hyuuga. Neji Hyuuga!"

"Ada apa dengannya?"

"Dia ikut menutupi jejak Hinata. dan sepertinya orangtua nya tidak tahu dimana keberadaan Hinata sebenarnya."

"Point utama, Shika!" jengkel Naruto, dia malas bermain teka-teki.

"Hinata akan menemui orangtua nya di lokasi yang ditentunkan Hinata. dan jika orangtua nya pergi keluar Negeri, Hinata yang akan menemui mereka."

"Siapkan keberangkatan ku ke Amsterdam sekarang.!"

"Kau tidak perlu menemuinya, informasi yang ku peroleh juga mengatakan dalam jangka dekat Hinata akan kembali dengan alasan rahasia. Dan, jika kau gegabah, dia bisa membatalkan untuk kembali ke Konoha." Jelas Shikamaru.

Sesaat Shikamaru bergidik ngeri melihat seringai rubah Naruto.

"Sepuluh hari!"

"Hah!? Apa maksud mu?!" ujar Shikamaru kaget.

"Informasi yang kau berikan terlalu lama, dan kau membuat aku menunggu tiga jam. Sepuluh hari sudah cukup untuk mu."

"Ah… sial kau Naruto! aku sudah tidak tidur dan tidak mandi tiga hari, lalu ini balasan mu?" rengek Shikamaru sambil menatap datar.

Ha….Ha….Ha…..

Ini pertama kalinya Naruto kembali tertawa lepas. Dia ikut tersenyum melihat Naruto.

"Ya terserah padamu, pekerjaan ini sangat membosankan. Aku ingin menikamati liburan irit ku, Jaa Naruto." Shikamaru berlalu sambil menguap. Shika yang malang…

Selepas kepergian Shikamaru, Naruto menyeringai lebar.

Lebih cepat Hinata kembali, lebih cepat dia balas dendam atas perbuatan Hinata.


T.B.C.

Bagaimana? Masih jelak ya….

Hah….. saya juga terkadang malas membaca ff ini, entah kapan bisa bagus.

Tapi it's okay…. Harus tetap semangat demi pembaca ff ini.

Ungkapan terima kasih yang besar dan rasa terharu yang luar biasa Hikhulia sampaikan kepada:

Ailasca-Chan, Beibrome, Syafira Kr, Liana, Lililala249, Rechi, Lovelylany, Anonym, Orochimaru-Chan, Megahinata, Namelia, Anna990, Natachan, Hinata Lovers From Tl, Lulu-Chan, Guest, Shiro, Lisna Wati716, Kurumi Keiko, Araya, Narunata, Ishida, Namikaze S, Hyuga R, Ana, Kenz, Ntha353, Oortaka, Anishl, Maura Raira, Shinigami No Widy, Kurotsuhi Mangetsu, Vi2nhl, Fushima Yuna.

saya juga sangat berterima kasih kepada yang memfollow dan memfavourite fanfic ini... chapter depan saya akan mencantumkan nama anda semua... saya cinta kalian.

Semoga gak ada yang salah tulis namanya….hmmm maaf…. Jika ada yang salah tulis dan terlupa….

Saya menerima kritik dan saran yang pedas. Tapi dengan bahasa yang sopan tentunya dan tanpa kata-kata kasar…. He…he…

Saya mohon bantuan atas penulisan yang salah...

For all my Stalker Reader, I would like to say Thank You very much…..

Thank's to visit my story…. Big hug and many kiss to all of you….

And once againnnn…. Please to leave your comment…..

Review… please…..

See ya…... Hikhulia waiting your review…..